MER-C Juga Sumbang Ambulans untuk Pengungsi di Myanmar

dr Tonggo Meaty Fransisca (dua dari kanan) menyerahkan secara simbolis bantuan berupa seprai, satung bantal, selimut dan juga satu unit ambulans yang diterima langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi. Bantuan nantinya akan didistrib REPUBLIKA.CO.ID, YANGON, MYANMAR — Meski mendadak tidak mendapat izin melakukan pelayanan medis secara langsung, relawan Mer-C Indonesia yang menjalankan misi kemanusiaan di provinsi Rakhine, Myanmar bulan Februari lalu berhasil masuk ke lebih dari tiga kamp. Dengan kesempatan itu Mer-C bisa melakukan pengamatan lebih detail terkait kondisi yang ada di lapangan, khususnya untuk fasilitas kesehatan. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim mengatakan, dari hasil pengamatan di lapangan, pihaknya menyimpulkan bahwa sejak tahun 2012, ketika Mer-C memberangkatkan tim untuk melakukan assesment dan penyaluran bantuan medis tahap awal, telah terjadi banyak perubahan. Sistem pelayanan kesehatan, khususnya di dalam kamp saat ini telah berjalan baik. Namun prasarana penunjang kesehatan di sana masih kurang. Berdasarkan hal tersebut, wanita yang akrab disapa Mea ini menyatakan, pihaknya saat itu juga langsung memutuskan untuk memberi bantuan tambahan berupa seprai, sarung bantal, selimut selain obat-obatan dan paket alat kesehatan. Tidak hanya itu, Mer-C juga memberikan satu unit ambulans “Awalnya kita tidak tahu, tapi ternyata mereka lebih butuh itu,” kata Mea. Dengan fasilitasi dari pihak KBRI di Myanmar, Mer-C berhasil merampungkan bantuan tersebut hanya dalam waktu empat hari untuk kemudian disalurkan melalui pihak KBRI di Yangon, Myanmar. “Kita melihat apa prasarana yang kurang di sana. Dan yang paling terpenting adalah ambulans,” kata Mea. Bantuan tersebut kemudian secara resmi diserahkan dan diterima langsung kepada Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi pada 25 Februari 2015. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlawac-merc-juga-sumbang-ambulans-untuk-pengungsi-di-myanmar
Mer-C Indonesia Salurkan Obat-obatan ke Pengungsi di Myanmar

Penyerahan simbolis bantuan obat-obatan dari tim kemanusiaan MER-C Indonesia untuk pengungsi di Rakhine, Myanmar, yang diterima oleh Dr. Aung Thurein selaku Deputy State Health Director of Sittwe REPUBLIKA.CO.ID, RAKHINE, MYANMAR — Organisasi kemasyarakatan sosial Medical Emergency Committee (MER-C) Indonesia kembali mengirim relawan ke provinsi Rakhine, Myanmar. Dalam misi yang berlangsung selama 11 hari pada bulan Februari kemarin, tim Mer-C melakukan sejumlah kegiatan. Mulai dari pemberian obat-obatan serta paket alat kesehatan. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim mengatakan, sedianya MER-C akan melakukan pengobatan medis secara langsung di dalam kamp. Namun karena izin ketat yang diterapkan pemerintah Myanmar, tim tidak dapat melakukan kegiatan tersebut. Padahal sebelumnya tim telah mengurus segala perizinan yang dibutuhkan. “Kita memang sudah persiapkan diri dari Jakarta bahwa berdasarkan pengalaman, misi di Myanmar tidak pernah berjalan mulus, pasti ada yang berubah,” kata Fransesca. Kendati demikian, lanjut wanita yang akrab disapa Mea ini, berkat lobi yang cukup alot dengan pemerintah Myanmar, khususnya dengan negara bagian Rakhine, pihaknya diizinkan masuk ke lebih dari satu kamp. Padahal berdasarkan izin yang didapat sebelumnya, Mer-C hanya mendapat izin masuk ke satu kamp. “Setidaknya kita bisa masuk ke empat kamp muslim dan tiga kamp Rakhine. Dari situ kita bisa lihat langsung bagaimana keadaanya, khususnya fasilitas kesehatan,” kata dia. Dr. Aung Thurein selaku Deputy State Health Director of Sittwe mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia berjanji akan menyalurkan bantuan obat-obatan dengan baik. “Terima kasih yang besar atas hal ini, saya akan pastikan obat-obatan dan paket alat kesehatan diberikan secara baik dan kepada orang-orang yang tepat,” kata dia. Thurein menjelaskan, sistem pelayanan kesehatan di Sittwe termasuk di dalam kamp telah berjalan baik. Di setiap kamp terdapat pusat kesehatan yang disebut sebagai Self Centre. Di jenjang ini self centre melakukan pemeriksaan dan pengobatan untuk penyakit-penyakit yang tergolong ringan. Namun jika pasien diputuskan untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut, pasien akan dirujuk ke Health Centre yang letaknya berada di tingkat semacam kecamatan. Setiap kecamatan setidaknya memiliki lima hingga 10 Health Centre. “Tentunya tergantung juga pada luasnya area dan besaran populasi,” kata dia. Setelah itu, di tingkat paling atas adalah fasilitas di setingkat Kabupaten/Kota. Di tingkat ini terdapat Station Hospital yang dapat memberikan perawatan lebih mendalam. “Sarana dan prasarana di fasilitas ini sudah mencukupi, bisa untuk city scan juga tindakan operasi,” kata dia. Dalam menjalankan sistemnya itu, Thurein menjelaskan pihaknya memiliki 224 orang tenaga medis yang terdiri dari 43 dokter dan 95 perawat serta tenaga medis lainnya. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlam7r-merc-indonesia-salurkan-obatobatan-ke-pengungsi-di-myanmar
MER-C Indonesia Siapkan Program Jangka Panjang untuk Pengungsi di Myanmar

dr. Tonggo Meaty Fransisca (dua dari kiri) selaku ketua tim kemanusiaan kedua MER-C untuk Myanmar tengah berbincang dengan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi di kantor KBRI di Yangon, Myanmar. REPUBLIKA.CO.ID, YANGON — Organisasi kemasyarakatan sosial Medical Rescue Emergency Commitee (MER-C) Indonesia kembali mengirim tim kemanusiaan ke provinsi, Rakhine, Myanmar. Ini adalah kali kedua MER-C Indonesia mengirim tim ke Myanmar, setelah pada 2012 lalu MER-C memberangkatkan tim untuk melakukan assesment dan penyaluran bantuan medis tahap awal. Dalam misi kedua ini, MER-C mengirim tujuh orang relawan, yang terdiri dari satu dokter spesialis penyakit dalam, dua dokter umum, dua perawat, serta dua relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik. Tim berangkat pada Senin (19/2) lalu. Keberangkatan tim dilepas dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Berbeda dengan tim sebelumnya, tim kedua ini memiliki target berbeda. Tim memiliki misi jangka pendek dan jangka panjang. Target jangka pendek adalah kembali masuk ke dalam pengungsian dan menyalurkan bantuan medis secara langsung. Sementara program jangka panjang adalah membangun “Indonesia Health Center” dan program lanjutan lainnya. Tim berangkat tepat pukul 13.10 WIB dan tiba di Yangon International Airport pada pukul 18.05 waktu setempat. Sebelumnya tim transit lebih dulu di Suvarnabhumi International Airport, Bangkok. Keesokan paginya, Selasa (20/2), tim bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr. Ito Sumardi. Dalam kesempatan itu dr. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim memaparkan sejumlah misi yang akan dilakukan MER-C selama di Myanmar. “Yang pasti adalah menindaklanjuti assessment sebelumnya, yakni memberikan bantuan medis secara langsung untuk kedua belah pihak (Rohingya dan Rakhine),” kata Mea. Selanjutnya, kata dia, tim juga akan melihat sekaligus menentukan program jangka panjang yang tepat untuk dilakukan MER-C, sesuai dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia. “Diantaranya adalah pembangunan Indonesia Health Centre sekaligus mengirim dokter dua bulan sekali. Karena berdasarkan hasil assessment pertama, klinik adalah fasilitas yang sangat dibutuhkan para pengungsi,” kata Mea. Menanggapi hal ini Ito Sumardi sangat mengapresiasi apa yang dilakukan MER-C Indonesia. Menurutnya hal ini akan membantu mempercepat proses rekonsiliasi antara dua kelompok, khususnya yang berada di Sitwe, Rakhine, Myanmar. “Kebanggan buat kami bahwa MER-C Indonesia dapat berkontribusi membantu pelaksanaan proses rekonsiliasi,” kata Ito. Ito menyatakan pihaknya akan membantu sepenuhnya MER-C Indonesia dalam mewujudkan sejumlah misi dan program yang dibawa. Pemerintah Indonesia, kata Ito, juga menaruh perhatian yang besar pada proses rekonsiliasi. Diantaranya pada Desember 2014 lalu pihaknya meresmikan empat sekolah bantuan pemerintah Republik Indonesia di Rakhine, Myanmar. Empat sekolah yang dibangun dengan dana 1 juta dolar AS itu terletak di tiga desa di Rakhine, Myanmar. “Kita 1000 persen dukung,” kata Ito. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/15/03/03/nkmmek-merc-indonesia-siapkan-program-jangka-panjang-untuk-pengungsi-di-myanmar
Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk Rakyat Palestina

(Analisa/Mahjijah Chair) TANDATANGAN: Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi disaksikan Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis (baju putih) dan Ketua MER-C Cabang Medan dr Ahmad Handayani (pakai rompi) menandatangani plakat Gerakan Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk rakyat Gaza, Palestina. Medan, (Analisa). Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi mengapresiasi dan salut kepada MER-C (Medical Emergency Rescue Commitee (Komite Unit Gawat Darurat) Cabang Medan yang telah berhasil mengumpulkan wakaf dari masyarakat Sumatera Utara yang dimanfaatkan untuk pembelian alat medis Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. “MER-C dengan segenap masyarakat telah mengumpulkan dana untuk membangun Rumah Sakit Indonesia yang sangat dibutuhkan di Gaza, yang setiap hariny menelan korban cukup banyak. Oleh karena itu tentunya pemerintah, khususnya Sumatera Utara harus mengangkat topi setinggi-tingginya kepada MER-C yang merupakan satu lembaga yang terkenal di bidang sosial, khususnya bidang kesehatan karena kepedulian yang luar biasa telah menggerakkan masyarakat,” jelas Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi usai menyerahkan dana waqaf masyarakat Sumut kepada Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis di Aula Fakultas Farmasi, Minggu (25/1). Dikatakannya, apa yang dilakukan oleh MER-C Medan ini salah satu cara untuk membantu para korban perang. Jika ingin membantu tidak mesti mengangkat senjata. “Banyak cara lain yang bisa dilakukan, salah satunya seperti yang diprakarsai oleh MER-C ini,” pujinya. Memang, uang yang telah dikumpulkan oleh MER-C ini tidak begitu banyak. Namun paling tidak sudah dapat membantu masyarakat yang membutuhkan jasa kesehatan. “Dan kita harus mengapresiasi MER-C ini,” katanya. Ketua MER-C Medan Dr Ahmad Handayani mengungkapkan, dana waqaf masyarakat Sumut yang berhasil dikumpulkan itu sebesar Rp900 juta. Dana itu akan digunakan membeli peralatan medis untuk RS Indonesia di Palestina. “Dana yang diserahkan oleh Wagubsu untuk rakyat Gaza itu melalui dr Jose Rizal yang merupakan Presidium MER-C Indonesia sebesar Rp900 juta,” ujarnya didampingi Ketua Panitia dr M Ari Irsyad. Disebutkannya, dana yang terkumpul itu berasal dari sekolah, organisasi masyarakat, perorangan, komunitas, fakultas, mahasiswa dan semua elemen masyarakat Sumatera Utara. “MER-C Medan hanya mengumpulkan saja,” cetusnya seraya menambahkan RS Indonesia di Palestina itu dibangun sejak tahun 2009 menghabiskan dana Rp42 miliar. Sementara untuk alat medis menggelontorkan biaya Rp75 miliar dan sudah terpenuhi. “Semua dana berasal dari masyarakat Indonesia, tidak ada dari masyarakat asing,” cetusnya. Sementara Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis menyampaikan dokumentasi kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan di Palestina dengan membantu para korban perang. Bersamaan dengan penyerahan waqaf itu, sebelumnya diselenggarakan Seminar Ilmiah Tahunan untuk ketiga kalinya dengan menghadirkan 500 peserta yakni, dokter, mahasiswa kedokteran dan perawat se-Sumatera. Seminar yang mengusung tema Manajemen Sesak Fafas itu menghadirkan pembicara Prof dr Asnan Lelo, Prof dr Sutomi Kasiman SpPD SpJP (K), dr Widi Rahardjo SpP, de jose Rizal Jurnalis SpOT dan dr Andika Kesuma SpP, dr Irfan Hamdani SpAN dan dr Hasanul Arifin SpAN dan lainnya. “Kegiatan ini diakreditasi oleh IDI Sumatera Utara sebesar 30 Satuan Kredit Profesi (SKP),” ujarnya. Turut hadir dalam acara itu Ketua IDI Sumut dr Suhelmi SpB dan Ketua Forum Umat Islam (FUI) Ustazd Leo Insar, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Kadiskes Sumut dr RR SH Surjantini MKes dan staf dan lainnya. (mc) Sumber : http://analisadaily.com/news/read/wakaf-masyarakat-sumut-untuk-rakyat-palestina/102234/2015/01/26
MER-C Salurkan Bantuan Tunai Rp. 500 Juta Rupiah Lebih Untuk Keluarga Syuhada Gaza

Muhammad Karidi (Kedua dari kiri) Relawan Mer-c Indonesia, saat penyerahan secara simbolis bantuan untuk keluarga Syuhada Gaza. foto : mirajnews.com Gaza, 17 rabiul Awwal 1436/ 8 Januari 2015 (MINA) – Medical mergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan berupa santunan untuk keluarga syuhada di Jalur Gaza sebesar Rp. 500 juta lebih. Santunan berupa uang tunai tersebut diserahkan oleh Muhammad Karidi, salah satu relawan MER-C Indonesia, yang diterima secara simbolis oleh perwakilan salah satu keluarga syuhada Abu Musthafa Al Qanu’ pada acara bertema “Kemuliaan untuk Keluarga Syuhada” di Jabaliya, Utara Jalur Gaza, Kamis 8/1. Abu Musthafa mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia dan MER-C atas bantuan kepada keluarga syuhada. “Merupakan salah satu bentuk penghormatan untuk keluarga yang ditinggalkan,” tuturnya. Sementara itu Muhammad Karidi, relawan MER-C yang saat ini sedang mengemban amanah membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza mengatakan, bantuan ini adalah salah satu bentuk santunan kepada keluarga syuhada, khususnya untuk anak-anak yatim dan janda yang ditinggal selamanya oleh ayah dan suami mereka, akibat serangan Israel tahun lalu. Relawan Mechanical Electrical ini lebih lanjut menjelaskan, selain membangun Rumah Sakit Indonesia, MER-C yang sudah mencapai tahap akhir penyelesaiannya juga menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan kepada rakyat Gaza, khususnya sejak serangan terakhir Israel tahun lalu. “Ini bukan kali pertama Mer-c menyalurkan bantuan kemanusiaan, lainnya -menyalurkan bantuan berupa paket sembako, paket perlatan masak, bantuan untuk anak sekolah dan bantuan uang tunai untuk keluarga yatim” kata Karidi. Penyaluran bantuan MER-C di Gaza dilakukan lebih bisa terarah dan tepat sasaran, karena disalurkan langsung oleh relawan-relawan asal Indonesia yang sedang melaksanakan amanah di Jalur Gaza. “Penyaluran bantuan dari rakyat Indonesia, disalurkan langsung oleh para relawan sehingga bisa tepat sasaran dan langsung diterima oleh rakyat Gaza,” jelasnya. Ketika ditanya tentang progress pembangunan RS Indonesia, Karidi menjelaskan bahwa pembangunan sudah mencapai tahap akhir dan tinggal menunggu alat kesehatan. “RS Indonesia secara fisik telah selesai, saat ini kita sedang menunggu datangnya alat kesehatan yang sudah d-order, setidaknya perlu 6-7 pekan ke depan alat-alat itu akan segera berdatangan” ujarnya. Karidi juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas semua bantuan dan sumbangan yang dipercayakan kepada MER-C. “Atas nama relwan MER-C di Gaza, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan kepercayaanya kepada MER-C menyalurkan bantuan kepada Palestina, semoga ALLAH membalas semua bantuan yang rakyat Indonesia berikan,” kataya. Koresponden MINA di Gaza melaporkan, ada cerita menarik ketika relawan MER-C akan menyerahkan bantuan tersebut kepada Abu Ali salah satu penanggungjawab acara. Abu Ali menjelaskan bahwa mendekati detik acara, panitia cukup kebingungan karena bantuan yang hendak diserahkan kepada keluarga para syuhada tidak mencukupi. “Sejak pagi tadi kami panitia cukup bingung, karena tidak memiliki uang yang cukup untuk menyantuni keluarga keluarga-keluarga yatim tersebut” ujarnya. “Setelah shalat subuh tadi saya berdoa dan memohon kepada ALLAH agar memberikan rizki kepada anak-anak yatim dan kelurga syuhada, bahkan teman-teman panitia menanyakan kepada saya sejak pagi tadi, apakah bantuan untuk syuhada sudah cukup?” ujarnya menceritakan. Ia menambahkan “Saya katakan kepada mereka, bahwa ALLAH yang akan mencukupkan, dan kita tunggu hingga setelah dhuhur nanti, semoga ALLAH berikan jalan keluar.” Benar saja ketika tim Mer-c datang tepat sesaat setelah dhuhur dan menyampaikan bantuan tersebut, Abu Ali sangat bersyukur dan bertasbih kepada ALLAH. “Subhanallah, ALLAH Maha Memberi Rezeki, sejak tadi saya menunggu apakah doa kami akan terkabulkan, ternyata kalian yang diutus ALLAH dan datang membawa bantuan tersebut” kata Abu Ali dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat meyakini bahwa keluarga para syuhada ini tidak akan disia-siakan oleh ALLAH, kami ucapkan terima kasih, sekali lagi terima kasih,” ujarnya penuh rasa syukur. (K01/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/merc-salurkan-bantuan-tunai-rp-500-juta-rupiah-lebih-untuk-keluarga-syuhada-gaza/
FPI Kembali Sumbang 500 Juta Rupiah Untuk RS Indonesia Di Gaza

Front Pembela Islam (FPI) saat memberikan sumbangan dana untuk RS Indonesia, di Gaza, Palestina kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) (Foto: Chamid/MINA) Jakarta, 12 Rabiul Awwal 1436/3 Januari 2015 (MINA) – Front Pembela Islam (FPI) kembali menyumbangkan dana sebesar Rp 500 juta untuk bank darah di Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. Imam besar FPI, Habib Rizieq Syihab menyatakan hal itu dalam acara Tablig Akbar di Jakarta, Jum’at (2/1) malam. “Alhamdulillah, tahap pertama beberapa waktu lalu sudah kita sumbangkan sebesar Rp 500 juta dan sekarang kita sumbangkan lagi tahap kedua sebesar Rp 500 juta. Insya Allah bulan depan kita akan berikan lagi Rp 500 juta, jadi total Rp. 1,5 milyar, ” kata Rizieq. Sumbangan tersebut disalurkan melalui lembaga kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang langsung diserahkan kepada ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah, disaksikan para jamaah tablig akbar di Petamburan, Jakarta. “Bantuan ini 100 persen berasal dari masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke melalui FPI,” imbuhnya. FPI sebelumnya juga telah memberikan bantuan dananya melalui MER-C sebesar Rp 500 juta yang diterima oleh Presidium MER-C, Jozerizal Jurnalis dan ketua pembangunan RS Indonesia di Gaza, Farid Thalib dalam acara Tablig Akbar FPI di Jakarta, Ahad (7/12) lalu. FPI adalah sebuah organisasi massa Islam yang berpusat di Jakarta. Selain beberapa kelompok internal, FPI memiliki kelompok Laskar Pembela Islam, kelompok paramiliter yang melakukan aksi-aksi “penertiban” (sweeping) terhadap kegiatan-kegiatan yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan Syariat Islam terutama pada bulan Ramadan. FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 bertepatan dengan 24 Rabiuts Tsani 1419 H di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, Jakarta Selatan. FPI dibentuk oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan aktivis Muslim serta disaksikan ratusan santri yang berasal dari Jabotabek. FPI dibentuk dengan tujuan untuk mencegah kemunkaran dan kemaksiatan di Indonesia. Hingga kini, sebanyak 19 relawan Indonesia di RS Indonesia masih berada di Jalur Gaza untuk menyelesaikan pekerjaan akhir Rumah Sakit Indonesia serta mengawal pengadaan alat kesehatan agar rumah sakit dapat segera beroperasi. Sebelumnya MER-C juga menerima sumbangan dari komunitas musik metal sebesar Rp 89.615.000, PT. Samick Indonesia, perusahaan Korea yang memproduksi alat musik gitar dan piano, menyumbang Rp 64.963.500 dan komunitas musik aliran underground Bandung sebesar 2.002.200 rupiah serta Orang Indonesia (OI) atau Iwan Fals Fans Club (IFFC) sebesar 90.866.900 sebagai bentuk persaudaraan pada warga Gaza, Palestina. (L/P010 Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/fpi-kembali-sumbang-500-juta-rupiah-untuk-rs-indonesia-di-gaza/
MER-C Kirim Medis Ke Berau Tangani Manusia Perahu

Tim Medis Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) untuk misi kemanusiaan. Foto : MINA Jakarta, 8 Rabi’ul Awwal 1436/30 Desember 2014 (MINA) – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kirim delapan personel tim medis ke Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (KALTIM) memberikan bantuan pelayanan kesehatan kepada 600 manusia perahu. Atas permintaan kementerian kelautan dan kelautan untuk misi kemanusiaan, delapan tim medis terdiri dari tujuh dokter dan satu personel logistik, diantaranya Dr. H. Hadiki Habib (Spesialis Penyakit Dalam, Ketua Tim), Islamiyah Samaun (Logistik, Anggota), Elisabeth Lilyanan Sarri (Dokter Gigi, Anggota), Dian Fridayani (Dokter Umum, Anggota), Tb Moch Aria Santika (Dokter Umum, Anggota), Kemas Muhammad H. Rizki (Dokter Umum, Anggota), Riska Hastari (Dokter Umum, Anggota), Akbar Septian (Dokter Umum, Anggota) berangkat menuju ke lokasi, Selasa. Keberangkatan pada hari ini terdiri dari dua tim, tim pertama terdiri atas dua orang dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia melalui rute Balik Papan, tim kedua terdiri dari enam orang berangkat dengan pesawat dan rute yang sama. Koordinator bidang klinik umum Mer-c sekaligus bagian dari logistik dari keberangkatan, Islamiyah Samaun mengatakan untuk pembiyaan transportasi dan akomodasi ditanggung oleh kementerian Kelautan, sementara untuk obat-obatan ditanggung oleh MER-C. “Pelayanan kesehatan ini berlangsung selama sepekan atas permintaan menteri kelautan,” ujar Islamiyah Samaun. Islamiyah juga mengaskan harapannya untuk misi kemanusiaan kali ini bisa lancar dan diberi kemudahan oleh Allah SWT. “Semoga nantinya pasien bisa puas dengan apa yang kita lakukan dan semua ini berjalan lancar hendaknya,” ujar Iis, sapaan akrab Islamiyah. Harapan yang sama juga datang dari salah satu Dokter, Akbar Septian mengatakan kita sebagai tim dokter siap dengan segala hal, semoga misi ini berjalan lancar dan manusia perahu bisa kembali dengan kondisi yang baik. MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional serta netral. Tujuan MER-C adalah memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. (L/P007/R03) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/merc-kirim-tim-medis-ke-berau-tangani-manusia-perahu/
Ormas “Orang Indonesia” Sumbang Gaza Disaksikan Iwan Fals

Sekjen ormas OI Ainur Rofiq saat memberikan bantuan kepada ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah (Foto:Chamid/MINA) Depok, 5 Ra’biul Awwal 1435/27 Desember 2014 (MINA)– Kepedulian terhadap Palestina tak berhenti, Sabtu sore, Sekjen Ormas Orang Indonesia (OI) Ainur Rofiq mewakili anggotanya memberikan bantuan dana sebesar Rp. 90.866.900 untuk Gaza, Palestina. OI sebelumnya bernama Iwan Fals Fans Club (IFFC) yang menghimpun penggemar-penggemar penyanyi Iwan Fals yang dikenal dengan karya-karyanya yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi. Sumbangan tersebut disalurkan melalui lembaga kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang langsung diserahkan kepada ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah, disaksikan musisi Iwan Fals, Ketua KPK Abraham Samad dan para penonton Konser Pelangi di Panggung Kita, Leuwinanggung, Tapos, Depok, Sabtu sore. “Kami menyediakan nomor rekening tersendiri bagi anggota Ormas OI yang akan memberikan bantuan dana untuk Palestina, hal itu untuk memudahkan mereka ketika ingin menyumbang,” kata Sekjen Ormas OI Ainur Rofiq kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Rofiq mengatakan, kepedulian Ormas OI kepada Palestina berawal dari adanya agresi Israel yang dilakukan kepada Palestina. Sehingga ia dan anggotanya selama 6 bulan sepakat menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk disumbangkan kepada rakyat Palestina. “Bukan hanya anggota Ormas OI di seluruh Indonesia saja, akan tetapi yang diluar negeri pun juga banyak memberikan bantuannya kepada rakyat Gaza di Palestina, misalnya; Hongkong, Mesir, Jepang, Swiss,” kata Rofiq. Dia juga mengatakan, bukan hanya kali ini saja ormas OI memberikan bantuan kemanusiaan, sebelumnya mereka juga aktif terlibat diberbagai kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Ormas OI asal mulanya adalah komunitas Iwan Fals Fans Club (IFFC). Pertemuan pertama dilaksanakan pada 15-17 Agustus 1999 di tempat tinggal Iwan Fals, Desa Leuwinanggung, Depok. “Terakhir kami juga ikut turun membantu mengevakuasi korban longsor di Banjarnegara,” ujarnya. Ia menambahkan, selain dari anggota-anggota OI, sumber dana juga didapatkan dari setiap konser Iwan Fals dan Band yang diselenggarakan, mereka biasanya meletakan tiga kardus di depan pintu masuk panggung konser sebagai kotak amal peduli Palestina. “Kami sengaja menyerahkan bantuan ini melalui MER-C, karena kami tahu lembaga ini sangat peduli dan aktif membantu kegiatan sosial di Palestina,” katanya. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Iwan Fals saat menerima kaos Rumah Sakit Indonesia dari ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah (Foto: Chamid/MINA) MER-C adalah lembaga medis kemanusiaan yang memprakarsai pembangunan RS Indonesia di Gaza berdasarkan amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Hingga kini, sebanyak 19 relawan Indonesia di RS Indonesia masih berada di Jalur Gaza untuk menyelesaikan pekerjaan akhir Rumah Sakit Indonesia serta mengawal pengadaan alat kesehatan agar rumah sakit dapat segera beroperasi. Sebelumnya MER-C juga menerima sumbangan dari komunitas musik metal sebesar Rp 89.615.000, PT. Samick Indonesia, perusahaan Korea yang memproduksi alat musik gitar dan piano, menyumbang Rp 64.963.500 dan komunitas musik aliran underground Bandung sebesar 2.002.200 rupiah sebagai bentuk persaudaraan pada warga Gaza, Palestina. (L/P010/R11/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/ormas-oi-sumbang-puluhan-juta-untuk-gaza-di-palestina/
MER-C Berikan Santunan Kepada Keluarga Relawan RS Indonesia

Mer-C Berikan santunan kepada Relawan RS Indonesia (Foto : MINA) Jakarta, 2 Rabi’ul Awwal1436H/24 Desember 2014M (MINA) – Lembaga Swadaya Masyarakat Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) menyalurkan santunan kepada keluarga relawan Rumah Sakit Indonesia yang ada di Indonesia. Sumbangan ini adalah untuk memperkuat kondisi keluarga relawan yang ditinggal sumbangan ini berupa Sembilan bahan Pokok (sembako) yang akan diterima langsung kepada keluarga relawan RS Indonesia yang ada di Indonesia, kata Mer-C kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta. Selasa Mer-C mengakui sudah berkunjung keluarga-keluarga relawan RS Indonesia di Gaza mereka sangat bangga tugas mulia yang dilakukan didaerah konfilik”. Dia menambahkan, Santuan belam bentuk sembako tersebut diterima langsung kepada keluarga Relawan. Sementara Supdiani yang merupakan Ayah dari Muhamad gulam romdony relawan RS Indonesia mengatakan, “terima kasih atas santunan dari pihak Mer-C yang sudah menyempatkan waktu bersilaturohim ke rumah kami”, ujar Supdiani. Supdiani mengaku Insyallah anak kami ingin menikah, maka jika nanti anaknya pulang akan dilangsungkan pernikahannya, Keluarga terdekat para relawan RS Indonesia di Gaza mengaku sedih ditinggalkan. Namun mereka senang dan bangga karena orang-orang yang dicintai itu berangkat untuk membantu saudaranya di Palestina. Selain itu, Maryam yang merupakan anak relawan Ngatiat (Bogor) mengungkapkan, “Alhamdulillah senang dan bangga, karena Bapak bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana (Gaza). Kami mendukung sejak awal, sebab itu perjalanan ibadah yang bagus,” kata Maryam yang masih duduk di kelas dua Madrasah Aliyah . (L/P002/R03) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/merc-berikan-santunan-kepada-keluarga-relawan-rs-indonesia/
Kemenkes Gaza Sangat Memerlukan rumah Sakit Indonesia Segera Beroperasi

Dr. Abdullatif Al-Haj, Direktur Umum Rumah sakit se-Jalur Gaza. (Foto: MINA) Jalur Gaza, 26 Shafar 1436/19 Desember 2014 (MINA) – Pejabat Tinggi Kementerian Kesehatan Palestina juga menjabat sebagai Direktur Umum Rumah Sakit se-Jalur Gaza, Abdullatif Al-Haj, mengungkapkan tentang kondisi Gaza yang saat ini sangat memerlukan Rumah Sakit (RS) Indonesia untuk bisa segera beroperasi. Pernyataan Abdullatif Al-Haj itu disampaikan di sela-sela kunjungannya bersama para pejabat Kementerian Kesehatan Palestina ke RS Indonesia di utara Gaza, Rabu (17/12). “Warga Jalur Gaza, khususnya yang berdomisili di wilayah utara sangat membutuhkan keberadaan Rumah Sakit Indonesia ini. Kami sangat mengharapkan Rumah Sakit Indonesia ini bisa segera beroperasi,” ungkap Abdullatif Kepada Koresponden Kantor Berita Islam Mi’raj (Mi’raj Islamic News Agency-MINA) di Gaza. Menurut dia, kebutuhan mendesak tersebut dikarenakan semakin parahnya krisis kesehatan yang mendera Jalur Gaza terutama setelah agresi militer pendudukan Israel atas Jalur Gaza selama 51 hari pada Juli-Agustus lalu. Abdullatif mengatakan, sebelum terjadinya agresi militer Israel akhir-akhir ini, krisis medis yang dialami oleh seluruh rumah sakit sudah parah karena blokade yang diterapkan entitas Zionis itu selama lebih dari delapan tahun. “Setelah agresi militer Zionis, krisisnya semakin parah. Apa lagi selama agresi berlangung seluruh sumber daya medis di Gaza terkuras habis,” ujarnya. Dia menambahkan, kondisi parah itu semakin diperburuk oleh kebijakan pemerintah Mesir yang menutup pintu perbatasan Rafah selama lebih dari dua bulan sehingga tidak ada delegasi medis mau pun umum yang bisa masuk ke Gaza. Dalam kunjungan singkat yang dipimpin oleh Wakil Menteri Kesehatan Palestina tersebut, Abdullatif menjelaskan di antara kendala yang menimpa sektor kesehatan di Gaza adalah minimnya biaya operasional yang masuk dan tidak sesuai dengan kebutuhan. “Sedikitnya dibutuhkan dana sebesar 25 juta shekel (80 miliar rupiah) per bulan untuk seluruh rumah sakit di Jalur Gaza agar bisa beroperasi. Namun, kenyataannya hanya sekitar 1,5 shekel (lima Miliar rupiah) dana yang masuk dalam satu bulannya. Hal tersebut menyebabkan lebih dari 60 persen petugas medis Gaza harus bekerja tanpa gaji dalam beberapa bulan terakhir,” ungkap Abdullatif. Terima Kasih Indonesia Delegasi Kemenkes Palestina bersama tim relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. (Foto: MINA) Sebelum mengakhiri kunjungannya, Abdullatif menitip pesan kepada Pemerintah Indonesia bahwa rakyat Palestina sangan berterima kasih atas segala dukungan yang selama ini diberikan dan mengharapkan peningkatan bantuan serta dukungan tersebut melihat Indonesia memiliki potensi yang lebih sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. “Kami sangat berterima kasih kepada Indonesia yang terus komitmen dan konsisten dalam mendukung perjuangan Palestina. Harapan kami, Indonesia dapat meningkatkan dukungannya karena kami melihat Indonesia merupakan negara yang sangat besar dan kaya akan sumber daya alam. Kami yakin Indonesia dapat melakukan hal yang lebih untuk Palestina,” kata Abdullatif. Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, utara Gaza, merupakan sebuah bangunan berbentuk segi delapan yang didirikan atas sumbangan dari rakyat Indonesia dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pendirian bangunan tersebut. Bangunan yang telah selesai ini kini tinggal menunggu pengadaan alat kesehatan untuk segera beroperasi awal tahun depan. Bangunan yang cukup unik tersebut merupakan sebuah hadiah dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina, dan akan menjadi sebuah sejarah tersendiri. Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke bahu membahu memberikan yang terbaik untuk saudara-saudara mereka di Palestina.(L/K02/K03/R05) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/kemenkes-gaza-sangat-memerlukan-rumah-sakit-indonesia-segera-beroperasi/