Pembangunan RS Indonesia di Rakhine (Rohingya) Myanmar Terus Berjalan

Sejak dimulai pada bulan November 2017, pembangunan bangunan utama RS Indonesia yang terletak di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar terus berjalan. Progress pembangunan saat ini sudah dalam tahap back filling (penimbunan tanah) dan compacting (pemadatan). Pembangunan bangunan utama RS Indonesia akan memakan waktu 10 bulan dan diperkirakan selesai pada bulan September 2018. Dua insinyur Indonesia yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza (Palestina) ditugaskan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS ini hingga selesai. Dukungan dan donasi Sahabat bagi program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.130.6833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut : Website : www.mer-c.org Facebook : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176 |Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik| #RSIndonesiadiRakhineMyanmar #PeduliUntukKemanusiaanYangLebihBaik
MER-C Cabang Gaza Mulai Distribusikan Bantuan Selimut untuk Musim Dingin

y;”>Gaza, Relawan MER-C Cabang Gaza yang dipimpin oleh Reza Aldilla Kurniawan mulai distribusikan secara bertahap bantuan selimut hangat dari rakyat Indonesia untuk warga Gaza. y;”>”Seperti sebelumnya, keluarga syuhada, masyarat miskin dan korban agresi milter Israel menjadi kalangan yang diprioritaskan dalam program bantuan musim dingin tahun ini,” ujar Reza, relawan asal Indonesia yang masih bertugas di Jalur Gaza dan masih menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza. Ucapan terima kasih disampaikan warga Gaza kepada para donatur dan rakyat Indonesia untuk kepeduliannya. Kami mengajak masyakat Indonesia untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap perjuangan saudara-saudara kita di Jalur Gaza, Palestina. Donasi amanah program Kemanusiaan Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui: BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 BSM, 700.290.5803 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee #MERCCabangGaza #ProgramKemanusiaanGaza #BantuanMusimDingin #OurLoveForPalestine Info: Website : www.mer-c.org Facebook : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176 |Sebuah Amanah bagi Kemanusiaan bagi Orang-orang yang paling Membutuhkan|
Tim Pembangunan RS Indonesia Kembali Berangkat ke Rakhine Myanmar
Setelah menunggu proses izin sekitar dua pekan, Jumat (20/10) Kementerian Luar Negeri Myanmar akhirnya menyetujui Tim Pembangunan RS Indonesia untuk dapat mengunjungi lokasi pembangunan yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State. Proses izin yang cukup lama ini menyusul situasi di Rakhine State yang memanas pada akhir Agustus 2017 lalu. Senin (23/10) pagi, dua relawan teknis MER-C, yaitu DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc dan Ir. Rizal Syarifuddin langsung bertolak ke Yangon, Myanmar. Direncanakan esoknya tim akan terbang ke Sittwe dengan maskapai lokal. Dari ibukota Rakhine State ini, tim akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi pembangunan RS Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 3,5 jam. Idrus yang juga merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Penanggung jawab Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar mengatakan bahwa tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan pengukuran dan penentuan titik-titik bangunan kompleks RS Indonesia. Pengukuran akan dikerjakan bersama dengan kontraktor lokal pemenang tender. “Saya dan Pak Rizal akan melakukan pengukuran bersama kontraktor lokal pemenang tender tahap dua, sekaligus menentukan titik-titik seluruh bangunan yang akan berada di dalam kompleks RS Indonesia,” terang Idrus. “Setelah proses pengukuran ini, kami berharap Rakhita Ah Linn, kontraktor lokal yang kami tunjuk bisa segera memulai pembangunan tahap dua berupa rumah dokter dan rumah perawat,” tambahnya. Relawan yang telah berpengalaman dalam membangun rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina ini juga menjelaskan bahwa agenda penting lainnya dalam kunjungannya ke Rakhine adalah pra tender pembangunan tahap tiga, yaitu pembangunan bangunan utama RS Indonesia. “Target penting kami lainnya adalah untuk pra tender pembangunan tahap tiga dengan beberapa calon kontraktor lokal, sehingga setelah pembangunan rumah dokter dan perawat selesai kami harap bisa segera dilanjutkan dengan pembangunan bangunan utama rumah sakit,” imbuhnya. Misi tim teknis dijadwalkan berlangsung selama 5 hari hingga Jumat (27/10) mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176
Mengenal Popo, Pelukis Mural Peduli Rohingya
MINA – Di antara kita mungkin sudah ada yang mendengar nama Ryan ‘Popo’ Riyadi, salah seorang seniman jalanan atau street artist yang karya-karya muralnya banyak menghiasi tembok-tembok ibukota Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Popo itu sering menggambar karakter ‘Popo’ dalam setiap karyanya dibumbui dengan tulisan-tulisan kritis. Selama belasan tahun, lelaki peraih penghargaan ‘The Best Mural Artist’ pada Tembok Bomber Award 2010 ini selalu menghadirkan kritikan dalam setiap karyanya, walau tidak semua orang setuju dengan cara dia. Bahkan, Popo pernah juga diprotes dosen di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, lantaran hobinya corat-coret ini. Tapi siapa sangka, beberapa tahun kemudian Popo malah ikut mengajar sebagai dosen mata kuliah komunikasi visual di almamaternya itu. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Popo di tempat biasanya nongkrong, penulis sempat berbincang soal beberapa hal menarik dengan Duta Campaign RS Indonesia ini, salah satunya soal krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Popo yang cukup peka terhadap situasi di sekitarnya langsung merespon dengan pernyataan kritisnya. “Banyak manusia hidup berdampingan, tapi sedikit yang berkemanusiaan. Ini sebenarnya kita tunjukan bagi tempat-tempat yang di mana ada banyak orang tetapi di sana tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Popo kepada wartawan Mi’raj News Agency(MINA) Rendy Setiawan di Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta, Jum’at (7/10). Meskipun lahir dan besar di Indonesia, Popo cukup konsisten mengikuti perkembangan terkini yang terjadi di Myanmar maupun di Palestina. Menurut Popo, krisis-krisis yang terjadi di dua wilayah itu tak perlu terjadi apabila keberagaman dijaga sebagaimana mestinya. “Kita sering mendengar ajakan untuk saling menghargai dalam keberagaman. Tapi di sisi lain kita melihat ada banyak krisis kemanusiaan yang terjadi, contoh di Myanmar dan Palestina. Sebenarnya bukan hanya di dua wilayah itu saja, apabila nilai-nilai kemanusiaan itu dijaga, krisis seperti itu seharunya nggak perlu terjadi,” katanya. “Ini pelajaran dari apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya. Jadi kalau mau menolong, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” katanya menambahkan. Apabila diperhatikan lebih teliti, semua karya yang pernah diciptakan Popo, sebagian besar memuat pesan kritik sosial. Hal itu tak terlepas dari peran ayahnya yang selalu memotivasi untuk selalu memperhatikan kondisi sekitar. “Banyak cara untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan, salah satunya dengan komunikasi non verbal, dan melalui lukisan-lukisan mural ini salah satunya,” katanya. Popo melanjutkan, untuk membantu orang-orang, tidak harus menunggu isu global seperti kelaparan, perang dan krisis lainnya. Cukup dengan memberikan makan kepada tetangga kita yang lapar, itu sama saja sudah menolong banyak orang. “Kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari keadaan sosial di sekitar kita. Contoh gampangnya begini, kadang kita kenyang tapi ada di sekitar kita yang kelaparan. Kalau ini terjadi, berarti nilai kemanusiaan kita harus dikritik. Kritikan yang saya lontarkan secara khusus sebenarnya ditunjukkan untuk diri saya sendiri,” paparnya. Popo berpesan, sebelum memenuhi hasrat keinginan kita, ada baiknya untuk melihat kondisi sosial di sekitar terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan agar selalu merasa dekat dengan lingkungan di sekitar. “Sebelum memenuhi keinginan kita, ada baiknya kita lihat dulu sekeliling kita,” pesannya. Menurut Popo, kritik sosial atau kondisi kemanusiaan yang selalu menjadi temanya adalah sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Indonesia khususnya. “Saya pikir ini nggak bisa lepas dari kehidupan sosial,” ujarnya. “Harus selalu sabar ketika hidup berdampingan dalam usaha menumbuhkan nilai-nilai sosial kepada orang yang kita kenal maupun yang nggak kita kenal. Tetapi yang terpenting untuk diri sendiri,” katanya lagi. Ketika disinggung soal ‘Popo’ yang menjadi karakter dalam setiap karyanya, Popo mengatakan, itu sudah menjadi identitas dirinya. “Popo menjadi signature, menjadi identitas saya. Jadi di setiap karya saya itu ada saya yaitu Popo,” katanya. (W/R06/B05) Sumber : www.mirajnews.com
Rabithah Alawiyah Salurkan Donasi untuk Rohingya melalui MER-C

Jakarta – Rabithah Alawiyah sebuah organisasi yang menghimpun WNI keturunan Arab khususnya kaum Alawiyyin menyalurkan donasi untuk Rohingya senilai 165 juta rupiah melalui MER-C. Dalam kesempatan silaturahim di Kantor Pusat DPP Rabithah Alawiyah di Jl. TB. Simatupang No. 7 A, Sabtu (23/9), Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad menyampaikan terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan Rabithah Alawiyah. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Sarbini yang didampingi oleh Pimpinan Proyek Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar, Drs. Ichsan Thalib, memaparkan mengenai pengalaman misi MER-C, sekaligus situasi terkini dan program pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Sarbini juga mengungkapkan bahwa MER-C konsisten untuk membangun rumah sakit di daerah-daerah konflik. “Saat ini di Rakhine, lalu setelah Rakhine selesai, kita berencana membangun rumah sakit di Tepi Barat. Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri seperti Papua, pembangunan puskesmas di Aceh yang saat ini sudah diserahkan kepada pemerintah setempat, di Piyungan Jogja, juga pembangunan rumah sakit di Galela. Kami bisa bangkit karena dukungan banyak pihak seperti Rabithah Alawiyah,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar bin Smith menyampaikan keinginannya agar bisa bersama-sama merealisasikan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, khususnya untuk para pengungsi dan penduduk Rohingya dan terbuka juga untuk kalangan non muslim di sana yang harus dibantu. “Semoga konflik ini segera berakhir,” tambahnya. Ia juga berharap Rabithah Alawiyah dan MER-C akan terus bergandengan tangan untuk hal-hal yang sifatnya ke arah bantuan kemanusiaan tidak hanya untuk Rohingya dan luar negeri, termasuk juga bantuan kemanusiaan lainnya di Indonesia.
Tindaklanjuti Pembangunan RS Indonesia, MER-C Kirim Tim ke Myanmar
Rabu pagi (6/9), dua relawan insinyur MER-C yang sudah berpengalaman dalam program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina, yaitu Ir. Faried Thalib dan Ir. Nur Ikhwan Abadi bertolak ke Myanmar. Kedua relawan dari Divisi Konstruksi MER-C inj akan meninklanjuti program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang akan memasuki tahap dua dari tiga tahap yang direncanakan. Meski situasi di Myanmar belum kondusif, namun proses pembangunan RS Indonesia di wilayah ini terus berjalan. Pembangunan tahap pertama telah selesai, akan dilanjutkan pembangunan tahap dua berupa pembangunan asrama dokter dan perawat. Pada keberangkatan kali ini tim akan melakukan finalisasi kontrak dengan para kontraktor lokal, juga mencari akses untuk bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik. RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar diharapkan bisa segera selesai dan memberikan bantuan pelayanan kesehatan jangka panjang bagi para korban. Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Laporan Program Qurban MER-C di Jalur Gaza, Palestina
Gaza – Sejak Jum’at hingga Sabtu kemarin (1-2 September 2017) amanah qurban dari masyarakat Indonesia telah disalurkan secara langsung kepada warga Jalur Gaza yang hingga saat ini masih hidup dalam blokade ilegal Israel. Reza Aldilla Kurniawan, relawan Indonesia di Jalur Gaza yang juga mahasiswa Universitas Islam Gaza dibantu beberapa relawan lokal membagikan daging qurban kepada warga Gaza yang layak menerimanya baik di Gaza bagian utara maupun di Gaza City. Terima kasih kepada rakyat Indonesia yang telah mempercayakan amanah qurbannya melalui MER-C. Insya Allah Qurban akan menjadi salah satu program rutin tahunan MER-C di Jalur Gaza, Palestina.
MER-C Tandatangani Kontrak Pembangunan RSI Myanmar dengan Kontraktor
Yangon – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua yang berlokasi di Rakhine State, Myanmar, Rabu (6/9) di Yangon. Penandatangan dilakukan oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dengan Kyaw Nay Oo, selaku Direktur Rakhita Ah Linn Construction. Co.Ltd, kontraktor lokal pemenang tender pembangunan RS Indonesia. “Ini merupakan kontrak kedua dari pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar. Tahap pertama sudah selesai dan kita sekarang akan segera bangun tahap kedua” ujar Faried Thalib, anggota Presidium MER-C, sesaat setelah menandatangani kontrak. Mantan Manajer Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) ini menjelaskan bahwa tahap kedua pembangunan rumah sakit ini merupakan pembangunan gedung tempat tinggal untuk dokter dan perawat. “Pembangunan rumah tinggal untuk dokter dan perawat ini kita dahulukan, dan setelah berjalan, bangunan utama akan segera kita bangun secara bersamaan” ujarnya. “Ini bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C, diharapkan dengan dibangunnya rumah sakit ini, akan memberikan manfaat kepada rakyat Myanmar yang dilanda konflik dan yang lebih penting akan membantu meredakan konflik di daerah ini” jelasnya. Faried menambahkan, Indonesia dengan mayoritas Muslim dan minoritas Budha hendaknya menjadi contoh bagi pemerintah dan rakyat Myanmar, bahwa keberagaman bukan alasan untuk bertikai, namun justru saling mengayomi satu dengan yang lain. “Terlebih lokasi Rumah Sakit berada di antara daerah penduduk muslim dan Budha, sehingga bisa menjadi fasilitas untuk semua penduduk di sana” lanjutnya. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Teknologi Ultra Filtrasi akan digunakan untuk suplai kebutuhan air RS Indonesia di Myanmar

Yangon – Tim Teknis RS Indonesia memutuskan akan menggunakan teknologi ultra filtrasi untuk mensuplai kebutuhan air bagi Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Hal ini dijelaskan oleh salah satu anggota tim ahli MER-C, Agus Subiyakto Saleh saat melalukan kunjungan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu (9/8). “Setelah melakukan pengecekan di lapangan, air yang ada PH nya 7,1 dan TDS nya rendah hanya 2 yang berarti mineralnya rendah, maka kita akan menggunakan sistem ultra filtrasi, ini akan langsung jernih airnya” terang ahli pengolahan air asal ITB tersebut. Pria yang lahir 58 tahun lalu itu menjelaskan bahwa teknologi ultra filtrasi ini merupakan sebuah teknologi penyaringan air dengan menggunakan membran tertentu dan dapat menyaring setiap partikel yang ada di dalam air hingga ukuran 0,01 mikron. “Jadi ultra filtrasi itu adalah teknologi dengan menggunakan membran dengan ukuran rembesannya 0,01 mikron. Nah dengan adanya air yang masuk melalui membran tersebut, semua kotoran akan tertahan, sehingga air itu sudah bebas dari kemungkinan bakteri dan lain-lain” jelasnya. Ia juga menyatakan selain perawatan yang mudah, teknologi ini pun mampu menahan virus hingga ukuran 0,5 mikron. “Sampai dengan virus akan tertahan di membran itu, karena virus ukuran nya 0,5 mikron. Tekonologi ini mudah dioperasikan dengan menggunakan pompa karena tekanannya cukup rendah. Hanya membutuhkan tekanan 0,5 – 1 bar. Membersihkannya cukup mudah, dengan bayclin sudah bisa membersihkan membran” lanjutnya. Agus juga menambahkan bahwa dengan kapasitas penampungan air yang mencapai 120 ribu meter kubik, bisa melayani 1000 orang selama empat bulan kedepan. “Kapasitas penampungan air ini 120 meter kubik, bisa melayani 1.000 orang, dan jika dihitung kebutuhan air perorang 100 liter perhari, maka kapasitas air ini bisa digunakan hingga 120 hari kedepan atau 4 bulan,” terangnya. Lebih lanjut Agus menyatakan bahwa air hujan yang ditampung di kolam penampungan tersebut kualitasnya sangat baik, karena tidak ada polusi udara disekitarnya. “Saya langsung minum air tadi, karena saya yakin air tersebut tidak berbahaya, dan airnya bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti rasa air yang punya TDS rendah. Ini karena air nya tidak tercemar oleh polusi” ungkapnya. Saat disinggung soal biaya Agus menyatakan bahwa biaya yang digunakan bisa terjangkau dan tidak terlalu tinggi. “Untuk kapasitas 3-4 meter kubik per jam jika di Jakarta seharga 15 jutaan. Berarti selama satu jam air ini bisa melayani 300 orang, sehingga untuk kapasitas 1.000 orang, bisa beroperasi hanya 3-4 jam perhari” katanya. Sebelumnya, Senin (7/8), MER-C memberangkatkan empat relawan teknis ke Myanmar dengan salah satu agenda adalah melakukan studi lanjutan untuk mengatasi permasalahan air bersih selain melakukan supervisi pekerjaan pembangunan tahap satu RS Indonesia yang sudah selesai. Tim dijadwalkan akan bertugas selama 5 hari hingga Jum’at (11/8) mendatang. Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia), didukung oleh pemerintah Republik Indonesia. Keberadaan RS Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu perekat persatuan antara etnis di Myanmar sehingga bisa meredam konflik berkepanjangan yang terjadi untuk mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Pembangunan Tahap Pertama Selesai, Tim Teknis RS Indonesia Kembali Kunjungi Myanmar

Jakarta – Empat relawan teknis RS Indonesia, hari ini, Senin/7 Agustus 2017 kembali bertolak ke Myanmar. Kunjungan dilakukan seiring telah selesainya pembangunan tahap pertama, yaitu pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, provinsi Rakhine. Keempat relawan tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Myanmar), Ir. Idrus M. Alatas, MSc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C), Ir. Agus Subiyakto Saleh, MT dan Ir. Nur Ikhwan Abadi. Ichsan Thalib selaku Ketua Tim menyatakan bahwa agenda kunjungan kali ini adalah untuk melakukan supervisi pekerjaan tahap pertama yang dikerjakan oleh kontraktor lokal pemenang tender sekaligus melakukan finalisasi pembayaran. Pekerjaan tahap pertama semula diperkirakan memakan waktu 2 – 3 bulan. Namun sejak dimulai pada 25 Mei 2017 dan meski wilayah ini kerap dilanda hujan lebat, ternyata pada akhir Juli 2017 lalu, pekerjaan pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia bisa selesai hanya dalam jangka waktu 2 bulan. Ichsan melanjutkan, tidak hanya bidang teknis pembangunan, MER-C juga mengikutsertakan seorang ahli teknik lingkungan untuk mengadakan studi lanjutan dalam rangka mengatasi permasalahan air bersih yang sulit di wilayah sekitar RS Indonesia. “Air di wilayah ini payau sehingga selama ini masyarakat mengandalkan dan sangat bergantung dari air tadah hujan. Keikutsertaan ahli teknik lingkungan dalam misi ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan air bersih yang tidak hanya sangat penting bagi operasional RS Indonesia ke depan namun juga bagi kehidupan masyarakat sekitar baik Muslim maupun Budha.” Sementara itu, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas, relawan yang juga pernah terlibat dalam pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina mengungkapkan bahwa agenda penting tim lainnya di Myanmar adalah melakukan persiapan tender untuk pembangunan tahap selanjutnya, yaitu bangunan utama RS Indonesia serta sarana pelengkapnya seperti rumah dokter dan perawat. Lama kunjungan tim untuk menuntaskan semua kegiatan diperkirakan selama 5 hari hingga hari Jum’at/11 Agustus 2017 mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176