Welcome to Arar

Sabtu/20 Maret 2021, Tim MER-C kembali melakukan mobile clinic yang merupakan program wajib Klinik MER-C di Sorong. Kali ini sasaran mobile adalah Kampung Arar yang terletak di Pulau Arar, Distrik Mayamuk, Sorong, Papua Barat. Tim mobile clinic terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat, sementara tim lainnya tetap bertugas melakukan pelayanan medis di Klinik Utama MER-C yang terletak di Distrik Aimas, Sorong. Perjalanan ke kampung Arar ditempuh dengan dua moda transportasi. Dari Klinik, tim menggunakan kendaraan operasional yang ada, yaitu motor yang selama ini setia menemani perjalanan tim menjelajah kampung-kampung di Papua Barat. Setelah naik motor selama lebih kurang 20 – 30 menit, perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil menuju Pulau Arar. Usai menempuh perjalanan laut sekitar 20 menit juga, tibalah Tim di Pulau Arar. Gapura bertuliskan “Welcome to Arar” menyambut kedatangan Tim. Warga Arar yang mengetahui kedatangan MER-C pun berdatangan ke tempat pengobatan untuk berobat. Selain memberikan pelayanan medis, Tim MER-C juga senantiasa memberikan edukasi kesehatan kepada warga agar lebih peduli pada kesehatan terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini. Pemandangan alam yang dilalui selama perjalanan membuat rasa lelah Tim seakan sirna. Setiap perjalanan mobile ke pelosok-pelosok Papua semakin menambah kecintaan kami pada negeri ini, menambah kecintaan kami pada Papua. SEHAT UNTUK PAPUAWE LOVE PAPUA Ayo Bantu Program Kesehatan untuk Papua & Papua Barat. Donasi dapat melalui : BCA, 686.066.6608BNI Syariah, 081.119.2962An. Medical Emergency Rescue Committee Atau melalui :https://kitabisa.com/campaign/sehatuntukpapua Video perjalanan bisa dilihat di :https://youtu.be/ZMNrTh4xQ1c #sehatuntukpapua#behealthyforpapua#welovepapua#mercpedulipapua#mercpedulianakpapua#mercindonesia Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia
Tim MER-C Lakukan Mobile Clinic ke Kampung Malaus Papua Barat

Selain tetap membuka pelayanan di Posko, Tim MER-C juga melakukan mobile clinic. Kali ini ke kampung Malaus, kec. Salawati Utara, kab. Sorong, Papua Barat. Kp Malaus adalah salah satu wilayah yang ditangani secara rutin oleh Tim MER-C. Jarak kampung dari Klinik MER-C sekitar satu jam dengan menggunakan motor. Kegiatan mobile clinic di kampung Malaus sudah berlangsung sejak tahun 2013. Kenapa kampung ini dipilih ? Hal ini karena akses warga ke Puskesmas setempat yang cukup jauh. Untuk itu, secara terjadwal dan rutin, Tim MER-C mengunjungi kampung Malaus untuk mengecek kondisi kesehatan warganya. Yuk Bantu Papua…Sehat untuk Papua… Dukungan dan Donasi dapat melalui :BCA, 686.066.6608BNI Syariah, 081.119.2962An. Medical Emergency Rescue Committee Atau melalui :https://kitabisa.com/campaign/sehatuntukpapua Dukungan dan Bantuan Kita Sangat Berarti #mercpedulipapua#pedulianakpapua#mercindonesia#welovepapua#behealthyforpapua#sehatuntukpapua Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia
MER-C Gelar Qurban Peduli Gaza 2020

MER-C Indonesia terus berkomitmen membantu Palestina dalam berbagai program kemanusiaan. Di samping membangun Rumah Sakit Indonesia yang saat ini dalam proses pembangunan tahap 2 untuk menambah dua lantai lagi serta peralatan kesehatan yang dibutuhkan, bantuan kemanusiaan lainnya seperti bantuan sembako, bantuan perlengkapan sekolah, bantuan musim dingin, bantuan Ramadhan, dsb juga terus disalurkan. Menyambut hari raya Idul Adha yang akan datang tidak lama lagi, MER-C juga melaksanakan program Peduli Qurban di Jalur Gaza, Palestina. MER-C kembali mengajak kaum muslimin Indonesia untuk dapat berqurban di Jalur Gaza, Palestina, wilayah konflik yang sudah 13 tahun mengalami blokade Israel. “Ini adalah program rutin tahunan MER-C. Setiap Idul Adha, MER-C selalu mengajak umat Islam agar dapat menyisihkan rezeki untuk berqurban di Palestina,” ungkap dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C. “Dengan berkurban di Palestina maka ikatan batin kita dengan saudara kita di Palestina akan semakin kuat. Bantuan ini sekaligus dapat menguatkan semangat saudara-saudara kita di Gaza di tengah kesulitan hidup yang mereka alami akibat tekanan Israel yang masih terus berlangsung,” tambahnya. Program Qurban MER-C di Jalur Gaza, Palestina akan dilaksanakan langsung oleh MER-C Cabang Gaza yang terdiri dari para relawan Indonesia yang tengah bertugas di wilayah konflik ini dibantu beberapa relawan lokal. Ir. Edy Wahyudi, salah satu relawan Indonesia di Gaza yang juga Site Manager Pembangunan RS Indonesia menyatakan, “Kami para relawan Indonesia di Gaza siap menjalankan niat Bapak/Ibu masyarakat Indonesia yang ingin berkurban di Jalur Gaza.” Edy memaparkan seperti tahun-tahun sebelumnya ada tiga jenis hewan qurban di Gaza yaitu domba/kambing, sapi dan juga unta. Informasi lebih lanjut mengenai Program Qurban Peduli Gaza, dapat menghubungi call center MER-C di 0811990176. Info:www.mer-c.org
Bertemu Wakil Dubes Kuwait, Presidium MER-C Sampaikan Program Pelayanan Kesehatan di Papua Barat

Kamis (7/11/2019), Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Wakil Duta Besar Kuwait, Abdul Al Fadhli di Kedutaan Besar Kuwait yang terletak di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Tujuan kunjungan adalah untuk menjalin silaturahmi dan menjajaki kemungkinan kerjasama dalam bidang kemanusiaan di wilayah rawan konflik dan bencana alam serta wilayah lain yang masih membutuhkan perhatian khususnya dalam bidang medis. Salah satu fokus pembicaraan dalam pertemuan ini adalah mengenai program pelayanan kesehatan di Papua Barat. Sarbini menyampaikan bahwa ini pertama kalinya MER-C berkesempatan untuk datang dan bertemu dengan perwakilan negara Kuwait di Jakarta. “Selama ini kami menemui di lapangan, bantuan-bantuan Kuwait di wilayah bencana alam di Indonesia. Kami senang saat ini bisa bertemu dan diterima dengan baik oleh Wakil Duta Besar Kuwait, Mr. Abdul Al Fadhli,” ujar Sarbini. Papua menjadi bahasan utama dalam pertemuan ini karena MER-C berharap program medis kemanusiaan di Papua, khususnya Papua Barat dapat terus berlangsung. “MER-C memulai kegiatan pelayanan kesehatan berupa klinik sosial di Papua pada Februari 2006. Kami sudah menjalankan program ini selama lebih dari 13 tahun. Kami terus berupaya agar program pelayanan kesehatan di wilayah ini dapat berkelanjutan dan semakin luas jangkauannya karena memang masih banyak wilayah yang belum tersentuh. Ini semua kami lakukan demi turut mewujudkan masyarakat “Papua Sehat”,” tambahnya. Untuk itu menurutnya, kerjasama dengan berbagai pihak terus dijalin untuk mencari lembaga atau instansi yang mempunyai visi yang sama untuk mewujudkan hal ini, termasuk dengan Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta. “Wakil Duta Besar Kuwait memberikan respon positif. Ini pertemuan awal yang baik dan kami akan terus menjalin komunikasi-komunikasi ke depan dengan Kedutaan Besar Kuwait,” ujar Sarbini.
MER-C Siap Ajukan Gugatan ke ICC/ICJ dan UNHRC (United Nation Human Right Council) jika Pemerintah dan KPU Tetap Abai atas Kasus Bencana Kemanusiaan Pemilu 2019

Sejak berlangsungnya Pemilihan Umum Eksekutif dan Legislatif pada tangal 17 April 2019 lalu hingga hari ini kita disuguhi kurva angka kematian dan kesakitan para petugas KPPS yang terus meningkat dari hari ke hari, tanpa bisa berbuat banyak. Korban-korban terus berjatuhan hingga menembus angka 600 lebih yang meninggal. Litbang salah satu TV swasta bahkan pada hari Selasa/14 Mei 2019 kemarin merilis jumlah korban meninggal akibat Pemilu sudah mencapai 606 orang. Sementara untuk korban sakit jika kita merujuk pernyataan Kemenkes yang menyampaikan data terakhir dari KPU menyebutkan bahwa petugas KPPS yang menderita sakit usai menjalankan tugas sebanyak 10.997 orang. MER-C sejak 2 minggu pasca Pemilu, telah menetapkan jatuhnya korban-korban sebagai bencana kemanusiaan. MER-C pun membentuk Tim Mitigasi Kesehatan Bencana Pemilu 2019. MER-C juga membuka Call Center untuk masyarakat dan keluarga korban melaporkan apabila ada anggota keluarga mereka yang sakit dan meninggal usai bertugas untuk ditindaklanjuti oleh Tim MER-C. MER-C juga tengah fokus melengkapi data base tentang penyebab kematian korban-korban Pemilu. Bagaimanapun sebuah bencana kemanusiaan telah terjadi. Sebuah kondisi luar biasa yang seharusnya mendapat perhatian cepat dan serius dari Pemerintah dan KPU. Menyikapi bencana ini, MER-C menilai Pemerintah dan KPU sebagai penyelenggara Pemilu tahun ini telah abai kemanusiaan, melakukan pembiaran dan tidak melakukan upaya serius yang signifikan dalam menangani kasus ini, menyebabkan anak-anak bangsa terus berjatuhan dari hari ke hari. Tidak ada upaya serius untuk melakukan tindakan mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak. MER-C mendesak Pemerintah dan KPU untuk peduli baik dalam hal turun melihat korban-korban yang sakit dan menangani mereka termasuk pembiayaan rumah sakit dan seterusnya hingga mereka sembuh, hal ini untuk mencegah kematian lebih banyak. Pola penanganan korban bencana Pemilu ini juga harusya dalam kerangka Penanganan Bencana atau suatu Kejadian Luar Biasa (KLB), artinya begitu ada info jatuh korban baik dari call center yang dibentuk atau apapun maka yang merespon adalah Tim Ahli yang sudah dibentuk untuk melakukan assessment (triage) terhadap penyakit yang diderita dan investigasi causa sakit yang akurat. Hal ini dilakukan agar tercapai response time dan diagnosis serta tindakan yang akurat. Bagi pasien yang meninggal juga dilakukan investigasi sebab mati mulai dari autopsy verbal sampai kepada autopsy klinis agar sebab mati bisa diketahui dengan pasti untuk digunakan sebagai mitigasi penyelenggarakan pemilu berikutnya. Apabila Pemerintah dan KPU tetap abai atas kasus bencana kemanusiaan Pemilu 2019, maka MER-C akan siapkan gugatan ke Mahkamah Pidana internasional (International Criminal Court/ICC, Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) atau UNHRC (United Nation Human Right Council). Jakarta, 15 Mei 2019MER-C Indonesia Info :Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia / @rsindonesiaTwitter : @mercindonesia
MER-C Bertemu Komnasham Jajaki Kemungkinan Kerjasama Kemanusiaan

Jum’at/10 Mei 2019, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Ketua Komnasham, Ahmad Taufan Damanik di kantornya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut dibicarakan mengenai berbagai masalah kemanusiaan yang tengah berlangsung di dalam negeri dan kemungkinan kerjasama kedua lembaga sebagai komponen anak bangsa untuk turut mengatasi permasalahan yang ada. Ada tiga isu kemanusiaan yang disampaikan oleh Tim MER-C. Pertama banyaknya korban petugas Pemilu yang berjatuhan baik yang mengalami sakit bahkan meninggal dunia yang menjadi keprihatinan bersama. Kedua mengenai masalah deradikalisasi, khususnya penanganan DPO Poso dimana MER-C dan Komnasham pernah turun bersama ke wilayah ini tahun 2016 silam. Hal lainnya turut disampaikan adalah mengenai penanganan kesehatan di lapas, khususnya Lapas Nusa Kambangan dimana MER-C pernah beberapa kali turun untuk melakukan pengobatan. Terkait besarnya jumlah korban petugas pada Pemilu 2019 dan langkah-langkah pemerintah yang menurut MER-C kurang cepat untuk menganulir pandangan-pandangan yang berkembang di masyarakat, Sarbini Abdul Murad menyampaikan bahwa sebagai lembaga medis dan kemanusiaan yang independen, MER-C telah membentuk Tim Mitigasi Kesehatan Bencana Pemilu 2019. Tim akan melakukan langkah-langkah kemanusiaan dan mitigasi baik kepada korban yang mengalami sakit, maupun membuka kemungkinan untuk melakukan otopsi pada korban yang meninggal. Hal ini dilakukan guna mencari tahu penyebab banyaknya kasus ini. Sarbini berharap adanya kesamaan concern kemanusiaan antara MER-C dan Komnasham, maka kedua lembaga bisa bekerjasama. “Harus ada kepastian bagi masyarakat. Kita harus mencari tahu penyebabnya dan membuat langkah-langkah serta solusi yang tepat untuk mengatasinya, agar hal serupa tidak terulang lagi pada Pemilu-pemilu selanjutnya,” ungkap dokter asal Aceh ini. Menanggapi hal ini, Ahmad Taufan Damanik mengatakan bahwa pihaknya juga sudah membentuk Tim Pemantau Pemilu untuk melakukan penggalian fakta mengenai penyebab kematian. Menurutnya, Komnasham sudah melakukan rapat koordinasi dengan FKUI dan IDI, tapi memungkinkan juga kerjasama dengan pihak-pihak lain termasuk MER-C. “Dalam hal ini kami sangat senang apabila nanti bisa mendapat dukungan, bekerjasama dengan pihak lain termasuk MER-C, apalagi kalau sudah ada hasil yang bisa disampaikan ke masyarakat karena harus sudah diumumkan kepada masyarakat sebelum tanggal 22 Mei mendatang,” tambahnya. Selain memberikan bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah bencana, wilayah konflik juga turut menjadi perhatian Tim MER-C. Terkait hal ini, salah satu relawan MER-C yang turut dalam pertemuan tersebut, dr. Meaty Fransisca, memaparkan kiprah MER-C di Poso, salah satu wilayah konflik yang masih menjadi fokus MER-C. MER-C melakukan Politik Kemanusiaan untuk mengurangi dampak konflik dan mencegah korban yang lebih banyak akibat konflik berkepanjangan dan penanganan konflik yang non persuasif. Sejak 2016 MER-C sudah menurunkan Tim sebanyak 3 kali ke Poso dimana misi pertama kali bersama Komnasham. Dengan latar belakang medis, menurutnya, MER-C bisa diterima oleh masyarakat di tempat-tempat yang berhubungan dengan konflik Poso, khususnya keluarga-keluarga DPO Poso, melakukan pengobatan dan pendekatan kepada mereka. Hal ini dilakukan untuk membangun kepercayaan dan merangkul mereka. Lebih lanjut Mea menyampaikan, “Bibit-bibit radikal yang ada apabila tidak kita sentuh, mereka akan mengikuti kembali jejak-jejak keluarga mereka yang sudah “di atas”. Kami berharap Komnasham bisa turut andil juga dalam hal ini,” tambah Mea. Terkait hal ini, Ketua Komnasham sepakat bahwa penanganan kasus-kasus terorisme harus tanpa kekerasan. “Angka kekerasan harus sampai titik nol,” ujarnya. Menurutnya, hal ini sesuai konvensi internasional bahwa setiap proses hukum apapun terhadap proses hukum peradilan tidak boleh ada penyiksaan, perendahan martabat. Ahmad Taufan Damanik menjelaskan bahwa Komnasham adalah lembaga negara yang independen yang concern pada Hak Asasi Manusia. “Kami sangat setuju agar kita bisa diatur pertemuan lebih lanjut antara Tim Komnasham dan MER-C untuk mendiskusikan masalah-masalah ini secara lebih detail,” tegasnya. Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia
MER-C Training Center Mengadakan Pelatihan di Stikes PHI

MER-C Training Center (MTC) mengadakan pelatihan Basic Surgical Skill and Sirkumsisi di Stikes Husada Persada Indonesia (Stikes PHI). Pelatihan ini merupakan program tahunan yang rutin diadakan untuk mengasah keahlian pada mahasiswanya. Antusias peserta sangat terlihat jelas pada saat pemberian materi dan praktek dengan menggunakan manekin. MER-C Training Center (MTC). MER-C training Center merupakan bagian dari Yayasan MER-C yang bergerak dibidang pelatihan kegawatdaruratan medis dan keahlian medis lainnya. Info :Website : www.mer-c.orgMTC Center : 0812 8444 7594FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesiaTwitter : @mercindonesia #together_we_learn_something_useful
Bertemu dengan Wakil Duta Besar Inggris, MER-C Jajaki Kerjasama Kemanusiaan

MER-C menyadari bahwa dana bukanlah hal yang utama, namun SDM relawan yang setiap saat siap turun ke lapangan dan jaringan (networking) adalah hal terpenting dalam menjalankan organisasi kemanusiaan ini. Dalam rangka memperluas jaringan tersebut, pertemuan dan audiensi dengan berbagai pihak terus dilakukan. Untuk itu, hari ini, Senin/15 April 2019, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad didampingi oleh dua staf MER-C melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Kedatangan Tim MER-C diterima dengan hangat oleh Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Rob Fenn dan staf. Dalam kunjungannya, Sarbini memaparkan mengenai MER-C sebagai sebuah NGO Indonesia dengan berbagai program medis dan kemanusiaan baik di dalam maupun di luar negeri. Dua diantaranya adalah program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di wilayah konflik Jalur Gaza, Palestina dan Rakhine State, Myanmar. Khusus di wilayah Rakhine State, Sarbini menyampaikan bahwa pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C, PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). “Kami berharap RS Indonesia di Rakhine State bisa menjadi symbol perdamaian antara umat Muslim dan Budha di Myanmar sebagaimana yang membangun rumah sakit ini adalah umat Muslim, Budha dan rakyat Indonesia,” ujar Sarbini. “Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sangat berperan dalam pembangunan RS Indonesia,” tambahnya. Wakil Duta Besar Inggris memberikan apresiasinya terhadap filosofi yang menjadi dasar program pembangunan RS Indonesia, terlebih di Rakhine State, sebuah wilayah yang sangat tertutup. “Kami menghormati langkah ini, apalagi Bapak Jusuf Kalla terlibat di dalamnya. Kami sangat tertarik dengan apa yang telah MER-C lakukan baik di Palestina maupun di Myanmar. Saya berharap Inggris dan MER-C bisa bekerjasama ke depan,” ujar Rob. Pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit itu ditutup dengan pertukaran cinderamata antara kedua belah pihak. Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia
MER-C Targetkan 23 Kampung di Papua Barat Terima Layanan Kesehatan

Sorong, Papua Barat, MINA – Organisasi Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini tengah menyelesaikan pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina dan Rakhine, Myanmar, tidak hanya peduli pada korban di luar negeri, namun di dalam negeri (Provinsi Papua Barat) mereka memberikan layanan kesehatan gratis dan terjadwal kepada 23 kampung dari dua kabupaten. Menurut keterangan tertulis MER-C yang diterima MINA, Selasa (26/3), target Program Pelayanan Kesehatan tersebut mencangkup 15 kampung di Kabupaten Sorong yang selama ini merupakan daerah binaan Klinik Sosial “Amanah” MER-C. Sementara untuk memperluas cakupan dan manfaat program tersebut, MER-C melakukan sistem mobile clinic ke 8 kampung lainnya di wilayah distrik Salawati yang berada di Kabupaten Raja Ampat yang sebelumnya telah mendapatkan pelayanan kesehatan pada program Kapal Kemanusiaan tahun 2017. Total cakupan wilayah Program Sosial Pelayanan Klinik dan Mobile Clinic di dua kabupaten tersebut adalah sebanyak 23 kampung dengan target pasien 10.216 jiwa, sesuai data penduduk yang ada di wilayah tersebut. Data akan diverifikasi oleh Tim MER-C untuk kelayakan mendapatkan pelayanan pengobatan gratis. Melalui Mobile Clinic, Tim MER-C akan melakukan kunjungan rutin ke 23 kampung tersebut sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan, secara terus menerus selama satu tahun untuk memberikan pelayanan pengobatan. Sementara itu melalui Klinik Sosial, masyarakat yang berada di 23 kampung tersebut akan mendapatkan kartu berobat gratis ke Klinik Sosial “Amanah” MER-C di Kabupaten Sorong. Kartu tersebut dapat digunakan untuk berobat jika sakit dan memerlukan tindakan medis, termasuk pelayanan sirkumsisi selama periode satu tahun sejak dikeluarkannya kartu tersebut. MER-C merupakan organisasi medis bersifat sosial ini didirikan oleh para mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan beberapa orang dokter lainnya yang tergerak untuk membentuk sebuah tim untuk membantu masalah kesehatan yang dialami korban konflik yang saat itu terjadi di Maluku pada Agustus 1999. Salah satu kegiatan kemanusiaan jangka panjang MER-C di bidang pelayanan kesehatan adalah Program Klinik Sosial dan Mobile Clinic di wilayah Papua. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2006. Hingga kini, program telah berjalan selama lebih dari 13 tahun. MER-C bertekad untuk tetap melanjutkan program pelayanan kesehatan di wilayah Papua, karena sebagaimana diketahui Papua merupakan salah satu wilayah Indonesia Timur yang masih sangat membutuhkan bantuan pelayanan kesehatan secara terpadu dan berkesinambungan. Untuk merealisasikan program-program tersebut, MER-C mengajak semua lembaga dan pihak untuk turut peduli dan mendukung. keberadaan MER-C harus dapat memberikan manfaat kepada seluruh alam (umat manusia) tanpa membedakan jenis kelamin, usia, suku, dan keyakinan. (R/Sj/P2) Sumber : https://minanews.net/mer-c-targetkan-23-kampung-di-papua-barat-terima-layanan-kesehatan/
MER-C Jajaki Kemungkinan Kerjasama Pelatihan Dokter dengan TNI

Jakarta, MINA – Lembaga kemanusiaan medis kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk pertama kali melakukan kunjungan silaturahim ke panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Jakarta, Rabu (20/3). Hadi Tjahjanto menyambut baik dan mengapresiasi prestasi MER-C yang telah banyak terjun memberikan layanan kesehatan di daerah-daerah konflik dan bencana. Ia juga menyatakan, TNI siap memberikan pelatihan medis untuk daerah-daerah konflik. Ketua Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad menyambut hal itu dan saat ini MER-C tengah membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Rakhine, Myanmar dan melanjutkan pembangunan RSI di Gaza, Palestina. “TNI telah menunjukkan keprofesionalannya dalam melakukan tugas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak membedakan suku, rasa dan agama ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Sarbini kepada MINA. “Saya kira, tim dokter RSI di Rakhine dan Gaza sangat memerlukan hal itu dan mereka perlu belajar kepada TNI tentang kebhinekaan dan pelayanan dengan menjunjung tinggi kemanusiaan,” lanjutnya. Pada 2003 lalu, MER-C dan TNI pernah melakukan kerja bersama dalam misi kemanusiaan membantu korban gempa di Iran selama 2,5 bulan. Di kancah internasional, Indonesia turut serta mengirim pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB sejak 1957. Kontingen Garuda (KONGA) adalah pasukan TNI yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Pengiriman terbaru pada November 2018 adalah KONGA XXIII M Unifil ke Lebanon. Sementara untuk daerah bencana dalam negeri, TNI selalu hadir di tengah-tengah masyarakat yang tertimpa bencana dan daerah konflik. Di daerah bencana seperti di Lombok (NTB), Palu (Sulteng), Pandeglang (Banten), Jayapura (Papua), dan daerah lainnya, TNI selalu menjadi yang terdepan dalam membantu meringankan beban masyarakat. (L/P2/RS3) Mi’raj News Agency (MINA) Sumber : https://minanews.net/mer-c-jajaki-kemungkinan-kerjasama-pelatihan-dokter-dengan-tni/