MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Istri Relawan Pembangunan RS Indonesia di Gaza Wafat

Wonogiri, MINA – Karni, istri Paidi bin Kromo Joyo, seorang relawan Indonesia yang saat ini sedang membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap II di Gaza, Palestina wafat, pada Ahad pagi, (31/5) di kampung halamannya di Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.   “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, telah wafat Karni binti Kasidi, istri seorang relawan kita yang saat ini sedang mengemban amanah membangun RSI yang diinisiasi MER-C di Gaza, Palestina,” demikian kabar yang disampaikan Kepala Pembangunan RSI, Ir. Edi Wahyudi melalui sambungan telepon kepada MINA. Dari catatan MINA, ada empat keluarga relawan Indonesia di Gaza yang telah dipanggil Allah selama mereka berada di Gaza. Keempatnya adalah; Ibunda dari Muhammad Lutfi Paimin, asal Singkawang, Kalbar; ayahanda dari Sodikin, asal Brebes, Jawa Tengah;, ibunda Edi Wahyudi,  Cileungsi, Jawa Barat, dan Karni, Istri dari Paidi, asal Winogiri, Jawa Tengah.Pasangan Paidi dan Karni memiliki dua anak ( satu putra dan satu putri). Anak yang terkecil masih duduk di bangku kelas 6 SD. Segenap keluarga besar Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Radio Silaturahim (Rasil), Pondok Pesantren Al-Fatah, Aqsa Working Grup (AWG) dan Kantor Berita MINA, turut berduka cita atas wafatnya istri relawan Gaza tersebut. Semoga Almarhumah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah ikut mendukung perjuangan rakyat Palestina melawan Zoinis Israel. Saat ini ada 31 relawan Indonesia dari Ponpes-Ponpes Al-Fatah yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Mereka berangkat pada Februari 2019, berarti hingga saat ini sudah 15 bulan  meninggalkan keluarga di tanah air. (L/P2/P1)   Sumber :  https://minanews.net/istri-relawan-indonesia-wafat/?fbclid=IwAR3VGPWBGMaRLBwxSa5K9F_ge4Mcr0DBgRa8e0X7cqKImLRf3WfOVrx_yoM 

MER-C, Wujud Nyata Peranan Masyarakat Indonesia Peduli Palestina

Ceknricek.com — Konflik di Jalur Gaza, Palestina, seolah tidak berkesudahan. Sebagai negara dengan masyarakat Muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu tak bisa tinggal diam melihat penderitaan yang dialami saudara-saudaranya di Palestina. Organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) terjun langsung menolong para warga Palestina dengan berbagai aksi kemanusiaan. Lembaga yang berasaskan Islam dan prinsip rahmatan lil’aalamiin itu menerjunkan para relawannya, serta mengirimkan berbagai bantuan medis dan kemanusiaan. “Pada 18 November lalu para relawan MER-C di Jalur Gaza melakukan kunjungan ke rumah korban akibat serangan roket militer zionis Israel ke Daerah Zaitun dan Deri Balah, Jalur Gaza Bagian Tengah,” kata Luly Larissa, Head of Fundraising Division MER-C, saat berkunjung ke Redaksi Ceknricek.com, Senin (25/11).“Tim relawan menemukan seorang bayi dari keluarga Abu Malhus Swarkah yang selamat dari serangan 4 roket yang menghantam rumahnya. Ada 2 bocah selamat setelah terlempar akibat serangan roket, Alhamdulillah masih bisa bangun dan langsung lari ke rumah neneknya,” ucap Luly seraya membagikan foto-foto kegiatan relawan MER-C.Selain mengirimkan relawan, MER-C juga memiliki Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza, Palestina. RS Indonesia ini letaknya hanya 2,5 kilometer dari perbatasan Israel. “Kalau ada serangan bom dari Israel, biasanya kami turut merasakan getaran akibat ledakan itu. Beberapa sedikit merusak bagian-bagian depan dari rumah sakit, lalu kami perbaikinya demi menjaga kenyamanan para pasien,” ujar Luly. Menurut Luly, kehadiran MER-C dan Rumah Sakit Indonesia ini merupakan wujud nyata masyarakat Indonesia untuk menolong saudara-saudaranya di Palestina. Pasalnya, semua pembangunan RS ini merupakan hasil donasi dari rakyat Indonesia. “Ini murni donasi dari rakyat. Kami meminta donasi di masjid-masjid, masuk sekolah, minta donasi dari perusahaan. Beberapa kali kami juga melibatkan para band misalnya Slank, Wali, NAIF. Intinya ini ialah uluran tangan para masyarakat Indonesia yang peduli dengan Palestina,” ucapnya. Sumber : https://ceknricek.com/a/mer-c-wujud-nyata-peranan-masyarakat-indonesia-peduli-palestina/12591

Delapan Truk Pasir RS Indonesia Tiba Saat Gaza Masih Mencekam

Gaza, MINA – Sebanyak delapan truk pasir tiba di Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza di tengah situasi Palestina yang masih mencekam, kata seorang relawan pembangungan yang berbicara kepada MINA dalam status anonim. “Alhamdulillah datang delapan truk Pasir dengan dua macam jenis, untuk jenis plester dan jenis pemasangan Lantai Porcelaine dari 15 tronton yang ditarget datang, akan tetapi karena keterbatasan lokasi pembangunan tidak mungkin menempati 15 tronton pasir datang sekaligus,” ujarnya kepada MINA, Jumat (22/11).  “Kondisi mencekam masih terasa akan tetapi  sebagai sebagai wujud tanggung jawab mengemban amanah Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Gaza harus mendatangi titik nol perbatasan Israel karena harus menyurvei galian bahan bangunan berupa pasir untuk menentukan area jenis pasir yang diperlukan walaupun memiliki risiko yang sangat tinggi,” tambahnya. Ia juga mengungkapkan, posisi galian pasir sendiri bersebelahan dengan tiang beton, tempat tentara-tantara  Israel menatap tajam bila ada pihak yang mendekat perbatasan. Sebelumnya pada tahap pertama, pembangunan RSI sudah dibangun  satu basement, lantai satu dan dua bangunan utama RSI, Gedung Mortuary dan Ruang Pompa, Gedung Genset dengan kapasitas total 1600 KVA , Gedung Pabrik Oksigen dan Wisma Indonesia. Adapaun saat ini tengah dilaksanakan pembangunan tahap kedua yang menambah lantai tiga dan lantai empat bangunan utama RSI. RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Inisiator pembangunan RSI Gaza adalah Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia dan untuk pembangunan tahap kedua ini mengirimkan sebanyak 29 relawan ke Jalur Gaza. (L/Ast/RI-1) Sumber : https://minanews.net/delapan-truk-pasir-rs-indonesia-tiba-saat-gaza-masih-mencekam/

MER-C Dorong Tokoh Bangsa Dukung Boikot Produk Israel Berlabel Palestina

Jakarta, MINA – Lembaga medis kemanusiaan dan kegawatdaruratan Medical Emergency Recsue Committee (MER-C) mendorong tokoh berpengaruh untuk mendukung gerakan boikot produk Israel yang disebut Boycott, Divestment and Sanctions atau Boikot, Divest dan Sanksi (BDS), khususnya produk yang diberi label Palestina. Memulai inisiatif ini, Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad menemui Prof. Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), di salah satu hotel di Jakarta pada Jumat (18/10) untuk menyampaikan hal tersebut. “Tujuan kita mendorong para tokoh bangsa yang berpengaruh untuk terlibat atau mendukung BDS secara nyata. Untuk itu kita bertemu dengan salah satu tokoh Islam berpengaruh, yaitu Prof. Din Syamsuddin untuk meminta dukungan nyata terhadap gerakan ini,” kata Presidium MER-C yang akrab disapa dr. Ben itu di Jakarta, Jumat (18/10). Kepada Prof. Din, dr. Ben menjelaskan bahwa gerakan BDS yang dimaksud MER-C bukan seperti BDS yang didirikan oleh Omar Barghouti, seorang pembela hak asasi manusia Palestina yang mendirikan kampanye boikot produk Israel secara global. Namun BDS yang dimaksud MER-C yaitu memboikot produk-produk Israel yang diambil dari tanah Palestina di Tepi Barat kemudian diberi label Palestina, sementara keuangannya masuk ke Israel. “MER-C akan roadshow kepada tokoh bangsa dan tokoh agama untuk bahas BDS, tapi kita fokuskan ke Tepi Barat. Produknya berupa kurma, jeruk dari lahan Palestina yang di klaim Israel tapi dilabel Palestina, agar masyarakat pada membeli. Ini produknya dijual di Palestina dan negara-negara luar,” katanya. Dalam pertemuan ini, dr. Ben didampingi oleh Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris. Dr. Ben juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa ada produk-produk tersebut yang masuk Indonesia melalui pihak ketiga. Karenanya, ia mengharapkan Prof. Din yang juga tokoh Muhammadiyah tersebut untuk menggalakkan gerakan BDS ini secara masif. Terkait ini, Prof. Din sangat mengapresiasi inisiasi MER-C. Selain mendukung, ia juga memberi saran agar MER-C melakukan dialog kepada tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi masyarakat lainnya serta kepada pemerintah. “Gerakan ini sangat bagus dari MER-C. Saya sangat mendukung. Ini jalan terus. Tapi MER-C harus mengidentifikasi betul produk-produknya, jangan sampai produk ini, produknya pengusaha Palestina yang kita dorong. MER-C juga harus sampaikan ke pemerintah agar kita semua dukung dan pemerintah sangat berperan untuk tidak menerima impor produk-produk Israel itu (yang dilabel Palestina),” ujar Prof. Din. (L/R10/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-dorong-tokoh-bangsa-dukung-boikot-produk-israel-berlabel-palestina/

Keikhlasan Sang Istri Kuatkan Relawan RSI di Gaza

Jakarta, MINA – Sudah enam bulan tidak terasa, 28 relawan Indonesia berada di Palestina dalam rangka melakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza. Ke-28 relawan tersebut berasal dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah dan melakukan pembangunan RSI dI Gaza di bawah Lembaga Medis Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Tidak terdengar keluhan maupun tangisan baik dari keluarganya. Padahal kondisi Palestina, khusunya di Gaza penuh dengan ancaman yang setiap waktu bisa terjadi konflik senjata. Dibalik kuat dan tegarnya para relawan, terdapat keikhlasan istri dan anak-anaknya yang selalu memberi dukungan. Hal ini ditunjukan oleh Huzaimah, istri Ir. Edi Wahyudi salah seorang relawan yang menjadi Site Manager pembangunan RSI di Gaza. Ketika ditanya tentang dorongan hati sang suami tercinta berasal dari mana sehingga rela meninggalkan keluarga untuk beramal shalih di tempat yang jauh di Gaza, sambil tersedu ia menjawab, “Barang siapa yang berbuat kebaikan maka kebaikan tersebut akan kembali kepada kita, itu lah mungkin yang membuat kami tegar dan kuat,” kata Huzaimah, saat diwawancarai Metro TV di Jakarta, Rabu (10/7). Ibu dengan empat anak tersebut juga mengatakan, menjadi jiwa relawan sudah ditanamkan sejak awal, ketika masuk pesantren Al Fatah, bahkan ia menyebut, relawan adalah juga profesinya. ” Mudah-mudahan bisa terwujud suami membantu saudara-saudara kita di Palestina dan ini juga membawa nama baik Indonesia,” jelasnya. Hal itu juga didukung oleh anak-anak mereka, karena ia juga sudah menanamkan kepada anak-anak tentang pentingnya punya jiwa penolong. “Kami sudah tanamkan sejak kecil bahwa kita harus punya jiwa menolong orang lain dan apalagi kondisi dari tempat tinggal di pesantren yang juga mendukung,” katanya. “Alhamdulillah anak-anak pun gak ada yang sampai nangis, nanya di mana Abi (Ayah),” tambahnya sambil menceritakan keceriaan dua anaknya yang ia bawa saat wawancara. Sebelum wawancara, Yayasan Media Group menyerahkan dana sebesar Rp 6.507.911.514 untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza, Palestina. Dana yang terkumpul dari masyarakat melalui Yayasan Media Group dan Metro TV tersebut, diserahkan secara simbolik oleh Ketua Yayasan Media Group, Ali Sadikin dan diterima oleh Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad. Dalam pembangunan RSI di Gaza tahap kedua ini, MER-C masih memerlukan dana sekitar Rp 75 miliar. MER-C sendiri telah bekerjasama dengan berbagai organisasi, media masa, dan start up di Indonesia untuk menggalang dana, termasuk dengan Minanews.net, Metro TV dan lainnya. (A/Sj/R01) Sumber : https://minanews.net/keikhlasan-sang-istri-kuatkan-relawan-rsi-di-gaza/

Media Group Serahkan Donasi Pembangunan RS Indonesia di Palestina

Jakarta: Media Group menyerahkan donasi pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia tahap dua di Gaza, Palestina. Media Group menyerahkan donasi berjumlah Rp6.507.911.514 kepada Lembaga Medis dan Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C). “Saya mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang mempercayakan niat baiknya mendirikan rumah sakit, dan menjadikan Media Group sebagai salah satu kawan seperjalanan untuk mewujudkan cita-cita. Kami mengucapkan terima kasih karena diberikan kesempatan menjadi orang baik,” kata Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Rabu, 10 Juli 2019. Rerie mengapresiasi kerja sama yang dibangun bersama MER-C. Ini bukan kali pertama Media Group terlibat dalam kerja kemanusiaan bersama MER-C. Sebelumnya, Media Group juga ikut membantu pembangunan RS Indonesia tahap pertama. Donasi ini dikumpulkan Yayasan Media Group dari masyarakat. Media Group merasa tergerak karena pada beberapa kesempatan juga sempat melihat langsung kondisi di Gaza, Palestina. Rerie pun berharap kerja sama serupa ini terus terjalin dengan lembaga kemanusiaan seperti MER-C. “Kita juga bisa menyampaikan dan menyiarkan kepada masyarakat bantuan tidak hanya bisa disampaikan negara dan LSM, tapi institusi media juga bisa melakukan banyak hal. Semoga apa yang dilakukan Media Group menjadi inspirasi,” kata dia. Ketua Presidium Mer-C Sarbini Abdul Murad mengapresiasi donasi yang diberikan Media Group. Ia sempat mengenang saat proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap pertama. Kata dia, banyak pihak yang meragukan rencana pembangunan rumah sakit itu. Tapi, Sarbini terbantu dengan pemberitaan di Metro TV. “Awalnya kami kesulitan, tapi itu membantu kami. Masyarakat ragu apakah mungkin bangun RS di tempat yang aksesnya sulit dari darat, laut, udara, tapi berkat berita Metro TV, masyarakat tergerak,” kata Sarbini. Sarbini mengatakan Rumah Sakit Indonesia dirancang dengan selera khas Nusantara. Nama ruangan pun sarat dengan identitas Indonesia, seperti ruangan Sumatra, ruangan Cik Di Tiro, dan ruangan Cut Nyak Dien. Awalnya, nama Rumah Sakit Indonesia akan diganti menjadi Rumah Sakit Ar Rayan, tapi MER-C menolak rencana itu. “Ini ikatan emosional masyarakat Indonesia dengan masyarakat Palestina,” kata dia. Sarbini berharap kerja sama serupa ini terus berlanjut. Apalagi, proyek kemanusiaan yang akan dibangun di Gaza, Palestina, tak berhenti pada pembangunan Rumah Sakit Indonesia. “Mudah-mudahan juga hubungan kita dengan rakyat Palestina terus berlanjut dan kita bisa meringankan beban masyarakat Palestina,” pungkas Sarbini. Donasi yang dikumpulkan selama setahun itu diserahkan secara simbolis oleh Ketua Yayasan Media Group Ali Sadikin kepada Sarbini. Dalam penyerahan itu, Ali Sadikin didampingi Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat, Chieff CSR Officer Media Group Lisa Luhur, dan Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo. Selesai penyerahan donasi, Sarbini juga menyerahkan sejumlah cendera mata kepada Ali Sadikin. Salah satunya, syal berbendera Palestina yang dikalungkan langsung kepada Ali Sadikin. (DRI) Sumber : https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/0k8DLQWk-media-group-serahkan-donasi-pembangunan-rs-indonesia-di-palestina

Warga Gaza Butuh Ruang Rawat Tambahan di RS Indonesia

Masyarakat diharap bantuannya untuk pembangunan tahap terkini RS Indonesia di Gaza. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) telah membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Namun, warga setempat masih membutuhkan penambahan sarana dan prasarana untuk di RS Indonesia. Sebab, jumlah masyarakat Palestina di Gaza yang harus dirawat di sana terus bertambah banyak. MER-C segera merespons kebutuhan warga Palestina. Dalam sebulan belakangan ini, MER-C telah meningkatkan bangunan RS Indonesia di Gaza. RS Indonesia yang tadinya memiliki dua lantai dan satu basement, kini sedang dalam pembangunan lantai ketiga dan keempat. Renovasi ini akan menambah kapasitas ruang perawatan. Presidium MER-C dr Arief Rachman menuturkan, RS Indonesia di Gaza setara dengan RS kategori A di Tanah Air. RS Indonesia memiliki empat kamar bedah dan ruang intensive care unit (ICU). Ruangan itu memiliki 10 tempat tidur yang dilengkapi alat bantu napas. “RS Indonesia juga memiliki ruangan rawat inap yang dilengkapi 80 kasur, punya CT scan generasi terbaru 120 slash, ini masih mesin terbaik yang ada di Gaza,” kata Arief saat diwawancarai di Kantor Harian Republika, Jakarta, Kamis (9/5). Bagaimanapun, pihaknya masih memerlukan penambahan fasilitas layanan kesehatan di RS Indonesia. Sebab, kebutuhan warga Palestina terus bertambah seiring dengan eskalasi perjuangan mereka melawan penjajahan Israel. Berdasarkan pengalaman, lanjut Arief, pada 2016 hingga tahun ini, pemerintah Palestina sudah bisa memetakan kebutuhan warga di bidang kesehatan. Ketika MER-C datang membawa ide dan rencana menambah bangunan RS Indonesia, otoritas setempat menyambut gembira dan langsung memaparkan ihwal kebutuhan dasar warga kepada lembaga kemanusiaan ini. Misalnya, kebutuhan akan ruang rawat inap yang lebih banyak. Sebab, dalam situasi konflik, banyak korban yang tak cukup dilayani karena ruang perawatan di RS penuh. “Operasi bisa dan lain-lain bisa dilakukan di RS Indonesia, tapi pas pasien mau menjalani perawatan tidak bisa. Kondisi seperti ini yang cukup mengganggu (membuat prihatin), akhirnya korban harus dirujuk ke RS Al-Shifa di Gaza,” ujarnya. Arief menyampaikan, pembangunan RS Indonesia tahap kedua akan menambah ruang untuk perawatan. Ruangan tersebut kurang lebih akan memiliki 80 hingga 100 unit tempat tidur pasien. Pihaknya juga akan membangun ruangan ICU khusus untuk anak-anak. Nantinya, RS Indonesia di Gaza juga akan dilengkapi dengan ruang endoskopi. MER-C pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk membantu pembangunan tahap kedua RS Indonesia tersebut. Sebab, bangsa Palestina di Gaza sangat membutuhkannya. Bagi mereka, rakyat Indonesia adalah sahabat yang selalu mendukung perjuangan melawan zionis. Sumber : https://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/pr8fgl458/warga-gaza-butuh-ruang-rawat-tambahan-di-rs-indonesia

Wawancara: Pembangunan RSI di Myanmar Capai 86 Persen

Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) terus berupaya menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Rakhine State, Myanmar. Hingga hari ini, Jumat (19/3), pembangunan RSI yang dimulai sejak dua tahun lalu itu sudah mencapai 86 persen. Pembangunan RSI di Rakhine State ini adalah salah satu cara diplomasi damai yang dilakukan MER-C dalam bidang kesehatan untuk merajut kembali asa dan harapan membangun kehidupan sosial masyarakat di sana yang terkoyak akibat kerusuhan pada 2012 lalu. Pada kesempatan kali ini, Wartawan Kantor Berita MINA Rendi Setiawan melakukan bincang-bincang ringan dengan salah satu relawan pembangunan RSI di Rakhine State Bapak Karidi yang saat ini sedang berada di Jakarta untuk menelusuri lika-liku, hambatan hingga gambaran situasi yang terjadi di Myanmar. MINA: Bisa diceritakan progres pembangunan RSI di Myanmar? Karidi: Alhamdulillah sampai saat ini sudah pada tahap pengerjaan platform, pemasangan keramik juga instalasi listrik. Selain itu, pemasangan jendela di rumah sakit ini juga sudah mulai. Jadi total pembangunan kurang lebih sudah mencapai 86 persen. Jadi kira-kira kurangnya 14 persen lagi akan segera kita selesaikan. MINA: Kapan RSI ini ditargetkan rampung pengerjaannya? Karidi: Kita sebetulnya target itu selesai pada November tahun lalu. Ini sebetulnya sudah mundur dari jadwal dikarekan beberapa hal seperti masalah material dan masalah keamanan. Selain itu, iklim yang tidak menentu juga menjadi faktor lain keterlambatan ini. Sebagai contoh ketika terjadi musim hujan kemarin, atap dari RSI ini belum dipasang, jadi cukup mengganggu sekali dalam proses pengerjaannya. Proses sampai 86 persen ini insya Allah kita sudah bekerja secara maksimal. MINA: Bagaimana dengan dukungan Pemerintah Myanmar selama pembangunan? Karidi: Selama ini, komunikasi dengan pemerintah berjalan lancar. Beberapa kali mereka melakukan kunjungan untuk melihat langsung progress pembangunan. Memang untuk masalah keamanan, pemerintah Myanmar sangat ketat dalam hal ini. Tapi hal itu tidak masalah bagi kami karena memang kami di sana dalam misi membangun rumah sakit dan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sana, baik yang Muslim maupun Budha. Selama kami berada di sana untuk misi kemanusiaan, menolong yang membutuhkan, membantu orang yang memerlukan, maka kami yakin semua akan mendukung, termasuk pemerintah Myanmar, apalagi pemerintah Indonesia. MINA: Bisa dijelaskan lebih rinci mengenai masalah material dan keamanan? Karidi: Soal material, pembangunan RSI ini kan di wilayah yang terpencil, jadi beberapa peralatan seperti listrik, besi, baja dan beberapa peralatan lain yang kita butuhkan cukup sulit mendapatkan di wilayah itu, sehingga mau tidak mau kita harus mengambil dari luar wilayah. Dan ini selain sulit ditransportasi, juga membutuhkan waktu yang lama. Dari sisi keamanan, di sana itu kondisinya tidak bisa diprediksikan aman atau tidak. Sampai saat ini saja masih ada peraturan darurat militer. Aturan ini salah satunya membatasi jam kerja para pekerja maupun relawan di sana. Pada 2018 lalu, pemerintah di sana memberi kita waktu bekerja sampai jam 5 sore. Sementara sekarang kita hanya diberi waktu hingga jam 4 sore. Pembatasan waktu ini berdampak pada waktu pengiriman material-material, kita tidak bisa melakukannya semaunya. Pengiriman material ini hanya bisa dilakukan pada siang hari. Dengan situasi seperti ini, untuk sekali pengiriman saja bisa sampai tiga hari lamanya. MINA: Selain pengiriman material dan keamanan, apa kendala lainnya? Karidi: Ketika kita hendak masuk ke Rakhine State, kita harus mengurus tiga surat wajib. Yang pertama visa, ini sudah pasti. Yang kedua kita harus memiliki surat izin masuk ke Rakhine State. Untuk memiliki surat ini, setidaknya kita membutuhkan waktu hingga kurang lebihnya 10 hari. Dan yang ketiga kita harus memiliki surat izin tinggal di sana. Khusus untuk surat izin tinggal ini, kalau kita sudah keluar dari Rakhine State dan ingin kembali datang, kita harus mengurus suratnya lagi. Untuk mengurus surat ini dibutuhkan waktu kira-kira sampai tujuh pekan. Kita sadari memang di wilayah itu tidak terlalu kondusif sehingga pemerintah di sana sangat berhati-hati. Namun, kami sangat bersyukur mendapat kemudahan untuk memiliki tiga surat wajib tersebut. Kami ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Dubes RI untuk Myanmar, Iza Fadri yang telah memberikan dukungan kepada kita dalam membangun rumah sakit ini. MINA: Setelah mundur dari jadwal, lalu bagaimana target selanjutnya? Karidi: Untuk rencana selanjutnya mudah-mudahan satu bulan ke depan semuanya sudah selesai. Setelah rumah sakit ini jadi memang ada pekerjaan lagi. Kita ingin membangun area parkir, pengerjaan ground tank (penampungan air) menampung air hujan untuk keperluan kegiatan di rumah sakit dan juga pembangunan jembatan ke area rumah sakit. Itu diperkirakan membutuhkan waktu dua bulan. MINA: Pesan untuk masyarakat Indonesia? Karidi: Saya mewakili seluruh relawan ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia karena telah bahu membahu ikut berpartisipasi pada pembangunan rumah sakit ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. (W/R06/RS1) Sumber : https://minanews.net/relawan-mer-c-pembangunan-rsi-di-myanmar-capai-86-persen/

MER-C Targetkan 23 Kampung di Papua Barat Terima Layanan Kesehatan

Sorong, Papua Barat, MINA – Organisasi Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini tengah menyelesaikan pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina dan Rakhine, Myanmar, tidak hanya peduli pada korban di luar negeri, namun di dalam negeri (Provinsi Papua Barat) mereka memberikan layanan kesehatan gratis dan terjadwal kepada 23 kampung dari dua kabupaten.   Menurut keterangan tertulis MER-C yang diterima MINA, Selasa (26/3), target Program Pelayanan Kesehatan tersebut mencangkup 15 kampung di Kabupaten Sorong yang selama ini merupakan daerah binaan Klinik Sosial “Amanah” MER-C. Sementara untuk memperluas cakupan dan manfaat program tersebut, MER-C melakukan sistem mobile clinic ke 8 kampung lainnya di wilayah distrik Salawati yang berada di Kabupaten Raja Ampat yang sebelumnya telah mendapatkan pelayanan kesehatan pada program Kapal Kemanusiaan tahun 2017. Total cakupan wilayah Program Sosial Pelayanan Klinik dan Mobile Clinic di dua kabupaten tersebut adalah sebanyak 23 kampung dengan target pasien 10.216 jiwa, sesuai data penduduk yang ada di wilayah tersebut. Data akan diverifikasi oleh Tim MER-C untuk kelayakan mendapatkan pelayanan pengobatan gratis. Melalui Mobile Clinic, Tim MER-C akan melakukan kunjungan rutin ke 23 kampung tersebut sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan, secara terus menerus selama satu tahun untuk memberikan pelayanan pengobatan. Sementara itu melalui Klinik Sosial, masyarakat yang berada di 23 kampung tersebut akan mendapatkan kartu berobat gratis ke Klinik Sosial “Amanah” MER-C di Kabupaten Sorong. Kartu tersebut dapat digunakan untuk berobat jika sakit dan memerlukan tindakan medis, termasuk pelayanan sirkumsisi selama periode satu tahun sejak dikeluarkannya kartu tersebut. MER-C merupakan organisasi medis bersifat sosial ini didirikan oleh para mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan beberapa orang dokter lainnya  yang tergerak untuk membentuk sebuah tim untuk membantu masalah kesehatan yang dialami korban konflik yang saat itu terjadi di Maluku pada Agustus 1999. Salah satu kegiatan kemanusiaan jangka panjang MER-C di bidang pelayanan kesehatan adalah Program Klinik Sosial dan Mobile Clinic di wilayah Papua. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2006. Hingga kini, program telah berjalan selama lebih dari 13 tahun. MER-C bertekad untuk tetap melanjutkan program pelayanan kesehatan di wilayah Papua, karena sebagaimana diketahui Papua merupakan salah satu wilayah Indonesia Timur yang masih sangat membutuhkan bantuan pelayanan kesehatan secara terpadu dan berkesinambungan. Untuk merealisasikan program-program tersebut, MER-C mengajak semua lembaga dan pihak untuk turut peduli dan mendukung. keberadaan MER-C harus dapat memberikan manfaat kepada seluruh alam (umat manusia) tanpa membedakan jenis kelamin, usia, suku, dan keyakinan. (R/Sj/P2) Sumber : https://minanews.net/mer-c-targetkan-23-kampung-di-papua-barat-terima-layanan-kesehatan/

MER-C Jajaki Kemungkinan Kerjasama Pelatihan Dokter dengan TNI

Jakarta, MINA – Lembaga kemanusiaan medis kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk pertama kali melakukan kunjungan silaturahim ke panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Jakarta, Rabu (20/3). Hadi Tjahjanto menyambut baik dan mengapresiasi prestasi MER-C yang telah banyak terjun memberikan layanan kesehatan di daerah-daerah konflik dan bencana. Ia juga menyatakan, TNI siap memberikan pelatihan medis untuk daerah-daerah konflik. Ketua Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad menyambut hal itu dan saat ini MER-C tengah membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Rakhine, Myanmar dan melanjutkan pembangunan RSI di Gaza, Palestina. “TNI telah menunjukkan keprofesionalannya dalam melakukan tugas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak membedakan suku, rasa dan agama ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Sarbini kepada MINA. “Saya kira, tim dokter RSI di Rakhine dan Gaza sangat memerlukan hal itu dan mereka perlu belajar kepada TNI tentang kebhinekaan dan pelayanan dengan menjunjung tinggi kemanusiaan,” lanjutnya. Pada 2003 lalu, MER-C dan TNI pernah melakukan kerja bersama dalam misi kemanusiaan membantu korban gempa di Iran selama 2,5 bulan. Di kancah internasional, Indonesia turut serta mengirim pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB sejak 1957. Kontingen Garuda (KONGA) adalah pasukan TNI yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Pengiriman terbaru pada November 2018 adalah KONGA XXIII M Unifil ke Lebanon. Sementara untuk daerah bencana dalam negeri, TNI selalu hadir di tengah-tengah masyarakat yang tertimpa bencana dan daerah konflik. Di daerah bencana seperti di Lombok (NTB), Palu (Sulteng), Pandeglang (Banten), Jayapura (Papua), dan daerah lainnya, TNI selalu menjadi yang terdepan dalam membantu meringankan beban masyarakat. (L/P2/RS3) Mi’raj News Agency (MINA) Sumber : https://minanews.net/mer-c-jajaki-kemungkinan-kerjasama-pelatihan-dokter-dengan-tni/

Silahkan bertanya?