MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Apa Kabar Keluarga Relawan MER-C di Gaza?

Lampung – Huzaifah dan Muaz, begitu nama kedua anak kecil yang sedang bercengkrama di atas tikar plastik di rumah pak Bukhori.  Ayahnya sudah hampir 1 tahun berjihad, menunaikan amanah pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Kisah Keluarga Bapak Bukhori Muslim Sadeli Jalan darat selama 2 jam kami tempuh dari kota Bandar Lampung ke desa Bangunrejo pedalaman Lampung Tengah, di sore hari mendung tanggal 19 November 2013. Perjalanan melintasi perkebunan PTPN 7 jauh dari nyaman, karena sebagian jalan yang beraspal sudah digantikan dengan lobang-lobang, dan sebagian yang tidak beraspal menjadi kubangan lumpur besar-besar, namun amanah ini harus disampaikan, menjalin tali silaturahmi dan membawa sedikit oleh-oleh buat keluarga para mujahid, bukan karena mereka ingin dihargai, tapi karena kami merasa mereka pantas dihormati. Rombongan MER-C dari Jakarta yang terdiri atas pak  Ir. Farid Thalib, ibu yuni, Nurfitri Taher (a.k.a mbak Upik) dr. Habib, dan dr. Zecky tiba jam 4 sore di rumah sederhana itu. Disambut oleh mertua pak Bukhori yaitu bapak Slamet, Istri pak Bukhori dan 2 orang anak beliau, yang tertua berusia 3 tahun, dan paling kecil berusia 1 tahun. Hadir juga beberapa anggota keluarga yang tinggal berdekatan dengan rumah pak Bukhori.  Pak Farid membuka silaturahmi dengan menceritakan bahwa kondisi relawan konstruksi di Gaza dalam keadaan sehat walafiat, dan bagaimana rmereka bekerja keras sehingga pembangunan sebuah rumah sakit di Gaza, yang awalnya dianggap rencana gila dengan izin Allah dapat terlaksana sampai pembangunan fisik selesai. Diserahkan pula sebuah album foto untuk keluarga, yang berisi gambar-gambar aktivitas relawan di Gaza, Palestina. “Ini bapakmu Huzaifah” kata pak Slamet, sang Mertua, sembari menunjuk ke sosok pria di album foto, mata kecil Huzaifah bolak-balik dari gambar di album foto ke wajah kakeknya. “bapakmu mujahid” lanjut sang kakek dengan nada bangga. “Saya tahu bagaimana sikap Bukhori, dia memang orangnya berani dan nekat, tapi saya percaya kepadanya, dan semua keluarga mendukung perjuangannya, kami disini juga bahu-membahu merawat cucu dan anak saya, Istri Bukhori, jika kami tidak mampu menyusul perjuangannya, Insya Allah anak cucu kami yang akan melanjutkan perjuangan itu”, demikian ucapan sang mertua. Diskusi ditutup dengan hidangan khas pedesaan dengan rasa bintang lima, nasi putih hangat, tumis kangkung, ayam kampung goreng, kerupuk dan sambal colek,  meskipun awalnya tim MER-C keberatan karena ini memang tidak ingin memberatkan tuan rumah, tapi pak Slamet dengan senyum lebar menyahut, “tamu-tamu tidak saya izinkan pulang sebelum menyicipi apa yang terhidang”. (HH).

Berita Duka Untuk Relawan RSI Gaza

Berita duka datang untuk salah satu relawan Mer-C yang sedang berada di jalur Gaza Palestina, Karidi. Karidi adalah relawan MER-C yang sedang menjalankan amanah membangun RS Indonesia di jalur Gaza, Palestina.    Ayahanda Karidi berpulang ke Rahmatullah pada Minggu 10/11/13 di Wonogiri Jawa Timur. Pada usia 70 tahun, Marino, Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonogiri Jawa Timur, dengan diagnosa dokter pembengkakan pada jantung. Karidi sudah satu tahun lebih menjadi relawan di Gaza, Palestina sejak 21/10/12 hingga saat ini, Karidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, putra dari Sisum dan Almarhum Marino.   Karidi yang sedang di jalur Gaza, Palestina di beritakan oleh sang istri yang juga merupakan sekertaris Mer-c, Tina Leonard dan kakak ipar Mba Yani. Karidi sendiri tidak mempunyai firasat apapun atas kepergian ayahanda tercinta, dan baru berhubungan via telepon dengan ayah tercinta satu minggu sebelum wafat. Ayahnya memang sudah beberapa waktu terakhir sakit di sebabkan usia lanjut dan keadaannya kemudian menjadi kritis 2 minggu terakhir ini.   Keadaan Karidi saat ini Alhamdulillah sehat dan terus menjalankan tugas sebagai ketua mechanical electrical pembangunan Rs Indonesia di Gaza, Palestina. Almarhum Marino meninggalkan sang istri Sisum, tiga orang anak dan tiga cucu.

Di Tengah Krisis, Relawan RS Indonesia Di Gaza Gunakan Kayu Bakar Untuk Masak

Bayt Lahiya, 11 Muharram 1435/15 November 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak di tengah krisis gas, bahan bakar, serta listrik yang melanda jalur Gaza. Salah satu relawan Abu Fikri mengatakan, dirinya beserta para relawan yang lain menggunakan kayu bakar bekas bahan bangunan RS Indonesia  yang terletak di Utara Gaza itu. “Kami menggunakan kayu palet, kayu dudukan keramik, atau kayu bekas lainnya yang didapati di sekitar RSI,” terang Abu Fikri kepada Kantor Berita Islam Internasional MINA (Mi’raj News Agency) melalui telepon, Jumat (15/11). Relawan yang berperan sebagai site manager dalam pembangunan RS Indonesia di Distrik Bayt Lahiya itu menerangkan lebih jauh, di tengah kekurangan bahan pokok di Jalur Gaza akibat penutupan terowongan dan blokade penjajah Israel, para relawan memasak tiga kali sehari dengan menggunakan bahan kayu di lantai dasar (basement) RS Indonesia yang masih dibangun. “Salah satu relawan yang setiap hari mengatur urusan masak memasak, sudah mulai mempersiapkan bahan untuk dimasak mulai dari pukul dua pagi waktu setempat agar para relawan bisa menikmati sarapan di pagi hari,” tambah Abu Fikri. Menjelaskan lebih lanjut, Abu Fikri mengatakan, relawan mulai menyiapkan makan siang mereka sejak pukul sepuluh pagi dan makan malam mulai setelah pukul dua siang karena kebutuhan energi yang besar bagi para pekerja keras ini.   Pembangunan RS Indonesia tetap berlanjut Jalur Gaza mengalami krisis bahan bangunan dan kebutuhan pokok seperti solar yang berpengaruh pada semua sektor kehidupan di satu-satunya daerah di dunia itu yang masih berada dalam penjajahan (Israel). Kekurangan bahan bakar menyebabkan ribuan sopir menjadi pengangguran, generator listrik mati karena tidak ada solar, serta alat-alat kesehatan di banyak rumah sakit berhenti bekerja. Relawan yang sudah tiga tahun di Jalur Gaza itu mengatakan, meskipun pembangunan terkendala bahan seperti semen akibat blokade, dia dan timnya terus melakukan pekerjaan sebisa mungkin sehingga rumah sakit bisa cepat rampung. “Kami tidak berpangku tangan meskipun persediaan semen sudah habis. Kawan-kawan masih melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan bahan itu, seperti penyelesaian tempat parkir, nge-cat, pemasangan sound system, AC, panel utama, dan lain sebagainya,” ujar Abu Fikri. Abu Fikri menegaskan, penderitaan warga Gaza yang sudah menderita sejak sebelum krisis akibat blokade penjajah Israel dan mengharapkan peran semua pihak, termasuk Indonesia, untuk ikut membantu meringankan beban yang sedang dialami warga di tengah krisis semua sektor itu. “Kami melihat obat-obatan di sini sudah hampir habis, warga Gaza harus menyeberang ke Mesir untuk berobat, masih di perbatasan saja susah keluar,” terang Abu yang menambahkan, “Saya harap pemerintah Indonesia mampu melakukan diplomasinya untuk membujuk Mesir memudahkan warga yang menyeberangi lewat Rafah.” Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RS Indonesia dijadwalkan selesai akhir tahun 2013 ini. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel.  RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.(L/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/11963-relawan-rsi-di-gaza-gunakan-kayu-bakar-untuk-masak-di-tengah-krisis.html

Berita Duka Untuk Relawan RSI Gaza

Berita duka datang untuk salah satu relawan Mer-C yang sedang berada di jalur Gaza Palestina, Karidi. Karidi adalah relawan MER-C yang sedang menjalankan amanah membangun RS Indonesia di jalur Gaza, Palestina.    Ayahanda Karidi berpulang ke Rahmatullah pada Minggu 10/11/13 di Wonogiri Jawa Timur. Pada usia 70 tahun, Marino, Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonogiri Jawa Timur, dengan diagnosa dokter pembengkakan pada jantung. Karidi sudah satu tahun lebih menjadi relawan di Gaza, Palestina sejak 21/10/12 hingga saat ini, Karidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, putra dari Sisum dan Almarhum Marino.   Karidi yang sedang di jalur Gaza, Palestina di beritakan oleh sang istri yang juga merupakan sekertaris Mer-c, Tina Leonard dan kakak ipar Mba Yani. Karidi sendiri tidak mempunyai firasat apapun atas kepergian ayahanda tercinta, dan baru berhubungan via telepon dengan ayah tercinta satu minggu sebelum wafat. Ayahnya memang sudah beberapa waktu terakhir sakit di sebabkan usia lanjut dan keadaannya kemudian menjadi kritis 2 minggu terakhir ini.   Keadaan Karidi saat ini Alhamdulillah sehat dan terus menjalankan tugas sebagai ketua mechanical electrical pembangunan Rs Indonesia di Gaza, Palestina. Almarhum Marino meninggalkan sang istri Sisum, tiga orang anak dan tiga cucu.

A car to go to Gaza

Jakarta – Saturday, November 9, 2013, A couple came to MER-C office, driving a silver Yaris, intended to donate their car for Indonesian hospital development in Gaza, Palestine. They explained the reason behind was due to MER-C’s transparency in receiving and distributing donations, in addition to physical building evidence of Indonesian hospital in Gaza, Palestine. MER-C Presidium Dr Sarbini Abdul Murad who received the donation expressed his admiration to the great attention of Indonesians toward hospital development in Gaza. He then hoped with the same huge support would accelerate hospital development so that it could be useful for Palestinians in Gaza.

Kementrian Ekonomi Gaza Usahakan Akses Semen Untuk RSI

Gaza – pada tanggal 7 Nopember 2013 Kementrian Ekonomi pemerintahan Gaza-Palestina, diwakili oleh utusan-urusannya yang dipimpin oleh Muhammad Abu Sya’r datang mengunjungi Lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang sudah memasuki tahap finishing Para perwakilan kementrian ekonomi pemerintahan Gaza-Palestina datang untuk dapat melihat secara langsung perkembangan pembangunan RSI sekaligus untuk mengetahui berapa banyak bahan bangunan yang dibutuhkan demi selesainya pembangunan RSI. Menurut ketua tim pembangunan RSI Ir. Faried Thalib, RSI ditargetkan untuk selesai dibangun di bulan Desember 2013. Kedatangan perwakilan pemerintahan Gaza ini merupakan jawaban atas permintaan langsung dari MER-C agar pemerintahan Gaza dapat memfasilitasi kemudahan akses  pengiriman Bahan bangunan seperti semen, agar RSI dapat selesai sesuai target.

Relawan Indonesia Longmarch Cinta Al-Aqsha di Jalur Gaza

Relawan Indonesia peserta kegiatan solidaritas Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha melewati jalan Shalahuddin Al-Ayubi, Jalur Gaza, Palestina. (Foto:MINA/Husain) Bayt Lahiya, 13 Dzulhijjah 1434/18 Oktober 2013 (MINA) – Mengisi hari-hari libur kerja selama empat hari sejak Hari Raya Idul Adha 1434 H, sejumlah relawan Indonesia di Jalur Gaza mengadakan Longmarch Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha di sepanjang Jalur Gaza. Koordinator acara Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha, Syamsuddin menjelaskan bahwa tujuan digelarnya aksi solidaritas itu dalam rangka meneladani perjuangan para pendahulu kaum Muslimin yang pernah berjaya mengamankan tanah Palestina dari penjajahan bangsa lain. Dia juga mengatakan, kegiatan solidaritas terhadap rakyat Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha pada Kamis (17/10) dilakukan oleh 27 relawan Indonesia yang saat ini sedang mengerjakan amanah pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza, Palestina. “Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha di mulai sejak pukul tiga dini hari dan selesai pukul tujuh malam waktu setempat, diikuti oleh 27 relawan Indonesia,” kata Syamsuddin kepada koresponden Mi”raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza, Muhammad Husain. Para relawan RS Indonesia di Jalur Gaza berjumlah 33 orang merupakan sukarelawan dari Pondok Pesantren Al-Fatah yang bekerjasama dengan Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia. Rumah Sakit menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel itu direncanakan selesai pembangunan fisiknya pada akhir tahun ini. Kegiatan solidaritas “Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha” dilakukan dengan menempuh jarak lebih dari 40 Kilometer dimulai dari pintu perbatasan Rafah, selatan Jalur Gaza yang menghubungkan antara Jalur Gaza (Palestina) dengan Mesir dan berakhir di pintu perbatasan Bayt Hanoun (Erez) yang menghubungkan antara Kota Bayt Hanoun, utara Jalur Gaza dengan tanah Palestina yang dijajah Israel. “Para peserta Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha menempuh rute melalui Jalan Shalahuddin Al-Ayubi yang merupakan jalan utama menghubungkan pintu perbatasan Rafah hingga Masjid Al-Aqsha,” tegas Syamsuddin. Dalam perjalanan, Para peserta Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha meneriakkan takbir dan yel-yel solidaritas Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha (Al-Aqsha Haqquna, Al-Aqsha milik kami (kaum Muslimin)) serta mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina dengan bendera Liwa bertuliskan kalimat takbir (Allahu Akbar/Allah Maha Besar) berwarna putih berlatar hitam. Setelah para peserta sampai di pintu perbatasan Bayt Hanoun, acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang relawan asal Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia, Ustadz Abdurrahman Parmo. Sementara itu, warga Gaza yang menyaksikan kegiatan “Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha” sangat antusias dan menyambut baik aksi solidaritas yang dilakukan para relawan Indonesia itu. Penduduk Gaza mengapresiasi rakyat Indonesia atas dukungan yang diberikan terhadap penduduk Palestina yang masih menderita akibat penjajahan yang dilakukan penjajah Israel sejak 1948. “Saya berterima kasih kepada rakyat Indonesia pada umumnya. Saya juga berterima kasih terhadap aksi solidaritas ini,”kata salah seorang penduduk Palestina di Jalur Gaza, Ra’id (40). Menurutnya, kegiatan solidaritas tersebut merupakan aksi yang luar biasa dan inovatif dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam.   Al-Aqsha dalam Bahaya Setelah Hamas memenangkan pemilu pada 2006, sejak Juni 2007, Israel telah memperketat blokade jalur darat dan laut untuk mengisolasi Jalur Gaza dari akses keluar masuk menuju Tepi Barat, termasuk kota Al-Quds di mana Masjid Al-Aqsha berada, dan negara-negara lain di seluruh dunia. Penduduk Palestina di Jalur Gaza sangat ingin sekali berusaha mencapai Masjid Al-Aqsha untuk melakukan ibadah di dalamnya, selama puluhan tahun penjajah Israel masih melarang mereka memasuki kompleks masjid itu. Hingga kini, Masjid Al-Aqsha dalam kondisi berbahaya setelah menjadi sasaran pelanggaran dan penodaan berulang-ulang oleh para pemukim ilegal ekstrimis Yahudi dan pejabat resmi penjajah Zionis Israel (Knesset) dengan kawalan ketat pasukan penjajah Israel, terutama pada hari raya Yahudi. Langkah itu melengkapi upaya Yahudisasi penuh di Kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha di mana yayasan Al-Aqsha untuk Wakaf dan Warisan Islam melaporkan sebanyak 104 sinagog Yahudi juga telah tersebar di sekitar lingkungan Masjid Al-Aqsha. Yahudi menyebut Al-Aqsha sebagai sinagog mitos mereka “Temple Mount/Kuil Bukit” mengklaim daerah itu menjadi tempat dua sinagog Yahudi terbesar di zaman kuno. Mereka percaya mesias (juru selamat) mereka tidak akan tiba sampai sebuah sinagog Yahudi terbesar ketiga dibangun di atas lokasi Masjid Al-Aqsha itu. Sementara Masjid Al-Aqsha merupakan tempat paling suci ketiga bagi umat Islam. Hal itu terkait dengan Masjid Al-Aqsha sebagi kiblat pertama umat Islam dan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu’ Alaihi Wa Salam. Nabi ketika itu naik ke Sidratul Muntaha melalui Masjid Al-Aqsha. (L/P02/R1) Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/10862-relawan-indonesia-gelar-gerak-jalan-cinta-al-aqsha-di-jalur-gaza-palestina.html

Relawan Indonesia Di jalur Gaza Salurkan Daging Qurban

Gaza, 11 Dzulhijjah 1434/16 Oktober 2013 (MINA) – Setelah melaksanakan shalat Idul Adha bersama masyarakat Gaza, Relawan  Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza melanjutkan kegiatan pemotongan hewan qurban sumbangan sejumlah dermawan asal Indonesia. Hewan qurban merupakan donasi 24 orang kiriman dari Indonesia yang mengikuti Program Qurban di Gaza yang dikoordinir oleh Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berpusat di Jakarta. Hewan qurban yang dipotong di kompleks RSI di Gaza sejumlah satu ekor sapi dan 26 ekor kambing. “Hewan qurban itu merupakan sumbangan umat Islam Indonesia untuk warga setempat yang hingga saat ini masih terblokade dari darat, laut dan udara oleh Israel,” lapor Muhammad Husein, Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza. Menurutnya, pelaksanaan qurban dilakukan langsung oleh 32 relawan RS Indonesia di Gaza mulai dari memilih, membeli, membagikan hewan qurban langsung door to door kepada warga yang berhak menerimanya. Menurut informasi panitia pelaksana, hewan qurban berupa domba dengan berat 40-50 kg, di Gaza mencapai Harga Rp. 3,5 juta per ekor, sudah termasuk biaya operasional. Penduduk Gaza yang kini sedang mengalami kondisi krisis ekonomi dan sektor penting lainnya sangat senang mendapatkan daging qurban yang dibagikan para relawan Indonesia, ujar Husein. Salah seorang warga mengemukakan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian umat Islam Indonesia terhadap warga Gaza. “Besok insya Allah ada penyembelihan kambing lagi, khusus dari warga sekitar RSI untuk para relawan,” ujar Syuhada, salah satu relawan MER-C. (L/K09/P02/R1). Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/10836-relawan-indonesia-di-jalur-gaza-salurkan-daging-qurban.html

Sumbang Foto Hasil Karya untuk RS Indonesia

Jakarta – Ada banyak cara untuk membantu program pembangunan RS Indonesia (RSI), sebuah bangunan yang akan menjadi persembahan dan bukti cinta rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Salah satunya adalah yang dilakukan Husni, seorang fotografer muda yang terjun ke dunia fotografi karena hobi, kemudian mengasah kemampuannya di bidang ini secara otodidak. Sabtu siang (21/9), ditemani istrinya, Husni mendatangi kantor pusat MER-C yang berada di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Dia membawa sebuah bungkusan kotak pipih cukup besar yang dibalut kertas koran. Setelah dibuka, isi bungkusan tersebut adalah dua buah foto pemandangan alam dengan mengambil momen kala matahari terbenam. “Saya ingin mendonasikan dua foto hasil jepretan saya untuk Palestina. Foto ini saya ambil di Waduk Jati Luhur. Mungkin saya belum bisa memberikan bantuan dalam bentuk dana. Semoga foto ini bisa bermanfaat untuk Palestina melalui MER-C,” ujar Husni menjelaskan maksud kedatangannya kepada staf MER-C. Jumlah donasi tentu bukanlah hal yang utama, tapi niat dan ketulusan lah yang memberikan nilai lebih dari donasi tersebut. “Saya sudah lama membaca tentang Palestina yang merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Lalu saya mendengar MER-C mempunyai program pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Di situ saya mulai berfikir untuk bisa membantu Palestina yang sampai saat ini masih terjajah,” lanjut ayah anak satu ini. Dua buah foto berukuran 40 x 60 cm itu kemudian diserahterimakan oleh Husni kepada staf MER-C bagian penerimaan donasi. “Mudah-mudahan foto ini bisa dilelang oleh MER-C dan hasil lelangnya bisa ikut membantu program pembangunan RS Indonesia,” harapnya. Pembangunan RS Indonesia memang berasal dari sumbangan seluruh rakyat Indonesia, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, majelis taklim, pegawai kantoran, sampai para professional. Semoga apa yang dilakukan Husni bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk terus membantu sesama dengan apapun yang kita bisa.  

Mufti Gaza: Relawan Indonesia Harus Pimpin Pembebasan Al-Aqsha

Syaikh DR. Samih Hajaj (Abu Anas). (Foto: MINA/Rana) Gaza City, 18 Dzulqo’idah 1434/24 September 2013 (MINA) – Mufti Palestina di Jalur Gaza, Syaikh DR. Samih Hajaj menyatakan, para relawan dari Indonesia harus tampil di depan dalam memimpin perubahan peradaban dunia, pembebasan Masjid Al-Aqsha, dan perjuangan kemerdekaan Palestina. Hal itu diungkapkannya saat para relawan Indonesia yang tergabung dalam tim pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza-Palestina berkunjung ke kediamannya, Ahad (22/9).   “Kehadiran para relawan Indonesia di Gaza ibarat garam dalam sebuah masakan. Meskipun sedikit, tapi mereka sanggup memberikan warna yang baik pada lingkungan tempat mereka berada,” kata Syaikh Hajaj yang juga dikenal dengan Abu Anas. Syaikh Abu Anas juga mengungkapkan harapannya agar para relawan Indonesia dapat hadir ke seluruh penjuru dunia untuk menjadi penyejuk dalam panasnya peradaban di tengah pergolakan yang terjadi di negara-negara Islam, khususnya di Timur Tengah. Ulama yang pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia itu berharap ia dapat berjumpa dengan para relawan Indonesia sesering mungkin. “Saya berharap akan ada lebih banyak lagi relawan Indonesia yang berada di Jalur Gaza. Kehadiran para relawan Indonesia sangat ditunggu-tunggu rakyat Palestina dan tentunya Muslimin di seluruh dunia,” ungkapnya. Syaikh Hajaj berpesan kepada para relawan agar pembinanya yang ada di Indonesia bisa hadir di Jalur Gaza. “Saya sangat ingin bertemu dengan pembina kalian di Indonesia. Sampaikan kepadanya, saya rindu ingin berjumpa dengannya,” ujar Syaikh Abu Anas. Syaikh Abu Anas juga menyatakan harapannya bahwa dari Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia kelak akan memimpin perubahan peradaban dunia yang kini sedang bergejolak dan pembebasan Masjid Al-Aqsha yang kini masih dijajah Zionis Israel. “Muslimin Indonesia jangan berkecil hati dengan kiprah dan peran mereka dalam perjuangan. Ingat, Shalahuddin Al-Ayyubi itu bukan orang Quraisy. Ia orang Irak. Tapi ia mampu memimpin perubahan, membebaskan Masjid Al-Aqsha dari tangan penjajah,” ungkapnya. Tim relawan Indonesia yang berkunjung ke kediaman Syaikh Hajaj adalah Ir. Edi Wahyudi (Jakarta), Ust. Abdurahman (Jawa Tengah), Luthfi (Kalimantan Barat) dan Tata Lukita (Jawa Barat). RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Saat ini MER-C sedang mengerjakan dua pembangunan rumah sakit sekaligus di dua daerah berbeda, Jalur Gaza, Palestina dan Galela, Maluku. Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza memerlukan dana sekitar 100 miliar rupiah yang terbagi untuk biaya pembangunan bangunan utama RSI dan sarana penunjang berupa alat-alat kesehatan. (L/P06/P04/P02)  Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/9976-mufti-gaza-relawan-indonesia-harus-pimpin-pembebasan-al-aqsa.html

Silahkan bertanya?