MER-C Departed Phase 3 Team to Precede Medical Equipment Procurement for Gaza’s Indonesia Hospital

In order to complete development program of Indonesia Hospital at Gaza, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) has departed Phase 3 volunteer team from construction division. Apart from finishing Indonesia Hospital development, the team will also assign for preceding medical equipment procurement, donated from Indonesian people. Team lead by Ir Edy Wahyudi is planned to complete Indonesian Hospital development, related to its mechanical and electrical side. The team will also finish Indonesian Guest House development which is located in area of Indonesia Hospital. The team of 15 was departed on Saturday (28/6) at 9 am by Malaysia Airlines, followed by Egypt Airlines. They were scheduled to be arrived at Cairo on Sunday (29/6) at 4.55 am local time. Arriving in Cairo, team will go straight to Rafah border, leading to Gaza. In the meantime, within the last month according to information sent by MER-C volunteer at Gaza, received by MER-C Headquarter, there have been attacked to Gaza area. Not only building damages have occurred but also loss of lives. Until now MER-C is still fundraising for medical equipment procurement for Indonesian Hospital that amounts to Rp. 50.000/person
Israel Kembali Bombardir Jalur Gaza

Gaza – Israel kembali lancarkan serangan ke jalur Gaza selasa (24/6) menjelang tengah malam. Menargetkan beberapa lokasi di jalur Gaza. Di Utara Gaza, Bayt Lahiya, 1,5 km dr RS Indonesia Israel targetkan lokasi latihan milik Brigade Al Quds, sayap militer Jihad Islami. Di Nushairat Gaza tengah juga di Selatan Jalur Gaza. Sejauh ini dilaporkan Tidak ada korban Jiwa. Pantauan Tim MER-C setidaknya terdengar 5 ledakan keras dekat RS Indonesia dalam waktu kurang dari satu jam. Para relawan yang sedang bertugas dalam pembangunan RS Indonesia dalam keadaan baik, Alhamdulillah. Laporan terbaru dari jubir kementrian kesehatan Ashraf Al qadrah, 2 orang polisi laut terluka akibat serangan Israel.
ANAK KORBAN LUKA AKIBAT SERANGAN ISRAEL AKHIRNYA TEWAS

Gaza – Seorang anak korban luka akibat serangan Israel pada rabu (11/6) menghembuskan nafas terakhirnya sabtu (14/6) sore waktu Gaza setelah mengalami koma sejak 3 hari yang lalu. Anak bernama Abdul Lathif Al Awoor (7) mengalami luka serius dibagian kepala. Demikian Juru bicara Kementrian kesehatan Ashraf Al Qadra mengatakan. Pada rabu malam Israel menembakkan rudal ke sebuah motor di daerah Sudaniyah, Utara Jalur Gaza seorang warga gaza pengendara sepeda motor. Akibat serangan tersebut satu orang meninggal bernama Muhammad Ahma Al Arrur (30) dari bayt lahiya Utara jalur Gaza. Sedangkan 2 orang lainnya mengalami luka-luka termasuk seorang anak bernama Abdul LAthif Al Awoor yang akhirnya meninggal sabtu (14/6) sore waktu gaza.
Laporan Tim MER-C Terkait Konferensi Pers Penyerangan Freedom Flotilla di Turki

Istanbul – Pada hari ini (28/3) telah diadakan konferensi press oleh koordinator Fredoom Flotilla dan pengacara yang mewakili para penuntut atas kasus di mana tentara Israel melakukan penyerangan terhadap awak Freedom Flotilla. Adnan Wirawan dari TPM ( Tim Pengacara Muslim) bertanya apa yang akan dilakukan jika peradilan Turki memutuskan untuk menutup kasus ini, dan dijawab oleh ketua IHH Bulent Yildirim bahwa sebenarnya sejak awal pihak Freedom Flotilla telah memenangkan kasus ini. Hukum yang ada di Turki pun sebenarnya sudah menyediakan landasan yang jelas bahwa dalam kasus seperti ini ke empat Jenderal Israel yang dituntut segera ditangkap. Sebuah “public case” tidak dapat ditutup menurut hukum yang berada di Turki. Setiap sidang yang dilaksanakan menunjukkan kepada dunia bahwa kasus ini masih berjalan. Jika pun kasus ini akhirnya ditutup oleh para hakim, maka ini hanya menunjukkan kekalahan dari pihak negara Turki, karena kasus ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan kekuatan hukum negaranya. Dan kalaupun kasus ini ditutup, maka kapal Mavi Marmara ada, dan dapat digunakan untuk kembali berlayar menuju Gaza.
Laporan Tim MER-C dari Sidang Lanjutan Kasus Mavi Marmara

Istanbul – Pada tanggal 27 Maret 2014 telah diadakan sidang lanjutan atas kasus penyerangan terhadap Freedom Flotilla 2010 yang menyebabkan kematian 9 aktifis di atas kapal Mavi Marmara. Sidang kali ini memanggil sebagian dari panitia penyelenggara Freedom Flotilla asal Turki, yaitu mereka yang bertanggung jawab mengawal kapal Mavi Marmara dan kapal kargo bernama Defne Y yang saat itu membawa di antaranya bahan bangunan untuk digunakan di Gaza, Palestina. Dilaver Kutluay, yang berada di atas kapal Defne Y ketika penyerangan terjadi, dalam kesaksiannya menceritakan bagaimana ia dapat melihat tentara Israel menembak tanpa henti, melempar bom gas dan mengarahkan laser senjata ke arah kapal Mavi Marmara. Ia juga mendengar jeritan dari orang-orang yang berada di atas kapal Mavi Marmara yang membuat ia yakin bahwa banyak orang yang terluka di sana. Dilaver mengingat bahwa setidaknya ada 20 orang tentara Israel yang menaiki kapal Defne Y. Dilaver juga menggarisbawahi mengenai adanya orang yang mengaku sebagai orang Yahudi yang berbicara bahasa Turki dengan sangat fasih sebagaimana orang Turki pada umumnya, yang mengaku sebagai perwakilan konsulat Turki di Israel, memaksa penumpang Defne Y untuk menandatangani sebuah dokumen sambil mengancam bahwa jika dokumen ini tidak ditandatangani maka hukumannya adalah 10 tahun penjara di Israel. Dilaver mengaku bahwa barangnya diambil, ditelanjangi beberapa kali, dipukuli beberapa kali bahkan ketika ingin membantu kawan yang terluka di penjara Ashdod. Dilaver menambahkan bisa bahwa ada tentara Israel yang berbicara kepada kapten Kapal Defne Y dengan menggunakan bahwa Turki yang sangat fasih, dan ketika ditanya, tentara Israel ini menjawab bahwa ia berasal dari Istanbul. Omer, yang berada di atas kapal Mavi Marmara ketika penyerangan terjadi mengatakan bahwa sampai saat ini ia masih trauma atas kejadian yang ia alami hampir empat tahun lalu, karena ia selalu berpikir bahwa tentara Israel akan datang dan turun dari helikopter ke teras rumahnya. Di akhir sesi kesaksian kali ini para pengacara menyatakan tuntutannya kepada pengadilan. Mereka mengatakan bahwa dalam hukum Turki kasus ini masuk ke dalam kategori penyiksaan sistematis maka para hakim harus melakukan prosedur penangkapan terhadap General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadier General Avishai Levi, dan Major General Amos Yaldin. Para pengacara juga menegaskan bahwa hak asasi manusia terletak di atas semua hukum, dan para tertuntut harus mematuhi semua perintah pengadilan dan menjelaskan alasan perbuatan mereka. Para pengacara juga menuntut para hakim untuk membekukan kekayaan ke empat orang tersebut. Para pengacara juga mempertanyakan hubungan antara kepolisian Turki dan Israel karena ketika paspor salah satu warga Turki dikembalikan setelah disita di Israel, dan ditanyakan kepada polisi, siapa yang memberikan paspor ini kepada mereka, polisi ini hanya meminta penumpang Mavi Marmara ini untuk tidak banyak bertanya. Di akhir persidangan, hakim mengumumkan bahwa keputusan untuk melakukan prosedur penangkapan akan dilakukan di sidang berikutnya yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2014.
Laporan Tim MER-C dari Konferensi Mavi Marmara “Search for Justice” di Turki

Istanbul – pada tanggal 25 Maret 2014 telah diadakan konferensi Mavi Marmara Search for Justice, “Not the law of the strong but justice for all” di Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turki. Konferensi yang digagas oleh IHH ini bertujuan untuk menyatukan misi dan visi dalam usaha menuntut Israel atas kejahatannya di kapal Mavi Marmara khususnya dan Freedom Flotilla pada umumnya. Pada sesi pembuka, ketua IHH Bulent Yildirim mengatakan bahwa walaupun terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam menuntut Israel, di mana bahkan para hakim di Turki menolak kasus pembunuhan atas Furkan Dogan, akan tetapi ini adalah untuk pertama kalinya Israel dituntut oleh berbagai negara untuk kasus yang sama, yang mana ini berarti bahwa Israel sedang mengalami gangguan terbesar dalam sejarah penjajahan mereka. Sementara itu, Dror Feiler, yang merupakan mantan warga negara Israel menegaskan bahwa sudah seharusnya Israel diseret ke Mahkamah yang juga telah membawa Milosevich di Den Hague. Ahmet Dogan, ayahanda dari Syahid Furkan Dogan mengatakan bahwa anaknya yang merupakan warga negara Amerika Serikat sekalipun tidak mendapatkan keadilan di Mahkamah Amerika Serikat, karena hukum di Amerika Serikat tidak memungkinkan dilakukannya tuntutan kriminal atas negara Israel, karena belum ada kesepakatan dengan negara tersebut sampai saat ini. Greta Berlin menceritakan asal mula gerakan pelayaran menembus Gaza yang dipelopori antara lain oleh Greta sendiri bersama empat orang lainnya di tahun 2008. Dimitri Plionis menjelaskan bahwa harus ada kesamaan persepsi bahwa Freedom Flotilla merupakan inisiasi internasional yang terdiri dari 36 negara, bukan hanya inisiasi negara Turki. Ziyad Patel yang merupakan pengacara dari Gadija Davids (Afrika Selatan) membandingkan sistem Apartheid yang terjadi di Afrika Selatan Adam yang sedang berlangsung di Palestina. Ziyad mengatakan bahwa kolonialisme internasional sangat dikecam oleh masyarakat internasional dan hal ini dapat diangkat dalam tuntutan terhadap Israel. Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir menjelaskan bahwa ada dua hal yang dapat membuat kasus ini menjadi lebih strategis, yaitu bahwa penyerangan terhadap bala bantuan kemanusiaan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang serius, sementara apabila kita dapat membuktikan bahwa pembunuhan dilakukan dengan cara “excecution style”, ini dapat menghilangkan alibi Israel bahwa mereka melakukan sela defence di kapal Mavi Marmara. Hadir juga sebagai pembicara di antaranya Ismail Bilgen, anak dari Syahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk dari Palestina, Gonzales Boye dari Spanyol, Gilles Dever dari Perancis dan Gulden Sonmez dari IHH.
DOH Filipina Apresiasi Kinerja Tim Bedah MER-C

Cebu, Filipina – DOH atau Department of Health of the Philippines dan sejumlah NGO asing dari berbagai negara menyampaikan rasa salut dan apresiasi yang besar bagi kinerja Tim Bedah MER-C. Hal ini disampaikan pada saat rapat koordinasi yang diadakan DOH Filipina, Selasa (3/12) di kantor DOH, Cebu City. Turut hadir tiga relawan MER-C pada rapat tersebut untuk memberikan laporan kegiatan tim. Ketiga relawan tersebut adalah dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT dan dr. Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS. “Kami tidak menyangka diberi applause (tepuk tangan) dan salut dari semua hadirin seperti Unicef, Japanese Army, dll sesaat setelah dr. Abdul Mughni Ketua Tim MER-C memberikan laporan,” ungkap dr. Nurul Qomaruzzaman yang juga merupakan Wakil Ketua Tim MER-C untuk Filipina. Lebih lanjut relawan yang berprofesi sebagai ahli bedah tulang ini memaparkan bahwa sejak awal peserta rapat yang lain menyampaikan bahwa di Medellin dan sejumlah wilayah di Cebu Utara yang dilanda topan belum ada bantuan medis dan warga yang sakit belum tertangani. Padahal, menurutnya lagi, Tim MER-C sudah menjangkau seluruh daerah yang disebutkan tadi. “Kami sudah melayani sekitar 1.670 pasien rawat jalan melalui program mobile clinic dan telah melakukan 12 kali operasi mayor di seluruh radius North District Cebu sampai ke pulau terjauh Kinatarcan,” tambahnya. Paparan inilah yang membuat para hadirin salut dan bertepuk tangan karena apa yang telah dilakukan Tim MER-C menjawab semua permasalahan dan keluhan yang semenjak tadi dibicarakan, yakni belum adanya bantuan medis di Medellin. Ungkapan terima kasih juga berdatangan dari sejumlah sejawat medis Bogo Medellin Medical Center (BMMC), Rumah Sakit yang turut mengalami kerusakan akibat topan yang juga merupakan tempat Tim MER-C berposko selama menunaikan tugas kemanusiaan di Filipina. “Selamat kepada grup Merc Indonesia yang telah menjadi grup pertama dari 20 negara yang telah memberikan bantuan medis di Cebu utara, terimakasih banyak.” (Enirhtak Ocificap Atelom). “Selamat kepada seluruh grup Merc! Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan anda semua. Dengan cinta dari kami bbmc Dan seluruh warga Medellin.” (LZ Hurado Iscanilla) Tim Medical Emergency Rescue Committee dari Indonesia telah membuat kami sadar bahwa kami tidak sendirian Dan andalah Salah satu Alasan mengapa kami dapat bertahan Dan bangkit kembali. Terima kasih. (Holda)
Philippines Appreciates MER-C Surgical Team Performance

Cebu, Philippines – DOH or Department of Health of Philippines and a number of foreign NGOs of various countries have given their applause and tremendous appreciation to MER-C surgical team performance. It was delivered on Coordination meeting, held by DOF of Philippines, Tuesday (3/12) located at DOH office, Cebu City with three MER-C volunteers attended the meeting to give team’s activity report. The volunteers are dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT and dr. Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS. “We didn’t expect to be given an applause and appreciation from attendants among all were UNICEF, Japan Army, etc after dr. Abdul Mughni , MER-C’s team President had delivered a report,” said dr. Nurul Qomaruzzaman, which is also a Vice Chairman of MER-C Team for the Philippines. Moreover, volunteer who is also a spine surgeon explained that from the beginning, other attendants of the meeting said the victims of the catastrophe have not been medically treated in Medellin and other regions in North Cebu. However, according to him, MER-C team member has explored all those regions. “We have served around 1.670 outpatients through clinic mobile program and have been conducted 12 major surgeries from radius of all North Cebu District to the farthest island in Kinatarcan,” he added. All information that has been delivered, make the attendants applaud since MER-C team has answered all previous problems and complaints about no medical facilities and activities in Medellin. Gratitude also came from a number of Bogo Medellin Medical Center (BMMC) medical team, the hospital that has been hit by typhoon and was a MER-C team member’s place during their humanity duty in Philippines. “Congratulations to MER-C INDONESIA GROUP for being number 1 among 20 countries rendered Medical Mission in Northern Cebu, thank you so much” (Enirhtak Ocificap Atelom). “Congrats everyone from the MER-C group! It has been an honor working with you. Much love from BMMC and the whole of Medellin” (LZ Hurado Iscanilla). “Medical Emergency Rescue-Commitee team from Indonesia, knowing that we are not alone you’re one of the reasons why we survived and we rise again. Terima kasih.” (Holda)
Indonesian Guest House Segera Dibangun

Jakarta – Pada tanggal 4 Desember MER-C akhirnya menandatangani sebuah surat kesepakatan tentang pangadaan sebuah gedung di dalam kompleks RSI yang akan diberi nama Indonesian Guest House. Bangunan yang akan dibangun di atas tanah seluas 250m2 ini akan berfungsi sebagai kantor cabang MER-C di Gaza, selain menjadi rumah singgah bagi relawan MER-C yang ditugaskan ke Gaza untuk tamu-tamu MER-C di Gaza. Presidium MER-C Ir. Faried Thalib menjelaskan bahwa Indonesian Guest House akan memakan waktu pembangunan selama dua setengah bulan sebelum bangunan ini dapat digunakan.
Indonesian Guest House Soon to Establish

Jakarta – On December 4, 2013, MER-C has finally signed an agreement on building procurement in Indonesia Hospital complex which will be named as Indonesian Guest House. The upcoming building that will be built on 250 m2 land area, will be functioning as MER-C branch in Gaza and guest house for MER-C volunteers and its guests in Gaza. MER-C Presidium Ir. Faried Thalib said that Indonesian Guest House development will last for two and half years.