MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Ketua TPM Ingatkan Dukungan Adili Israel Sebagai langkah Nyata Perlawanan

Jakarta, 12 Dzul Qa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Ketua Tim Pembela Muslim (TPM), M. Mahendradatta mengajak umat Islam untuk mendukung usaha mengadili Israel di Pengadilan Internasional dalam kasus Mavi Marmara yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) pada 10 Oktober 2013. “Jika selama ini kita hanya melawan antek-antek Israel, maka ini kesempatan kita untuk head to head langsung melawan Israel. Maka semua harus mendukung kita, termasuk pemerintah,” kata Mahendradatta kepada Wartawan Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta, Selasa (17/9). TPM bersama lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) tengah menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Persidangan itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla”pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi kemanusiaan “Gaza Freedom Flotilla” itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf itu tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut, yaitu Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi.. Permintaan maaf tersebut sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/9714-ketua-tpm-ingatkan-dukungan-adili-israel-sebagai-langkah-nyata-perlawanan.html

MER-C dan TPM Siapkan Bukti Gugat Israel ke Pengadilan Internasional

Jakarta, 12 Dzulqa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) bekerja sama dengan Tim Pembela Muslim (TPM) menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Pengadilan yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara dalam konvoi kemanusiaan Gaza Freedom Flotilla pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel, di antaranya Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Pada 31 Mei 2010 sekitar pukul 04.30 pagi, Kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berlayar dari Antalya, Turki menuju Jalur Gaza, Palestina mendapat serangan dari pasukan khusus Israel di perairan internasional sekitar 73 mil laut dari wilayah pendudukan Israel di Palestina yang terjajah. Pasukan Israel akhirnya menahan dan menggiring mereka ke pelabuhan Ashdod. Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla“ yang dioperasikan oleh kelompok aktivis dari 37 negara dengan tujuan membawa bantuan secara langsung menembus blokade Israel atas Jalur Gaza. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf ini tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Permintaan maaf ini sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/9713-mer-c-dan-tpm-siapkan-bukti-gugat-israel-ke-pengadilan-internasional.html

FIM Jasa Ekatama Komitmen Perjuangan RS Indonesia di Gaza

Jakarta, 24 Syawal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama, Ichsan Thalib menyatakan komitmennya pada perjuangan pendirian Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur  Gaza, Palestina. “Kami dari PT. FIM Jasa Ekatama mempunyai kepedulian pada pembangunan RS Indonesia di Gaza maupun RS MER-C Galela, Maluku. Komitmen kami sangat jelas untuk perjuangan ini, melalui konser amal Jakarta Melayu Festival kami menyerahkan dua unit rumah senilai lebih kurang tiga milyar rupiah untuk perjuangan RS di Gaza maupun di Galela,” kata Ichsan Thalib kepada Mi’raj News Agency (MINA). Penyerahan dua unit rumah untuk pembangunan kedua rumah sakit tersebut dilakukan secara simbolis oleh Ichsan Thalib saat acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja”(Foto. Rana/MINA) Sementara itu, promotor acara tersebut, Geisz Chalifah mengatakan bahwa sejumlah sumbangan yang telah masuk termasuk hasil penjualan tiket akan diserahkan ke lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza dan RS MER-C Galela. Menurutnya, ada hubungan historis antara Indonesia, Palestina, dan Mesir. Konser melayu tersebut adalah bagian dari penghargaan kepada Mesir dan Palestina yang telah mengakui awal kemerdekaan Indonesia. “Konser ini berangkat dari semangat kemerdekaan RI, dan yang pertama menyatakan kemerdekaaan Indonesia adalah mesir dan selanjutnya palestina, dan Melayu sebagai identitas nasional kita, menyatakan ungkapan penghargaan kepada Mesir dan Palestina melalui konser amal tersebut,” ungkap Geisz Chalifah. Kemudian menurut Geisz, Ia ingin mengangkat budaya bangsa Indonesia yang selama ini terlupakan, dikesampingkan, tidak diapresiasi, dan tidak mendapat penghargaan. Ia mengharapkan, dengan langkah semacam ini mudah-mudahan media dan para aktivis mulai mebuka mata bahwa ada sesuatu yang patut diperjuangkan, sebagai jati diri bangsa Indonesia. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” tersebut, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, seperti Iyeth Bustami, Hamdan ATT, Fuad Balfas, Emma Lopez, Fahad Munif, Hendri Lamiri, sang akordian; Butong, Mustafa Abdullah, Nizar Ali dan dimeriahi oleh L’Catraz Band dan Konsentra Sumut. Rencananya, untuk menumbuhkan rasa cinta pada kebudayaan Indonesia, Jakarta Melayu Festival akan diadakan setiap setahun sekali. (L/P02/P06/P015/P01/R2).  Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8867-fim-jasa-ekatama-komitmen-perjuangkan-rs-indonesia-di-gaza.html

RSI Gaza Bukti Nyata Dukungan Rakyat Indonesia untuk Palestina

Jakarta, 24 Syawwal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Tokoh intelektual muda Indonesia, Anies Baswedan mengatakan, Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza merupakan salah satu upaya nyata rakyat Indonesia dalam mendukung Palestina. “Bukan saja mengirimkan dukungan lisan dan doa (untuk Palestina), tapi upaya nyata dalam bentuk fisik seperti pembangunan rumah sakit. Ini bisa jadi contoh untuk semua,” kata Anies kepada Mi’raj News Agency usai acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Rumah Sakit Indonesia (RSI) dibangun di atas sebidang tanah wakaf yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. (Foto. Doc. MER-C)    Anies Baswedan, pendiri gerakan Indonesia mengajar juga mengatakan bahwa acara konser mengangkat kebudayaan melayu yang dikemas untuk kegiatan kemanusiaan sangat cerdas.  Baginya, Musik Melayu mempunyai kekuatan syair yang luar biasa dan pesan yang disampaikan dalam setiap baitnya baik sekali. Apalagi acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu tersebut dikhususkan untuk acara kemanusiaan. “Oleh karena itu Kegiatan Konser Kemerdekaan Musik Melayu seperti ini punya efek yang baik,” ujar Rektor Universitas Paramadina itu. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja’, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, Hamdan Attamimi, Hendry Lamiri, dan Fuad Balfas serta diiringi Anwar Fauzi Orkestra. Hasil penjualan tiket konser musik Melayu yang dilaksanakan di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta tersebut akan disumbangkan untuk pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku dan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Dalam konser musik Melayu itu juga diadakan penyerahan secara simbolis dari Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama Ichsan Thalib kepada ketua panitia Geisz Chalifah, dua unit rumah di sebuah kompleks perumahan seharga sekitar tiga milyar rupiah untuk dijual dan hasilnya bagi pembangunan rumah sakit tersebut. Butuh Dana 75 Milyar Rupiah Lagi RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Rumah sakit yang dibangun di atas tanah wakaf dari pemerintah Palestina seluas 16.261 m2 itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. Pekerjaan pembangunan RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. Saat ini, para relawan sedang melakukan pembangunan RSI Gaza tahap kedua berupa tahap arsitektur dan Mekanikal Elektrikal (ME).   Pembangunan fisik RSI Gaza menelan biaya 30 milyar rupiah. Setelah pembangunan fisik selesai dibutuhkan dana  sekitar 7,5 milyar rupiah untuk bangunan pelengkap kompleks RSI dan 65 milyar rupiah untuk penyedian alat kesehatan, sebagian peralatan rumah sakit seperti tempat tidur dan lainnya. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. (L/P02/P06/P015/P01). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8822-rsi-gaza-bukti-nyata-dukungan-rakyat-indonesia-untuk-palestina.html

Pembangunan RSI Gaza Terhambat Pasokan Bahan Bangunan

Jakarta, 15 Syawal 1434/ 21 Agustus 2013 (MINA) – Krisis internal Mesir membawa dampak bagi pembangunana Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza menyusul kekurangan pasokan bahan bangunan dengan melonjaknya harga bahan bangunan akibat penutupan terowongan dan perbatasan Rafah. “Saat ini, harga bahan bangunan bertambah mahal dan ditambah dengan perbatasan Rafah ditutup total akibat pengaruh konflik Mesir maka semakin sulit untuk memasok pengadaan barang dan bahan bangunan dari Mesir ke Jalur Gaza,” kata Edy Wahyudi, seorang relawan RSI Gaza kepada MINA (Mi’raj News Agency), Rabu malam (21/8). Hampir seluruh terowongan ditutup militer Mesir sejak kudeta militer terhadap Presiden Mesir, Muhammad Mursi, Rabu (3/7). Rakyat Palestina di Jalur Gaza terpaksa menggunakan terowongan sebagai satu-satunya urat nadi untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka akibat blokade Israel terhadap daerah kantong itu sejak Juni 2007. Sementara perbatasan Rafah yang menghubungkan wilayah Mesir-Jalur Gaza (Palestina) adalah satu-satunya pintu penyeberangan melalui darat yang tidak dikontrol oleh Israel. Melalui pintu perbatasan inilah warga Gaza dapat terhubung ke dunia luar. Edy mengungkapkan, saat situasi semakin memburuk dengan kebijakan penutupan terowongan dan penutupan perbatasan Rafah mengakibatkan kekurangan pasokan kebutuhan pokok dan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), proses pembangunan RSI Gaza masih terus berlangsung dengan dukungan dari penduduk dan pemerintah Palestina di Jalur Gaza.  “Alhamdulillah, penduduk Palestina di Jalur Gaza termasuk Pemerintahnya juga membantu kami dalam pembangunan Rumah Sakit ini. Pemerintah Gaza juga membantu kami dengan memberikan bantuan solar dan gas,” ungkapnya. Dia juga mengatakan, sejauh ini perkembangan RSI Gaza sudah mencapai tahap pekerjaan elektrikal, pemasangan instalasi listrik dan kabel; instalasi pengadaan air bersih; pengecetan bagian luar dan dalam gedung hingga Proses Memasukan pompa air kedalam sumur bor. Saat ini, para relawan RSI juga sedang melakukan pemasangan keramik lantai ruangan RSI berukuran 33,3 x 33,3 cm. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. Rumah Sakit itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P010/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/8428-rsi-gaza-kekurangan-pasok-bahan-bangunan.html

Festival Melayu Untuk RSI Gaza

Jakarta, 7 Syawwal 1434/14 Agustus 2013 (MINA) – Gita Cinta Production dijadwalkan menyelenggarakan Festival Melayu, Konser Kemerdekaan Musik Melayu Seroja, di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat malam (30/8). Menurut Produser Geisz Chalifah, acara itu bukan pertunjukan biasa, membangkitkan musik Melayu yang lama terendam. Namun yang pokok adalah seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan untuk Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan Galela Maluku. “Setidaknya untuk pengobat kerinduan generasi pencinta lama dan generasi pencinta baru. Sekaligus menggugah kepedulian terhadap RSI di Gaza,” ujar Geisz kepada Mi’raj News Agency (MINA). Karena kepedulian terhadap penyelesaian RSI di Gaza, seorang calon pengunjung rela mendonasikan dua rumah di sebuah kompleks perumahan untuk dijual, dan hasilnya untuk RSI. Menurut Geisz, konser memang tidak segegap dan segemerlap dangdut di puncak kejayaannya. Apalagi mampu menyaingi kemeriahan musik rock dan boy band yang marak dewasa ini. Setidaknya menjadi bagian dalam lanskap musik nasional di bulan kemerdekaan Indonesia, seperti dengan tampilnya musikalisasi lagu melayu daerah dari Aceh, Padang, Betawi, hingga Papua, imbuhnya. Dijadwalkan tampil dalam konser, Sulis (Cinta Rasul), Iyeth Bustami, Hamdan ATT, Mustafa Abdullah, Fuad Balfas, Nizar Ali, Fahad Munif, Zapin Performance (Kosentra Sumut) dan Music Director Anwar Fauzi (Orchestra). (L/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8107-festival-melayu-untuk-rsi-gaza.html  

Relawan Indonesia Rayakan Idul Fitri Bersama Masyarakat Gaza

Bayt Lahiya, 4 Syawal 1434/11 Agustus 2013 (MINA) – Relawan Indonesia yang sedang melaksanakan amanah pembangunan Rumah Sakit Indonesia merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1434 bersama masyarakat Gaza ditengah jauh dari keluarga dan sanak saudara serta kondisi blokade semakin diperketat di daerah kantong Palestina itu. Hal itu disampaikan koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza, Muhammad Husain, Sabtu (10/8). “Alhamdulillah, Pada 1 Syawal 1434 atau Kamis,8 Agustus 2013, para relawan Indonesia yang saat ini sedang mengemban amanah pembangunan RSI telah melaksanakan shalat Idul Fitri bersama masyarakat Gaza,” kata Husain kepada Kantor Berita Islam MINA. Perdana Menteri Palestina Dr. Ismail Abdussalam Haniyah sedang mengimami shalat Idul Fitri di Lapangan Yarmuk, Pusat Jalur Gaza, 1 Syawal 1434/8Agustus 2013. (Foto: MINA Gaza) Sekitar 33 relawan RSI melaksanakan shalat Idul Fitri 1434 di lokasi terpisah. Sebagian shalat di lapangan Maidan Syeikh Zaid tepat samping Masjid Besar Syeikh Zaid di Bayt Lahiya, Jalur Gaza Utara yang berjarak kurang lebih 100 meter dari RSI. Sementara sebagian yang lainnya, sekitar 12 relawan melaksanakan shalat Ied bersama Perdana Menteri Palestina Dr. Ismail Abdussalam Haniyah di Lapangan Sepak Bola “Yarmuk”, pusat Kota Gaza. “Meskipun para relawan datang sedikit terlambat karena jarak yang ditempuh cukup jauh. Namun, Alhamdulillah para relawan Indonesia ditempatkan di barisan terdepan jama’ah shalat Ied bersama tokoh-tokoh pemerintahan baik itu para menteri, anggota parlemen, mufti, dan lainnya,” ujarnya. Shalat Ied di lapangan Yarmuk di pimpin langsung oleh Ismail Haniyah yang kemudian dilanjutkan dengan khutbah Ied yang juga di bawakan olehnya. Dalam pidato Idul Fitri, Haniyah mengucapkan selamat hari raya kepada seluruh masyarakat Palestina khususnya di Jalur Gaza. Dia mengingatkan kembali akan kegigihan masyarakat Gaza yang berhasil memukul mundur para penjajah Israel dari tanah Gaza setelah sebelumnya sempat di kuasai beberapa tahun silam. Petinggi gerakan Perlawanan Hamas yang sering disapa Ismail Haniyah juga mengucapkan selamat hari raya kepada para tahanan Palestina yang hingga saat ini masih berada di balik jeruji besi penjara penjara Israel. Dia mengingatkan mereka bahwa kemenangan semakin dekat. Haniyah juga menyapa serta mendoakan para syuhada Palestina yang gugur dalam perjuangan mengembalikan kebebasan mereka. Relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) melaksanakan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1434 yang diimami oleh PM Palestina Dr. Ismail Abdussalam Haniyah di Lapangan Yarmuk, Pusat Jalur Gaza, Palestina. Muhammad Husain melaporkan, setelah mengisi khutbah, sang perdana menteri langsung meninggalkan lapangan Yarmuk. “Tidak seperti di Indonesia, maka di Gaza, Tidak ada acara salam-salaman oleh para jamaah selepas Shalat Ied,” ungkapnya. Sebelumnya, para relawan RSI itu melaksanakan menghabiskan 10 Ramadhan terakhir dengan melakukan iktikaf di Masjid Glebo, Jalur Gaza. Bahkan saat puasa Ramadhan pun para relawan yang merupakan unpaid volunteers (sukarelawan yang tidak dibayar) dari Medical Emergency Rescue Committee (MER-C ) bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah Indonesia masih menjalankan pekerjaan seperti mulai melaksanakan mekanikal elektrikal (ME), pengecatan, pemasangan dinding batu alam (Hajar Quds), perataan jalan dan halaman RSI, pagar dinding, main entrance dan granolitik. Progress RSI sendiri sudah pada tahap kedua. Pembangunan RSI direncanakan selesai pada akhir 2013. Husain merupakan mahasiswa Universitas Islam Gaza mengungkapkan, pada dasarnya kebiasaan hari raya Idul Fitri di Gaza tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia. Seperti memakai baju baru selama hari Idul Fitri dan berkunjung ke rumah-rumah sanak saudara dan tetangga. Namun, ada satu kondisi yang sangat berbeda antara Idul Fitri di Gaza dan Indonesia.  Jika di Indonesia masyarakat bisa bebas “mudik” ke kampung halaman mereka, maka di Gaza yang mayoritas masyarakatnya adalah kaum pendatang (pengungsi) maka hal tersebut bisa di katakan mustahil untuk saat ini. Setelah Hamas memenangkan pemilu pada 2006, sejak Juni 2007, Israel telah memperketat blokade jalur darat dan laut untuk mengisolasi Jalur Gaza dari akses keluar masuk menuju Tepi Barat, termasuk kota Al-Quds di mana Masjid Al-Aqsha berada, dan negara-negara lain di seluruh dunia. Karena penutupan Rafah dan penghancuran terowongan baru-baru ini dengan adanya krisis internal Mesir, Gaza kini semakin terang seperti penjara terbuka terbesar di dunia dengan pembatasan hak-hak dasar mereka. (L/K9/P02/R2) Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/7975-relawan-indonesia-rayakan-idul-fitri-bersama-masyarakat-gaza.html  

Kunjungi RS Indonesia Gaza, PM Palestina: Kemenangan Sudah Dekat

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, mendapat kunjungan istimewa dengan kedatangan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah, Selasa 23 Juli 2013 malam waktu setempat. Haniyah datang bersama rombongan parlemen serta ditemani Menteri Dalam Negeri Palestina, Dr Fathi Hamad. Haniyah merasa sangat bahagia dan berterima kasih kepada para relawan dan rakyat Indonesia atas semua usaha dalam meringankan beban rakyat Palestina. “Kami sangat bahagia atas kunjungan kami malam ini ke RSI, Kami berterima kasih atas sambutan kalian semua serta usaha kalian semua dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina,” kata Haniyah di Gaza. Ia mengungkapkan, keberadaan relawan pembangunan RSI di Gaza memberikan semangat dan motivasi bagi seluruh rakyat Palestina. “Setiap Kami melihat kalian kami merasa yakin bahwa kemenangan kita semakin dekat. Kalian jauh meninggalkan istri, anak, keluarga, harta benda untuk menjadi relawan di negeri ini. Insya Allah, keberadaan kalian semua di sini dicatat di sisi Allah sebagai pahala ribat dan jihad,” ungkap Haniyah kepada relawan dari MER-C yang bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah, Indonesia. (Mirajnews/Adi/Ein) Sumber : http://news.liputan6.com/read/648473/kunjungi-rs-indonesia-gaza-pm-palestina-kemenangan-sudah-dekat  

Haniyah Kunjungi RSI Gaza

Bayt Lahia, 16 Ramadhan 1434/24 Juli 2013 (MINA) – Di antara kesibukannya sebagai kepala pemerintah, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah menyempatkan diri mengunjungi Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza pada pertengahan Ramadhan, Selasa malam (23/7). Haniyah datang bersama rombongan parlemen serta ditemani oleh Menteri Dalam Negeri Palestina, Dr. Fathi Hamad. Dalam kunjungannya, Haniyah merasa sangat bahagia dan berterima kasih kepada para relawan dan rakyat Indonesia khususnya atas semua usaha dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina. “Kami sangat bahagia atas kunjungan kami malam ini ke RSI, Kami berterima kasih atas sambutan kalian semua serta usaha kalian semua dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina,” kata Haniyah memulai sambutannya. PM Palestina, Ismail Haniyah bersama relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza saat berkunjung ke RSI di Bayt Lahia, Gaza Utara, Selasa (23/4). (Doc. MER-C/MINA) Dia mengungkapkan, keberadaan relawan pembangunan RSI di sana memberikan semangat dan motivasi bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza. “Setiap Kami melihat kalian kami merasa yakin bahwa kemenangan kita semakin dekat. Kalian jauh meninggalkan istri, anak, keluarga, harta benda untuk menjadi relawan di negeri ini. Insya Allah, keberadaan kalian semua di sini dicatat di sisi Allah sebagai pahala ribat dan jihad,” ungkap Haniyah mengagumi keberadaan para relawan yang merupakan unpaid volunteers dari MER-C bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah, Indonesia. Sementara itu, koordinator kunjungan PM Palestina tersebut, Muhammad Husain mengungkapkan, “Malam pertengahan Ramadhan tahun ini para relawan Indonesia di Jalur Gaza mendapatkan hadiah istimewa. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya mengenai rencana Perdana Menteri Palestina Dr. Ismail Haniyah yang akan berkunjung ke RSI dengan izin Allah terwujud,” kata koordinator kunjungan PM Palestina, Muhammad Husain kepada Mi’raj News Agency (MINA), Rabu dini hari (24/7) waktu Jakarta. “Para relawan yang memang sedang menanti kedatangan beliau tampak sangat bahagia atas kunjungan bersejarah ini,” tambah Husain. Para relawan berusaha memberikan persiapan yang terbaik untuk PM Palestina. Barak tempat mereka tidur pun disulapnya menjadi bentangan lesehan khas masyarakat setempat. Suasana hangat tercipta antara relawan dan PM Palestina saat mereka duduk melingkar, tanpa ada perbedaan. Pertemuan tersebut, menurut Husain, merupakan pertemuan antara Muhajirin dan Anshar pada masa Rasulullah SAW, bukan dalam konteks delegasi Indonesia bertemu kepala negara. (L/P02/P015/P01). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/7262-haniyah-kunjungi-rsi-gaza.html

Konflik Mesir dan Bulan Suci Ramadhan; Apa Kabar RSI dan Relawan Indonesia di Gaza?

Gaza, Palestina – Telah kita ketahui bersama konflik yang tengah terjadi di Mesir dengan segala kepahitannya bagi ummat Islam. Hal ini bukan tidak berdampak pada pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza. Krisis beberapa bahan bangunan seperti semen yang saat ini sangat langka, krisis gas, bensin dan solar yang terlebih dahulu menimpa Gaza, bahkan hampir-hampir beras pun sangat sulit didapat. Inilah yang terjadi hingga saat ini di Jalur Gaza. Bahan bangunan berupa semen sangatlah vital dalam suatu proyek khususnya pembangunan RSI ini. Masuknya semen dari Mesir sangatlah terbatas melalui jalur normal. Kecil kemungkinan untuk mendapatkannya seperti sebelum-sebelumnya. Bukan hanya dibatasi untuk masuknya semen ke Jalur Gaza, tetapi juga harga dinaikkan berkali lipat. Yang semula harga perton semen sebesar 400 shekel kini menjadi 1000 shekel. Terwongan-terowongan yang biasa warga Jalur Gaza gunakan sebagai wasilah ke dua untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka pun hancur oleh sebab dampak dari konflik Mesir. Segala usaha dilakukan para relawan RSI agar pembangunan dapat terus berjalan, Alhamdulillah semen bisa didapatkan walaupun tidak sejumlah target normal. Pekerjaan dapat terus berlanjut walaupun agak sedikit tersendat oleh beberapa faktor di atas. Hingga menjelang Ramadhan para relawan tetap fokus pada pekerjaan pembangunan RSI. Jenis pekerjaan yang sedang dilaksanakan adalah mekanikal elektrikal (ME), pengecatan, pemasangan dinding batu alam (hajar quds), perataan jalan dan halaman RSI, pagar dinding, main entrance dan granolitik.   Kegiatan Relawan Kala Ramadhan Menjelang bulan suci Ramadhan para relawan yang saat ini berjumlah 33 orang berunding mengenai waktu kerja yang akan mereka jalankan. Pada umumnya saat Ramadhan warga Gaza berkerja malam hari setelah shalat tarawih hingga menjelang sahur. Berdasarkan kesepakatan bersama akhirnya diputuskan bahwa waktu kerja para relawan RSI pada bulan Ramadhan ini ialah mulai ba’da shubuh jam 05.00 hingga menjelang Dzuhur jam 12.30 dengan sekali istirahat untuk shalat Dhuha pada jam 09.00 hingga setengah jam ke depan. Tersisa waktu sekitar 45 menit dari selesainya waktu kerja menjelang Dzuhur, para relawan menggunakannya untuk beristirahat sejenak kemudian mandi untuk persiapan shalat Dzuhur di masjid. Setelah shalat Dzuhur para relawan menggunakan waktu mereka dengan bertadarrus Al-qur’an di masjid dan ada pula yang di RSI. Diantara mereka yang menetap di masjid dari shalat Dzuhur hingga menjelang buka puasa dengan bertadarrus Al-qur’an diselingi dengan istirahat sejenak. Pada bulan Ramadhan seluruh masjid di Gaza tidak ada jeda waktu setelah adzan Maghrib dan Isya. Iqomah langsung dikumandangkan oleh muadzin setelah adzan. Ini membuat para relawan berangkat ke masjid jauh sebelum waktu adzan Maghrib dikumandangkan dengan membawa bekal bukaan puasa berupa buah wajib bagi mereka setiap harinya, yaitu tiga butir kurma dan buah lainnya yang tersedia seadanya. Usai menunaikan shalat maghrib para relawan langsung kembali ke RSI untuk makan malam bersama, kemudian setelah makan malam mereka melanjutkan tadarrus hingga shalat Isya. Tibalah waktunya Sholat Tarawih berjamaah. Sebagian relawan melakukannya dengan safari sholat Tarawih, yaitu berpindah-pindah masjid setiap harinya. Sebagian lain memilih sholat Tarawih berjamaah di Basement RSI yang dimulai sekitar Jam 2 malam waktu Gaza dengan bacaan murotal Al Qur’an 1 juz setiap malamnya yang diimami oleh Reza Adilla Kurniawan, salah satu relawan RSI asal Pesantren Al Fatah yang hafal 30 juz Al Qur’an. Kegiatan ibadah relawan kemudian dilanjutkan dengan sholat witir yang diimami oleh Ust Abdurrahman, yang sudah dua kali bertugas di Gaza untuk RSI. Doa qunut pun dilantunkan para relawan untuk memohon pertolongan Allah agar kembalinya Palestina dan Masjidil Aqsha ke pangkuan kaum muslimin, juga berharap Allah memenangkan kaum muslimin yang tertindas dan terdzolimi di seluruh negeri muslim lainnya. Kegiatan pembangunan RSI dimulai lagi ketika para relawan selesai melakukan sahur bersama dan sholat Subuh berjamaah. “Alhamdulillah kami tetap terus bersemangat walau setelah Sholat Subuh melanjutkan kembali pekerjaan amal sholih pembangunan RS Indonesia yang kami mulai jam 05.00 pagi sampai dengan jam 12.30 siang nanti,” ujar Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan RSl di Gaza, Palestina. Dukungan berupa do’a dan lainnya masih sangat diharapkan oleh kami relawan RSI dan harapan kami jangan berhenti berdo’a untuk kelancaran pembangunan RSI demi terjalinnya hubungan silaturahim jangka panjang antara warga Indonesia dan warga Palestina ke depan.   Bagi masyarakat Indonesia yang ingin berdonasi untuk Program Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina dapat mengirimkan melalui : BCA, No. Rek. 686.0153.678, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BSM, No. Rek. 700.1352.061, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BNI Syariah, No. Rek. 0811192973, a/n. Medical Emergency Rescue Committee     RS MER-C di Galela Mulai Pemasangan Atap   Galela, Maluku Utara – Sementara program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina terus berjalan diantara blokade Israel dan konflik yang tengah melanda Mesir, begitu juga dengan pembangunan Rumah Sakit di Galela, Maluku Utara. Di wilayah timur Indonesia yang memiliki sejarah kelam akibat konflik ini, bangunan Rumah Sakit yang dilakukan Divisi Konstruksi MER-C juga semakin hari semakin tampak kokoh dan cantik. Hal ini semua dapat terwujud atas pertolongan Allah SWT juga doa serta donasi dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Seperti RS Indonesia di Gaza, RS MER-C di Galela dengan luas bangunan 2.800 m2 juga tengah memasuki tahap Arsitektur. Setelah sempat terhenti, namun atas donasi dari masyarakat yang masuk ke rekening donasi amanah RS Galela, pekerjaan pembangunan bisa dimulai kembali. Kali ini fokus pekerjaan adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS yang berwarna biru. Material rangka baja ringan dan atap semua dipesan dan dibuat di Jakarta. Material tersebut kemudian dikirim menggunakan ekspedisi laut yang perjalanannya memakan waktu selama satu bulan. Alhamdulillah pada akhir Juni 2013, material tiba di Pelabuhan Galela sehingga pekerjaan pemasangan atap bisa mulai dilakukan per awal Juli 2013. Untuk mengawasi pekerjaan tahap ini, Divisi Konstruksi MER-C menugaskan satu orang relawan Teknis yang sejak awal sudah terlibat dalam proses pembangunan. Pemasangan atap dijadwalkan selama 1 bulan. Dalam awal pekan depan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan Tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pembangunan. “Awal pekan depan saya dan tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan RS yang sudah berjalan selama 2 minggu. Setelah Galela, dalam bulan ini juga kami berharap bisa melakukan supervisi pembangunan RS Indonesia di Gaza,” tutur Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C.   Bagi masyarakat Indonesia yang ingin

Silahkan bertanya?