MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Memperbaiki Fasilitas Umum, MER-C Kirim Relawan Konstruksi ke Mentawai

Dalam rangka menyalurkan amanah bantuan masyarakat Indonesia, Selasa pagi (21/11) MER-C mengirimkan tim relawan konstruksi ke Mentawai, Sumatera Barat. Sebanyak 6 relawan dimana 4 diantaranya adalah eks relawan RSI Gaza, kali ini diamanahi untuk memperbaiki fasilitas umum di Mentawai, wilayah yang pernah diterjang bencana gempa bumi dan tsunami beberapa tahun silam.   Sebelumnya pada September 2017, MER-C telah mengirimkan Tim advance untuk melakukan penilaian ulang mengenai kebutuhan saat ini di Mentawai khususnya di wilayah kecamatan Sikakap.   Sesuai hasil penilaian ulang, MER-C akan melakukan perbaikan fasilitas umum yang berada di Masjid Sikakap dan sekolah di sana.   Setibanya di Padang, dada Selasa sore, para relawan langsung menuju pelabuhan Bungus untuk menaiki kapal ferry ke Sikakap. Setelah menempuh perjalanan laut selama 12 jam, esok paginya Rabu (22/11) Tim telah merapat di pelabuhan Sikakap.   Ketua Tim ini, Ir. Sulisdiantoro memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini selama 30 – 50 hari.   Info:www.mer-c.org0811990176

MER-C Siagakan 200 Relawan Medis untuk Aksi 212

y;”> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Jakarta, Animo relawan medis untuk turut mengawal Aksi Bela Islam III bertambah besar. Hal ini terlihat dari jumlah relawan yang mendaftarkan diri untuk menjadi Tim Medis MER-C pada Aksi Super Damai 212 meningkat dua kali lipat lebih. Sebelumnya pada Aksi Bela Islam ke-2, Jumat (4/11) jumlah Tim Medis MER-C sebanyak 70 orang, kali ini jumlahnya mencapai hampir 200 orang. Tim terdiri dari berbagai dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi dan perawat serta relawan pendukung lainnya.   Tidak hanya menyiagakan Tim Medis di lokasi utama aksi, yaitu Monas, MER-C juga menyiagakan Tim Medis di Masjid Istiqlal, salah satu tempat menginap terbesar bagi para peserta aksi yang datang dari luar Jakarta dan di Masjid At-Tin TMII yang menjadi tempat kedatangan peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis. Posko Kesehatan MER-C di Masjid Istiqlal mulai diaktifkan sejak H-2 atau Rabu sore karena seperti aksi sebelumnya, peserta aksi diperkirakan mulai berdatangan sejak dua harinya sebelumnya. Pada H-1, Kamis/1 Desember 2016, seiring makin banyaknya peserta aksi yang tiba di Istiqlal, MER-C mengaktifkan posko kesehatannya non-stop sejak Kamis hingga Jumat malam. Ratusan peserta aksi dari berbagai daerah yang kelelahan dan sakit datang ke posko kesehatan MER-C untuk mendapatkan pelayanan medis.  Peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis juga turut menjadi perhatian Tim MER-C. Kamis/1 Desember 2016, MER-C mengirimkan satu tim medisnya untuk mengawal para peserta aksi yang masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Tim Medis MER-C akhirnya menuju ke Masjid At-Tin dan membuka posko kesehatan di masjid ini setelah adanya informasi bahwa peserta aksi sudah difasilitasi bus dan telah berdatangan di Masjid At-Tin TMII. Meski hari yang sudah menjelang malam, posko kesehatan tetap diserbu oleh para peserta aksi dari Ciamis untuk mendapatkan pengobatan atas keluhan kesehatan yang mereka alami. Sementara itu, mengantisipasi jumlah peserta aksi dan jumlah tim medis yang lebih besar, maka divisi bantuan dan logistic pada aksi 212 mempersiapkan lebih banyak set obat dan alat medis, yaitu sebanyak 100 paket untuk pelayanan mobile dan penanganan kasus emergency. Selain itu, MER-C juga menyiagakan 4 ambulans dan 2 kendaraan operasional untuk mengawal aksi.

Puluhan Relawan Medis MER-C Kawal Aksi Damai 4/11

Jum’at, 4 November 2016 telah berlangsung aksi damai rakyat terbesar sepanjang sejarah NKRI. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam menurunkan sekitar 70 relawan untuk mengawal aksi ini disertai dua ambulans dan dua kendaraan operasional.     Sesuai pembagian wilayah kerja dari Panitia Pusat Bidang Medis GNPF-MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia), titik lokasi Tim MER-C berada di depan gedung Indosat. Untuk aksi kali ini Tim MER-C dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada yang bertugas standby di posko tetap dan ada yang bertugas mobile menyebar menjadi tim-tim kecil lagi untuk memantau kondisi para peserta aksi yang membutuhkan pertolongan medis.       Melengkapi kerja relawan, MER-C juga menyiapkan 10 set emergency kit dan beberapa perlengkapan emergency pendukung lainnya seperti tandu lipat, oksigen dan lain-lain untuk persiapan penanganan medis di lapangan sebelum korban dirujuk ke Rumah Sakit.       dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk selaku Koordinator Lapangan Tim Medis MER-C untuk Aksi Damai 4/11 mengatakan bahwa Tim memutuskan standby hingga malam hari dikarenakan masih ada konsentrasi massa di sekitar Istana. Keputusan ini tepat karena menjelang jam 7 malam mulai terjadi kericuhan dan penembakan gas air mata yang mengakibatkan sejumlah peserta aksi menjadi korban.       Dengan peralatan yang ada, Tim MER-C segera memberikan pertolongan medis kepada para korban yang saat itu dievakuasi ke area gedung RRI (Radio Republik Indonesia). Hari yang sudah mulai gelap membuat Tim MER-C harus bekerja dengan penerangan seadanya. Usai menangani pasien di lokasi aksi ini, Tim MER-C melanjutkan pengawalan peserta aksi yang bergerak ke gedung DPR/MPR RI.                                      

Relawan MER-C di Gaza Salurkan Amanah Qurban dari Indonesia

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini MER-C melalui cabangnya di Jalur Gaza (Palestina) kembali menyelenggarakan program qurban di wilayah terblokade ini. Sebanyak 11 ekor domba dan satu ekor sapi disembelih oleh relawan untuk kemudian dagingnya disebarkan secara langsung kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan di Jalur Gaza, baik Gaza Utara, Gaza Tengah hingga ke Gaza Selatan. Pelaksanaan qurban dikomandoi oleh perwakilan relawan MER-C di Gaza, Reza Aldilla Kurniawan yang dibantu sejumlah tenaga lokal.   “Alhamdulillah, dengan dibantu oleh beberapa tenaga lokal, hari pertama Iedul Adha kami telah menjangkau keluarga yang membutuhkan di Jalur Gaza Utara dan Jalur Gaza Tengah. Penyaluran daging qurban dilakukan hingga beberapa hari ke depan dengan menjangkau wilayah Jalur Gaza Selatan meliputi Khan Younis dan Rafah,” ungkap Reza. Qurban adalah program rutin tahunan MER-C Cabang Gaza. Sejak resmi terdaftar di Kementerian Dalam Negeri setempat pada tahun 2010, MER-C Cabang Gaza menjadi perpanjangan tangan rakyat Indonesia dalam menyalurkan berbagai amanah bantuan bagi saudara-saudaranya di Gaza (Palestina), salah satunya adalah amanah qurban.

MER-C Akan Turunkan Tim Relawan ke Poso Bantu Evakuasi 16 DPO

MER-C yang pernah menurunkan Tim Medisnya ke Poso ketika wilayah ini dilanda konflik pada tahun 2000 silam, kini akan kembali mengirimkan relawannya ke Poso. Hal ini dinyatakan salah satu Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT saat menghadiri pertemuan dan konferensi pers dengan Tim 13 yang digelar di Kantor Komnasham, Selasa/9 Agustus 2016. Sebelumnya Komisioner Komnasham yang juga merupakan anggota Tim 13, Siane Indriani menawarkan MER-C untuk ikut terlibat dalam proses evakuasi 16 orang sisa kelompok Santoso, Presidium MER-C langsung merespon hal ini karena MER-C memiliki pengalaman melakukan misi kemanusiaan di wilayah konflik di Poso. “Kita menganggap persoalan terorisme bukan lagi persoalan up to date. Program war on terror sudah banyak dipakai oleh si pembuatnya sendiri di Timur Tengah. Kita ingin di Indonesia persoalan ini juga selesai. Jangan sampai ini menjadi program yang dianggap penting di NKRI, karena di dunia lain juga sudah redup. Makanya kami ingin terlibat di sini. Ketika Ibu Siane menawarkan hal ini, kami langsung merespon ya,” tutur Joserizal. MER-C berencana akan menugaskan 3 hingga 4 orang relawan ke Poso. Relawan yang dipilih untuk ditugaskan dalam misi kali ini adalah para relawan wanita yang akan terdiri dari dokter, perawat dan relawan non medis. MER-C akan membuka posko di Poso untuk jangka waktu 1 sampai 2 bulan sesuai dengan kondisi di lapangan. Presidium MER-C Joserizal menjelaskan bahwa fungsi relawan MER-C adalah masuk ke hutan dan menjemput 16 orang yang masih ada di hutan untuk kemudian membawanya turun. Hal ini dilakukan seandainya proses-proses operasi yang lain mengalami kebuntuan. Tim MER-C akan melakukan perawatan medis terhadap mereka jika ada yang mengalami hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Berdasarkan informasi, dari 16 orang tersebut juga terdapat 2 orang wanita sehingga Tim MER-C akan menyiapkan juga masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan wanita. Hal lainnya yang penting dalam proses ini menurut Joserizal adalah jaminan amnesti bagi para DPO. “Kita perlu jaminan kalau mereka bisa diberikan amnesty. Kalau mereka tidak bisa diberikan amnesti mungkin kelompok ini bisa kita amankan tapi yang lain akan tumbuh lagi dan tingkat kepercayaan akan hilang.” Selain mengirimkan relawan ke Poso, MER-C juga akan membantu operasi salah satu korban konflik Poso yang sampai saat ini masih terdapat peluru di badannya. Salah satu saksi hidup konflik Poso ini rencananya akan didatangkan ke Jakarta oleh Komnasham untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan medis yang diperlukan.

Buka Puasa Relawan MER-C Bersama Keluarga Yatim di Gaza

Alhamdulillah bisa melihat keceriaan anak-anak yatim di Gaza saat acara “Berbuka Puasa Bersama dengan Keluarga Yatim” yang diadakan oleh MER-C Cabang Gaza, Selasa/28 Juni 2016. Terima kasih kepada para donatur yang telah membantu mewujudkan momen berbagi ini. Terima kasih kepada para relawan Indonesia dan relawan lokal di Gaza yang sudah mengupayakan terlaksananya kegiatan ini.

Usai Bertugas Lebih dari 1,5 Tahun di Gaza, Tiga Relawan RS Indonesia Tiba di Tanah Air

Siaran Pers Selasa (16/2), setelah menempuh belasan jam penerbangan dari Kairo (Mesir), sekitar pkl 22.00 wib tadi malam, tiga relawan MER-C yang telah menyelesaikan tugas pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kedatangan Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto langsung disambut dengan penuh haru dan sukacita oleh para relawan dan tentunya keluarga tercinta. Turut menyambut di Bandara para Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ir. Faried Thalib dan dr. Arief Rachman, juga para pimpinan dari Pondok Pesantren Al Fatah, mitra yang selama ini mendukung sejak awal proses pembangunan RS Indonesia.   Ketiga relawan sangat bersyukur karena setelah bertugas selama lebih dari 1,5 tahun, perjuangan panjang yang penuh liku akhirnya selesai dan mereka bisa kembali ke tanah air berkumpul kembali dengan keluarga. Hal terpenting lainnya adalah amanah dari rakyat Indonesia telah tertunaikan. Pada 24 Desember 2015, RS Indonesia telah resmi dibuka dan memberikan pelayanan medis bagi rakyat Gaza yang membutuhkan. Sejak dibuka, setiap harinya khususnya pada hari kerja Minggu hingga Kamis, RS Indonesia selalu ramai dikunjungi oleh warga Gaza yang membutuhkan pengobatan. Tercatat sekitar 400 orang pasien yang berobat ke RS Indonesia setiap harinya. Meskipun tugas telah selesai, namun kepulangan para relawan ke tanah air sempat tertunda beberapa lama karena pintu perbatasan Rafah yang tidak kunjung dibuka. Baru pada hari Minggu (14/2) kemarin, pada hari ke-2 atau hari terakhir pembukaan perbatasan Rafah, para relawan bisa keluar dari Gaza bersama sedikit orang yang berhasil keluar dari Gaza selama pembukaan Rafah yang hanya berlangsung selama 2 hari tersebut.   MER-C Lanjutkan Program di Gaza Kepulangan tiga relawan ke tanah air bukan berarti selesainya program MER-C di Gaza, Palestina. Meskipun RS Indonesia telah diserahterimakan dan dikelola oleh Kementerian Kesehatan Palestina, namun MER-C berkomitmen untuk tetap membantu untuk biaya operasional RS Indonesia. Hal ini dalam rangka menjamin keberlangsungan RS Indonesia karena kondisi perekonomian yang tidak menentu di Jalur Gaza, terlebih ketika adanya serangan. Saat ini masih ada dua relawan yang menetap di Gaza, yaitu Reza Aldilla dan Muhamad Husein. Selain sebagai relawan, mereka juga tengah menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Gaza. Berkomitmen menjadikan Palestina sebagai wilayah misi jangka panjang, MER-C telah membangun sebuah bangunan yang bernama “Wisma Rakyat Indonesia” yang terletak di dalam area kompleks RS Indonesia. Wisma Rakyat Indonesia akan menjadi kantor perwakilan MER-C Cabang Gaza sekaligus tempat tinggal para relawan. Ke depan, MER-C akan mengirimkan kembali relawan-relawan yang akan bertugas di wilayah terblokade ini selanjutnya. Relawan yang akan dikirimkan diantaranya adalah para dokter yang keahliannya dibutuhkan di Gaza untuk mengobati dan mentransfer keahliannya kepada tenaga medis di Gaza.     Profil Tiga Relawan RS Indonesia   1.      Nama                       : Ir. Edy Wahyudi Darta Tempat/Tanggal Lahir         : Jakarta/15 Nov 1969 Asal                                   : Cileungsi, Jawa Barat Jabatan/Bidang Pekerjaan   : Site Manager RS Indonesia Masa Tugas di Gaza            : Januari 2011 – April 2012                                           Februari 2013 – Maret 2014                                           Juni 2014 – Februari 2016   2.      Nama                       : Karidi bin Martono Parjo Tempat/Tanggal Lahir         : Wonogiri/14 Januari 1982 Asal                                  : Wonogiri, Jawa Tengah Jabatan/Bidang Pekerjaan   : Korlap 2 Mekanikal Elektrikal Masa Tugas di Gaza            : Oktober 2012 – Maret 2014                                           Juni 2014 – Februari 2016   3.      Nama                        : Miyanto Modo Sodimejo Tempat/Tanggal Lahir         : Wonogiri/4 September 1985 Asal                                  : Wonogiri, Jawa Tengah Jabatan/Bidang Pekerjaan   : Pekerjaan Sipil Masa Tugas di Gaza            : Juni 2014 – Februari 2016       Jakarta, 17 Februari 2016   MER-C Indonesia              

Tiga Relawan RS Indonesia Akhirnya Keluar dari Gaza

Kairo, Mesir – Setelah dua hari berikhtiar dan mengantri di Perbatasan Rafah, akhirnya dengan izin dan pertolongan-Nya, pada Minggu sore (14/2) tiga relawan RS Indonesia bisa keluar dari wilayah terblokade Jalur Gaza, Palestina. Mereka adalah Ir. Edy Wahyudi (Site Manager RS Indonesia), Karidi dan Miyanto. Sementara dua relawan lainnya, yaitu Reza Aldilla dan Muhamad Husein masih berada di Jalur Gaza. Ketiga relawan bisa keluar pada hari kedua atau hari terakhir pembukaan perbatasan Rafah, setelah beberapa lama informasi pembukaan Rafah hanya “katanya dan katanya”, baru pada hari Sabtu – Minggu kemarin (13 – 14 Februari 2016) perbatasan Rafah akhirnya benar-benar dibuka meskipun hanya dua hari saja. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh ketiga relawan yang telah bertugas selama lebih dari 1,5 tahun di Gaza. Sejak Sabtu pagi (13/2), mereka telah bersiap menuju perbatasan Rafah untuk mengantri bersama ribuan orang lainnya. Namun pada hari Sabtu itu kesabaran relawan kembali diuji. Mereka belum mendapat izin keluar dari Gaza. Hari Minggunya (14/2), mulai jam 8 pagi ketiga relawan kembali mengantri mengurus izin di perbatasan Rafah, barulah pada jam 5 sore akhirnya 3 relawan RS Indonesia bisa keluar dari Gaza bersama sedikit orang yang berhasil keluar pada hari itu. Meskipun cukup berbahaya melakukan perjalanan dari Rafah ke Kairo pada malam hari, namun hal ini tetap dilakukan. Dengan menggunakan taksi sewaan, ketiga mulai bergerak dari Rafah menuju ibukota Kairo. Untuk sampai ke Kairo, saat ini ada 20 checkpoint pemeriksaan yang harus dilewati. Ditengah jalan relawan juga sempat mendengar suara penembakan saat beberapa mobil dan bis termasuk taksi yang ditumpangi relawan jalan beriringan. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden penembakan ini dan tidak beberapa lama semua kendaraan bisa bergerak lagi. Setelah menempuh perjalanan selama 8,5 jam, pada pukul setengah dua dinihari, relawan tiba di Kairo. Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto memang dijadwalkan untuk kembali ke tanah air karena amanah tugas yang telah selesai, RS Indonesia telah diserahterimakan kepada Kementerian Kesehatan Palestina dan telah beroperasi memberikan pelayanan medis kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. Kepulangan mereka sempat tertunda beberapa lama karena menunggu dibukanya pintu perbatasan Rafah. Senin siang (15/2), ketiga relawan dijadwalkan berkunjung dan bertemu dengan pejabat KBRI Kairo untuk memberikan laporan terakhir program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza sekaligus berpamitan dengan staf KBRI yang selama ini telah memfasilitasi izin masuk seluruh relawan RS Indonesia yang akan bertugas ke Jalur Gaza. Malamnya, relawan akan langsung bertolak ke tanah air untuk bisa segera bertemu dengan keluarga tercinta yang sudah sekian lama mengikhlaskan kepergian anak, ayah dan suami mereka untuk melaksanakan jihad profesi membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina.        

Selamat Datang Kembali di Tanah Air Para Mujahid Kami, Relawan RS Indonesia dari Jalur Gaza, Palestina

Rumah Sakit Indonesia adalah sebuah Karya Anak Bangsa. Selain dana pembangunan yang murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, yang sebagian besar adalah kalangan menengah ke bawah, Rumah Sakit ini juga dirancang, didisain, diawasi dan dikerjakan pembangunannya oleh putra-putra bangsa Indonesia. Mereka, para relawan (unpaid volunteers), rela meninggalkan keluarga tercinta, pekerjaan di tanah air, mendedikasikan waktu dan keahlian dalam rangka melakukan Jihad Profesional menunaikan amanah rakyat Indonesia dalam program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Dimulai pada 14 Mei 2011, pembangunan fisik Rumah Sakit Indonesia saat ini telah selesai dan proses pengadaan Alat Kesehatan untuk seluruh ruangan di rumah sakit ini sebagai Rumah Sakit Traumatologi dan Rehabilitasi juga telah mencapai tahap akhir.   Kamis/25 Juni 2015, pukul 14.40 sebanyak 14 orang relawan yang telah bertugas selama minimal 1 (satu) tahun di Gaza, Palestina, mendarat di Bandara Soekarno Hatta setelah menempuh belasan jam penerbangan dengan menggunakan maskapai Etihad Airways. Beberapa hari sebelumnya, pada hari Kamis/18 Juni 2015, satu relawan bersama istri tercinta seorang gadis asal Gaza telah tiba lebih dulu di Jakarta, sehingga total relawan RS Indonesia yang telah kembali ke tanah air sampai saat ini berjumlah 15 orang relawan.   Sebanyak 4 (empat) orang relawan masih diberikan amanah untuk melanjutkan tugas di Jalur Gaza, Palestina guna mempersiapkan segala sesuatunya untuk “Grand Opening RS Indonesia” dan menunggu relawan pengganti dari Indonesia yang akan datang untuk bertugas selanjutnya di Jalur Gaza, Palestina.   Kelima belas relawan yang telah kembali ke tanah air adalah sbb :   No Nama Masa Tugas Asal 1 Abdul Aziz Hisyam 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jambi 2 Abdul Hadi Bujang 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 3 Moqorrobin Alfikri 15 Februari 2013 – 25 Juni 2015 Cileungsi, Jawa Barat 4 Hidayatullah Hissam Damiri 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jambi 5 Luthfi Paimin Mualim 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 6 Nasrullah Saukani Johdi 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 7 Ngatiyat Wiryadiharjo Wongso 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jogjakarta 8 Ir. Nur Ikhwan Abadi 17 Februari 2014 – 25 Juni 2015 Lampung 9 Osamah Dakam Mansur 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 10 Muhamad Gulam Romdony 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Tj Priok, Jakarta 11 Suryadi Sarto Soirejo 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Wonogiri, Jawa Tengah 12 Tata Lukita Sudrajat 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Bandung, Jawa Barat 13 Teguh Bin Samino Rejo 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Wonogiri, Jawa Tengah 14 Najmudin Kubro Maschun 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Cilacap, Jawa Tengah 15 Muhammad Husein 2 Desember 2010 – 18 Juni 2015 Cileungsi, Jawa Barat   Empat relawan yang masih bertugas di Jalur Gaza, Palestina adalah sbb :   No Nama Masa Tugas Asal 1 Ir. Edy Wahyudi 15 Februari 2013 – sekarang Cileungsi, Jawa Barat 2 Karidi bin Martono Parjo 28 Juni 2014 – sekarang Wonogiri, Jawa Tengah 3 Miyanto Modo Sodimejo 28 Juni 2014 – sekarang Wonogiri, Jawa Tengah 4 Reza Aldilla Kurniawan 15 Februari 2013 – sekarang Kalimantan Barat   Para relawan dimungkinkan keluar dari Gaza setelah adanya perpanjangan pembukaan Perbatasan Rafah pada hari Selasa, Rabu, Kamis (23 – 25 Juni 2015) ini. Padahal selama satu tahun belakangan, ini blockade adalah yang paling sulit karena Perbatasan Rafah hanya dibuka 3 – 4 kali.   Kesempatan pembukaan Perbatasan Rafah pada Minggu ini segera dimanfaatkan relawan untuk mencoba keluar dari Gaza setelah mendapat persetujuan dari MER-C Pusat Jakarta dan tugas-tugas yang diamanahkan juga telah rampung, yaitu selesainya pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House), selesainya perbaikan masjid yang berada di Kompleks RSI dan hampir selesainya proses pengadaan Alat Kesehatan RSI.   Setelah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Palestina dan Kedutaan Besar RI di Kairo, Selasa/23 Juni 2015, 14 relawan menuju Perbatasan Rafah Gaza untuk mencoba keluar dari Gaza. Pagi itu, para relawan bersiap-siap dan berpamitan kepada relawan Indonesia yang masih harus menetap di Gaza, relawan lokal dan rakyat Gaza yang tinggal di sekitar RSI. Suasana haru meliputi pagi hari itu.   Menunggu proses di Imigrasi Rafah Gaza dan Imigrasi Rafah Mesir selama beberapa jam, akhirnya sekitar pukul 2 siang waktu Gaza, 14 relawan berhasil keluar dari Gaza untuk pulang ke tanah air bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.     Jakarta, 25 Juni 2015 Medical Emergency Rescue Committee                  

RELAWAN INDONESIA DI GAZA: “SEHARI MENJADI DOKTOR”

‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi menyampaikan kuliah ilmiah di hadapan mahasasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza, Sabtu (21/3). (Foto: Mirajnews) Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Jalur Gaza – Sungguh tidak disangka, jika seorang relawan Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, mendadak mendapat gelar “doktor” dalam sehari. Tapi, itulah yang terjadi dan diterima oleh Nur Ikhwan Abadi, relawan kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Resque Committee) asal Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Peristiwa bersejarah itu terjadi Sabtu kemarin (21/3), saat Nur Ikhwan, didaulat memberikan ceramah ilmiah bertajuk “Indonesian role to strengthening the international position of Palestinian issues” (Peran Indonesia untuk memperkuat isu Palestina dalam posisi internasional), di hadapan mahasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza. “Di hadapan para mahasiswa, juga undangan dari pejabat pemerintah, media, dan perwira tinggi kepolisian Palestina, saya diminta berbicara tentang peran Indonesia, dan saya diberi gelar ‘doktor sehari’ untuk seminar tersebut,” ujar ‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi, yang juga Kepala Biro Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Timur Tengah berkedudukan di Palestina. Menurutnya, ada tiga pembicara dalam seminar ilmiah tersebut, yaitu Dr. Tayseer Mehasen (Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina), Ir. Omar Jomah Shiyam (Manager Aman Palestine Cabang Gaza), dan moderator Dr. Ihab Swaikh. Pada kesempatan itu, Nur Ikhwan, yang juga alumni tarbiyah Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, menyampaikan tentang peran pemerintah dan rakyat Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha. “Indonesia pernah melaksanakan Konferensi Internasional untuk Kemerdekaan Palestina dan Pembebasan Al-Quds di Bandung tahun 2012. Seluruh komponen pemerintah dan rakyat Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha dari belenggu penjajahan Israel,” ujarnya. Pada Konferensi Internasional Palestina “International Conference for The Freedom of Al-Quds and Palestine”, yang digagas Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian), Bandung, 14-15 Sya’ban 1433 H./4-5 Juli 2012 M. menghasilkan Deklarasi Bandung untuk Pembebasan Al-Quds. Isi Deklarasi Bandung antara lain; bahwa untuk suksesnya perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina dituntut dukungan yang lebih nyata dari kaum Muslimin pada khususnya dan komunitas internasional pada umumnya. Selanjutnya, disebutkan juga guna menyatukan langkah perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina tersebut, mengamanahkan kepada H. Muhyiddin Hamidy sebagai Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai pemimpin bagi upaya-upaya untuk mempercepat pembebasan Al-Quds dan kemerdekaan Palestina yang didukung oleh organisasi-organisasi yang peduli dalam permasalahan Palestina. Sidang Konferensi juga merekomendasikan kepada pihak-pihak Pemerintah dan Parlemen untuk menegaskan pesan pembebasan Al-Quds dan Palestina melalui lembaga Negara. Serta melakukan advokasi hukum terhadap bangsa Palestina terutama kaum perempuan dan anak-anak serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengadili kejahatan rezim Zionis Israel atau pemimpin-pemimpinnya yang dzalim. Peserta sidang juga siap menghimpun dan mendayagunakan bantuan-bantuan material dan non material untuk menolong Al-Quds dan Palestina, dan secara khusus mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membuka Konsulat Pelayanan Diplomatik di wilayah Jalur Gaza. Putusan lain yang penting adalah mempersiapkan pelaksanaan konferensi selanjutnya di Gaza atau tempat-tempat lain sesuai situasi dan kondisi yang berkembang, Mengutus delegasi untuk memfasilitasi perdamaian dan ishlah dari faksi-faksi di Palestina serta mempromosikan kesatuan Muslimin di Palestina dan memprakarsai boikot terhadap produk-produk yang mendukung rezim Zionis Israel. Nur Ikhwan Abadi (Foto: Mirajnews) Konsulat RI di Gaza Nur Ikhwan, alumni Teknik Sipil Universitas Lampung itu, menyampaikan alternatif dukungan politis pemerintah Indonesia untuk Palestina, antara lain adalah dalam bentuk pendirian Konsultas RI di Jalur Gaza. Menurutnya, hal itu sangat memungkinkan, apalagi ada beberapa mahasiswa setempat di Jalur Gaza yang siap mendukung rencana seperti itu. Nur Ikwhan, juga adalah delegasi khusus Jama’ah Muslimin (Hizbullah), wadah kesatuan umat Islam, berpusat di Bogor, Indonesia, yang secara khusus memiliki agenda Ghazwah Fath Al-Aqsha (pembebasan Al-Aqsha) sejak 2007, dan Kepala Koresponden Kantor Berita Islam MINA di Timur Tengah. “Selain kemungkinan pembukaan Konsulat RI di Jalur Gaza, upaya lainnya adalah advokasi hukum oleh Indonesia untuk warga Palestina, terutama wanita dan anak anak atas tindakan kriminal Israel,” paparnya. Upaya lain adalah dengan terus menggencarkan aksi dan kampanye boikot produk-produk Israel, serta upaya melaksanakan konferensi yang dihadiri tokoh-tokoh Indonesia, bertempat di Jalur Gaza. Pada pertemuan pemaparan, ‘Doktor’ Nur Ikhwan juga menyampaikan, salah satu delegasi Konferensi Bandung adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Palestina pada pemerintahan PM Ismail Haniyah sebelum pemerintahan persatuan terbentuk, Dr. Muhammad Al-Madhoun. Mendengar nama itu disebut, hadirin pun riuh dan bersorak. Mereka menyebut dan sambil menunjuk ke sosok yang disebut itu, adalah Direktur Akademi tersebut. Nur Ikhwan sendiri sebelumnya belum tahu hal itu. Lalu, masuklah Dr. Al-Madhoun yang sebelumnya hanya di luar, dan ia pun ikut bicara dengan senyuman. Setelah sebelumnya berangkulan dengan Nur Ikhwan, dengan mesra bak saudara kandung. Al-Madhoun menyarankan agar perwakilan pemerintah Indonesia segera dibentuk saja di Jalur Gaza. “Langkah awal bisa saja tidak dalam bentuk Konsulat resmi, tetapi dapat melalui misalnya Pusat Pendidikan atau Pusat Kebudayaan,” ujarnya bersemangat. Pihaknya juga siap membantu pelaksanaan Konferensi serupa yang pernah diselenggarakan di Bandung, Indonesia, untuk dilaksanakan di Kota Gaza. Ia juga mengapresiasi keberadaan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency – Wakalah Mi’raj lil anba al-islamiyyah), sebagai tindak lanjut dari Konferensi Bandung 2012. Menurutnya, cabang-cabang MINA perlu didirikan di setiap negeri Muslim, agar kaum Muslimin dapat mengikuti perkembangan dunia Islam pada umumnya, serta perkembangan Indonesia pada khususnya, yang mayoritas Muslim sebagai salah satu barometer perjuangan dunia Islam. Sementara itu, Dr. Tayseer Mehasen, Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina di Jalur Gaza, menyatakan siap membantu merealisasikan pembentukan perwakilan tersebut. Menurutnya, apalagi hubungan Kementerian Luar Negeri antara Jalur Gaza dan Tepi Barat saat ini berjalan baik. Kemenlu di Jalur Gaza berjalan, dan Kemenlu di Tepi Barat juga berjalan. Dari segi keamanaan juga sangat memungkinkan, ujarnya. “Namun yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana negeri-negeri Muslimin semakin meningkatkan perannya terhadap Al-Quds dan Palestina,” paparnya. Seret Israel ke Mahkamah Di akhir sesi kuliah ilmiah, seorang mahasiswa bernama Kayd Jarbou, menyatakan seiring pendirian perwakilan di Gaza, dia dan rekan-rekan mahasiswa lainnya siap menghubungkan tim pengacara di Indonesia dengan lembaga-lembaga di Jalur Gaza yang konsen terhadap isu kejahatan Zionis Israel. Mahasiswa yang bekerja di lembaga advokasi juga siap memberikan data-data kepada para pengacara

Silahkan bertanya?