Bangun RS Indonesia Tahap II, 32 Sukarelawan MER-C ke Gaza

Jakarta (ANTARA News) – Sebanyak 32 sukarelawan organisasi kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia diberangkatkan menuju Gaza, Palestina, untuk program pembangunan tahap II Rumah Sakit Indonesia (RSI) di kawasan yang dilanda konflik itu. “Tim pertama sudah diberangkatkan pada Jumat (23/2) malam, sedangkan tim kedua berangkat pada Sabtu ini,” kata Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad kepada Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Ia menjelaskan bahwa tim pertama setelah dilepas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Balai Kota, pada Jumat malam, terdiri atas enam orang, yakni Site Manager RSI di Gaza tahap I, Ir Edy Wahyudi Darta, bersama Tata Lukita Sudrajat, Hidayattullah Hissam Damiri, Nasrullah Saukani Johdi, Osamah Dakam Mansur, dan Luthfi Paimin Mualim. Sedangkan pada Sabtu siang, pukul 11.00 WIB menyusul 26 sukarelawan lainnya, sehingga total untuk pembangunan tahap II RSI di Gaza sebanyak 32 orang. Ikut bersama tim itu adalah Presidium MER-C, Ir Faried Thalib dan dr Arief Rachman, SpRad, Ketua Divisi Kontruksi MER-C, Ir Idrus Muhamad Alatas, MSc, arsitek perancang bangunan RSI Gaza, Ir Rizal Syarifuddin. Menurut Sarbini Abdul Murad –dokter Indonesia pertama yang berhasil masuk ke garis terdepan Gaza saat konflik Palestina-Israel pada 2008-2009 itu– untuk pembangunan tahap II RSI di Gaza, sukarelawan dari Divisi Konstruksi MER-C itu diperkirakan akan tinggal selama setahun. Ia menjelaskan para sukarelawan yang diberangkatkan itu, sebagian besar merupakan alumni pembangunan tahap pertama, yang komitmen dan keahliannya sudah terbukti dan teruji dengan berdirinya RSI di Gaza yang ada saat ini. Keberangkatan tim sukarelawan ke Gaza, kata dia, dimungkinkan setelah didapatnya izin masuk Mesir dan Gaza yang diterima oleh MER-C dari pemerintah Mesir dan otoritas setempat di Gaza. Ia menyebut bantuan Menlu RI, Retno Marsudi dan jajarannya di Kemenlu sebagai hal yang sangat penting bagi berhasil masuknya tim sukarelawan MER-C ke Gaza, melalui pintu Rafah di perbatasan Mesir dan Gaza. “Tim ini sudah menunggu setahun, hingga akhirnya setelah kami bertemu Menlu dan jajarannya, maka hasilnya adalah tim bisa berangkat,” katanya. Karena itu, pihaknya memberikan apresiasi dan menyampaikan terima kasih atas peran Menlu dan jajarannya, yang membantu proses bagi masuknya tim sukarelawan untuk bisa berangkat. “Mohon doa semua rakyat Indonesia agar perjalanan tim dari Indonesia menuju Kairo, Mesir hingga masuk Gaza berjalan lancar untuk misi kemanusiaan membangun rumah sakit tahap II ini,” katanya. Ia menambahkan bahwa anggaran untuk pembangunan tahap II RSI di Gaza, yang berasal dari sumbangan rakyat Indonesia itu, mencapai kisaran Rp75 miliar hingga Rp80 miliar. Pada Selasa (16/1), Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad, didampingi Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris dan surelawan senior MER-C, Luly Larissa Agiel, bertemu Menlu Retno Marsudi di ruang kerjanya di Pejambon, didampingi Direktur Timur Tengah Kemenlu Sunarko dan Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Menlu Ronny P Yuliantoro. Selain melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Persahabatan Indonesia-Myanmar yang digagas bersama MER-C, Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dengan dukungan pemerintah Indonesia, Sarbini Abdul Murad juga menyampaikan langsung kepada Menlu mengenai kendala masuknya tim MER-C untuk masuk ke Gaza guna pembangunan tahap II. Menlu dalam kesempatan itu langsung menyatakan akan membantu. “Kebetulan saya sahabat dekat Menlu Mesir (Sameh Shoukry-red), untuk Palestina, kami selalu siap membantu,” kata Retno Marsudi. Pembangun RSI di Gaza berawal dari misi tim bantuan kemanusiaan Indonesia yang membawa bantuan obat-obatan dari pemerintah dan rakyat Indonesia untuk warga Gaza, Palestina, akhir 2008 hingga awal 2009, di mana saat itu sedang terjadi perang 22 hari Palestina dengan zionis Israel. Ketika itu misi dipimpin dr Rustam S Pakaya, MPH yang saat itu menjabat Kepala Pengendalian Krisis (PPK) Departemen (Kementerian) Kesehatan dan Direktur Urusan Timur Tengah Departemen Luar Negeri Aidil Chandra Salim. Dalam perkembangannya, kemudian MER-C menggalang dana dari masyarakat Indonesia hingga akhirnya terwujud RSI di Gaza, yang lokasinya berada di di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Sebenarnya, peluncuran secara resmi RS Indonesia di Gaza akan dihadiri relawan dan jurnalis yang pernah ikut menjadi saksi mata saat misi enam tahun silam. Namun, karena izin masuk ke Gaza saat ini masih mengalami kendala, kemudian penyerahan itu telah dilangsungkan di Indonesia, pada 9 Januari 2016. Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri penyerahan secara simbolis Rumah Sakit Indonesia dari Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk rakyat Palestina. Acara penyerahan secara simbolis RS Indonesia di Gaza itu digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (9/1) malam. Acara itu dihadiri pula Menlu Retno Marsudi, Wakil Gubernur Aceh (saat itu) Muzakir Manaf, Menteri Kesehatan Palestina Hani Abdeen, serta Duta Besar Palestina untuk RI Fariz Mehdawi. Sumber : https://www.antaranews.com/berita/801704/bangun-rs-indonesia-tahap-ii-32-sukarelawan-mer-c-ke-gaza
MER-C sampaikan perkembangan RS Persahabatan Indonesia-Myanmar kepada Menlu

Bantuan Kemenlu dalam proses pembangunan RS di Myamnar sangat luar biasa yang kami rasakan Jakarta (ANTARA News) – Organisasi relawan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia di Jakarta, Selasa bertemu dengan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, untuk menyampaikan perkembangan Rumah Sakit Persahabatan Indonesia-Myanmar. Menlu didampingi Direktur Timur Tengah Kemenlu Sunarko dan Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Menlu Ronny P Yuliantoro, menerima anggota Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad, didampingi Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris dan relawan senior MER-C Luly Larissa Agiel, di ruang kerjanya di Pejambon. “Bantuan Kemenlu dalam proses pembangunan RS di Myamnar sangat luar biasa yang kami rasakan,” kata Sarbini Abdul Murad, dokter Indonesia pertama yang berhasil masuk ke garis depan Gaza saat konflik Palestina-Israel pada 2008-2009 itu. Karena itu, pihaknya — yang secara kolaboratif dikerjakan bersama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) — dengan dukungan pemerintah Indonesia dan Myanmar itu, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kemenlu. Menlu Retno Marsudi dalam diskusi dengan tim MER-C itu menyampaikan bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla — yang juga menjabat Ketua Umum PMI — memberikan arahan dan usulan nama RS tersebut nantinya adalah “Rumah Sakit Persahabatan Indonesia-Myanmar”. “Hari ini kita cocok-cocokkan data. Di New York, AS, akan ada debat mengenai Myanmar, pada 22 Januari nanti. Indonesia akan menekankan aspek kemanusiaan, dan masukan dari MER-C hari ini akan saya jadikan informasi,” kata Menlu. Kepada Menlu, Sarbini memaparkan bahwa perkembangan pembangunan RS tersebut, hingga akhir Desember 2018 sudah mencapai lebih dari 70 persen. “Mudah-mudahan bisa segera dirampungkan sehingga targetnya pada Februari 2019 bisa diresmikan Wapres Jusuf Kalla,” kata dokter putra asli Aceh itu. Ia juga menjelaskan pada Kamis (13/12/2018), Wapres Jusuf Kalla menerima MER-C di Kantor Istana Wakil Presiden, Jakarta. Kepada Wapres dilaporkan perkembangan RS yang sudah dibangun sejak November 2017 itu dengan segala kendala dan dinamika yang muncul di lapangan, termasuk melesetnya target penyelesaian pembangunan, mengingat lokasinya berada di daerah konflik. Area pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang luasnya lebih dari 7.000 meter persegi berada di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar itu, menurut Sarbini, menghabiskan dana di kisaran Rp28-Rp30 miliar. Dalam pengerjaan pembangunan RS itu, tenaga kerja yang dilibatkan adalah dari beragam unsur, baik dari kalangan umat Muslim dan Buddha di negara itu. Dikemukakannya bahwa RS tersebut nantinya mirip seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) strata purnama, yakni dengan akreditasi tertinggi. Pembangunan RS itu hanya diperbolehkan setingkat puskesmas purnama oleh Pemerintah Myanmar karena Rakhine State masih rawan konflik. Walaupun hanya setingkat puskesmas strata purnama, di RS tersebut sudah memiliki ruang radiologi, dua ruang bedah, dan sebanyak 32 tempat tidur, demikian Sarbini Abdul Murad. Pewarta: Andi JauharyEditor: Edy SujatmikoCOPYRIGHT © ANTARA 2019 Sumber : https://www.antaranews.com/berita/787840/mer-c-sampaikan-perkembangan-rs-persahabatan-indonesia-myanmar-kepada-menlu
MER-C: Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar Capai 80 Persen

JAKARTA, KOMPAS.com – Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (13/12/2018). Kedatangan rombongan Mer-C adalah untuk melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Persahabatan Indonesia- Myanmar di Rakhine State. “Kami barusan ketemu Pak Wapres melaporkan pogres pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myanmar. Nah sekarang rumah sakit ini sudah hampir 80 persen. Kami melaporkan perkembangan dengan segala kendala dinamika yang muncul di lapangan,” kata Presidium MER-C Sarbini Abdul Mirad usai menemui Kalla. Sarbini menambahkan, rumah sakit yang sudah dibangun sejak November 2017 itu masih belum rampung lantaran sejumlah kendala di daerah konflik. Selain itu, kendala yang dihadapi ialah minimnya SDM yang bisa direkrut untuk membangun rumah sakit tersebut. Kendala lainnya adalah minimnya material bangunan. Namun demikian, kata Sarbini, pihaknya bisa mengatasi dua kendala itu meskipun waktu pembangunan menjadi lebih lama. Ia menambahkan rumah sakit tersebut nantinya mirip seperti puskesmas strata purnama (akreditasi tertinggi). Ia menambahkan pihaknya hanya diperbolehkan membangun rumah sakit setingkat puskesmas purnama oleh Pemerintah Myanmar karena Rakhine State masih rawan konflik. Meski hanya setingkat puskesmas strata purnama, rumah sakit tersebut sudah memiliki ruang radiologi, dua ruang bedah, dan 32 tempat tidur. Nantinya, rumah sakit tersebut akan dioperasionalkan oleh dokter dan tenaga medis dari Myanmar.Sarbini mengatakan, pihaknya juga bersedia memberikan pelatihan kepada para dokter dan tenaga medis lokal untuk mengoperasionalkan rumah sakit itu. Dana yang dihabiskan untuk pembangunan rumah sakit tersbut diperkirakan mencapai Rp 28 miliar. “Mudah-mudahan kami prediksikan pada bulan dua tahun ke depan ini rumah sakit kami serahkan, resmikan, dan kami minta kepada Bapak Jusuf Kalla untuk meresmikan rumah sakit ini. Kombinasi MER-C, PMI, Walubi. Ya mudah-mudahan bisa selesai,” lanjut Sarbini. Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2018/12/13/14020611/mer-c-pembangunan-rs-indonesia-di-rakhine-myanmar-capai-80-persen. Penulis : Rakhmat Nur HakimEditor : Krisiandi
Siswa Mulai Belajar di Sekolah Darurat Buatan UAR dan MER-C

Lombok, MINA – Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kayangan, Lombok Utara sudah mulai proses belajar mengajar di sekolah darurat. Pantauan wartawan Mi’raj News Agency (MINA) ke sekolah darurat di lapangan sekolah, Dusun Boyotan Baru, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan pada Senin (3/9), siswa belajar dengan menggabungkan dua kelas menjadi satu. Sekolah Darurat yang dibuat oleh Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) bersama Medical Emergency Rescue Committee (Mer-c) ini sangat dirasakan manfaatnya bagi siswa. Abdul Aziz, Koordinator UAR Posko Gumantar, berharap sekolah darurat ini bisa bermanfaat bagi siswa-siswa korban gempa. “Atas izin dari Kepala Sekolah kami buat ini, harapannya supaya siswa bisa segera kembali ke sekolah, paling tidak menghilangkan trauma mereka pasca gempa,” katanya. Sementara Kepala Sekolah SMPN 3 Kayangan, Drs. Ilham menyatakan kesyukurannya atas bantuan UAR dan Mer-C. “Alhamdulillah sudah 80% siswa hadir belajar perdana ini, semua berkat bantuan Al-Fatah dan relawan dokter (Mer-C),” katanya. Ilham juga berharap Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) NTB segera memperhatikan fasilitas pendidikan ini. “Kami harap Disdikpora segera turun bantu berikan tenda darurat,” ujarnya. Pasca gempa 7.0 SR, siswa sudah mulai kembali melaksanakan rutinitas belajar seperti biasanya, meskipun menggunakan sekolah darurat menggunakan terpal.(L/B01/B05). Link : https://minanews.net/siswa-mulai-belajar-di-sekolah-darurat-buatan-uar-mer-c/
MER-C Buka Posko Kesehatan di Kayangan

Lombok, MINA – Untuk memudahkan akses bantuan kemanusiaan di bidang kesehatan untuk korban gempa lombok di daerah pelosok, Lembaga kemanusiaan Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bangun Posko di SMPN 3 Kayangan, Dusun Boyotan baru, Desa gumantar, Kec. kayangan, Lombok Utara. Demikian dikatakan koordinator lapangan MER-C untuk Lombok, Dokter Hadiki Habib kepada Mi’raj News Agency (MINA), Sabtu, (18/8). Menurutnya lokasi ini dipilih untuk memudahkan MER-C mengakses daerah pelosok yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan. “Selain itu, posko ini juga ada lapangan luas dan relatif cukup jaraknya dari bangunan sekolah yang rusak sehingga aman bila terjadi gempa susulan,” ujarnya. Lebih lanjut, dari posko ini menurutnya, tim MER-C akan mudah menjangkau dua kecamatan yang lumayan besar terdampak gempa yakni kecamatan Kayangan dan Gangga. Posko ini terdiri dari satu tenda sebagai UGD, satu tenda untuk rawat observasi, satu tenda logistik dan relawan perempuan, dan satu tenda untuk relawan pria. “Posko ini untuk posko kita dan untuk pasien yang berobat ataupun dirawat. Ada ruang tindakan untuk perawatan luka dan pencegahan infeksi dari luka,” katanya. MER-C sendiri dalam menangani korban gempa, tidak hanya melakukan tindakan seperti operasi saja, tapi dilanjutkan perawatan berikutnya sehingga diperlukan posko kesehatan yang memadai. “Kami lakukan operasi, perawatan, sampai rehabilitasi. Jadi pasien kita pantau terus perkembangannya, sampai sembuh,” ujarnya. Selain itu, MER-C melakukan kegiatan mobile clinic di kantong-kantong pengungsian untuk mencegah terjadinya public health emergency, juga kegiatan Psychology trauma healing. Proses pengerjaan posko sendiri sudah berlangsung dua hari oleh Tim dari Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) dibantu tim MER-C dengan harapan Senin besok sudah dapat digunakan. (L/B01/P2). Sumber : https://minanews.net/permudah-akses-pengobatan-di-pelosok-mer-c-buka-posko-di-kesehatan-di-kayangan/
Jemput Bola, MER-C Datangi Pasien Patah Tulang Korban Gempa

Lombok Utara, MINA – Tim mobile clinic medis kemanusiaan MER-C melakukan aksi jemput bola kepada tiga korban gempa yang menderita patah tulang di Dusun Kertaraharja, Desa Genghelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Senin (13/8). Kepala Dusun Kertaraharja, Khoirul Hadi sebelumnya menghubungi tim MER-C yang berada di Rumah Sakit Tanjung, ibu kota Kabupaten Lombok Utara. Setelah mengecek langsung kondisi korban, tim dokter MER-C memutuskan, ketiga pasien harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan, mengingat kondisinya yang semakin memburuk Tim MER-C akan membawa korban ke RS Tanjung dan RS Awet Muda untuk segera dilakukan operasi. “Semua biaya pengobatan sepenuhnya akan ditanggung oleh Tim MER-C mengingat para korban masih dalam kondisi kekurangan akibat musibah gempa,” kata Widi Kusnadi wartawan MINA melaporkan dari Dusun Kertaraharja. Widi mengatakan, seluruh rumah warga yang ada di dusun tersebut hancur rata dengan tanah. Tidak ada satu bangunan pun yang bisa digunakan untuk tempat tinggal. (L/P2/RI-1) Sumber : https://minanews.net/jemput-bola-tim-medis-mer-c-datangi-pasien-patah-tulang-korban-gempa/
Jamaah Masjid Raya Batam Bantu Pembangunan RSI Gaza Tahap II

Jakarta, MINA – Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam menyalurkan dana sebesar Rp25 juta melalui Lembaga Kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia Gaza, Palestina tahap kedua. Ketua Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam, Syarifudin menjelaskan, dana ini dari jamaah Masjid Raya Batam, yang didapat selama bulan Ramadhan kemarin. “Ada donatur kita yang menyerahkan untuk kegiatan di Palestina dan baru hari ini saya sempat menyerahkan ke MER-C,” kata Syaifudin kepada kantor berita Islam MINA usai menyerahkan donasi ke MER-C di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat, Kamis (19/7). Lebih lanjut ia mengatakan, 5 tahun sebelumnya untuk pembangunan pertama RS Indonesia Gaza, jamaah Masjid Raya Batam ikut juga menggalang dana. Di kantor MER-C Pusat, Syaifudin disambut oleh Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris. “Karena ini amanat dari jamaah untuk diserahkan ke Palestina, makanya saya datang ke kantor MER-C Pusat sekaligus untuk melihat program-program baru MER-C dan ternyata program barunya, yaitu menambah dua lantai pada bangunan RS Indonesia di Gaza dan pembangunan RS Indonesia di Rohingya,” paparnya. Syaifudin yang juga Direktur Masjid Raya Batam menjelaskan lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam mengelola dana dari zakat, infaq shadaqah dan kemanusiaan. “Dana yang kita serahkan ini dari dana kemanusiaan Masjid Raya Batam. Setalah ini, insya Allah kami akan bantu program-program MER-C termasuk pembangunan RS di Rohingya,” jelasnya. Ia berharap program MER-C pada penambahan dua lantai berjalan lancar, sehingga amanah dari para donatur bisa segera terealisasi. “Kami berharap MER-C terus melakukan pembangunan di sana, kita insya Allah siap mempublikasi, siap mensupport dan siap untuk menghimpun dana, kebersamaan ini harus terus terjalin karena membuat program di sana tidak semudah membuat program di daerah. Jadi harapan kami, insya Allah dana-dana yang kita serahkan ini bisa terasa manfaatnya disana dan semoga segera terealisasikan program penambahan dua lantai,” tambahnya. Manager Operasional MER-C menjelaskan, sejak terjadinya aksi kembali ke tanah air (Great Return March) yang dilakukan oleh warga Palestina khususnya di perbatasan Jalur Gaza, jumlah pasien RS Indonesia terus meningkat, sehingga banyak pasien yang harus mengantri karena ruangan yang terbatas. “Adapun untuk penambahan lantai pada pembangunan tahap dua, membutuhkan dana kira-kita Rp. 40-50 miliar. Namun jumlah tersebut bisa saja lebih,” katanya. (L/R10/RS3-P1) Sumber : https://minanews.net/masjid-raya-batam-salurkan-25-juta-untuk-pembangunan-rs-indonesia-gaza-tahap-dua/
BAZIS DKI Dukung Ada Ruang Fatahillah di RS Indonesia Gaza

Jakarta, MINA – Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta mendukung penuh pembuatan ruang Fatahillah pada pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina tahap kedua. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua BAZIS DKI Jakarta Zahrul Wildan saat menerima kunjungan dari tim lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Kantor BAZIS DKI Jakarta, Tanahabang, Jakarta Pusat, Jumat (13/7). Sebelumnya, Presidium MER-C Dr. Sarbini Abdul Murad dan Dr. Arief Rachman telah menjelaskan kondisi RS Indonesia di Gaza saat ini yang telah beroperasi sejak 2016. Menurut Sarbini, saat ini pasien terus meningkat di RS Indonesia akibat dari serangan Israel yang berkelanjutan terhadap warga Palestina, menyebabkan ruangan RS selalu penuh. Masih banyak pasien yang harus mengantri karena ruangan yang terbatas. Untuk menyikapi hal tersebut MER-C ingin menambah dua lantai lagi. “Saat ini rumah sakit sudah dua tahun beroperasi, namun konflik dan serangan dari Israel membuat jumlah pasien meningkat tiga kali lipat, sehingga tempat sudah tidak cukup lagi. Untuk penambahan lantai (pembangunan tahap dua) membutuhkan dana kira-kita 40-50 miliar. jadi untuk satu lantai diperkirakan 20 miliar,” kata Arief. Terkait itu, MER-C menawarkan nama ruang Fatahillah (salah satu nama dari pejuang Jakarta yang mengusir pasukan Purtugis dari kota pelabuhan Sunda Kelapa pada masa Indonesia belum merdeka 22 Juni 1527 silam). Adanya Ruang Fatahillah di RS Indonesia adalah imipian Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, seperti ruang lainnya yaitu, Chik di Tiro (salah satu pahlawan asal Aceh) sesuai dengan sumbangan dari masyarakat Aceh. Mendengar hal tersebut, BAZIS DKI Jakarta sangat merespon dan mengapresiasi niat baik dari program MER-C, untuk itu ia juga mendukung penuh pembangunan tersebut. “Kami sangat merespon dan mendukung sekali program MER-C membuat nama-nama pada ruangan di rumah sakit Indonesia di Gaza. Tapi karena kedatangan MER-C ini di pertengahan tahun, sedangkan dana zakat di BAZIS ini sudah terprogramkan melalui rapat Pleno Pendayagunaan Zakat BAZIS tahun 2017, maka dana 2018 ini akan dialokasikan sesuai yang terprogramkan,” ujar Ketua BAZIS. Ia menyarankan MER-C untuk membuat program pada 2018 ini untuk penambahan lantai. Nantinya, terhitung Januari 2019, dana yang masuk BAZIS DKI bisa dialokasikan untuk membuat Ruang Fatahillah di RS Indonesia di Gaza, Palestina. (L/R10/RI-1) Sumber : https://minanews.net/bazis-dki-dukung-ada-ruang-fatahillah-di-rs-indonesia-gaza/
MER-C dan BAZIS DKI Bahas Pembangunan RSI Gaza Tahap Dua

Jakarta, MINA – Lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Jumat siang (13/7) berkunjung ke Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta. Kunjungan tersebut membahas kerja sama program pengumpulan dana warga Jakarta untuk pembangunan tahap kedua Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Pada kunjungannya, tim MER-C yang didampingi oleh Staff Wakil Gubernur DKI Jakarta Arie Mufti. Sementera tim MER-C dipimpin oleh Presidium MER-C Dr. Sarbini Abdul Murad dan Dr. Arief Rachman. Tim disambut baik oleh Ketua Bazis DKI Jakarta Zahrul Wildan bersama Kepala Sekretaris BAZIS Mustofa, Kepala Bidang Pendayagunaan BAZIS Muhammad Habib dan Humas BAZIS Erwanto. Saat kunjungannya, Dr. Sarbini Abdul menjelaskan kondisi RS Indonesia di Gaza yang sudah beroperasi sejak tahun 2016. Karena pasien yang terus meningkat akibat dari serangan Israel yang berkelanjutan, menyebabkan ruangan RS selalu penuh, bahkan masih banyak pasien yang harus mengantri karena ruangan yang terbatas. Untuk menyikapi hal tersebut MER-C ingin menambah dua lantai lagi. “Untuk itu kami melibatkan BAZIS untuk membantu dalam menambah bangunan pada Rumah Sakit Indonesia di Gaza,” ujar Sarbini di Kantor BAZIS DKI Jakarta, Tanah abang, Jakarta Pusat. Sebelumnya, MER-C telah mengadakan pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta yang saat itu diterima oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Sandiaga menyarankan kerja sama partisipatif kolaboratif yang lebih luas kedepannya dengan BAZIS DKI Jakarta. Ia juga berharap ada Ruang Fatahillah atau Jayakarta di RS Indonesia di Gaza. Menindaklanjuti hal tersebut, MER-C menawarkan nama ruang Fatahillah ada pada RS Indonesia di Gaza seperti ruang lainnya yaitu, Chik di Tiro (salah satu pahlawan asal Aceh) sesuai dengan sumbangan dari masyarakat Aceh. Hal itu disambut baik oleh Ketua Bazis DKI Jakarta. Ia sangat setuju sesuai dengan apa yang diarahkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, yaitu Gubernur DKI. “Saya selaku sebagai Ketua BAZIS, sesuai arahan Pak Gubernur, mendukung penuh penambahan lantai pada bangunan Rumah Sakit Indonesia di Palestina,” ujarnya. (L/R10/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-dan-bazis-dki-bahas-pembangunan-rs-indonesia-gaza-tahap-dua/
Cerita Relawan Medis Indonesia Bertaruh Nyawa di Jalur Gaza

tirto.id – Rumah sakit itu bernama Shifa. Letaknya berada di Gaza Tengah, Palestina. Pada halaman rumah sakit terbesar di Gaza itu, terdapat sebuah tenda yang didirikan memanjang, menutupi berbagai benda-benda hasil perang dari terik matahari. Kementerian Luar Negeri Indonesia diminta melakukan perlindungan terhadap para relawan Indonesia yang bertugas di Palestina. Benda-benda itu di antaranya tiga bangkai ambulans yang dipajang sebagai pesan kepada sejumlah relawan medis dari berbagai negara: serangan kepada pekerja kemanusiaan selalu bisa terjadi di Gaza. “Jadi dipajang juga pecahan bom, mortar yang tidak meledak, kemudian jas putih petugas medis yang terluka, beberapa foto lokasi sekolah yang kena bom, lokasi perumahan yang dihujani bom,” kata Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia Arief Rachman kepada Tirto, Kamis (7/6/2018). Arief merupakan salah satu dokter yang sempat bertugas di Gaza. Ia menjalani peran sebagai relawan kemanusiaan di daerah konflik itu pada Januari hingga awal Mei 2010. Waktu itu, ia bertugas bersama dokter spesialis penyakit dalam, dokter bedah, dan dokter bedah syaraf. Arief merupakan satu-satunya dokter umum dari MER-C yang ditugaskan ke Gaza saat itu. Arief mengatakan relawan dari berbagai negara yang hendak membantu di Gaza langsung ditempatkan di RS Shifa. Penempatan mereka diatur Kementerian Kesehatan Palestina. Dokter spesialis ditempatkan di rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah, sementara dokter umum bertugas di unit gawat darurat (UGD). Para dokter dapat berpindah-pindah rumah sakit dalam menjalankan tugas asalkan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina. Keamanan Tenaga Medis Meski konflik bersenjata antara pejuang Palestina dan tentara Israel berkecamuk Arief merasa keamanannya tetap terjamin. Ini karena menurutnya pemerintah Palestina selalu melindungi para relawan. “Selama teman-teman mematuhi rambu-rambu yang diberikan staf dari kementerian, Insya Allah aman. Biasanya kalau memang kami mau bertugas ke RS tertentu dan perlu ke sana, biasanya akan diantar. Kemudian kalau pergi cuma sebentar, 3-4 jam, si sopir akan menunggu. Tapi kalau full shift, nanti si sopir akan menjemput,” ujar Arief. Dokter dari MER-C itu menyebut, fasilitas kesehatan di Gaza tak sebagus apa yang biasa ditemui di Indonesia. Bahkan tak ada fasilitas kesehatan setara puskesmas di sana. Namun, warga Palestina di Gaza bisa berobat gratis bila menggunakan fasilitas di klinik atau rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan pemerintah. Meski kerap merasa aman, Arief mengaku bahwa ia juga kadang takut mendengar dentuman bom dan suara pesawat yang terbang rendah. Ia sering mendengar suara bom dari tentara Israel di beberapa lokasi yang diduga menjadi markas Pejuang Hamas. Kaget Mengetahui Nasib Pekerja Kemanusiaan Arief kaget saat mengetahui ada relawan medis di Gaza yang tewas ditembak tentara Israel. Sebab menurutnya serangan terhadap tenaga medis tak dibenarkan meski dalam kondisi perang. Hal ini sesuai isi dari Konvesi Jenewa. Pokok keempat Konvensi Jenewa menyatakan, menembaki petugas medis termasuk kejahatan perang. Dilarang keras pula menyerang rumah sakit, klinik, atau ambulans. Aturan yang sama ditegaskan kembali pada 2016 lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB 2286 yang disponsori lebih dari 80 negara, termasuk Israel. “Diskusi saya dengan beberapa dokter di sana, hal itu [penembakan] sering terjadi di Gaza. Ambulans yang membawa korban sering ditembaki. Bahkan seorang warga di Gaza Utara bercerita, ketika perang itu ambulans tak bisa masuk untuk ambil korban. Sehingga terpaksa warga mengantar korban ke Gaza dengan kereta keledai,” kata Arief. Sepengetahuan Arief, hingga kini belum ada tenaga medis asal Indonesia yang menjadi korban di Gaza. Namun, ia berharap tak ada lagi korban baik dari warga sipil maupun pekerja kemanusiaan di Gaza. Arief berkata, peran Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk mengamankan tenaga medis dan pekerja kemanusiaan di Gaza sangat dibutuhkan. Ia meminta pemerintah melalui Kemenlu selalu memberi bantuan untuk relawan yang hendak pergi ke Gaza. Sebab tidak mudah untuk masuk ke Gaza, harus mendapat izin dari Mesir dan Israel. “Pengalaman kami, sebelum memberangkatkan tim ke Gaza selalu koordinasi dengan Kemenlu dan kedubes Indonesia di Kairo agar menyampaikan info untuk audiensi dengan kedubes Mesir. Jika ketiga [pihak] sudah beri lampu hijau, akan besar kemungkinan bisa masuk [ke Gaza],” katanya. Nasib relawan kemanusiaan di Jalur Gaza mendapat sorotan usai Razan Najjar, seorang paramedis asal Palestina meninggal. Perempuan berusia 21 tahun itu tewas karena timah panas tentara Israel bersarang di tubuhnya saat hendak menolong korban unjuk rasa, Jumat (1/6/2018). Ia ditembak di dadanya hingga peluru menembus punggung. Awalnya Razan diduga tak menyadari terkena tembakan, tapi ia mulai menangis dan berkata ‘punggungku, punggungku’ sebelum jatuh ke tanah. Proses pemakaman Razan pada Sabtu (2/6/2018) waktu setempat dihadiri ribuan warga Palestina. Para petugas media mengenakan seragam putih, berbaris dalam prosesi pemakaman. Razan Najjar menjadi perempuan kedua yang tewas di perbatasan Gaza dan Israel sejak protes massal yang dimulai pada awal Maret lalu. Perempuan pertama yang tewas adalah seorang pengunjuk rasa yang masih remaja. Ia juga menjadi warga Palestina ke-119 yang tewas sejak gelombang protes di Gaza dimulai pada Maret 2018. Data yang dikompilasi oleh Medical Aid for Palestinians (MAP) pada Oktober 2017 menunjukkan, sejak 2008 ada 145 petugas medis di Jalur Gaza yang terluka atau terbunuh oleh serangan militer Israel. Kebanyakan di antaranya berstatus sebagai sopir mobil ambulans. Pengamat Internasional dari Universitas Indonesia Yon Machmudi berpendapat, jatuhnya korban jiwa dari kalangan pekerja kemanusiaan di Gaza selama ini terjadi karena kesalahan Israel. Menurutnya, Israel tak bisa membedakan siapa saja orang yang berperan sebagai pekerja kemanusiaan dan lawannya saat di Gaza. “Ini saya kira persoalan ada di pihak Israel yang dalam beberapa hal tidak mengindahkan aturan-aturan internasional berkaitan dengan konflik dan perang,” ujar Yon. Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah UI itu menyarankan Indonesia terus menyerukan dunia internasional untuk menekan Israel. Menurutnya, harus ada sanksi dan peradilan yang digelar karena kebiasaan Israel menembak pegiat kemanusiaan atau wartawan di daerah konflik. “Karena kalau tidak ada tekanan, dan didukung dunia internasional, maka peristiwa ini akan berulang terus. Karena itu Indonesia melalui PBB atau OKI [Organisasi Konferensi Islam] harus terus mempersoalkan pelanggaran yang dilakukan Israel,” ujarnya. Yon juga menyerukan agar Indonesia berani memutus hubungan bisnis dan perdagangan dengan Israel. Menurutnya, hal itu paling mungkin dilakukan karena tak ada hubungan diplomasi resmi Indonesia dengan Israel hingga kini. Pendapat senada disampaikan pengamat internasional dari LIPI Dewi Fortuna Anwar. Eks Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI menyebut, seharusnya Indonesia tidak melakukan