MER-C Bantu Korban Banjir Bandang Bima

Bima, 25 Rabiul Awwal 1438/25 Desember 2016 (MINA) – Menyusul banjir bandang yang melanda Bima baru-baru ini, lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui Cabangnya di Mataram menurunkan Tim Relawan Medis untuk membantu para korban. “Tim pertama berangkat ke lokasi pada Kamis 22 Desember 2016 sekitar pukul 16.00 bersama rombongan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Tim terdiri dari tiga relawan, yaitu dr. Muhammad Fadillah, dr. Aten Aswari Putra dan dr. Ivan Aprian Akbar,” demikian keterangan dari MER-C yang diterima MINA Ahad (25/12). Tim tersebut membawa bantuan berupa makanan dan minuman serta obat-obatan. Dua hari sebelumnya, tim MER-C dari Cabang Mataram diwakili dr. Editia Subihardi berangkat bersama rombongan Ikatan Alumni FK UNRAM (IKA FK UNRAM) sebanyak lima dokter dan anggota Tim Bantuan Medis Bumi Gora sebanyak enam orang. Tim juga membawa bantuan berupa makanan, minuman, pakaian, selimut, terpal dan genset hasil sumbangan dari para donatur ke IKA FK UNRAM dan TBM BG FK UNRAM. Menurut tim di lapangan, saat ini bantuan yang sangat dibutuhkan adalah berupa makanan dan minuman cepat saji atau matang untuk bayi dan dewasa, air bersih, pakaian, kain selimut, dan obat obatan. Tim menyerukan bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan donasi melalui Bank BRI, No Rek 470601011328534, atas nama dr. AD Irma Ramdani. Sedangkan bantuan berupa barang (makanan, minuman, pakaian dan kain selimut) dapat menghubungi nomor tim dr. AD Irma Ramdani (081803614631), dr. Januarman (081805718326), dan dr. Denuna Enjana (089674115662). (L/RE1/R02) Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Sumber : http://mirajnews.com/2016/12/mer-c-turunkan-tim-bantuan-korban-banjir-bandang-bima.html
Dua Mobil Ambulans Sumbangan Rakyat Indonesia Tiba di RSI Gaza

Gaza, 22 Rabi’ul Awal 1438/ 22 Desember 2016 (MINA) – Dua unit mobil ambulans sumbangan rakyat Indonesia tiba di Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza, Rabu (21/12), setelah dibeli di Uni Emirat Arab dan sempat tertahan di Mesir selama kurang lebih satu tahun. Kedua mobil tersebut masuk ke Jalur Gaza melalui pintu perbatasan darat Rafah yang sempat dibuka oleh otoritas Mesir selama tiga hari sejak 18 – 20 Desember kemarin. Reza Ardilla, relawan Indonesia asal Kalimantan yang saat ini menjadi Koordinator Utama MER-C di Gaza, mengawal langsung proses masuknya mobil-mobil ambulans tersebut. Kepada wartawan Kantor Berita Islam Miraj di Gaza, Reza menjelaskan, proses pemasukan kedua ambulans ini tidaklah mudah. Selain kondisi blokade atas Gaza yang semakin parah dalam beberapa tahun terakhir, kurang harmonisnya hubungan antara otoritas Mesir dan Pemerintah Palestina di Gaza juga menjadi hambatan utama. Ditemani oleh seorang insinyur lokal RSI, Samir Abu Nada, Reza harus tiga kali pulang pergi ke perbatasan Rafah di Jalur Gaza selatan untuk menyelesaikan berkas-berkas yang dibutuhkan hingga akhirnya berhasil memarkir kedua unit mobil ambulans tersebut di halaman RSI di Jalur Gaza bagian utara. Kedua ambulans yang merupakan bagian dari proyek RSI Gaza itu dibeli dari Uni Emirat Arab, karena tidak tersedia di Gaza, sementara sebagian besar peralatan medis di RSI Gaza didatangkan dari sejumlah negara di Eropa. Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah murni sumbangan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina yang diinisiasi dan diaplikasikan oleh LSM medis kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia. Bangunan yang menghabiskan dana sekitar 130 miliar rupiah tersebut kini menjadi rumah sakit utama di wilayah Jalur Gaza Utara, Palestina. (L/K02/Reza/P001) Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Sumber : http://mirajnews.com/2016/12/dua-mobil-ambulans-indonesia-tiba-rsi-gaza.html
MER-C: Spirit Pembebasan Kemerdekaan Palestina Dengan Jihad Profesional

Jakarta, 9 Rajab 1437/19 April 2016 (MINA) – Manajer Operasional Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Rima Manzanaris mengatakan bahwa rasa persaudaraan dan spirit perjuangan kemerdekaan Palestina salah satunya dibentuk dengan jihad profesional. “Dengan spirit seperti yang dipaparkan dalam pembicaraan atas kemerdekaan Palestina, hal ini juga kami lakukan dalam membangun Rumah Sakit di Gaza dengan rasa spirit persaudaraan, spirit pembebasan, dan jihad profesional yang mendorong dan memberi semangat kami dan para relawan untuk membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina,” kata Rima saat menjelaskan kiprah MER-C dalam mendukung kemerdekaan Palestina pada acara Peringatan 61 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Museum KAA Bandung, Selasa (19/4). Rima menyatakan dukungan dan kepedulian yang luar biasa dari rakyat Indonesia termasuk masyarakat Bandung, merupakan semangat MER-C untuk dapat mewujudkan aksi nyata membantu rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaannya. “Alhamdulillah, MER-C bisa menjalankan amanah ini dalam bentuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia dan dalam bentuk bantuan kemanusiaan lainnya sejak 2009 sampai sekarang,” ujarnya. Rima menyatakan, RS Indonesia di Gaza merupakan bukti cinta dari rakyat Indonesia terhadap Palestina, menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. “Kami berharap semoga dengan RS Indonesia di Gaza menjadi karya dan bukti cinta rakyat Indonesia bisa terus bermanfaat dan menjadi amal ibadah yang terus mengalir bagi rakyat Indonesia,” tegas Rima. Rumah sakit yang dibangun di atas tanah wakaf dari pemerintah Palestina seluas 16.261 m2 itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers) dari Pondok Pesantren Al-Fatah. Dibangun di sebuah puncak bukit di luar Jabalya, kamp pengungsi terbesar di Gaza, Rumah Sakit Indonesia mulai beroperasi dan bisa melayani 300.000 penduduk yang tinggal di kawasan yang sering dilanda konflik itu sejak resmi beroperasi 27 Desember 2015. Pada Januari 2016 disaksikan oleh jajaran pemerintah Republik Indonesia, MER-C mewakili rakyat Indonesia menyerahkan secara simbolis RS Indonesia kepada pemerintah Palestina yang diwakili oleh Menteri Kesehatan Palestina dan Dubes Palestina untuk Indonesia di Jakarta. Konferensi Asia Afrika atau dikenal pula Konferensi Bandung menjadi momen penting bagi sebagian negara-negara di dunia, terutama negara Asia-Afrika. Tiap tahunnya konferensi yang menjadi titik tolak penghapusan kolonialisme itu selalu diperingati. Pada Peringatan 61 Tahun KAA kali ini, berbagai acara digelar di Museum KAA Bandung sejak 17 April-1 Mei 2016. Sumber : http://www.mirajnews.com/id/mer-c-spirit-pembebasan-kemerdekaan-palestina-dengan-jihad-profesional/111165
Bantu Warga Palestina, Ayah Vidi Aldiano Dapat Penghargaan MER-C

Harry Kiss, ayah dari Vidi Aldiano, memperlihatkan penghargaan yang diberikan oleh MER-C REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harry Kiss, ayah dari Vidi Aldiano, merasa tergugah mendapat penghargaan dari lembaga non pemerintah Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Ia berjanji akan terus memberikan perhatiannya kepada warga muslim yang ada di Palestina. ”Saya sangat berterimakasih kepada MER-C karena diberi kesempatan untuk membantu tugas mulia ini,” kata Harry Kiss kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/2). MER-C memberikan penghargaan kepada Harry karena telah turut berkontribusi dalam pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Ia merasa sangat bahagia bisa turut memberikan peran nyata dalam mendukung dan melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan di bidang kesehatan dan siaga bencana. “Bisa dipercaya membantu MER-C, menjadi hal yang luar biasa buat saya,” ujarnya. “Selama ini, banyak orang di luar sana, yang memiliki banyak uang tetapi tidak dikasih kesempatan untuk membantu. Kami walau pas-pasan, tapi bersyukur bisa dikasih kesempatan untuk turut serta membantu warga Palestina,” sambungnya kembali. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/09/o2a71x336-bantu-warga-palestina-ayah-vidi-aldiano-dapat-penghargaan-merc
MER-C TERIMA PENGHARGAAN ‘PESAN INDONESIA KEPADA DUNIA’ DARI KEM. KOMINFO DAN ISKI

ketua Presidium MER-C, Henry Hidayatullah, saat di wawancarai MINA Wawancara Eksklusif MINA dengan dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee). Ketua Presidium Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Henry Hidayatullah menyatakan rasa terimakasih kepada pemerintah dan masyarakat, atas kesetiaan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada MER-C dalam menangani tugas kemanusiaan di daerah konflik maupun bantuan non konflik kepada masyarakat, di dalam maupun di luar negeri. MER-C telah menerima penghargaan ‘Pesan Indonesia kepada Dunia’ dalam ajang Anugerah Komunikasi Inodnesia (AKI) yang digelar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), awal pekan ini. Sebanyak tujuh insan dan lembaga yang dinilai telah berkomunikasi positif di ruang publik, menerima AKI, MER-C adalah salah satu penerima penghargaan itu. Dr. Henry menyatakan penghargaan yang diperoleh MER-C adalah hasil kerja bersama dan relawan-relawan yang selalu setia bersama dan masyarakat yang selalu memberikan kepercayaan kepada MER-C atas bantuan yang disalurkan untuk masyarakat di daerah-daerah konflik dan di daerah-daerah bencana. MER-C sebagai lembaga kemanusiaan tetap semangat untuk berkarya memberikan manfaat bagi semua orang tanpa memandang ras, agama dan sikap politik. Apa saja harapan MER-C ke depan untuk mengemban amanah ini ? Berikut wawancara wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Septia Eka Putri dan Ketua Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah, yang berlamgsung Kamis petang di Rumahsakit Pusat Pertamina di Jakarta Selatan. MINA: Apa makna penghargaan ‘Pesan Indonesia kepada Dunia’ ini bagi MER-C ? Henry Hidayatullah (MER-C): Ya, Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) itu ada beberapa kategori di antaranya ‘Pesan Indonesia kepada Dunia’. Sebenarnya siapa saja yang menjadi nominator kami tidak tahu, kami coba menerka-nerka saja. Yang disampaikan Ketua AKI adalah bahwa aktifitas-aktifitas MER-C, yang menunjukkan Peran Indonesia di Mata Dunia, meskipun masyarakat Indonesia sendiri masih dalam kondisi susah. Tapi apa yang kita lakukan ternyata memberikan pesan bahwa Indonesia masih peduli, nah, segi itu yang mereka nilai. Sementara dari kami sendiri, itu memang sudah menjadi ranah kita kerja, ranah kita melakukan kegiatan kemanusiaan, tapi kemudian ternyata ada apresiasi sendiri. Menteri Kominfo Rudyantara yang menyampaikan bahwa, kami mendapatkan penghargaan itu. Sebenarnya ini di luar dugaan. Penghargaan ini pertama kali diadakan. MINA: Berbicara prestasi MER-C, seperti apa MER-C di mata masyarakat sehingga mendapatkan penghargaan ini? Henry Hidayatullah : Sekali lagi, bahwa yang kita cari bukan itu, itu hanya bentuk apresiasi orang ketika melihat seseorang atau lembaga yang melakukan kegiatan yang menyentuh, misalnya atau ternyata memberikan dampak dengan indikator tertentu. Bahwa eksistensi masyarakat Indonesia di mata dunia masih tampak jelas dan itu mereka lihat ada di MER-C. Itu yang kemudian membuat kita sangat hargai. Kita sangat bersyukur terhadap apresiasi pada apa yang kita lakukan, dan itu bentuk apresiasi masyarakat. Lalu apa benyuk apresiasi lainnya dari masyarakat? Adalah masyarakat masih mempercayakan dana-nya kepada MER-C untuk disalurkan. Jadi bentuk apresiasi mereka, berbentuk kepedulian, dan kepercayaan pada MER-C untuk menyalurkan bantuan merekan. Kan sekarang banyak lembaga yang menerima bantuan, tapi tentunya masyarakat memilih lembaga yang bisa menyalurkan bantuan mereka sesuai harapan mereka. Nah mungkin mereka melihat MER-C. Kenapa bisa saya sampaikan seperti itu? Salah satu contoh adalah pengumpulan donasi untuk membangun RS Indonesia di Gaza. Besar dana terkumpul total akhir mencapai Rp. 120 miliar dan itu dari masyarakat. Jadi respon dan kepercayaan itulah yang masyarakat berikan kepada MER-C. Artinya bukan tiba-tiba masyarakat memberikan dananya kepada MER-C, tapi proses perjalanan panjang. Kita tidak ada pemberitan hoax, ini penting, tranparansi bekerja, dana, ini yang kita tekankan di organisasi ini. Tidak hanya darmawisata kemanusiaan, foto-foto kemudian pulang, tidak, ini adalah kerja nyata untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar itulah yang kita informasikan. Tidak mengabarkan melakukan operasi seratus, sementara yang kita lakukan dua real nya, gakk, kalau dua yang kita lakukan, ya kita informasikan dua. Kita mencoba berjalan di atas track itu, harus clear dalam masalah itu, atas sebab itu masyarakat bisa percaya pada MER-C. MINA: Bagaimana MER-C mendapat kepercayaan masyarakat dan pemerintah ? Henry Hidayatullah : Begini, kita melakuikan sebuah kegiatan berdasarkan penilaian pada suatu hal, bukan berdasarkan kepada projek. Jadi bagi kita, apa sih program yang pas buat masyarakat? Sekali lagi, azaz manfaat bagi masyarakat itu yang kita lakukan. Yang kedua adalah politik kemanusiaan, kita melakukan politik untuk menyelamatkan kemanusiaan. Nah, ini penting, karena peranan itu harus dimainkan, sehingga ada nilai nilai kemanusiaan, ada kepedulian. Kemudian misalnya begini, menginisiasi orang untuk ikut peduli, menginisiasi pejabat atau pemerintah untuk ikut berperan. Mungkin saja mulanya mereka tidak sadar, ini peranan politik kemanusiaan, jadi intinya mengajak orang lain untuk peduli. MINA: Apa program ke depan serta harapan? Henry Hidayatullah : Yang jelas, pasti semua orang targetnya menjadi lebih baik, tentunya kita akan memperbaik internal kita dan eksternal. Internal otomatis yang berkaitan dengan kerelawaan untuk terjun kelapangan, bagaimana kemudian kita menyiapkan masyarakat lebih percaya kepada donasi yang kita sampaikan. Ini kan perlu pembenahan, Sumber Daya Alam (SDM), pendanaan, harus kita perbaiki. Saya tidak menafikan ada relawan yang belum mencapai kerelawaan yang sebenarnya, serta misi dan visi belum dapat, nah, ini tentunya koreksian untuk kita. Kemudian eksternal, tentunya terkait dengan dunia kemanusiaan pada umumnya. Memang kesulitannya adalah ketika kita mengambil ranah-ranah kemanusiaan dan itu berbaur politik, maka peran kita adalah menyadarkan bagaimana tidak terus terjadi tragedi kemanusiaan, Lagi-lagi politik kemanusiaan. Contohnya begini. Ada pengungsian akibat peperangan, pengungsian ini, ditanganin gak? Ditangani, tapi kalau perangnya terus terjadi ? Sebenarnya pengungsian ditangani, tapi lebih bijak lagi, kalau kita memberikan saran, perang dihentikan. Intinya itu. MINA: Perluasan peran MER-C seperti di Sorong ? Henry Hidayatullah : Kita tidak terlepas dari visi dan misi, kita dasarnya adalah organisai kemanusiaan yang bergerak di bidang medis, kemudian, cord nya memang medis, walaupun kemudian bisa juga merambah ke dunia lain untuk kepentingan kemanusiaan. Sementara itu untuk program-program yang berjalan, kalau untuk di daerah Indonesia Timur, hanya melanjutkan program yang sudah ada sebelumnya. Yaitu kerjasama yang namanya klalin di daerah Sorong, pengobatan, kemudian di klining mobile klinik plus pendidikan. Kerjasama dengan teman teman yang ada di NU, mereka sangat membutuhkan itu, tidak hanya kesehatan tapi juga pendidikan, belum lagi berbicara tentang lingkungan. MINA: Program MER-C di Myanmar ? Henry Hidayatullah : Problem di Myanmar adalah kaum
MER-C TEGASKAN BANGUN RUMAH SAKIT DI RAKHINE MYANMAR

Jakarta, 28 Dzulhijjah 1436/12 Oktober 2015 (MINA) – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyambut baik kedatangan Menteri Sosial Rakhine State, Myanmar Aung Kyaw Min beserta rombongan di kantor pusat MER-C, Jakarta Pusat. Dalam kunjungannnya, Aung Kyaw Min membahas komitmen MER-C untuk membangun rumah sakit di wilayah tersebut. Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murrad mengatakan, rumah sakit yang akan di bangun merupakan sumbangan dari seluruh rakyat Indonesia untuk rakyat Myanmar. ” Selama ini, hubungan antara pemerintah Indonesia-Myanmar sudah terjalin dengan baik. Kali ini masyarakatnya harus melakukan sesuatu yang lebih baik pula,” kata Sarbini. Sementara itu, Sekretaris daerah Rakhine State, U Tin Maung Swe yang turut serta dalam rombongan menyatakan, saat ini yang dibutuhkan warga Rakhine adalah pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang kesehatan, MER-C siap membantu membangun rumah sakit dengan biaya dari seluruh masyarakat Indonesia. Rencananya, MER-C akan memulai pembangunan rumahsakit di mulai pada bulan Desember 2015 mendatang. Letak rumah sakit sangat strategis karena berada di tengah-tengah komunitas Muslim Rohingya dan Budha. Dalam kunjungannya, hadir para relawan yang telah beberapa kali memberikan bantuan medis ke Myanmar, diantaranya; Ichsan Thalib dan dr. Tonggo Meaty Fransisca. Dalam misi terakhir, Agustus 2015 lalu, MER-C menyumbang ambulance kepada warga Rakhine. MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Organisasi ini dibentuk pada Agustus 1999. (L/Wdo/R03) Sumber : http://mirajnews.com/id/internasional/asia/merc-terima-kunjungan-mensos-rakhine-state-myanmar/
MER-C KEMBALI MENYELENGGARAKAN PROGRAM QURBAN DI GAZA

Jakarta, 25 Dzulqa’dah 1436/9 September 2015 (MINA) – Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Cabang Gaza kembali menyelenggarakan program Qurban untuk warga di Jalur Gaza Palestina, setelah tahun lalu melakukan hal serupa. Program Qurban ini akan dilakukan langsung oleh empat orang relawan RS Indonesia di Gaza, mulai dari memilih, membeli, menyembelih hingga membagikan hewan qurban langsung kepada yang berhak menerimanya. “Kita percaya dengan kapasitas dan kinerja para relawan di sana dalam melaksanakan program qurban tersebut dari pembelian, pemotongan, sampai mengantarkan ke rakyat Gaza,” kata Rima Manzanaris, Manajer Operasional MER-C, kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Rabu (9/9). Menurut informasi dari tim relawan MER-C di Gaza, Ir. Edi Wahyudi, hewan qurban berupa kambing dengan berat 40 kg, di Gaza jika dirupiahkan mencapai harga Rp6 juta/ekor, sedangkan sapi dengan berat 400 kg mencapai Rp34,5 juta (sudah termasuk biaya operasional). “Kita akan buka pendaftaran Qurban bagi para donatur yang ingin menyalurkan bantuan mulai hari ini,” ujar Rima MER-C memberi batas pentransferan dana dari para donatur program tersebut hingga tanggal 18 September 2015. Hal itu untuk mempermudah kepengurusan qurban di Gaza. Bagi yang berminat berqurban untuk dibagikan kepada warga di Jalur Gaza dapat menghubungi Kantor MER-C Pusat Jakarta melalui nomor telepon 021-3159235 atau di telepon genggam 0811990176, . Dana juga dapat ditransfer melalui Rekening Program Qurban MER-C: BSM, Cabang Kramat No. Rek. 701.565.8902 a.n. Medical Emergency Rescue Committee, Bukti transfer dikirimkan ke MER-C mll fax 021-3159256 atau email ke merc@indosat.net.id, website www.mer-c.org, beserta nama lengkap, alamat, no tlp/hp, alamat email. (L/P007/P4) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/merc-kembali-selenggarakan-program-qurban-untuk-gaza-2/
Rute Menantang Jurang Menembus Tolikara

Ahad malam, 26 Juli 2015, lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketua oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara), dan Jalur Gaza, serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Ahad malam (26/7). Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak Februari 2006 melalui Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong. Perjalanan menantang jurang Nur Ikhwan memaparkan kisah perjalanannya pada Senin 27 Juli 2015 untuk mencapai Tolikara, sebagaimana yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA) sebagai berikut: Pukul 12.20 WIT, kami bergerak dari Wamena menuju Tolikara menggunakan mobil Mitsubishi Strada. Alhamdulillah, meskipun hari sudah siang, kami masih bisa mendapat tempat duduk di dalam (bukan di bak belakang mobil), berkat bantuan Sertu Prayogi, teman Pak Abdullah (relawan MER-C yang turut dalam Tim) di Wamena. Sertu Prayogi mengantar hanya sebatas di Wamena saja. Satu mobil mengangkut 16 orang, yaitu dua di depan, empat di tengah (termasuk kami), dan sepuluh di luar. Ongkos pun berbeda, untuk di dalam harganya Rp 250.000 per penumpang dan untuk di luar harganya Rp 150.000 per penumpang. Sebelum berangkat, sopir mencari solar terlebih dahulu untuk cadangan bahan bakar. Harga solar per liter Rp 22.000, sedangkan bensin Rp 20.000 per liter. Setelah bahan bakar penuh, kami mulai berangkat keluar dari Wamena, namun sebelumnya penumpang dihentikan di sebuah rumah makan membeli perbekalan untuk selama perjalanan. Adapun Tim tidak membeli perbekalan, karena seorang sedang shaum (puasa) dan bekal dari Jakarta masih ada. Kemudian kendaraan berpenumpang 16 orang ini mulai bergerak menyusuri jalan pegunungan yang track-nya menantang. Jalan berkelok dan menanjak, ditambah lagi tidak sepenuhnya mulus atau banyak berlubang. Di kanan dan kiri adalah jurang, jika selip sedikit saja, jurang di kanan dan kiri siap menyambut. Diperkirakan, jika perjalanan lancar, akan memakan waktu 4-5 jam. Terjebak di tengah hutan tanpa sinyal Setelah tiga jam perjalanan, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah. Awalnya sopir menduga solar yang dipakai dicampur air oleh penjualnya, sehingga kendaraan tidak ada tenaga untuk menanjak. Namun setelah beberapa kali dicoba, ternyata kampas kopling Mitsubishi Strada ini rusak, sehingga kendaraan tidak bisa bergerak, meskipun sudah coba diperbaiki. Kendaraan dihentikan di tengah hutan pegunungan, kami mulai waspada, terlebih tidak adanya sinyal sedikit pun ditengah hutan seperti itu. Khawatir dengan situasi ini, kami terus tingkatkan kewaspadaan, mengingat ada peringatan dari Sertu Prayogi bahwa sering terjadi para penumpang dibawa ke tengah hutan oleh orang-orang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kendaraan terpaksa balik arah untuk mencari tempat yang ada sinyalnya. Namun sebelum mendapat sinyal, kendaraan sudah tidak dapat bergerak dan berhenti total. Sopir pun meminta semua penumpang turun dan dia akan berjalan kaki menuju ke sebuah tempat untuk menghubungi rekannya agar mengirim kendaraan cadangan. Tidak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Hilux Double Cabin dengan bak belakang kosong melintas. Sopir Mitsubishi Strada langsung hentikan kendaraan tersebut dan meminta agar memberikan tumpangan kepada kami untuk ke Tolikara yang jaraknya masih tiga jam lagi. Setelah negosiasi, akhirnya kami dizinkan naik Toyota Hilux tadi, tapi di bak belakang karena di dalam sudah penuh. Sopir Strada memberi uang Rp 400.000 kepada sopir Hilux sebagai kompensasi untuk empat orang yang ikut di mobilnya. Kemudian ketika akan berangkat, empat orang penumpang Strada ikut juga naik ke kendaraan bersama kami. Dengan sopir orang lokal, kami pun mulai bergerak lagi, track yang kami lalui ternyata jauh lebih menantang dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui sebelumnya ternyata belum apa-apa dari jalan yang kami lalui setelahnya. Mobil terus lanjutkan perjalanan yang terus menanjak, mobil berkali-kali berhenti untuk ambil ancang-ancang ketika akan menanjak. Jalan menanjak, berkelok, bebatuan campur tanah, jika hujan licin dan rawan longsor, kemiringan 45 derajat bahkan lebih. Ketika mobil akan menanjak ke puncak, si sopir berhenti dan meminta empat orang yang tadi naik tanpa persetujuan pemilik kendaraan untuk turun. Alasannya karena daerah tanjakan membuat mobil tidak kuat, dan juga karena mereka tidak bayar seperti kami berempat. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kami akhirnya tiba di Tolikara. Setelah melapor ke Koramil setempat, kami diarahkan untuk menginap di penginapan di belakang kantor Koramil, dekat pasar dan masjid yang dibakar. Keesokannya kami di minta melapor ke posko kemanusiaan yang dipusatkan di kantor bupati lama. (L/P001/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/artikel/feature/rute-menantang-jurang-menembus-tolikara/
MER-C Sosialisasikan Perkembangan Rs Indonesia Di Gaza Kepada Jamaah Masjid Istiqlal

Jakarta, 4 Sya’ban 1436/22 Mei 2015 (MINA) – Lembaga kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melakukan sosialisai perkembangan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina kepada para jamaah masjid Istiqlal usai shalat Jumat. “Dana yang disalurkan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina adalah murni berasal dari masyarakat Indonesia,” kata Ketua Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah kepada jamaah Masjid Istiqlal usai shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (22/5). Henry mengatakan, pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza membutuhkan proses atau waktu yang panjang, yaitu di awali pada tahun 2009 pada saat itu terjadi agresi militer Israel ke Gaza. “Pada saat itu (agresi militer Israel ke Gaza,Red) MER-C awal masuk ke daerah Gaza, Palestina,” kata Henry. Ia juga mengatakan, dana-dana yang masyarakat Indonesia yang terkumpul melalui MER-C pada awalnya ditunjukan untuk pembelian 3 buah ambulan dan obat-obatan yang disalurkan ke Rumah Sakit Asyifa, Gaza. “Kemudian donasi mulai berdatangan dan dari situlah kami mempunyai misi ingin membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina, walaupun saat ini dana yang ada masih kurang, tapi kami yakin semua itu akan terwujud,” ujar Ketua Presidium MER-C. Menurutnya, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza merupakan sebuah bentuk kepedulian rakyat Indonesia untuk membantu rakyat Palestina. “Rakyat Indonesia mendukung secara penuh agar Palestina segera merdeka,” ujar Henry. Sementara Ketua Kontruksi pembangunan Rumah Sakit Indonesia, Farid Thalib mengatakan, hingga saat ini perkembangan Rumah Sakit Indonesia di Gaza sudah dalam tahap akhir. “Banyak keajaiban-keajaiban yang terjadi pada saat proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina,” kata Farid Thalib. Sebelumnya Menteri Agama RI Lukman Hakim Saefuddin secara simbolis menyerahkan dana sebesar Rp. 1 satu miliar untuk Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) di Gaza, Palestina, kepada Ketua Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah usai shalat Jum’at (15/5) di Masjid Istiqlal, Jakarta. “Inilah wujud dari rasa cinta kita kepada masyarakat dan bangsa Palestina, bantuan ini adalah murni dari masyarakat Indonesia, khususnya jamaah Masjid Istiqlal,” kata Menteri Agama saat memberikan sambutan usai Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, di Jakarta, Jumat. Lukman mengatakan, bantuan tersebut merupakan bantuan kesekian kalinya yang diberikan masyarakat Indonesia untuk rakyat Palestina. “Momentumnya juga sangat tepat, yaitu berdekatan dengan peringatan Isra Mi’raj sekarang ini,” kata Lukman. Ia juga menambahkan, dalam Undang-Undang Dasar Indonesia dengan tegas disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa dan perdamaian abadi itulah adalah menjadi cita-cita bagi seluruh bangsa. Rumah Sakit Indonesia di Gaza Rumah Sakit Indonesia di Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Rumah Sakit Indonesia di Gaza merupakan sebuah bangunan berbentuk segi delapan yang didirikan atas sumbangan dari rakyat Indonesia dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pendirian bangunan tersebut. Bangunan yang cukup unik tersebut merupakan sebuah hadiah dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina, dan akan menjadi sebuah sejarah tersendiri. Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Marauke bahu membahu memberikan yang terbaik untuk saudara-saudara mereka di Palestina. Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Tentang MER-C MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional serta netral. Tujuan MER-C adalah memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Awalnya, organisasi ini dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang berinisiatif melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Agustus 1999. Sejak dibentuk, lembaga ini telah mengirim tim medisnya ke berbagai daerah konflik perang, krisis kemanusiaan, wilayah bencana di seluruh dunia. MER-C juga berpartisipasi dalam berbagai misi kemanusiaan nasional dan internasional, salah satunya adalah upaya untuk membuka bloklade Israel atas Jalur Gaza, Palestina, dengan ikut serta dalam konvoi kapal Mavi Marmara 2010. Dengan prinsip rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam), MER-C memberi “pertolongan” kepada semua makhluk, baik personal maupun kelompok tanpa melihat latar belakang, agama, mazhab, kebangsaan, etnis, golongan, politik, penjahat atau bukan, dan pemberontak atau bukan, melainkan atas dasar kegawatan. (L/P010) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/merc-sosialisasikan-perkembangan-rs-indonesia-di-gaza-kepada-jamaah-masjid-istiqlal/
Menag Serahkan 1 Miliar Infaq Jamaah Istiqlal Untuk Gaza

Jakarta (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyerahkan infaq jamaah Masjid Istiqlal sebesar Rp 1 Miliar untuk Rumah Sakit Indonesia yang ada di Gaza, Palestina. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Menag kepada Ketua Presidium MER-C Henry Hidayatullah usai Salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (15/05). Penyerahan bantuan ini diawali dengan pembukaan kain penutup papan pengumuman pemberian infaq jamaah Masjid Istiqlal oleh Dubes Palestina untuk Indonesia. Hadir dalam kesempatan ini, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Bimas Islam Machasin, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Muchtar Ali, Ketua Badan Pelaksana Pengelolan Masjid Istiqlal Mubarok, dan ribuan jamaah Masjid Istiqlal. Menag LHS menyampaikan bahwa hubungan baik masyarakat Indonesia dengan Palestina sudah terjalin sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Palestina adalah negara yang pertama kali memberikan dukungan atas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dukungan itu disampaikan langsung oleh Mufti Palestina, Syekh Muhammd Amin Al Khusaini yang saat itu sedang mengungsi di Berlin, Jerman. “Sejak saat itulah, banyak dukungan dari negara-negara di Timur Tengah untuk kemerdekaan Indonesia,” tegas Menag. Selain itu, pada pada tahun 1948, lanjut Menag, ada juga tokoh Palestina Syekh Ali Tahir yang banyak memberikan bantuan pendanaan kepada para pejuang Indonesia. “Syekh Ali Tahir lah yang menggalang pengumpulan dana yang diserahkan kepada pejuang Bangsa Indonesia,” tuturnys. “Inilah bagian dari keterkaitan hubungan antara masyarakat Indonesia dan Palestina, mereka adalah saudara-saudara kita,” imbuhnya. Menag menegaskan bahwa membantu Rumah Sakit Indonesia di Ghaza merupakan wujud bahwa Bangsa Indonesia terus mendambakan dan memperjuangakan agar bangsa Palestina juga bisa mencapai kemerdekaannya. (Arief/mkd/mkd) Sumber : http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=260015