Apa Kabar Keluarga Relawan MER-C di Gaza?

Lampung – Huzaifah dan Muaz, begitu nama kedua anak kecil yang sedang bercengkrama di atas tikar plastik di rumah pak Bukhori. Ayahnya sudah hampir 1 tahun berjihad, menunaikan amanah pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Kisah Keluarga Bapak Bukhori Muslim Sadeli Jalan darat selama 2 jam kami tempuh dari kota Bandar Lampung ke desa Bangunrejo pedalaman Lampung Tengah, di sore hari mendung tanggal 19 November 2013. Perjalanan melintasi perkebunan PTPN 7 jauh dari nyaman, karena sebagian jalan yang beraspal sudah digantikan dengan lobang-lobang, dan sebagian yang tidak beraspal menjadi kubangan lumpur besar-besar, namun amanah ini harus disampaikan, menjalin tali silaturahmi dan membawa sedikit oleh-oleh buat keluarga para mujahid, bukan karena mereka ingin dihargai, tapi karena kami merasa mereka pantas dihormati. Rombongan MER-C dari Jakarta yang terdiri atas pak Ir. Farid Thalib, ibu yuni, Nurfitri Taher (a.k.a mbak Upik) dr. Habib, dan dr. Zecky tiba jam 4 sore di rumah sederhana itu. Disambut oleh mertua pak Bukhori yaitu bapak Slamet, Istri pak Bukhori dan 2 orang anak beliau, yang tertua berusia 3 tahun, dan paling kecil berusia 1 tahun. Hadir juga beberapa anggota keluarga yang tinggal berdekatan dengan rumah pak Bukhori. Pak Farid membuka silaturahmi dengan menceritakan bahwa kondisi relawan konstruksi di Gaza dalam keadaan sehat walafiat, dan bagaimana rmereka bekerja keras sehingga pembangunan sebuah rumah sakit di Gaza, yang awalnya dianggap rencana gila dengan izin Allah dapat terlaksana sampai pembangunan fisik selesai. Diserahkan pula sebuah album foto untuk keluarga, yang berisi gambar-gambar aktivitas relawan di Gaza, Palestina. “Ini bapakmu Huzaifah” kata pak Slamet, sang Mertua, sembari menunjuk ke sosok pria di album foto, mata kecil Huzaifah bolak-balik dari gambar di album foto ke wajah kakeknya. “bapakmu mujahid” lanjut sang kakek dengan nada bangga. “Saya tahu bagaimana sikap Bukhori, dia memang orangnya berani dan nekat, tapi saya percaya kepadanya, dan semua keluarga mendukung perjuangannya, kami disini juga bahu-membahu merawat cucu dan anak saya, Istri Bukhori, jika kami tidak mampu menyusul perjuangannya, Insya Allah anak cucu kami yang akan melanjutkan perjuangan itu”, demikian ucapan sang mertua. Diskusi ditutup dengan hidangan khas pedesaan dengan rasa bintang lima, nasi putih hangat, tumis kangkung, ayam kampung goreng, kerupuk dan sambal colek, meskipun awalnya tim MER-C keberatan karena ini memang tidak ingin memberatkan tuan rumah, tapi pak Slamet dengan senyum lebar menyahut, “tamu-tamu tidak saya izinkan pulang sebelum menyicipi apa yang terhidang”. (HH).
Donasi Mobil Untuk Pembangunan RS Indonesia

Jakarta – Sabtu, 9 November 2013 Sepasang suami istri datang ke kantor MER-C dengan mengendarai mobil Yaris warna silver. Kedatangan mereka di pagi hari itu adalah untuk mendonasikan mobil mereka untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina. Pasangan mukhlisin ini menjelaskan alasan mereka mendonasikan kendaraan mereka ini karena melihat Transparansi MER-C dalam penerimaan dan penyaluran donasi yang diterima, selain bukti fisik bangunan RSI yang sudah terlihat keberadaannya. Presidium MER-C Dr Sarbini Abdul Murad yang menerima donasi ini menyatakan kekaguman dan rasa salutnya atas perhatian yang besar terhadap proses pembangunan RSI. Beliau berharap dengan melimpahnya dukungan serupa dapat mempercepat penyelesaian pembangunan sehingga dapat dimanfaakan bagi rakyat Palestina di Gaza kelak.
Kementrian Ekonomi Gaza Usahakan Akses Semen Untuk RSI

Gaza – pada tanggal 7 Nopember 2013 Kementrian Ekonomi pemerintahan Gaza-Palestina, diwakili oleh utusan-urusannya yang dipimpin oleh Muhammad Abu Sya’r datang mengunjungi Lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang sudah memasuki tahap finishing Para perwakilan kementrian ekonomi pemerintahan Gaza-Palestina datang untuk dapat melihat secara langsung perkembangan pembangunan RSI sekaligus untuk mengetahui berapa banyak bahan bangunan yang dibutuhkan demi selesainya pembangunan RSI. Menurut ketua tim pembangunan RSI Ir. Faried Thalib, RSI ditargetkan untuk selesai dibangun di bulan Desember 2013. Kedatangan perwakilan pemerintahan Gaza ini merupakan jawaban atas permintaan langsung dari MER-C agar pemerintahan Gaza dapat memfasilitasi kemudahan akses pengiriman Bahan bangunan seperti semen, agar RSI dapat selesai sesuai target.
Relawan Indonesia Shalat ID Bersama PM Ismail Haniya

Gaza, (10 Dzulhijjah 1434/15 Oktober 2013) – Sejumlah relawan Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza melaksanakan shalat Idul Adha, Selasa 10 Dzulhijjah 1434/15 Oktober 2013 bersama Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyya di Lapangan Stadion Utama Yarmouk, Jalur Gaza, Palestina. Tampak enam relawan Indonesia yang bertugas atas nama Medical Emergency Rescue (MER-C) di antaranya Husen, Ridho, Sulis, Rahman, Karidi, dan Mulyono, menghadiri shalat Idul Adha bersama ribuan warga setempat, diiringi takbir, tahlil dan tahmid. Dalam khutbahnya, seperti dilaporkan Muhammad Husein, Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Gaza, Ketua Parlemen Palestina, Syekh Dr Ahmad Bahar mengatakan, bahwa bangsa Palestina telah menempuh jejak kenabian Ibrahim Alaihis Salam dengan pengorbanan dan pembelaan terhadap negeri Palestina terjajah. Syaikh Bahar menyerukan agar seluruh komponen bangsan Palestina, negeri-negeri Arab, dan umat Islam di dunia agar bersatu membela perjuangan kemerdekaan Palestina dan bagi pembebasan Masjid Al-Aqsha. “Kehadiran Hari Raya Idul Adha memberikan peringatan agar umat Islam ikut serta dalam pengorbanan membebaskan saudara-saudaranya dari penjajahan Israel,” ujar Syaikh Bahar. Sementara itu Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya seusai shalat Id mengatakan kepada wartawan, bahwa Gaza khususnya dan Palestina pada umumnya adalah negeri kaum muslimin. “Jalur Gaza siap menerima dukungan dari negeri-negeri lain”, ujar Haniyya. Sejumlah 26 relawan Indonesia lainnya, melaksanakan shalat Idul Adha di tempat terpisah, di dekat Rumah Sakit Indonesia, yaitu di lapangan bundaran Syaikh Zaid di samping Masjid Agung Syaikh Zaid Bait Lahiya, Gaza. Bertindak sebagai imam dan khatib ulama setempat, Syeikh Dr.Mahmoud Muhammad Al-Bait. Setelah shalat Id dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban kiriman sejumlah dermawan asal Indonesia untuk warga di Jalur Gaza. (L/K09/P02/R1). Sumber : http://mirajnews.com/palestina/10800-relawan-indonesia-shalat-id-bersama-pm-ismail-haniya.html
Sumbang Foto Hasil Karya untuk RS Indonesia

Jakarta – Ada banyak cara untuk membantu program pembangunan RS Indonesia (RSI), sebuah bangunan yang akan menjadi persembahan dan bukti cinta rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Salah satunya adalah yang dilakukan Husni, seorang fotografer muda yang terjun ke dunia fotografi karena hobi, kemudian mengasah kemampuannya di bidang ini secara otodidak. Sabtu siang (21/9), ditemani istrinya, Husni mendatangi kantor pusat MER-C yang berada di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Dia membawa sebuah bungkusan kotak pipih cukup besar yang dibalut kertas koran. Setelah dibuka, isi bungkusan tersebut adalah dua buah foto pemandangan alam dengan mengambil momen kala matahari terbenam. “Saya ingin mendonasikan dua foto hasil jepretan saya untuk Palestina. Foto ini saya ambil di Waduk Jati Luhur. Mungkin saya belum bisa memberikan bantuan dalam bentuk dana. Semoga foto ini bisa bermanfaat untuk Palestina melalui MER-C,” ujar Husni menjelaskan maksud kedatangannya kepada staf MER-C. Jumlah donasi tentu bukanlah hal yang utama, tapi niat dan ketulusan lah yang memberikan nilai lebih dari donasi tersebut. “Saya sudah lama membaca tentang Palestina yang merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Lalu saya mendengar MER-C mempunyai program pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Di situ saya mulai berfikir untuk bisa membantu Palestina yang sampai saat ini masih terjajah,” lanjut ayah anak satu ini. Dua buah foto berukuran 40 x 60 cm itu kemudian diserahterimakan oleh Husni kepada staf MER-C bagian penerimaan donasi. “Mudah-mudahan foto ini bisa dilelang oleh MER-C dan hasil lelangnya bisa ikut membantu program pembangunan RS Indonesia,” harapnya. Pembangunan RS Indonesia memang berasal dari sumbangan seluruh rakyat Indonesia, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, majelis taklim, pegawai kantoran, sampai para professional. Semoga apa yang dilakukan Husni bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk terus membantu sesama dengan apapun yang kita bisa.
MER-C Buka Program Qurban di Gaza

Gaza – Masyarakat Indonesia yang ingin berqurban bagi saudara-saudaranya di Gaza, sebuah wilayah yang masih terblokade dari darat, laut dan udara, kini dapat merealisasikan niatnya melalui MER-C. MER-C melalui Cabangnya di Gaza, siap menyalurkan amanah qurban masyarakat Indonesia secara langsung kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. MER-C Cabang Gaza sampai saat ini adalah satu-satunya Proses qurban mulai dari pembelian, pemotongan, pembagian hingga pengantaran secara langsung door-to-door hewan qurban kepada rakyat Gaza yang membutuhkan akan dilakukan oleh relawan Indonesia yang saat ini berjumlah 32 orang. Program hewan qurban telah dibuka sejak hari Kamis (12/9) lalu hingga tanggal 7 Oktober 2013 nanti atau 1 minggu menjelang Hari Raya Idul Adha. Harga hewan qurban yang ditawarkan berupa domba dengan berat 40 – 50 kg adalah Rp 3,5 juta per ekor. Harga ini sudah termasuk biaya operasional yang meliputi biaya transportasi, biaya dokumentasi, dll. Bagi masyarakat Indonesia yang berminat memberikan amanah qurbannya untuk Gaza dapat mengirimkan biaya qurban ke rekening MER-C amanah Kemanusiaan Gaza di BSM (Bank Syariah Mandiri), nomor rekening 700.2905.803, atas nama Medical Emergency Rescue Committee. “Kami mohon konfirmasi dari Bapak, Ibu, Sahabat apabila sudah melakukan transfer dana qurban agar dapat kami mengecek dananya dan melakukan pendataan. Data dan dana akan kami kirimkan ke Gaza untuk ditindaklanjuti oleh relawan kami di sana,” papar Tina, staf MER-C yang bertanggung jawab dalam program qurban MER-C. “Kami akan mengirimkan laporan pelaksanaan qurban kepada masing-masing donatur baik dalam bentuk email maupun pos,” lanjutnya. Sementara itu, Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Alfikri menyampaikan bahwa wilayah penyaluran hewan qurban nanti diantaranya adalah Jabaliya dan Tal Za’tar di Gaza Utara. “Pertimbangan kami memilih wilayah ini adalah karena di sana banyak masyarakat yang miskin, terutama di Syekh Zaid dekat lokasi RS Indonesia ada gedung pemukiman para janda,” ujar Fikri yang saat ini juga tengah menempuh kuliah di Universitas Islam Gaza.
Meskipun Ada Hambatan, Bangunan RSI Semakin Mendekati Sempurna

Gaza – Perkembangan terakhir Rumah Sakit Indonesia di Gaza semakin mendekati sempurna terutama dari segi fisik atau bangunan nampak bahwa RSI sudah terlihat indah dari luar karena pemasangan dinding marmer atau biasa disebut oleh orang Gaza sebagai Hajar Quds telah selesai 100%. Demikian dilaporkan oleh Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Alfikri, Senin (16/9). “Pekerjaan yang sedang berlangsung adalah pemasangan keramik, pemasangan plafon yang sudah mencapai 60%, pengecatan dinding lantai satu dan lantai dua serta pemasangan pagar keliling RSI,” ungkap Fikri, salah satu relawan yang juga tengah menempuh pendidikan melalui program beasiswa di Universitas Islam Gaza. Selain pekerjaan arsitektur, pekerjaan Mekanikal Elekterikal RSI juga terus dilakukan oleh para relawan asal Indonesia yang meliputi pekerjaan sanitair, nursecall, instalasi listrik panel, pemasangan AC dan fire fitting (hydrant). “Pekerjaan Mekanikal Elektrikal RSI yang belum bisa dikerjakan oleh relawan adalah sound system dan fire alarm. Hal ini dikarenakan memang sulitnya bahan,” tambahnya. Pergolakan yang terjadi di Mesir yang berimbas pada ditutupnya Perbatasan Rafah sebagai jalur keluar masuk dari Mesir ke Gaza juga menjadi hambatan tersendiri bagi pembangunan RSI. “Hambatan yang dialami pada pembangunan RSI tahap ini secara umum ialah sulitnya mendapatkan bensin dan solar. Bensin dan solar adalah sesuatu yang sangat inti dalam kaitannya dengan pemadaman listrik yang dilakukan Israel yang semakin tidak mengenal waktu,” ujar Fikri. Tidak hanya bensin dan solar, semen juga menjadi bahan yang langka karena pasokan yang dikirimkan melalui jalur Rafah sempat terbatas. Begitupun cat dalam volume besar juga sulit didapat karena berasal dari Mesir. Pekerjaan Mekanikal Elektrikal (ME) pun tidak luput dari hambatan. Para relawan ME mengaku sulit mendapat kabel 25 mm, 50 mm dan 240 mm, pipa untuk fire alarm dan juga lampu karena keterbatasan pengiriman dari Mesir. Ditengah hambatan-hambatan yang ada, pekerjaan pembangunan RS Indonesia tetap berlangsung. “Semua relawan RSI tetap bekerja sesuai bidang keahlian dan amanah yang mereka terima. Kami hanya bisa berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya agar pembangunan RS Indonesia bisa selesai sesuai jadwal pada akhir tahun ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan,” tutur Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia.
Majelis Ta’lim Telkomsel Sumbang Donasi untuk Ruang Farmasi RSI

Jakarta – Setelah Pembaca Republika yang menyumbang untuk pengadaan alat kesehatan dan interior ruangan Poliklinik RS Indonesia di Gaza, kini menyusul Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) yang memberikan donasinya untuk pengadaan alat kesehatan dan interior Ruang Farmasi RS Indonesia. Donasi sebesar Rp 650 juta yang dikumpulkan dari zakat, infaq dan shodaqoh karyawan ini diserahkan secara simbolis oleh Chairuddin (Ketua MTT) kepada dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C), Kamis 5 September 2013. Acara penyerahan dilangsungkan di Kantor Pusat Telkomsel, Gedung Wisma Mulia lantai 18 di hadapan karyawan jamaah kajian dzuhur. “Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan partisipasi dari Majelis Ta’lim Telkomsel untuk program pembangunan RS Indonesia. Insya Allah pembangunan fisik RS Indonesia dijadwalkan selesai akhir tahun ini. Upaya selanjutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan interior masing-masing ruangannya. Semoga apa yang telah dilakukan MTT akan diikuti oleh lembaga atau perusahaan lainnya sehingga RS Indonesia persembahan dari rakyat Indonesia bisa segera bermanfaat untuk rakyat Palestina,” ungkap Sarbini, saat acara penyerahterimaan donasi. Sementara Ketua MTT, Chairuddin menyampaikan terima kasih kepada para karyawan yang telah memberikan zakat, infaq dan shodaqohnya dimana sebagian ZIS karyawan disalurkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina yang sedang dilakukan oleh MER-C. Sesuai akad yang telah ditandatangani bersama, donasi dari Majelis Ta’lim Telkomsel khusus diperuntukkan bagi pemenuhan alat kesehatan dan interior Ruang Farmasi RS Indonesia yang terletak di lantai 1. Selain gerakan rakyat sebesar Rp 50 ribu per orang untuk alat kesehatan RSI, MER-C juga meluncurkan gerakan pengadaan alat kesehatan beberapa ruangan RSI yang ditujukan untuk lembaga atau perusahaan dengan nominal donasi beragam sesuai dengan kebutuhan alat kesehatan di ruangan tersebut. Khusus untuk donasi alat kesehatan per ruangan, maka di setiap ruangan tersebut akan ditulis nama lembaga atau perusahaan yang menyumbang. Pembaca Republika dan Majelis Ta’lim Telkomsel telah mengawali gerakan ini dengan berdonasi untuk Ruang Poliklinik dan Ruang Farmasi. MER-C masih membuka dan mengajak lembaga atau perusahaan lainnya untuk menjadi bagian dari program bersejarah berupa pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina dengan berpartisipasi untuk pengadaan alat kesehatan ruangan RSI lainnya, diantaranya Ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat), Ruang Operasi, Ruang ICU (Intensive Care Unit), Ruang Rawat Inap Laki-laki, Ruang Rawat Inap Perempuan, Laboratorium, Ruang CT Scan, Ruang X-Ray, Ruang Rehabilitasi Medik, dll. Be a part of history…
FIM Jasa Ekatama Komitmen Perjuangan RS Indonesia di Gaza

Jakarta, 24 Syawal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama, Ichsan Thalib menyatakan komitmennya pada perjuangan pendirian Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina. “Kami dari PT. FIM Jasa Ekatama mempunyai kepedulian pada pembangunan RS Indonesia di Gaza maupun RS MER-C Galela, Maluku. Komitmen kami sangat jelas untuk perjuangan ini, melalui konser amal Jakarta Melayu Festival kami menyerahkan dua unit rumah senilai lebih kurang tiga milyar rupiah untuk perjuangan RS di Gaza maupun di Galela,” kata Ichsan Thalib kepada Mi’raj News Agency (MINA). Penyerahan dua unit rumah untuk pembangunan kedua rumah sakit tersebut dilakukan secara simbolis oleh Ichsan Thalib saat acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja”(Foto. Rana/MINA) Sementara itu, promotor acara tersebut, Geisz Chalifah mengatakan bahwa sejumlah sumbangan yang telah masuk termasuk hasil penjualan tiket akan diserahkan ke lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza dan RS MER-C Galela. Menurutnya, ada hubungan historis antara Indonesia, Palestina, dan Mesir. Konser melayu tersebut adalah bagian dari penghargaan kepada Mesir dan Palestina yang telah mengakui awal kemerdekaan Indonesia. “Konser ini berangkat dari semangat kemerdekaan RI, dan yang pertama menyatakan kemerdekaaan Indonesia adalah mesir dan selanjutnya palestina, dan Melayu sebagai identitas nasional kita, menyatakan ungkapan penghargaan kepada Mesir dan Palestina melalui konser amal tersebut,” ungkap Geisz Chalifah. Kemudian menurut Geisz, Ia ingin mengangkat budaya bangsa Indonesia yang selama ini terlupakan, dikesampingkan, tidak diapresiasi, dan tidak mendapat penghargaan. Ia mengharapkan, dengan langkah semacam ini mudah-mudahan media dan para aktivis mulai mebuka mata bahwa ada sesuatu yang patut diperjuangkan, sebagai jati diri bangsa Indonesia. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” tersebut, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, seperti Iyeth Bustami, Hamdan ATT, Fuad Balfas, Emma Lopez, Fahad Munif, Hendri Lamiri, sang akordian; Butong, Mustafa Abdullah, Nizar Ali dan dimeriahi oleh L’Catraz Band dan Konsentra Sumut. Rencananya, untuk menumbuhkan rasa cinta pada kebudayaan Indonesia, Jakarta Melayu Festival akan diadakan setiap setahun sekali. (L/P02/P06/P015/P01/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8867-fim-jasa-ekatama-komitmen-perjuangkan-rs-indonesia-di-gaza.html
RSI Gaza Bukti Nyata Dukungan Rakyat Indonesia untuk Palestina

Jakarta, 24 Syawwal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Tokoh intelektual muda Indonesia, Anies Baswedan mengatakan, Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza merupakan salah satu upaya nyata rakyat Indonesia dalam mendukung Palestina. “Bukan saja mengirimkan dukungan lisan dan doa (untuk Palestina), tapi upaya nyata dalam bentuk fisik seperti pembangunan rumah sakit. Ini bisa jadi contoh untuk semua,” kata Anies kepada Mi’raj News Agency usai acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Rumah Sakit Indonesia (RSI) dibangun di atas sebidang tanah wakaf yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. (Foto. Doc. MER-C) Anies Baswedan, pendiri gerakan Indonesia mengajar juga mengatakan bahwa acara konser mengangkat kebudayaan melayu yang dikemas untuk kegiatan kemanusiaan sangat cerdas. Baginya, Musik Melayu mempunyai kekuatan syair yang luar biasa dan pesan yang disampaikan dalam setiap baitnya baik sekali. Apalagi acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu tersebut dikhususkan untuk acara kemanusiaan. “Oleh karena itu Kegiatan Konser Kemerdekaan Musik Melayu seperti ini punya efek yang baik,” ujar Rektor Universitas Paramadina itu. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja’, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, Hamdan Attamimi, Hendry Lamiri, dan Fuad Balfas serta diiringi Anwar Fauzi Orkestra. Hasil penjualan tiket konser musik Melayu yang dilaksanakan di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta tersebut akan disumbangkan untuk pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku dan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Dalam konser musik Melayu itu juga diadakan penyerahan secara simbolis dari Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama Ichsan Thalib kepada ketua panitia Geisz Chalifah, dua unit rumah di sebuah kompleks perumahan seharga sekitar tiga milyar rupiah untuk dijual dan hasilnya bagi pembangunan rumah sakit tersebut. Butuh Dana 75 Milyar Rupiah Lagi RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Rumah sakit yang dibangun di atas tanah wakaf dari pemerintah Palestina seluas 16.261 m2 itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. Pekerjaan pembangunan RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. Saat ini, para relawan sedang melakukan pembangunan RSI Gaza tahap kedua berupa tahap arsitektur dan Mekanikal Elektrikal (ME). Pembangunan fisik RSI Gaza menelan biaya 30 milyar rupiah. Setelah pembangunan fisik selesai dibutuhkan dana sekitar 7,5 milyar rupiah untuk bangunan pelengkap kompleks RSI dan 65 milyar rupiah untuk penyedian alat kesehatan, sebagian peralatan rumah sakit seperti tempat tidur dan lainnya. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. (L/P02/P06/P015/P01). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8822-rsi-gaza-bukti-nyata-dukungan-rakyat-indonesia-untuk-palestina.html