Loss of a Brave Journalist

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’unOur Deepest Condolences for the Loss of a Brave Journalist Ahlam courageously documented the genocide in north Gaza, residing in the Indonesia Hospital during its siege, taking evidence of war crimes and bearing witness to tell the story with her pictures and her words, many of which we shared with you here She was murdered on this bloody day by the IOF as she was walking to Al Shifa hospital The last message of Martyr Ahlam Al Nafed This is my duty to document all the attacks we are exposed to inside and outside the hospital so that the world can see the destruction we are exposed to by the occupation. And that we are innocent and not terrorists. We hope to God that the war will end, and that our message will reach the whole world about the injustice, destruction and genocide to which innocent people are being subjected. It is true that documentation and photography are a bit dangerous, but we do this so that the world can witness these crimes. ———– Ini adalah tugas saya untuk mendokumentasikan semua serangan yang kami hadapi di dalam dan luar Rumah Sakit sehingga dunia dapat melihat kehancuran yang kami hadapi akibat penjajahan. Bahwa kami tidak bersalah dan bukan teroris. Kami berharap kepada Allah agar perang ini berakhir, dan pesan kami akan sampai ke seluruh dunia tentang ketidakadilan, kehancuran, dan genosida yang dialami orang-orang yang tidak bersalah. Memang benar bahwa dokumentasi video dan foto-foto mengancam jiwa kami, tetapi kami (tetap) melakukannya agar dunia dapat menyaksikan kejahatan ini.
MER-C Hadiri Acara Solidraitas untuk Palestina di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Rabu (8/1) menghadiri acara “Support dan Solidarity for Palestine” dari Kedutaan Besar Palestina di Jakarta. Acara ini digelar untuk mengingat penderitaan rakyat Palestina, khususnya di Gaza, yang selama lebih dari 15 bulan sampai hari ini masih menghadapi agresi penjajah Israel. Acara ini dihadiri oleh sejumlah NGO, kelompok mahasiswa Palestina di Indonesia hingga perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RI dan DPR RI. Duta Besar Palestina untuk Indonesia, H.E Zuhair S.M. Al-Shun dalam kesempatan itu menyerukan aksi internasional yang serius untuk menghentikan agresi Zionis Israel yang terus dilancarkan terhadap Palestina. “Rakyat Palestina terus hidup dalam penderitaan akibat agresi yang tiada henti. Dunia harus mengambil langkah nyata untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini,” tegas Dubes Zuhair Al-Shun. Dalam pidatonya, Duta Besar Palestina menyerukan dua hal utama kepada komunitas internasional. Pertama, tekanan global yang efektif terhadap Israel untuk menghentikan agresinya dan menghormati hukum internasional. Kedua, peningkatan kesadaran global untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina. Hal ini, menurutnya, dapat dicapai dengan mewujudkan hak-hak Palestina yang tidak dapat diganggu gugat, termasuk hak untuk kembali ke tanah air mereka, penentuan nasib sendiri, dan pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya, sesuai hukum internasional dan resolusi PBB. Berbicara kepada MER-C, Duta Besar Zuhair dalam kesempatan itu juga menyampaikan apresiasi atas dukungan MER-C untuk warga Palestina, yang sampai saat ini masih terus mengirimkan bantuan hingga tim medis ke Jalur Gaza. Ia juga sangat menyayangkan situasi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara yang saat ini tidak bisa beroperasi akibat agresi penjajah Israel. “Saya mendengar apa yang dilakukan MER-C, Anda juga sudah beberapa kali berkunjung ke sini dan sangat aktif mendukung Palestina. Indonesia memang secara keseluruhan sangat siap untuk memberikan dukungan untuk Palestina,” ujarnya.
Ketua Presidium MER-C: Apa yang Terjadi di Gaza adalah Kejahatan Kemanusiaan

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) DR. dr. Hadiki Habib, Sp. PD., Sp.Em mengatakan apa yang saat ini terjadi di Gaza bukan hanya krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. “Kita harus menyuarakan mengenai kejahatan karena ini bukan lagi soal krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. Jadi kalau sudah kejahatan, isunya bukan lagi hanya medis tapi juga sosial, budaya dan politik,’ ujar dr. Hadiki dalam kesempatan Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar, Ahad (29/12). Untuk itu, ia mengungkap saat ini MER-C juga sedang berjuang di bidang budaya, untuk menjadikan RS Indonesia sebagai aset internasional, yang merupakan bukti kerja sama antar negara. Sehingga merusaknya bukan hanya terkena pasal hukum medis atau kemanusiaan, tapi juga cagar budaya. “Terkait hal ini kami butuh ahli-ahli dari semua bidang keilmuan untuk dapat memberikan narasi, bukti, serta argumen-argumen akademik supaya fakta tidak diputarbalikkan oleh penjajah,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini secara fisik RS Indonesia masih berdiri dan digunakan sebagai shelter untuk warga Gaza. RS Indonesia terkahir digunakan di bulan Oktober 2024 oleh Tim EMT MER-C ke-5. Tim EMT ke-6 sempat berusaha ke (Gaza) Utara, namun hanya berhasil sampai Kamal Adwan, tidak bisa ke RS Indonesia karena di sekitarnya sudah ada check point. “Kemudian sumber-sumber energi yang memang diperlukan untuk sebuah rumah sakit beroperasi memang sengaja dilumpuhkan, ada generator, kita juga pasang panel surya sudah dirusak, terakhir sumber air, listrik dan pompa juga rusak,” ungkapnya. Terkait kondisi RS Indonesia ini, maka menurutnya perintah pemindahan pasien dan tenaga kesehatan yang ada di Kamal Adwan ke RS Indonesia oleh penjajah Israel adalah instruksi yang jelas-jelas tidak boleh dilakukan, karena ini bukan pindah rumah sakit tapi ke bangunan karena saat ini RS Indonesia tidak bisa beroperasi. Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar ini digelar secara daring atas kerja sama sejumlah lembaga di antaranya, Komite Makassar for Gaza, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS MRPI), GEMMA 9, MER-C dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), yang digelar untuk mengajak masyarakat luas mendukung program “Makassar for Gaza”.
INDONESIA HARUS MEMPROTES KERAS INVASI MILITER ISRAEL TERHADAP SISTEM KESEHATAN DI GAZA UTARA

Surat Terbuka INDONESIA HARUS MEMPROTES KERAS INVASI MILITER ISRAEL TERHADAP SISTEM KESEHATAN DI GAZA UTARA Kepada Yth.,Presiden RIBapak Menteri Luar Negeri RIKetua MPR RIKetua DPR RIDir. Timur Tengah Kemlu RIDir. HAM dan Kemanusiaan Kemlu RIKetua Badan Kerjasama Antar Parlemen MPR RI Assalamu’alaikum Wr Wb, Hampir 90 hari sistem layanan kesehatan di Gaza Utara mengalami tekanan, mulai dari pembatasan tim medis internasional, pengurangan suplai logistik medis dan bahan bakar hingga yang terakhir masif terjadi dalam sepekan terakhir adalah pemaksaan pemindahan pasien dan staff medis yang dibarengi penyerangan langsung terhadap RS Kamal Udwan dan RS Al Awda. Dalam kurun waktu tersebut, tidak terdengar nada protes dari para pemimpin internasional, apalagi pemimpin negara-negara Muslim. Berkali-kali teriakan memohon intervensi internasional disampaikan oleh Kementerian Kesehatan di Gaza dan oleh direktur RS Kamal Udwan sendiri, dr. Husam Abu Safiya, namun hanya seperti bisikan angin malam di musim dingin semata. Bagi Indonesia, tekanan militer terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara juga berarti ancaman terhadap RS Indonesia. Dalam sejarahnya, RS Indonesia adalah sumbangsih terbesar masyarakat Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, yang pada akhirnya menjelma menjadi tulang punggung sistem kesehatan di Gaza Utara. Sebagai lembaga yang konsisten mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza, kami menyaksikan bagaimana pasien dan staff medis harus bertahan di bawah ancaman perang dan di saat yang sama melawan penyakit yang diderita. Dalam 3 bulan terakhir kondisi semakin sulit, tidak hanya berdampak terhadap pelayanan namun juga kesehatan mental seluruh pekerja kesehatan yang berada di RS. Karenanya, kami berharap kepada Bapak-bapak yang terhormat, dengan posisi dan wewenang yang dimiliki saat ini, untuk memprotes keras invasi militer Israel terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara yang merusak infrastruktur RS dan membunuh para pekerja kesehatan didalamnya saat bertugas. Kami berharap, suara Bapak-bapak yang mewakili 200-an juta masyarakat di Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina, akan memberikan dorongan dan inspirasi bagi pemimpin dunia lainnya agar mau bersuara dan memberikan tekanan kepada pemerintah Israel agar menghentikan penyerangan terhadap fasilitas kesehatan yang merupakan pelanggaran terhadap International Humanitarian Law. Keterlambatan dalam menyuarakan masalah ini, tidak hanya berpotensi pada penghancuran sistem kesehatan, namun dalam skala yang lebih besar merupakan bagian dari genosida terencana dan sistematis. Mari selamatkan saudara kita di Gaza, Palestina dari upaya penghilangangan paksa eksistensi mereka dari muka bumi. Wassalamu’alaikum Wr Wb., Jakarta, 28 Desember 2024 Hormat kami, Presidium MER-C IndonesiaDR. dr. Hadiki Habib, Sp.P.D, Sp.Em. (Ketua)dr. Tonggo Meaty Fransiscadr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S. DR. Ir. Ahyahudin Sodri, M.Scdr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em. ———————————————————— Open Letter INDONESIA MUST STRONGLY PROTEST THE ISRAELI MILITARY INVASION OF THE HEALTHCARE SYSTEM IN THE NORTH OF GAZA To: The President of the Republic of Indonesia The Minister of Foreign Affairs of Indonesia The Chairman of People’s Consultative Assembly of Indonesia (MPR) The Chairman of the House of Representatives of Indonesia (DPR) The Director of Ministry in Foreign Affairs of the Middle East in Indonesia The Director of Ministry in Foreign Affairs of Human Rights and Humanitarian Affairs of Indonesia The Chairman of the Inter-Parliamentary Cooperation Agency of the People’s Consultative Assembly of Indonesia Assalamu’alaikum (Peace be upon you), For almost 90 days, the healthcare service system in Northern Gaza has been under heavy tension, starting from restrictions upon the presence of international medical teams, reductions in medical logistics and fuel supplies, to the most recent massive incident in last week, where patients and medical staffs forced to transfer while at the same time getting direct attacks in the Kamal Adwan Hospital and Al Awda Hospital. During this period, no protest was heard from the international leaders, let alone leaders in the Muslim countries. Many times, the cries for help for the international intervension were declared by the Ministry of Health in Gaza and by the director of Kamal Adwan Hospital himself, Dr. Hussam Abu Safiya, only to get treated like whispers in the winter night wind by the international communities. For Indonesia, the military tension from IOF on the healthcare system in Northern Gaza also means a threat to the Indonesia Hospital. Historically, the Indonesia Hospital was the largest contribution from the Indonesian people themselves to support the struggle for Palestinian independence, which eventually became the backbone of the healthcare system in the North of Gaza. MER-C as an institution that consistently delegates medical teams into the Gaza Strip, have witnessed how patients and medical staffs have tried to survive under the threat of war while at the same time have to fight the diseases they have suffered. In the last 3 months, the conditions have become increasingly difficult, not only affecting the overall healthcare services but also the mental health state of all the healthcare workers in the hospital. Therefore, we put our hope to the honoured leaders, with all the honorable positions and authorities they currently have, to strongly protest the Israeli military invasion of the healthcare system in the North of Gaza, which created damage at the hospital infrastructure and killed the on duty healthcare workers inside the hospitals. We are hoping, that the voices of the honoured Leaders in Indonesia who represent the 200 million people in Indonesia and their support for the Palestinian independence cause will provide encouragement and inspiration for the other world leaders to speak up and put pressure on the Israeli government to stop their attacks on the healthcare system facilities which are a violation of International Humanitarian Law. The delay in voicing this issue not only holds the potential to destroy the healthcare system itself, but on a larger scale is part of complicity in a planned and systematic genocide. Let’s rescue our brothers and sisters in Gaza, Palestine, from any attempt to forcibly remove their existence from the face of the earth. Wassalamu’alaikum (May peace be upon you all.) Jakarta, December 28th, 2024 Yours sincerely, Presidium of MER-C Indonesia DR. dr. Hadiki Habib, Sp.P.D, Sp.Em. (The Chairman) dr. Tonggo Meaty Fransisca dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S. DR. Ir. Ahyahudin Sodri, M.Sc Dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em.
PRESS RELEASE : Hospitals of North Gaza Under Aggressive Attacks to Shut Down All Healthcare Provision in the Area

Three hospitals in Northern Gaza have been under siege for over 80 days. During this period, the Emergency Medical Team (EMT) of MER-C Indonesia has been providing assistance at Kamal Adwan Hospital, where they have witnessed intense attacks. Due to security concerns, they were ultimately forced to leave the facility. On Saturday Morning, December 21, 2024, Dr. Hussam Abu Safiya, the Director of Kamal Adwan Hospital, received an evacuation order via loudspeaker directly on the ground, instructing the transfer of patients to Indonesia Hospital. On Sunday, December 22, 2024, medical staff at Indonesia Hospital made preparations to receive patients from Kamal Adwan Hospital. At present, Indonesia Hospital is sufficiently equipped in terms of available space to accommodate these patients. However, several constraints remain, including the operation of only one functional generator, and insufficient supplies of water, food, and medical provisions. In response, MER-C Indonesia calls upon the international community, world leaders, and the United Nations to take the following actions: 1. Deconfliction and Hospital Functionality: Given that the IOF has ordered the evacuation of patients from Kamal Adwan to Indonesia Hospital, it is imperative that Indonesia Hospital be deconflicted, allowed to operate as a functioning hospital, and that humanitarian access be guaranteed to enable the delivery of aid; 2. Safe Passage for Patient Transfer: There must be a guarantee of safe passage for the transfer of patients from Kamal Adwan Hospital to Indonesia Hospital; 3. Support for the Evacuation Process: The IOF must permit the Palestinian Ministry of Health and the international community to facilitate and support the evacuation process; 4. Maintaining Kamal Adwan Hospital as a Functional Medical Facility: Given the logistical and time constraints in transferring all patients from Kamal Adwan to Indonesia Hospital, it is imperative that Kamal Adwan Hospital be maintained as a functional medical facility to continue providing care to patients until the full evacuation can be completed. 5. Full Protection for Volunteers and Medical Teams To ensure the provision of optimal medical assistance, it is essential to guarantee the safety and security of medical teams and volunteers as they carry out their duties. We call for the preservation of the remaining healthcare infrastructure in northern Gaza and firmly oppose the forced displacement of residents from the region. Furthermore, we condemn all efforts by the Israel Occupation Forces (IOF) to close hospitals and disrupt the healthcare system in northern Gaza. Jakarta, December 24th, 2024MER-C Indonesia ———————————————————————– SIARAN PERS Rumah Sakit di Gaza Utara Jadi Sasaran Serangan Agresif hingga Menutup Semua Layanan Kesehatan di Wilayah Tersebut Tiga rumah sakit di Gaza Utara telah dikepung selama lebih dari 80 hari. Selama periode ini, Tim Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia telah memberikan bantuan di RS Kamal Adwan, dimana para relawan menyaksikan serangan hebat di lokasi tersebut. Untuk masalah keamanan, mereka akhirnya terpaksa meninggalkan RS tersebut. Pada Sabtu pagi, 21 Desember 2024, dr. Husam, direktur RS Kamal Adwan, menerima perintah evakuasi melalui pengeras suara langsung di lapangan yang menginstruksikan pemindahan pasien ke RS Indonesia. Pada Minggu, 22 Desember 2024, staf medis di RS Indonesia melakukan persiapan untuk menerima pasien dari RS Kamal Adwan. Saat ini, RS Indonesia memiliki cukup perlengkapan dalam hal kesediaan ruangan yang bisa menampung pasien-pasien ini. Namun masih ada beberapa kendala, termasuk kendala pengoperasian yang dimana hanya satu generator yang dapat berfungsi, dan juga kendala persediaan air, makanan, dan perlengkapan medis yang tidak mencukupi. Sebagai tanggapan, MER-C Indonesia menyerukan kepada masyarakat internasional, para pemimpin dunia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil tindakan berikut: 1. Dekonfliksi dan Fungsionalitas Rumah Sakit: Mengingat bahwa IOF telah memerintahkan evakuasi pasien dari Kamal Adwan ke Rumah Sakit Indonesia, sangat penting bahwa RS Indonesia didekonfliksi, diizinkan untuk beroperasi sebagai rumah sakit yang berfungsi, dan memastikan bahwa akses kemanusiaan dijamin untuk memungkinkan pengiriman bantuan. 2. Jalur Aman untuk Pemindahan Pasien: Harus ada jaminan jalur aman untuk pemindahan pasien dari Rumah Sakit Kamal Adwan ke Rumah Sakit Indonesia. 3. Dukungan untuk Proses Evakuasi: IOF harus mengizinkan Kementerian Kesehatan Palestina dan masyarakat internasional untuk memfasilitasi dan mendukung proses evakuasi pasien RS. 4. Menjaga Fungsionalitas Rumah Sakit Kamal Adwan sebagai Fasilitas Medis yang Berfungsi: Mengingat keterbatasan logistik dan waktu dalam memindahkan semua pasien dari Kamal Adwan ke Rumah Sakit Indonesia, sangat penting bagi Rumah Sakit Kamal Adwan untuk tetap dipertahankan sebagai fasilitas medis yang berfungsi untuk dapat terus memberikan perawatan kepada pasien hingga evakuasi penuh dapat diselesaikan. 5. Perlindungan Penuh bagi Relawan dan Tim Medis: Untuk memastikan penyediaan bantuan medis yang optimal, sangat penting untuk menjamin keselamatan dan keamanan tim medis dan relawan saat mereka menjalankan tugasnya. Kami menyerukan pelestarian infrastruktur perawatan kesehatan yang tersisa di Gaza Utara dan dengan tegas menentang pemindahan paksa penduduk dari wilayah tersebut. Dan kami mengutuk semua upaya Pasukan Penjajahan Israel (IOF) untuk menutup rumah sakit dan mengganggu sistem perawatan kesehatan yang ada di Gaza utara. Jakarta, 24 Desember 2024 MER-C Indonesia
MER-C Kecam Serangan Penjajah Israel ke Wisma dr. Jozerizal Jurnalis

Ketua presidium MER-C Indonesia Dr. dr. Hadiki Habib mengutuk serangan pasukan penjajah Israel ke Wisma dr. Joserizal pada Rabu (17/12) lalu, yang menyebabkan sejumlah kerusakan parah. “Wisma tersebut merupakan situs bersejarah yang menjadi bagian perjanjian internasional antara pemerintah Palestina dan rakyat Indonesia yang di wakili MER-C ketika awal pendirian Rumah Sakit Indonesia,” ujar dr. Hadiki Habib, Sabtu (21/12). Ia menegaskan, serangan militer ke situs budaya yang masih fungsional untuk sistem kesehatan di Gaza Utara adalah kejahatan perang yang nyata, karena bertentangan dengan pasal 53 Konvensi Den Haag tahun 1953 dan pasal 15 Konvensi UNESCO tahun 1972. Selain serangan bertubi-tubi ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, Penjajah Israel juga menyasar Wisma dr. Joserizal Jurnalis yang menyebabkan Semua pintu dan jendela Wisma hancur. Staf lokal mengatakan berusaha menutup pintu Wisma Joserizal Jurnalis saat serangan terjadi, tetapi tembakan artileri terus-menerus terjadi. Wisma dr. Joserizal Jurnalis mulai dibangun oleh MER-C pada Juli 2014. Terletak di dalam kompleks RS Indonesia, tanah wisma juga merupakan wakaf dari pemerintah Palestina di Gaza. Wisma dr. Joserizal Jurnalis selama ini dimanfaatkan sebagai kantor MER-C Cabang Gaza dan juga tempat tinggal relawan MER-C saat menunaikan tugas di Jalur Gaza. Wisma mulai mengalami kerusakan sejak agresi hari pertama 7 Oktober 2023, saat salah satu serangan penjajah Israel menyasar area kompleks RS Indonesia dan mengenai kendaraan operasional MER-C yang terparkir tepat di depan Wisma dr. Joserizal Jurnalis. Sejumlah bagian Wisma mengalami kerusakan akibat terdampak ledakan dan getaran yang hebat. Wisma sempat diperbaiki pada Agustus – September 2024 saat Tim EMT MER-C bisa mencapai Gaza Utara dan bertugas di RS Indonesia. Namun akibat serangan terbaru yang menyasar RS Indonesia dan sekitarnya, Wisma dr. Joserizal Jurnalis kembali mengalami kerusakan parah.
Serangan Terbaru Penjajah Israel Kembali Sebabkan Kerusakan Parah di RS Indonesia

Beberapa hari terakhir penjajah kembali melancarkan sejumlah serangan ke Rumah Sakit Indonesia dan area sekitarnya yang menyebabkan banyak korban syahid dan terluka, serta kerusakan cukup parah. Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan melalui pesan teks pada hari ini Rabu (18/12) mengatakan, serangan terbaru ini menyebabkan bagian rangka atap dan jendela rusak. Ia juga mengatakan beberapa pasien dan seorang perawat terluka parah di wajahnya. Serangan terjadi di tengah kondisi tidak ada makanan, bahan bakar dan air. “Tolong selamatkan Rumah Sakit Indonesia dan tim medis serta pasien. Lakukan yang terbaik untuk menjaga Rumah Sakit Indonesia tetap hidup,” ujarnya. Penjajah Israel telah menargetkan serangannya ke RS Indonesia dan area di sekitarnya sejak Sabtu (14/12) dini hari, sekitar pukul 02.30 waktu Gaza. Staf lokal RS Indonesia mengatakan tank-tank sempat melakukan pengepungan namun tidak masuk ke dalam. Staf lokal tersebut mengungkap, serangan juga terjadi pada Senin (16/12) tengah malam pukul 23.59, hingga menjelang Selasa dini hari (17/12). “Penyerangan dilakukan langsung ke kamar pasien, di mana ada seorang pasien dengan susah payah keluar dari ruangan menuju koridor. Penembakan terus-menerus ini membahayakan pasien yang ada di dalam Rumah Sakit,” katanya. Selain RS Indonesia, sejumlah wilayah di sekitarnya juga tidak luput dari serangan penjajah Israel. Pada Selasa (17/12) setidaknya dua kali penyerangan terjadi di Sekolah Khalifa bin Zayed yang hanya berjarak 200 meter dari RS Indonesia. Serangan ini menyebabkan banyak korban syahid dan luka, termasuk anak-anak. Staf RS Indonesia sempat berusaha mengambil jenazah para martir, namun hanya satu yang berhasil dievakuasi dan dimakamkan di Rumah Sakit. Penyerangan juga terjadi di wilayah Tal al-Zaatar pada Rabu pagi (18/12) pukul 2 pagi waktu Gaza. Jenazah korban syahid banyak bergeletakan di sekitar Rumah Sakit Indonesia akibat serangan ini. Sejak agresi 7 Oktober 2023 penjajah Israel telah melancarkan serentetan serangan serta pengepungan ke RS Indonesia, yang mengakibatkan kerusakan sangat parah di seluruh bagian Rumah Sakit. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Hadiri Seminar Nasional Perlindungan Pengungsi Luar Negeri dalam Perspektif Agama dan Hukum

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Rabu (11/12) menghadiri Seminar Nasional terkait Perlindungan Pengungsi Luar Negeri dalam Perspektif Agama dan Hukum Indonesia, yang digelar oleh UIN Ar-Raniry Aceh. Seminar ini di menghadirkan tiga narasumber yaitu Akademisi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Syamsul Rijal, M. Ag., Hendra Saputra dari JRS Indonesia, Mellana dari Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia, serta Ketua Prodi Sosiologi Musdawati, S. Ag., M.A. MER-C diwakili oleh Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati, yang saat ini tengah fokus menangani program bantuan MER-C untuk pengungsi Rohingya di sejumlah kamp Pengungsian di Aceh. MER-C sendiri telah menyerahkan sejumlah bantuan untuk pengungsi Rohingya berupa sembako, pembangunan sumur dan MCK, peralatan ibadah, perlengkapan self hygiene serta keperluan lainnya. Beberapa hal baik terkait penanganan pengungsi Rohingya yang dibahas dalam Seminar ini adalah sudah adanya surat edaran Kementerian Pendidikan nomor 75253/Α.Α.4/HK/2019 tentang Pendidikan bagi anak pengungsi luar negeri, sudah ada surat edaran dari Kementerian Tenaga Kerja, yang memberikan peluang bagi pengungsi untuk bisa terlibat dalam pelatihan kerja. Kemudian pencatatan kelahiran bagi anak pengungsi luar negeri yang lahir di Indonesia, kolaborasi pelatihan keahlian pengungsi dengan masyarakat lokal, pembentukan Satuan Tugas Penanganan Pengungsi Luar Negeri di Level Provinsi serta adanya kearifan lokal Aceh “Adat Pemulia Jame”. Adapun tantangan penanganan pengungsi antara lain, budaya literasi kita masih sangat lemah, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, Isu TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), smuggler versus kemanusian, pendekatan keamanan versus pendekatan kemanusiaan, ego sektoral, isu kewenangan dalam penanganan pengungsi, regulasi yang belum sepenuhnya berjalan serta kerjasama internasional untuk solusi jangka panjang belum terbaca.
Berpulangnya Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu Insinyur Pembangunan RS Indonesia di Gaza dan Myanmar

Innalillahi wainnailaihi rajiun, (Sesungguhnya kami milik Allah, kepada-Nya kami kembali). Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ir. Nur Ikhwan Abadi (Ketua Presidium Aqsa Working Grup/ AWG) pada tanggal 30 November 2024. Sebelumnya, Ir. Nur Ikhwan Abadi menjadi relawan MER-C untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya dan menerima amal ibadahnya ————————————————————— Innalillahi wainnailaihi rajiun,(From Allah we belong, to Him we shall return). Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) expresses our deep condolences on the passing of Eng. Nur Ikhwan Abadi (Chairman of the Aqsa Working Group Presidium) on November 30th, 2024. Previously Eng. Nur Ikhwan Abadi was volunteering with MER-C for the construction of the Indonesia Hospital in Gaza and Indonesia Hospital in Rakhine State, Myanmar. May Allah SWT forgive all his sins and accept his good deeds.
[Breaking News] Pasukan Penjajah Kembali Serang Rumah Sakit Indonesia, Sejumlah Fasilitas Rusak

Pasukan penjajah Israel sejak Rabu (27/11) pagi kembali mengepung dan menembaki Rumah Sakit Indonesia di Bait Lahia, Gaza Utara, yang menyebabkan sejumlah fasilitas rusak. Staf lokal Rumah Sakit Indonesia mengatakan, tank dan drone pasukan penjajah menembaki semua jendela, atap rumah sakit, tangki air, dan fasilitas lainnya. Listrik juga sempat padam akibat serangan tersebut. Relawan MER-C di Jalur Gaza Ir. Edy Wahyudi sebelumnya juga melaporkan, ada sekitar 26 tank penjajah Israel yang melakukan pengepungan di Rumah Sakit Indonesia. MER-C masih terus berupaya untuk dapat kembali mengirimkan tim medis dan bantuan ke Gaza Utara, yang terblokade sejak perintah evakuasi paksa penjajah Israel pada awal Oktober 2024. Tim EMT MER-C ke-6 yang saat ini bertugas di dua Rumah Sakit di Gaza City yaitu RS Al-Shifa dan Public Aid Hospital telah lima kali mengajukan izin melalui WHO untuk bisa masuk ke Gaza Utara dan membantu memberikan pelayanan di Rumah Sakit Indonesia dan Kamal Udwan, namun hingga kini penjajah Israel masih belum memberikan izin. Tim EMT MER-C ke-6 berhasil masuk ke Jalur Gaza pada akhir Oktober 2024. Di tengah kekurangan tenaga medis di Jalur Gaza terutama dokter spesialis, Tim recananya akan bertugas dalam jangka waktu lebih panjang, yaitu selama tiga bulan.