MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

WANADRI: JANGAN PERNAH LARI DARI URUSAN NYAWA MANUSIA

Ketua Tim SAR Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Soma Suparsa. (Foto: MER-C) Bandung, 11 Sya’ban 1435/9 Juni 2014 (MINA) – Ketua Tim SAR Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Soma Suparsa  atau akrab di panggil kang Soma mengatakan, jangan pernah lari dari urusan nyawa manusia. “Jangan pernah lari atau diam dari urusan nyawa manusia,” katanya saat menjadi salah satu pembicara dalam sesi diskusi pada acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina.  Dalam diskusi tersebut Kang Soma menegaskan bahwa Wanadri akan menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan tidak pernah membedakan suku, ras dan bangsanya. “Kami akan menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan tidak pernah membedakan suku, ras dan bangsanya. Oleh karena itu kami siap menurunkan relawan ke Gaza jika memungkinkan,” kata Soma. Kemudian Soma juga menegaskan bahwa Wanadri siap membekali relawan yang akan di kirim ke Gaza, Palestina jika memang diperlukan. Maximum Theory Band, melaui Vokalisnya Hengy Saing dalam sesi itu juga mengatakan bahwa bandnya sangat mensupport gerakan 50 ribu untuk pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza ini. Ia mengatakan banyak musisi Indonesia yang juga concern dalam kegiatan kemanusiaan. “Mereka (para musisi) banyak yang bersedia membantu orang yang membutuhkan,” kata Hengky. Acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alat kesehatan (alkes) RS Indonesia diadakan di Saung Angklung Udjo, Bandung  dihadiri oleh istri wali kota Bandung Ridwan Kamil, Budayawan Aat Suratin, Maximum Theory Band dan pelukis cilik, Salma Khairannisa. Sebelumnya, kampanye Pengadaan Alkes RS Indonesia dilakukan di Jakarta. Kampanye untuk Pengadaan alkes RS Indonesia tersebut juga didukung oleh beberapa musisi ternama Indonesia seperti Slank, Wali, Naif, Ombat Tengkorak dan lain-lain. (L/P015/P04). Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/wanadri-jangan-pernah-lari-dari-urusan-nyawa-manusia                

Kampanye Pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia Digelar di Bandung

Bandung – Alhamdullilah, berkat rahmat Allah SWT dan atas dukungan dari rakyat Indonesia, pembangunan gedung Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina dinyatakan telah selesai. Rumah Sakit Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dan berliku-liku sejak kemunculan gagasannya pada masa agresi militer Israel di Gaza di tahun 2008/2009 lalu. Rumah sakit ini juga tidak akan menjadi bangunan yang megah seperti sekarang ini tanpa dukungan dari begitu banyak pihak yang telah merapatkan barisan selama beberapa tahun lamanya baik lewat pemikiran, tetes keringat, dana, pemberitaan, doa, waktu, dan dukungan semangat, yang insya Allah itu semua akan menjadi bukti bagi rakyat Palestina dan dunia, bahwa uluran tangan tanda persaudaraan dari rakyat Indonesia telah sampai dan diterima oleh rakyat Palestina, dan semoga tali persaudaraan ini akan terjalin untuk selamanya. Kembali dukungan kita dinanti oleh rakyat Palestina. MER-C mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bahu-membahu melengkapi pengadaan alat kesehatan bagi Rumah Sakit Indonesia yang memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Alhamdullilah, Pembaca Republika telah mengawali donasi bagi alat kesehatan di Ruang Poliklinik sebesar satu milyar rupiah, serta Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) telah menyumbangkan dana sebesar 650 juta rupiah untuk melengkapi Ruang Farmasi.   Untuk memulai sosialisasi dan kampanye pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia, MER-C meluncurkan gerakan 50 ribu rupiah per orang dan gerakan wakaf ruangan bagi lembaga/perusahaan/instansi. Dukungan pun datang dari berbagai pihak yang kemudian sejumlah pernyataan dari para artis dan tokoh diabadikan dalam video campaign Rumah Sakit Indonesia.   Peluncuran video campaign pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia telah diadakan di Jakarta pada 30 April 2014 dan menyusul di Medan pada tanggal 25 Mei 2014. Kini MER-C kembali menggelar acara serupa di Bandung, Jawa Barat, Minggu, 8 Juni 2014. Di Kota Kembang ini, acara kampanye pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia diadakan atas dukungan dan kerjasama dengan Saung Angklung Udjo selaku penyedia tempat acara dan tuan rumah, Budayawan Bandung Aat Soeratin dan BNI Syariah yang kembali menjadi sponsor.   Acara dihadiri antara lain oleh Ibu Atalia Kamil mewakili Walikota Bandung Bapak Ridwan Kamil, dr. Ahyani Raksanagara (Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung), Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman, MA (Ketua Umum PERSIS), Ustadz muda Erick Yusuf, Andi Yudha Asfandiyar, serta berbagai elemen dan komunitas masyarakat Bandung.   Dipilihnya Kota Bandung, karena dari kota inilah salah satu Duta Kampanye Kemanusiaan Rumah Sakit Indonesia, seorang gadis kecil berpretasi bernama Salma Khairannisa berasal. Dengan kepeduliannya melihat penderitaan teman-teman seusianya di Gaza, tangan kecil Salma dengan cekatan membuat sketsa Rumah Sakit Indonesia yang tengah dibangun di Gaza. Sketsa tersebut kemudian diserahkan kepada MER-C dan menjadi gambar disain kaos kampanye Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia yang dipakai para artis dan pendukung kampanye ini seperti Slank, Wali, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat dan Hengky Saing.   Tidak hanya dari kalangan artis, dukungan untuk pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia juga berdatangan dari tokoh dan ulama seperti Prof. DR. M. Din Syamsuddin, MA (Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia), Bapak Adi Sasono (Mantan Menteri Koperasi dan Tokoh Nasional), Didi Petet (seorang aktor kawakan, dosen dan budayawan), Ustadz Yuke Sumeru (mantan personil grup band rock Gong 2000) dan Ustadz muda Erick Yusuf.   Rumah Sakit Indonesia ditargetkan untuk diserahkan kepada Pemerintah dan rakyat Palestina di Gaza pada akhir tahun ini. Meskipun dana yang dibutuhkan untuk pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia cukup besar, namun MER-C menutup bantuan asing untuk program ini agar Rumah Sakit Indonesia murni adalah hasil karya dan upaya bersama rakyat Indonesia. Kami yakin rakyat Indonesia mampu mewujudkan amanah ini.   Dukungan dan bantuan untuk pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. rek. 08.111.929.73 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Semoga usaha kita semua akan diterima sebagai amal baik, dan semoga rakyat Palestina dapat segera menikmati pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit Indonesia.                  

Warga Medan Himpun Dana untuk Ruang Operasi RS Indonesia di Gaza

 Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Masyarakat Sumatera Utara memulai gerakan wakaf satu item kebutuhan ruang operasi Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Gerakan wakaf item tersebut senilai Rp 3 M untuk memenuhi kebutuhan satu ruang operasi RSI. “Gerakan ini merupakan gagasan dari beberapa tokoh pendidikan kesehatan dan organisasi profesi untuk membentuk gerakan wakaf kebutuhan satu unit ruang operasi,” ujar Rahmad Gunawan, pelaksana teknis Mer-C cabang Medan saat dihubungi Republika (29/5). Ia melanjutkan, pada 24-25 Mei lalu, Mer-C Medan bersosialisasi tentang RSI di Gaza melalui beberapa media stasiun radio di sekitar wilayah Medan. Salah satunya di stasiun radio RRI Medan. Sedangkan, pada 25 membentuk sebuah seminar dan melakukan penggalangan dana. “Pada acara penggalangan dana tanggal 25 lalu, donasi yang terkumpul mencapai jutaan rupiah,” katanya. Mer-C Medan berkolaborasi dengan para penggagas untuk melakukan gerakan ini. Para penggagas pun telah memulai gerakan wakaf tersebut dan Mer-C Medan akan membuat sebuah rekening khusus untuk mengoptimalisasi gerakan masyarakat Sumut. Gerakan wakaf kebutuhan satu unit ruang operasi RSI di Gaza, ditargetkan pada akhir tahun ini dapat terkumpul donasi Rp 3 M, sehingga target pembukaan RSI dapat segera dilakukan. “Kami berharap bantuan konkrit kami dapat terwujud dan kami berharap nantinya apabila donasi terkumpul dan kebutuhan satu ruang operasi terpenuhi, terdapat satu ruang operasi di RSI diberikan nama Sumatera Utara,” jelasnya. Pada Jumat (30/5) Mer-C Medan dan para penggagas akan bertemu untuk membahas kelanjutan gerakan wakaf tersebut. Selain itu, membahas donasi yang sudah terkumpul hingga saat ini, Mer-C dan para penggagas juga telah mengagendakan berbagai acara di bulan Ramadahan untuk penggalangan dana. “Kami akan melakukan dengan maksimal dan berapa pun jumlah besar yang dapat terkumpul, semuanya akan kami serahkan untuk RS Indonesia di Gaza.” kata Rahmad Gunawan. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/05/29/n6bk7r-warga-medan-himpun-dana-untuk-ruang-operasi-rs-indonesia-di-gaza                

Masyarakat Sumatera Utara Mulai Gerakan Wakaf untuk 1 Unit Ruang Operasi RS Indonesia

Medan – Alhamdulillah, acara seminar sosialisasi Rumah Sakit Indonesia Gaza Palestina yang diadakan pada hari Minggu (25/5) pagi kemarin di Aula Klinik Spesialis Gina Rasyida, Jl. DI Panjaitan Sumatera Utara, berjalan dengan lancar dan menghasilkan butir kesepakatan memulai Gerakan Waqaf 1 Unit Ruangan Operasi Rumah Sakit Indonesia senilai 3 milyar rupiah dari masyarakat Sumatera Utara. Penggagas : – Prof. Dr. Habibah Hanum Nst. SpPD-KPsi – Prof. Dr. Aslim Sihotang, SpM(K) – Prof. Dr. Hafas Hanafiah SpB, SpOT(K) – Prof. Dr. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP(K) – Prof. Dr. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) – dr. Suhelmi, SpB – dr. Delyuzar, SpPA(K) – dr. Khairani Sukatendel, SpOG(K) – dr. M. Aron Pase, SpPD Pelaksana Teknis : Dr. Ahmad Handayani / dr. Rahmad Gunawan (ketum/sekum) MER-C Cabang Medan beserta seluruh pengurus Turut mendukung : – FUI Sumatera Utara – MUI Kota Medan – PDUI Cabang Sumatera Utara – PPNI wilayah Sumatera Utara – BSKI FK UISU – seluruh relawan MER-C Cabang Medan Disaksikan langsung oleh dr. Jose Rizal SpOT (Presidium MER-C Indonesia) dan dr. Henry Hidayatullah (Ketua Presidium MER-C Indonesia). Info lebih lanjut dapat menghubungi MER-C Cabang Medan: – dr. Ahmad Handayani (085275989147) – dr. Rahmad Gunawan (+6285275798444) – Arianta Sitepu (+6289669037283)

Din Ajak Umat Islam Bantu RS Indonesia di Gaza

Di tengah derita memilukan yang dialami bangsa Palestina, MUI mensyukuri peran bangsa Indonesia yang bisa membangun rumah sakit di Gaza Palestina, meskipun sampai saat ini rumah sakit tersebut harus dilengkapi peralatan medis untuk menunjang operasionalnya. “Saya pribadi memberikan apresiasi pada Mer-C, meskipun rumah sakit ini baru selesai bangunan fisik, belum fisiknya, saya menghimbau pada umat Islam agar mengumpulkan dana lagi untuk membangun rumah sakit Indonesia di Gaza,” kata Ketum MUI Prof. Dr. Din Syamsuddin di Kantor MUI di Jakarta, Selasa (20/5/2014).  Menurutnya apa yang terjadi di Palestina adalah tragedi kemanusiaan yang menuntut uluran tangan kita untuk memberikan bantuan, katanya, banyak istri yang kehilangan suami, anak dan ayah, banyak anak yang tidak bersekolah dan tak terjamin kesehatannya, syukur Alhamdulillah Mer-C dari Indonesia dapat mendirikan rumah sakit Indonesia di Gaza Palestina. “MUI menghimbau kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya umat Islam untuk terus menerus mengulurkan tangan kedermawanan untuk memberikan bantuan apapun, termasuk untuk mengisi Rumah Sakit Indonesia yang telah berdiri di Gaza sana yang belum memiliki alat kesehatan dan sara pra-sarana lainnya,” kata Din. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha. “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya. Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui:BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 /BCA, No. Rek. 686.0153.678/ BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308/ BSM, No. Rek. 700.1352.061/ BMI, No. Rek. 301.00521.15 Sumber : http://mui.or.id/mui/homepage/berita/berita-singkat/din-ajak-umat-islam-bantu-rs-indonesia-di-gaza.html                

MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (2-habis)

Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — RSI merupakan hadiah rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. Derita bangsa Palestina, kata Din, sangat memilukan hati setiap Muslim karena telah menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa, termasuk kaum wanita dan anak-anak. Ia bersyukur, masyarakat Indonesia telah memberikan bantuan dan dukungan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. “Secara pribadi, saya menyampaikan dukungan dan memberikan apresiasi kepada MER-C yang telah memprakarsai pembangunan RSI di Gaza, dan kini telah berdiri.” RSI di Gaza memiliki sejarah panjang dan berliku sejak kemunculan gagasan pembangunannya pada 2009 ketika Israel melancarkan agresi ke wilayah Palestina tersebut. Salah satu pendiri MER-C, Joserizal Jurnalis, mengatakan, pembangunan RSI di Gaza beserta pengadaan alat kesehatannya harus diselesaikan dengan rapi. Sebab, RSI akan menjadi hadiah megah dari rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. “Ini rumah sakit masyarakat Indonesia. Ketika rumah sakit siap beroperasi, kita akan memberikan bulat-bulat untuk rakyat Palestina,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (30/4). Sejak wacana untuk membangun rumah sakit ini bergulir pada 2009, kata Joserizal, banyak pihak yang meragukan keberhasilannya. Namun, Jose dan rekan-rekannya di MER-C pantang menyerah. “Kalau dibom oleh Israel, ya nanti kita bangun lagi. Karena, yang jauh lebih penting adalah spirit rakyat Indonesia,” tegasnya. MER-C, kata Joserizal, memasang target untuk menyerahkan dana pembelian alat-alat kesehatan pada Oktober atau Desember mendatang. Ia berharap, RSI di Gaza akan menjadi rumah sakit modern yang menjadi pusat perawatan traumatologi dan rehabilitasi terlengkap di Palestina. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7l2-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-2habis        

MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (1)

Replika Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, telah selesai dibangun. Namun, untuk beroperasi sebagai pusat pelayanan kesehatan, rumah sakit tersebut masih membutuhkan alat-alat medis. Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat Indonesia untuk memberikan bantuan, sehingga RSI di Gaza bisa segera bisa beroperasi. ”Masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, sangat diharapkan untuk memberikan bantuan lanjutan kepada RSI di Gaza dengan perlengkapan medis sehingga dapat segera beroperasi,” kata Ketua Umum MUI Prof Din Syamsuddin. Din menjelaskan itu usai menerima kunjungan sejumlah perwakilan organisasi kemanusiaan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di kantor MUI, Jakarta, Selasa (20/5). Pascatuntasnya pembangunan pada Desember 2013, RSI Gaza masih membutuhkan alat-alat kesehatan yang nilainya ditaksir dua kali lipat dari biaya pembangunan. Untuk pengadaan alat kesehatan, dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai  Rp 65 miliar. Din mengatakan, masyarakat Indonesia harus terus mendukung dan membantu bangsa Palestina. Bukan hanya dalam pengadaan alat-alat medis di RSI di Gaza, juga membantu pendidikan anak-anak Palestina. ”Bantuan pangan juga masih sangat dibutuhkan oleh bangsa Palestina,” ujar Din. MUI, menurut dia, telah memberikan bantuan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. Jika ada kesempatan, MUI pun berencana mengunjungi RSI di Gaza. “Hal yang patut disyukuri bahwa melalui MER-C masyarakat Indonesia dapat mendirikan RSI di Gaza.” Hal tersebut, menurut Din, merupakan bukti nyata solidaritas masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam terhadap penderitaan bangsa Palestina. Penderitaan panjang yang disebabkan oleh penjajahan Israel. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7e9-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-1        

Kisah Relawan MER-C di Jalur Gaza (2)

Karidi dan sejumlah relawan bersama PM Ismail Haniyah REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Peristiwa paling mengharukan, tentunya adalah tatkala kami berpamitan untuk kembali ke Indonesia karena tugas sudah selesai, untuk diteruskan oleh relawan lainnya.“Saya lihat mata mereka berkaca-kaca, dan saya lihat itu air mata kesedihan, haru, kecintaan dan persaudaraan”. Itulah, tanggal 15 Februari 2014, setelah 17 bulan atau hampir 1,5 tahun saya membantu membangun RS Indonesia, sungguh perjalanan fisik dan spiritual yang luar biasa, tak ternilai dengan harta apapun jua. Saya sangat berterima kasih kepada saudara-saudaraku di Jalur Gaza, yang banyak mengajarkan saya arti penting ketegaran jiwa, keberanian dalam kebenaran, keshabaran dalam perjuangan dan persaudaraan dalam ketertindasan. Kepada masyarakat Indonesia yang telah berdonasi untuk pembangunan rumah sakit tersebut, saya juga ucapkan terima kasih “Jazakumullahu khaira”, Semoga Allah pun membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Tetapi, masih ada yanga mengganjal, yaitu bahwa bangunan tipe RS Traumatologi dan Rehabilitasi, dua lantai dan  lantai basement, dengan kapasitas 100 tempat tidur itu memang sudah selesai. Terkesan kokoh, tegar, megah, dan berwibawa. Bendera Palestina hitam-putih-hijau-merah, bersanding dengan bendera mera-putih Indonesia, berkibar menyongsong kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha oleh putera-putera terbaik dari Indonesia. Adapun yang mengganjal adalah, bangunannya sudah berdiri, tetapi isinya belum ada, yaitu berupa alat kesehatan (alkes). Menurut penghitungan MER-C, masih memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Dana tersebut untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), Instalasi Radiologi, Laboratorium, dan lainnya. RS Indonesia di Gaza, adalah sebuah karya anak bangsa, bukti silaturahim Indonesia-Palestina. Untuk itu, bagi saudara-saudaraku dari seluruh kalangan, dari seluruh penjuru negeri Indonesia, masih terbuka pintu amal untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. “Ya Allah berilah kekuatan, kesabaran, keberkahan, keselamatan dan kemenangan untuk para pejuang di jalan-Mu, untuk para relawan pembangun rumah sakit guna mengobati hamba-hamba-Mu, untuk para donatur yang rela merogoh hartanya untuk amal mulia ini.” Aamiin. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsuh-kisah-relawan-merc-di-jalur-gaza-2                

Kisah Karidi dan Relawan di Jalur Gaza (1)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Tidak terpikir sebelumnya, menjadi relawan di medan perang, Jalur Gaza, yang selama bertahun-tahun dalam blokade Zionis Israel. Blokade darat, laut dan udara. Jangankan untuk membangun klinik atau posko kesehatan, untuk mendatangkan keperluan pokok harian saja, mesti harus melalui terowongan — yang semakin banyak ditutup oleh Mesir. Jalur lain melalui perbatasan Rafah, yang juga buka-tutup tidak menentu oleh pihak keamanan Mesir. Karidi memasang instalasi listrik di Gaza Begitulah, tanpa terasa, saya pun diberangkatkan pada 21 Oktober 2012, sebagai relawan (unpaid volunteers), oleh MER-C (Medical Emergency  Rescue Committee), sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis . Kemampuan saya dipilih di bidang Mecanical Electric (ME), dengan izin Allah mengantarkan saya berziarah ke bumi para Nabi, Jalur Gaza. Walaupun, terus terang nol besar dalam komunikasi bahasa Arab. Ya, memang dari lingkungan pesantren. Tetapi ya, sebagai tukang, yang hanya mampu beberapa ucapan bahasa Arab yang umum-umum saja, seperti bismillah, assalamu’alaikum, kayfa haal, innaa lillaah… Menginjakkan kaki di kampung Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saya bersama relawan Indonesia lainnya, pun mulai bekerja (amal sholih) melanjutkan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia. Terutama sesuai bidang saya, masang-masang alat-alat listrik, urusan kabel-kabel, lampu, ac, dan sejenisnya. RS Indonesia berdiri di atas lahan 16.261m2 waqaf pemerintah Palestina, dinamakan RS Indonesia, menurut yang saya dengar dari Pengurus MER-C, karena memang seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. “Di samping itu juga diharapkan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina”, itu kalimat yang saya camkan.   Saya, dibantu relawan yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab, sempatkan jalan-jalan dan bergaul dengan masyarakat sekitar. Sungguh luar biasa sambutan dan penghormatan warga di sana. Keramahannya membuat saya yang harus rela meninggalkan Tina isteri saya, dan keluarga besar saya di Jawa Tengah, serasa mendapat ganti keluarga besar, di bumi yang pernah disinggahi oleh para Nabi dan sahabat-sahabatnya itu.   “Menakjubkan, kalian dari negeri yang sangat jauh dari Gaza, datang untuk membangun rumah sakit buat kami,” ujar Abu Muslim, Imam Masjid di daerah Ghalebo, Gaza Utara, tidak jauh dari lokasi RS Indonesia.  Tak hanya itu, Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya pun, demi rasa hormatnya terhadap umat Islam Indonesia yang sedang membangun RS Indonesia, menyempatkan hadir berkunjung ke lokasi bangunan pada Juli 2013 lalu. “Ini bukti kepedulian dan cinta rakyat Indonesia terhadap rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza,” ujar Haniyya di hadapan relawan waktu itu. Apalagi, menurutnya, artistek Indonesia membuat bentuk bangunan RS Indonesia itu, segi delapan, yang menyerupai segi delapan bentuk Kubah Sakhrah di kompleks Al-Aqsha Palestina. Saya dan teman-teman relawan, dalam tim pambangunan, yang ketika di Indonesia bekerja sebagai teknisi AC dan listrik, cukup mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan elektrik yang tidak biasa dipakai seperti di Indonesia. Walaupun kemudian bisa juga. Kesulitan lainnya, kita sangat tergantung dari donasi masyarakat. Di samping itu, beberapa bahan listrik ternyata juga sulit didapat. Kita mesti order dulu, dan itu perlu waktu cukup lama. Jadi, pekerjaan jadi tertunda waktunya. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah tatkala Zionis Israel menggempur sepanjang Jalur Gaza pada November 2013. Pesawat menderu-deru di angkasa, bom berjatuhan di mana-mana.Kami sempat panik, karena belum terbiasa mendengar dentuman bom di atas kepala kita. Apalagi beberapa kaca RS Indonesia sempat pecah berantakan oleh getaran bom yang jatuh tidak jauh dari lokasi RS. Tetapi setelah ditenangkan warga setempat, bahwa hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya terbiasa juga. Anggaplah itu petasan mainan.“Kami pun tetap bekerja, terutama di ruang dalam, seperti pemasangan lantai, kabel-kabel dalam ruangan, dan sebagainya”. Namun, apapun risiko yang terjadi, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan dan teman-teman relawan lainnya, dalam ikut serta membangun RS Indonesia di Gaza, adalah bagian dari amal shaleh kami. Kami ingin ini menjadi bukti sejarah ikatan perjuangan Palestina-Indonesia secara keseluruhan. “Ini Insya Allah akan saya jadikan sebagai amal shaleh bagi saya sendiri dan keluarga saya. Saya sangat bersyukur dengan menjadi relawan ini”. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsex-kisah-karidi-dan-relawan-di-jalur-gaza-1                  

Artis Pun Dukung Pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza

JAKARTA. Artis papan atas Indonesia ternyata tidak hanya menghabiskan waktunya di dapur rekaman dan panggung hiburan Indonesia. Tetapi mereka pun peduli dan mendukung kampanye pengadaan alat  kesehatan (alkes) Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza.    SLANK grup musik Indonesia bergenre ‘rock and blues’, salah satu kelompok artis pendukungan gerakan kampanye ’50 ribu rupiah’ untuk pengadaan alkes tersebut. “Kita yang memiliki kesempatan memberikan sumbangan donasi untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina sana, mari kita ikut berbagi,” ujar Kaka, vokalis Slank pada acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign RS Indonesia di Gaza, Jakarta, Rabu (30/4/2014) beberapa waktu lalu. Grup musik yang dibentuk Bimbim akhir 1983, dengan lirik-lirik lagu anak muda dan beberapa di antaranya berupa kritik sosial, mengajak Slankers (sebutan untuk para penggemar Slank) dan generasi muda untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan dana membantu pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza. “Dengan membahagiakan orang lain, pasti kita akan berkah, ini keajaiban sedekah, ini gerakan kemanusiaan, walau dianggap sedikit tapi berarti” ujarnya.   Wali Menggugah Grup musik terkenal lainnya, Wali Band, yang memiliki jutaan penggemar di kalangan anak muda, turut mendukung pengadaan alkes guna mengisi RS Indonesia, yang sudah berdiri megah dan berwibawa di lahan wakaf seluas 16.261 m2 di daerah Bayt Lahiya, Gaza Utara. Apoy, salah satu personil Wali mengatakan, pengadaan alkes wajib didukung seluruh masyarakat, karena jelas-jelas untuk kepentingan warga yang sangat memerlukan di Palestina. Ia bersama personil Wali lainnya, Faank (vokal), Tomi (drum) dan Ovie (keyboard), juga mengajak Para Wali (sebutan untuk penggemarnya) ikut berbagi menggalang dana kemanusiaa tersebut. Selama ini lirik-lirik lagu pop Wali dikenal luas, dengan sentuhan sederhana, mengena, dan banyak mengandung nilai-nilai relegius. Maklum saja, personalnya adalah jebolan pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam terkenal di Jakarta. Personal Wali, Faank (vokalis) dan Apoy (gitaris), jebolan Ponpes La Tansa, Pandegelang Banten, Tomi (drum), lulusan Ponpes Al Fatah Lampung dan Ovie (keybord) lulusan Ponpes Al-Hikmah Annajiyah Bogor. Seolah ingin menggugah masyarakat untuk membantu alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, untuk mencari berkah, Wali menyentil pendengarnya untuk gemar bersedekah. Seperti dalam lirik lagu ‘Cari Berkah’ (biasa disingkat Cabe), Wali bersenandung pantun, “Bang, beli bawang, beli bawang gak pake kulit. Bang, jadi orang, jadi orang jangan pelit-pelit. Neng, beli batik, beli batik  warnanya terang. Neng, tambah cantik, kalo sering bantu orang”. Kepada masyarakat yang memiliki kelebihan harta, Wali pun meminta untuk jangan sungkan-sungkan menolong, sebab harta tidak akan dibawa mati. Tetapi yang diberikan itulah yang membawa berkah.  Lanjutan lagu ‘Cabe’ tadi, “Banyak harta ngapain (ngapain). Kalo gak berkah pikirin (pikirin).  Oh punya harta gak mungkin (gak mungkin), dibawa mati. Hidup indah bila mencari berkah. Punya rezeki bagiin (bagiin). Bantu yang susah tolongin (tolongin). Oh, jadi miskin gak mungkin (gak mungkin), Allah yang jamin. Hidup indah bila mencari berkah”. Selain Slank dan Wali, artis lain yang juga turut memberikan dukungan RS Indonesia di Gaza, Palestina, di antaranya Jihan Fahira, Naif, Sore, Vadi Akbar dan Ombat Tengkorak Band. Video lengkap kampanye penggalangan dana untuk Alat Kesehatan RS Indonesia dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE .     Ikatan Indonesia-Palestina Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha.  “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya.  Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 BCA, No. Rek. 686.0153.678 BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308 BSM, No. Rek. 700.1352.061 BMI, No. Rek. 301.00521.15 atas nama Medical Emergency Rescue Committee ————————————– (MINA/MER-C.Red:AFTA)                

Silahkan bertanya?