MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Meriahnya Acara Sunatan Massal di RPTRA Taman Sawo

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU—Puluhan anak mengikuti kegiatan sunatan massal yang digelar di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Taman Sawo, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (6/5/2018). Acara tersebut adalah hasil kerja sama antara siswa SMA Lab School Kebayoran Baru dan PKK setempat. Mohammad Yohan, Lurah Cipete Utara, mengatakan, setidaknya ada 20 anak yang mendapatkan layanan sunat gratis ini. “Selain menggelar sunat massal, SMA Lab School bersama PKK dan MER-C juga menggelar bazar dan pengobatan gratis. Kami selaku tuan rumah menyampaikan terimakasih,” kata Yohan kepada Warta Kota. Sekitar 40 siswa dan siswi sekolah itu terlibat langsung dalam kegiatan bakti sosial itu. Yohan mengatakan, rangkaian acara itu berlangsung meriah dengan masyarakat yang hadir mencapai 500 orang. “Harapan saya semoga tahun depan adik-adik Labschool lanjut berkegiatan di RPTRA Taman Sawo dan idenya berkembang lagi,” katanya. Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2018/05/07/meriahnya-acara-sunatan-massal-di-rptra-taman-sawo-cipete

Dubes Palestina Dukung Pengembangan Bangunan RS Indonesia di Gaza

Jakarta, MINA – Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shoun menyatakan dukungannya pada program lembaga kemanusiaan kegawatdaruratan Indonesia Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk Palestina, perihal rencana pengembangan dan penambahan dua lantai Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza dan rencana baru pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Tepi Barat, Palestina. “Saya sangat mengapresiasi rencana ini, rakyat Indonesia memiliki kepedulian besar pada rakyat Palestina, masalah kesehatan merupakan hal terpenting yang saat ini menjadi fokus pemerintah Palestina,” ujar Zuhair saat menerima audiensi Tim MER-C di Kedutaan Besar Palestina, Selasa (13/2). Zuhair menegaskan, dirinya siap membantu untuk berkomuniasi dengan Menteri Kesehatan Palestina Dr. Jawad Awwad untuk membicarakan rencana pengembangan rumah sakit tersebut. Kepada Dubes, Presidium Mer-C, dr. Arief Rachman Sp.Rad. mengatakan, disain pengembangan RSI untuk lantai 3 dan 4 sedang difinalisasi oleh tim arsitek MER-C. Luas bangunan tiap lantai sekitar 3.000 meter persegi sehingga untuk dua lantai luas keseluruhan akan mencapai 6.000 meter persegi. Seperti pembangunan sebelumnya yang dilakukan oleh relawan konstruksi dari Indonesia di tahun 2015, kali ini MER-C juga berharap dapat melakukan hal serupa. Dukungan dan donasi untuk Amanah Pengembangan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0153678; Bank Mandiri, 124.000.8111.925; BSM, 700.1352.061; BNI Syariah, 081.119.2973; BMI, 358.000.1720; dan BRI, 033.501.0007.60308 a/n Medical Emergency Rescue Committee.(RA-1/B05/RS1) Sumber : http://www.mirajnews.com/2018/02/dubes-palestina-dukung-pengembangan-bangunan-rs-indonesia-di-gaza.html

Uang dari Mana? Semuanya Lillahi Taala’

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam kegiatan Reuni 212, jutaan masyarakat berkumpul di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat untuk mempererat tali persaudaraan dan persatuan umat agar terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masyarakat dari berbagai daerah seluruh Indonesia merelakan waktu juga materinya dalam rangka membela agamanya. Terbukti dengan penuh sesaknya seluruh sudut Monas pada acara Aksi Bela Islam 212, Reuni 212, 411, ataupun acara serupa. Persatuan umat dalan kesempatan tersebut memang sangat mengagumkan. Tapi, ternyata bukan hanya itu saja yang membuat kagum. Di balik jutaan umat yang memenuhi Monas, ada juga yang selalu siap siaga menolong umat. Yang tentu membuat kita bertanya-tanya siapa yang menggerakkan mereka. Selintas yang terpikir pasti adalah polisi ataupun Satpol PP, namun bukan, adalah mereka para tim kesehatan. Jarang ada yang sadar akan pentingnya sosok mereka, jika kita membutuhkan pertolongan medis, merekalah yang pasti akan membantu secara sigap. Ketua Tim Kesehatan Reuni 212 Dr Soleh Assegaf, mengatakan, acara yang diselenggarakan pada Sabtu (2/12) ini juga melibatkan ratusan tim kesehatan dari berbagaimacam lembaga kemanusiaan yang ada di Indonesia. Jumlahnya tidak sedikit, menurut dia, pada acara kegiatan tersebut, setidaknya ada 400 orang tim kesehatan yang terdaftar, mengawal jalannya aksi damai tersebut. Mereka tersebar di setiap sudut Monas, dan di luar area Monas. Di area yang terdapat masaa, di situ terdapat posko kesehatan yang ditugaskan, jumlah posko itu sendiri sedikitnya ada 30 titik. Para tim kesehatan sama sekali tidak diberi gaji, semua dengan ikhlas dan sukarela untuk membantu dan mengawal jalannya aksi-aksi kesatuan umat. “Ini tenaga yang tidak dibayar, tim kesehatan tidak ada honornya,” kata Soleh. Tim kesehatan “tanpa tanda jasa” ini berpegang pada ketetapan syariat. Tidak menunggu sesuatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi, kendati begitu, mereka tetap siap siaga mengawal umat dari sisi medis. Seluruh penyakit, instrumennya memang Allah SWT yang mendatangkan, tapi Allah juga yang memberi izin untuk menyembuhkan, tim kesehatan yang bertugas membagi ilmunya dengan ikhlas, apa yang mereka tahu kemudian diterapkan dengan membantu umat. Kurang lebih begitu yang menjadi pegangan tim kesehatan. Penyakit ringan yang biasanya ditangani oleh tim kesehatan dalam acara serupa, adalah mulai dari peserta yang keletihan, pusing, masuk angin, dan sebagainya. Tak jarang penyakit skala berat juga ditangani, seperti penyakit jantung yang terkadang dalam beberapa acara ada masyarakat yang kambuh. Penangannnya pertolongan pertama yang dilakukan, jika terjadi suatu hal yang parah, maka mobil-mobil ambulan yang juga siap siaga akan membawa pasien menerobos ramainya kawasan Monas untuk menuju rumah sakit terdekat. Para herbalis dari tim kesehatan Reuni 212 juga ikut berpartisipasi dengan membuka posko kesehatan dan membuka pelayanan bekam, refleksi, akupuntur, totok, dan pijat. Posko yang dibuka oleh para herbalis tim kesehatan dari Relawan Bekam Indonesia (RBI) sebanyak tiga unit. Peserta Reuni 212 tak dikenakan biaya sedikitpun untuk menikmati fasilitas ini, alias gratis. Sebanyak tiga posko dibuka, yang terletak di posko kehatan VIP dekat panggung utama, di lapangan IRTI dan di dekat patung kuda. Relawan yang diturunkan sebanyak 30 orang dari setiap perwakilan daerah seluruh Indonesia diantaranya, Bandung, Depok, Makassar. Salah satu tim kesehatan dari lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) juga turut serta dalam acara Reuni 212. Lembaga kesehatan ini merupakan salah satu tim kesehatan yang selalu ikut dalam setiap kegiatan serupa. MER-C menyediakan obat-obatan dan kebutuhan lain yang diperlukan, dua ambulan juga dipersiapkan jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Pada kegiatan Reuni 212 kemarin MER-C menerjunkan 23 relawan, yang terdiri dari tujuh dokter dan lainnya perawat. Dengan posko dipusatkan di patung kuda Lapangan Monas. Presidium MER-C, dr Arief Rachman yang juga menjabat sebagai Sekjen Komite Medis GNPF-Ulama menjelaskan, banyak orang yang memiliki penilaian tentang para peserta aksi-aksi yang disebut oleh mereka sebagai “pasukan nasi bungkus”. Menurut Arief, hal itu tidaklah demikian. Para peserta aksi bersatu memperjuangkan satu tujuan yakni keadilan. Selain itu juga persatuan umat yang tentu bisa membuat kesatuan Indonesia akan terus terjaga. Berangkat dari hal itu, para tim kesehatan juga tergerak hatinya untuk ikut mengawal dengan keahliannya, tanpa memikirkan honor semua dijalankan dengan ikhlas. Tidak hanya menolong para peserta aksi, tim kesehatan juga menolong setiap masyarakat yang membutuhkan pertolongan atas dasar kemanusiaan. Hal tersebut terbukti dari kejadian di salah satu aksi. Ketika itu aksi damai dilakukan di depan Polda Metro Jaya, seorang warga tertabrak Bus Transjakarta. Dengan sigap, tim kesehatan langsung memberikan pertolongan pertama kemudian membawanya dengan ambulan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina. Penanganan dan biaya si pasien di rumah sakit tersebut dibantu oleh tim kesehatan. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ia mengalami pendarahan di dalam kepalanya. Si pasien kemudian dibawa lagi ke Rumah Sakit PON tempat BPJS-nya terdaftar. Tetapi terdapat masalah, nama di KTP dan BPJS-nya tidak sesuai. Kemudian dari tim kesehatan, juga Laskar FPI bergerak mengurusnya, ada yang pergi ke BPJS, Transjakarta, dan Jasa Raharja. Pada akhirnya urusan selesai sehingga pasien bisa menjalankan prosedurnya dengan semestinya yang kemudian dilakukan perawatan. Di Reuni 212 lalu, Arief menjelaskan, banyak peserta yang mengalami masalah karena kepanasan, kurang minum, sehingga membuatnya pingsan. Tentu tim medis sudah siap dengan obat-obatan serta peralatan yang tentu dipersiapkan juga untuk penyakit atau masalah yang lain. Banyak juga peserta yang mengalami keletihan, dan pegal-pegal, dalam hal ini yang berperan adalah herbalis juga terapis dari tim kesehatan yang melayaninya dengan pijat secara gratis. Arief membenarkan, bahwa seluruh tim medis tidak diberi honor ataupun gaji. Semua bekerja dengan ikhlas, dari tim internal sendiri yang ada hanya patungan untuk sekedar membeli obat-obatan, dan kebutuhan lain. “Uang dari mana? Walaupun internal dari tim medis yang bertugas ada sumbangan kecil-kecilan untuk membeli obat-obatan diperlukan, dokter, herbalis, terapis tak digaji, semuanya lillahi taala,” kata Arief.   Link : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/05/p0hwl3396-uang-dari-mana-semuanya-lillahi-taala

MER-C Akan Kirim Tim Advance ke Yaman

Jakarta, MINA – Di tengah situasi kesehatan yang memburuk akibat perang di Yaman, Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) merencanakan akan mengirim tim advance ke Yaman.   Rencana tersebut, follow up dari pertemuan khusus tim MER-C dengan mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Yaman Saad Ad-Deen bin Talib pada Rabu (22/11), di Jakarta.   “Perang yang terjadi selama tiga tahun menyebabkan banyak kerusakan bangunan seperti instansi pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan,” kata Saad.   Anggota Presidium Medical Emergency Rescue – Committe (MER-C) Dr. Sarbini Abdul Murad yang mengatakan akan mengirimkan tim advance ke Yaman.   “Kita akan kirim tim advance dalam waktu dekat untuk memantau apa kebutuhan yang mendesak yang diperlukan dan apa yang bisa kita lakukan di sana,” kata dr. Ben, panggilan akrabnya.   Dalam pertemuan terbatas tesebut, Saad menggambarkan kondisi terkini Yaman yang saat ini tengah dikuasai oleh beberapa kelompok-kelompok tertentu yang mengakibatkan sulitnya mencapai akses penyaluran bantuan.   Meski demikian, tim MER-C menegaskan akan tetap mengirim tim advance untuk ke depannya menyalurkan bantuan yang dibutuhkan oleh warga Yaman.   “Tahap pertama kita kirim tim advance, setelah itu kita akan mengetahui kebutuhan mendesak mereka, kemudian kita susun rencana yang matang untuk membantu meringakan beban saudara kita,” kata Ben.   Yaman bersama Suriah, Sudan Selatan, Nigeria, dan Irak dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu kedaruratan kemanusiaan terburuk di dunia.   Link : http://www.mirajnews.com/2017/11/mer-c-akan-kirim-tim-advance-ke-yaman.html

Abu Kuta Krueng Dukung Pembangunan Rumah Sakit MER-C di Rakhine

MEUREUDU – Presidium MER-C Indonesia dr. Sarbini Murat bersama tim, mengunjungi Abu Kuta Krueng di kediamannya di Ulee Glee, pada Selasa, 3 Oktober 2017.   Dalam kunjungan tersebut dr. Sarbini memperkenalkan MER-C Indonesia sebagai salah satu LSM lokal yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis.   Ia juga menceritakan peran MER-C Indonesia dalam menangani bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam, termasuk beberapa daerah bencana dan daerah konflik lainnya baik di dalam dan luar negeri.   “Saat ini MER-C juga sedang membangun sebuah rumah sakit di Rakhine, Myanmar,” kata dr. Sarbini yang didampingi Koordinator Relawan Aceh Ira Hadiati.   Sementara Abu Kuta Krueng mengatakan, ia mendukung penuh program pembangunan rumah sakit di Rakhine.   “Iya saya sangat mendukung apa yang dilakukan MER-C Indonesia, kalian para dokter yang membantu mengobati orang-orang sakit, apa lagi kalian membantu orang-orang muslim di Palestina dan Myanmar. Semoga Allah selalu melindungi MER-C Indonesia, semoga Allah meridai niat baik MER-C, dan dijauhkan dari marabahaya, serta untuk para tim jangan pernah berhenti menolong sesama muslim, saya sangat mendukung apa yg MER-C Indonesia lakukan,” kata Abu.   Mendengar petuah dari Abu Kuta Krueng, dr. Ben –sapaan akrab dr. Sarbini– sempat meneteskan air mata. Ia terharu dan bersyukur atas dukungan yang diberikan oleh ulama kharismatik Aceh tersebut.[]   Sumber :http://portalsatu.com/read/news/tim-mer-c-kunjungi-abu-kuta-krueng-35658

MER-C Indonesia Resmikan dan Serah Terima TPA di Pidie Jaya

MEUREUDU – Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad meresmikan dan serahterima gedung TPA (Taman pendidikan Alqur’an di Gampong Nanggroe Barat, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, Selasa (03/10/2017).   Dalam sambutannya, dr Ben, begitu sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa pembangunan TPA tersebut bentuk kepeduliaan MER-C Indonesia kepada Pemkab Pidie Jaya yang diguncang gempa berkekuatan 5.3 SR pada Desember 2016 lalu. Bantuan tersebut adalah bantuan dari donatur yang disalurkan melalui MER-C Indonesia.   “Syukur alhamdulillah, bangunan TPA Gampong Nanggroe Barat ini telah selesai dikerjakan sesuai waktu yang telah ditentukan, hal ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak baik Pemkab Pijay, muspika Kecamatan Ulim, tokoh dan semua masyarakat Naggroe Barat,” katanya.   Dr. Ben mengharapkan TPA tersebut dapat bermanfaat dalam mendidik anak-anak, Gampong Nanggroe Barat sehingga kelak mereka dapat bermanfaat bagi agama dan membangun daerahnya.   Sambutan juga disampaikan oleh Ridwan, asisten 1 Pemkab Pijay. Dalam sambutannya ia menyampaikan terimakasih kepada MER-C yang telah membanguan taman pendisikan alquran tsb, mengingat pemkab pijay maaih sangat membutuhkan bantuan pihak ketiga dalam menyelesaikan proses rehab rekon pasca gempa dikabupaten tsb.   “Iya, alhamdulillah, pemkab pijay tentunya berterimakasih kepada MER-C, di mana dengan adanya TPA ini kita mengharapkan proses belajar agama anak-anak dapat ditingkatkan, ini penting untuk melindungi anak-anak dari hal-hal yang tidak diinginkan, didikan sejak dini sangat diperlukan untuk membentengi mereka dari pengaruh-pengaruh negatif,” katanya.   Senada dengan apa yang disampaikan Ridwan, Imum Mukim Nanggroe juga mengucapkan terimakasih kepada MER-C Indonesia yang selama ini telah banyak membantu warga masyarakat Nanggroe Barat, karna selain membangun gedung TPA MER-C juga mengadakan pengobatan gratis dan sunat.   Pada acara peresmian ini juga dihadiri asisten 1 Pemkab Pijay, BPBD, BNPD, Camat Uulim, Kapolsek, Danramil, Imum Mmukim, dan tokoh-tokoh masyarakat Nanggroe Barat. Acara tersebut diakhiri pembacaan doa oleh Tgk Abubakar.[]   Sumber : http://portalsatu.com/read/Citizen-Reporter/mer-c-indonesia-resmikan-dan-serah-terima-tpa-di-pidie-jaya-35489

Masjid Nurussalam Kerahkan Remaja Dan Orang Tua Galang Dana untuk Rohingya

Jakarta, (MINA) – Di sepanjang jalan Kalimalang, penampakan anak-anak usia 12 tahun sampai orang tua menjadi tidak asing dalam sepekan ini, mereka terlihat membawa kardus bertuliskan “Donasi untuk Rohingya” dan mendekati kendaraan-kendaraan yang berhenti di lampu merah. Donasi yang diinisiasi DKM Masjid Jami’ Nurussalam di Kampung Baru, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, tersebut berhasil mengumpulkan setidaknya 30 juta rupiah sejak pertengahan September lalu. Salah satu pengajar di Masjid tersebut yang juga bekerja di Pondok Darul Ilmi  Citeurep-Bogor juga mengumpulkan bantuan serupa hingga mencapai 12 juta 770 ribu rupiah dan keduanya menyerahkan bantuan tersebut melalui lembaga kedaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini tengah membangun RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Ketua Penggalangan Dana Masjid Nurussalam Abdu Shomad mengatakan kepada Mi’raj News Agency (MINA), pihaknya menurunkan anak-anak dan remaja hingga orang tua sebagai bukti pendidikan dan pemberdayaan umat melalui masjidnya. “Ini foto anak saya lagi ikutan juga,” katanya sambil menunjukkan salah satu foto di lokasi penggalangan dana. Serah terima bantuan dilakukan bersamaan dengan kegiatan puncak Muharam di area Masjid yang juga menampilkan beragam kreatifitas anak dan remaja di area tersebut, seperti tarian, nasyid, dan ceramah yang disampaikan oleh anak berusia belasan tahun. Dalam sambutannya, Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad mengapresiasi DKM Masjid yang telah berusaha semaksimal mungkin memberdayakan umatnya melalui Masjid.  Sarbini juga menjelaskan situasi  dan kondisi terkini warga Muslim Rohingya kepada warga sekitar yang hadir pada perayaan malam itu. “Oleh karenanya, MER-C bersama PMI dan Walubi saat ini bekerjasama tengah membangun sebuah rumah sakit di sana,” ujar pria yang akrab disapa dengan panggilan Dr. Ben itu. Dia menegaskan tujuan jangka panjang dari pembangunan RS tersebut adalah untuk menjelaskan keberagamaan kita kepada warga Myanmar. Bahwa minoritas di negara ini mampu hidup dengan damai dan tanpa mengalami diskriminasi. “Indonesia sebagai mayoritas Muslim, dan di sini minoritas bisa hidup dengan baik. Kita ingin mengenalkan RS Indonesia ini sebagai simbol keberagaman. Di situ ada Muslim, Budha dan lain-lain yang dirawat. Untuk mempersatukan,” tambahnya. Dr. Ben juga menuntut pemerintah Myanmar untuk membuka askes bantuan dari berbagai LSM Internasional yang hendak masuk ke lokasi konflik guna memberikan pelayanan kesehatan dan asistensi lainnya. “Jika pemerintah Myanmar mampu mengizinkan hal tersebut, insyaallah konflik akan mereda,” ujarnya.(L/RE1/RS2) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/masjid-nurussalam-kerahkan-remaja-dan-orang-tua-galang-dana-untuk-rohingya.html  

SMKN 1 Serang Serahkan Bantuan untuk Rohingya Melalui MER-C

Serang, (MINA) – Penggalangan dana kemanusiaan untuk warga Rohingya tengah bergulir di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya dilakukan para pelajar provinsi Banten ini. Dikoordinir pemimpin rohaniawan sekolah (rohis), para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kota Serang Banten menggelar nonton bareng dan penggalangan dana untuk warga Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh akibat penindasan militer baru-baru ini. Penggalanan dana dilakukan sejak 20-21 September 2017 di sekolah tersebut berhasil mengumpulkan 5,7 juta rupiah. Dana diserahkan melalui lembaga kedaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk kemudian dialokasikan ke pembangunan RS Indonesia di Rakhine State Myanmar yang saat ini baru dimulai. Dalam acara serah terima yang berlangsung pada Jumat (22/9), tim konstruksi pembangunan RS Indonesia tersebut Nur Ikhwan Abadi menjelaskan kepada setidaknya dua ribu siswa yang hadir mengenai visi dan misi MER-C sebagai lembaga kedaruratan yang fokus pada bantuan jangka panjang dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan netral tanpa melihat latar belakang yang ditolongnya. “MER-C berkomitmen bergerak di bidang kemanusiaan dan mengedepankan netralitas tanpa memandang suku atau agama yang kami bantu,” tegasnya disambut tepuk tangan dan sorakan para siswa. Sementara itu, ketua Rohis sekolah tersebut Rifki Safarudin  mengatakan kepada Mi’raj News Agency (MINA), para siswa merespon dengan keprihatinan besar tidak lama setelah menonton dokumentasi warga Rohingya yang saat ini tidak jelas nasibnya. “Responnya luar biasa, mereka sangat prihatin untuk Rohingya, jadi kami galang dana juga,” katanya. Saat ditanya jika ada kesempatan untuk berangkat kesana, Rifki mengaku ingin membantu secara langsung saudara-saudaranya di sana dan menurutnya antusias para pelajar yang peduli terhadap Rohingya di sekolahnya juga relatif tinggi.(L/RE1/R01) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/smkn-1-serang-serahkan-bantuan-untuk-rohingya-melalui-mer-c.html  

Alumni UI dan MER-C Jalin Kerjasama Bantu Rohingya

Jakarta, MINA – Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) melakukan penandatanganan kerjasama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dalam aksi kemanusiaan bantu Rohingya. Acara penandatanganan kerjasama sendiri dilakukan di Sekretariat Iluni UI, Jalan Salemba Raya 4, Jakarta Pusat, Rabu (20/9). “Iluni UI dan MER-C jalin kerjasama jangka panjang, dalam waktu dekat ini kita kerjasama terkait untuk membantu Rohingya,” kata Ketua Umum Iluni UI Arief Budhy Hardono usai acara penandatanganan. Ia mengatakan, alumni Universitas Indonesia yang tergabung dalam Iluni UI sendiri ada banyak dan memiliki keahlian dan latar belakang yang bisa ikut berkontribusi dalam aksi kemanusiaan. Alasannya memilih kerjasama dengan MER-C, menurut Arief karena MER-C sudah berpengalaman dalam aksi-aksi kemanusian dan jelas program-programnya, seperti aksi bakti sosial, pembangunan RS Indonesia di Palestina, juga di Myanmar, dan lain-lain. “Sebetulnya kerjasama ini adalah untuk mendukung kegiatan MER-C dalam bantu Rohingya. Apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung lebih, karena Iluni UI punya alumni yang banyak,” katanya. Sementara itu, Presidium MER-C Joserizal Jurnalis mengatakan, kerjasama ini selain Iluni UI mengumpulkan dana bantuan untuk Rohingya, dalam program-program bakti sosial juga akan melibatkan unsur Iluni UI. Kerjasama ini sendiri dilakukan hingga tahun 2019 mendatang dan saat ini terfokus pada bakti sosial untuk membantu Rohingya. “Selain melakukan galang dana, nanti Iluni UI juga akan gabung dalam program bakti sosial MER-C, mungkin kedepannya juga akan diikutkan ke Myanmar,” kata Joserizal. (L/R08/R01) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/alumni-ui-dan-mer-c-jalin-kerjasama-bantu-rohingya.html/amp

Pembangunan RS Indonesia di Rakhine tidak Terganggu Konflik

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Bentrokan kembali terjadi antara pihak yang mengatasnamakan gerilyawan Rohingya dengan aparat keamanan Pemerintah Myanmar pada Jumat (25/8). Akibat bentrokan tersebut, puluhan orang meninggal dunia dan ribuan Muslim Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh.   Medical Rescue Commite (MER-C) yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myanmar berharap pihak-pihak yang sedang bentrok segera mengambil jalan diskusi agar tidak banyak jatuh korban. Meski demikian, MER-C menginformasikan pembangunan RSI di Myanmar tetap berjalan.    Presidium MER-C, Dr Sarbini Abdul Murad mengatakan, proses pembangunan RSI tidak terganggu dengan bentrokan yang terjadi pada Jumat (25/8). Pembangunan RSI didukung semua pihak, termasuk Pemerintah Myanmar, umat Islam, Buddha dan masyarakat umum lainnya.    Ia mengungkapkan, setelah berdirinya RSI diharapkan dapat menjadi peredam konflik di Myanmar. “Diharapkan dengan cepatnya berdirinya Rumah Sakit, mudah-mudah bisa menjadi simbol perdamaian dengan adanya Rumah Sakit Indonesia itu,” kata Sarbini kepada Republika, Ahad (27/8).   Ia menyampaikan, MER-C saat ini sedang melaksanakan proses pembangunan RSI di wilayah Muaung Bwe, Mrauk U, Provinsi Rakhine, Myanmar. MER-C berharap pihak-pihak yang saat ini sedang bentrok segera melakukan dialog untuk menyelesaikan masalah.    Di harapkan semua pihak yang terkait dengan konflik di Myanmar bisa duduk bersama untuk melakukan komunikasi guna mencari solusi penyelesaian masalah dengan jalan terbaik. MER-C meyakini kekuatan dialog dapat menyelesaikan konflik, seperti di Aceh, bisa damai karena dialog.   “Kalau dialog tidak dibangun, akan sulit saling pengertian, dialog inilah yang akan membuat saling pengertian antara semua elemen di Myanmar,” ujarnya.    Sarbini menerangkan, RSI yang sedang dibangun MER-C diperuntukkan untuk umum, artinya untuk semua komunitas agama. RSI ini akan menjadi simbol netralitas. Masyarakat Muslim dan non-Muslim akan berobat bersama-sama di RSI.   Masyarakat yang sedang berobat akan bertemu, saling sapa dan berbicara. Secara perlahan akan membuka pintu saling percaya antara semua komunitas di Myanmar. RSI dibuat oleh MER-C, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan PMI.    “Jadi dengan ada Rumah Sakit ini maka masyarakat dan Pemerintah Myanmar bisa melihat di Indonesia harmonis antar umat beragama, buktinya RSI ini didirikan oleh komunitas Muslim dan Buddha,” jelasnya.   MER-C menginformasikan, proses pembangunan RSI sudah sampai pengurugan, bulan ini sedang dibuat pagar. Pada Oktober mendatang akan dibuat rumah untuk dokter dan paramedis. Setelah itu baru akan dibangun bangunan Rumah Sakit. Ditargetkan pertengahan 2018 RSI bisa dioperasikan.   MER-C juga akan membangun sarana air bersih di sekitar RSI. Sebab, masyarakat di sana kesulitan mendapatkan air bersih. Dokter dan paramedis dari Myanmar akan dilatih di Indonesia.   “Diharapkan mereka bisa belajar bagaimana dokter Indonesia melayani pasien-pasien yang tidak melihat kelas dan status. Dokter melayani pasien secara profesional dan atas dasar rasa kemanusiaan,” ujarnya.

Silahkan bertanya?