MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Rumah Sakit Indonesia di Gaza Diserahkan Maret

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bangunan fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina direncakan selesai Maret 2014. Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Jose Rizal Jurnalis mengatakan instalasi fisik berupa gedung, listrik, pendingin ruangan dan gas sudah selesai.  “Direncanakan Maret kita serahkan ke rakyat Palestina,” ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (26/1).   Namun, selesainya bangunan fisik belum sepenuhnya membuat RSI di Gaza bisa berjalan. Karena, peralatan medis masih belum banyak. Setelah penyerahan kepada rakyat Palestina, Mer-C akan melakukan kampanye untuk bantuan peralatan medis. Menurutnya, angka bantuan peralatan medis justru lebih besar ketimbang bantuan pembangunan fisik. “Kalau pembangunan gedung habis Rp 40 miliar, untuk peralatan medis kita butuh Rp 65 miliar,” ujar Jose. Meski belum sempurna benar, saat diserahkan nanti, RSI di Gaza sudah bisa mengoperasikan Unit Gawat Darurat (UGD), satu atau dua ruang operasi, 10 tempat tidur dan satu poliklinik. Ia masih membutuhkan perlatan seperti CT scan, instalasi ruang ICU, peralatan laboratorium dan penambahan tempat tidur untuk perawatan.  Mer-C sudah berkomitmen akan terus mendampingi operasional RSI hingga lengkap peralatan medisnya. Di sisi lain, operasional RSI nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada rakyat Palestina. Sesuai dengan cita- cita awal, prinsip RSI adalah bantuan dari rakyat Indonesia untuk masyarakat Palestina. Teknisnya, nanti akan dibentuk kepengurusan rumah sakit yang sepenuhnya diisi orang Palestina. “Syaratnya harus berisi faksi-faksi di sana,” terang dia.  Untuk itu, ia sudah menjalin komunikasi dengan faksi-faksi di Palestina utama di Gaza. Hamas, Fatah dan Jihad Islami sudah menyambut seruan ini. Namun untuk penanggung jawab tetap akan diserahkan kepada otoritas pemerintahan di Gaza. Untuk mengimbangi, ia juga menjalin komunikasi dengan Duta Besar Palestina di Indonesia yang berafiliasi dengan pemerintahan di Tepi Barat. “Jika mereka tak bisa bersatu secara politik, minimal dalam bidang kesehatan.” Sementara untuk tenaga kesehatan, dokter dan perawat lokal memiliki kompetensi yang cukup untuk menjalankan RSI. Meski secara kuantitas, Jose mengakui jumlah tenaga kesehatan asal Palestina masih kurang. “Di masa damai mencukupi. Kalau masa perang sangat kurang,” pungkas Jose.  Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Mansyur Faqih Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/26/n002lq-rumah-sakit-indonesia-di-gaza-diserahkan-maret                

Serangan Udara Israel Di Utara Gaza Getarkan RS Indonesia

Jalur Gaza, 14 Rabi’ul Awwal 1435/16 Januari 2014 (MINA) – Bom-bom yang dijatuhkan  pesawat tempur F16 Israel di beberapa titik di Jalur Gaza pada Kamis (16/1) dini hari menggetarkan bangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di utara Gaza.  Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza melaporkan serangan bom sekitar 1:OO dinihari diarahkan ke sejumlah titik seperti Gaza City, sebelah timur kota Gaza (Zaitun dan Tuufah), Jalur Gaza Tengah (Nusairot), sebelah Barat Gaza (Maqousi) dan sebelah utara Jalur Gaza (Ashkolan, Beit Lahiya, dan pantai Utara). RSI Gaza yang terletak di Beit Lahiya ikut bergetar akibat tiga kali serangan bom Israel  yang mengenai kamp pelatihan pejuang sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam.  Menurut koresponden MINA, serangan udara tersebut diduga merupakan aksi pembalasan  serangan pejuang Palestina dari Gaza terhadap sasaran di wilayah  Israel beberapa waktu lalu. “Alhamdulillah, bangunan rumah sakit tidak megalami kerusakan sama sekali ,meskipun tiga ledakan yang terdengar menggetarkan bangunan,” lapor koresponden Muhamad Husein.  Sementara itu, pejabat kementerian kesehatan Palestina Ashraf al-Qedra mengatakan, empat anak dan seorang perempuan menderita luka ringan dalam serangan udara di dekat kompleks perumahan Maqousi. Husein mengatakan warga di Tuufah mengalami kerusakan kecil akibat radiasi bom yang mengenai mereka. Jendela-jendela rumah mereka rusak akibatnya.(L/P03/E02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14080-bom-f16-israel-di-utara-gaza-getarkan-rumah-sakit-indonesia.html                

Indonesia’s Poor Donate $15 Million To Build A Hospital In Gaza

An Indonesian non-governmental organisation has collected nearly $15 million from Indonesia’s poor and rich alike to build the first Indonesian hospital in the Gaza Strip. The hospital, which will serve those Palestinians living in northern Gaza, is nearly finished and awaiting some equipment before it starts receiving patients. It is due for completion in May.     Southeast Asian countries are known for their strong support for Palestine, especially the Muslim communities who spend many efforts to visit and support Gaza. Fikri Fikri, a 24 year-old young man from Sumatra, is a volunteer at Indonesia’s Medical Emergency Rescue Committee, known as MER-C. He and 28 other Indonesians have been in Gaza for nearly four months to finalise building the hospital.   Fekri told Quds.net that: “We are nearly 30 people between workers, engineers, doctors and technicians. Many of us have already returned home because the work here is almost completed.” Fekri described how “Indonesian civil society groups in Jakarta collected donations from people who were happy to support Gaza, even though many of them suffered uneasy financial situations.”   When asked if they face any problems in Gaza, Fekri responded that: “The people like us here. We have only encountered a small problem with the local Ministry of Health because the organisation wanted to have an office near the hospital but the ministry refused to allow this. But we will solve it.”   Fekri, who studies sharia at the Islamic University of Gaza, explained how: “We have taken risks to complete the hospital. It’s a nice feeling to help the wounded in Gaza who suffer from Israeli aggression. We have come here and we know that it’s not easy, but we are happy. I have learned Arabic in an acceptable way. However, I’m not married so I miss my home and my country.”   Abu Mohammed, a 42 year-old Indonesian engineer who joined the mission, said: “I feel sad sometimes because I have been here for so long. I feel lonely, but because I work for Palestine and Gaza, I am proud of what I do. We are nearly done. There are a few Indonesian workers here who take a symbolic wage. They all came to work for Palestine. We should finish our work and transfer the hospital’s administration to the Local Ministry of Health in May 2014. We work near the borders and it is unsafe. I do not know how to describe my feeling when I hear the explosions and Israeli airstrikes; however, I am ready to die for Palestine and for the weak and the just. I am going to be very happy when the hospital is completed and ready to serve the people of Gaza and when I return safely to my family in Jakarta.”   The Health Ministry of the Hamas-led government in Gaza and Indonesia’s MER-C signed a memorandum of understanding on 21 November 2011 stipulating the financing of the hospital.   Shadi Abu Herbein, the deputy director of the hospital, explained that the hospital is established on an area that is 3000 square metres and has 100 beds, eight of which are for the intensive care unit, ten for the reception, and four rooms for surgeries.   – See more at: http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza#sthash.65e362SF.dpuf    Source : http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza                  

Mobil Sumbangan Ini Dilelang untuk RS Indonesia

      Jakarta – Membeli mobil Yaris keluaran tahun 2008 ini berarti anda ikut menyumbang untuk program pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Mengapa? Karena mobil sumbangan dari sepasang suami istri dermawan asal Bintaro ini, kini dijual oleh MER-C dengan cara dilelang selama 1 bulan sampai dengan akhir Januari 2014 nanti. Hasil lelang seluruhnya akan disumbangkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Cara lelang dilakukan oleh MER-C untuk menambah nilai sumbangan mobil sekaligus mengajak pembeli ikut beramal dalam program ini.     “Harga lelang dibuka mulai Rp 125 juta,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C. “Saat ini sudah ada yang mengajukan untuk membeli seharga Rp 131 juta. “Semua penawaran kami catat dan tampung sampai masa lelang berakhir pada tanggal 31 Januari 2014 nanti,” tambahnya.   Bagi pembeli sekaligus dermawan yang berminat, silahkan datang ke kantor MER-C yang terletak di Jalan Kramat Lontar No. J-157 Senen Jakarta Pusat mulai Senin – Sabtu pada jam kerja untuk melihat langsung kondisi mobil. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi MER-C di 081199 0176.                

Meski Cuaca Ekstrim, Pembangunan RS Indonesia Di Gaza Terus Berlanjut

Proses pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia, Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza, Palestina. (Foto: MER-C/MINA) Bayt Lahiya, 12 Shafar 1435/15 Desember 2013 (MINA) – Meski kondisi cuaca ekstrim musim dingin  melanda sekitar Jalur Gaza, Palestina, hingga turunnya hujan dan salju, tidak menyurutkan semangat relawan untuk terus melaksanakan pembangunan tahap akhir Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana. “Hujan yang mengguyur Jalur Gaza tidak menghentikan proses pembangunan RS Indonesia, mereka menghadapinya dengan semangat,” kontributor Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA), Fikri di Jalur Gaza melaporkan, Sabtu (14/12) malam waktu setempat. Fikri mengungkapkan, para relawan menyiasati rasa dingin suhu minus delapan derajat  dengan memakai pakaian rangkap, jaket, dan pakaian khas musim dingin. “Di mana orang Gaza menyebutnya ‘Long Jhons’,” tuturnya. Tidak hanya itu, hujan turun selama tiga hari terakhir sempat menghambat aktivitas para relawan dalam membangun RS Indonesia. Para relawan hanya mampu mengerjakan pekerjaan bagian dalam, dengan mengganti keramik yang pecah akibat alat-alat berat atau sekedar membersihkan lantai. Sementara pengerjaan pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia terhenti jika hujan turun. “Hujan yang tak kunjung berhenti menjadi kendala kami, namun walau demikian kami melanjutkan pekerjaan ketika hujan reda,” kata Sumadi, relawan RS Indonesia asal Wonogiri. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban penjajahan Israel atas tanah Palestina.  RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Laporan yang diterima oleh MINA, setidaknya empat korban telah tewas akibat cuaca ekstrim di Jalur Gaza, dua di antaranya meninggal karena  kedinginan, sementara yang lainnya meninggal akibat luka-luka setelah banjir yang tinggi melanda. Musim dingin yang disertai banjir di sebagian wilayah Jalur Gaza semakin memperburuk kondisi krisis Gaza di tengah blokade yang dilakukan penjajah Israel terhadap warga Palestina di sana selama lebih dari tujuh tahun, terutama setelah penutupan seluruh terowongan di Rafah yang menjadi alternatif penyaluran kebutuhan pangan sekitar 1,8 juta jiwa di area tepi laut itu. Pada Sabtu (14/12) kemarin, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah mendesak masyarakat internasional untuk membantu warga Jalur Gaza yang terkena dampak bencana banjir yang sedang melanda wilayah yang diblokade Israel tersebut. (L/P08/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12884-pembangunan-rsi-terus-berlanjut-meski-kondisi-cuaca-gaza-ekstrim.htmlA

Relawan Indonesia Di Gaza Kunjungi Rumah Duka Ismail Haniyah

Perdana Menteri Ismail Haniyah sedang membawa jenazah cucu pertamanya Amal Abdussalam Haniyah, di salah satu rumah sakit di Gaza City, Rabu (27/11). (Foto: Team Palestina) Gaza City, 24 Muharram 1435/28 November 2013 (MINA) – Para relawan Indonesia di Gaza berkunjung ke rumah duka Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya setelah cucu satu-satunya pemimpin di Jalur Gaza itu meninggal pada Rabu (27/11) akibat krisis yang melanda negeri itu semakin memburuk. Amal Abdussalaam Haniyah yang masih berumur satu tahun meninggal karena penyakit infeksi pencernaan yang kemudian menyerang saraf otaknya. Amal merupakan putri dari putra sulung Ismail Haniyah yang bernama Abdussalam Haniyah. Cucu perempuan Haniyah satu-satunya itu dinyatakan meninggal di Rumah Sakit An-Nasr, Jalur Gaza, menyusul kekurangan peralatan dan obat-obatan akibat blokade berkelanjutan yang kini melanda daerah kecil itu. Dua puluh dua relawan yang kini tinggal di Beit Lahiya, utara Gaza, berangkat pada Kamis sore (28/11) ke rumah Ismail Haniyah di Jalur Gaza dan disambut langsung Perdana Menteri beserta keluarga dan jajaran pemerintahan yang juga tengah berkunjung. ‘Pada saat kami ke sana, para tamu dan warga yang ikut ta’ziah (melawat) ke rumah Ismail Haniyah,” kata koresponden MINA (Mi’raj News Agency), Muhamad Hussein. Hussein melaporkan, minimnya peralatan medis di Jalur Gaza akibat blokade Israel menyebabkan banyak pasien di berbagai rumah sakit terbengkalai dan tidak mampu dirawat sebagaimana mestinya. Namun, Hussein melanjutkan, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang tidak lama lagi akan selesai proses pembangunannya diharapkan dapat meringankan penderitaan  masyarakat Gaza.(L/K11/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12479-relawan-indonesia-di-gaza-ta-ziah-ke-rumah-ismail-haniya.html

Kembali Israel Serang Gaza

Gaza, Palestina – Rabu 20 November 2013, sekitar pukul 10.57 pagi waktu Gaza, salah seorang relawan pembangunan  RSI, Edy Abu fikri menyampaikan kabar terakhir tentang Gaza . “Serangan serentak Israel bombardir dg Drone, Apache dan F16 ke wilayah Gaza dari utara hingga selatan sejak terbenamnya matahari selasa malam rabu ini. mohon doanya,” demikian pesan singkat yang disampaikan Edy Abu Fikri melalui BBM. Saat ini pembangunan RSI masih menjalani tahap penyelesaian pembangunan fisik, sementara MER-C masih terus menggalang dana untuk keberadaan alat medis bagi RSI.

Again, Israel Attacks Gaza

Jakarta – November 20, 2013, 10.57am, one of volunteers of Indonesian Hospital Construction project at Gaza, Edy Abu Fikri reported the latest update toward Gaza situation to MER-C’s  blackberry messenger group. “Simultaneous attacked by Drone, Apache and F16 of Israel hit northern and southern Gaza, since Tuesday night. Please pray for us,” said Edy. In the meantime, RSI is on the finishing phase meanwhile MER-C has still been doing fundraising for medical equipments at Indonesian Hospital at Gaza.

Apa Kabar Keluarga Relawan MER-C di Gaza?

Lampung – Huzaifah dan Muaz, begitu nama kedua anak kecil yang sedang bercengkrama di atas tikar plastik di rumah pak Bukhori.  Ayahnya sudah hampir 1 tahun berjihad, menunaikan amanah pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Kisah Keluarga Bapak Bukhori Muslim Sadeli Jalan darat selama 2 jam kami tempuh dari kota Bandar Lampung ke desa Bangunrejo pedalaman Lampung Tengah, di sore hari mendung tanggal 19 November 2013. Perjalanan melintasi perkebunan PTPN 7 jauh dari nyaman, karena sebagian jalan yang beraspal sudah digantikan dengan lobang-lobang, dan sebagian yang tidak beraspal menjadi kubangan lumpur besar-besar, namun amanah ini harus disampaikan, menjalin tali silaturahmi dan membawa sedikit oleh-oleh buat keluarga para mujahid, bukan karena mereka ingin dihargai, tapi karena kami merasa mereka pantas dihormati. Rombongan MER-C dari Jakarta yang terdiri atas pak  Ir. Farid Thalib, ibu yuni, Nurfitri Taher (a.k.a mbak Upik) dr. Habib, dan dr. Zecky tiba jam 4 sore di rumah sederhana itu. Disambut oleh mertua pak Bukhori yaitu bapak Slamet, Istri pak Bukhori dan 2 orang anak beliau, yang tertua berusia 3 tahun, dan paling kecil berusia 1 tahun. Hadir juga beberapa anggota keluarga yang tinggal berdekatan dengan rumah pak Bukhori.  Pak Farid membuka silaturahmi dengan menceritakan bahwa kondisi relawan konstruksi di Gaza dalam keadaan sehat walafiat, dan bagaimana rmereka bekerja keras sehingga pembangunan sebuah rumah sakit di Gaza, yang awalnya dianggap rencana gila dengan izin Allah dapat terlaksana sampai pembangunan fisik selesai. Diserahkan pula sebuah album foto untuk keluarga, yang berisi gambar-gambar aktivitas relawan di Gaza, Palestina. “Ini bapakmu Huzaifah” kata pak Slamet, sang Mertua, sembari menunjuk ke sosok pria di album foto, mata kecil Huzaifah bolak-balik dari gambar di album foto ke wajah kakeknya. “bapakmu mujahid” lanjut sang kakek dengan nada bangga. “Saya tahu bagaimana sikap Bukhori, dia memang orangnya berani dan nekat, tapi saya percaya kepadanya, dan semua keluarga mendukung perjuangannya, kami disini juga bahu-membahu merawat cucu dan anak saya, Istri Bukhori, jika kami tidak mampu menyusul perjuangannya, Insya Allah anak cucu kami yang akan melanjutkan perjuangan itu”, demikian ucapan sang mertua. Diskusi ditutup dengan hidangan khas pedesaan dengan rasa bintang lima, nasi putih hangat, tumis kangkung, ayam kampung goreng, kerupuk dan sambal colek,  meskipun awalnya tim MER-C keberatan karena ini memang tidak ingin memberatkan tuan rumah, tapi pak Slamet dengan senyum lebar menyahut, “tamu-tamu tidak saya izinkan pulang sebelum menyicipi apa yang terhidang”. (HH).

Berita Duka Untuk Relawan RSI Gaza

Berita duka datang untuk salah satu relawan Mer-C yang sedang berada di jalur Gaza Palestina, Karidi. Karidi adalah relawan MER-C yang sedang menjalankan amanah membangun RS Indonesia di jalur Gaza, Palestina.    Ayahanda Karidi berpulang ke Rahmatullah pada Minggu 10/11/13 di Wonogiri Jawa Timur. Pada usia 70 tahun, Marino, Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonogiri Jawa Timur, dengan diagnosa dokter pembengkakan pada jantung. Karidi sudah satu tahun lebih menjadi relawan di Gaza, Palestina sejak 21/10/12 hingga saat ini, Karidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, putra dari Sisum dan Almarhum Marino.   Karidi yang sedang di jalur Gaza, Palestina di beritakan oleh sang istri yang juga merupakan sekertaris Mer-c, Tina Leonard dan kakak ipar Mba Yani. Karidi sendiri tidak mempunyai firasat apapun atas kepergian ayahanda tercinta, dan baru berhubungan via telepon dengan ayah tercinta satu minggu sebelum wafat. Ayahnya memang sudah beberapa waktu terakhir sakit di sebabkan usia lanjut dan keadaannya kemudian menjadi kritis 2 minggu terakhir ini.   Keadaan Karidi saat ini Alhamdulillah sehat dan terus menjalankan tugas sebagai ketua mechanical electrical pembangunan Rs Indonesia di Gaza, Palestina. Almarhum Marino meninggalkan sang istri Sisum, tiga orang anak dan tiga cucu.

Silahkan bertanya?