MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Serangan Brutal di Kamp Jabalia, Puluhan Korban Syahid dan Luka-luka Dilarikan Ke RS Indonesia

BREAKING NEWS   Gaza — Sedikitnya 50 warga Gaza dilaporkan  syahid dan 54 orang lainnya mengalami luka berat akibat serangan udara terbaru penjajah Israel di Kamp Jabalia, Gaza utara, Rabu  (14/5).  Seluruh korban serangan yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak dievakuasi ke Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahia, Gaza utara. Jenazah para syuhada disemayamkan dan dikafani di ruang jenazah yang berada di depan Wisma Joserizal Jurnalis.  Serangan di Kamp Jabalia ini menimbulkan duka mendalam di tengah keterbatasan pasokan medis dan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk.  Salah satu staf lokal MER-C mengatakan, sebelumnya juga terjadi pembantaian besar di Khan Yunis, dekat Rumah Sakit Eropa.  Ia menambahkan, saat ini tim pertahanan sipil dilarang melakukan penyelamatan di daerah yang diserang. Pasukan Israel memberlakukan blokade udara yang ketat dan mengklaim bahwa ini adalah operasi pembunuhan besar.  “Blokade udara ini diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari untuk memastikan target operasi benar-benar tewas. Kemungkinan akan ada kemajuan pasukan darat dan pengepungan total daerah tersebut,” ujarnya.

Liaison Officer EMT MER-C Pulang ke Tanah Air Usai Setahun Jalankan Misi Kemanusiaan di Gaza

Jakarta – Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C, Marissa Noriti, tiba di Indonesia pada Ahad (11/5), usai setahun menjalankan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina.  Sejak agresi militer pecah pada 7 Oktober 2023, Marissa telah beberapa kali memasuki wilayah Gaza guna mendukung pelaksanaan program-program kemanusiaan MER-C, termasuk pengiriman relawan medis ke wilayah tersebut. Marissa pertama kali masuk ke Jalur Gaza pada 18 Maret 2024. Setelah sempat pulang ke Indonesia, ia kembali bertugas dan memasuki Gaza untuk kedua kalinya pada 16 Juli 2024. Dalam misi terakhirnya, ia bertugas selama enam bulan sebelum akhirnya kembali ke tanah air pada 11 Mei 2025. Selama bertugas, Marissa aktif memberikan informasi terkait kondisi terkini di Gaza, mengoordinasikan bantuan dan program-program kemanusiaan MER-C, serta menjalin kerja sama dengan World Health Organization (WHO) untuk mendukung pengiriman relawan medis dari MER-C Indonesia. Meski merasa bahagia bisa kembali ke tanah air, Marissa mengaku berat meninggalkan Gaza yang masih berada dalam kondisi sangat memprihatinkan. “Serangan masih terjadi. Yang lebih memprihatinkan, sejak awal Ramadhan tidak ada satu pun bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Masyarakat mengalami kelaparan yang sangat parah, kesulitan mendapatkan bahan makanan, harga-harga kebutuhan pokok sangat mahal. Tapi di sisi lain, mereka tetap teguh untuk bertahan di tanah kelahirannya, apa pun risiko yang dihadapi,” ungkap Marissa. Ia menambahkan bahwa saat ini, sejumlah program kemanusiaan MER-C masih di Jalur Gaza masih terus berjalan, di antaranya proses renovasi Rumah Sakit Indonesia di Gaza masih berlangsungnya dengan dukungan staf lokal MER-C.  Kemudian program Klinik Al Aqsa B di Khan Younis Gaza Selatan juga tetap beroperasi. MER-C juga berkomitmen akan kembali mengirimkan tim medis untuk mendukung layanan kesehatan di Gaza. Marissa menyatakan kesiapannya untuk kembali ditugaskan dalam misi kemanusiaan ke Gaza. Ia juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus memberikan dukungan nyata bagi rakyat Palestina. “jangan pernah berhenti memberi dukungan untuk warga Gaza, jangan pernah lelah karena ini memang perjuangan yang sangat panjang. Jangan biarkan saudara kita sendirian. Dengan tetap bersama mereka memberikan harapan untuk bertahan, untuk lebih semangat lagi berjuang demi kemerdekaan bangsanya,” tutur Marissa.

MER-C Salurkan Donasi Kain Kafan ke RS Indonesia di Gaza Utara

Gaza – Pada 8 Mei 2025, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali menyalurkan donasi berupa kain kafan ke Rumah Sakit Indonesia. Donasi diterima oleh staff lokal MER-C, Abeed dan Durghom, di Wisma Joserizal Jurnalis, Beit Lahiya, Gaza Utara. Donasi kain kafan ini berjumlah 2600 meter persegi atau sekitar 710 lembar. Kain kafan ini merupakan hasil donasi dari masyarakat Indonesia yang sangat peduli dengan kondisi kemanusiaan di Gaza. Setelah diterima, kain kafan tersebut langsung diserahkan ke RS Indonesia dan kamar jenazah yang terletak di depan Wisma Joserizal. Donasi ini sangat dibutuhkan karena persediaan kain kafan di Gaza sangat menipis, bahkan pernah mengalami kekosongan akibat banyaknya serangan dari penjajah Israel yang menyebabkan korban syahid terus berdatangan. Harga kain kafan yang diberikan ini juga sangat mahal, yaitu mencapai 20 ribu shekel atau setara dengan Rp 92 juta, karena kelangkaan pasokan bahan tersebut. Donasi ini diharapkan dapat membantu RS Indonesia dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada para korban serangan Israel.

Dewan Syari’ah Kota Surakarta Serahkan Donasi untuk Palestina Lewat MER-C

Surakarta — Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS) menyerahkan donasi kemanusiaan sebesar Rp600 juta untuk rakyat Palestina kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Jumat pagi, 9 Mei 2025.  Penyerahan donasi ini dihadiri oleh perwakilan MER-C pusat Presidium MER-C dr. Tonggo Meaty Fransisca, Kepala Divisi Humas Diana Caroline, dan anggota tim humas Riny Nurmarita, serta sejumlah perwakilan pengurus MER-C Yogjakarta.  Dari pihak DSKS, acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Rois DSKS Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir, Sekretaris Dewan Syuro Ustaz Muhammad Yusuf Soeparno, Anggota Dewan Syuro Ustaz Shobarin Syakur, serta para ulama seperti Ustaz Muhammad Halim, KH. Abdul Halim, dan Ustaz Wasono Nurhadi. Gaffar Ismail selaku staf bendahara DSKS juga turut hadir. Donasi tersebut merupakan hasil penggalangan dana yang dilakukan oleh DSKS dalam kegiatan “Malam Keprihatinan dan Solidaritas Gaza” yang digelar pada 13 April di Surakarta, sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap kondisi kemanusiaan di Palestina.  “Alhamdulillah pada hari ini kita serahkan kepada MER-C sejumlah 600 juta rupiah dan tentu ini adalah sebuah harapan dan bentuk daripada kebersamaan umat Islam Surakarta untuk saudara saudara kami kaum muslimin yang berada di Jalur Gaza,” ujar Rois DSKS Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir. Ia juga mengatakan, semua ini adalah bentuk kecintaan kepada warga Gaza, dan berharapan semoga Allah Swt segera memberikan kemerdekaan dan kebebasan kepada mereka.  “Begitu juga kepada tim MER-C yang terus berjuang menyalurkan bantuan bantuan dan dan memberikan fasilitas serta pelayanan kesehatan untuk saudara-saudara kita di Gaza, semoga Allah Swt memberikan kekuatan kepada tim MER-C dan memberikan pahala yang begitu besar disisi Allah Swt, serta terus mencurahkan keberkahan kepada siapapun yang terlibat dalam membantu saudara-saudara kita di Gaza,” tuturnya.

Empat Syuhada dan 15 Korban Luka-Luka Serangan Israel Dilarikan ke RS Indonesia

Gaza — Empat syuhada dan 15 korban luka-luka akibat serangan Israel dilarikan ke RS Indonesia di Beit Lahia, Gaza utara, pada Rabu (7/5).  Sejak gencatan senjata berakhir dan penjajah Israel kembali menggempur Jalur Gaza pada 18 Maret lalu, korban sipil kembali berjatuhan.  RS Indonesia yang tengah perlahan pulih menjadi salah satu tumpuan bagi warga Gaza, di tengah sistem kesehatan yang terus memburuk akibat agresi dan blokade berkepanjangan.  Meski sejumlah kerusakan sudah mulai diperbaiki, namun fasilitas yang ada di RS Indonesia masih sangat terbatas.

MER-C Siagakan Tim Medis dalam Aksi Demo Mahasiswa “Selamatkan Pendidikan Indonesia”

Jakarta, 2 Mei 2025 — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menurunkan tim medis dalam aksi demonstrasi mahasiswa bertajuk “Selamatkan Pendidikan Indonesia” yang digelar di depan Gedung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Jakarta Pusat, Kamis (2/5). Aksi ini merupakan bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dalam upaya mendukung keselamatan peserta aksi, MER-C mengerahkan delapan personel yang terdiri dari dua orang dokter, tiga perawat, dan tiga relawan non-medis. Tim ini disiagakan untuk memberikan pertolongan pertama dan layanan medis darurat kepada para mahasiswa yang mengikuti unjuk rasa. Aksi tersebut diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk perwakilan dari ISMKI dan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI). Mereka melakukan long march dari kawasan Al Azhar/Taman Patra hingga ke depan Gedung Kemendikbud Ristek untuk menyuarakan berbagai tuntutan, di antaranya pendidikan gratis, kesejahteraan tenaga pendidik, dan penolakan terhadap aparat yang memasuki kampus. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, sempat menemui massa aksi yang telah berkumpul di depan kantornya. Lima perwakilan mahasiswa menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan keberadaan tim medis di lokasi, MER-C berharap dapat membantu memastikan keselamatan dan kesehatan para mahasiswa yang mengikuti aksi demo ini.  

Kelaparan dan Malnutrisi Meluas di Gaza Utara, Tenaga Medis Terimbas

Kondisi kelaparan juga sangat terasa di wilayah utara Jalur Gaza. Dr. Basel Al-Basyouni, Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, menyebut bahwa wilayah ini kini menderita kelaparan luar biasa di tengah genosida yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel.  Blokade yang terus berlanjut menyebabkan lonjakan harga bahan pangan yang drastis, sehingga penduduk Gaza kesulitan memenuhi kebutuhan makanan pokok. Dr. Basel bahkan harus membagi sepotong roti kepada seluruh anggota keluarganya. Kekurangan gizi menyebabkan penyembuhan luka pasien menjadi sangat lambat atau bahkan gagal.  “Pasien-pasien ini membutuhkan nutrisi yang sehat dan makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan gula,” kata dr. Basel.  Kondisi yang terus memburuk juga berdampak kepada tenaga medis, yang mengalami kelelahan akut dan kehilangan berat badan akibat kurangnya makanan.

Kelaparan dan Kekurangan Gizi Ancam Gaza: Akibat Blokade

Jalur Gaza saat ini menghadapi krisis kemanusiaan sangat parah akibat blokade berkepanjangan yang dilakukan oleh penjajah Israel. Di tengah sulitnya bantuan masuk ke wilayah tersebut, kondisi gizi anak-anak semakin memprihatinkan. Dr. Osama Qudeih, Dokter Pediatri di Klinik Al Aqsa B di Al-Mawassi, Gaza Selatan, yang dikelola MER-C bersama Kementerian Kesehatan Palestina (MoH), melaporkan bahwa sebagian besar pasien yang ia tangani adalah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi), baik pada tahap awal maupun dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.  Dari sekitar 200 kasus yang ditanganinya, 40 hingga 50 di antaranya merupakan kasus malnutrisi serius. “Kasus malnutrisi terutama terjadi pada anak-anak di bawah usia dua tahun dengan penyebab utama berupa melemahnya sistem kekebalan tubuh mereka. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya (defisiensi) berbagai ketersediaan jenis makanan,”ujarnya. Ia mengatakan kelangkaan dan tidak adanya susu formula bayi di pasaran berdampak sangat signifikan. “Beberapa gejala yang muncul antara lain adalah penurunan berat badan, di mana dalam banyak kasus dapat menjadi sangat berbahaya,”ungkap dr. Osama Jumana Abu Arab menambahkan, untuk menangani kondisi ini sebelumnya Kementerian Kesehatan memberikan suplemen gizi secara rutin ke Klinik tersebut. Namun, stok yang tersedia mulai menipis karena kebutuhan terus meningkat dan pasokan di pasaran semakin terbatas. Kelaparan dan malnutrisi juga terjadi di Gaza utara Kondisi kelaparan juga sangat terasa di wilayah utara Jalur Gaza. Dr. Basel Al-Basyouni, Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, menyebut bahwa wilayah ini kini menderita kelaparan luar biasa di tengah genosida yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel.  Selain serangan udara yang menyasar lembaga masyarakat, tempat tinggal warga sipil, dan gudang penyimpanan makanan, blokade yang terus berlanjut menyebabkan lonjakan harga bahan pangan yang drastis. Dampak sangat negatifnya bisa dirasakan oleh penduduk Gaza, khususnya para pencari nafkah. “Sebagai pencari nafkah bagi keluarga, saya menghadapi kesulitan ekstrem dalam memenuhi kebutuhan makanan pokok anak-anak saya, karena kurangnya sumber pendapatan. Bahkan kalaupun saya mampu membeli kebutuhan mereka, saya merasa kesulitan berinteraksi dengan anak-anak saya, terutama anak-anak saya yang masih kecil, karena saya merasa tidak dapat menyediakan makanan yang cukup layak bagi mereka,” katanya. Keluarganya kini hanya mampu makan sekali sehari. Dr. Basel bahkan harus membagi sepotong roti kepada seluruh anggota keluarganya. semua kebutuhan rumah tangga masyarakat seperti persediaan bahan makanan dan makanan kaleng telah habis. Dari situlah tanda-tanda kekurangan gizi mulai tampak, khususnya di kalangan anak-anak. Berat badan mereka mengalami penurunan antara 5 hingga 10 kilogram. sebagai dokter ortopedi yang banyak menangani korban serangan Israel, ia mengamati bahwa kekurangan gizi menyebabkan penyembuhan luka pasien menjadi sangat lambat atau bahkan gagal.  “Pasien-pasien ini membutuhkan nutrisi yang sehat dan makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan gula. Dulu, luka-luka seperti itu dapat sembuh dalam waktu singkat, tetapi sekarang memerlukan waktu dua kali lipat atau lebih lama untuk pulih,”kata dr. Basel. Ia juga menyampaikan banyak pasien kini mengalami kulit pucat (pallor), kelemahan umum (general weakness), dan anemia, yang menyebar hampir ke seluruh pasien. Sistem kekebalan tubuh yang lemah menyebabkan penyebaran infeksi dan epidemi makin sulit dicegah. Kondisi yang terus memburuk juga berdampak kepada tenaga medis “Kami bahkan hampir tidak dapat menjalankan tugas kami secara menyeluruh akibat rasa lelah yang sudah akut,” katanya. Ia mengaku telah kehilangan sekitar 30 kilogram berat badan, dan rekan-rekannya mengalami kondisi yang sama karena kurangnya makanan, terutama daging. “Keputusasaan dan rasa tidak ada harapan mulai menguasai kehidupan profesional kami, yang berdampak negatif, khususnya pada pasien yang sedang terluka, dan masyarakat pada umumnya,” tutur dr. Basel.

BRIN dan MER-C Satukan Sikap terkait Rencana Evakuasi Warga Palestina ke Indonesia

Jakarta –  Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bekerja sama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar talkshow terkait “Problematika Evakuasi Warga Gaza ke Indonesia”, pada Rabu (30/4) di Jakarta. Talkshow ini diadakan sebagai respons atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana evakuasi 1.000 warga Gaza Palestina yang terluka ke Indonesia untuk mendapatkan pengobatan dan rehabilitasi sementara. Dalam sambutannya, Ketua Presidium MER-C, dr. Hadiki Habib, menegaskan pentingnya membangun narasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk merespons situasi Gaza. Ia menyampaikan bahwa fakta dan data di lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan sikap dan langkah, terutama dalam menghadapi upaya-upaya yang berpotensi memutarbalikkan informasi. Menurutnya, ini merupakan langkah yang sangat penting untuk membangun evidence melalui talkshow yang nanti diikuti oleh sebuah policy brief.  Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami, dalam sambutannya menyatakan bahwa rencana Presiden Prabowo perlu diapresiasi sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah Indonesia terhadap Palestina. Namun, ia juga menekankan perlunya diskusi untuk mengkaji kelayakan serta dampak kebijakan tersebut dari berbagai aspek.Ia mengatakan, diskusi ini penting untuk menilai kesiapan Indonesia, juga mencakup tantangan sosial dan budaya, kesiapan regulasi, serta sikap masyarakat terhadap kehadiran warga Gaza. Selain itu, pengalaman MER-C yang baru kembali dari Gaza diharapkan bisa memberikan pembaruan kondisi terkini di lapangan, serta respons terkait rencana evakuasi ini. Kegiatan ini menghadirkan dialog interdisipliner antar para akademisi, pembuat kebijakan, praktisi kemanusiaan, dan masyarakat sipil. Harapannya, mereka dapat berkontribusi dengan memberikan pemahaman yang tepat dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia. Adapaun narasumber yang hadir sebagai pembicara yaitu M. Hamdan Basyar, M.Si., Peneliti Bidang Timur Tengah, Pusat Riset Politik BRIN; Dr. dr. Hadiki Habib, SpPD., SpEM., Ketua Presidium MER-C; dan Prof. Dr. Tri Nuke Pudjiastuti, Peneliti Bidang Migrasi Paksa, Pusat Riset Politik BRIN. Diskusi ini diharapkan akan menghasilkan potensi solusi dan peran aktif Indonesia dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia, sehingga dapat menentukan langkah terbaik dalam membantu warga Palestina ke depannya di tengah konflik yang terus memanas

Serangan Israel di Gaza Kembali Telan Korban Sipil, Seorang Anak Syahid dan Empat Luka Parah

Gaza — Penjajah Israel kembali melancarkan serangan di wilayah Gaza, menyebabkan jatuhnya korban di kalangan warga sipil. Serangan yang terjadi pada Rabu (1/5) menewaskan seorang anak dan melukai sedikitnya empat anak lainnya di kawasan pemukiman padat penduduk. Pengeboman terjadi di belakang Syeikh Zayed Tower, sekitar 300 meter di sisi timur Rumah Sakit Indonesia yang berada di wilayah Gaza Utara.  Seorang anak dilaporkan syahid di tempat kejadian, sementara empat anak lainnya mengalami luka serius dan langsung dilarikan ke RS Indonesia. Serangan ini menambah daftar panjang korban anak-anak dalam agresi yang terus berlangsung di Gaza.  Selain serangan yang belum juga berhenti, kondisi di Jalur Gaza juga terus memburuk akibat blokade yang diberlakukan penjajah Israel, yang melarang bantuan kemanusiaan memasuki wilayah tesebut.

Silahkan bertanya?