25 Tahun MER-C Berkontribusi untuk Kemanusiaan

Terima kasih tertinggi kami kepada Allah SWT Tuhan Semesta Alam atas izin-Nya MER-C dapat berkiprah dan berbuat untuk Kemanusiaan selama dua setengah dekade. Terima kasih tulus kami kepada semua masyarakat yang telah mempercayai dan membersamai kami dengan doa dan dukungan moril serta materilnya. Terima kasih dan apresiasi kami kepada seluruh relawan tanpa pamrih dimana pun berada atas pengorbanan dan dedikasinya menjalankan jihad profesi bersama MER-C membantu sesama yang membutuhkan. Mari Bersama Perkuat Genggaman Tangan Kita untuk Kemanusiaan yang lebih baik. To Help the Most Neglected and the Most Vulnerable People. #MERC25Tahun
MER-C Desak Pembatalan PP Terkait Penyediaan Alat Kontrasepsi untuk Remaja

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mendesak pemerintah untuk segera membatalkan Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2024, terkait upaya kesehatan sistem reproduksi yang salah satu poinnya adalah menyediakan alat kontrasepsi bagi usia sekolah dan remaja. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, menegaskan pihaknya menolak PP tersebut karena tidak layak dan bertentangan dengan hukum etika serta kepatutan, Rabu (7/8). “Presiden harus membatalkan dan merevisi peraturan itu. PP itu merupakan wujud kekalahan moral untuk menyelamatkan generasi kita, bertabrakan dengan budaya timur dan akan menambah maraknya seks bebas,” kata Sarbini. Ia mengatakan, pemerintah mungkin melihat ada masalah-masalah terkait ini di sejumlah daerah, tapi menyediakan alat kontrasepsi bukan solusinya, malah akan meningkatkan penyebaran wabah penyakit khususnya penyakit seksual. Menurutnya, hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah ketegasan untuk menutup tempat-tempat maksiat, meningkatkan pendidikan agama dan moralitas anak bangsa, bukan justru memfasilitasi pelajar dan remaja dengan melakukan seks bebas. “Ini menjadi tantangan pemerintah dan kita semua untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa,” tuturnya.
Presidium MER-C Hadiri Pemakaman Ismail Haniyeh di Doha

Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Thalib menghadiri pemakaman Mantan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh, di Doha, Qatar, Jumat (2/8). “Kemarin tanggal 2 Agustus 2024, kami menghadiri prosesi shalat jenazah di hari Jumat di kota Doha Qatar. Semua berjalan hikmat, prosesi shalat sampai pada pemakamannya,” kata Faried. Ia mengatakan, pemakaman Haniyeh ini juga dihadiri oleh banyak tokoh dari berbagai belahan dunia, baik ulama maupun para pejabat pemerintahan. “Alhamdulillah kami dari MER-C dapat hadir bersama-sama dari shalat Jumat sampai shalat jenazahnya dan kami lanjutkan takziah ke tempat duka, yang memang sudah disiapkan oleh keluarga besar dari pada Ismail Haniya,” ujarnya. “Tentunya kita hadir di sana, menyampaikan salam kepada rekan-rekan yang kami kenal baik, yaitu kepada anak-anaknya maupun pada pejabat tinggi Palestina” tambahnya. Faried mengatakan sempat bertemu dr. Basem Naim, yang saat proses pembangunan RS Indonesia adalah Menteri Kesehatan, sehingga terkait langsung dengan proses pembangunan RS Indonesia. Dalam pertemuan itu, dr. Basem menyampaikan salam kepada seluruh jajaran MER-C dan masyarakat Indonesia yang mempunyai kepedulian serta perhatian besar terhadap bangsa Palestina. Faried mengatakan, MER-C sendiri memiliki sejarah khusus dengan Ismail Haniyeh karena ia adalah orang yang memberikan izin untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. “Beliau memberikan jalan yang seluas-luasnya dari mulai perizinan sampai fasilitas lahan yang diberikan secara wakaf. Ini sudah terwujud dan kita juga mempunyai program-program yang terkait dengan masalah kesehatan dan masalah kemanusiaan. Insya Allah itu akan terus berjalan,” ungkapnya. “Beliau telah mendahului kita semua dalam keadaan yang memang dicita-citakan, mati syahid dalam perjuangan membebaskan Palestina. Itu sudah menjadi tanggung jawab beliau dan juga masyarakat Palestina serta kita semua sebagai umat muslim,” tuturnya. “Kami meyakini dengan wafatnya beliau tidak akan melemahkan Palestina untuk meraih kemerdekaan,” pungkasnya. Ismail Haniyeh gugur bersama dengan pengawalnya di Tehran, Iran, pada 31 Juli 2024 akibat serangan Israel. Kepergiannya ke Iran ini dalam rangka menghadiri pelantikan Presiden Iran yang baru, Masud Pazeshkian.
Disambut Dengan Penuh Haru, Relawan MER-C Kembali ke Indonesia Setelah Misi Kemanusiaan di Gaza

Banten, Rasilnews – Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh tantangan, tiga relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) akhirnya tiba kembali di tanah air, Indonesia. Mereka adalah Ita Muswita (Ketua Tim/Bidan & Perawat Bedah), Asrina Sari (Perawat), dan Nadia Rosi (Perawat), yang telah mengabdi di Gaza selama lebih dari dua bulan, memberikan bantuan medis kepada warga yang terdampak konflik berkepanjangan. Setelah tertahan di Rafah, kota di selatan Gaza, karena situasi keamanan yang tidak menentu, para relawan akhirnya berhasil kembali. Mereka harus melewati berbagai rintangan sebelum tiba di Indonesia. Uni Ita, panggilan akrab Ita Muswita, menceritakan kisah penuh haru dan keteguhan hatinya kepada Radio Silaturahim. “Kami masuk ke Gaza melalui perbatasan Rafah dan bertugas di sana selama 2,5 bulan. Setiap hari di sana adalah perjuangan. Kami keluar lewat Kerem Shalom dan kemudian tinggal di Yordania, menunggu tim ke-4 masuk ke Gaza, baru kemudian kami kembali ke tanah air,” ungkap Uni Ita dengan suara yang bergetar, mengenang masa-masa sulit tersebut. Selama bertugas, mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan peralatan medis hingga ancaman keselamatan. Namun, semangat untuk membantu sesama tidak pernah padam. “Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh MER-C untuk ikut misi ini. Dari sekian banyak misi yang saya ikuti, misi ke Gaza lah yang paling banyak menguras air mata. Kondisi di Gaza sangat memprihatinkan, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Namun, insya Allah, jika diberi kesempatan lagi, saya dan teman-teman siap untuk kembali demi misi kemanusiaan,” tambahnya dengan penuh semangat. Uni Ita juga mengungkapkan pelajaran berharga yang didapatnya dari Gaza. “Dari Gaza, saya belajar arti sebenarnya dari ‘InsyaAllah’. Di sana, InsyaAllah bukan sekadar janji, tapi sebuah pengingat bahwa ‘hari ini kita hidup, mungkin besok kita belum tentu…’. “Setiap hari adalah anugerah yang harus disyukuri,” katanya sambil menahan air mata. Kepulangan mereka disambut dengan tangis haru oleh tim MER-C lainnya yang telah menunggu. Banyak dari mereka yang menitikkan air mata, tidak hanya karena bahagia melihat rekan-rekan mereka kembali dengan selamat, tetapi juga karena rasa bangga dan hormat atas keberanian dan dedikasi yang ditunjukkan. “Kami sangat bangga dengan apa yang telah mereka lakukan. Mereka adalah pahlawan sejati,” ujar salah satu anggota tim MER-C yang menyambut. Suasana penyambutan di bandara dipenuhi dengan keharuan. Wajah-wajah yang lelah namun penuh semangat itu, menjadi saksi bisu dari kisah pengorbanan dan keberanian yang tak ternilai harganya. Mereka bukan hanya membawa kembali cerita tentang penderitaan dan perjuangan, tetapi juga harapan dan inspirasi. Kisah mereka adalah pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup, bahkan di tengah Genosida yang berlangsung. Relawan MER-C telah menunjukkan kepada dunia bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas. Mereka telah menanamkan semangat kemanusiaan yang tak tergoyahkan, sebuah teladan yang patut ditiru oleh kita semua. Semoga langkah mereka menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus berjuang demi kemanusiaan dan keadilan. Sumber : https://www.radiosilaturahim.com/disambut-dengan-penuh-haru-relawan-mer-c-kembali-ke-indonesia-setelah-misi-kemanusiaan-di-gaza/
MER-C Apresiasi Langkah Spanyol, Irlandia dan Norwegia Akui Negara Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul Murad menyampaikan apresiasi kepada Spanyol, Irlandia dan Norwegia yang pada Selasa (28/5), secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara. “Keputusan Spanyol, Irlandia dan Norwegia mengakui kemerdekaan Palestina patut diapresiasi. Langkah berani ketiga negara Eropa tersebut tak lepas dari kekejaman dan kebrutalan Israel dalam membunuh penduduk sipil yang tak berdosa. Ketiga negara tesebut sejak awal memang sudah menentang serangan Israel ke Gaza Palestina karena memang akan memiliki dampak kemanusiaan begitu dahsyat dan memang kelak terbukti,” kata Sarbini, Rabu (29/5). “Terutama Irlandia yang memang punya pengalaman pahit di bawah penjajahan Inggris. Pengalaman kelam tersebut yang buat mereka empati dan simpati terhadap kesusahan dan kepedihan masyarakat Palestina terutama Gaza,” tambahnya. Ia juga mengatakan, Spanyol sendiri sejak awal agresi Israel ke Gaza telah secara tegas menentang serangan tersebut. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan langkah negaranya adalah tepat untuk mencapai perdamaian antara Israel-Palestina. Keputusan ini, menurutnya, tidak akan merugikan siapapun, termasuk Israel Menurutnya, pengakuan ketiga negara Eropa ini atas kemerdekaan Palestina bisa jadi pintu awal negara Eropa lainnya dapat mengikuti jejak mereka. “Pada sidang umum PBB, mayoritas negara anggota mendukung resolusi untuk mengakui Palestina menjadi anggota PBB, meski di Dewan Keamanan AS menolak resolusi tersebut. MER-C memandang ini kesempatan dunia untuk segera mengakui Palestina sebagai sebuah negara Merdeka,” ujarnya.
Hadiri Halal Bihalal HMI, dr. Sarbini Ceritakan Perjuangan Membangun RS Indonesia di Gaza

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad menceritakan perjuangan membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, saat menghadiri Halal Bihalal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Ini adalah mission impossible, karena kita membangun di tempat yang diblokade. Tidak hanya orang yang sulit masuk, bahkan uang pun sulit masuk Gaza,” katanya di Halal Bihalal dengan tema ‘Kemerdekaan Palestina, Amanah UUD 1945 dan Khittah Perjuangan HMI MPO’, yang digelar di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5). “Dulu kami datang ke Gaza, kemudian terdengar ledakan bom, saat itu yang kami rasakan bukan takut. Kami justru sangat marah karena tidak ada yang bisa dilakukan menyaksikan hal tersebut. Maka dari itu kita berusaha membangun Rumah Sakit yang sangat monumental, hadiah rakyat Indonesian untuk bangsa Palestina,” ujarnya. Ia mengungkap, Rumah Sakit yang dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia ini dibangun sebaik mungkin, dengan peralatan dan fasilitas terbaik, karena MER-C sangat menghargai usaha pembangunan RS ini. Sarbini mengatakan, untuk itu RS Indonesia memiliki fasilitas terbaik dan terbesar kedua di Jalur Gaza. Terakhir sebelum diserang Israel karena tuduhan adanya terowongan Hamas, RS Indonesia menjadi rujukan korban-korban serangan Israel dan tempat berlindung bagi ribuan warga Palestina di Gaza. “Di dalamnya pun kita rancang dengan baik, ruangannya kita beri nama-nama Indonesia seperti Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi ada pahlawan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Dik Tiro karena kita ingin mengenakan Indonesia kepada Bangsa Palestina,” tambahnya. “Warga Gaza sendiri saat awal Rumah Sakit ini dibangun mengatakan, ” Kami tidak tahu di mana Indonesia. Yang kami tahu itu negara sangat jauh” untuk itu warga Gaza sangat menghargai kehadiran dan bantuan kita,” kara Sarbini. Lebih lanjut, Sarbini menyerukan dukungan kepada warga Gaza yang saat ini masih terus diserang Israel. Ia sendiri menyayangkan di Indonesia masih ada orang yang mendukung tindakan Israel setelah menyaksikan apa yang terjadi. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di atas bukit dekat Jabaliya, kamp pengungsi terbesar di Gaza yang dibangun dari sumbangsih rakyat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Serangan pasukan pendudukan Israel pada Kamis (23/11) malam telah menyebabkan kerusakan parah di RS Indonesia dan menyebabkan tiga relawan MER-C, staf Rumah Sakit, serta seluruh pasien dan warga Gaza yang berada di sana terpaksa mengungsi ke Gaza Selatan.
Ketua Presidium MER-C: Nakba Ingatkan Kita Israel Lahir Lewat Pembantaian dan Pengusiran Rakyat Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad saat menghadiri peringataan Hari Nakba ke-76 di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta hari Rabu (15/5) mengatakan, Nakba mengingatkan bahwa negara Israel lahir dengan membantai mengusir rakyat Palestina. “Nakba ini memperingati hari dukanya bangsa Palestina yang diusir ketika negara Israel hadir dan lahir. Oleh sebab itu, ini adalah upaya untuk mengingat sejarah bahwa kita tidak pernah lupa dengan peristiwa ini,” kata Sarbini. “Untuk itu, hari ini kita diundang oleh Kedutaan Palestina untuk mengenang kekejaman Israel. Artinya bahwa Israel hadir dan lahir di Palestina dengan melakukan pembantaian dan mengusir rakyat Palestina sampai dengan mereka mengungsi pada hari ini dan tidak tahu kapan mereka harus kembali,” ujarnya. “Maka sebab itu ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak boleh kita lupa dan kita tidak akan pernah lupa peristiwa itu,” tegasnya. Kedutaan Besar Palestina di Jakarta menggelar Peringatan hari Nakba ke-76 yang dihadiri oleh Duta Besar Palestina H.E. Zuhair Al Shun, Duta Besar Suriah, Yordania dan negara sahabat lainnya, komunitas Palestina di Indonesia. Kedutaan juga mengundang NGO dan Ormas yaitu Medical Emergency Rescue Committee, Aqsa Working Group, PP Muhammadiyah dan PB NU. Warga Palestina di seluruh dunia memperingati Hari Nakba setiap tanggal 15 Mei. Nakba berarti malapetaka yang merujuk pada peristiwa eksodus massal di Palestina setelah perang Arab-Israel 1948. Diperkirakan sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah mereka. Banyak pengungsi Palestina di luar negeri tetap tanpa kewarganegaraan hingga hari ini.
MER-C Desak Israel Segera Hentikan Serangan ke Rafah

Siaran Pers Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mendesak Perdana Menteri Israel untuk segera menghentikan serangan ke Rafah, Gaza Selatan, yang akan mengakibatkan banyak korban sipil jika terus meluas. MER-C juga menyerukan kepada komunitas internasional segera mengambil tindakan untuk menghentikan genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza sebelum terlambat. Pasukan Israel melancarkan serangan udara dan darat secara masif di wilayah Rafah, Senin (6/5). Kementerian Pertahanan Israel hari Senin mengumumkan operasi militer di Rafah dan mengeluarkan peringatan kepada warga Palestina untuk mengungsi secara paksa dari bagian timur Rafah menuju ke daerah pesisir Al-Mawasi, barat daya Gaza, termasuk sekitar penyeberangan Rafah, perbatasan dengan Mesir, yang merupakan titik perlintasan utama bantuan kemanusiaan ke Gaza. Serangan ke Rafah ini mengakibatkan penundaan pertukaran Tim Emergency Medical Team (EMT) 3 MER-C yang akan keluar dari Jalur Gaza dan Tim EMT 4 yang akan masuk bertugas ke Jalur Gaza.Hal ini karena WHO mengeluarkan peringatan agar semua perjalanan dibatalkan. MER-C terus memantau situasi yang mungkin akan memburuk, serta berkoordinasi dengan WHO untuk menjaga dan memastikan Tim dalam kondisi aman dan dapat terus bekerja dengan baik. Hingga saat ini tank-tank Israel telah memasuki Penyebarangan Rafah. Suara drone dan pesawat tempur Israel terus terdengar jelas dari guest house/posko, tempat TIM EMT menetap. MER-C berkoordinasi dengan WHO sejak 18 Maret 2024 terus mengirimkan bantuan Tim Medis ke Jalur Gaza, yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT). MER-C telah mengirimkan total 4 Tim EMT. Sebanyak tiga Tim EMT sudah masuk dan bertugas di Jalur Gaza, sementara satu Tim (Tim EMT 4) masih tertahan di Kairo. Hingga saat ini, terhitung MER-C telah mengirimkan total 31 relawan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat dan bidan. TIM EMT MER-C sebelumnya bertugas di sejumlah rumah sakit yang masih berfungsi di Rafah, Gaza Selatan, yaitu Rumah Sakit An Najar, Rumah Sakit El Emiraty dan Klinik Tal Al Sultan Primary Health Care Center. Pasca serangan darat Israel ke Rafah, tersisa 12 relawan MER-C yang masih bertugas di Jalur Gaza. Pada Senin/8 Mei 2024, aktifitas semua medis relawan MER-C sempat dihentikan imbas serangan darat Israel ke Rafah. WHO juga sementara melarang Tim EMT bekerja di RS Emirati dan RS An Najjar. Lokasi yang masih diperbolehkan untuk Tim bertugas adalah di Klinik Tal Al Sultan Primary Health Care Center. Hari ini, Rabu/8 Mei 2024, tiga relawan EMT MER-C akan bergerak ke Tal Al Sultan Primary Health Care Center untuk bertugas memberikan pelayanan medis kepada para warga/pasien. Jakarta, 8 Mei 2024 MER-C Indonesia
MER-C Sayangkan Tindakan Represif Polisi terhadap Mahasiswa di AS

Medical Emergency Rescue Committtee (MER-C) menyayangkan tindakan represif polisi terhadap mahasiswa di Amerika Serikat yang menggelar aksi demo untuk mendesak dihentikannya genosida Israel di Jalur Gaza, Palestina. Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad hari Jumat (3/5/2024) mengatakan, demo mahasiswa di sejumlah kampus ternama AS untuk meminta negara tersebut menekan Israel menghentikan serangan di Gaza ini menandakan mahasiswa yang mewakili kaum muda melihat dengan mata hati sehingga meraka paham apa yang dilakukan Israel dan didukung penuh AS adalah genosida. “Tapi yang disayangkan adalah respon polisi yang represif dalam menangani para demonstran sebagai kampium demokrasi. Apa yang dilakukan aparat terhadap para demonstran tidak mencerminkan wajah negara demokrasi,” kata Sarbini. “Dalam hal ini MER-C sebagai organisasi yang konsen dengan kemanusiaan menyerukan agar AS lebih persuasif dan mendengar apa yang disuarakan oleh mahasiswa,” tambahnya. Ia mengatakan, cara pendekatan represif akan menjadi catatan buruk demokrasi yang dipertontonkan AS di etalase dunia. “Sudah selayaknya pemerintah AS mendengarkan aspirasi mereka dan melakukan langkah cepat menghentikan kekejaman Israel di Palestina. Apabila AS mengabaikan tuntutan mahasiswa, kami khawatir gelombang besar ini akan lebih menggema ke seluruh dunia,” ujarnya. Al Jazeera melaporkan, protes yang dilakukan mahasiswa berlangsung damai dan sebagian besar penuh rasa hormat, namun ditanggapi dengan tindakan keras oleh banyak universitas di tengah tuduhan anti-Semitisme. Pihak kampus memanggil petugas keamanan yang datang menyerang massa dan menangkap paksa mahasiswa. Polisi Amerika menangkap lebih dari 900 orang dalam demonstrasi pro-Palestina yang dimulai di beberapa universitas di Amerika sejak tanggal 18 April lalu.
MER-C Kecam Israel Terkait Temuan Kuburan Massal di Dua Rumah Sakit di Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengecam keras Israel terkait temuan kuburan massal di Rumah Sakit Nasser dan Al Shifa pekan lalu. “Kami mengutuk keras pelaku pembunuhan massal terhadap ratusan jenazah yang ditemukan di komplek Rumah Sakit Nasser dan Al Shifa,” kata Ketua Presidum MER-C dr. Sarbini Abdul Murad, Kamis (02/05/2024). Sarbini juga menyerukan pengiriman tim investigasi internasional untuk menyelidiki lebih rinci dan menyeret pelaku ke Mahkamah Internasional sebagaimana yang telah dilakukan terhadap pejabat Serbia yang melakukan genosida di Bosnia. Setidaknya 310 jenazah telah ditemukan dari kuburan massal di Kompleks Rumah Sakit Nasser setelah tentara Israel mundur dari kota itu pada 7 April usai serangan darat selama empat bulan, menurut badan pertahanan sipil Gaza. Ravina Shamdasani selaku Juru Bicara Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB mengatakan, di antara jenazah yang ditemukan diduga adalah orang-orang lanjut usia, perempuan dan korban terluka, sementara yang lain ditemukan terikat dan pakaiannya dilucuti. Terkait temuan tersebut, PBB mengatakan adanya kekhawatiran tentang kemungkinan kejahatan perang yang dilakukan Israel atas warga Gaza. MER-C sejak 18 Maret 2024 terus mengirimkan bantuan Tim Medis ke Jalur Gaza, Palestina. Terhitung MER-C telah mengirimkan tiga tim ke Gaza, dengan total 24 relawan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat dan bidan. Saat ini Tim Medis MER-C bertugas di sejumlah rumah sakit yang masih berfungsi di Rafah, Gaza Selatan, yaitu Rumah Sakit An Najar, Rumah Sakit El Emiraty dan Klinik Tal Al Sultan Primary Health Care Center.