MER-C Buka Program Qurban di Gaza

Gaza – Masyarakat Indonesia yang ingin berqurban bagi saudara-saudaranya di Gaza, sebuah wilayah yang masih terblokade dari darat, laut dan udara, kini dapat merealisasikan niatnya melalui MER-C. MER-C melalui Cabangnya di Gaza, siap menyalurkan amanah qurban masyarakat Indonesia secara langsung kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. MER-C Cabang Gaza sampai saat ini adalah satu-satunya Proses qurban mulai dari pembelian, pemotongan, pembagian hingga pengantaran secara langsung door-to-door hewan qurban kepada rakyat Gaza yang membutuhkan akan dilakukan oleh relawan Indonesia yang saat ini berjumlah 32 orang. Program hewan qurban telah dibuka sejak hari Kamis (12/9) lalu hingga tanggal 7 Oktober 2013 nanti atau 1 minggu menjelang Hari Raya Idul Adha. Harga hewan qurban yang ditawarkan berupa domba dengan berat 40 – 50 kg adalah Rp 3,5 juta per ekor. Harga ini sudah termasuk biaya operasional yang meliputi biaya transportasi, biaya dokumentasi, dll. Bagi masyarakat Indonesia yang berminat memberikan amanah qurbannya untuk Gaza dapat mengirimkan biaya qurban ke rekening MER-C amanah Kemanusiaan Gaza di BSM (Bank Syariah Mandiri), nomor rekening 700.2905.803, atas nama Medical Emergency Rescue Committee. “Kami mohon konfirmasi dari Bapak, Ibu, Sahabat apabila sudah melakukan transfer dana qurban agar dapat kami mengecek dananya dan melakukan pendataan. Data dan dana akan kami kirimkan ke Gaza untuk ditindaklanjuti oleh relawan kami di sana,” papar Tina, staf MER-C yang bertanggung jawab dalam program qurban MER-C. “Kami akan mengirimkan laporan pelaksanaan qurban kepada masing-masing donatur baik dalam bentuk email maupun pos,” lanjutnya. Sementara itu, Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Alfikri menyampaikan bahwa wilayah penyaluran hewan qurban nanti diantaranya adalah Jabaliya dan Tal Za’tar di Gaza Utara. “Pertimbangan kami memilih wilayah ini adalah karena di sana banyak masyarakat yang miskin, terutama di Syekh Zaid dekat lokasi RS Indonesia ada gedung pemukiman para janda,” ujar Fikri yang saat ini juga tengah menempuh kuliah di Universitas Islam Gaza.
Meskipun Ada Hambatan, Bangunan RSI Semakin Mendekati Sempurna

Gaza – Perkembangan terakhir Rumah Sakit Indonesia di Gaza semakin mendekati sempurna terutama dari segi fisik atau bangunan nampak bahwa RSI sudah terlihat indah dari luar karena pemasangan dinding marmer atau biasa disebut oleh orang Gaza sebagai Hajar Quds telah selesai 100%. Demikian dilaporkan oleh Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Alfikri, Senin (16/9). “Pekerjaan yang sedang berlangsung adalah pemasangan keramik, pemasangan plafon yang sudah mencapai 60%, pengecatan dinding lantai satu dan lantai dua serta pemasangan pagar keliling RSI,” ungkap Fikri, salah satu relawan yang juga tengah menempuh pendidikan melalui program beasiswa di Universitas Islam Gaza. Selain pekerjaan arsitektur, pekerjaan Mekanikal Elekterikal RSI juga terus dilakukan oleh para relawan asal Indonesia yang meliputi pekerjaan sanitair, nursecall, instalasi listrik panel, pemasangan AC dan fire fitting (hydrant). “Pekerjaan Mekanikal Elektrikal RSI yang belum bisa dikerjakan oleh relawan adalah sound system dan fire alarm. Hal ini dikarenakan memang sulitnya bahan,” tambahnya. Pergolakan yang terjadi di Mesir yang berimbas pada ditutupnya Perbatasan Rafah sebagai jalur keluar masuk dari Mesir ke Gaza juga menjadi hambatan tersendiri bagi pembangunan RSI. “Hambatan yang dialami pada pembangunan RSI tahap ini secara umum ialah sulitnya mendapatkan bensin dan solar. Bensin dan solar adalah sesuatu yang sangat inti dalam kaitannya dengan pemadaman listrik yang dilakukan Israel yang semakin tidak mengenal waktu,” ujar Fikri. Tidak hanya bensin dan solar, semen juga menjadi bahan yang langka karena pasokan yang dikirimkan melalui jalur Rafah sempat terbatas. Begitupun cat dalam volume besar juga sulit didapat karena berasal dari Mesir. Pekerjaan Mekanikal Elektrikal (ME) pun tidak luput dari hambatan. Para relawan ME mengaku sulit mendapat kabel 25 mm, 50 mm dan 240 mm, pipa untuk fire alarm dan juga lampu karena keterbatasan pengiriman dari Mesir. Ditengah hambatan-hambatan yang ada, pekerjaan pembangunan RS Indonesia tetap berlangsung. “Semua relawan RSI tetap bekerja sesuai bidang keahlian dan amanah yang mereka terima. Kami hanya bisa berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya agar pembangunan RS Indonesia bisa selesai sesuai jadwal pada akhir tahun ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan,” tutur Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia.
Ketua TPM Ingatkan Dukungan Adili Israel Sebagai langkah Nyata Perlawanan

Jakarta, 12 Dzul Qa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Ketua Tim Pembela Muslim (TPM), M. Mahendradatta mengajak umat Islam untuk mendukung usaha mengadili Israel di Pengadilan Internasional dalam kasus Mavi Marmara yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) pada 10 Oktober 2013. “Jika selama ini kita hanya melawan antek-antek Israel, maka ini kesempatan kita untuk head to head langsung melawan Israel. Maka semua harus mendukung kita, termasuk pemerintah,” kata Mahendradatta kepada Wartawan Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta, Selasa (17/9). TPM bersama lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) tengah menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Persidangan itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla”pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi kemanusiaan “Gaza Freedom Flotilla” itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf itu tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut, yaitu Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi.. Permintaan maaf tersebut sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/9714-ketua-tpm-ingatkan-dukungan-adili-israel-sebagai-langkah-nyata-perlawanan.html
MER-C dan TPM Siapkan Bukti Gugat Israel ke Pengadilan Internasional

Jakarta, 12 Dzulqa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) bekerja sama dengan Tim Pembela Muslim (TPM) menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Pengadilan yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara dalam konvoi kemanusiaan Gaza Freedom Flotilla pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel, di antaranya Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Pada 31 Mei 2010 sekitar pukul 04.30 pagi, Kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berlayar dari Antalya, Turki menuju Jalur Gaza, Palestina mendapat serangan dari pasukan khusus Israel di perairan internasional sekitar 73 mil laut dari wilayah pendudukan Israel di Palestina yang terjajah. Pasukan Israel akhirnya menahan dan menggiring mereka ke pelabuhan Ashdod. Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla“ yang dioperasikan oleh kelompok aktivis dari 37 negara dengan tujuan membawa bantuan secara langsung menembus blokade Israel atas Jalur Gaza. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf ini tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Permintaan maaf ini sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/9713-mer-c-dan-tpm-siapkan-bukti-gugat-israel-ke-pengadilan-internasional.html
FIM Jasa Ekatama Komitmen Perjuangan RS Indonesia di Gaza

Jakarta, 24 Syawal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama, Ichsan Thalib menyatakan komitmennya pada perjuangan pendirian Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina. “Kami dari PT. FIM Jasa Ekatama mempunyai kepedulian pada pembangunan RS Indonesia di Gaza maupun RS MER-C Galela, Maluku. Komitmen kami sangat jelas untuk perjuangan ini, melalui konser amal Jakarta Melayu Festival kami menyerahkan dua unit rumah senilai lebih kurang tiga milyar rupiah untuk perjuangan RS di Gaza maupun di Galela,” kata Ichsan Thalib kepada Mi’raj News Agency (MINA). Penyerahan dua unit rumah untuk pembangunan kedua rumah sakit tersebut dilakukan secara simbolis oleh Ichsan Thalib saat acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja”(Foto. Rana/MINA) Sementara itu, promotor acara tersebut, Geisz Chalifah mengatakan bahwa sejumlah sumbangan yang telah masuk termasuk hasil penjualan tiket akan diserahkan ke lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza dan RS MER-C Galela. Menurutnya, ada hubungan historis antara Indonesia, Palestina, dan Mesir. Konser melayu tersebut adalah bagian dari penghargaan kepada Mesir dan Palestina yang telah mengakui awal kemerdekaan Indonesia. “Konser ini berangkat dari semangat kemerdekaan RI, dan yang pertama menyatakan kemerdekaaan Indonesia adalah mesir dan selanjutnya palestina, dan Melayu sebagai identitas nasional kita, menyatakan ungkapan penghargaan kepada Mesir dan Palestina melalui konser amal tersebut,” ungkap Geisz Chalifah. Kemudian menurut Geisz, Ia ingin mengangkat budaya bangsa Indonesia yang selama ini terlupakan, dikesampingkan, tidak diapresiasi, dan tidak mendapat penghargaan. Ia mengharapkan, dengan langkah semacam ini mudah-mudahan media dan para aktivis mulai mebuka mata bahwa ada sesuatu yang patut diperjuangkan, sebagai jati diri bangsa Indonesia. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” tersebut, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, seperti Iyeth Bustami, Hamdan ATT, Fuad Balfas, Emma Lopez, Fahad Munif, Hendri Lamiri, sang akordian; Butong, Mustafa Abdullah, Nizar Ali dan dimeriahi oleh L’Catraz Band dan Konsentra Sumut. Rencananya, untuk menumbuhkan rasa cinta pada kebudayaan Indonesia, Jakarta Melayu Festival akan diadakan setiap setahun sekali. (L/P02/P06/P015/P01/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8867-fim-jasa-ekatama-komitmen-perjuangkan-rs-indonesia-di-gaza.html
RSI Gaza Bukti Nyata Dukungan Rakyat Indonesia untuk Palestina

Jakarta, 24 Syawwal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Tokoh intelektual muda Indonesia, Anies Baswedan mengatakan, Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza merupakan salah satu upaya nyata rakyat Indonesia dalam mendukung Palestina. “Bukan saja mengirimkan dukungan lisan dan doa (untuk Palestina), tapi upaya nyata dalam bentuk fisik seperti pembangunan rumah sakit. Ini bisa jadi contoh untuk semua,” kata Anies kepada Mi’raj News Agency usai acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Rumah Sakit Indonesia (RSI) dibangun di atas sebidang tanah wakaf yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. (Foto. Doc. MER-C) Anies Baswedan, pendiri gerakan Indonesia mengajar juga mengatakan bahwa acara konser mengangkat kebudayaan melayu yang dikemas untuk kegiatan kemanusiaan sangat cerdas. Baginya, Musik Melayu mempunyai kekuatan syair yang luar biasa dan pesan yang disampaikan dalam setiap baitnya baik sekali. Apalagi acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu tersebut dikhususkan untuk acara kemanusiaan. “Oleh karena itu Kegiatan Konser Kemerdekaan Musik Melayu seperti ini punya efek yang baik,” ujar Rektor Universitas Paramadina itu. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja’, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, Hamdan Attamimi, Hendry Lamiri, dan Fuad Balfas serta diiringi Anwar Fauzi Orkestra. Hasil penjualan tiket konser musik Melayu yang dilaksanakan di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta tersebut akan disumbangkan untuk pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku dan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Dalam konser musik Melayu itu juga diadakan penyerahan secara simbolis dari Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama Ichsan Thalib kepada ketua panitia Geisz Chalifah, dua unit rumah di sebuah kompleks perumahan seharga sekitar tiga milyar rupiah untuk dijual dan hasilnya bagi pembangunan rumah sakit tersebut. Butuh Dana 75 Milyar Rupiah Lagi RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Rumah sakit yang dibangun di atas tanah wakaf dari pemerintah Palestina seluas 16.261 m2 itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. Pekerjaan pembangunan RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. Saat ini, para relawan sedang melakukan pembangunan RSI Gaza tahap kedua berupa tahap arsitektur dan Mekanikal Elektrikal (ME). Pembangunan fisik RSI Gaza menelan biaya 30 milyar rupiah. Setelah pembangunan fisik selesai dibutuhkan dana sekitar 7,5 milyar rupiah untuk bangunan pelengkap kompleks RSI dan 65 milyar rupiah untuk penyedian alat kesehatan, sebagian peralatan rumah sakit seperti tempat tidur dan lainnya. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. (L/P02/P06/P015/P01). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8822-rsi-gaza-bukti-nyata-dukungan-rakyat-indonesia-untuk-palestina.html
Pembangunan RSI Gaza Terhambat Pasokan Bahan Bangunan

Jakarta, 15 Syawal 1434/ 21 Agustus 2013 (MINA) – Krisis internal Mesir membawa dampak bagi pembangunana Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza menyusul kekurangan pasokan bahan bangunan dengan melonjaknya harga bahan bangunan akibat penutupan terowongan dan perbatasan Rafah. “Saat ini, harga bahan bangunan bertambah mahal dan ditambah dengan perbatasan Rafah ditutup total akibat pengaruh konflik Mesir maka semakin sulit untuk memasok pengadaan barang dan bahan bangunan dari Mesir ke Jalur Gaza,” kata Edy Wahyudi, seorang relawan RSI Gaza kepada MINA (Mi’raj News Agency), Rabu malam (21/8). Hampir seluruh terowongan ditutup militer Mesir sejak kudeta militer terhadap Presiden Mesir, Muhammad Mursi, Rabu (3/7). Rakyat Palestina di Jalur Gaza terpaksa menggunakan terowongan sebagai satu-satunya urat nadi untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka akibat blokade Israel terhadap daerah kantong itu sejak Juni 2007. Sementara perbatasan Rafah yang menghubungkan wilayah Mesir-Jalur Gaza (Palestina) adalah satu-satunya pintu penyeberangan melalui darat yang tidak dikontrol oleh Israel. Melalui pintu perbatasan inilah warga Gaza dapat terhubung ke dunia luar. Edy mengungkapkan, saat situasi semakin memburuk dengan kebijakan penutupan terowongan dan penutupan perbatasan Rafah mengakibatkan kekurangan pasokan kebutuhan pokok dan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), proses pembangunan RSI Gaza masih terus berlangsung dengan dukungan dari penduduk dan pemerintah Palestina di Jalur Gaza. “Alhamdulillah, penduduk Palestina di Jalur Gaza termasuk Pemerintahnya juga membantu kami dalam pembangunan Rumah Sakit ini. Pemerintah Gaza juga membantu kami dengan memberikan bantuan solar dan gas,” ungkapnya. Dia juga mengatakan, sejauh ini perkembangan RSI Gaza sudah mencapai tahap pekerjaan elektrikal, pemasangan instalasi listrik dan kabel; instalasi pengadaan air bersih; pengecetan bagian luar dan dalam gedung hingga Proses Memasukan pompa air kedalam sumur bor. Saat ini, para relawan RSI juga sedang melakukan pemasangan keramik lantai ruangan RSI berukuran 33,3 x 33,3 cm. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. Rumah Sakit itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P010/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/8428-rsi-gaza-kekurangan-pasok-bahan-bangunan.html
Festival Melayu Untuk RSI Gaza

Jakarta, 7 Syawwal 1434/14 Agustus 2013 (MINA) – Gita Cinta Production dijadwalkan menyelenggarakan Festival Melayu, Konser Kemerdekaan Musik Melayu Seroja, di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat malam (30/8). Menurut Produser Geisz Chalifah, acara itu bukan pertunjukan biasa, membangkitkan musik Melayu yang lama terendam. Namun yang pokok adalah seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan untuk Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan Galela Maluku. “Setidaknya untuk pengobat kerinduan generasi pencinta lama dan generasi pencinta baru. Sekaligus menggugah kepedulian terhadap RSI di Gaza,” ujar Geisz kepada Mi’raj News Agency (MINA). Karena kepedulian terhadap penyelesaian RSI di Gaza, seorang calon pengunjung rela mendonasikan dua rumah di sebuah kompleks perumahan untuk dijual, dan hasilnya untuk RSI. Menurut Geisz, konser memang tidak segegap dan segemerlap dangdut di puncak kejayaannya. Apalagi mampu menyaingi kemeriahan musik rock dan boy band yang marak dewasa ini. Setidaknya menjadi bagian dalam lanskap musik nasional di bulan kemerdekaan Indonesia, seperti dengan tampilnya musikalisasi lagu melayu daerah dari Aceh, Padang, Betawi, hingga Papua, imbuhnya. Dijadwalkan tampil dalam konser, Sulis (Cinta Rasul), Iyeth Bustami, Hamdan ATT, Mustafa Abdullah, Fuad Balfas, Nizar Ali, Fahad Munif, Zapin Performance (Kosentra Sumut) dan Music Director Anwar Fauzi (Orchestra). (L/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8107-festival-melayu-untuk-rsi-gaza.html
Relawan Indonesia Rayakan Idul Fitri Bersama Masyarakat Gaza

Bayt Lahiya, 4 Syawal 1434/11 Agustus 2013 (MINA) – Relawan Indonesia yang sedang melaksanakan amanah pembangunan Rumah Sakit Indonesia merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1434 bersama masyarakat Gaza ditengah jauh dari keluarga dan sanak saudara serta kondisi blokade semakin diperketat di daerah kantong Palestina itu. Hal itu disampaikan koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza, Muhammad Husain, Sabtu (10/8). “Alhamdulillah, Pada 1 Syawal 1434 atau Kamis,8 Agustus 2013, para relawan Indonesia yang saat ini sedang mengemban amanah pembangunan RSI telah melaksanakan shalat Idul Fitri bersama masyarakat Gaza,” kata Husain kepada Kantor Berita Islam MINA. Perdana Menteri Palestina Dr. Ismail Abdussalam Haniyah sedang mengimami shalat Idul Fitri di Lapangan Yarmuk, Pusat Jalur Gaza, 1 Syawal 1434/8Agustus 2013. (Foto: MINA Gaza) Sekitar 33 relawan RSI melaksanakan shalat Idul Fitri 1434 di lokasi terpisah. Sebagian shalat di lapangan Maidan Syeikh Zaid tepat samping Masjid Besar Syeikh Zaid di Bayt Lahiya, Jalur Gaza Utara yang berjarak kurang lebih 100 meter dari RSI. Sementara sebagian yang lainnya, sekitar 12 relawan melaksanakan shalat Ied bersama Perdana Menteri Palestina Dr. Ismail Abdussalam Haniyah di Lapangan Sepak Bola “Yarmuk”, pusat Kota Gaza. “Meskipun para relawan datang sedikit terlambat karena jarak yang ditempuh cukup jauh. Namun, Alhamdulillah para relawan Indonesia ditempatkan di barisan terdepan jama’ah shalat Ied bersama tokoh-tokoh pemerintahan baik itu para menteri, anggota parlemen, mufti, dan lainnya,” ujarnya. Shalat Ied di lapangan Yarmuk di pimpin langsung oleh Ismail Haniyah yang kemudian dilanjutkan dengan khutbah Ied yang juga di bawakan olehnya. Dalam pidato Idul Fitri, Haniyah mengucapkan selamat hari raya kepada seluruh masyarakat Palestina khususnya di Jalur Gaza. Dia mengingatkan kembali akan kegigihan masyarakat Gaza yang berhasil memukul mundur para penjajah Israel dari tanah Gaza setelah sebelumnya sempat di kuasai beberapa tahun silam. Petinggi gerakan Perlawanan Hamas yang sering disapa Ismail Haniyah juga mengucapkan selamat hari raya kepada para tahanan Palestina yang hingga saat ini masih berada di balik jeruji besi penjara penjara Israel. Dia mengingatkan mereka bahwa kemenangan semakin dekat. Haniyah juga menyapa serta mendoakan para syuhada Palestina yang gugur dalam perjuangan mengembalikan kebebasan mereka. Relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) melaksanakan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1434 yang diimami oleh PM Palestina Dr. Ismail Abdussalam Haniyah di Lapangan Yarmuk, Pusat Jalur Gaza, Palestina. Muhammad Husain melaporkan, setelah mengisi khutbah, sang perdana menteri langsung meninggalkan lapangan Yarmuk. “Tidak seperti di Indonesia, maka di Gaza, Tidak ada acara salam-salaman oleh para jamaah selepas Shalat Ied,” ungkapnya. Sebelumnya, para relawan RSI itu melaksanakan menghabiskan 10 Ramadhan terakhir dengan melakukan iktikaf di Masjid Glebo, Jalur Gaza. Bahkan saat puasa Ramadhan pun para relawan yang merupakan unpaid volunteers (sukarelawan yang tidak dibayar) dari Medical Emergency Rescue Committee (MER-C ) bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah Indonesia masih menjalankan pekerjaan seperti mulai melaksanakan mekanikal elektrikal (ME), pengecatan, pemasangan dinding batu alam (Hajar Quds), perataan jalan dan halaman RSI, pagar dinding, main entrance dan granolitik. Progress RSI sendiri sudah pada tahap kedua. Pembangunan RSI direncanakan selesai pada akhir 2013. Husain merupakan mahasiswa Universitas Islam Gaza mengungkapkan, pada dasarnya kebiasaan hari raya Idul Fitri di Gaza tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia. Seperti memakai baju baru selama hari Idul Fitri dan berkunjung ke rumah-rumah sanak saudara dan tetangga. Namun, ada satu kondisi yang sangat berbeda antara Idul Fitri di Gaza dan Indonesia. Jika di Indonesia masyarakat bisa bebas “mudik” ke kampung halaman mereka, maka di Gaza yang mayoritas masyarakatnya adalah kaum pendatang (pengungsi) maka hal tersebut bisa di katakan mustahil untuk saat ini. Setelah Hamas memenangkan pemilu pada 2006, sejak Juni 2007, Israel telah memperketat blokade jalur darat dan laut untuk mengisolasi Jalur Gaza dari akses keluar masuk menuju Tepi Barat, termasuk kota Al-Quds di mana Masjid Al-Aqsha berada, dan negara-negara lain di seluruh dunia. Karena penutupan Rafah dan penghancuran terowongan baru-baru ini dengan adanya krisis internal Mesir, Gaza kini semakin terang seperti penjara terbuka terbesar di dunia dengan pembatasan hak-hak dasar mereka. (L/K9/P02/R2) Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/7975-relawan-indonesia-rayakan-idul-fitri-bersama-masyarakat-gaza.html
Kunjungi RS Indonesia Gaza, PM Palestina: Kemenangan Sudah Dekat

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, mendapat kunjungan istimewa dengan kedatangan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah, Selasa 23 Juli 2013 malam waktu setempat. Haniyah datang bersama rombongan parlemen serta ditemani Menteri Dalam Negeri Palestina, Dr Fathi Hamad. Haniyah merasa sangat bahagia dan berterima kasih kepada para relawan dan rakyat Indonesia atas semua usaha dalam meringankan beban rakyat Palestina. “Kami sangat bahagia atas kunjungan kami malam ini ke RSI, Kami berterima kasih atas sambutan kalian semua serta usaha kalian semua dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina,” kata Haniyah di Gaza. Ia mengungkapkan, keberadaan relawan pembangunan RSI di Gaza memberikan semangat dan motivasi bagi seluruh rakyat Palestina. “Setiap Kami melihat kalian kami merasa yakin bahwa kemenangan kita semakin dekat. Kalian jauh meninggalkan istri, anak, keluarga, harta benda untuk menjadi relawan di negeri ini. Insya Allah, keberadaan kalian semua di sini dicatat di sisi Allah sebagai pahala ribat dan jihad,” ungkap Haniyah kepada relawan dari MER-C yang bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah, Indonesia. (Mirajnews/Adi/Ein) Sumber : http://news.liputan6.com/read/648473/kunjungi-rs-indonesia-gaza-pm-palestina-kemenangan-sudah-dekat