MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Relawan MER-C Bagikan Pengalaman Bertugas di Gaza kepada Santri Ponpes At-Taqwa

Depok, 7 Maret 2025 – Relawan medis dari Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Regintha Yasmeen, Sp.OG, membagikan pengalaman bertugas di Jalur Gaza dalam acara “Dialog Ringan Akhir Pekan” di Pondok Pesantren At-Taqwa, Depok, Sabtu (8/3).  Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 11.00 WIB ini mengangkat tema “Huru-Hara Palestina Pra-Gencatan Senjata.” Dalam kesempatan tersebut, dr. Regintha menceritakan pengalamannya selama dua kali bertugas di Gaza, yakni dalam misi Emergency Medical Team (EMT)MER-C ke-4 dan EMT MER-C ke-6.  Ia mengungkapkan tantangan berat yang dihadapi oleh para relawan, mulai dari sulitnya proses masuk ke Gaza hingga berbagai ujian yang muncul, baik sebelum, selama, maupun setelah bertugas. “Ujian terbesar bagi relawan adalah meninggalkan keluarga di tanah air, kemudian menghadapi situasi sulit di medan tugas, dan bahkan setelah pulang ke Indonesia. Namun, di balik itu semua, ada banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari masyarakat Gaza,” ungkapnya. Ia menyoroti keteguhan hati serta keyakinan kuat warga Gaza dalam menghadapi konflik berkepanjangan. Selain itu, ia juga mengagumi adab luar biasa masyarakat setempat dalam menghormati tamu, bahkan di tengah kondisi agresi. Acara ini dihadiri ratusan santri yang antusias mengikuti sesi diskusi. Para peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada dr. Regintha terkait pengalamannya selama bertugas di Gaza. Sesi sharing ini kemudian diakhiri dengan foto bersama. Kegiatan “Dialog Ringan Akhir Pekan” sendiri merupakan agenda rutin Pondok Pesantren At-Taqwa yang bertujuan untuk memperluas wawasan dan memberikan motivasi bagi para santri, dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang dan bidang keahlian.

Dukungan MER-C untuk Pelayanan Kesehatan di Al-Aqsa B Medical Center, Gaza Selatan

Gaza Selatan – Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 membantu pelayanan kesehatan di Klinik Lapangan Al Aqsa B Medical Center, di Al Mawasi, Gaza Selatan.  Klinik Lapangan Al Aqsa B Medical Center, merupakan fasilitas kesehatan yang telah beroperasi atas kerja sama antara MER-C dan Kementerian Kesehatan Palestina (MOH) sejak 26 Oktober 2024. Klinik ini menyediakan berbagai layanan spesialis, termasuk poliklinik kedokteran keluarga, penyakit dalam, pediatri, obstetri dan ginekologi, bedah, rehabilitasi medik, ortopedi, neurologi, klinik nutrisi, serta dukungan psikososial. Sebagai klinik spesialis lapangan di bawah Kementerian Kesehatan Palestina, Al Aqsa B Medical Center berperan penting dalam memberikan layanan kesehatan bagi sekitar 600.000 warga pengungsi di Jalur Gaza.  Setiap harinya, klinik ini menangani rata-rata 800 pasien yang membutuhkan perawatan medis di tengah situasi krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.

Relawan MER-C: Rumah Rata dengan Tanah, Warga Beit Hanoun Terpaksa Tinggal di Tenda

Gaza Utara—Relawan dari Emergency Medical Team (EMT) MER-C, dr. Eka Budhi Satyawardhana, SpBS, pada 25 Februari 2025 melakukan pelaporan langsung dari Beit Hanoun, Gaza Utara, yang berbatasan langsung dengan wilayah yang dikuasai Israel.  Dalam laporannya, dr. Eka mengungkapkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut telah rata dengan tanah akibat serangan penjajah Israel. “Wilayah ini hampir rata semua dengan tanah. Rumah-rumah yang sebelumnya mungkin memiliki dua hingga tiga lantai kini sudah hancur,” ujar dr. Eka saat melakukan survei di di kawasan timur jalan utama Shalahuddin, Gaza Utara. Ia juga menyebutkan bahwa sekitar dua hingga tiga hari yang lalu, Gaza diguyur hujan deras dengan suhu mencapai 4 derajat Celsius, menambah penderitaan warga yang tinggal di daerah yang hampir sepenuhnya hancur.  “Bisa dibayangkan, penduduk Gaza dengan kondisi rumah seperti ini terpaksa harus tinggal di tenda-tenda darurat,” katanya. Selain masalah tempat tinggal, dr. Eka juga menyoroti krisis air yang masih terjadi.  “Masalah air juga masih menjadi kendala besar di sini. Penduduk mengandalkan bantuan tanki air dari Gaza City yang didistribusikan 2-3 kali sehari. Satu tanki biasanya berukuran 5.000 liter, yang tentunya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya. “Hujan deras juga menyebabkan genangan air yang memicu masalah lingkungan, termasuk penumpukan sampah yang belum diangkut. Ini bisa menimbulkan risiko penyakit, terutama yang berhubungan dengan pencernaan,” tambah dr. Eka. Meski begitu, dr. Eka berharap ada solusi terbaik untuk meringankan beban penduduk Gaza terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih dan tempat tinggal yang layak.

Layanan Rawat Jalan Dibuka, RS Indonesia Layani Ratusan Pasien Setiap Hari

Gaza – Setelah lebih dari 15 bulan terhenti akibat perang, layanan rawat jalan di Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza kini kembali dibuka. Sejak 24 Februari 2025, ratusan pasien kembali mendapatkan pelayanan medis setiap harinya. Layanan dilakukan di area poliklinik RSI, yang sebagian masih dalam tahap renovasi. Dua relawan dari Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7, dr. Ni Nyoman Indira dan dr. Eka Budhi Satyawardhana, bertugas di poli penyakit dalam serta poli bedah saraf dan poli nyeri. Kehadiran layanan ini menjadi harapan baru bagi warga Gaza yang selama perang kesulitan mengakses perawatan medis.  “Pelayanan kesehatan, terutama spesialis, sangat penting bagi warga yang kesehatannya terabaikan selama konflik,” ujar dr. Indira. Saat ini, beberapa poliklinik yang telah beroperasi di RSI meliputi: Poli Penyakit Dalam: Poli penyakit dalam umum, poli ginjal, poli paru, poli endokrin, poli jantung, dan poli gastroenterologi. Poli Bedah: Poli bedah umum, poli urologi, poli bedah thorax, dan poli bedah saraf.Poli Lainnya: Poli THT dan poli perawatan luka. Dengan kembali berjalannya layanan ini, masyarakat Gaza diharapkan dapat memperoleh perawatan medis yang lebih baik, meski tantangan dalam pemulihan infrastruktur kesehatan masih terus dihadapi.

Warga Beit Hanoun: Tetap Tegar di Tengah Kehancuran dan Kehilangan

Di tengah kehancuran, kehilangan dan kesulitan hidup akibat perang yang melanda Gaza, warga Beit Hanoun tetap menunjukkan keteguhan dan semangat yang luar biasa. Kota yang berbatasan langsung dengan Israel ini kini hancur, dengan banyak rumah rusak, serta fasilitas dasar seperti air, listrik, dan layanan kesehatan yang hampir tidak ada. Namun, meski hidup dalam kondisi sangat sulit, penduduk Beit Hanoun tetap bertahan dengan penuh harapan. Salah satu warga setempat, dr. Basil Al-Basouni, yang merupakan dokter ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, mengungkapkan kepada relawan MER-C betapa besar perubahan yang dialami Beit Hanoun. Ia mengatakan bahwa sebelum perang, kota ini stabil, dengan kehidupan yang berjalan normal. Warga dapat bekerja, memiliki akses ke air bersih, dan listrik. Kondisinya berubah drastis setelah perang datang dan menghancurkan segalanya. “Alhamdulillah, perang dahsyat ini datang dan menghancurkan segalanya, rumah, manusia, bahkan batu dan pohon,” ujar dr. Basil dengan penuh keteguhan. Seperti warga Gaza lainnya, dr. Basil juga telah kehilangan rumah, sementara keluarganya terluka akibat serangan penjajah Israel. “Saya dan keluarga mengungsi ke Gaza City, dan kami dikejutkan dengan pemboman rumah di sebelah kami menggunakan F-16. Istri saya dan dua anak saya terluka. Istri saya mengalami patah tulang tengkorak, anak saya patah tulang paha, dan satu lagi patah tulang rahang. Alhamdulillah, mereka kini dalam perawatan dan sudah menjalani operasi serta implant platinum, dan sekarang semua sudah baik-baik saja,” katanya. Meski begitu, dr. Basil tetap bersyukur atas apa yang masih dimiliki, termasuk keselamatan keluarganya yang sempat terluka akibat pengeboman. “Kondisi kami lebih baik dibandingkan dengan banyak orang di sini yang kehilangan keluarga dan rumah mereka. Semua orang kehilangan di sini, tapi kami tetap bersyukur dan memuji Tuhan atas segalanya,” ujarnya. Kini, dr. Basil berharap agar tempat tinggal mereka yang hancur dapat digantikan dengan tenda untuk melindungi keluarganya, sementara mereka menunggu pemulihan situasi. Meski masa depan penuh ketidakpastian, warga Beit Hanoun tetap menunjukkan keteguhan hati dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. “Kita tidak tahu bagaimana kehidupan akan membawa kita, segalanya ambigu. Tapi kami akan berusaha beradaptasi dan menjalaninya,” tambahnya.

Kondisi Terkini Rumah Sakit Indonesia di Tengah Proses Renovasi

Gaza – Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang terletak di Bait Lahiya, Gaza Utara, saat ini tengah menjalani proses renovasi setelah mengalami kerusakan parah akibat serangan yang dilakukan oleh penjajah Israel. Meskipun dalam tahap perbaikan, Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 yang berhasil masuk ke Gaza pada 30 Januari 2025, telah membuka kembali sejumlah layanan kesehatan di RSI. Relawan EMT MER-C ke-7, Puren Prasetiyadi, Amd.Kep, menjelaskan bahwa banyak perbaikan yang telah dilakukan di fasilitas tersebut. Ia mengatakan bahwa jalan, gas station, serta sejumlah pintu masuk RSI yang sebelumnya rusak akibat serangan tank penjajah Israel sudah diperbaiki. Jendela-jendela yang lepas juga telah terpasang kembali, meskipun masih banyak bekas tembakan yang terlihat di bagian dinding. Selain itu, Puren menambahkan bahwa reruntuhan, tempat tidur yang rusak, serta sampah yang sebelumnya berserakan sudah mulai dibersihkan, namun belum seluruhnya. “Saat ini, banyak perbaikan yang telah dilakukan, dan sebagian besar sampah sudah disingkirkan. Semua masih dalam tahap pembersihan dan renovasi,” lanjutnya. Selain RSI, Wisma dr. Joserizal Jurnalis juga telah mengalami perbaikan pada dinding dan atapnya, yang memungkinkan EMT MER-C ke-7 untuk tinggal di tempat tersebut selama bertugas di Jalur Gaza. Puren juga mengatakan bahwa jumlah generator telah bertambah. Sebelumnya hanya ada satu, kini telah ada tiga generator yang diperoleh dari bantuan Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) dan MER-C, mengingat sebelumnya RSI kesulitan memberikan layanan radiologi dan laboratorium akibat kekurangan pasokan listrik. Meskipun dalam kondisi penuh tantangan, RSI tetap berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Gaza, dengan dukungan penuh dari EMT MER-C serta warga Gaza yang bekerja sama dalam proses perbaikan fasilitas rumah sakit. ————————————————————————- Indonesia Hospital in Gaza: Hope and Challenges after Ceasefire Despite still in the renovation phase,The 7th Emergency Medical Team (EMT) MER-C has reopened several health services at the Indonesia Hospital in Gaza (RSI). Numerous repairs have been made to the facility,Including the reparation of roads, gas stations, and entrances to the RSI. The Dr. Joserizal Jurnalis Guest House,has also undergone the reparation to its walls and roof. Number of generators has increased,From one to three generators, which obtained via mutual aid that the Palestinian Ministry of Health (MoH) and MER-C have received. The RSI and the EMT team from MER-C remain committed,To provide the best possible healthcare services for the community, with full support from the people of Gaza. Full Video Watch On Youtube MER-Chttps://youtu.be/o2WXfhsonsQ?si=S3Dqrxgi360gxHtv——————————————— Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee 

Kunjungi MER-C, Perwatusi Serahkan Donasi untuk RS Indonesia di Gaza

Jakarta – Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) pada Ahad (2/3) mengunjungi Kantor Pusat MER-C di Jakarta dan menyerahkan bantuan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.  Bantuan diserahkan langsung oleh Ketua Umum Perwatusi Anita Hutagalung dan diterima oleh Presidium MER-C Dr. dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em.  Anita berharap, bantuan ini akan membantu MER-C dalam upaya untuk menyediakan bantuan dan dukungan penting bagi masyarakat Gaza.  “Kami sangat berharap bahwa dana ini akan memberikan kelegaan, kenyamanan, dan bantuan yang sangat dibutuhkan bagi mereka yang menghadapi kesulitan,” ujarnya.  Anita juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan bantuannya untuk warga Gaza Palestina.  “Terima kasih yang sebesar-besarnya atas sumbangan Anda yang murah hati untuk Gaza, Palestina. Dukungan Anda sangat berharga, dan dengan senang hati kami sampaikan bahwa dana tersebut telah disalurkan hari ini kepada MER-C,” tuturnya.  Perwatusi adalah organisasi nirlaba yang bergerak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan tulang, terutama osteoporosis, dengan mencegah dan merehabilitasi osteoporosis melalui klub-klub senam binaan. Perwatusi juga aktif melakukan bakti sosial.

Lanjutkan Misi Kemanusiaan di Gaza, MER-C Kirim Tim Medis ke-8

Jakarta – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan tim medis yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-8 untuk bertugas di Jalur Gaza, Palestina.  Tim ini diberangkatkan pada Sabtu (1/3/2025) sebagai bagian dari misi kemanusiaan pascagencatan senjata. Sebelumnya, MER-C telah mengirimkan EMT ke-7, yang terdiri dari empat relawan, sejak 23 Januari 2025. Hingga kini, mereka masih bertugas di wilayah tersebut. Tim EMT ke-8 terdiri dari lima relawan, yaitu dua dokter umum (dr. Tonggo Meaty Fransisca dan dr. Miftahul Masruri), satu dokter spesialis anestesiologi (dr. Wahyu Bimantoro, Sp.An-TI.), satu perawat (Ade Andrian, S.Kep., Ns., M.Kep.), serta satu bidan (Indah Meliya Sari, Amd.Keb.). Ketua EMT MER-C ke-8, dr. Meaty, menyampaikan bahwa selain memberikan layanan medis, timnya juga akan fokus pada rencana rekonstruksi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. “Mudah-mudahan semua dipermudah. Semoga gencatan senjata ini bersifat permanen sehingga kami bisa fokus mengaktifkan kembali layanan RS Indonesia di Gaza. Selain itu, kami juga dapat meningkatkan pelayanan medis di wilayah lain, seperti klinik spesialis yang kami dukung di Khan Younis,” ujar dr. Meaty. Ia juga berharap agar misi kemanusiaan ini dapat berjalan dengan lancar. “Semoga semua berjalan dengan baik. Kami mohon doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia,” tuturnya. Sejak serangan 7 Oktober 2023 di Jalur Gaza, MER-C telah mengirimkan puluhan tim medis yang terdiri dari dokter umum dan spesialis, perawat serta bidan.  MER-C juga telah menyalurkan berbagai bantuan, termasuk makanan siap saji, sembako, air bersih, obat-obatan, peralatan medis serta kebutuhan pokok lainnya.

Panel Surya RS Indonesia di Gaza Utara Rusak Akibat Serangan Israel

Gaza, 26 Februari 2025 – Panel surya di Rumah Sakit Indonesia, Gaza Utara, mengalami kerusakan akibat serangan penjajah Israel.  Laporan terbaru dari relawan Emergency Medical Team (EMT) ke-7 MER-C, Puren Prasetiyadi, Amd.Kep., menyebutkan bahwa banyak panel surya dipenuhi bekas tembakan hingga berlubang.  “Panel surya mengalami kerusakan, penuh dengan tembakan-tembakan sampai bolong semuanya. Kira-kira masih 60 persen yang masih berfungsi,” ujar Puren setelah melakukan pengecekan langsung di lokasi pada Rabu (26/2). “Doakan secepatnya kita akan coba untuk segera perbaiki,” tambahnya.  MER-C mulai melakukan pemasangan kembali panel surya di Rumah Sakit Indonesia, pada 8 September 2024, untuk mengurangi dampak krisis bahan bakar dan listrik akibat agresi dan blokade Israel. Sebelumnya panel surya di RS Indonesia juga mengalami kerusakan akibat serangan langsung penjajah Israel ke RS Indonesia.

Bendera Indonesia Kembali Berkibar di RS Indonesia, Gaza Utara

Gaza, 26 Februari 2025 – Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengibarkan bendera Indonesia dan MER-C di Rumah Sakit Indonesia, Gaza Utara, pada Senin (26/2).  Bendera Indonesia dan MER-C yang sebelumnya berada di atap RS Indonesia telah mengalami kerusakan.  Sejak berhasil masuk ke Gaza Utara pada 30 Januari 2025, Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke 7 terus bergerak untuk mengaktifkan kembali pelayanan di RS Indonesia. Relawan MER-C bersama tim medis lokal komitmen untuk memberi layanan medis dengan segala keterbatasan yang ada. Saat ini layanan IGD dan rawat inap RS Indonesia sudah kembali beroperasi. Hingga 25 Februari 2025, jumlah pasien rawat inap telah melebihi 30 orang. Meski kondisi di Gaza Utara masih belum stabil,

Silahkan bertanya?