MER-C Kembali Bagikan Makanan untuk Ribuan Warga Gaza

Medical Emergency Rescue Committee kembali membagikan bantuan berupa makanan untuk ribuan warga Gaza yang saat ini tinggal dipengungsian akibat agresi penjajah Israel yang masih terus berlangsung. Sejak 20 Desember, MER-C telah menyalurkan bantuan makanan sebanyak tiga tahap, dengan total penerima sekitar 12.800 orang di sejumlah kamp pengungsian di Gaza City. Bantuan ini disalurkan langsung oleh Relawan MER-C yang saat ini berada di Jalur Gaza, dengan dibantu relawan lokal. Pada 20 Desember 2024, MER-C membagikan bantuan makanan tahap satu berupa bubur adas kuning, di Kamp Pengungsian Yaffa, untuk 1800 orang. Tanggal 21 Desember 2024 Relawan MER-C juga membagikan bubur adas kuning di Kamp pengungsian Syekh Ridwan Gaza dengan penerima manfaat berjumlah 8000 orang. Kemudian pada 22 Desember 2024 dengan menu makanan yang sama, MER-C kembali membagikan makanan di Kamp Pengungsian Syati’ Gaza untuk 3000 orang. MER-C terus berusaha menyalurkan bantuan untuk warga Gaza di tengah situasi yang terus memburuk akibat blokade dan agresi penjajah Israel yang masih terus berlangsung. MER-C juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah menyalurkan bantuannya untuk warga Gaza yang saat ini memang sangat membutuhkan bantuan.
Liaison Officer EMT MER-C: Pembicaraan Genjatan Senjata Berlangsung, Namun Kekejaman Israel Tidak Berkurang

Liason Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C Marissa Noriti mengatakan, meski saat ini pembicaraan genjatan senjata sedang berlangsung, namun kekejaman Israel di Jalur Gaza tidak berkurang. “Di tengah pembicaraan genjatan senjata yang sedang berlangsung, kekejaman Israel terhadap warga gaza tidak berkurang sedikit pun,” ujar Marissa yang saat ini masih bertahan di Jalur Gaza. Ia mengatakan, Kementrian kesehatan Palestina pada hari Ahad (5/1) melaporkan serangan Israel kembali menyebabkan korban dengan 48 syahid, 75 terluka. Hari senin serangan Israel di beberapa lokasi antara lain Kamp Pengungsian Bureji, Sheikh Ridwan Rafah, yang mengakibatkan 28 orang syahid. Dan hari Rabu, Wakil Menteri Kesehatan Palestina melaporkan terdapat 17 syuhada, 13 diantaranya anak dan wanita, di kamar mayat Nasser Hospital. Sejak awal tahun lebih dari 250 warga Gaza syahid dan sejak agresi 7 Oktober 2023, ada 1058 pekerja medis yang telah dibunuh penjajah Israel dan 450 lainya ditahan. “Terbaru, kabar menyedihkan Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan dr. Hussam Abu Safiya saat ini ditahan di Sde Teyman, penjara yang dikenal dengan penyiksaan yang sangat kejam, yang telah mengakibatkan salah satu tenaga kesehatan, dr. Adnan Albursh, tewas dan bahkan hingga saat ini jenazahnya belum diserahkan pihak Israel ke pemerintah Gaza,” ujarnya. Marissa mengatakan, krisis bahan bakar semakin memburuk karena penjajah Israel mempersulit izin bantuan kemanusiaan masuk Gaza termasuk suplai bahan bakar, yang sering terjadi ketika akhirnya bantuan diizinkan masuk maka pihak Israel akan menginstruksikan sekelompok orang untuk melakukan pencurian dan perampokan terhadap bantuan kemanusiaan tersebut di bawah perlindungan militer Israel, hal ini diungkap oleh Kementrian kesehatan Palestina.“Bahkan mereka melakukan penembakan terhadap konvoi Program Pangan Dunia PBB (WFP) yang terdiri dari delapan staf dengan 3 kendaraan anti peluru, padahal telah mendapatkan clearance. Kurang lebih 16 peluru ditembakkan ke kendaran AV, beruntung tidak ada korban,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, serangan di area Rumah Sakit Indonesia juga mengakibatkan salah satu perawat Nour Al Moqayyad terluka cukup parah di kepala. Menurut informasi terbaru, RS Indonesia telah menerima pasokan air, makanan, sejumlah obat-obatan dari Kementrian Kesehatan Palestina. Namun suplai yang ada sekarang hanya bertahan beberapa hari saja. Saat ini ada delapan pasien, sembilan pekerja medis dan 4 anak-anak masih yang masih bertahan di RS Indonesia. Oleh karena itu Marissa menegaskan dibutuhkan akses bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan untuk mendukung eksistensi rumah sakit di Gaza Utara yang sangat diperlukan oleh ribuan penduduk yang masih bertahan saat ini.
Momen Bersejarah Serah Terima Simbolis RS INDONESIA Di Gaza 9.01.2016 – 9.01.2025

Hari ini 9 tahun yang silam, tepatnya 9 Januari 2016, adalah momen bersejarah perjalanan Panjang RS Indonesia di Gaza. Saat itu, bertempat di Taman Ismail Marzuki Jakarta, RUMAH SAKIT INDONESIA diserahterimakan secara simbolis sebagai persembahan dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Acara serah terima simbolis dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintahan RI, diantaranya Wakil Presiden RI (M. Jusuf Kalla), Menteri Luar Negeri RI (Retno LP. Marsudi) dan Menteri Pendidikan RI (Anies Baswedan), serta sejumlah Duta Besar negara sahabat, donatur dan relawan pembangunan RS Indonesia. RS Indonesia diserahkan secara simbolis oleh MER-C mewakili rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina yang diwakili oleh Menteri Kesehatan Palestina (dr. Jawad Muhammad Awwad) dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia (M. Fariz Mehdawi). RS Indonesia adalah persembahan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, simbol dukungan jangka panjang rakyat Indonesia bagi perjuangan rakyat Palestina yang masih hidup dalam blockade dan penjajahan. Kini di tengah agresi berkepanjangan, pengepungan, kerusakan yang cukup parah, RS Indonesia tetap berdiri bersama tim medis dan pasien yang masih tersisa. Sebagaimana dulu kita bersama-sama bisa mewujudkan RS Indonesia, kini saatnya kita bersama-sama mempertahankan RS Indonesia agar ia dapat tetap menjalankan fungsinya memberikan pelayanan medis kepada yang membutuhkan. #SaveIndonesiaHospital#SafeGaza#FreePalestine
Ketua BKSAP DPR RI Mardani Ali Sera: Saya Bangga dengan MER-C

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Mardani Ali Sera menyampaikan apresiasi kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) karena telah menjadi salah satu yang terdepan memperjuangankan Palestina. “Untuk MER-C terus berjuang karena salah satu yang terdepan memperjuangkan Palestina, dan saya bangga dengan MER-C,” ujar Mardani dalam Acara “Support dan Solidarity for Palestine” dari Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Rabu (8/1). “Kami dari parlemen Indonesia sangat bersyukur kawan-kawan tenaga kesehatan dari dokter dan lain lain benar-benar berjuang, berkorban. Kami dukung dan keinginan tetap di sana adalah pilihan, kita akan tetap dukung apapun keputusan teman-teman,” katannya. Ia menegaskan pihaknya akan menyerukan kepada Kementerian Luar Negeri RI dan seluruh lembaga pemerintahan agar terus membantu semua pejuang Indonesia yang ada di Gaza. “Untuk semua masyarakat Indonesia, pastikan Palestina selalu ada di hati, ada di tangan dan ada di pikiran kita sehingga kita penuh mendukung kemerdekaan Palestina,” tuturnya. Kedutaan Besar Palestina menggelar Acara “Support dan Solidarity for Palestine” untuk mengingat penderitaan rakyat Palestina, khususnya di Gaza, yang selama lebih dari 15 bulan sampai hari ini masih menghadapi agresi penjajah Israel. Acara ini dihadiri oleh sejumlah NGO, kelompok mahasiswa Palestina di Indonesia hingga perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RI dan DPR RI.
Tim EMT MER-C ke-6 Tiba di Tanah Air

Emergency Medical Team (EMT) Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) ke-6 tiba di tanah air setelah dua bulan lebih bertugas di Jalur Gaza, Palestina. Tim EMT MER-C ke-6 yang terdiri dari lima orang relawan pulang dalam dua tahap. Pertama yaitu Dokter Bedah dr. Taufiq Nugroho, SpB., FINACS. FICS, dan Perawat Kamal Putra Pratama, AMK., yang tiba di Indonesia pada 1 Januari 2025. Kemudian Dokter Bedah dr. Faradina Sulistiyani, Sp.B, Dokter Kandungan dr. Regintha Yasmeen, Sp. OG dan satu perawat Nadia Rosi, Amd.Kep., bersama satu relawan logistik Ir. Edy Wahyudi yang telah bertugas selama hampir 10 bulan di Gaza, tiba pada Selasa, 7 Januari 2025. Semua relawan yang baru tiba mengaku senang bisa kembali ke tanah air, namun juga sedih karena harus meninggalkan warga Gaza di tengah situasi yang terus memburuk, terutama sistem kesehatan yang saat ini menjadi target serangan. Tim EMT MER-C ke-6 berhasil masuk ke Jalur Gaza pada akhir Oktober tahun lalu, dan bertugas di sejumlah rumah sakit di antaranya Public Aid Hospital di Gaza City dan RS Kamal Adwan, sebelum akhirnya melakukan evakuasi karena serangan penjajah ke Rumah Sakit tersebut. Dengan penuh haru, para relawan juga menyerukan dukungan untuk warga Gaza yang saat ini dalam kondisi yang terus memburuk akibat agresi penjajah Israel, dengan lebih banyak korban sipil dari perempuan dan anak-anak. Sejak agresi Israel ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, MER-C terus mengirimkan bantuan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya melalui relawan yang berada di Jalur Gaza. MER-C mulai mengirimkan tim medis ke Gaza sejak 18 Maret 2024. MER-C berupaya untuk terus mengirimkan relawan medisnya ke Jalur Gaza, salah satu bantuan yang saat ini sangat dibutuhkan warga Gaza.
Staf RS Indonesia Memilih Bertahan di Tengah Pengepungan dan Perintah Evakuasi Israel

Staf Rumah Sakit Indonesai di Gaza Utara memilih untuk bertahan meski penjajah Israel melakukan pengepungan dan mengeluarkan perintah evakuasi segera. Pasukan penjajah Israel kembali menyerang area sekitar Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara pada hari Jumat (3/1), mengancam staf medis dan pasiennya, serta memerintahkan evakuasi segera. “Tentara Penjajahan Israel mengirimkan seorang laki-laki, untuk memberi tahu kami yang sedang di RS Indonesia agar evakuasi. Kami menolak, karena kami punya pasien di sini, kami harus merawat mereka. Hari ini saya pergi ke RS Indonesia. Dan saya sekarang terjebak di RS Indonesia, saya tidak bisa pulang, karena ada serangan bom quadcopter,” kata salah satu staf medis RS Indonesia melalui pesan suara. “Kemudian kami berbicara dengan WHO dan Kementerian Kesehatan (MoH) bahwa kami menolak untuk evakuasi karena kami punya pasien. Dan jika mereka memaksa kami untuk evakuasi, kami membutuhkan ambulans untuk memindahkan pasien-pasien kami,” tambahnya, sambil mengungkap saat menyampaikan pesan ini, penjajah datang dengan sekitar 10 tank, mengelilingi area seputar rumah sakit kemudian mereka pergi. Ia mengatakan, saat ini ada sembilan staf medis dan delapan pasien di RS Indonesia, satu di antaranya membutuhkan operasi plastik untuk cangkok kulit, ada juga yang membutuhkan operasi ortopedi dan lainya dalam kondisi stabil. “Saya baik-baik saja. Kami memiliki delapan pasien, mereka stabil, ada satu yang membutuhkan operasi plastik untuk cangkok kulit, yang lain membutuhkan operasi ortopedi untuk fiksasi eksternal, dan yang lainnya stabil. Kami memiliki sembilan staf medis di dalam rumah sakit, dan ada empat anak dan putra-putra rekan kami,” ujarnya. Ia mengatakan, di media penjajah membantah perintah evakuasi ini. Tapi kenyataan di lapangan mereka mengirim orang untuk memberi tahu kami agar evakuasi. “Tapi di media sosial dan media mereka tetap membantahnya,” tutur staf medis tersebut.
MER-C Bagikan Ratusan Paket Roti di Public Aid Hospital Gaza City

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) membagikan bantuan berupa ratusan paket roti untuk pasien di Public Aid Hospital di Gaza City, pada 25 Desember 2024. Bantuan berupa 177 paket roti yang masing-masing paket berisi tiga roti ini dibagikan langsung oleh Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-6. “Ini program yang berbeda karena dibagikan khusus pasien rumah sakit, dengan packaging yang bagus. Selain mencukupi kebutuhan makan, ini juga seperti hadiah menghibur pasien, dan kita ketahui masyarakat Palestina makanan utama sebenarnya roti,” ujar dr. Regintha Yasmeen. Ia mengatakan, pembagian bantuan ini tidak ada kendala, namun perlu mencari perusahaan roti yang bisa melakukan pembayaran dengan transfer karena persediaan cash terbatas. Lebih lanjut dr. Reghinta mengatakan, saat ini warga Gaza masih sangat membutuhkan bantuan makanan, air bersih untuk minum dan pakaian keperluan musim dingin. Sebelumnya, MER-C juga telah menyalurkan bantuan makanan berupa bubur adas kuning sebanyak tiga tahap, pada tanggal 20, 21 dan 22 Desember 2024 dengan total penerima sekitar 12.800 orang di sejumlah kamp pengungsian di Gaza City.
Kementrian Kesehatan Gaza Sampaikan Terima Kasih atas Bantuan MER-C untuk Klinik Lapangan di Gaza Selatan

Kementrian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza (MoH) menyampaikan terima kasih kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan masyarakat Indonesia atas bantuan serta dukungan untuk Klinik Lapangan Al Aqsa B Medical Center di Gaza Selatan. “Terima kasih untuk masyarakat Indonesia dan MER-C Indonesia serta semua timnya, untuk upaya ini. Saya harap kita juga dapat membuat rencana proyek lain, proyek untuk mendukung masyarakat Palestina di Gaza Utara dan area lain, karena mereka sangat membutuhkan dukungan selama genosida ini, di mana pasukan Israel menghancurkan semua fasilitas kesehatan dan pusat perawatan kesehatan primer di Gaza. Sekali lagi terima kasih banyak,” ujar dr. Ahmed Shatat, Direktur Unit Kerja Sama dan Perencanaan Internasional MoH. MER-C Indonesia dan Kementerian Kesehatan Gaza pada 26 Oktober 2024 lalu menandatangani MoU untuk memberikan dukungan biaya operasional berupa insentif bagi seluruh staf klinik, yang rencananya akan diberikan selama enam bulan ke depan, terhitung sejak 1 Desember 2024 hingga 31 Mei 2025 mendatang. Dengan bantuan ini, diharapkan Al Aqsa B Medical Center bisa beroperasi kembali untuk memberikan layanan Kesehatan pengungsi yang berada di sekitar Klinik, di tengah lumpuhnya sistem kesehatan akibat serangan penjajah ke fasilitas Kesehatan di sepanjang Jalur Gaza. Dr. Shatat juga mengatakan bantuan ini sangat penting dilakukan, untuk dapat menyediakan obat-obatan pada sistem layanan kesehatan dan memberkan layanan spesialis bagi masyarakat Gaza, yang sebagian besar dari para korban mengungsi dari Gaza Utara dan tempat lain di Al-Mawasi, yang hidup dalam kondisi sangat buruk. Al Aqsa B adalah klinik spesialis lapangan di bawah Kementerian Kesehatan Palestina yang terletak di wilayah padat pengungsian, di Al Mawasi, Khan Younis. Al Aqsa B melayani setidaknya 600,000 warga pengungsi di Jalur Gaza, dengan pasien harian sekitar 500-800 orang. Al Aqsa B memiliki sekitar 36 staf yang terdiri dari Direktur dan Wakil Direktur, Sektretaris, 11 dokter spesialis, 3 dokter umum, 3 farmasi, 6 perawat, 2 petugas kebersihan, 1 ahli gizi, 5 security, 2 admin/pendaftaran, dengan pelayanan untuk penyakit dalam, Cardiovascular, Nephrology, Surgery, Orthopedic, Dental, Ophthalmology, ENT, Radiology, Psychiatry, General Medicine and Obgyn.
Bertemu Menteri Hukum, MER-C Mengajukan Kolaborasi Kerja Kemanusiaan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Senin (30/12) bertemu dengan Menteri Hukum Republik Indonesia Dr. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H di Gedung Kementerian Hukum (Kemenkum). Tim MER-C yang hadir sebanyak lima orang yaitu Presidium dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em., dan dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S., Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati, SH., Ketua Divisi Humas Diana Caroline serta Manajer Operasional Rima Manzanaris. Dalam kesempatan itu, dr. Yogi Prabowo mngajukan kolaborasi ke Kementrian Hukum RI terkait kegiatan kemanusiaan MER-C baik di dalam dan luar negeri. dr. Yogi secara khusus menyampaikan permasalahan pengungsi Rohingya di Aceh, terkait status pengelolaan dan pemenuhan kebutuhan HAM pengungsi. Ia juga meminta adanya perlindungan hukum internasional bagi RS Indonesia Gaza dan RS Indonesia Rakhine, Myanmar, karena adanya permasalahan pelanggaran HAM dan Hukum International di Gaza dan Rakhine terkait akses bantuan kemanusiaan. Untuk penanganan pengungsi Rohingya, MER-C lebih lanjut meminta penanganan yang mengedepankan HAM, dan pemerintah untuk memberikan akses sekolah, kebebasan bergerak, peluang berkontribusi terhadap lingkungan seperti warga domisili sementara sambil mereka menunggu proses selanjutnya, serta tempat penampungan yang layak atau akses ketempat-tempat tinggal mandiri seperti pengungsi-pengungsi yang tinggal mandiri di kota-kota lain. Dalam kesempatan itu, Menteri Hukum Supratman menyampaikan apresiasi atas kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C dan menyatakan siap untuk memberikan dukungan serta bantuan yang diperlukan dalam melakukan kerja kemanusiaan ini. “Saya sangat senang berinteraksi dan menerima kunjungan teman-teman MER-C. Pertama-tama saya memberi apresiasi atas seluruh kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C, itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak semua orang bisa lakukan, terutama kepada teman-teman pengungsi di Rohingya di Indonesia, maupun di Rohingya sendiri,” ujar Supratman. “Keterlibatan MER-C dalam kerja kemanusiaan patut kita apresiasi dan untuk itu pemerintah akan memberikan dukungan maksimal, termasuk dalam hal perubahan regulasi yang dibutuhkan oleh MER-C maupun lembaga-lembaga internasional yang melakukan kerja-kerja kemanusiaan terutama di bidang pengungsi,” tambahnya. Selain itu, Supratman juga memberikan apresiasi atas langkah MER-C di Gaza, yang memberikan layanan walaupun dalam kondisi perang. Menurutnya, pengelolaan RS Indonesia oleh MER-C menjadi sesuatu yang sangat membanggakan dan sekali lagi pemerintah memberikan apresiasi yang sangat tinggi. “Bekerja terus untuk nilai-nilai kemanusiaan, memperjuangkan kemanusian adalah tugas mulia. Saya berharap MER-C terus berdiri di garis terdepan untuk memberikan pelayanan, terutama di daerah-daerah konflik maupun bencana alam,” tuturnya.
Dua Bulan Bertugas, Relawan MER-C Saksikan Langsung Keteguhan Warga Gaza di Tengah Agresi

Salah satu relawan MER-C yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-6, dr. Taufik Nugroho, Sp.B menceritakan pengalamannya menyaksikan secara langsung keteguhan warga Gaza di tengah agresi penjajah Israel yang masih berlangsung, dalam kesempatan Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar hari Minggu (29/12), yang digelar secara daring. Dr. Taufik yang saat ini masih bertugas di Jalur Gaza mengatakan, dengan kerusakan yang nyaris total di Gaza saat ini, ia hampir tidak percaya warga Gaza bisa bertahan sampai satu tahun sejak peristiwa 7 Oktober kemarin, dengan sarana dan prasarana yang sudah hancur total mereka hanya tinggal di tenda-tenda atau bawah reruntuhan dengan pasokan makanan, air bersih dan obat-obatan sangat terbatas, karena bahkan konvoi bantuan makanan pun dibom. “Tapi dalam kondisi itu mereka bisa bertahan. Hanya Allah-lah yang memberikan kekuatan kepada mereka dalam keadaan seperti ini, dan itulah yang kami lihat,” ujarnya Lebih lanjut ia juga menceritakan, selama dua bulan bertugas sebagai tim medis di Gaza, dr. Taufik bersama relawan MER-C lainnya telah melakukan lebih dari 100 operasi besar. “Kami melakukan lebih dari 100 operasi besar yang kami lakukan selama dua bulan di Gaza, termasuk operasi-operasi yang bahkan mungkin tidak kami lakukan di Indonesia. Seperti dr. Yasmeen (salah satu Tim EMT ke-6), itu spesialis obgyn tapi di sini beliau membantu saya memotong kaki, tangan, buka perut, sesuatu yang tidak mungkin beliau lakukan di Indonesia, tapi harus kami lakukan di sini,” ujarnya. Dr. Taufik mengatakan, selain melakukan pertolongan dan operasi di rumah sakit, Tim EMT ke-6 juga menyalurkan bantuan untuk warga Gaza berupa bantuan makanan dan bahan makan mentah, baju dingin, air bersih serta bantuan-bantuan lainnya di tengah musim dingin yang sedang berlangsung di Gaza. “Saudara-saudara kita di Indonesia dapat membayangkan saudara kita di pengungsian, di tenda-tenda yang tipis tanpa baju dingin, tanpa alat penghangat, dengan kekurangan makanan. Sungguh mengurunkan tangan untuk memberikan bantuan kepada mereka tidak harus jadi dermawan yang kaya raya atau muslim yang sangat baik, kita hanya perlu menjadi manusia yang punya hati,” ujarnya. “Oleh karena itu, mudah-mudahan apa yang sudah kami lakukan selama di Gaza dua bulan ini memberikan arti, memberikan manfaat buat mereka, dan bisa mengetuk dan mengajak hati saudara-saudra kami di Indonesia. Mari kita ulurkan tangan kita, mari kita berikan bantuan kepada mereka, berapa pun akan sangat membantu,” pungkasnya. Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar ini digelar secara daring atas kerja sama sejumlah lembaga di antaranya, Komite Makassar for Gaza, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS MRPI), GEMMA 9, MER-C dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), yang digelar untuk mengajak masyarakat luas mendukung program “Makassar for Gaza”.