MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Ketua DPD RI Minta Panglima TNI Fasilitasi Relawan Kemanusiaan MER-C Masuk Palestina

SIARAN PERS Ketua DPD RI ———- JAKARTA – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, meminta Panglima TNI membantu memfasilitasi relawan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang terhalang masuk ke Palestina melalui Mesir.    Secara administrasi, relawan MER-C telah memenuhi seluruh prosedur yang diperlukan. Hanya saja, mereka terhalang oleh izin intelejen Mesir.   “Ini butuh koordinasi antar intelejen negara, dalam hal ini BAIS yang memang di bawah kendali Panglima TNI. Maka saya meminta Panglima TNI untuk memfasilitasi hal ini, agar relawan MER-C dapat masuk ke Gaza dengan misi kemanusiaannya,” tutur LaNyalla saat menerima audiensi pengurus MER-C di kediaman Ketua DPD RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (12/6/2022).   Senator asal Jawa Timur itu mengatakan segera berkoordinasi dengan Panglima TNI untuk membantu relawan kemanusiaan MER-C agar dapat membantu kesehatan rakyat Palestina, melalui rumah sakit yang didirikan dari donasi masyarakat Indonesia.   “Secepatnya harus ditindaklanjuti agar masyarakat Palestina segera mendapatkan hak kesehatan yang layak. Saya sangat mendukung dan mendorong agar relawan MER-C dapat segera difasilitasi masuk ke Palestina,” tegas LaNyalla.   Dalam audiensi tersebut, jajaran pengurus MER-C mengeluhkan akses yang sulit untuk dapat masuk ke Palestina melalui Mesir.    “Kami meminta akses untuk dapat masuk ke Palestina. Hubungan Indonesia dan Mesir sangat bagus. Tapi pemerintah tak bisa meyakinkan Pemerintah Mesir, dalam hal ini intelejen mereka, agar relawan MER-C dapat diberikan akses masuk ke Palestina,” tutur Head of Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad. Menurutnya, bulan lalu dua orang relawannya tertahan di perbatasan Palestina-Mesir lantaran tak diberikan akses masuk oleh intelejen Mesir.    “Untuk masuk ke Palestina, selain visa dan persyaratan lainnya, juga harus ada izin dari intelejen. Kami sudah berkoordinasi dengan KBRI di Mesir. Tapi tetap gagal masuk dari perbatasan karena terhambat oleh izin intelejen Mesir,” ujar Sarbini.   Sementara untuk pengembangan rumah sakit di sana, mereka butuh akses yang mudah untuk masuk karena kita membawa material, tukang, tenaga ahli, dokter, relawan dan lainnya.  Sebagaimana diketahui, akhir tahun 2015 rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia telah beroperasi di Palestina.    Setiap harinya lebih dari 500 pasien masyarakat Palestina memanfaatkan fasilitas kesehatan rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia di Palestina. Karena kebutuhan fasilitas pelayanan, saat ini fasilitas ditambah dengan membangun dua lantai agar pelayanan dapat lebih maksimal.   Hadir dalam kesempatan itu sejumlah pengurus MER-C, di antaranya dr Sarbini Abdul Murad, Tonggo Meaty, Ita Muswita, Luly Larissa, dr Zackya Yahya, dr Henry Hidayatullah, dr Hadiki Habib dan Rima Manzanaris.(***)     *BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI LANYALLA* www.lanyallacenter.id

Relawan MER-C di Palestina Kabarkan Suasana Ramadhan di Gaza

Gaza, Rasilnews – Relawan medis dari lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), Fikri Rofiul Haq mengabarkan suasana Ramadhan 1443 Hijriah atau 2022 di Jalur Gaza, Palestina melalui siaran Radio Silaturahim 720 AM, pada Kamis (14/4) pagi. Fikri mengatakan, Ramadhan kali ini terasa berbeda. Di tahun-tahun sebelumnya, para relawan MER-C di Jalur Gaza biasa melaksanakan sholat tarawih di Masjid Glebo yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, tidak jauh dari Rumah Sakit Indonesia. Namun Ramadhan tahun ini, masjid tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi imbas peran 11 hari pada Ramadhan 2021 di Jalur Gaza. “MER-C pernah menyumbangkan karpet untuk Masjid Glebo dan biasa sholat tarawih di sana, tapi tahun ini kami tidak bisa lagi sholat tarawih di sana karena bangunan yang sudah hancur,” tutur Fikri. Hingga saat ini, kata Fikri, pemerintah Gaza masih terus melakukan renovasi-renovasi gedung yang hancur akibat serangan Israel pada Ramadhan tahun lalu. Patut disyukuri, Ramadhan 1443 H ini di Jalur Gaza tidak terjadi konflik besar, sehingga umat muslim di sana dapat melaksanakan ibadah Ramadhan dengan tenang. “Yang patut kami syukuri, Ramadhan tahun ini, Jalur Gaza khususnya sudah tidak ada konflik besar sehingga masyarakat Gaza bisa melaksanakan ibadah Ramadhan dengan tenang,” ucap Fikri. Perkembangan virus Covid-19 di Jalur Gaza pun, lanjut Fikri, dikabarkan menurun atau bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada lagi karena sudah tidak ada kewajiban memakai masker, maupun aturan berjarak saat sholat berjamaah. Ada yang unik pada Ramadhan kali ini. Fikri menceritakan, toko-toko dan mall di Jalur Gaza mulai tutup sejak sore hari. Bertujuan agar umat muslim dapat lebih fokus beribadah pada malam hari, terutama saat melaksanakan sholat tarawih. “Untuk sholat tarawih di Gaza ada yang melaksanakan 11 rakaat, ada pula yang 23 rakaat. Hampir rata-rata mereka melaksanakan dengan dua rakaat satu salam lalu ditutup dengan 1 rakaat sholat witir,” kata Fikri. Salah satu menu andalan ketika berbuka puasa di Jalur Gaza ialah Gathoif. Fikri mengatakan, makanan ini hanya ada satu tahun sekali, tepatnya bulan Ramadhan dan mudah sekali dijumpai di warung-warung pinggir jalan. “Makanan ini tergolong makanan manis berisikan kelapa pada umumnya. Bentuknya seperti martabak tapi versi mini. Biasa kami beli mentahannya untuk diisi dengan selai coklat,” tuturnya. Selain itu, Fikri juga mengabarkan konflik Rusia-Ukraina tidak terlalu berdampak pada Jalur Gaza. Harga kebutuhan pokok di sana masih normal. Meski ada beberapa barang yang naik, tapi hal itu dinilai normal terjadi setiap bulan Ramadhan. “Konflik Rusia-Ukraina tidak terlalu berpengaruh di Jalur Gaza. Harga barang pokok masih tergolong normal, meski harga telur dan daging ayam cukup mahal, tapi ini memang selalu terjadi saat bulan Ramadhan,” ujar relawan MER-C yang kurang lebih sejak 2020 berada di Jalur Gaza itu. Sumber : https://www.radiosilaturahim.com/relawan-mer-c-di-palestina-kabarkan-suasana-ramadhan-di-gaza/

Khidmat MER-C bersama anak bangsa di Gunung Semeru

siapapun yang membutuhkan akan kami layani Jakarta (ANTARA) – Letusan Gunung Semeru, yang secara administratif berada di dua daerah, yakni Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan terjadi sejak Sabtu(4/12) 2021 hingga kini masih menyisakan duka mendalam. Warga di sekitar gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, dengan puncaknya Mahameru setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl), yang menjadi korban, baik luka maupun belum ditemukan, masih membutuhkan bantuan, baik kesehatan maupun logistiknya. Baik pemerintah, organisasi kemanusiaan, perusahaan negara dan swasta, anak sekolah dan mahasiswa, bahkan partai politik, lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga kini terus melakukan kegiatan dan sumbangsihnya dalam ragam bentuknya. Dari beragamnya para pihak yang bersama-sama membantu masyarakat korban letusan Semeru itu, salah satunya yang ikut bergabung adalah organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia. “Bersama anak bangsa lainnya, kami masih terus bergerak untuk membantu korban erupsi Semeru,” kata Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad. Selain mengirim tim kesehatan, yang terdiri atas sukarelawan dari unsur dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, dan bagian logistik, pihaknya juga mengirimkan tim pemulihan trauma (trauma healing). Pada Jumat (10/12) 2021, MER-C kembali memberangkatkan tim sukarelawannya, yakni tim ketiga ke wilayah yang terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Lumajang, yakni 13 orang, yakni dokter umum, perawat, bidan, bagian logistik serta trauma healing. Sebelumnya, sejak satu hari usai bencana, MER-C telah menurunkan dua tim sukarelawan. Tim ke-1 adalah tim advance sebanyak 5 sukarelawan yang dipimpin oleh Ketua MER-C Cabang Jawa Timur dr M Hardian Basuki, SpOT (K), untuk melakukan assessment ke beberapa titik pengungsian dan fasilitas kesehatan.                               Anggota tim sukarelawan kesehatan MER-C sedang mendata dan memeriksa warga terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Humas MER-C   Tim bedah Tim ke-2 yang diterjunkan adalah tim medis yang terdiri atas dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi, dokter umum, perawat dan bagian logistik berjumlah tujuh orang yang merupakan gabungan dari sukarelawan MER-C Cabang Yogyakarta, Solo dan Jawa Timur. Tim bedah plastik melayani pasien luka bakar di Rumah Sakit Dr Haryoto Lumajang. Sementara tim medis lainnya melakukan pelayanan mobile clinic ke titik-titik pengungsian yang masih minim bantuan medis. Korban luka bakar menjadi fokus tim bedah plastik karena jumlahnya cukup banyak. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)Abdul Muhari, Ph.D melalui keterangan yang disampaikan pada Sabtu (12/12) menyatakan sepekan upaya pencarian dan pertolongan korban dampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, tim gabungan telah menemukan total 45 korban jiwa dalam kondisi meninggal dunia. Jumlah tersebut bertambah dari yang sebelumnya yakni 43, setelah pada Jumat (10/12), tim kembali menemukan dua korban di wilayah Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Merujuk Dansatgas Penanggulangan Dampak APG Gunung Semeru dari Posko Tanggap Darurat Kecamatan Pasirian, Kolonel (Inf) Irwan Subekti, Jumat (10/12), BNPB merinci jumlah orang hilang yang sampai saat ini dilaporkan ada 9 orang, 19 orang luka berat dan 19 lainnya luka ringan. Adapun sebanyak 19 orang yang luka ringan ini juga memiliki luka atau penyakit lain di luar luka bakar akibat APG Gunung Semeru. Sementara, jumlah orang yang mengungsi ada sebanyak 6.573 pengungsi yang tersebar di 124 titik pengungsian. Sebanyak 124 titik pengungsian itu terbagi sebanyak 24 titik di lokasi pengungsian terpusat dan sisanya yakni 102 titik merupakan pengungsian mandiri maupun di lokasi kerabat para warga terdampak.                                Tim dokter kesehatan MER-C sedang memberikan layanan kesehatan warga terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Humas MER-C Prioritas keselamatan Saat meninjau RSUD Pasirian Lumajang, Ahad (5/12), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemerintah berfokus menyelamatkan korban. Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, kata dia, setiap ada bencana seperti ini yang diprioritaskan adalah keselamatan korban, terutama mereka yang cedera. Korban cedera akibat erupsi Gunung Semeru di RSUD Pasirian banyak yang mengalami luka bakar parah. Bahkan ada korban yang mengalami luka bakar sampai 80 persen sehingga perlu penanganan khusus dengan bantuan dokter spesialis,  dokter sub spesialis dan dokter bedah plastik. Selain itu, ada pula korban cedera yang tertimpa reruntuhan bangunan. Ketua Tim ke-3 MER-C untuk erupsi Semeru dr Mustofa Siddik menyatakan bahwa kegiatan tim tidak langsung berkaitan dengan evakuasi, melainkan pendampingan kesehatan. “Targetnya siapapun yang membutuhkan akan kami layani sesuai dengan kapasitas kami sebagai tim kesehatan,” katanya. Namun apabila dirasa tim menemukan satu kasus yang tidak dapat ditangani oleh tim, maka akan merujuk ke fasilitas kesehatan terdekat yang memadai. Tim MER-C dengan menggunakan dua armada “double cabin” akan bertugas selama sepekan ke depan dan rolling dengan tim ke-2 yang sudah bertugas, dan selanjutnya tim sukarelawan akan terus dikirimkan secara rotasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pada Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 di Jakarta pada Rabu (10/3) 2021, MER-C mendapat penghargaan dari negara, melalui BNPB. Anugerah penghargaan kepada MER-C diberikan atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini. Khidmat membantu korban di Gunung Semeru adalah kesinambungan kerja-kerja senyap kemanusiaan dari Sabang hingga Merauke, yang tidak segegap-gempita jika misi kemanusiaan berlangsung di mancanegara. Oleh Andi JauharyEditor: Budhi Santoso Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2581121/khidmat-mer-c-bersama-anak-bangsa-di-gunung-semeru

Safari Kemanusiaan, MER-C Bertemu Pengamat Timur Tengah dari UI

Depok, MINA – Lembaga medis dan perdamaian, Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) dipimpin dr. Sarbini Abdul Murad bertemu Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi di Depok, Ahad (7/11). Dalam pertemuan yang merupakan rangkaian Safari Kemanusiaan MER-C itu, Sarbini menyampaikan pentingnya semua pihak berdiskusi tentang kondisi Palestina. Ia menegaskan, penderitaan Palestina tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apa pun. “Orang-orang hanya respek ketika ada peristiwa besar, tapi begitu peristiwa besar itu hilang, maka lupa itu tentang Palestina. Jadi saya ingin mencoba mengkomunikasi bahwa kita punya dua tanggung jawab terhadap Palestina, yaitu tanggung jawab konstitusi dan tanggung jawab sejarah. Ini yang ingin kita sampaikan melalui Safari Kemanusiaan,” ujar Sarbini. Menurut Sarbini, aksi-aksi kemanusiaan yang selama ini dilakukan belum mampu membuka mata Israel terkait penderitaan bangsa Palestina. Maka, kata dia, Indonesia sebagai rumah umat Islam yang besar perlu bersikap lebih nyata dalam mendukung Palestina. Sementara itu, Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi membenarkan apa yang disampaikan Sarbini. Menurutnya, memang Palestina membutuhkan dukungan lebih dari banyak pihak. “Negara yang mengakui Israel sudah banyak, dari Amerika hingga Uni Eropa. Yang mengakui Palestina belum terlalu banyak. Sementara yang mengakui keduanya sejauh ini hanya Rusia atau Cina saja. Jadi dukungan terhadap Palestina masih jauh,” katanya. Menurut Yon, Palestina bisa memunculkan kekuatan yang besar apabila dua fraksi besar di negara itu bisa bekerja sama, yakni Hamas di Jalur Gaza dan Fatah di Ramallah. Hanya saja, kata dia, rekonsiliasi kedua fraksi tersebut tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh Israel. “Memang untuk berhadapan dengan Israel itu ada dua sisi, berinteraksi dengan perlawanan atau diplomasi. Dan dua-duanya sudah dilakukan oleh Palestina, tetapi memang terpisah, yakni Hamas dengan perlawanannya, kemudian PLO dengan diplomasinya,” tuturnya. Yon menjelaskan, selama Hamas dan Fatah belum bersatu, maka akan sulit untuk berhadapan dengan Israel. Ia pun menyarankan pihak eksternal, khususnya dari Indonesia untuk memediasi rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. “Minimal masyarakat akar rumput di Palestina bersatu. Mungkin kalau langsung tokoh sentralnya ini akan sulit, tetapi kalau dimulai dari masyarakat, minimal sampai ke tokoh-tokoh menengah, ini bisa dilakukan,” katanya. Terkait kepedulian terhadap Palestina, Yon mengapresiasi langkah MER-C yang melakukan Safari Kemanusiaan ke semua kalangan. Hal itu, menurutnya, bisa menjadi langkah awal memberikan dukungan yang besar kepada Palestina. Sumber : https://minanews.net/safari-kemanusiaan-mer-c-bertemu-pengamat-timur-tengah-dari-ui/

Layanan operasional RS Indonesia di Myanmar kado HUT Kemerdekaan

Jakarta (ANTARA) – Tonggak sejarah ditancapkan ketika digagas pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, pada November 2017. Pembangunan RSI di Myanmar itu sarat makna, baik secara kemanusiaan maupun diplomasi hubungan antarbangsa, serta tentu saja kesehatan. Lebih mendasar lagi, karena RSI itu dibangun di tengah komunitas yang sedang berkonflik, yakni pihak Muslim dan Budha. Sejarah perjalanan RSI di Myanmar bantuan dari rakyat dan pemerintah Indonesia itu, bermula dari ide organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia. MER-C kemudian mengomunikasikannya dengan Wakil Presiden saat itu M Jusuf Kalla, yang juga menjabat Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). JK, panggilan karib Jusuf Kalla, kemudian mengundang Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) untuk menjalin kerja sama dengan MER-C, hingga akhirnya bekerja bersama untuk mewujudkannya. Kedutaan Besar RI di Myanmar melengkapi penjelasan perjalanan RSI itu dengan menyatakan pembangunan RS bantuan Indonesia itu bermula dari hasil kesepakatan antara Presiden Myanmar U Htin Kyaw dan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla di sela-sela KTT Asia-Europe Meeting (ASEM) di Mongolia pada pertengahan 2016. Pembangunan RS ini adalah proyek kolaborasi antara MER-C dan PMI, dan didukung oleh Pemerintah Indonesia. Dana proyek berasal dari komunitas Muslim Indonesia, komunitas Buddha Indonesia, khususnya dari WALUBI, dan dermawan lain. Rancangan RS dan konstruksi dilakukan oleh MER-C dan kontraktor lokal. Selama konstruksi, MER-C menempatkan empat orang di lokasi sebagai pengawas. Sementara itu PMI memimpin proses pengadaan alat kesehatan untuk RS. Peletakan batu pertama dilakukan pada Minggu (19/11/2017) dihadiri Duta Besar RI untuk Myanmar saat itu Ito Sumardi dan menteri urusan Rakhine, perwakilan Kementerian Kesehatan Myanmar, perwakilan MERC, tokoh masyarakat setempat dan masyarakat agama Budha dan Islam. Semestinya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi akan hadir di acara tersebut, namun batal karena imbauan pemerintah Myanmar yang menyatakan lokasi pembangunan RSI berada di wilayah utara Rakhine, yang dipandang rawan, dan Pemerintah Myanmar sendiri tidak bisa memberikan pengamanan optimal sesuai standar untuk tamu resmi pemerintah setingkat menteri. Terlebih, saat itu pasukan keamanan Myanmar sedang difokuskan menjaga pertemuan tingkat menteri Asia-Eropa di Nay Pyi Taw, yang juga dihadiri Menlu Retno Marsudi. Singkat cerita, pembangunan RSI itu, yang semula direncanakan selesai satu tahun molor hingga dua tahun disebabkan situasi dan berbagai kendala di lapangan, antara lain isu keamanan, musim hujan terus menerus yang menyebabkan banjir, sulitnya mencari pekerja dan bahan material bangunan, serta kinerja kontraktor lokal. Namun tantangan tersebut dapat dihadapi dengan baik oleh Tim MER-C di lapangan sehingga kendala-kendala teknis dapat diatasi. Akhirnya, pada 10 Desember 2019 di Kantor Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Nay Pyi Taw, Pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Duta Besar RI untuk Myanmar, Prof Dr Iza Fadri menyerahkan secara teknis RSI bantuan Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, kepada Pemerintah Myanmar, yang diwakili oleh Wakil Direktur Jenderal, Departemen Pelayanan Kesehatan, Dr Thida Hla. Kegiatan technical handover RS tersebut disaksikan oleh Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar Dr Myint Htwe dan para pejabat tinggi dari Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar serta perwakilan dari PMI pusat dan MER-C Indonesia. RSI tersebut terdiri atas bangunan utama seluas 2.214 meter persegi di atas tanah 4.644 meter persegi yang mencakup ruang operasi, ruang gawat darurat, ruang X-Ray dan pendukung lain, bangunan rumah generator seluas 11,25 meter persegi bersama dengan satu unit generator, bangunan kamar jenazah seluas 24 meter persegi, bangunan ground tankbeserta empat unit pompa air otomatis, lansekap dan dua jembatan beton. Kado indah Menjelang HUT Ke-76 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2021, tepatnya pada Jumat (13/8), RSI di Rakhine State itu — di tengah pandemi COVID-19 — sudah mulai memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Muslim dan Budha setempat. Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad mengaku bersyukur mendapat kabar baik bahwa Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, sudah dibuka dan operasional. RS itu dinilai punya dua makna yang berarti, yakni hadiah ulang tahun ke-22 MER-C dan HUT Ke-76 Kemerdekaan Indonesia. Pada hari pertama itu, ada delapan warga Muslim dan enam warga Budha mendapatkan perawatan di RSI Myanmar. Berita tersebut dinilainya sangat menggembirakan karena RSI di Mynamar itu sudah difungsikan oleh pemerintah setempat guna memberikan layanan kesehatan warganya. RSI tersebut kini bisa bermanfaat bagi kedua belah pihak, dan sekaligus menjadi sarana berbaur, antara masyarakat Budha dan Muslim di sana, yang selama ini terhambat karena adanya konflik. Kolaborasi beragam unsur di Tanah Air, kembali mengukuhkan bahwa kerja sama, baik kalangan non-pemerintah dengan pemerintah, kembali bisa diwujudkan. Melalui diplomasi jalur kedua (second track diplomacy) , aktor non-negara, seperti MER-C, WALUBI bersama PMI dan pemerintah mampu membangun gotong royong untuk kinerja-kinerja kemanusiaan, sekaligus kesehatan dan diplomasi. Tak hanya itu, untuk wilayah konflik, diplomasi non-formal ini juga bisa menjadi model ke depan untuk proses-proses mendamaikan para pihak dengan sentuhan yang lebih lembut. RSI di Rakhine State, Myanmar itu merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan, dan keberadaan RS yang dibangun oleh umat Muslim dan Budha Indonesia itu diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.   Oleh Andi Jauhary COPYRIGHT © ANTARA 2021   Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2335242/layanan-operasional-rs-indonesia-di-myanmar-kado-hut-kemerdekaan

Perang Tak Goyahkan Tekad Bapak dan Anak Jadi Relawan di Gaza

Bekerja sebagai relawan sudah menjadi candu bagi Edy Wahyudi. Aktivitasnya selama bertahun-tahun membantu sesama ‘menular’ ke putra pertamanya, Fikri Rofi’ul Haq. Bapak dan anak sempat bersama-sama menjadi relawan di Gaza, Palestina. VOA —  Edy Wahyudi sudah beberapa kali aktif menjadi relawan dan terjun dalam tim kemanusiaan ketika terbuka kesempatan ke Gaza, Palestina. Ia bergabung dengan Medical Emergency Rescue Committee, yang lebih dikenal dengan singkatannya MER-C, yang kala itu membutuhkan banyak relawan untuk pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza. “(Menjadi) relawan karena panggilan hati dan dalam perjalanan akhirnya kami terpanggil untuk memberi sumbangsih pemikiran, sumbangsih fisik untuk pengawasan rumah sakit Indonesia di Gaza,” ungkapnya. Edy yang sehari-hari berkecimpung dalam bisnis konsultan dan pembangunan berangkat ke Gaza pada 2011. Perannya adalah manajer proyek. Ketika pembangunan fisik rumah sakit belum tuntas pada 2014, Gaza berperang dengan Israel selama 52 hari. Edy mengenang ketakutannya kala itu. “Ya namanya orang sipil, gemetar juga lah mendengar suara bom. Kaget-kaget. Karena, waktu itu di seberang jalan masih ada lokasi pelatihan para pejuang. Sempat jatuh di situ berkali-kali, bom-bom besar dari F16, dan konstruksi rumah sakit sampai mengayun, saking dahsyatnya,” lanjutnya.  Ir. Edy Wahyudi di Gaza. Pengalaman menjadi relawan dan dalam binis pembangunan mengantarnya menjadi relawan selama 10 tahun di Gaza, mengawasi pembangunan rumah sakit Indonesia. (foto: courtesy) Tidak ada pihak yang menjamin keselamatan relawan. Walaupun diliputi ketakutan dan kekhawatiran, tidak ada satupun relawan yang meminta pulang. Memang ada imbauan agar relawan keluar tetapi Edy memilih berlindung dalam bangunan setengah jadi rumah sakit. Alasannya… “Kita secara akidah bahwa mati itu tidak akan maju, tidak akan mundur. Kita tawakal saja, pasrah, karena yang kita bangun juga rumah sakit, untuk kemanusiaan,” kata Edy. Setelah beberapa hari perang tak juga usai, ia dan tim yang terdiri dari 20an relawan melanjutkan pekerjaan yang tertunda di sela-sela guncangan dan dentuman bom. Kesadaran bahwa rumah sakit akan sangat dibutuhkan, mendorong semangat kerja mereka. Rumah sakit Indonesia akhirnya tuntas. Dari rencana tiga lantai, bangunan itu menjadi lima lantai. Seiring pertambahan bangunan, masa tugas Edy bertambah. Ia terus di sana meskipun rumah sakit itu tuntas, sudah dilengkapi alat-alat medis, dan sudah diresmikan wakil presiden ketika itu, Jusuf Kalla. Setelah berada di Gaza 10 tahun, Edy, usia 51 tahun, pulang. Yang membuatnya bertahan, walaupun sempat dilanda ketakutan semasa perang? “Sederhana saja, saya ingin bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya. Selama bertugas di Gaza, Edy sempat pulang, menemui istri dan anak-anaknya. Ia tidak menyangka, anak pertamanya Fikri Rofi’ul Haq, akan mengikuti jejaknya.  Tiga pemuda Indonesia yang kini menjadi relawan MER-C di Gaza, Palestina. Fikri paling kiri. (foto: courtesy) Selepas Madrasah Aliyah, setingkat SMU, Fikri memenuhi kewajiban pondok pesantren, mengabdi pada masyarakat selama satu tahun. Setelah itu, seperti santri umumnya, Fikri mendaftar ke beberapa institusi di luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Ia mendaftar ke Sudan dan Mesir. Ia juga mendaftar menjadi relawan MER-C. Fikri kecewa karena tidak diterima di kedua institusi pendidikan yang diincar. “Nah, alhamdulillah-nya beberapa bulan kemudian ada berita kalau saya akan diberangkatkan (ke Gaza). Jadi, ya alhamdulillah banget. Jadi, takdir gitu yang membawa saya ke sini. Tidak pernah menyangka,” tukas Fikri. Fikri, yang ketika itu berusia 20 tahun, berangkat ke Gaza pada Februari 2020 sebelum dunia ‘lumpuh’ akibat pandemi virus corona. Di Gaza, ia sempat bertemu ayahnya. Selama beberapa bulan keduanya menjadi relawan untuk membangun rumah sakit Indonesia. Edy kembali ke Indonesia pada September 2020.  Fikri Rafi’ul Haq dalam salah satu kegiatan sebagai relawan di Gaza, mengantar dan menanam pohon zaitun, salah satu sumber nafkah rakyat Palestina. (foto: courtesy) Ketakutan yang dialami Edy hampir tujuh tahun lalu dirasakan Fikri ketika Gaza dan Israel kembali terlibat perang, pertengahan Mei. “Takut banget. Hampir setiap jam kami mendengar suara roket dari pejuang Palestina. Kalau setiap malam, kami merasakan gempuran dari serangan Israel. Saat itu kami memang takut,” ujarnya. Fikri, usia 22 tahun, dan dua pemuda relawan Indonesia, tinggal di Wisma Indonesia di sebelah rumah sakit Indonesia. Mereka tidak pernah keluar selama 11 hari agresi. Itulah pertama kali mereka mengalami langsung peperangan.  Serangan udara Israel menghancurkan sebuah rumah di Gaza yang menewaskan satu keluarga (foto: dok). “Apalagi waktu itu yang menjadi salah satu target adalah rumah warga yang sekarang sudah rata dengan tanah, yang hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit. Waktu itu kami sempat keluar, melihat jendela. Memang ledakannya sangat besar sampai-sampai anginnya itu membuat kuping sakit,” kenangnya. Ketakutan dan rasa sakit tidak menggoyahkan tekad Fikri untuk bertahan di Gaza. Persis sikap ayahnya, Edy pada 2014. Ia malah berfokus menyelesaikan tugas, menyiapkan dan mendistribusi bantuan yang dipercayakan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia juga memusatkan perhatian sebagai mahasiswa semester kedua pada Islamic University of Gaza. Ia bertekad baru akan pulang kalau sudah meraih sarjana.  Fikri (kedua dari kanan) bersama para pemuda Indonesia yang menjadi relawan di Palestina. (foto: courtesy) Rima Manzanaris adalah manajer pelaksana MER-C di Jakarta. Sejauh ini, katanya, sudah dua bapak yang anaknya terjun juga sebagai relawan MER-C. Menurutnya, itu adalah suatu kebetulan. “Bapaknya memang relawan yang loyal, punya komitmen yang besar, dan ternyata anaknya juga punya keberanian,” puji Rima. Sebelum berangkat, kata Rima, semua relawan selalu diberi gambaran mengenai situasi di lapangan dan diingatkan bahwa mereka tidak setiap saat bisa pulang. Mereka juga diharuskan mengantongi izin orang tua. “Anak-anak ini walaupun masih muda, mereka sudah siap.”  Fikiri (paling kanan) bersama anak-anak dan pemuda Gaza yang akan membantunya menanam pohon zaitun bantuan masyarakat Indonesia. (foto: courtesy) Pasca serangan bulan lalu, relawan berdatangan ke Gaza. Mereka membersihkan puing-puing ribuan rumah dan bangunan dan mencoba memperindah kembali kota di pesisir Laut Tengah itu. Fikri tentu saja ikut membantu setelah menyempatkan diri pergi ke pantai bersama pemuda setempat pasca Idul Fitri. “Kan sekarang musim panas. Juga mereka biasanya ke pantai. Istirahat habis perang inilah, ibarat kata,” ujar Fikri. Sementara Edy, yang terus menjadi relawan sepulangnya dari Gaza, merasa terpanggil untuk kembali ke Palestina. Bukan untuk menemui putranya melainkan membantu perluasan RS Indonesia. [ka/ab] Sumber : https://www.voaindonesia.com/a/perang-tak-goyahkan-tekad-bapak-dan-anak-jadi-relawan-di-gaza/5914306.html

MER-C sebut pondok pesantren miliki mekanisme isolasi mandiri terbaik

Jadi, ketika pimpinan pesantren melakukan kebijakan tidak ada kunjungan orang tua santri atau pihak luar, sebenarnya itulah wujud isolasi mandiri yang terbaik Bogor, Jabar (ANTARA) – Ahli kesehatan yang juga Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdulmurad mengemukakan bahwa pondok pesantren (ponpes) sejatinya memiliki mekanisme isolasi mandiri terbaik. “Jadi, ketika pimpinan pesantren melakukan kebijakan tidak ada kunjungan orang tua santri atau pihak luar, sebenarnya itulah wujud isolasi mandiri yang terbaik,” katanya saat menjadi narasumber Pesantren Kilat Ramadhan 1422 Hijriah secara daring di Pesantren Al-Fatah, Kompleks MA-SMK Ma’arif NU Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4). Penyelenggaraan Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah kali ini bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) digarap secara kolaboratif antara Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah dan mitra kerja sama pendukung. Mitra pendukung itu di antaranya, PT Indocement Tunggal Prakarsa, Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, Tatajabar Private Power Company, BUMN PT Pupuk Kaltim, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, dan Batamindo Investment Cakrawala dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cikarang.                   Ahli kesehatan yang juga Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdulmurad memberikan pemaparan pada Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) kerja sama kolaboratif Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah, Ciomas-Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4/2021). (FOTO ANTARA//M Fikri Setiawan) Menurut dr Ben — sapaan akrab Sarbini Abdulmurad — mekanisme isolasi mandiri yang dimiliki pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan, sebenarnya sudah cukup terbukti ampuh untuk meminimalisasi potensi penularan dan penyebaran COVID-19. “Bahwa ada pesantren yang santri dan pendidiknya terkena, memang ada, namun sebagian besar pesantren terhindar dari terpapar COVID-19,” katanya. Karena itu, ia mengapresiasi kebijakan pimpinan pondok pesantren yang mengurangi interaksi dengan pihak luar, termasuk kunjungan-kunjungan orang tua santri sekalipun, kepada anak-anaknya yang sedang “nyantri”. Kebijakan tersebut, kata dokter pertama Indonesia yang bisa masuk jalur Gaza, Palestina, saat konflik Palestina-Israel 2008-2009 itu, perlu terus dilanjutkan pesantren guna memutus mata rantai COVID-19. Selain pesantren, kata dia, pada masyarakat tradisionil seperti di Badui, Provinsi Banten, Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi, yang juga punya mekanisme seperti di pesantren yakni meminimalisasi interaksi dengan pihak luar, juga ampuh untuk mengurangi penularan.                 Wali Kota Semarang, Jateng, Hendrar Prihadi, memberikan pemaparan pada Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) kerja sama kolaboratif Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah, Ciomas-Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4/2021). (FOTO ANTARA//HO-Said Abdullah) Karena itu, kata dia, apa yang sudah dilakukan pihak pesantren dan juga komunitas tradisional itu, perlu terus dijaga, hingga suatu saat pandemi COVID-19 dinyatakan telah selesai oleh pihak berwenang. Khusus kepada santri, yang kemungkinan pulang saat Idul Fitri (Lebaran), ia menyarankan menjaga protokol kesehatan (prokes) COVID-19, yakni isolasi mandiri di rumah guna mengurangi potensi menularkan virus corona jenis baru penyebab COVID-19 itu. “Karena, pada dasarnya kita semua adalah berstatus orang tanpa gejala (OTG) sehingga tetap berpotensi untuk tertular atau menulari,” kata Sarbini Abdulmurad. Ketua Panitia Pelaksana Sanlat Ramadhan 1422 H itu, ustadz Ahmad Fahir, M.Si menjelaskan kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga menjelang buka puasa itu juga menghadirkan unsur kepala daerah, yakni Bupati Bogor Hj Ade Yasin, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dan budayawan Sunda. Pewarta: M Fikri SetiawanEditor: Andi Jauhary Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2120674/mer-c-sebut-pondok-pesantren-miliki-mekanisme-isolasi-mandiri-terbaik

Ukhuwah Al-Fatah Rescue: Warga Naiman NTT Kekurangan Air Bersih

Malaka Tengah, MINA – Warga Naimana Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi korban paska Banjir Bandang saat ini mengalami kekurangan air bersih. Demikian laporan Ketua Koordinator Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) NTT Jawir Julfikar kepada MINA, Kamis (15/4). “Selain itu, (di lokasi terdampak parah) rawan kelaparan karena penyimpanan hasil panen hampir semuanya rusak akibat air banjir menghantam rumah-rumah warga,” kata Jawir. Dia mengatakan, UAR bersama lembaga kegawatdaruratan medis Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mendirikan dua posko dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana banjir. Sebelumnya, MER-C dan UAR memberikan pelayanan kesehatan untuk 100 Kartu Keluarga desa Naimana NTT, korban banjir yang menghantam warga. “UAR dan MER-C memberikan pelayanan kesehatan untuk 100 KK, rata-rata warga Naimana mengalami sakit batuk, flu, gatal-gatal karena lumpur dan demam dialami anak-anak,” ujarnya. Lanjut kata Jawir, mereka merasa tertolong dengan bantuan Sembako tapi tidak menjamin untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu yang lama.Tim UAR dan MER-C difungsikan penanganan medis, UAR mendampingi MER-C untuk bantuan medis. Tim MER-C berjumlah 5 relawan terdiri dari 1 orang Dokter Bedah, 1 orang dokter umum, bersama 3 perawat, sedangkan team UAR menerjunkan 2 relawannya. (L/R4/R1) Sumber : https://minanews.net/ukhuwah-al-fatah-rescue-warga-naiman-ntt-kekurangan-air-bersih/

Penghargaan BNPB, pembuktian atas kinerja kemanusiaan MER-C

Jakarta (ANTARA) – “Kalau cerita aktivitas MER-C saat misi di luar negeri sering dikutip media massa, terutama soal Palestina. Tapi cerita sukarelawan kami di pelosok negeri yang membantu korban bencana memang jarang diberitakan, padahal kami ada dari Sabang hingga Merauke, dan selalu mengirim tim”. Kalimat itu meluncur dari Ketua Presidium organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr Sarbini Abdul Murad saat berbincang mengenai penghargaan yang baru diterima dari negara, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ya, BNPB baru saja memberikan anugerah penghargaan kepada MER-C atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini. Penghargaan tersebut diserahkan secara daring pada acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 di Jakarta pada Rabu (10/3/2021), yang dihadiri secara virtual oleh pengurus serta sukarelawan MER-C lainnya. Sarbini Abdul Murad — yang di lingkungan MER-C akrab disapa “dokter Ben” itu — bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan yang diterima dari BNPB. Anugerah penghargaan itu adalah berkat kontribusi segenap relawan MER-C di seluruh Indonesia, yang selama ini telah siap sedia meluangkan waktu dan keahlian tanpa pamrih untuk menunaikan tugas-tugas kemanusiaan di berbagai wilayah terdampak bencana di Tanah Air. Ucapan terima kasih juga disampaikan atas dukungan dan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada MER-C. Penghargaan dari BNPB itu diharapkan menjadi motivasi bagi MER-C dan seluruh sukarelawannya di mana pun berada untuk terus berkiprah bersama elemen bangsa lainnya dalam membantu penanggulangan bencana alam dan pandemi di “Bumi Pertiwi” ini.                             Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad. (FOTO ANTARA/HO-Humas MER-C) Imparsialitas Tak dipungkiri, masih muncul tudingan adanya keberpihakan dalam misi-misi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sukarelawan MER-C di tempat terjadinya konflik dan bencana. Namun, sejak awal didirikan organisasi nirlaba itu, salah satu pendiri MER-C kala itu, (alm) dr Joserizal Jurnalis, Sp.OT menegaskan bahwa mereka mengusung prinsip imparsialitas dalam tugas-tugas kemanusiaan. Dalam beragam wacana, prinsip imparsialitas dimaknai sebagai upaya ketidakberpihakan, kenetralan, serta sikap tanpa bias dan prasangka dalam menolong sesama. Pada perspektif lain, prinsip imparsial berarti prinsip yang memiliki pandangan yang memuliakan kesetaraan hak setiap individu dalam keberagaman latarnya terhadap keadilan, dengan perhatian khusus terhadap mereka yang kurang beruntung dan membutuhkan uluran tangan untuk dibantu, termasuk pada bidang kesehatan, khususnya di kawasan konflik dan bencana. Prinsip itu sejatinya sudah menjadi pijakan tatkala MER-C, yang keanggotannya berbentuk sukarelawan (unpaid volunteers) dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tergerak melakukan tindakan medis guna membantu korban konflik di Maluku, pada Agustus 1999. Ada narasi yang menyebut MER-C mengedepankan asas Islam dalam menjalankan tugas, yakni dengan pijakan rahmatan lil’aalamiin, dengan makna mereka memberikan pertolongan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang, agama, mazhab, kebangsaan, etnis, golongan atau politik. Menurut Sarbini AbdulMurad, saat konflik di Ambon, Maluku, tim medis MER-C melakukan operasi kepada yang terluka kepada dua komunitas. Dalam misi di dalam negeri, sukarelawan kesehatan MER-C sudah berada di Papua sejak 2007 atau sudah 14 tahun guna memberikan pelayanan bantuan kesehatan. Mahasiswa Program Doktor Pengkajian Islam Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Rubiyanah mengulas peran MER-C itu (2019/1439 H). Dalam disertasi berjudul “Dakwah Berbasis Kemanusiaan: Studi Terhadap Aksi Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia di Gaza (2009-2015) dan Lombok (2018)”, ia mendeskripsikan secara lebih mendalam tentang aktivitas MER-C sebagai sebuah lembaga kemanusiaan di Indonesia, bukan di luar negeri saja, namun juga di dalam negeri. Melalui kata pengantarnya, Rubiyanah menyatakan secara eksplisit, MER-C tidak menyebut lembaga mereka memiliki misi dakwah, akan tetapi dalam perspektif dakwah, aksi kemanusiaan yang telah dilakukan MER-C sejalan dengan prinsip- prinsip dakwah yang tertuang dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah. Di antaranya adalah prinsip kemanusiaan universal sebagai perwujudan ukhrijat Li al-nas, amar ma’ruf dalam aksi kemanusiaan MER-C, nahy munkar melalui jihad profesi dan rahmatan lil ‘alamin sebagai wujud prinsip keimanan. Sarbini menambahkan MER-C pernah mendirikan banyak klinik-klinik kesehatan di seluruh Indonesia bekerja sama dengan Bank BNI. Di Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, MER-C sejak bencana tsunami, menghibahkan puskesmas ke pemerintah daerah sehingga menjadi aset pemerintah daerah setempat. Karena itu, misi kemanusiaan MER-C dalam bidang kesehatan di Tanah Air, secara kuantitas jauh lebih banyak ketimbang di mancanegara, di mana data itu juga bisa diakses melalui laman organisasi, termasuk di saat pandemi COVID-19 saat ini.                             Menlu Retno Marsudi (empat dari kiri) saat menerima delegasi yang dipimpin Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad (tiga dari kiri) saat melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Tahap II di Gaza, dan RSI di Myanmar. (FOTO ANTARA/HO-Humas MER-C/2019) Validasi Bukti imparsialitas dalam kinerja kemanusiaan MER-C, juga divalidasi oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam Rencana Strategis Kemenlu 2020-2024 (https://kemlu.go.id). Laporan Menlu itu menyebutkan dinamika di kawasan Asia Tenggara juga diwarnai dengan terjadinya konflik di Rakhine State, Myanmar. Pada Agustus 2017, dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) terhadap pos-pos polisi, dilakukan operasi militer di wilayah tersebut. Berbagai bentrokan senjata telah menyebabkan korban jiwa dan lebih dari 700 ribu etnis Rohingya kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke wilayah Bangladesh, sementara pengungsi Buddha menyelamatkan diri ke selatan (Sittwe). Sebagai tetangga dan sebagai bagian dari keluarga besar ASEAN, untuk mewujudkan dan menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan, Indonesia mengambil peran aktif dalam upaya penyelesaian konflik di Rakhine State. Merespons situasi yang terjadi, Menlu RI pada 4-5 September 2017 melakukan kunjungan ke Myanmar dan Bangladesh. Dalam kunjungan ke Myanmar, Menlu telah bertemu dengan State Counsellor Myanmar Aung San Suu Kyi. Pada kesempatan itu, Menteri Luar Negeri menyampaikan formula 4+1, yaitu mengembalikan stabilitas dan keamanan; menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan; perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama; pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan dan +1, yaitu mengimplementasikan rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Negara Bagian Rakhine yang dipimpin oleh mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Dari pertemuan tersebut juga berhasil diperoleh kesepakatan dari Pemerintah Myanmar untuk dibukanya akses

MER-C Rawat Warga Palestina di Indonesia Pasca Operasi

Cileungsi, MINA – Relawan Lembaga Kemanusiaan Medis Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Dr. Zecky Eko Triwahyudi mengatakan, MER-C merawat dr Fayez, salah seorang warga Palestina yang sedang mengungsi di Indonesia, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi setelah melakukan operasi tulang karena cidera di tangan. “Jadi sistemnya rawat jalan, hari ini MER-C kontrol lukanya, ada jaitan diluar, posisi jaitan bagus sudah kering, cuma masih bengkak, kemudian kita latih untuk gerak di tangan, gerakan otot-ototnya supaya bengkaknya juga berkurang, kalau tidak digerakkan nanti jadi kaku,” Kata Dr. Zecky ketika diwawancarai MINA, Kamis (11/3). “Jahitannya InsyaAllah pekan depan akan dilepas, ” lanjutnya. Kedepannya, pemulihan untuk patah tulang butuh waktu sekitar 2 bulan untuk bisa menyambung kembali. “Kalau kuatnya butuh waktu 4 sampai 6 bulan,  tergantung asupan gizinya dan aktivitas dr Fayez, dan beliau harus banyak digerakkan juga, karena yang terlibat patah itu disendi,  cuma harus hati-hati sementara ini, karena tulangnya baru nyambung jadi belum terlalu kuat untuk menahan beban, ” ujarnya. Selain dr Fayez, warga Palestina, Walid yang terpapar Covid-19, MER-C juga ikut andil dalam penyembuhannya.“Walid dirawat di RS pemerintah,di situ ada relawan MER-C yang terlibat banyak, ikut memantau dan mengarahkan, ” terang dr Zecky “Doakan saja beliau, dan sudah ada perbaikan, semoga segera pulih dan bisa kembali kerumah, ” tambahnya. Ia berharap, hal itu menjadi pelajaran buat kita untuk bersama-sama mencegah resiko tertular Covid-19, jika merasakan gejala, sebisa mungkin meminimalisir kontak dengan yang lain, dan meminimalisir kemungkinan dampaknya. Sebelumnya, Rumah Sakit (RS) Ridhoka Salma, Bekasi, menggratiskan biaya operasi tulang dari dr Fayez, hal itu karena RS Ridhoka Salma sangat menjunjung tinggi rasa persaudaraan termasuk terhadap muslim Palestina. Selama ini, MER-C dikenal sebagai organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi di dalam maupun di luar negeri. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. MER-C dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang berinisiatif melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Indonesia Timur pada Agustus 1999. MER-C merupakan lembaga yang keanggotaannya disebut relawan (unpaid volunteers). (L/Hju/P2) Sumber : https://minanews.net/mer-c-rawat-warga-palestina-di-indonesia-pasca-operasi/

Silahkan bertanya?