MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Haniyah Kunjungi RSI Gaza

Bayt Lahia, 16 Ramadhan 1434/24 Juli 2013 (MINA) – Di antara kesibukannya sebagai kepala pemerintah, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah menyempatkan diri mengunjungi Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza pada pertengahan Ramadhan, Selasa malam (23/7). Haniyah datang bersama rombongan parlemen serta ditemani oleh Menteri Dalam Negeri Palestina, Dr. Fathi Hamad. Dalam kunjungannya, Haniyah merasa sangat bahagia dan berterima kasih kepada para relawan dan rakyat Indonesia khususnya atas semua usaha dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina. “Kami sangat bahagia atas kunjungan kami malam ini ke RSI, Kami berterima kasih atas sambutan kalian semua serta usaha kalian semua dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina,” kata Haniyah memulai sambutannya. PM Palestina, Ismail Haniyah bersama relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza saat berkunjung ke RSI di Bayt Lahia, Gaza Utara, Selasa (23/4). (Doc. MER-C/MINA) Dia mengungkapkan, keberadaan relawan pembangunan RSI di sana memberikan semangat dan motivasi bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza. “Setiap Kami melihat kalian kami merasa yakin bahwa kemenangan kita semakin dekat. Kalian jauh meninggalkan istri, anak, keluarga, harta benda untuk menjadi relawan di negeri ini. Insya Allah, keberadaan kalian semua di sini dicatat di sisi Allah sebagai pahala ribat dan jihad,” ungkap Haniyah mengagumi keberadaan para relawan yang merupakan unpaid volunteers dari MER-C bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah, Indonesia. Sementara itu, koordinator kunjungan PM Palestina tersebut, Muhammad Husain mengungkapkan, “Malam pertengahan Ramadhan tahun ini para relawan Indonesia di Jalur Gaza mendapatkan hadiah istimewa. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya mengenai rencana Perdana Menteri Palestina Dr. Ismail Haniyah yang akan berkunjung ke RSI dengan izin Allah terwujud,” kata koordinator kunjungan PM Palestina, Muhammad Husain kepada Mi’raj News Agency (MINA), Rabu dini hari (24/7) waktu Jakarta. “Para relawan yang memang sedang menanti kedatangan beliau tampak sangat bahagia atas kunjungan bersejarah ini,” tambah Husain. Para relawan berusaha memberikan persiapan yang terbaik untuk PM Palestina. Barak tempat mereka tidur pun disulapnya menjadi bentangan lesehan khas masyarakat setempat. Suasana hangat tercipta antara relawan dan PM Palestina saat mereka duduk melingkar, tanpa ada perbedaan. Pertemuan tersebut, menurut Husain, merupakan pertemuan antara Muhajirin dan Anshar pada masa Rasulullah SAW, bukan dalam konteks delegasi Indonesia bertemu kepala negara. (L/P02/P015/P01). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/7262-haniyah-kunjungi-rsi-gaza.html

Konflik Mesir dan Bulan Suci Ramadhan; Apa Kabar RSI dan Relawan Indonesia di Gaza?

Gaza, Palestina – Telah kita ketahui bersama konflik yang tengah terjadi di Mesir dengan segala kepahitannya bagi ummat Islam. Hal ini bukan tidak berdampak pada pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza. Krisis beberapa bahan bangunan seperti semen yang saat ini sangat langka, krisis gas, bensin dan solar yang terlebih dahulu menimpa Gaza, bahkan hampir-hampir beras pun sangat sulit didapat. Inilah yang terjadi hingga saat ini di Jalur Gaza. Bahan bangunan berupa semen sangatlah vital dalam suatu proyek khususnya pembangunan RSI ini. Masuknya semen dari Mesir sangatlah terbatas melalui jalur normal. Kecil kemungkinan untuk mendapatkannya seperti sebelum-sebelumnya. Bukan hanya dibatasi untuk masuknya semen ke Jalur Gaza, tetapi juga harga dinaikkan berkali lipat. Yang semula harga perton semen sebesar 400 shekel kini menjadi 1000 shekel. Terwongan-terowongan yang biasa warga Jalur Gaza gunakan sebagai wasilah ke dua untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka pun hancur oleh sebab dampak dari konflik Mesir. Segala usaha dilakukan para relawan RSI agar pembangunan dapat terus berjalan, Alhamdulillah semen bisa didapatkan walaupun tidak sejumlah target normal. Pekerjaan dapat terus berlanjut walaupun agak sedikit tersendat oleh beberapa faktor di atas. Hingga menjelang Ramadhan para relawan tetap fokus pada pekerjaan pembangunan RSI. Jenis pekerjaan yang sedang dilaksanakan adalah mekanikal elektrikal (ME), pengecatan, pemasangan dinding batu alam (hajar quds), perataan jalan dan halaman RSI, pagar dinding, main entrance dan granolitik.   Kegiatan Relawan Kala Ramadhan Menjelang bulan suci Ramadhan para relawan yang saat ini berjumlah 33 orang berunding mengenai waktu kerja yang akan mereka jalankan. Pada umumnya saat Ramadhan warga Gaza berkerja malam hari setelah shalat tarawih hingga menjelang sahur. Berdasarkan kesepakatan bersama akhirnya diputuskan bahwa waktu kerja para relawan RSI pada bulan Ramadhan ini ialah mulai ba’da shubuh jam 05.00 hingga menjelang Dzuhur jam 12.30 dengan sekali istirahat untuk shalat Dhuha pada jam 09.00 hingga setengah jam ke depan. Tersisa waktu sekitar 45 menit dari selesainya waktu kerja menjelang Dzuhur, para relawan menggunakannya untuk beristirahat sejenak kemudian mandi untuk persiapan shalat Dzuhur di masjid. Setelah shalat Dzuhur para relawan menggunakan waktu mereka dengan bertadarrus Al-qur’an di masjid dan ada pula yang di RSI. Diantara mereka yang menetap di masjid dari shalat Dzuhur hingga menjelang buka puasa dengan bertadarrus Al-qur’an diselingi dengan istirahat sejenak. Pada bulan Ramadhan seluruh masjid di Gaza tidak ada jeda waktu setelah adzan Maghrib dan Isya. Iqomah langsung dikumandangkan oleh muadzin setelah adzan. Ini membuat para relawan berangkat ke masjid jauh sebelum waktu adzan Maghrib dikumandangkan dengan membawa bekal bukaan puasa berupa buah wajib bagi mereka setiap harinya, yaitu tiga butir kurma dan buah lainnya yang tersedia seadanya. Usai menunaikan shalat maghrib para relawan langsung kembali ke RSI untuk makan malam bersama, kemudian setelah makan malam mereka melanjutkan tadarrus hingga shalat Isya. Tibalah waktunya Sholat Tarawih berjamaah. Sebagian relawan melakukannya dengan safari sholat Tarawih, yaitu berpindah-pindah masjid setiap harinya. Sebagian lain memilih sholat Tarawih berjamaah di Basement RSI yang dimulai sekitar Jam 2 malam waktu Gaza dengan bacaan murotal Al Qur’an 1 juz setiap malamnya yang diimami oleh Reza Adilla Kurniawan, salah satu relawan RSI asal Pesantren Al Fatah yang hafal 30 juz Al Qur’an. Kegiatan ibadah relawan kemudian dilanjutkan dengan sholat witir yang diimami oleh Ust Abdurrahman, yang sudah dua kali bertugas di Gaza untuk RSI. Doa qunut pun dilantunkan para relawan untuk memohon pertolongan Allah agar kembalinya Palestina dan Masjidil Aqsha ke pangkuan kaum muslimin, juga berharap Allah memenangkan kaum muslimin yang tertindas dan terdzolimi di seluruh negeri muslim lainnya. Kegiatan pembangunan RSI dimulai lagi ketika para relawan selesai melakukan sahur bersama dan sholat Subuh berjamaah. “Alhamdulillah kami tetap terus bersemangat walau setelah Sholat Subuh melanjutkan kembali pekerjaan amal sholih pembangunan RS Indonesia yang kami mulai jam 05.00 pagi sampai dengan jam 12.30 siang nanti,” ujar Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan RSl di Gaza, Palestina. Dukungan berupa do’a dan lainnya masih sangat diharapkan oleh kami relawan RSI dan harapan kami jangan berhenti berdo’a untuk kelancaran pembangunan RSI demi terjalinnya hubungan silaturahim jangka panjang antara warga Indonesia dan warga Palestina ke depan.   Bagi masyarakat Indonesia yang ingin berdonasi untuk Program Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina dapat mengirimkan melalui : BCA, No. Rek. 686.0153.678, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BSM, No. Rek. 700.1352.061, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BNI Syariah, No. Rek. 0811192973, a/n. Medical Emergency Rescue Committee     RS MER-C di Galela Mulai Pemasangan Atap   Galela, Maluku Utara – Sementara program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina terus berjalan diantara blokade Israel dan konflik yang tengah melanda Mesir, begitu juga dengan pembangunan Rumah Sakit di Galela, Maluku Utara. Di wilayah timur Indonesia yang memiliki sejarah kelam akibat konflik ini, bangunan Rumah Sakit yang dilakukan Divisi Konstruksi MER-C juga semakin hari semakin tampak kokoh dan cantik. Hal ini semua dapat terwujud atas pertolongan Allah SWT juga doa serta donasi dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Seperti RS Indonesia di Gaza, RS MER-C di Galela dengan luas bangunan 2.800 m2 juga tengah memasuki tahap Arsitektur. Setelah sempat terhenti, namun atas donasi dari masyarakat yang masuk ke rekening donasi amanah RS Galela, pekerjaan pembangunan bisa dimulai kembali. Kali ini fokus pekerjaan adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS yang berwarna biru. Material rangka baja ringan dan atap semua dipesan dan dibuat di Jakarta. Material tersebut kemudian dikirim menggunakan ekspedisi laut yang perjalanannya memakan waktu selama satu bulan. Alhamdulillah pada akhir Juni 2013, material tiba di Pelabuhan Galela sehingga pekerjaan pemasangan atap bisa mulai dilakukan per awal Juli 2013. Untuk mengawasi pekerjaan tahap ini, Divisi Konstruksi MER-C menugaskan satu orang relawan Teknis yang sejak awal sudah terlibat dalam proses pembangunan. Pemasangan atap dijadwalkan selama 1 bulan. Dalam awal pekan depan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan Tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pembangunan. “Awal pekan depan saya dan tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan RS yang sudah berjalan selama 2 minggu. Setelah Galela, dalam bulan ini juga kami berharap bisa melakukan supervisi pembangunan RS Indonesia di Gaza,” tutur Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C.   Bagi masyarakat Indonesia yang ingin

Safari Ramadhan Relawan RS Indonesia di Gaza

Gaza, 7 Ramadhan 1434/ 15 Juli 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Ir. Edy Wahyudi, melaporkan kegiatan para relawan RS Indonesia (RSI) di Gaza dalam bulan Ramadhan ini. “Kegiatan para relawan RSI di Gaza pada bulan Ramadhan yaitu, sholat Tarawih berjamaah, sebagian dengan safari Ramadhan, yaiut shalat Tarawih dengan berpindah-pindah masjid setiap harinya”, kata Edy Wahyudi melalui rilis yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Senin (15/7). Gambar Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza terbaru. (dokumen MER-C) Menurut Edy Wahyudi, site manager pembangunan RSI Gaza, sebagian relawan RSI di Gaza sholat Tarawih berjamaah di lantai dasar RSI, dimulai sekitar pukul dua dini hari waktu Gaza, dengan bacaan murotal Al Qur’an satu juz setiap malamnya yang diimami oleh Reza Adilla Kurniawan, salah seorang Relawan yang hafal 30 juz Al Qur’an. Kemudian kata Edy, dalam shalat witir, para Relawan melakukan doa qunut untuk memohon pertolongan Allah bagi kembalinya Masjid Al-Aqsha kepangkuan muslimin, dan berharap Allah memenangkan muslimin dari penindasan kaum kafir di seluruh negeri muslim. Sebelumnya, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) cabang Gaza mengadakan acara silaturahmi ke warga sekitar lokasi RSI, pada Ahad, (7/7). Acara itu diadakan usai sholat maghrib di masjid Zawiyah yang terletak di sebelah utara RSI. Masjid Zawiyah adalah masjid di mana relawan RSI biasa menunaikan kewajiban shalat lima waktu. Imam Besar masjid Zawiyah, Akram Nashar Abu Al-Amin, menyampaikan keutamaan Ramadhan dan menjaga Al-Qur’an dengan menghafalnya. Mewakili MER-C merupakan inisiator RSI dan relawan RSI, Muhammad Husein menyampaikan pesan dan kesan dari MER-C. Pada kesempatan tersebut, para relawan juga memberikan bantuan bagi guru tahfidz dan kegiatan operasional masjid, pembagian bingkisan berupa tas, mushaf Al-Qur’an, alat tulis dan bantuan dana bagi anak-anak penghafal Qur’an di masjid tersebut. Edy juga melaporkan, selama menunaikan puasa pada Ramadhan, para relawan RSI masih terus melakukan proses pembangunan tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan ME (mechanical electrical). “Alhamdulillah, para relawan tetap bersemangat walau setelah sholat Subuh melanjutkan pekerjaan amal sholih pembangunan RS Indonesia di mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 12.30 siang,” tambah Edy. RSI di Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Pembangunan sekarang memasuki tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan mechanical electrical (ME). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. (T/P015/P02) Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6843-ramadhan-laporan-relawan-rs-indonesia-di-gaza.html  

Ulama Palestina Kunjungi Keluarga Relawan rumah Sakit Indonesia Di Gaza

Wonogiri, Jawa Tengah, 28 Sya’ban 1434/7 Juli 2013 (MINA) – Ketua Rabithah Ulama Palestina, Syeikh Prof. Dr. Muhammad Mahmud Shiyam kunjungi keluarga relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Darah yang mengalir dan nafas yang dihembuskan suami dan anak-anak mereka di Gaza akan mengalir pula pahala yang sama kepada mereka di kampung halaman bila mereka ikhlas dan bershabar merelakan mereka berjihad,” kata Syeikh Shiyam dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ustadz Yakhsyallah Mansur, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah, rabu, (3/7). “Saya kagum kepada mereka, meskipun di daerah, tetapi semangat membebaskan Masjid Al-Aqsha tetap tinggi.” Ujarnya. Imam dan Khatib Masjid Al Aqsha periode 1984-1988 itu berkunjung ke Indonesia dan Malaysia dalam rangka safari dakwah dan mensosialisasikan perjuangan pembebasan Al-Aqsha dan Palestina pada khususnya serta perjuangan dunia Islam umumnya. Beberapa kota yang dijadwalkan untuk dikunjungi dalam safarinya selama Ramadhan, antara lain; Jakarta, Bogor, Bandar Lampung, Balikpapan, Kupang, Batam, dan Kuala Lumpur. Rumah Sakit Indonesia di Gaza Rumah Sakit Indonesia di Gazamenjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Pembangunan sekarang memasuki tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan mechanical electrical (ME). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. (L/P06/P015/R2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6558-ulama-palestina-kunjungi-keluarga-relawan-rumah-sakit-indonesia-di-gaza.html        

Perkembangan Mujahid di Jalur Gaza Kini

Jakarta, 22 Syaban 1434/2 Juli 2013 (MINA) Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Nur Ikhwan Abadi menyampaikan beberapa perkembangan para relawan lainnya yang berada di Jalur Gaza Palestina. Sejak dikumandangkan Ghazwah Fathul Aqhsa oleh Imamul Muslimin pada tahun 2006, berbagai usaha dilakukan untuk mengembalikan Masjid Al-Aqsha yang dikuasai Zionis Yahudi. Usaha-usaha tersebut dilakukan meliputi seminar-seminar, konferensi, tabligh akbar, long march cinta Al-Aqsha, bedah buku, kajian-kajian tentang Aqsha yang dilakukan hampir di seluruh Indonesia, kata Nur Ikhwan pada Tabligh Akbar yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al-Fatah pada 20-21 Syaban 1434/29-30 Juni 2013 di Masjid At-Taqwa, Pasirangin, Cileungsi-Bogor. Tahun 2009 sejumlah 25 orang dikirim ke Yaman untuk belajar tentang Al-Aqsha dan Palestina, baik dari sejarah atau topograpi. Pada tahun yang sama sejumlah 68 orang diberangkatkn ke Jantung Palestina, guna melihat secara langsung kondisi al-Aqsha. Dengan izin Allah semua pasukan tersebut dapat masuk ke Al-Quds dan melihat kondisi secara langsung, kata pembicara pertama pada Tabligh Akbar yang bertema Dengan Ramadhan Kita Tingkatkan Ukhuwah Khairu Ummah Menuju Pembebasan Masjid Al-Aqsha di Tengah Hegemoni Barat itu. Kondisi yang sangat mengenaskan, masjid suci ketiga kaum muslimin dijaga ketat oleh zionis Yahudi, untuk memasukinya saja dibatasi umur dan waktu. Waktu hanya dari jam 4 pagi hingga 10 malam. Selebihnya ditutup dan tidak ada yang boleh masuk. Pembatasan umur juga dilakukan hanya orang tua sepuh yang boleh masuk, sedangkan yang masih muda berusia dibawah 50 tahun dilarang masuk dan beribadah di sana, kata pemuda yang sempat mengkibarkan bendera hitam liwa rasulullah bertuliskan الله اكبر di Halaman Masjid Al-Aqsha itu. Tahun 2010 dengan izin Allah, Jama’ah Mulimin (Hizbullah) diberikan kenikmatan untuk lebih dekat dengan Al-Aqsha. Bekerja sama dengan MER-C membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Bait Lahiya, Gaza, kata relawan binaan Jamaah Muslimin (Hizbullah) yang sudah 3 tahun lebih di Gaza, Palestina itu. Jama’ah Muslimin (Hizbullah) mengirimkan Nur Ikhwan Abadi dengan melakukan pelayaran bersama para relawan dari seluruh dunia menggunakan kapal Mavi Marmara, Freedom Flotilla atau armada kebebasan bergabung dengan para aktivis kemanusiaan yg dimotori IHH Turki menembus jalur Gaza yang diblokade Zionis Israel secara ilegal. Di tengah laut internasional, Laut Mediterania, kapal penumpang lebih dari 600 org tersebut dibajak dan dirampok oleh Zionis Yahudi, kata Relawan MER-C asal Lampung itu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengerahkan pasukan komando elitnya untuk mengepung para aktivis. Setelah barang-barang dirampok, para aktivis dijebloskan ke penjara dan diinterogasi, kemudian diberi makan yang mengandung racun arsenik yang sangat berbahaya. 9 orang dari Turki tewas, serta puluhan lainnya luka-luka, ucap ayah dari dua anak itu. Enam bulan berselang kembali diutus 5 relawan untuk memperkuat shaf, di antaranya Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad Fauzi, Ust Abdurrahman Parmo, Darusman dan Muhammad Husain. Setelah berjalan 1 tahun lebih keenam relawan membantu proses pembangunan tahap awal. Setelah selesainya tahap pertama yang berupa struktur pada bulan Mei 2012, kata Ikhwan. Tahap awal pembangunan RSI dikirim 4 relawan berasal dr Wonogiri, Jawa Tengah Selatan untuk mempersiapkan tempat tinggal relawan di basement RSI, kemudian setelah selesai 4 bulan berselang kembali dikirim 23 relawan untuk membantu menyelesaikan bangunan RSI tersebut, kata Ikhwan. Selain membantu RSI, para relawan juga mengikuti beberapa kegiatan seperti 3 orang yang diterima kuliah dengan bea siswa di Universitas Islam Gaza. Mereka adalah Muhammad Husain, Reza Adilla Kurniawan, dan Muqarrabin al-Fikri. Dan Ustadz Sholeh Iskandar yang ikut magang di kantor pusat Darul Quranul Karim was Sunnah. Lantas setiap hari selepas shalat Shubuh para relawan belajar bahasa Arab dan selepas Maghrib menghafal al-Qur’an, kata Ikhwan. November 2012, Gaza kembali dilanda perang besar. Namun atas pertolongan Allah para relawan diberikan rasa tenang tanpa merasa takut atas serangan tersebut. Hampir ratusan bom meledak di sekitar lokasi RSI. Perang tersebut tercatat sejumlah korban, 200 gugur, puluhan di antaranya adalah wanita dan anak-anak, 1400an luka-luka, baik luka berat atau luka ringan kata Ikhwan. Dalam perang yang dinamakan Hijaratus Sijjil itu Israel terus-terusan menyerang Gaza dengan intensitas tinggi selama delapan hari. Berbagai dukungan datang agar para relawan menyelamatkan diri dari serangan Israel, Sebenarnya kami sudah diminta pindah dari RSI mengingat lokasi tersebut sangat rawan. Permintaan tersebut datang dari berbagai pihak mulai dari MER-C sendiri, teman-teman di Gaza, pemerintah Gaza juga para pejuang yang ada di front terdepan meminta semua ikhwan untuk pindah dari lokasi RS, karena jarak antara RS Indonesia dan perbatasan lebih kurang 3 km, dikhawatirkan jika terjadi perang darat maka yang terlebih dahulu menjadi sasaran adalah RS tersebut. Namun kami tetapi istiqomah memohon pertolongan Allah setelah melakukan istikhoroh dan mempertimbangkan bahwa RS ini adalah amanah dari rakyat Indonesia yang harus dipertahankan dan dijaga, katanya. Menurut Ikhwan, lokasi RSI berada dekat dengan perbatasan. Di sisi bagian depan sekitar 20 meter adalah tempat latihan para pejuang Gaza. Di sisi sebelah kiri atas merupakan sebuah bukit yang juga tempat latihan para pejuang. Sehingga pada saat perang berlangsung kedua tempat tersebut menjadi sasaran Israel dan dibombardir sedemikian rupa. Tujuh tahun berselang, sejak amanah Ghazwah Fath Al-Aqsha dikumandangkan, saat ini dengan takdir dan pertolongan Allah jejak Khilafah ‘ala min hajin nubuwwah sudah berada di Gaza, yang berjarak 80 km dari Masjid Al-Aqsha. Semoga ini menjadi sebuah sinyal dari Allah, dengan demikian dekatnya ke Masjid Al-Aqsha akan lebih memotivasi kita, bahwa sesuatu yang tidak mungkin, sesuatu yang tadinya hanya sebuah hayalan semata, bahkan tidak sedikit orang yang mencibir dan meremehkan, saat ini perlahan mulai menjadi kenyataan, mulai Allah tampakkan kemudahan-kemudahan dan pertolongannya. Kuncinya, bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam memperjuangkan Al-Aqsha untuk kembali ke pangkuan muslimin. ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, Al Aqsha Haqquna, tegas Nur Ikhwan. (L/P06/P013/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/6372-perkembangan-mujahid-di-jalur-gaza.html

Republika Serahkan Sumbangan Pembaca untuk Rumah Sakit Gaza

Penyerahan bantuan pembaca Republika sebesar Rp 1 Miliar untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  — Genap Rp  1 miliar hasil sumbangan pembaca Republika terkumpul. Sumbangan itu selanjutnya diserahkan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Pengelolaan dana sumbangan pembaca Republika ini selanjutnya diserahkan ke lembaga nirlaba MER-C. Prosesi penyerahan sumbangan pembaca itu dilakukan langsung Pemred Harian Republika, Nasihin Masha kepada Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad di ruang pertemuan Harian Republika di Jl Warung Buncit, 37, Jakarta Selatan, Senin (17/6). MER-C dianggap paling konkret untuk mengelola dana sumbangan pembaca, ujar Pemred Republika, Nasihin Masha, Sarbini menyatakan, sumbangan ini sangat bernilai bagi kelangsungan pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza. Rumah sakit yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara itu diutamakan untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. Bangunan dua lantai plus satu ruang bawah tanah dan satu lantai area tengah itu didirikan di atas tanah seluas 16.261 meter persegi. Tanahnya merupakan wakaf dari pemerintah Palestina. Reporter : Maman Sudiaman Redaktur : Hafidz Muftisany Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/06/17/moixzv-republika-serahkan-sumbangan-pembaca-untuk-rumah-sakit-gaza

Ketua umum PERSIS Gerakkan Wakaf Umat Untuk RS di Gaza

Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS), Prof. Dr. KH. Maman Abdulrahman, M.A. (kiri) dalam pertemuan dengan Ketua Divsi Konstruksi MER-C, Ir. Farid Thalib (kanan) mengenai gerakan wakaf umat Islam di Indonesia dalam membantu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. (Foto: MAR/MINA). Jakarta, 2 Syaban 1434/11 Juni 2013 (MINA) Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Prof. Dr. K.H.M. Abdurrahman,MA. mengemukakan tekadnya untuk ikut serta menggerakkan wakaf umat Islam Indonesia untuk membantu warga Palestina melalui pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza.  Prof. M. Abdurrahman mengatakan hal itu dalam pertemuan dengan Pimpinan Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) di Jakarta, Selasa (11/6). Kepada wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency), ia bersama organisasinya bermaksud ikut serta mensosialisasikan gerakan wakaf dari umat Islam di Indonesia untuk menyelesaikan pembangunan RS Indonesia di Gaza yang dalam tahap penyelesaian akhir. Di samping ia turut menyampaikan kepada Pimpinan Organisasi Massa, tokoh Islam dan umat Islam pada umumnya untuk membantu pembangunan RS tersebut. Dirinya bahkan ingin berziarah ke Jalur Gaza, Palestina. Saya bahkan ingin berkunjung ke Gaza, Palestina mengunjungi saudara-saudara kita di sana, dan menyaksikan langsung bangunan RSI ini, ujar Ketua Sidang Konferensi Internasional Pembebasan Al-Quds dan Palestina yang diselenggarakan di Bandung Juli 2012 lalu. Sekaligus dalam kunjungan itu, ia dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan sekitar 100 mahasiswa PERSIS yang sedang menuntut ilmu di Kairo, Mesir, ujar Penulis Buku Fiqih Lingkungan itu. Ia yang juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi keumatan berusaha mempersiapkan penyerahan dana bantuan titipan dari umat untuk Palestina melalui RSI di Jalur Gaza. Sementara itu, Kepala Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Farid Thalib mengatakan, pembangunan RSI di gaza saat ini memasuki tahap pembangunan Mechanical Electrical (ME). Tahap akhir ini memerlukan dana sekitar Rp65 miliar, terutama untuk penyediaan alat kesehatan. Untuk itu, MER-C tengah menggencarkan gerakan Rp50 ribu untuk penyediaan alat-alat kesehatan RSI. “Kampanye penggalangan dana dari Sabang sampai Merauke yang melibatkan semua lapisan masyarakat,” ujar Farid. Saat ini di RSI Gaza terdapat sejumlah 33 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, usia, dan daerah, sedang beramal sholeh menyelesaikan bangunan persembahan rakyat Indonesia untuk warga Palestina. “Semangat kesungguhan, ruhul jihad, dan keshabaran para relawan Indonesia di Gaza, merupakan modal utama sumber daya manusia di sana,” katanya. Bahkan dalam Perang Delapan Hari November 2012 lalu, saat relawan akan ditarik sementara ke luar Gaza, mereka semuanya mengatakan, “Demi ibadah kepada Allah di medan jihad, rasa cinta kepada saudara-saudara karena iman, kami lebih baik syahid di sini daripada harus pulang,” ujar Farid menirukan jawaban para relawan. Para relawan terdiri dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, ahli air conditioner (AC), sopir, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, binaan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. (L/P01/P04/P015/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/5783-mer-c-jajaki-kerjasama-pembangunan-rsi-dengan-persis.html

Gaza Gelar Peringatan Tragedi Kemanusiaan Mavi Marmara Ketiga

Gaza, Palestina Peringatan tragedi kemanusiaan Mavi Marmara sudah dua kali diperingati di Gaza-Palestina. Jumat (31/5) kembali dilangsungkan peringatan mengenang tragedi Mavi Marmara yang ke-3 di Gaza, tepatnya di Monumen Mavi Marmara yang terletak di pinggir pantai Gaza. Dihadiri oleh Ketua Insani Yardim Vakfi (IHH) Turki cabang Palestina Mohammed Kaya dan beberapa staffnya, acara berlangsung dengan lancar selama kurang lebih dua jam mulai pukul 09.00 11.00 waktu Gaza. Acara peringatan tersebut dihadiri juga oleh berbagai kalangan masyarakat dan wartawan-wartawan dari berbagai stasiun televisi di Gaza. Dalam wawancaranya ketua IHH ini menyampaikan, Alhamdulillah tiga tahun yang lalu Allah memberikan kami peristiwa yang menyebabkan syahidnya beberapa orang dari kami yang kami bangga dengannya. Itu juga yang menyebabkan kami semakin terikat dengan warga Palestina karena tujuan kami berlabuh pun untuk mereka (warga Palestina). Sesungguhnya kami bersama kalian (warga Palestina) atas izin Allah. Di sela-sela pengerjaan pembangunan RS Indonesia, relawan MER-C Indonesia berkesempatan menghadiri peringatan Mavi Marmara dengan tidak lupa memakai atribut lengkap dan membawa bendera Merah putih. Pekerjaan arsitektur RSI yang terus berjalan dan ME (Mechanical Electrical) yang telah mencapai pembuatan AC, membuat relawan harus terus berkonsentrasi terhadap amanah pekerjaan mereka. Tetapi bukan khas relawan RSI jika tidak mengisi waktu libur hari Jum’at dengan hal-hal yang bermanfaat seperti menghadiri acara seperti ini jika memang bertepatan waktunya.

MER-C Luncurkan Gerakan 50 Ribu untuk RS Indonesia di Gaza

Jakarta (SI ONLINE) – Setelah gerakan Rp 20 ribu perorang untuk pembangunan fisik RS Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, kini MER-C meluncurkan gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan dan interior RSI. Selain gerakan untuk perorangan, MER-C juga meluncurkan Proposal Alat Kesehatan Ruangan RSI yang ditujukan bagi perusahaan dan instansi dalam negeri yang ingin berpartisipasi. Semua ini adalah bagian dari komitmen MER-C untuk menyelesaikan amanah pembangunan RSI sebagai bukti cinta rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. “Respon rakyat Indonesia pada program Rp 20 ribu per orang untuk RSI sangat besar. Dukungan dan donasi datang dari berbagai kalangan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Dengan donasi tersebut, pembangunan fisik RSI bisa terus berlangsung hingga saat ini,” papar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Presidium MER-C. Progress RSI sendiri sudah dalam tahap 2 berupa pekerjaan arsitektur dan ME (mechanical electrical). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh 33 relawan Indonesia yang seluruhnya unpaid volunteers. Pembangunan RSI direncanakan selesai pada akhir tahun 2013. Ikhtiar selanjutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan interior rumah sakit. Berdasarkan perhitungan Tim Relawan Alkes RSI, dana yang dibutuhkan untuk melengkapi RSI sebagai sebuah RS Traumatologi dan Rehabilitasi mencapai Rp 65 Milyar. Untuk itu, MER-C meluncurkan kembali gerakan rakyat untuk RSI, kali ini sebesar Rp 50 ribu per orang. “MER-C menutup bantuan asing untuk program RSI karena kami ingin RSI sebagai simbol persaudaraan Indonesia dan Palestina benar-benar murni dari rakyat Indonesia. Kami juga yakin kita rakyat Indonesia mampu mewujudkan amanah ini,” tegas dr. Sarbini, Ketua Presidium MER-C. Be a part of History… Dukungan bagi program ini dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0153678 BSM, 700.1352.061 a.n Medical Emergency Rescue Committee Red: Syaiful Sumber: www.mer-c.org  Sumber : http://www.suara-islam.com/read/index/7294/MER-C-Luncurkan-Gerakan-50-Ribu-untuk-RS-Indonesia-di-Gaza

RSI Gaza masuki Tahap Mechanical Electrical, Selesai Tahun Ini

Jakarta, 13 Rajab 1434/23 Mei 2013 (MINA) Presidium Medical Emergeny Rescue Committee (MER-C) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT mengatakan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saat ini tengah memasuki tahap pembangunan Mechanical Elektrical (ME), dan dijadwalkan selesai tahun ini. Progres RSI Gaza, saat ini memasuki pembangunan mekanikal elektrikal, insya-Allah selesai tahun ini ujarnya kepada wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency), di Jakarta, Rabu, (22/5). Kita akan cari dana sekitar Rp65 miliar untuk penyedian alat kesehatan, sebagian peralatan rumah sakit seperti tempat tidur kita coba bawa dari Indonesia, dan peralatan lain kita beli dari Mesir dan Eropa, papar dr. Jose. Kita memiliki program gerakan Rp20 ribu, dan menjadi gerakan Rp50 ribu untuk penyediaan alat- alat kesehatan tersebut, tambahnya. MER-C melakukan kampanye penggalangan dana tersebut dari Sabang sampai Merauke, semua lapisan masyarakat turut andil dalam pembangunan RSI Gaza tersebut. Menurutnya, komitmen para relawan di Jalur Gaza sanat luar biasa, juga teman-teman di MER-C yang giat mencari pendanaan untuk pembangunan RSI Gaza tersebut. Para relawan berjibaku dalam pembangunan RSI Gaza, buktinya adalah mereka bertahan ketika terjadi perang pada bulan November lalu, walaupun mengalami kesulitan, mereka tetap bertahan ujarnya. Menurutnya, dana pembangunan RSI murni dari masyarakat Indonesia, menunjukan betapa tingginya semangat rakyat Indonesia terhadap persahabatan dengan rakyat Palestina. RSI Gaza ini adalah sesuatu yang mampu kami berikan terhadap rakyat Gaza, yang telah diisolasi oleh Zionis Israel selama lima tahun lebih, kata Jose. Persahabatan kita denga rakyat Palestina bukan tanpa sejarah, mereka adalah salah satu penyokong terhadap kemerdekaan negara Indonesia, jadi ini bukan persahabatan yang baru. Maka, apabila mereka menderita kita juga merasa menderita, dan kita ingin mengurangi rasa sakit mereka dengan memberikan hadiah RSI ini, tegasnya. Dalam pembangunan RSI Gaza, bekerja 33 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah binaan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. (L/P015/P01/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/5221-rsi-gaza-masuki-tahap-pembangunan-mekanikal-elektrikal.html

Silahkan bertanya?