MER-C Gelar Jumpa Pers terkait Kondisi Relawan dan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada hari Rabu (9/10/2024) menggelar jumpa pers terkait kondisi relawan dan situasi terkini Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, di tengah intensitas serangan penjajah Israel yang kembali meningkat di wilayah tersebut sejak Sabtu (4/10//2024). Jumpa pers ini dihadiri oleh Ketua Presidium MER-C DR. dr. Hadiki Habib, SpPD., SpEm., Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C dr. Arief Rachman, SpRad., Presidium MER-C dr. Tonggo Meaty Fransisca, serta Ketua Tim EMT MER-C ke-5 yang baru saja kembali dari Jalur Gaza, dr. Dany K. Ramdhan, SpBS. Ketua Presidium MER-C Hadiki Habib mengatakan bahwa saat ini RS Indonesia sudah berfungsi meski belum optimal dan telah melakukan pelayanan untuk kasus-kasus trauma khususnya trauma massal (MCI) akibat serangan. Namun informasi terakhir telah terjadi penyerangan di wilayah Gaza Utara. “Tiga hari terakhir ini kami mendapatkan informasi dari relawan yang ada di Gaza bahwa kembali terjadi penyerangan di Gaza Utara, sehingga Tim MER-C yang ada di RS Indonesia harus bergeser ke daerah yang lebih aman ke Gaza Tengah,” kata Hadiki. Selain itu, dalam kesempatan ini MER-C memberikan laporan langsung dari relawan MER-C di Jalur Gaza Fikri Rofiul Haq yang mengatakan Israel telah mengeluarkan ultimatum kepada tiga rumah sakit di Gaza Utara untuk melakukan evakuasi staf dan pasien dalam waktu 24 jam. Fikri mengatakan, Israel mengancam akan membunuh mereka yang masih tetap tinggal di rumah sakit seperti yang mereka lakukan di Rumah Sakit As-syifa. Fikri dan relawan logistik MER-C Ir. Edy Wahyudi pada hari Senin (7/10) telah melakukan evakuasi ke Kota Gaza dan saat ini berada di RS Al-Ahli Al-Arabi menunggu lampu hijau dari WHO untuk melanjutkan perjalanan ke posko MER-C di Gaza Tengah. Liaison Officer MER-C di Jalur Gaza, Marissa Noriti mengatakan ia terus berkordinasi dengan WHO dan mereka sudah mulai bergerak untuk menjemput kedua relawan MER-C. Namun sampai hari ini belum ada green light dari pihak Israel. Dalam jumpa pers ini, MER-C juga menegaskan kembali komitmennya untuk terus membantu krisis kemanusiaan yang ada di Gaza, dengan mengirimkan bantuan logistik dan tim medis secara berkesinambungan.Sejak Maret 2024, MER-C telah mengirimkan 5 tim medis ke Jalur Gaza dengan total 37 relawan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat bidan, Liaison Officer dan relawan logistik. Jika tidak ada kendala, MER-C akan kembali mengirimkan Tim ke-6 untuk bertugas di Jalur Gaza.
Siaran Pers : Genosida di Gaza, Palestina: MER-C Desak Realisasi Perdamaian

Siaran Pers Genap satu tahun genosida dan pengusiran dalam jalur Gaza, Palestina terjadi. Sampai 5 Oktober 2024, telah gugur 41.825 syuhada, ditambah 96.910 orang luka-luka, ratusan ribu penduduk harus berpindah tinggal di kamp penampungan padat dan terbatas. Okupasi paksa penjajah di tanah Palestina secara ilegal adalah akar masalah yang terus dibiarkan, dan mendapatkan pembenaran negara-negara Adidaya seperti Amerika Serikat dan Sekutunya. Puluhan ribu korban jiwa telah jatuh dan terus bertambah. Eskalasi peperangan yang melibatkan Libanon, Yaman, dan Iran akan memperluas krisis kemanusiaan. Masyarakat Indonesia melalui MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), telah menunjukkan sikap kemanusiaan yang nyata, dengan mendirikan Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Rumah Sakit yang menjadi tulang punggung sistem pelayanan kesehatan, namun saat awal perang kali ini, dirusak dan dikosongkan oleh penjajah. Rumah sakit Indonesia adalah bukti bahwa Indonesia ada untuk mendukung kemerdekaan Palestina yang hakiki, karena pengakuan dan kemerdekaan ini adalah kunci dalam penyelesaian konflik. Satu tahun genosida di Gaza, Palestina, menyebabkan kesehatan masyarakatnya tidak hanya rentan, namun juga semakin terabaikan, oleh karena itu, sejak Maret 2023, MER-C secara konsisten mengirimkan lima gelombang Emergency Medical Team (EMT) ke dalam Gaza secara resmi melalui kerjasama dengan World Health Organization (WHO), dan berkomitmen untuk melanjutkan pengiriman tim ke-6 khususnya mengelola kasus-kasus medis di daerah perang. Total 37 relawan MER-C Indonesia, terdiri atas dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, Liaison Officer dan relawan logistik umum telah melakukan rotasi di dalam Gaza sampai 7 Oktober 2024. Tim EMT MER-C bertugas di rumah sakit atau klinik yang direkomendasikan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza. Tercatat sebanyak 3.178 pasien korban agresi ditangani oleh Tim EMT MER-C, dengan jumlah pasien terbesar di RS Indonesia, yaitu 1.108 orang. Penyaluran bantuan logistik langsung ke dalam Gaza juga secara simultan dilakukan oleh MER-C sejak awal agresi melalui koordinasi intens dengan pemerintah Gaza, Palestina dalam bentuk donasi makanan, alat-alat operasi, obat-obatan, alat medis habis pakai, linen rumah sakit, kendaraan operasional, solar panel di RS Indonesia serta renovasi wisma dr. Joserizal Jurnalis. Rumah Sakit Indonesia, dengan berbagai kerusakan yang ada, saat ini telah difungsikan dan kembali menangani korban-korban, dan akan kita bangun kembali. Rumah sakit ini, tidak hanya menjadi tempat pertolongan medis, namun telah menjadi simbol diplomasi masyarakat Indonesia untuk perdamaian di bumi Gaza, Palestina. Saat ini masih terdapat empat relawan MER-C di Jalur Gaza, dua relawan berada di Posko MER-C di Gaza Tengah dan dua relawan lainnya masih berada di RS Al-Ahli Al-Arabi Kota Gaza menunggu lampu hijau dari WHO untuk melanjutkan perjalanan ke posko MER-C di Gaza Tengah. Keduanya melakukan evakuasi dari RS Indonesia di Gaza Utara pada hari Senin/7 Oktober 2024, tepat satu tahun genosida, akibat serangan massif di sekitar RS Indonesia. Seiring dengan intensitas serangan udara dan darat yang meningkat, khususnya di Jalur Gaza bagian Utara, dan pengepungan sejumlah rumah sakit yang masih berfungsi dan perintah evakuasi paksa seluruh penghuni rumah sakit baik tenaga medis maupun pasien, maka dengan ini kami menyerukan dan mendesak agar pasukan penjajah: 1. Menghentikan serangan terhadap fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan pasien-pasien yang tidak berdaya;2. Membebaskan tenaga kesehatan yang ditahan;3. Memberikan akses bagi bantuan-bantuan medis dan kemanusiaan untuk masuk ke Jalur Gaza;4. Kepada Dunia Internasional agar bersama-sama memberikan tekanan kepada penjajah untuk menghentikan genosida di Palestina. Hal ini juga dalam upaya menghentikan eskalasi peperangan yang semakin meluas ke wilayah lainnya. #BangunKembaliRSIndonesiadiGaza Jakarta, 9 Oktober 2024MER-C Indonesia
MER-C Tetapkan Susunan Presidium Baru Periode 2024-2029

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menetapkan susunan Presidium baru untuk periode 2024-2025. Kelima presidium yang baru terpilih tersebut adalah; dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S, DR. Ir. Ahyahudin Sodri, M.Sc, dr. Tonggo Meaty Fransisca, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.P.D, Sp.Em dan dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em. Anggota presidium baru ini ditetapkan berdasarkan Musyawarah Besar ke-6 yang digelar pada Sabtu–Minggu, 24 – 25 Agustus 2024, di Kantor Pusat MER-C, Senen, Jakarta Pusat. Musyawarah ini dihadiri oleh dewan pendiri, pengurus, perwakilan relawan dan cabang-cabang MER-C di Indonesia. Formasi Presidium MER-C periode 2024 – 2029 lebih diwarnai oleh relawan-relawan muda dalam rangka regenerasi kepemimpinan di MER-C. Hanya satu Presidium di periode sebelumnya yang masih diberikan amanah untuk kembali menjadi presidium 5 tahun berikutnya, yaitu dr. Yogi Prabowo yang juga merupakan salah satu pendiri MER-C. Keberadaan Presidium lama diharapkan bisa memberikan bimbingan sehingga proses pendelegasian amanah-amanah yang ada bisa berlangsung lebih baik. Selain beranggotakan relawan medis, dalam formasi presidium MER-C 2024-2029 juga terdapat satu relawan non medis, yaitu DR. Ir. Ahyahudin Sodri, M.Sc, yang mengawali aktifitas kerelawanan dengan menjadi salah satu pendiri MER-C Cabang Jerman pada tahun 2004. Kembali ke Indonesia pada tahun 2007, ia tetap aktif sebagai relawan di MER-C Pusat Jakarta. Bahkan ia menjadi Ketua Tim Pengadaan Alat Kesehatan untuk RS Indonesia di Gaza Palestina dan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Sementara tiga Presidium lainnya adalah relawan medis yang meski masih muda, namun telah memiliki pengalaman menunaikan misi kemanusiaan ke berbagai wilayah konflik dan bencana alam di dalam maupun luar negeri. Dr. Hadiki Habib adalah relawan yang telah aktif bergabung di MER-C Cabang Medan sejak 2002, saat ia masih menjadi mahasiswa kedokteran di Sumatera Utara. Setelah pindah ke Jakarta, ia tetap meluangkan waktu menjadi relawan medis ke wilayah konflik dan bencana, bahkan hingga ke Nepal dan Rakhine State Myanmar. Sementara dr. Zecky Eko Triwahyudi adalah relawan yang telah bergabung dengan MER-C sejak 2006 saat masih menjalankan pendidikan kedokteran di Semarang. Beberapa wilayah bencana di Indonesia telah didatanginya bersama Tim MER-C, juga Filipina dan Afghanistan. Berbeda dengan susunan Presidium MER-C sebelumnya yang didominasi oleh relawan laki-laki, pada periode kali ini satu relawan perempuan, dr. Tonggo Meaty mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai salah satu presidium. Aktif di MER-C sejak tahun 2009, berbagai misi kemanusiaan telah diikutinya, mulai dari Somalia, Myanmar, Suriah hingga Afghanistan, serta Poso dan wilayah bencana alam lainnya. Semoga Presidium yang baru terpilih diberikan kekuatan dan kemudahan untuk membawa MER-C menjadi organisasi medis dan kemanusiaan yang lebih baik, lebih amanah dan profesional ke depan. Susunan presidium baru ini menggantikan lima presidium sebelumnya periode 2019 -2024, yaitu; dr. Sarbini Abdul Murad, dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T., SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em, Ir. Faried Thalib, dr. Henry Hidayatullah, M.Si dan dr. Arief Rachman, Sp.Rad. MER-C memberikan apresiasi dan penghargaan tertinggi atas pengabdian dan dedikasi tanpa pamrih yang telah diberikan para Presidium MER-C selama mengemban amanah ini. Semoga tenaga, waktu, dan fikiran yang telah disumbangkan selama ini bernilai jihad profesi dan mendapat balasan yang terbaik dari Allah SWT.
25 Tahun MER-C Berkontribusi untuk Kemanusiaan

Terima kasih tertinggi kami kepada Allah SWT Tuhan Semesta Alam atas izin-Nya MER-C dapat berkiprah dan berbuat untuk Kemanusiaan selama dua setengah dekade. Terima kasih tulus kami kepada semua masyarakat yang telah mempercayai dan membersamai kami dengan doa dan dukungan moril serta materilnya. Terima kasih dan apresiasi kami kepada seluruh relawan tanpa pamrih dimana pun berada atas pengorbanan dan dedikasinya menjalankan jihad profesi bersama MER-C membantu sesama yang membutuhkan. Mari Bersama Perkuat Genggaman Tangan Kita untuk Kemanusiaan yang lebih baik. To Help the Most Neglected and the Most Vulnerable People. #MERC25Tahun
MER-C Desak Pembatalan PP Terkait Penyediaan Alat Kontrasepsi untuk Remaja

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mendesak pemerintah untuk segera membatalkan Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2024, terkait upaya kesehatan sistem reproduksi yang salah satu poinnya adalah menyediakan alat kontrasepsi bagi usia sekolah dan remaja. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, menegaskan pihaknya menolak PP tersebut karena tidak layak dan bertentangan dengan hukum etika serta kepatutan, Rabu (7/8). “Presiden harus membatalkan dan merevisi peraturan itu. PP itu merupakan wujud kekalahan moral untuk menyelamatkan generasi kita, bertabrakan dengan budaya timur dan akan menambah maraknya seks bebas,” kata Sarbini. Ia mengatakan, pemerintah mungkin melihat ada masalah-masalah terkait ini di sejumlah daerah, tapi menyediakan alat kontrasepsi bukan solusinya, malah akan meningkatkan penyebaran wabah penyakit khususnya penyakit seksual. Menurutnya, hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah ketegasan untuk menutup tempat-tempat maksiat, meningkatkan pendidikan agama dan moralitas anak bangsa, bukan justru memfasilitasi pelajar dan remaja dengan melakukan seks bebas. “Ini menjadi tantangan pemerintah dan kita semua untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa,” tuturnya.
Presidium MER-C Hadiri Pemakaman Ismail Haniyeh di Doha

Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Thalib menghadiri pemakaman Mantan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh, di Doha, Qatar, Jumat (2/8). “Kemarin tanggal 2 Agustus 2024, kami menghadiri prosesi shalat jenazah di hari Jumat di kota Doha Qatar. Semua berjalan hikmat, prosesi shalat sampai pada pemakamannya,” kata Faried. Ia mengatakan, pemakaman Haniyeh ini juga dihadiri oleh banyak tokoh dari berbagai belahan dunia, baik ulama maupun para pejabat pemerintahan. “Alhamdulillah kami dari MER-C dapat hadir bersama-sama dari shalat Jumat sampai shalat jenazahnya dan kami lanjutkan takziah ke tempat duka, yang memang sudah disiapkan oleh keluarga besar dari pada Ismail Haniya,” ujarnya. “Tentunya kita hadir di sana, menyampaikan salam kepada rekan-rekan yang kami kenal baik, yaitu kepada anak-anaknya maupun pada pejabat tinggi Palestina” tambahnya. Faried mengatakan sempat bertemu dr. Basem Naim, yang saat proses pembangunan RS Indonesia adalah Menteri Kesehatan, sehingga terkait langsung dengan proses pembangunan RS Indonesia. Dalam pertemuan itu, dr. Basem menyampaikan salam kepada seluruh jajaran MER-C dan masyarakat Indonesia yang mempunyai kepedulian serta perhatian besar terhadap bangsa Palestina. Faried mengatakan, MER-C sendiri memiliki sejarah khusus dengan Ismail Haniyeh karena ia adalah orang yang memberikan izin untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. “Beliau memberikan jalan yang seluas-luasnya dari mulai perizinan sampai fasilitas lahan yang diberikan secara wakaf. Ini sudah terwujud dan kita juga mempunyai program-program yang terkait dengan masalah kesehatan dan masalah kemanusiaan. Insya Allah itu akan terus berjalan,” ungkapnya. “Beliau telah mendahului kita semua dalam keadaan yang memang dicita-citakan, mati syahid dalam perjuangan membebaskan Palestina. Itu sudah menjadi tanggung jawab beliau dan juga masyarakat Palestina serta kita semua sebagai umat muslim,” tuturnya. “Kami meyakini dengan wafatnya beliau tidak akan melemahkan Palestina untuk meraih kemerdekaan,” pungkasnya. Ismail Haniyeh gugur bersama dengan pengawalnya di Tehran, Iran, pada 31 Juli 2024 akibat serangan Israel. Kepergiannya ke Iran ini dalam rangka menghadiri pelantikan Presiden Iran yang baru, Masud Pazeshkian.
Disambut Dengan Penuh Haru, Relawan MER-C Kembali ke Indonesia Setelah Misi Kemanusiaan di Gaza

Banten, Rasilnews – Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh tantangan, tiga relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) akhirnya tiba kembali di tanah air, Indonesia. Mereka adalah Ita Muswita (Ketua Tim/Bidan & Perawat Bedah), Asrina Sari (Perawat), dan Nadia Rosi (Perawat), yang telah mengabdi di Gaza selama lebih dari dua bulan, memberikan bantuan medis kepada warga yang terdampak konflik berkepanjangan. Setelah tertahan di Rafah, kota di selatan Gaza, karena situasi keamanan yang tidak menentu, para relawan akhirnya berhasil kembali. Mereka harus melewati berbagai rintangan sebelum tiba di Indonesia. Uni Ita, panggilan akrab Ita Muswita, menceritakan kisah penuh haru dan keteguhan hatinya kepada Radio Silaturahim. “Kami masuk ke Gaza melalui perbatasan Rafah dan bertugas di sana selama 2,5 bulan. Setiap hari di sana adalah perjuangan. Kami keluar lewat Kerem Shalom dan kemudian tinggal di Yordania, menunggu tim ke-4 masuk ke Gaza, baru kemudian kami kembali ke tanah air,” ungkap Uni Ita dengan suara yang bergetar, mengenang masa-masa sulit tersebut. Selama bertugas, mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan peralatan medis hingga ancaman keselamatan. Namun, semangat untuk membantu sesama tidak pernah padam. “Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh MER-C untuk ikut misi ini. Dari sekian banyak misi yang saya ikuti, misi ke Gaza lah yang paling banyak menguras air mata. Kondisi di Gaza sangat memprihatinkan, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Namun, insya Allah, jika diberi kesempatan lagi, saya dan teman-teman siap untuk kembali demi misi kemanusiaan,” tambahnya dengan penuh semangat. Uni Ita juga mengungkapkan pelajaran berharga yang didapatnya dari Gaza. “Dari Gaza, saya belajar arti sebenarnya dari ‘InsyaAllah’. Di sana, InsyaAllah bukan sekadar janji, tapi sebuah pengingat bahwa ‘hari ini kita hidup, mungkin besok kita belum tentu…’. “Setiap hari adalah anugerah yang harus disyukuri,” katanya sambil menahan air mata. Kepulangan mereka disambut dengan tangis haru oleh tim MER-C lainnya yang telah menunggu. Banyak dari mereka yang menitikkan air mata, tidak hanya karena bahagia melihat rekan-rekan mereka kembali dengan selamat, tetapi juga karena rasa bangga dan hormat atas keberanian dan dedikasi yang ditunjukkan. “Kami sangat bangga dengan apa yang telah mereka lakukan. Mereka adalah pahlawan sejati,” ujar salah satu anggota tim MER-C yang menyambut. Suasana penyambutan di bandara dipenuhi dengan keharuan. Wajah-wajah yang lelah namun penuh semangat itu, menjadi saksi bisu dari kisah pengorbanan dan keberanian yang tak ternilai harganya. Mereka bukan hanya membawa kembali cerita tentang penderitaan dan perjuangan, tetapi juga harapan dan inspirasi. Kisah mereka adalah pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup, bahkan di tengah Genosida yang berlangsung. Relawan MER-C telah menunjukkan kepada dunia bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas. Mereka telah menanamkan semangat kemanusiaan yang tak tergoyahkan, sebuah teladan yang patut ditiru oleh kita semua. Semoga langkah mereka menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus berjuang demi kemanusiaan dan keadilan. Sumber : https://www.radiosilaturahim.com/disambut-dengan-penuh-haru-relawan-mer-c-kembali-ke-indonesia-setelah-misi-kemanusiaan-di-gaza/
MER-C Apresiasi Langkah Spanyol, Irlandia dan Norwegia Akui Negara Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul Murad menyampaikan apresiasi kepada Spanyol, Irlandia dan Norwegia yang pada Selasa (28/5), secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara. “Keputusan Spanyol, Irlandia dan Norwegia mengakui kemerdekaan Palestina patut diapresiasi. Langkah berani ketiga negara Eropa tersebut tak lepas dari kekejaman dan kebrutalan Israel dalam membunuh penduduk sipil yang tak berdosa. Ketiga negara tesebut sejak awal memang sudah menentang serangan Israel ke Gaza Palestina karena memang akan memiliki dampak kemanusiaan begitu dahsyat dan memang kelak terbukti,” kata Sarbini, Rabu (29/5). “Terutama Irlandia yang memang punya pengalaman pahit di bawah penjajahan Inggris. Pengalaman kelam tersebut yang buat mereka empati dan simpati terhadap kesusahan dan kepedihan masyarakat Palestina terutama Gaza,” tambahnya. Ia juga mengatakan, Spanyol sendiri sejak awal agresi Israel ke Gaza telah secara tegas menentang serangan tersebut. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan langkah negaranya adalah tepat untuk mencapai perdamaian antara Israel-Palestina. Keputusan ini, menurutnya, tidak akan merugikan siapapun, termasuk Israel Menurutnya, pengakuan ketiga negara Eropa ini atas kemerdekaan Palestina bisa jadi pintu awal negara Eropa lainnya dapat mengikuti jejak mereka. “Pada sidang umum PBB, mayoritas negara anggota mendukung resolusi untuk mengakui Palestina menjadi anggota PBB, meski di Dewan Keamanan AS menolak resolusi tersebut. MER-C memandang ini kesempatan dunia untuk segera mengakui Palestina sebagai sebuah negara Merdeka,” ujarnya.
Hadiri Halal Bihalal HMI, dr. Sarbini Ceritakan Perjuangan Membangun RS Indonesia di Gaza

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad menceritakan perjuangan membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, saat menghadiri Halal Bihalal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Ini adalah mission impossible, karena kita membangun di tempat yang diblokade. Tidak hanya orang yang sulit masuk, bahkan uang pun sulit masuk Gaza,” katanya di Halal Bihalal dengan tema ‘Kemerdekaan Palestina, Amanah UUD 1945 dan Khittah Perjuangan HMI MPO’, yang digelar di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5). “Dulu kami datang ke Gaza, kemudian terdengar ledakan bom, saat itu yang kami rasakan bukan takut. Kami justru sangat marah karena tidak ada yang bisa dilakukan menyaksikan hal tersebut. Maka dari itu kita berusaha membangun Rumah Sakit yang sangat monumental, hadiah rakyat Indonesian untuk bangsa Palestina,” ujarnya. Ia mengungkap, Rumah Sakit yang dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia ini dibangun sebaik mungkin, dengan peralatan dan fasilitas terbaik, karena MER-C sangat menghargai usaha pembangunan RS ini. Sarbini mengatakan, untuk itu RS Indonesia memiliki fasilitas terbaik dan terbesar kedua di Jalur Gaza. Terakhir sebelum diserang Israel karena tuduhan adanya terowongan Hamas, RS Indonesia menjadi rujukan korban-korban serangan Israel dan tempat berlindung bagi ribuan warga Palestina di Gaza. “Di dalamnya pun kita rancang dengan baik, ruangannya kita beri nama-nama Indonesia seperti Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi ada pahlawan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Dik Tiro karena kita ingin mengenakan Indonesia kepada Bangsa Palestina,” tambahnya. “Warga Gaza sendiri saat awal Rumah Sakit ini dibangun mengatakan, ” Kami tidak tahu di mana Indonesia. Yang kami tahu itu negara sangat jauh” untuk itu warga Gaza sangat menghargai kehadiran dan bantuan kita,” kara Sarbini. Lebih lanjut, Sarbini menyerukan dukungan kepada warga Gaza yang saat ini masih terus diserang Israel. Ia sendiri menyayangkan di Indonesia masih ada orang yang mendukung tindakan Israel setelah menyaksikan apa yang terjadi. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di atas bukit dekat Jabaliya, kamp pengungsi terbesar di Gaza yang dibangun dari sumbangsih rakyat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Serangan pasukan pendudukan Israel pada Kamis (23/11) malam telah menyebabkan kerusakan parah di RS Indonesia dan menyebabkan tiga relawan MER-C, staf Rumah Sakit, serta seluruh pasien dan warga Gaza yang berada di sana terpaksa mengungsi ke Gaza Selatan.
Ketua Presidium MER-C: Nakba Ingatkan Kita Israel Lahir Lewat Pembantaian dan Pengusiran Rakyat Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad saat menghadiri peringataan Hari Nakba ke-76 di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta hari Rabu (15/5) mengatakan, Nakba mengingatkan bahwa negara Israel lahir dengan membantai mengusir rakyat Palestina. “Nakba ini memperingati hari dukanya bangsa Palestina yang diusir ketika negara Israel hadir dan lahir. Oleh sebab itu, ini adalah upaya untuk mengingat sejarah bahwa kita tidak pernah lupa dengan peristiwa ini,” kata Sarbini. “Untuk itu, hari ini kita diundang oleh Kedutaan Palestina untuk mengenang kekejaman Israel. Artinya bahwa Israel hadir dan lahir di Palestina dengan melakukan pembantaian dan mengusir rakyat Palestina sampai dengan mereka mengungsi pada hari ini dan tidak tahu kapan mereka harus kembali,” ujarnya. “Maka sebab itu ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak boleh kita lupa dan kita tidak akan pernah lupa peristiwa itu,” tegasnya. Kedutaan Besar Palestina di Jakarta menggelar Peringatan hari Nakba ke-76 yang dihadiri oleh Duta Besar Palestina H.E. Zuhair Al Shun, Duta Besar Suriah, Yordania dan negara sahabat lainnya, komunitas Palestina di Indonesia. Kedutaan juga mengundang NGO dan Ormas yaitu Medical Emergency Rescue Committee, Aqsa Working Group, PP Muhammadiyah dan PB NU. Warga Palestina di seluruh dunia memperingati Hari Nakba setiap tanggal 15 Mei. Nakba berarti malapetaka yang merujuk pada peristiwa eksodus massal di Palestina setelah perang Arab-Israel 1948. Diperkirakan sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah mereka. Banyak pengungsi Palestina di luar negeri tetap tanpa kewarganegaraan hingga hari ini.