Misi Equipment Assessment MER-C di Gaza, Palestina

Jakarta – Pada hari ini (17/2) MER-C kembali memberangkatkan tim ke jalur Gaza, Palestina. Tim yang terdiri dari Presidium MER-C Ir. Faried Thalib, Site Manager Rumah Sakit Indonesia (RSI) Ir. Nur Ikhwan Abadi, Medical Technologist Ahyaudin Sodri, didampingi oleh Yoebal Ganesha Rasyid dari Republika dan Subhan Hariadi Putra dari TVOne take off pukul 07.45 WIB menuju Kairo, Mesir, dengan menaiki pesawat Emirates Airlines, sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju jalur Gaza, Palestina. Menurut Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis SpOT, tujuan keberangkatan tim kali ini adalah untuk melakukan assessment terhadap pengadaan alat kesehatan bagi RSI, di mana waktu yang diperlukan untuk melakukan tugas ini diperkirakan mencapai dua minggu. Joserizal menambahkan bahwa walaupun bangunan Rumah Sakit Indonesia dapat dikatakan telah rampung, akan tetapi MER-C masih akan menggalang dana sebesar 65 miliar Rupiah untuk pengadaan alat kesehatan bagi RSI, di mana dana yang dibutuhkan sesegera mungkin, agar RSI dapat mulai dioperasikan, berjumlah 13 miliar rupiah. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Dukungan untuk Pengadaan Alat Kesehatan RS INDONESIA dapat disalurkan melalui: Bank Syariah Mandiri (BSM) : 700.1352.061 Bank Central Asia (BCA) : 686.0153678 BNI Syariah : 08.111.929.73 Bank Rakyat Indonesia (BRI) : 033.501.0007.60308 Bank Muamalat Indonesia (BMI) : 301.00521.15 Semua rekening atas nama Medical Emergency Rescue Committee Donasi RSI juga bisa melalui iB Hasanah Card dari BNI Syariah. Info dan Pendaftaran Donasi hubungi 500046. ——— Info progress pembangunan RSI dapat diikuti di: Facebook : RSIndonesia Twitter : @RSIndonesia Instagram : @rsindonesia
RSI Gaza Dibangun Bermodalkan Ketulusan Hati

Jakarta, 28 Rabi’ul Awwal 1435/30 Januari 2014 (MINA)-Rampungnya pelaksanaan konstuksi fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza yang dibangun di lokasi sulit, dinilai oleh Ketua Tim Konstruksi Pembanguan, Ir. Faried Thalib sebagai pertolongan Allah melalui hati-hati dan tangan-tangan yang tulus. “Kita tidak pungkiri,ini pertolongan Allah melalui hati-hati yang ikhlas dan tangan-tangan yang tulus dari rakyat Indonesia,” kata Faried saat di temui oleh Mi’raj Islamic News Agenc,y (MINA) di Jakarta, Rabu malam (29/1). Menurut insinyur yang mengomandani pembangunan RSI di Gaza itu, dana pembangunan murni berasal dari rakyat Indonesia yang membantu dengan menyisihkan sebagian rezekinya dan donatur lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah. Faried yang juga menukangi pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku, mengaku sangat bersyukur kepada Allah yang memberikan kesempatan kepadanya untuk ikut ambil bagian dalam tim pembangunan RSI di Gaza. “Rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina, tidak berdiri sendiri atau karena saya, tapi ini kerja tim semuanya, MER-C, Ponpes Al-Fatah, dan banyak pihak, terutama rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujar Faried yang sedang menunggu ijin keberangkatannya ke Gaza bersama tim RSI selanjutnya. Menurut salah satu Anggota Presidium MER-C ini, RSI di Gaza adalah bukti tanda mata kasih dan cinta dari rakyat Indonesia kepada Palestina. “Inilah suatu ungkapan, bukan sekedar sebuah rumah sakit, tapi lebih dari itu. Indonesia akan memberikan yang terbaik untuk Palestina, in syaallah.” Lebih murah dibandingkan di Indonesia “Di akhir pembangunan ini, saya coba menghitung biaya pembangunan permeternya. Subhanallah. Jika saya bangun di Indonesia, jauh lebih mahal. Itu relatif murah dengan kualitas bangunan yang lebih baik,” kata Faried. Untuk daerah konflik, harga tanah relatif normal dan harga material murah, dapat dikategorikan sama dengan di Indonesia. “Perbandingannya, di Gaza pembangunannya permeter bisa tiga atau empat jutaan Rupiah, tapi di Indonesia, tidak mungkin di bawa lima juta.” /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Karena di sana daerah konflik, ada tingkat-tingkat kesulitan yang dialami di awal-awal pembangunan. Namun setelah tim dari Indoensia lebih mengetahui medan di lapangan, tidak terlalu sulit mendapatkan barang-barang tersebut. Walaupun daerah konflik, ternyata suplai material tidak terlalu sulit. Bahan-bahan dibeli di Gaza, suplierrnya dari Mesir dan Israel. Memang saat terjadi ketegangan usai pemboman, baik di Israel maupun di Gaza, barang-barang agak sulit diperoleh untuk beberapa waktu. Namun, dua atau tiga minggu kemudian, kembali normal lagi. Pasca kudeta Mesir, suplai material terkendala sejak tertutupnya jalur-jalur tidak resmi dari Mesir,tidak seperti pada era pemerintahan Muhammad Mursi memerintah, sehingga suplai hanya tinggal dari satu pihak, yaitu Israel. Keunikan Israel, meski pun militernya berperang dengan Gaza, perdagangan barang ke wilayah yang dikuasai Hamas tetap berjalan. Rumah sakit yang membidangi bidang traumatologi tersebut bangunannya berbentuk segi delapan yang seluruh bagian luarnya ditutup dengan marmer. Marmer yang tebalnya lima centimeter, akan menjadi pelapis untuk menangkal cuaca ekstrim. Ketika musim panas, bahan marmer mampu meredam suhu menjadi dingin dan ketika musim dingin, suhu tetap hangat. Tebal tembok bangunan sekitar 27 centimeter. Tahapan pembangunan fisik RSI sudah selesai dan memasuki tahap pengadaan peralatan kesehatan. Menurut Faried, anggaran yang diperlukan sekitar Rp60 – 75 milyar, atau meningkat dua kali lipat dari jumlah yang semula dianggarkan. (L/P09/E02/Mi’raj News). Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14554-rsi-di-gaza-dibangun-oleh-tangan-tangan-yang-tulus.html
Rumah Sakit Indonesia di Gaza Diserahkan Maret

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bangunan fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina direncakan selesai Maret 2014. Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Jose Rizal Jurnalis mengatakan instalasi fisik berupa gedung, listrik, pendingin ruangan dan gas sudah selesai. “Direncanakan Maret kita serahkan ke rakyat Palestina,” ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (26/1). Namun, selesainya bangunan fisik belum sepenuhnya membuat RSI di Gaza bisa berjalan. Karena, peralatan medis masih belum banyak. Setelah penyerahan kepada rakyat Palestina, Mer-C akan melakukan kampanye untuk bantuan peralatan medis. Menurutnya, angka bantuan peralatan medis justru lebih besar ketimbang bantuan pembangunan fisik. “Kalau pembangunan gedung habis Rp 40 miliar, untuk peralatan medis kita butuh Rp 65 miliar,” ujar Jose. Meski belum sempurna benar, saat diserahkan nanti, RSI di Gaza sudah bisa mengoperasikan Unit Gawat Darurat (UGD), satu atau dua ruang operasi, 10 tempat tidur dan satu poliklinik. Ia masih membutuhkan perlatan seperti CT scan, instalasi ruang ICU, peralatan laboratorium dan penambahan tempat tidur untuk perawatan. Mer-C sudah berkomitmen akan terus mendampingi operasional RSI hingga lengkap peralatan medisnya. Di sisi lain, operasional RSI nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada rakyat Palestina. Sesuai dengan cita- cita awal, prinsip RSI adalah bantuan dari rakyat Indonesia untuk masyarakat Palestina. Teknisnya, nanti akan dibentuk kepengurusan rumah sakit yang sepenuhnya diisi orang Palestina. “Syaratnya harus berisi faksi-faksi di sana,” terang dia. Untuk itu, ia sudah menjalin komunikasi dengan faksi-faksi di Palestina utama di Gaza. Hamas, Fatah dan Jihad Islami sudah menyambut seruan ini. Namun untuk penanggung jawab tetap akan diserahkan kepada otoritas pemerintahan di Gaza. Untuk mengimbangi, ia juga menjalin komunikasi dengan Duta Besar Palestina di Indonesia yang berafiliasi dengan pemerintahan di Tepi Barat. “Jika mereka tak bisa bersatu secara politik, minimal dalam bidang kesehatan.” Sementara untuk tenaga kesehatan, dokter dan perawat lokal memiliki kompetensi yang cukup untuk menjalankan RSI. Meski secara kuantitas, Jose mengakui jumlah tenaga kesehatan asal Palestina masih kurang. “Di masa damai mencukupi. Kalau masa perang sangat kurang,” pungkas Jose. Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Mansyur Faqih Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/26/n002lq-rumah-sakit-indonesia-di-gaza-diserahkan-maret
Serangan Udara Israel Di Utara Gaza Getarkan RS Indonesia

Jalur Gaza, 14 Rabi’ul Awwal 1435/16 Januari 2014 (MINA) – Bom-bom yang dijatuhkan pesawat tempur F16 Israel di beberapa titik di Jalur Gaza pada Kamis (16/1) dini hari menggetarkan bangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di utara Gaza. Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza melaporkan serangan bom sekitar 1:OO dinihari diarahkan ke sejumlah titik seperti Gaza City, sebelah timur kota Gaza (Zaitun dan Tuufah), Jalur Gaza Tengah (Nusairot), sebelah Barat Gaza (Maqousi) dan sebelah utara Jalur Gaza (Ashkolan, Beit Lahiya, dan pantai Utara). RSI Gaza yang terletak di Beit Lahiya ikut bergetar akibat tiga kali serangan bom Israel yang mengenai kamp pelatihan pejuang sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam. Menurut koresponden MINA, serangan udara tersebut diduga merupakan aksi pembalasan serangan pejuang Palestina dari Gaza terhadap sasaran di wilayah Israel beberapa waktu lalu. “Alhamdulillah, bangunan rumah sakit tidak megalami kerusakan sama sekali ,meskipun tiga ledakan yang terdengar menggetarkan bangunan,” lapor koresponden Muhamad Husein. Sementara itu, pejabat kementerian kesehatan Palestina Ashraf al-Qedra mengatakan, empat anak dan seorang perempuan menderita luka ringan dalam serangan udara di dekat kompleks perumahan Maqousi. Husein mengatakan warga di Tuufah mengalami kerusakan kecil akibat radiasi bom yang mengenai mereka. Jendela-jendela rumah mereka rusak akibatnya.(L/P03/E02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14080-bom-f16-israel-di-utara-gaza-getarkan-rumah-sakit-indonesia.html
Indonesia’s Poor Donate $15 Million To Build A Hospital In Gaza

An Indonesian non-governmental organisation has collected nearly $15 million from Indonesia’s poor and rich alike to build the first Indonesian hospital in the Gaza Strip. The hospital, which will serve those Palestinians living in northern Gaza, is nearly finished and awaiting some equipment before it starts receiving patients. It is due for completion in May. Southeast Asian countries are known for their strong support for Palestine, especially the Muslim communities who spend many efforts to visit and support Gaza. Fikri Fikri, a 24 year-old young man from Sumatra, is a volunteer at Indonesia’s Medical Emergency Rescue Committee, known as MER-C. He and 28 other Indonesians have been in Gaza for nearly four months to finalise building the hospital. Fekri told Quds.net that: “We are nearly 30 people between workers, engineers, doctors and technicians. Many of us have already returned home because the work here is almost completed.” Fekri described how “Indonesian civil society groups in Jakarta collected donations from people who were happy to support Gaza, even though many of them suffered uneasy financial situations.” When asked if they face any problems in Gaza, Fekri responded that: “The people like us here. We have only encountered a small problem with the local Ministry of Health because the organisation wanted to have an office near the hospital but the ministry refused to allow this. But we will solve it.” Fekri, who studies sharia at the Islamic University of Gaza, explained how: “We have taken risks to complete the hospital. It’s a nice feeling to help the wounded in Gaza who suffer from Israeli aggression. We have come here and we know that it’s not easy, but we are happy. I have learned Arabic in an acceptable way. However, I’m not married so I miss my home and my country.” Abu Mohammed, a 42 year-old Indonesian engineer who joined the mission, said: “I feel sad sometimes because I have been here for so long. I feel lonely, but because I work for Palestine and Gaza, I am proud of what I do. We are nearly done. There are a few Indonesian workers here who take a symbolic wage. They all came to work for Palestine. We should finish our work and transfer the hospital’s administration to the Local Ministry of Health in May 2014. We work near the borders and it is unsafe. I do not know how to describe my feeling when I hear the explosions and Israeli airstrikes; however, I am ready to die for Palestine and for the weak and the just. I am going to be very happy when the hospital is completed and ready to serve the people of Gaza and when I return safely to my family in Jakarta.” The Health Ministry of the Hamas-led government in Gaza and Indonesia’s MER-C signed a memorandum of understanding on 21 November 2011 stipulating the financing of the hospital. Shadi Abu Herbein, the deputy director of the hospital, explained that the hospital is established on an area that is 3000 square metres and has 100 beds, eight of which are for the intensive care unit, ten for the reception, and four rooms for surgeries. – See more at: http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza#sthash.65e362SF.dpuf Source : http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza
Mobil Sumbangan Ini Dilelang untuk RS Indonesia

Jakarta – Membeli mobil Yaris keluaran tahun 2008 ini berarti anda ikut menyumbang untuk program pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Mengapa? Karena mobil sumbangan dari sepasang suami istri dermawan asal Bintaro ini, kini dijual oleh MER-C dengan cara dilelang selama 1 bulan sampai dengan akhir Januari 2014 nanti. Hasil lelang seluruhnya akan disumbangkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Cara lelang dilakukan oleh MER-C untuk menambah nilai sumbangan mobil sekaligus mengajak pembeli ikut beramal dalam program ini. “Harga lelang dibuka mulai Rp 125 juta,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C. “Saat ini sudah ada yang mengajukan untuk membeli seharga Rp 131 juta. “Semua penawaran kami catat dan tampung sampai masa lelang berakhir pada tanggal 31 Januari 2014 nanti,” tambahnya. Bagi pembeli sekaligus dermawan yang berminat, silahkan datang ke kantor MER-C yang terletak di Jalan Kramat Lontar No. J-157 Senen Jakarta Pusat mulai Senin – Sabtu pada jam kerja untuk melihat langsung kondisi mobil. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi MER-C di 081199 0176.
Meski Cuaca Ekstrim, Pembangunan RS Indonesia Di Gaza Terus Berlanjut

Proses pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia, Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza, Palestina. (Foto: MER-C/MINA) Bayt Lahiya, 12 Shafar 1435/15 Desember 2013 (MINA) – Meski kondisi cuaca ekstrim musim dingin melanda sekitar Jalur Gaza, Palestina, hingga turunnya hujan dan salju, tidak menyurutkan semangat relawan untuk terus melaksanakan pembangunan tahap akhir Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana. “Hujan yang mengguyur Jalur Gaza tidak menghentikan proses pembangunan RS Indonesia, mereka menghadapinya dengan semangat,” kontributor Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA), Fikri di Jalur Gaza melaporkan, Sabtu (14/12) malam waktu setempat. Fikri mengungkapkan, para relawan menyiasati rasa dingin suhu minus delapan derajat dengan memakai pakaian rangkap, jaket, dan pakaian khas musim dingin. “Di mana orang Gaza menyebutnya ‘Long Jhons’,” tuturnya. Tidak hanya itu, hujan turun selama tiga hari terakhir sempat menghambat aktivitas para relawan dalam membangun RS Indonesia. Para relawan hanya mampu mengerjakan pekerjaan bagian dalam, dengan mengganti keramik yang pecah akibat alat-alat berat atau sekedar membersihkan lantai. Sementara pengerjaan pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia terhenti jika hujan turun. “Hujan yang tak kunjung berhenti menjadi kendala kami, namun walau demikian kami melanjutkan pekerjaan ketika hujan reda,” kata Sumadi, relawan RS Indonesia asal Wonogiri. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban penjajahan Israel atas tanah Palestina. RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Laporan yang diterima oleh MINA, setidaknya empat korban telah tewas akibat cuaca ekstrim di Jalur Gaza, dua di antaranya meninggal karena kedinginan, sementara yang lainnya meninggal akibat luka-luka setelah banjir yang tinggi melanda. Musim dingin yang disertai banjir di sebagian wilayah Jalur Gaza semakin memperburuk kondisi krisis Gaza di tengah blokade yang dilakukan penjajah Israel terhadap warga Palestina di sana selama lebih dari tujuh tahun, terutama setelah penutupan seluruh terowongan di Rafah yang menjadi alternatif penyaluran kebutuhan pangan sekitar 1,8 juta jiwa di area tepi laut itu. Pada Sabtu (14/12) kemarin, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah mendesak masyarakat internasional untuk membantu warga Jalur Gaza yang terkena dampak bencana banjir yang sedang melanda wilayah yang diblokade Israel tersebut. (L/P08/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12884-pembangunan-rsi-terus-berlanjut-meski-kondisi-cuaca-gaza-ekstrim.htmlA
Relawan Indonesia Di Gaza Kunjungi Rumah Duka Ismail Haniyah

Perdana Menteri Ismail Haniyah sedang membawa jenazah cucu pertamanya Amal Abdussalam Haniyah, di salah satu rumah sakit di Gaza City, Rabu (27/11). (Foto: Team Palestina) Gaza City, 24 Muharram 1435/28 November 2013 (MINA) – Para relawan Indonesia di Gaza berkunjung ke rumah duka Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya setelah cucu satu-satunya pemimpin di Jalur Gaza itu meninggal pada Rabu (27/11) akibat krisis yang melanda negeri itu semakin memburuk. Amal Abdussalaam Haniyah yang masih berumur satu tahun meninggal karena penyakit infeksi pencernaan yang kemudian menyerang saraf otaknya. Amal merupakan putri dari putra sulung Ismail Haniyah yang bernama Abdussalam Haniyah. Cucu perempuan Haniyah satu-satunya itu dinyatakan meninggal di Rumah Sakit An-Nasr, Jalur Gaza, menyusul kekurangan peralatan dan obat-obatan akibat blokade berkelanjutan yang kini melanda daerah kecil itu. Dua puluh dua relawan yang kini tinggal di Beit Lahiya, utara Gaza, berangkat pada Kamis sore (28/11) ke rumah Ismail Haniyah di Jalur Gaza dan disambut langsung Perdana Menteri beserta keluarga dan jajaran pemerintahan yang juga tengah berkunjung. ‘Pada saat kami ke sana, para tamu dan warga yang ikut ta’ziah (melawat) ke rumah Ismail Haniyah,” kata koresponden MINA (Mi’raj News Agency), Muhamad Hussein. Hussein melaporkan, minimnya peralatan medis di Jalur Gaza akibat blokade Israel menyebabkan banyak pasien di berbagai rumah sakit terbengkalai dan tidak mampu dirawat sebagaimana mestinya. Namun, Hussein melanjutkan, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang tidak lama lagi akan selesai proses pembangunannya diharapkan dapat meringankan penderitaan masyarakat Gaza.(L/K11/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12479-relawan-indonesia-di-gaza-ta-ziah-ke-rumah-ismail-haniya.html
Kembali Israel Serang Gaza

Gaza, Palestina – Rabu 20 November 2013, sekitar pukul 10.57 pagi waktu Gaza, salah seorang relawan pembangunan RSI, Edy Abu fikri menyampaikan kabar terakhir tentang Gaza . “Serangan serentak Israel bombardir dg Drone, Apache dan F16 ke wilayah Gaza dari utara hingga selatan sejak terbenamnya matahari selasa malam rabu ini. mohon doanya,” demikian pesan singkat yang disampaikan Edy Abu Fikri melalui BBM. Saat ini pembangunan RSI masih menjalani tahap penyelesaian pembangunan fisik, sementara MER-C masih terus menggalang dana untuk keberadaan alat medis bagi RSI.
Again, Israel Attacks Gaza

Jakarta – November 20, 2013, 10.57am, one of volunteers of Indonesian Hospital Construction project at Gaza, Edy Abu Fikri reported the latest update toward Gaza situation to MER-C’s blackberry messenger group. “Simultaneous attacked by Drone, Apache and F16 of Israel hit northern and southern Gaza, since Tuesday night. Please pray for us,” said Edy. In the meantime, RSI is on the finishing phase meanwhile MER-C has still been doing fundraising for medical equipments at Indonesian Hospital at Gaza.