Warga Gaza Kembali Jadi Korban dalam Serangan Terbaru Penjajah Israel di Jabalia

Breaking News Jabalia — Serangan udara kembali mengguncang wilayah Jabalia, Gaza, pada Sabtu (12/4) siang waktu setempat. Serangan yang terjadi sekitar 300 meter dari Rumah Sakit Indonesia itu menghantam sebuah sekolah, menyebabkan dua warga syahid, satu luka berat, dan tiga lainnya luka ringan. yang syahid langsung disemayamkan di ruang jenazah dekat RS Indonesia. Salah satu korban diketahui sebagai seorang ayah yang sebelumnya telah kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam serangan 19 Maret lalu. Pada tanggal tersebut, serangan udara Israel merenggut nyawa anak, saudara perempuan dan ibunya. Tepat sebulan setelah tragedi itu, pria tersebut menyusul keluarga kecilnya. Ia meninggalkan seorang gadis kecil yang kini hidup seorang diri tanpa ayah, ibu dan saudaranya. Kisah pilu ini menambah daftar panjang penderitaan warga Gaza yang terus menjadi target serangan tanpa henti.
Katastropik Kemanusiaan Terburuk mengancam, MER-C Desak Tindakan Nyata Dunia Internasional Menghentikan Penghancuran Gaza Oleh Israel

Siaran Pers Jakarta, 10 April 2025 — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melalui konferensi pers pada Kamis (10/4), menyampaikan keprihatinan mendalam atas memburuknya kondisi di Jalur Gaza yang saat ini diambang katastropik kemanusiaan. Ketua Presidium MER-C Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.Em., menegaskan bahwa Israel telah berulang kali membunuh tenaga medis Gaza yang sedang aktif melakukan pelayanan kesehatan dan ini merupakan kejahatan kemanusiaan. “Keadaan ini harus terus disuarakan, karena diam adalah bentuk pembiaran,” ujarnya dalam konferensi pers di Markas Besar MER-C di Jakarta. Di tengah upaya gencatan senjata, Israel terus melakukan kejahatan kemanusiaan yang sistematis dan terencana, termasuk penyerangan terhadap tenaga medis dan pekerja kemanusiaan, bahkan staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penutupan akses bantuan kemanusiaan semakin memperparah situasi, mengancam terjadinya bencana kelaparan terburuk dalam sejarah Gaza. Rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan tenaga medis menjadi sasaran serangan, pelanggaran yang secara nyata bertentangan dengan hukum humaniter internasional. Sejak 18 Maret 2025 MER-C telah mengirimkan delapan tim medis ke Jalur Gaza dan saat ini enam relawan masih berada di Rumah Sakit Indonesia, Gaza Utara. Mereka menyaksikan langsung serangan serta kehancuran demi kehancuran yang terjadi setiap hari. Ini bukan lagi sekadar konflik. Ini adalah tragedi kemanusiaan besar yang tidak boleh dibiarkan berlangsung lebih lama. Dunia internasional harus bersuara dan bertindak. Informasi lebih lanjut:Call Center MER-C: 0811990176 Hormat kami,MER-C Indonesia
MER-C Berpartisipasi dalam Aksi “Lindungi Tenaga Medis Gaza” di Jakarta

Jakarta — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) turut ambil bagian dalam aksi damai bertajuk “Lindungi Tenaga Medis Gaza” yang digelar di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (7/4). Aksi ini merupakan inisiatif gabungan dari berbagai lembaga kesehatan dan dikoordinasi langsung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebanyak 10 relawan dari MER-C dikerahkan untuk mengikuti aksi solidaritas ini, yang merupakan bagian dari gerakan global untuk mengecam pembunuhan terhadap tenaga kesehatan yang sedang bertugas di Gaza, Palestina. Ketua Presidium MER-C Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.Em menyampaikan pernyataan sikap di hadapan peserta aksi, menegaskan bahwa Israel telah berulang kali melakukan kejahatan kemanusiaan dengan membunuh tenaga medis Gaza yang sedang aktif melakukan pelayanan kesehatan. “Keadaan ini harus terus disuarakan, karena diam adalah bentuk pembiaran,” tegasnya dalam orasi. Selain itu, relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C yang pernah bertugas di Gaza juga turut menyampaikan orasi yaitu dr. Ni Nyoman Indirawati Kusuma, Sp.PD., drg. Elisabeth L. Sarri serta Presidium MER-C dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S., Ketiganya menekankan pentingnya kesadaran global atas situasi genting yang dialami tenaga medis di Gaza, Palestina.
Breaking News! Gaza Kembali Diserang, 15 Korban Syahid Dievakuasi di RS Indonesia

Gaza Utara – Serangan udara kembali menghantam wilayah Gaza Utara pada Rabu sore (19/3), sedikitnya 15 warga sipil dari Beit Hanoun dan Beit Lahia syahid. Para korban syahid kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Serangan tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 waktu Gaza, hanya beberapa saat sebelum waktu berbuka puasa. Ketua Emergency Medical Team (EMT) ke-8, dr. Tonggo Meaty Fransisca, mengonfirmasi bahwa di antara korban terdapat anak-anak. “Terjadi kembali pengeboman oleh penjajah, yang kemudian sebelum iftar (berbuka) jenazah syahid tiba di RS Indonesia. Di antara korban juga terdapat anak-anak,” ujar dr. Meaty. Keterbatasan fasilitas di Rumah Sakit Indonesia membuat pihak rumah sakit terpaksa menggunakan ruang poliklinik untuk pengurusan jenazah. Sebelumnya, RS Indonesia ini juga menangani korban syahid dan luka-luka akibat serangan udara Israel pada Selasa (18/3). Serangan besar-besaran yang kembali terjadi di Jalur Gaza menandai berakhirnya gencatan senjata yang sebelumnya disepakati sejak 19 Januari 2025. Hingga saat ini, eskalasi kekerasan terus meningkat, memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Relawan MER-C jadi Narasumber di Talkshow Inspirasi Ramadhan Masjid Salman ITB

Bandung – Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Reyfal Khaidar menjadi narasumber dalam Talkshow Inspirasi Ramadhan (IRAMA) yang digelar di Masjid Salman ITB, Selasa (11/3). Acara yang mengusung tema “Menyatukan Iman, Ilmu, dan Amal dalam Perjuangan dan Kemanusiaan” ini berlangsung secara luring dan disiarkan langsung melalui YouTube Masjid Salman. Dr. Reyfal Khaidar, yang pernah bertugas sebagai relawan medis di Emergency Medical Team (EMT)MER-C ke-1 pada Maret–April 2024, menceritakan pengalamannya saat turun langsung memberikan layanan medis di tengah situasi konflik. Sementara itu, pembicara lainnya Syaikh Belal Alhabil, mahasiswa S2 Teknik Sipil ITB asal Gaza, turut berbagi pandangannya mengenai peran ilmu dan pendidikan dalam perjuangan rakyat Palestina. Ia menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga alat strategis dalam membangun masa depan Palestina yang lebih baik. Acara yang berlangsung di Ruang Utama Masjid Salman ITB ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa ITB dan universitas lainnya, dosen, karyawan profesional, serta masyarakat umum. Dalam suasana Ramadhan, talkshow ini menjadi momen refleksi bagi peserta untuk memahami bagaimana iman, ilmu, dan amal dapat bersinergi dalam menghadapi tantangan hidup dan memberikan kontribusi nyata bagi kemanusiaan. Melalui kisah-kisah inspiratif para narasumber, diharapkan peserta dapat lebih termotivasi untuk mengaplikasikan nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan, baik di bidang akademik, sosial, maupun kemanusiaan.
Up Date Serangan Israel di Jalur Gaza: Tiga Korban yang Dilarikan ke RS Indonesia Syahid

Jalur Gaza – Dari sekitar 13 korban serangan Israel yang dilarikan ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara, tiga diantaranya telah syahid. “Sekarang korban syahid bertambah menjadi tiga orang,” ujar Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-8, dr. Tonggo Meaty Fransisca yang saat ini berada di Jalur Gaza. Ia menambahkan, Tim EMT yang saat ini bertugas di Jalur Gaza juga mendengar dan merasakan getaran dari puluhan bom yang dijatuhkan oleh Israel ke sejumlah wilayah di Jalur Gaza sejak pukul 02.00 waktu Gaza. Saat ini Tim EMT MER-C ke-8 bersama tim medis lokal terus berupaya maksimal untuk memberikan pelayanan kepada para korban. Serangan terbaru Israel telah menyebabkan ratusan korban syahid dan luka-luka di Beit Hanoun, Beit Lahia, serta di wilayah Al Mawasi, Khan Yunis. Kantor Media Pemerintah Gaza telah merilis pernyataan mengenai gelombang serangan mematikan terbaru Israel di Gaza, bahwa sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak dan orang tua. Serangan terbaru yang menewaskan ratusan warga Gaza ini mengakhiri gencatan senjata yang disepakati sejak 19 Januari 2025. Kantor Perdana Menteri Netanyahu mengatakan, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz telah mengumumkan dimulainya kembali perang.
Update tim EMT-7 MER-C dari GAZA: Kondisi RS Indonesia Terkini!

Gaza – Sejumlah kerusakan di Rumah Sakit Indonesia (RSI) kini sudah mulai diperbaiki pasca genjatan senjata sejak kedatangan Relawan dari Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 di Gaza Utara pada 30 Januari 2025. Relawan EMT MER-C ke-7 yang saat ini bertugas di Jalur Gaza tidak hanya fokus memberikan pelayanan medis, tetapi juga berperan aktif dalam proses renovasi dan pengaktifan kembali RSI. Dua relawan EMT MER-C ke-7, dr. Eka Budhi Satyawardhana, SpBS, dan Puren Prasetiyadi, Amd. Kep, menunjukkan sejumlah ruangan di dalam RSI yang telah diperbaiki dan kini mulai digunakan untuk melayani pasien. Dr. Eka menjelaskan bahwa banyak kerusakan yang sudah mulai diperbaiki di berbagai bagian rumah sakit, terutama yang terkait dengan infrastruktur dan fasilitas medis. Pelayanan seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat jalan, dan rawat inap juga telah dibuka kembali dan kini melayani ratusan pasien setiap harinya. Namun, dr. Eka juga menambahkan bahwa beberapa bagian dalam rumah sakit masih memerlukan perbaikan lanjutan. Ia menunjukkan sejumlah peralatan medis yang rusak akibat serangan dan perusakan yang dilakukan oleh penjajah Israel selama konflik berlangsung. Dengan upaya renovasi dan pengaktifan kembali layanan di Rumah Sakit Indonesia, diharapkan warga Gaza yang terdampak perang dan membutuhkan perawatan medis bisa mendapatkan bantuan maksimal
MER-C Indonesia: Perlindungan Hak Anak Pengungsi Harus Jadi Prioritas

Banda Aceh – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia mengirimkan perwakilannya dari cabang Medan untuk mengikuti Pelatihan “Perlindungan Hak-hak Anak dalam Konteks Kedaruratan dan Penanganan Pengungsi Luar Negeri” yang digelar oleh Yayasan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia. Pelatihan ini digelar selama dua hari, 11-12 Februari 2025 di Banda Aceh dan diikuti oleh sejumlah perwakilan dari lembaga kemanusiaan dan advokasi HAM. Manajer Operasional MER-C Medan Ade Andrian, S.Kep., Ns., M.Kep mengatakan, materi pokok dalam pelatihan ini yaitu konvensi hak anak, perlindungan anak, memahami kerentanan anak, dukungan psikososial, pencegahan kekerasan pada anak, sistem rujukan manajemen layanan terpadu, dampak kekerasan pada anak dan manajemen kasus. Ia mengatakan, dalam proses pelatihan peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk membahas resiko dan mitigasi dalam penanganan pengungsi luar negeri utamanya pada anak. “Resiko dan mitigasi dalam pembahasan mulai dari resiko dan mitigasi sebelum mendarat, resiko dan mitigasi di pos sementara, dan resiko serta mitigasi saat dipindahkan ke tempat pengungsian,” ujarnya. Dalam sesi diskusi, Ade Andrian juga menyampaikan gagasan untuk dijadikan pertimbangan pelatihan ini. Pertama, MER-C mendorong adanya peraturan dari pemerintah minimal di daerah, untuk mendukung seluruh hak asasi manusia pengungsi dapat terpenuhi utamanya pada anak-anak. “Peraturan tersebut nantinya dapat mendukung kerja lintas sektor agar ada arahan yang jelas setidaknya dari gubernur, bupati, camat, kepala desa, kepala dusun hingga sampai pada lapisan masyarakat, dan seluruh sektor yang menangani pengungsi,” kata Ade. Ia juga menekankan pentingnya pembuatan SOP dalam setiap fase pengungsi, baik saat baru tiba, saat di pos pengungsian serta saat dilakukan perpindahan. Lebih lanjut ia mengatakan, menyiapkan gizi sesuai dengan kelompok usia anak, ketika janin dalam kandungan juga harus disiapkan makanan dan vitamin untuk ibu hamilnya, begitupun anak usia di bawah 6 bulan. “Ketika anak usia delapan bulan akan berbeda kebutuhan gizinya dengan anak lima tahun, maka gizi untuk setiap kelompok umur juga peru diperhatikan,” tuturnya.
Kondisi Terkini Gaza dan RS Indonesia Pasca Kesepakatan Gencatan Senjata

PRESS RELEASE Jakarta, Rabu, 5 Januari 2025 – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengadakan konferensi pers untuk memberikan informasi terbaru mengenai situasi di Jalur Gaza dan kondisi Rumah Sakit Indonesia pasca gencatan senjata yang baru-baru ini disepakati, di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat. Konferensi pers ini dihadiri oleh Presidium MER-C DR. dr. Yogi Prabowo, Sp.OT, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em dan dr. Tonggo Meaty Fransisca, Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C dr. Arief Rachman, SpRad serta Ketua Presidium MER-C Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em yang memberikan laporan langsung dari Jalur Gaza. Situasi Terkini di Gaza Utara Dr. Hadiki bersama empat relawan MER-C lainya tiba di Jalur Gaza pada Selasa, 28 Januari 2025 dan berhasil masuk ke Gaza Utara, wilayah yang selama ini sulit dijangkau, bersama konvoi WHO pada Kamis, 30 Januari 2025. Dr. Hadiki mengatakan saat ini sudah banyak warga Gaza yang sebelumnya berada di pengungsian mulai dari Rafah, Gaza Selatan dan Gaza City, kembali ke rumah mereka. Masyarakat yang kembali ini tidak lagi berkumpul di satu kamp pengungsian, sebagian besar tersebar di bekas-bekas rumah mereka, sebagian membangun shelter sederhana untuk tinggal. Ia mengatakan, sudah ada tanki-tanki air serta truk-truk bantuan yang membawa tenda sementara masuk ke Gaza Utara. Seiring adanya kesepakatan gencata senjata, Tim MER-C langsung melakukan penilaian cepat, khususnya di bidang kesehatan dengan mengunjungi tiga Rumah Sakit di Gaza Utara, termasuk RS Indonesia. Dari hasil penilaian di sejumlah rumah sakit, kasus yang banyak dijumpai saat ini adalah kasus-kasus infekasi luka pasca perang, juga luka-luka baru yang timbul karena masyarakat mulai bekerja di puing-puing, tertusuk, tergores serta blast injury karena mereka terkena bom yang belum meledak, asma juga chicken pox tengah menyebar. Tim EMT MER-C ke-7 sendiri saat ini membagi tugas, lima hari di IGD RS Indonesia dan dua hari di RS Al-Awda, rumah sakit yang masih berfungsi dan sistemnya masih berjalan. Kondisi Rumah Sakit Indonesia Dr. Hadiki mengatakan, saat ini layanan Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam Rumah Sakit Indonesia telah dibuka kembali atas permintaan Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) khususnya untuk trauma minor. Hal ini mengingat semakin banyaknya warga yang kembali ke Gaza Utara pasca-gencatan senjata, dimana kebutuhan akan fasilitas kesehatan yang dapat beroperasi menjadi sangat mendesak. Dr. Yogi Prabowo dalam kesempatan itu mengatakan, MER-C sendiri tengah melakukan persiapan pembangunan kembali RS Indonesia dan penambahan fasilitas baik gedung dan peralatan. Selain itu MER-C juga telah mengirimkan tim ke Yordania untuk melakukan assessment untuk melakukan penjajakan terkait alur keluar masuk barang serta pembelian semua yang diperlukan dalam proses rehabilitasi tersebut. Harapan ke Depan MER-C meminta pemerintah Indonesia untuk bisa mendukung masuknya relawan ke Jalur Gaza, agar dapat bekerja dengan aman. Selain itu ke depannya MER-C tidak hanya akan mendatangkan tenaga kesehatan tapi juga tenaga-tenaga ahli di bidangnya dan akan membuka kerja sama dengan siapa saja. MER-C juga terus berkomitmen untuk menjadi jembatan rakyat Indonesia dengan masyarakat yang ada di Gaza terutama dalam bidang kesehatan.
Pelayanan Gawat Darurat 24 Jam RS Indonesia di Gaza kembali dibuka

Breaking News Sejak Sabtu, 1 Februari 2025, pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam di RS Indonesia kembali di buka, EMT MER-C ke 7 turut berpartisipasi dalam kegiatan dengan menurunkan 2 dokter spesialis dan 1 perawat. Ketua EMT MER-C ke 7 yang juga Ketua Presidium MER-C, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.Em menjelaskan, tim akan bekerja sesuai pembagian shift dengan staf medis rumah sakit. “Penting untuk mendukung pelayanan ini, karena populasi di gaza utara meningkat cepat setelah check point di area Netzarim ditutup” “Saat ini UGD RS. Indonesia dapat melayani kasus-kasus trauma minor dan keluhan simtomatik, pelayanan dapat diperluas apabila instalasi gas medis sentral rumah sakit sudah selesai diperbaiki” papar beliau, “Dibukanya UGD RS Indonesia diharapkan dapat membantu mengurangi kondisi UGD penuh sesak di RS Al-Awda, Gaza Utara” Tim EMT MER-C mendukung pelayanan UGD RS Indonesia bersama-sama dengan staf RS yang masih tersisa, dan dokter-dokter muda warga lokal yang menjadi relawan.