MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Konferensi Press dan Peluncuran Video Campaign Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina

Alhamdullilah, berkat rahmat Allah SWT dan atas dukungan dari rakyat Indonesia, pembangunan gedung Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina dinyatakan telah selesai. Rumah Sakit Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dan berliku-liku sejak kemunculan gagasannya pada masa agresi militer Israel di Gaza di tahun 2008/2009 lalu. Rumah sakit ini juga tidak akan menjadi bangunan yang megah seperti sekarang ini tanpa dukungan dari begitu banyak pihak yang telah merapatkan barisan selama beberapa tahun lamanya baik lewat pemikiran, tetes keringat, dana, pemberitaan, doa, waktu, dan dukungan semangat, yang insya Allah itu semua akan menjadi bukti bagi rakyat Palestina dan dunia, bahwa uluran tangan tanda persaudaraan dari rakyat Indonesia telah sampai dan diterima oleh rakyat Palestina, dan semoga tali persaudaraan ini akan terjalin untuk selamanya. Kembali dukungan kita dinanti oleh rakyat Palestina. MER-C mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bahu-membahu melengkapi pengadaan alat kesehatan bagi Rumah Sakit Indonesia yang memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Alhamdullilah, Pembaca Republika telah mengawali donasi bagi alat kesehatan di Ruang Poliklinik sebesar satu milyar rupiah, serta Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) telah menyumbangkan dana sebesar 650 juta rupiah untuk melengkapi Ruang Farmasi. Hari ini, kami meresmikan awal kampanye pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia yang didukung oleh Slank, Wali, Bapak Adi Sasono, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat, Salma yang telah mempersembahkan karya seninya untuk MER-C dan Hengky Saing yang telah mempersembahkan lagu berjudul “Satu Untuk Semua” untuk dijadikan lagu soundtrack bagi kampanye alat kesehatan RS Indonesia. Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada BNI Syariah yang telah menjadi sponsor demi terselenggaranya acara hari ini. Semoga usaha kita semua akan diterima sebagai amal baik, dan semoga rakyat Palestina dapat segera menikmati pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit Indonesia.   Donasi untuk Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah No. Rek. 08.111.929.73 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee     Jakarta, 30 April 2014 Divisi Humas MER-C                

Slank Ajak Rakyat Indonesia Berpartisipasi untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Jakarta, Pembangunan Rumah Sakit Indonesia memang sudah selesai Februari lalu. Namun ternyata hanya bangunannya saja yang sudah selesai, sementara gedung tersebut belum dilengkapi oleh alat dan fasilitas kesehatan apapun. foto: Reza/detikHealth Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) sekaligus penggagas utama berdirinya rumah sakit tersebut mengatakan bahwa masih dibutuhkan banyak dana untuk mengisi alat kesehatan agar Rumah Sakit Terapitologi dan Rehabilitasi tersebut dapat beroperasi penuh. “Meski bangunan fisiknya sudah rampung, namun Rumah Sakit Indonesia belum bisa beroperasi karena belum ada alat kesehatannya. Dana yang kami butuhkan kurang lebih Rp 65 Miliar,” ujarnya kepada detikHealth usai acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign Sumbangan Dana untuk Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di FX Sudirman, Jl Jend Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (30/4/2014). Untuk itu, Mer-C pun membuat video kampanye yang bertujuan untuk mengajak rakyat Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan ini. Video tersebut berdurasi selama 4 menit dan berisikan beberapa pendukung gerakan ini. Slank, Naif, wali dan pesinetron Jihan Fahira adalah beberapa nama yang ada di video. Disinggung mengenai alasannya tergabung dalam gerakan ini, Bimbim Slank yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang senang memberi. Terlebih bantuan tersebut diberikan untuk membantu rakyat yang ada di Palestina. “Kalau gue percaya memberi itu pasti enggak rugi. Karena nanti pasti dibalas 10 kali lipat sama Tuhan,” ujarnya pada kesempatan yang sama. “Cukup dengan Rp 50 ribu kita sudah bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana,” sambungnya lagi. Sumber : http://health.detik.com/read/2014/04/30/173358/2570327/763/slank-ajak-rakyat-indonesia-berpartisipasi-untuk-rumah-sakit-indonesia-di-gaza http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE                  

Campaign Alat Kesehatan RS Indonesia Diresmikan

Jakarta – Pada tanggal 30 April 2014 telah diadakan peluncuran video Campaign Rumah Sakit Indonesia di cafe The Cone Indonesia, FX Lifestyle X’nter lantai 7. Acara dibuka oleh Hengky Saing yang membawakan lagu “Satu untuk Semua”. Lagu ini diciptakan Hengky dan dipersembahkan khusus untuk penggalangan dana bagi alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia. Acara dilanjutkan dengan penayangan video Campaign penggalangan dana bagi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia, yang menampilkan di antaranya Slank, Wali, Bapak Adi Sasono, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat dan seniman cilik Salma. Ketua Presidium MER-C dr  Henry Hidayatullah mengatakan bahwa banyak peristiwa yang mengiringi proses pembangunan RSIndonesia dan RSIndonesia merupakan satu-satunya rumah sakit di Palestina yang dibangun atas nama rakyat. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis SpOT, presidium MER-C Ir. Farid Thalib, penanggung jawab pengadaan alat kesehatan RSIndonesia Ahyaudin Sodri, site manager RSIndonesia Edy Abu Fikry dan mechanical electrical manager RSIndonesia Karidi. Slank, Salma, Vadi Akbar, dan Hengky Saing hadir untuk menyatakan dukungannya terhadap program pengadaan alat kesehatan RSIndonesia. Acara ditutup oleh penampilan oleh seluruh peserta press conference di bawah arahan Sanggar Saung Mang Udjo yang membawakan lagu “Tanah Air”.                

MER-C – RRI Kampanyekan Penggalangan Dana RSI Gaza

Jakarta, 15 Jumadil Akhir 1435/15 April 2014 (MINA) – Lembaga kemanusian medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committe) dan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, menandatangani MoU kesepakatan terkait kampanye iklan penggalangan dana untuk pengadaan peralatan kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. Naskah kesepakatan tersebut ditandatangani di gedung RRI Jakarta, Selasa oleh anggota Presidium MER-C Dr. Arief Rachman dan Kepala RRI Jakarta, Herman Zuhdi.  Dalam kesepakatan itu, RRI Jakarta secara sosial akan menyiarkan iklan kampanye penggalangan dana RS Indonesia melalui Gerakan Rp 50 ribu/orang untuk alat kesehatan. Ada pun MER-C akan memberikan bantuan pelayanan medis gratis kepada RRI Jakarta dalam berbagai acara. Herman mengatakan, MER-C adalah lembaga kemanusiaan di bidang medis yang kerjanya sudah terlihat nyata di masyarakat. “Saya melihat MER-C adalah suatu komunitas yang kiprah dan kinerjanya sudah bisa kita lihat. Terutama berdirinya RS Indoensia di Gaza, tentunya membutuhkan suatu upaya kerja keras, cerdas dan ikhlas. Saya kira itu sejalan dengan RRI,” ujar Herman. Menurutnya, kerjasama tersebut adalah awal kolaborasi yang baik dan diharapkan bisa terus berlanjut hingga jaringan RRI di wilayah Indonesia lainnya dapat melakukan hal yang serupa. “Saya mempelajari dan melihat bagaimana kiprah MER-C di masyarakat dan ketika kami bergabung bersama dalam layanan bantuan bagi korban banjir di Kampung Pulo, Jakarta, MER-C tanpa menghitung rupiah,” kata Herman. Sementara itu, Dr. Arief Rachman mengakui bahwa MER-C sangat membutuhkan media partner, terutama untuk menyebarluaskan kempanye tentang RS Indonesia di Gaza, khususnya Gerakan Rp 50 ribu/orang. “Kita tahu jaringan RRI di Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat, Sabang sampai Merauke. Semakin banyak orang yang tahu, kami harap akan semakin cepat upaya pembelian alat kesehatan RS Indonesia di Gaza terlaksana,” kata Arief. Arief menjelaskan bahwa RS Indonesia di Gaza adalah karya anak bangsa, di mana mulai dari gambar rancangannya hingga nanti asistensinya ketika operasional, semua dari Indonesia. Bahkan desain di dalam rumah sakit akan bernuansa khas Indonesia, seperti adanya corak batik dan tapis Lampung. Komentar dari masyarakat dan para pejabat di Gaza sangat baik dan kagum sekali dengan struktur rancangan RS Indonesia yang sangat berbeda dengan yang lain. Hanya ada dua negara yang menyumbang rumah sakit di Gaza, yaitu Uni Eropa dan Indonesia. Uni Eropa menyumbang dengan gabungan danan dari negara-negara Eropa. “Jika disepadankan, level Indonesia di Gaza sama dengan Uni Eropa. Ini suatu kebanggaan bagi kita yang perlu kita sampaikan kepada masyarakat Indonesia di tengah gonjang-ganjing dalam negeri,” tambah Arief. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17527-mer-c-dan-rri-jakarta-tandatangani-mou-untuk-rs-indonesia.html                

Kehadiran Relawan RS Indonesia jadi Penyejuk bagi Perpecahan Gaza

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1435/14 April 2014 (MINA) – Ir. Abu Fikri adalah Pimpinan Proyek Pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Selama pembangunan rumah sakit dari tahun 2011 sampai awal 2014, dia dua kali berangkat ke Gaza memimpin pembangunan atas nama Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pria yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor itu, mengungkapkan sekilas pengalamannya di bumi yang diblokade, saat ditemui oleh wartawan MINA Sabtu (12/4) di kantor MER-C, Jakarta. Berikut hasil wawancara Rudi Hendrik, wartawan MINA, dengan Ir. Abu Fikri: MINA: Bagaimana awalnya Anda bisa memasuki Gaza? Ir. Abu Fikri: Bermula pada akhir 2010 mengikuti aksi kemanusiaan “Asia Caravan To Gaza” bersama dengan negara-negara Asia lainnya. Ada sekitar 150 orang. Sementara tim kami sendiri yang bergabung dengan MER-C ada lima orang. Ketika kami, para relawan pertama datang, kami juga disambut oleh welcome bomb (bom selamat datang). Begitu sampai di perbatasan, ada istilah welcome bomb dari tentara Israel. Itu menunjukkan bahwa kedatangan setiap relawan ke Gaza sudah diketahui oleh Israel. MINA: Situasi Gaza awalnya bagi relawan seperti apa? Ir. Abu Fikri: Gaza identik dengan penjara terbesar di dunia. Untuk masuk sulit dan untuk keluar pun sulit. Yang kita lihat memang, bukan hanya daerah perang, tapi juga daerah yang terblokade selama bertahun-tahun. MINA: Apa kesulitan awal bagi para relawan di sana? Ir. Abu Fikri: Kesulitan awal bagi relawan adalah bahasa, karena ada Bahasa Arab formal dan ada Bahasa Arab yang umum digunakan oleh warga Gaza. Sedangkan yang kita pelajari adalah Bahasa Arab formal dalam pendidikan. Sementara dalam pembangunan, kita banyak bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat lapangan, sehingga bahasa yang harus digunakan adalah bahasa sehari-hari. Dan keduanya sangat jauh berbeda. Ada pun untuk peralatan dalam membangun, tidak seperti yang kami khawatirkan sebelumnya bahwa di sana tidak cukup lengkap, ternyata di sana cukup lengkap peralatan. Untuk bahan bangunan di tahap pertama tidak begitu menemui kesulitan. Justru di tahap kedua kami menemui kesulitan, karena di tahap ini kami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan bangunan, salah satunya semen dan kelangkaan solar. Solar kita perlukan untuk mengoperasikan peralatan-peralatan berat. Dampak ketiadaan solar di Gaza, berdampak pada ketiadaan listrik, karena satu-satunya generator yang ada di Gaza menggunakan solar, sehingga harus dikurangi, setiap hari hanya empat jam dengan waktu yang tidak menentu. Juga berdampak pada gas dan terus berdampak kepada masalah air. Karena air pun harus dipompa dengan tenaga listrik dan solar.  Bahkan sempat selama empat hari tidak bisa menggunakan air. Luar biasa kondisi yang kita hadapi di sana.   MINA: Bagaimana dengan perang? Ir. Abu Fikri: Di sana, sewaktu-waktu perang bisa muncul. Tidak bisa dikategorikan kondusif. Selain perang besar, secara menyeluruh sering terjadi konflik-konflik. Baik dari Gaza sendiri maupun dari Israel. MINA: Adakah budaya negatif Indonesia di Gaza? Ir. Abu Fikri: Salah satunya, untuk relawan Indonesia, mereka terbiasa shalat menggunakan sarung, sedangkan di sana dipandang kurang baik. Bagi mereka, sarung digunakan untuk kegiatan-kegiatan saat tidur. Mereka kurang pas jika melihat kita shalat menggunakan sarung. Meski kita sudah berusaha untuk meyakinkan, tapi kita tidak bisa untuk mencoba meyakinkan masyarakat banyak yang memandang. Ada pun sisi positif yang kami temukan di sana yaitu sesuatu yang sudah sangat langka kita jumpai di Indonesia, yaitu memberi salam kepada orang yang tidak kita kenal, meski di jalan umum, kecuali memberi salam kepada beda jenis, itu tidak boleh. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. MINA: Apakah pembangunan RS Indonesia sudah selesai? Ir. Abu Fikri: Pembangunan fisik RSI ada dua, yaitu pembangunan arsitektur dan mekanikal elektrikal. Untuk pembangunan di bidang fisiknya, alhamdulillah, tinggal masuk tahap perawatan dan service. Memang dalam setiap pembangunan, ada waktu sekitar enam bulan untuk perawatan. Karena memang pembangunan fisik sifatnya saling terpadu. Untuk perawatan, karena tidak sulit, pengawasan tetap dari pihak MER-C, namun pekerjanya dari tenaga lokal. Saat ini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alkes (alat kesehatan) yang membutuhkan dana lebih besar dari pembangunan fisik RS Indonesia. MINA: Kesulitan yang paling terasa bagi para relawan? Ir. Abu Fikri: Secara fisik memang banyak sekali kesulitan, tapi alhamdulillah, secara akidah, setiap kami menemui kesulitan maka disitu kami menemui kemudahan. Dan  disitulah kami meyakini bahwa kemudahan yang kami rasakan adalah pertolongan Allah SWT. MINA: Apakah pada masa menunggu kepulangan yang tidak jelas setelah pembangunan selesai, ada relawan yang putus asa? Ir. Abu Fikri: Dalam pembangunan ini, kami berusaha sekuat mungkin menggunakan skejul dan bekerja sesuai itu. Tanggung jawab para relawan pada prinsipnya, akhir bulan Desember 2014 itu sudah selesai. Jadi sesuai dengan schedule. Ada waktu sekitar sebulan masa menunggu, dan itu pun hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan saja. Dalam masa menunggu itu, memang mereka merasa tanggungjawab utama itu sudah selesai, sehingga secara psikologis fisik mereka sudah terfokus pada keluarga. Mereka yang awalnya sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang ada, tapi karena dia sudah merasa akan segera kembali, maka secara otomatis kesabarannya teruji. Ujian itu mungkin juga dari pihak keluarga yang sudah lama menahan rindu ingin bertemu dengan ayahnya atau suaminya, tentunya ada tekanan-tekanan dari keluarga agar bisa segera kembali.   MINA: Solusinya? Ir. Abu Fikri: Yang pertama kita terus melakukan siraman rohani kepada mereka, karena kita ada taklim setiap Jumat pagi dan itu memang efektif sekali untuk memompa semangat mereka, bagaimana mereka bisa tetap sabar. Karena permasalahannya adalah satu-satunya prinsip bagi para relawan, yaitu “kepastian relawan adalah ketidakpastian”. Jadi tidak ada kepastian bagi relawan. Apa pun yang direncanakan, kita kembalikan kepada apa yang diijinkan oleh Allah. Kita tahu bahwa Gaza sendiri adalah satu daerah konflik yang hingga kini tidak ada jalan keluarnya secara penuh dan kita tahu, Gaza semakin hari semakin sulit. Apa lagi kondisi negara-negara sekitarnya mulai tercarut-marut oleh perang seperti Suriah dan Mesir sendiri, sehingga membuat kondisi semakin tidak pasti. MINA: Bagaimana respon para pejabat Palestina di Gaza dengan adanya pembangunan RS Indonesia ini? Ir. Abu Fikri: Al hamdulillah sangat positif, bukan hanya pejabat, tapi juga warga gaza, tapi kami mengambil beberapa sample saja. Salah satunya adalah kunjungan Perdana Menteri Ismail Haniyah ke RS Indonesia di Gaza. Intinya dia menyampaikan: “Setiap kami melihat kalian, timbul semangat kami untuk terus bisa bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Timbul juga semangat bagi kami bahwa Al-Aqsha akan

Relawan Gaza: Pendidikan Hijab Masyarakat Gaza Sejak Balita

Jakarta, 9 Jumadil Akhir 1435/9 April 2014 (MINA) – Masyarakat Gaza melaksanakan syariat hijab yang sangat kuat dan dididik sejak usia di bawah lima tahun (balita). Hal itu dikisahkan oleh salah seorang relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Karidi, saat ditemui MINA di Jakarta, Selasa (8/4).  Pria asal Wonogiri itu belum lama kembali dari Gaza setelah turut membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana sekitar satu setengah tahun lamanya bersama para relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah yang berpusat di Cileungsi, Bogor. “Di masa balita, dari umur tiga sampai empat tahun ke atas, tidak ada anak-anak sebaya yang ngobrol atau main bareng antara anak laki-laki dan perempuan. Itu sudah sangat dijaga,” ujar Karidi. “Jika terjadi obrolan antara anak sebaya lawan jenis, maka anak itu dianggap aib bagi keluarga,” tegasnya. Relawan yang mengetuai bidang mekanikal elektrikal di pembangunan RS Indonesia itu mengisahkan, syariat hijab di masyarakat Gaza sangat kuat. Sejak sekolah sudah dipisah antara sekolah laki-laki dan perempuan. Demikian pula dari segi ruangan tamu di rumah orang Gaza, sudah di tata sedemikian rupa. Ruang tamu memiliki kamar mandi sendiri. Jika tamu mau ke kamar mandi, tidak sampai nyelonong ke belakang hingga melihat ruangan-ruangan yang lain. “Jika bertamu, kita juga tidak akan mungkin bisa melihat isteri pemilik rumah. Yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah suaminya, bukan isterinya,” kata Karidi. Dia melanjutkan bahwa rumah-rumah warga Gaza memiliki pagar yang tinggi dengan tujuan orang yang lewat di depan rumah tidak bisa melihat langsung ke dalam. Demikian pula di tempat fasilitas umum, laki-laki dan perempuan sangat dibatasi. “Masyarakat di sana sudah dididik sejak kecil, jika berjalan menundukkan pandangan. Tidak ada yang namanya berpapasan dengan lawan jenis saling tatap face-to- face,” tambahnya. Selain itu, Karidi juga menceritakan betapa “luar biasanya” masyarakat dalam menyambut tamu, terutama terhadap para relawan yang sangat sering diundang untuk makan ke rumah warga. Terlebih ketika bulan Ramadhan saat berbuka puasa. “Saya sangat salut sekali dengan orang Gaza, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat hebat dalam memuliakan tamu. Kalau di sini (Indonesia), mungkin cukup sediakan air putih, selesai. Di sana sampai pesan makanan, seolah-olah semua dikeluarkan.” (L/P09/R2) Sumber : http://www.mirajnews.com/web/palestina-mb/17266-relawan-gaza-pendidikan-hijab-masyarakat-gaza-sejak-balita.html                

RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (3-habis)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Sang mufti telah menyatakan dukungan sebelum negara Indonesia resmi diproklamasikan. Saat itu, dari tempat pengungsiannya di Jerman, Syekh Muhammad Amin al-Husaini menyatakan rakyat Palestina mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini disiarkan Radio Berlin berbahasa Arab pada 6 September 1944. Pernyataan dukungan tersebut gaungnya menggema ke kawasan Timur Tengah dan menarik simpati rakyat negara-negara di kawasan tersebut. Dukungan serupa juga dinyatakan seorang saudagar ternama Palestina saat itu, Muhammad Ali Taher, setahun sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI. Dia bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dan spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Dukungan ini lalu menjadi modal besar untuk memperjuangkan pengakuan dari negara-negara lainnya di dunia. Setelah seruan dari mufti Palestina itu, negara berdaulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali yakni negara Mesir pada 1949, lalu diikuti India. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan ini membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan dan pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional. Fakta sejarah tersebut tertulis dalam  buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M Zein Hassan Lc. Faried mengatakan fakta sejarah tersebut juga yang membangkitkan MER-C untuk memprakarsai usaha bersama rakyat Indonesia guna membangun rumah sakit di Gaza-Palestina. “Kami memandang rumah sakit ini akan menjadi tali batin rakyat Indonesia, yang selalu akan mendukung kemerdekaan Palestina,” katanya. Kini bangunan rumah sakit boleh dikatakan telah selesai. Selanjutnya, masih dibutuhkan dana Rp 65 miliar untuk pengadaan peralatan medis. MER-C memasang target rumah sakit tersebut mulai dioperasikan tiga bulan ke depan, sekitar Juni. Untuk soft launching, kata Faried, dibutuhkan dana Rp 15 miliar untuk pembelian peralatan medis dari Rp 65 miliar keseluruhannya. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f6zv-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-3habis        

RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (2)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rencananya di sana juga akan dibangun Wisma Rakyat Indonesia seluas 340 m2. Pembangunan rumah sakit tersebut diprakarsai oleh para aktivis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). LSM Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan, terutama yang berhubungan dengan pengobatan dan kesehatan serta kegawatdaruratan. Bagi MER-C memang tak mudah mengumpulkan dana sebanyak itu tanpa peran serta nyata rakyat Indonesia. Memang, pembangunan rumah sakit ini terkesan lambat dibandingkan dengan proyek-proyek kemanusiaan, uang diprakarsai donatur individual maupun kelompok dari negara-negara Timur Tengah ataupun Uni Eropa. Negara-negara tersebut dengan cepat dapat merealisasikan proyek bantuan mereka tanpa kendala dana yang berarti, seperti jalan-jalan, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah susun di Gaza. Setidaknya di Gaza telah berdiri juga rumah sakit bantuan masyarakat Uni Eropa, yang pembangunan hingga operasionalnya hanya memerlukan waktu sekitar dua tahun. Rumah sakit itu kini oleh pemerintah setempat dikelola sebagai rumah sakit umum. Lepas dari kesan lambat di atas, berbeda dengan pembangunan yang dilakukan donatur dari negara-negara Timur Tengah dan Uni Eropa, Rumah Sakit Indonesia memiliki nilai lain bagi masyarakat Gaza di sana. Warga Gaza mengetahui rumah sakit ini benar-benar dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia dan mungkin tanpa sepeser pun dana dari Pemerintah Indonesia (people to people). Dengan pendanaan semacam itu, rumah sakit tersebut akan menjadi monumen tali silaturahim dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Palestina, khususnya yang tinggal di Gaza. Ir Farid Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, mengatakan pembangunan rumah sakit ini bisa juga dikatakan sebagai ungkapan rasa terima kasih rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Bagaimana tidak, katanya, sejarah mencatat rakyat Palestina merupakan warga dunia yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, saat negara Indonesia yang masih seumur jagung terpuruk karena blokade Belanda yang ingin menjajah Indonesia lagi, rakyat Palestina dengan lantang menyatakan kepada dunia pengakuan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini diprakarsai mufti besar Palestina saat itu, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Kata Farid, surat dukungan yang ditandatangani sang mufti ini berhasil diselundupkan ke Indonesia dan diterima Presiden Sukarno yang saat itu sedang dalam pengungsian di Yogyakarta. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/04/03/n3f6mj-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-2        

RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (1)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rumah Sakit Indonesia di Gaza masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. GAZA — Rupiah demi rupiah yang dikumpulkan para dermawan Indonesia telah menampakkan wujudnya di Jalur Gaza, kawasan Palestina yang kini didera blokade Zionis Israel. Di utara Gaza, tepatnya di kawasan Bayt Lahiya, Rumah Sakit Indonesia telah memasuki tahap akhir pembangunan. Bangunan rumah sakit tersebut terdiri atas dua lantai dan satu basement, tampak kokoh berdiri tanah sekitar 1,6 hektare. Bentuknya yang khas, didesain segi delapan, menyerupai bentuk Masjid Qubbah As-Sakhrah di dalam kompleks Masjid Al Aqsha, Yerusalem, membuat rumah sakit ini menonjol di lingkungannya. Namun, keberadaan rumah sakit tersebut juga dengan lingkungan di sekeliling yang dalam lima tahun terakhir ini telah dipenuhi dengan puluhan unit apartemen lima sampai 10 lantai dan kompleks sekolah di sana. Dulunya kawasan ini termasuk daerah pertanian. Kompleks apartemen di kawasan itu dibangun oleh donatur perorangan dari sebuah Negara Teluk. Sementara, sekolah-sekolah di kawasan ini dibangun atas bantuan donatur dari negara Turki. Setiap hari, di depan rumah sakit berlalu lalang anak-anak sekolah dan juga warga setempat yang akan pergi ke tempat kerja mereka di kawasan lain Gaza. Maklum, karena tempatnya yang boleh dikatakan di ujung utara Gaza, hanya sekitar 2,5 km dari perbatasan dengan Israel, kawasan ini relatif sepi dari aktivitas bisnis. Dalam perjalanan pergi dan pulang, warga sering menyempatkan diri mampir ke kompleks rumah sakit itu, terutama untuk meneguk segelas air bersih gratis yang disediakan khusus di halaman rumah sakit tersebut—untuk melepas dahaga mereka. Saat mampir, warga kadang bertanya, kapan rumah sakit ini akan selesai. Mereka berharap rumah sakit itu bisa memudahkan mereka untuk mengakses pelayanan kesehatan, tak perlu jauh-jauh lagi pergi ke rumah sakit di kawasan lain di Gaza. Kapan waktu itu akan datang? Walaupun bangunannya hampir 100 persen selesai, untuk operasional rumah sakit itu masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. Gedung rumah sakit ini mulai dibangun sejak Mei 2011. Dana mencapai Rp 35 miliar telah tertanam untuk pembangunan bangunan utama rumah sakit (seluas 9,600 meter persegi) dan juga gedung manajemen rumah sakit. Dana tersebut murni dari sumbangan masyarakat Indonesia. Dana itu juga akan dipakai untuk membangun infrastruktur lingkungan rumah sakit (jalan, pagar, taman, dan saluran pembuangan air). Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f61l-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-1                

Press Conference conducted by Freedom Flotilla Coordinator

Istanbul – Today (28/3) was conducted a press conference by koordinator Fredoom Flotilla’s coordinator and lawyers representing  prosecutors in a case of Israeli’s army attack toward the crew of Freedom Flotilla. Adnan Wirawan of TPM ( Muslim’s Lawyers team) has questioned on what to do if Turkey’s court decided to close the case,  and IHH Chairman  Bulent Yildirim has answered the fact  since the beginning Freedom Flotilla has won the case.  He also mentioned that Turkey’s law also has provided clear foundation that in a case like this, the four Israeli Generals would be immediately arrested. According to Bulent, a “public case” could not be covered according to Turkey’s law since each court’s session conducted would show to the world that the case has still been going on. Bulent also said if only the case was closed by the judges, therefore it only showed the defeat of Turkey, since the case is a great opportunity to show its national law power. And even if the case was closed, the Mavi Marmara ship is still available and ready to be used in re-sailing to Gaza.        

Silahkan bertanya?