Kemenkes Palestina di Gaza Lepas Gelombang I Kepulangan Relawan RS Indonesia

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melepas sembilan relawan Indonesia yang akan kembali ke tanah air usai bertugas selama hampir 1,5 tahun di Jalur Gaza Palestina untuk pembangunan tahap 2 RS Indonesia, Kamis/3 Juli 2020. Bertempat di Kantor Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, DR. Abdullatif Al Haj, selaku Direktur Hubungan Internasional mewakili Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza dalam sambutan pelepasannya menyampaikan apresiasi dan penghormatannya setinggi-tingginya kepada segenap relawan Indonesia yang telah melakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia. “Saya mewakili Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya untuk MER-C dengan segenap relawannya yang telah bersungguh-sungguh mempersembahkan Rumah Sakit Indonesia untuk rakyat Palestina khususnya yang berada di Gaza Utara. MER-C telah berhasil menjadi ujung tombak perantara tersampaikannya bantuan rakyat Indonesia pada rakyat Palestina,” katanya. Menurut Abdullatif, keberadaan RS Indonesia telah berhasil berfungsi menjadi rumah sakit pusat di Gaza bagian utara, memberikan layanan kesehatan untuk Gaza Utara yang berpenduduk padat. Terkait penambahan 2 lantai di RS Indonesia yang masih terus berlangsung, ia berharap dapat segera dilengkapi dengan alat-alat kesehatan. “Hari ini pembangunan dua lantai tambahan RS Indonesia terus dikebut. Kami berharap dapat segera dilengkapi dengan alat-alat kesehatan dan sebagainya,” ujarnya. Khusus kepada sembilan relawan yang akan kembali ke tanah air, Abdullatif mendokan agar perjalanan pulang relawan ke Indonesia diberikan kemudahan dan keselamatan. “Sekali lagi penghormatan kami yang setinggi-tingginya atas amal besar ini. Kalian telah mengukir sejarah melukis RS Indonesia dengan tangan-tangan kalian. Ini adalah suatu amal yang luar biasa, panjang dan sulit, jauh dari istri dan keluarga bahkan sampai ada yang ditinggal wafat istrinya, mudah-mudahan husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan perjalanan kalian sampai di Indonesia hingga dapat berjumpa keluarga dengan selamat,” harapnya. Ini adalah kepulangan gelombang pertama relawan RS Indonesia ke tanah air dengan jumlah sebanyak sembilan relawan dari 31 relawan MER-C di Jalur Gaza. Kepulangan relawan akan dilalukan secara bertahap disesuaikan dengan volume pekerjaan yang mulai berkurang seiring pembangunan fisik RS Indonesia untuk lantai 3 dan 4 yang mulai memasuki tahap akhir. Tahapan berikutnya akan dilanjutkan dengan proses pengadaan alat kesehatan tambahan RS Indonesia yang akan mendatangkan relawan lainnya yang ahli dalam bidang ini. Bertugas di wilayah yang masih dalam blokade Israel, jadwal kepulangan relawan RS Indonesia gelombang pertama akan menyesuaikan dengan jadwal pembukaan pintu perbatasan Rafah, perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir. Ditengah wabah Covid-19 semua relawan juga telah mempersiapkan seluruh prosedur protokol kesehatan yang berlaku di negara setempat dan negara yang akan dilalui hingga ke tanah air. Mohon doa dari rakyat Indonesia untuk kelancaran perjalanan tim relawan dan penyelesaian pembangunan RS Indonesia. Info: www.mer-c.org
Menkes Gaza Lepas Kepulangan Sembilan Relawan RS Indonesia

Gaza, MINA – Menteri Kesehatan Gaza Dr. Abdullatif Al Haj pada Kamis (2/7) melepas kepulangan sembilan relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza. “Kepada segenap relawan RSI yg akan pulang, kalian telah mengukir sejarah melukis RSI dengan tangan-tangan kalian, suatu amal yang luar biasa, panjang dan sulit. Jauh dari istri dan keluarga bahkan sampai ada yang ditinggal wafat istrinya, mudah-mudahan husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran,” ujar Abdullatif di Kantor Kementerian Kesehatan Gaza. “Tidak lupa kami sampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas amal besar ini. Semoga Allah mudahkan perjalanan kalian sampai di Indonesia berjumpa keluarga dengan selamat. Aamien,” kata Abdullatif. “Saya mewakili Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya untuk MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee) dengan segenap relawannya yang telah bersungguh-sungguh mempersembahkan Rumah Sakit Indonesia untuk rakyat Palestina, khususnya yang berada di Gaza utara,” tambahnya. Ia juga mengatakan, MER-C telah berhasil menjadi ujung tombak perantara tersampaikannya bantuan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. RSI telah memberikan layanan kesehatan untuk Gaza utara yang berpenduduk padat. “Saya lihat kerja sama antara Kemenkes Gaza dan MER-C berjalan dengan baik, terbukti telah dapat mewujudkan RSI di Gaza utara menjadi rumah sakit markazi (pusat),” katanya. “Kami berharap tahap kedua ini segera selesai dan dapat dilanjutkan tahap ketiga berupa klinik dan training center dan di lanjutkan terus programnya bahkan sampai setelah Palestina merdeka,” pungkasnya. Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Ir. Edy Wahyudi, mengatakan kepada MINA sebelumnya, ada 33 relawan Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia yang dikirimkan ke Gaza untuk melakukan pembangunan RS Indonesia tahap dua yang diinisiasi oleh lembaga kemanusiaan MER-C, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah. “Dengan kembalinya sembilan relawan ini maka kini tersisa 22 relawan untuk melanjutkan RS Indonesia tahap kedua,” tambahnya. (R/R7/RI-1) Sumber : https://minanews.net/menkes-gaza-lepas-kepulangan-sembilan-relawan-rs-indonesia/
Istri Relawan Pembangunan RS Indonesia di Gaza Wafat

Wonogiri, MINA – Karni, istri Paidi bin Kromo Joyo, seorang relawan Indonesia yang saat ini sedang membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap II di Gaza, Palestina wafat, pada Ahad pagi, (31/5) di kampung halamannya di Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, telah wafat Karni binti Kasidi, istri seorang relawan kita yang saat ini sedang mengemban amanah membangun RSI yang diinisiasi MER-C di Gaza, Palestina,” demikian kabar yang disampaikan Kepala Pembangunan RSI, Ir. Edi Wahyudi melalui sambungan telepon kepada MINA. Dari catatan MINA, ada empat keluarga relawan Indonesia di Gaza yang telah dipanggil Allah selama mereka berada di Gaza. Keempatnya adalah; Ibunda dari Muhammad Lutfi Paimin, asal Singkawang, Kalbar; ayahanda dari Sodikin, asal Brebes, Jawa Tengah;, ibunda Edi Wahyudi, Cileungsi, Jawa Barat, dan Karni, Istri dari Paidi, asal Winogiri, Jawa Tengah.Pasangan Paidi dan Karni memiliki dua anak ( satu putra dan satu putri). Anak yang terkecil masih duduk di bangku kelas 6 SD. Segenap keluarga besar Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Radio Silaturahim (Rasil), Pondok Pesantren Al-Fatah, Aqsa Working Grup (AWG) dan Kantor Berita MINA, turut berduka cita atas wafatnya istri relawan Gaza tersebut. Semoga Almarhumah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah ikut mendukung perjuangan rakyat Palestina melawan Zoinis Israel. Saat ini ada 31 relawan Indonesia dari Ponpes-Ponpes Al-Fatah yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Mereka berangkat pada Februari 2019, berarti hingga saat ini sudah 15 bulan meninggalkan keluarga di tanah air. (L/P2/P1) Sumber : https://minanews.net/istri-relawan-indonesia-wafat/?fbclid=IwAR3VGPWBGMaRLBwxSa5K9F_ge4Mcr0DBgRa8e0X7cqKImLRf3WfOVrx_yoM
Program Ramadhan Saling Berbagi di Gaza Palestina

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Ramadhan tahun ini, MER-C Indonesia melalui cabangnya di Jalur Gaza, Palestina kembali mengadakan program bantuan Ramadhan. Bantuan yang akan disalurkan berupa sembako sebanyak 1.000 paket dan bantuan makanan berbuka puasa sebanyak 1.000 paket. Bantuan disalurkan bertahap pada pekan terakhir ramadhan. “Ini adalah kegiatan rutin yang setiap tahun kita adakan melalui Cabang MER-C di Jalur Gaza, untuk membantu saudara-saudara kita di sana yang masih hidup dalam blokade ditambah adanya pandemi corona. Bantuan yang diberikan berupa 1.000 paket sembako dan 1.000 paket ifthar yang berasal dari donasi masyarakat Indonesia untuk program Kemanusiaan Gaza,” ucap dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C. “Meski bangsa kita juga sedang mengalami berbagai masalah dan kesulitan ditambah adanya wabah corona, namun kita berupaya tetap berbagi ditengah keterbatasan kita, sebagai bentuk dukungan dan perhatian kita kepada saudara-saudara kita di Gaza yang masih hidup dalam berbagai keterbatasan akibat blokade dan penjajahan zionis Israel. Semoga sedikit bantuan yang kita berikan dapat turut menguatkan dan meringankan beban mereka,” tambah dokter asal Aceh ini. Menurutnya, bantuan disiapkan dan disitribusikan oleh relawan Indonesia yang sedang bertugas di sana kepada warga Gaza yang membutuhkan. “Ada 31 relawan yang saat ini masih bertugas di Jalur Gaza yang sedang menjalankan pembangunan tahap 2 RS Indonesia,” ungkapnya. Dr. Sarbini juga menyampaikan bahwa Cabang MER-C di Jalur Gaza telah resmi berdiri dan diakui oleh Pemerintah setempat sejak 10 tahun silam, tepatnya sejak Agustus 2010. Anggotanya terdiri dari relawan Indonssia yang tengah bertugas di Jalur Gaza, Palestina untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia dibantu beberapa relawan lokal. “Cabang MER-C di Gaza sudah resmi berdiri sejak Agustus 2010 ketika proses pembangunan RS Indonesia awal dimulai. Sejak saat itu, sampai saat ini Alhamdulillah cabang MER-C di Gaza masih aktif, menjembatani komunikasi antara MER-C Pusat dengan Pemerintah dan warga Palestina di Gaza dan menjalankan baik program Pembangunan RS Indonesia maupun program kemanusiaan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan warga setempat seperti bantuan ramadhan, bantuan musim dingin, dsb ” jelas dr. Ben, sapaan akrabnya. ——- MER-C masih membuka kesempatan bagi masyarakat Indonesia yang ingin berdonasi bagi program ini melalui : Rekening Amanah Kemanusiaan GazaBCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 BSM, 700.290.5803 (a/n. Medical Emergency Rescue Committee) Info lebih lanjut:www.mer-c.orgCall Center : 0811990176
Ramadhan Saling Berbagi di Gaza – Palestina

Assalamu’alaikum Sahabat, Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Ramadhan tahun ini, MER-C Cabang Gaza kembali akan menyalurkan amanah Sahabat bagi saudara-saudara kita di wilayah terblokade Jalur Gaza – Palestina dalam bentuk : 1.000 Bantuan Paket Sembako1.000 Bantuan Paket Ifthar Bantuan akan disalurkan langsung oleh 31 relawan Indonesia yang saat ini tengah melaksanakan Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia, kepada warga Gaza yang membutuhkan. Kami masih membuka kesempatan bagi Sahabat yang ingin berdonasi bagi program ini melalui : Rekening Amanah Kemanusiaan GazaBCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 BSM, 700.290.5803 (a/n. Medical Emergency Rescue Committee) Info lebih lanjut:www.mer-c.orgCall Center : 0811990176
RS Indonesia Gaza Tambah Satu Lift Passenger

RS Indonesia Gaza yang memasuki pembangunan tahap dua menambah satu unit lift passenger. Penambahan lift passenger merupakan kelanjutan hasil pertemuan antara Tim Supervisi MER-C Jakarta dengan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza pada saat kunjungan akhir Februari 2020 lalu. Dengan penambahan ini, total lift yang terdapat di RS Indonesia menjadi 4 unit, terdiri dari 3 unit lift kapasitas daya tampung tempat tidur pasien yang sebelumnya sudah ada dan 1 unit lift passenger yang baru selesai dibuat. Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia menyampaikan bahwa meski memasuki masa pandemi corona, pekerjaan instalasi lift baru ini memang tetap berjalan dengan pertimbangan lift adalah sarana darurat yang harus dipercepat untuk pelayanan pasien di RS Indonesia. Pada akhir April 2020 pekerjaan lift passenger RS Indonesia berukuran cabin 1,2 x 1 x 2,1 meter, memiliki daya tampung 6 orang dengan daya angkut max 450 kg, akhirnya selesai. Pada awal Mei 2020, lift passenger yang berada di lantai 1 (ground) dekat ruang bedah menghubungkan hingga lantai 4 RS Indonesia telah dilakukan pengetesan. Tes meliputi pengecekan kondisi dinding kabin, kelengkapan cabin tombol, intercome cabin, kelengkapan UPS, kesesuaian spesifikasi mesin dan panel control mesin, pengecekan car door, tes level penghentian lift per lantai, tes fungsi UPS saat mati lampu dan cabin dapat bergerak ke lantai yang terdekat. “Alhamdulillah semua fungsi lift berjalan dengan baik,” ujar Edy Sementara tiga unit lift yang sudah ada sebelumnya, sudah difungsikan kembali setelah adanya pekerjaan penambahan ketinggian dari 3 lantai menjadi 5 lantai termasuk lantai basement l, menyesuaikan penambahan lantai RS Indonesia pada pembangunan tahap dua yang tengah berlangsung. Edy mengatakan, berdasarkan data dari Pihak Managemen RSI sejak awal beroperasi awal tahun 2016 sudah lebih dari 450 ribu penduduk Gaza yang berobat ke RS Indonesia. Edy berharap penambahan lift baru bisa bermanfaat untuk menambah pelayanan RS Indonesia di Gaza. Be a part of history…. Dukungan dan Donasi untuk Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia, Gaza – Palestina dapat disalurkan melalui : BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Infowww.mer-c.org+62 811 99 0176office@mer-c.orgFB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia #mercforgaza#tahap2rsindonesiagaza#kitasemuaada#rsindonesiagaza#fearnotgaza#mercindonesia#beapartofhistory#blessingforuniverse
Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia di Gaza, Kala Corona dan Bulan Suci Ramadhan

Ditengah merebaknya wabah Corona yang sudah memasuki Jalur Gaza, aktifitas pembangunan tahap dua RS Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina terus berjalan. Datangnya bulan suci Ramadhan juga tidak menyurutkan semangat relawan dalam menunaikan amanah pembangunan rumah sakit sebagai bukti cinta mendalam rakyat Indonesia untuk Palestina. Hal ini disampaikan Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia di Gaza. “Progress pembangunan RS Indonesia tidak terganggu dan terus bergerak meskipun adanya blokade Israel terhadap sejumlah material sejak beberapa bulan terakhir, ditambah merebaknya wabah virus corona yang sudah mulai masuk ke Jalur Gaza,” ujar Edy. “Alhamdulillah aktifitas pembangunan RS Indonesia amanah dari rakyat Indonesia terus berjalan. Namun dengan adanya wabah Corona, kami langsung melakukan sejumlah penyesuaian dan antisipasi di lapangan,” tambah insinyur yang sudah berpengalaman memimpin pembangunan tahap 1 RS Indonesia. “Kegiatan antisipasi yang dilakukan diantaranya adalah penyemprotan disinfektan di area Wisma Indonesia tempat tinggal relawan pada pagi dan sore hari, membatasi aktifitas relawan di/ke luar dari area RS Indonesia kecuali untuk hal-hal yang sangat darurat dan relawan fokus pada penyelesaian pekerjaan di bagian dalam bangunan RS Indonesia khususnya area lantai 3 dan 4,” terang Edy. Bulan Suci Ramadhan Tidak Menyurutkan Semangat Relawan Bulan suci Ramadhan juga tidak menyurutkan semangat relawan dalam menuntaskan pembangunan tahap dua RS Indonesia yang sudah dimulai sejak Februari tahun 2019 lalu. Edy menyampaikan bahwa kegiatan pembangunan RS Indonesia tetap dilakukan selama bulan Ramadhan dengan penyesuaian waktu aktifitas relawan. “Pada bulan suci Ramadhan, aktifitas pembangunan tetap kami lakukan selama enam hari dalam satu minggu sama seperti di luar bulan Ramadhan, yaitu dari hari Sabtu sampai dengan hari Kamis,” ujar Edy. “Hanya saja jumlah jam aktifitas pada bulan Ramadhan adalah selama 6 jam kerja, yaitu dimulai pada pukul 6 pagi hingga pukul 12 siang waktu Gaza. Sementara di luar bulan Ramadhan, aktifitas pembangunan biasanya dilakukan selama 7 jam kerja, yaitu dimulai pukul 7 pagi sampai pukul 11 siang, kemudian istirahat, lalu relawan akan melanjutkan lagi aktifitas pembangunan pada pukul 2 siang hingga jam 5 sore waktu Gaza,” tambahnya. Penyesuaian waktu ini menurutnya dilakukan agar pembangunan tahap dua RS Indonesia tetap dapat berjalan sesuai jadwal, namun para relawan juga tetap punya waktu untuk memperbanyak kegiatan ibadah di bulan suci ini. Namun suasana Ramadhan tahun ini juga dirasakan berbeda oleh relawan. Bila sebelumnya para relawan RS Indonesia selalu ikut meramaikan masjid-masjid di Gaza dan berbaur dengan masyarakat setempat pada waktu-waktu shalat, kini ditengah wabah corona semua kegiatan ibadah dilakukan oleh relawan di dalam area Wisma Indonesia. Hal ini dalam rangka mengikuti anjuran dari Pemerintah setempat. “Kegiatan Ramadhan relawan RS Indonesia di saat wabah corona mengikuti anjuran Pemerintah setempat,” ujar Edy. “Alhamdulillah kegiatan yang sudah berjalan selama beberapa hari di awal Ramadhan tahun ini diantaranya tadarus Al Quran satu hari 3 juz menjelang berbuka puasa dan shalat maghrib, shalat 5 waktu berjamaah, sholat tarawih berjamaah, shalat tahajjud berjamaah yang semuanya kami lakukan di dalam area Wisma Indonesia,” papar Edy. Info :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176 #MERCIndonesia#rsindonesiatahap2#Gaza#Palestina#beapartofhistory#LawanCorona
Dubes Myanmar untuk Indonesia Berharap RS Indonesia di Rakhine State Dapat Segera Diresmikan

Dubes Myanmar untuk Indonesia, Ei Ei Khin Aye berharap Rumah Sakit yang dibangun di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar dapat segera diresmikan dan dibuka. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, Selasa/3 Maret 2020 di Kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Dubes Myanmar Ei Ei Khin Aye memberikan apresiasi atas kedatangan Ketua Presidium MER-C untuk menginformasikan perkembangan Rumah Sakit dan mengucapkan terima kasih atas upaya pembangunan rumah sakit di Rakhine State, Myanmar. “Ini suatu hal yang mulia, membangun rumah sakit yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat di sana. Ini adalah suatu keputusan yang konstruktif,” ujarnya. Menurutnya, membangun rumah sakit di wilayah Rakhine State membutuhkan upaya yang besar. Terlebih, di wilayah Rakhine State, seperti di Mrauk U dimana rumah sakit berada, di Minbya dan sekitarnya yang hingga saat ini masih terjadi konflik antara Tentara Myanmar dan Tentara Arakan. “Kami sangat mengapresiasi dapat selesainya pembangunan rumah sakit di Rakhine State,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Ketua Presidium MER-C juga mengucapkan terima kasih atas akses, kerjasama dan kesempatan yang telah diberikan Pemerintah Myanmar untuk membangun Rumah Sakit Indonesia. “Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan akses dan kesempatan sehingga dapat membangun rumah sakit di Rakhine State dimana saat awal tidak sedikit yang meragukan program ini dapat terwujud. Namun kita lihat sekarang rumah sakit ini sudah berdiri,” ungkap Sarbini. “Kami bersyukur bisa diterima dengan baik oleh Pemerintah dan Masyarakat Myanmar. Kami bahagia menjadi bagian dari hubungan sejarah dua bangsa serta berharap rumah sakit ini dapat menjadi simbol persatuan, mempersatukan hubungan batin antara kedua bangsa,” tambahnya. Rumah Sakit Indonesia dibangun atas kerjasama MER-C, PMI dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), merupakan symbol dari kebhinekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama. Sarbini memaparkan bangunan rumah sakit sudah selesai dibangun oleh MER-C pada November 2019. Saat ini rumah sakit dalam proses pengadaan dan instalasi alat kesehatan oleh PMI. Menanggapi hal ini, Dubes Myanmar untuk Indonesia sangat berharap proses pengadaan alat kesehatan bisa cepat selesai dan rumah sakit bisa segera diresmikan dan dibuka. Sambil menyerahkan foto-foto rumah sakit Indonesia yang terdiri dari 2 lantai dengan kapasitas 32 tempat tidur, Sarbini berharap setelah penyerahan rumah sakit, hubungan kerjasama yang ada dapat terus berlanjut. “Kami berharap kerjasama yang ada antara Indonesia dan Myanmar dapat terus berlangsung meskipun rumah sakit telah diserahkan, seperti pelatihan bagi tenaga medis lokal yang akan bertugas.” Rencana pelatihan ditanggapi positif oleh Kedutaan Besar Myanmar yang akan mengkoordinasikan lebih lanjut dengan Kementerian Kesehatan Myanmar.
Supervisi Pembangunan RSI, MER-C Kembali Kirim Tim ke Jalur Gaza

Meskipun kondisi Jalur Gaza sempat memanas, MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawannya ke wilayah okupasi Israel ini. Tim yang terdiri dari 11 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu dokter, insinyur, ahli mekanikal elektrikal, ahli instrumentasi medis dan lainnya bertolak ke Kairo Mesir, negara yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza, pada hari ini Minggu pagi/16 Februari 2020. Tim dijadwalkan tiba di Kairo Mesir pada Minggu malam, dan berencana untuk melanjutkan perjalanan darat esok paginya menuju Perbatasan Rafah untuk mencoba menembus Jalur Gaza Palestina. Salah satu Presidium MER-C yang juga Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Ir. Faried Thalib mengatakan tujuan keberangkatan Tim adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza yang sudah berlangsung selama satu tahun. “Bulan ini satu tahun lalu, kami memberangkatan 32 relawan ke Jalur Gaza untuk memulai pembangunan tahap 2, yaitu membangun dua lantai tambahan untuk menambah kapasitas tempat tidur sebanyak 100 buah lagi dan melengkapi alat kesehatan tambahan karena bangunan dan 100 lebih tempat tidur lebih yang ada saat ini sudah tidak dapat menampung pasien yang datang berobat,” kata Faried. “Bulan ini tepat satu tahun proses pembangunan tahap dua telah berlangsung, untuk itu kita perlu segera melakukan supervisi,” tegasnya. Keberangkatan Tim diputuskan setelah adanya izin masuk Gaza dan izin masuk Mesir yang telah didapat oleh Tim dari otoritas setempat. “Setelah menunggu sekitar 3,5 bulan akhirnya kedua izin kami dapatkan dan kami segera memutuskan untuk berangkat ke Gaza,” kata Faried. Tim supervisi berencana bertugas di Jalur Gaza selama dua pekan. Saat ini sebanyak 29 relawan tengah bertugas di Jalur Gaza untuk menunaikan pembangunan tahap dua RS Indonesia. Waktu pembangunan diperkirakan selama 1,5 – 2 tahun, namun semuanya tergantung situasi di lapangan. “Kami memohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar perjalanan yang kami sadari tidak mudah dan penuh resiko ini, agar senantiasa diberi perlindungan, kemudahan dan kelancaran. Kami juga mohon doa bagi para relawan yang sedang bertugas di Jalur Gaza juga agar senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini ditengah berbagai krisis yang tengah melanda Jalur Gaza, juga menguatkan para keluarga relawan yang berada di tanah air. Doakan kami, doakan rakyat Palestina,” ungkapnya. Ditanya mengenai biaya yang dibutuhkan untuk merampungkan pembangunan tahap ini, Faried mengungkapkan biaya untuk bangunan dan alat kesehatan diperkirakan mencapai Rp 70 hingga 75 Milyar. Untuk itu, Faried berharap terus dukungan dari rakyat Indonesia untuk pembangunan tahap dua RS Indonesia. “Bismillah, semoga kita bisa mewujudkan pengembangan RS Indonesia sebagai bukti cinta dan dukungan dari rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina,” harapnya. Dukungan dan donasi untuk Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia
Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Diserah Terimakan

Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar diserahterimakan kepada pemerintah Myanmar melalui Kemenetrian Kesehatan dan Olahraga Myanmar di Ibukota Myanmar, Nay Pyi taw, Selasa 10/12. Hadir dalam acara serah terima tersebut, Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Dr. Myint Htwe, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Prof. Dr. Iza Fadri, Koordinator Relawan MER-C, Dr. Tonggo Meaty Fransisca, dan Kepala Kantor PMI, Sunarbowo Sandi Hardjosudiro. Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, menyatakan ucapan terima kasih dan apresiasi atas kerja PMI dan MER-C sebagai inisiator dan eksekutor pembangunan Rumah Sakit ini. “Selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi, tim MER-C yang berada di lapangan telah menghadapi banyak tantangan seperti, kendala keamanan, hujan yang terus menerus sehingga menyebabkan banjir, dan kesulitan dalam mencari pekerja dan material serta performance kontraktornya” kata Iza di Meeting Hall Kementrian Kesehatan dan Olahraga di Nay Pyi Taw. Profesor dalam bidang hukum itu juga menyampaikan penghargaan khusus kepada 4 orang tim MER-C yang telah berada di lokasi selama proses pengerjaan pembangunan hingga selesai. “Saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada empat orang pengawas dari MER-C Indonesia, Saudara Nur Ikhwan Abadi, Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto yang telah berada di lokasi sejak awal pekerjaan konstruksi pada 2017 dan membuat upaya keras untuk menyelesaikan project ini” kata Iza. Iza juga menekankan bahwa pembangunan rumah sakit ini akan membawa pesan perdamaian antar dua komunitas baik Islam maupun Budha. “Saya sangat yakin bahwa Rumah Sakit ini akan membawa pesan yang sangat penting bagi kedua agama, Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama – sama” katanya. Sementara itu Menteri Kesehatan dan Olaharaga Myanmar, Dr. Myint Htwe, menyampaikan apresiasinya kepada rakyat Indonesia. Pada kesempatan tersebut, MER-C juga diminta untuk memaparkan proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, yang diwakili oleh Nur Ikhwan Abadi, selaku Site Manager pembangunan Rumah Sakit ini. “Pada hari yang sangat berharga bagi kedua negara ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia atas Rumah Sakit ini, dan saya meyakini bahwa Rumah Sakit ini akan terus diingat dan oleh warga di Myaung Bwe Rakhine State dan akan makin mempererat hubungan Indonesia dan Myanmar” kata Myint Htwe. Ia juga menegaskan bahwa Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama-sama dan mengharapkan bahwa Rumah Sakit ini akan menjadi symbol perdamaian bukan hanya bagi warga Rakhine namun juga seluruh Myanmar. “Rumah Sakit ini sangat penting bagi kami, bukan hanya bagi warga Rakhine State, namun juga bagi seluruh negara ini” lanjutnya. Myint Htwe juga menyatakan kegembiraanya terhadap fasilitas bangunan yang dimiliki oleh Rumah Sakit tersebut. “Saya juga sangat mengapresiasi apa yang telah disampaikan oleh insinyur tadi, bahwa rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan generator yang cukup besar dari 125 KVa yang dibutuhkan, namun disediakan 220 KVA, dan juga Kamar Jenazah, Landscaping, Groundtank yang cukup besar yang artinya Indonesia memiliki visi jangka panjang bagi rumah sakit ini, karena mungkin saja ke depan Rumah Sakit ini akan dibesarkan menjadi 30 atau 50 beds” ujar menteri yang mengaku sudah puluhan kali datang ke Indonesia ini. Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia dan semua tim yang terlibat dalam pembangunan Rumah Sakit. “Saya juga ingin menyampaikan salam hangat dan terima kasih saya kepada rakyat Indonesia atas bangunan Rumah Sakit yang cukup baik ini, dan mewakili masyarakat Myaung Bway Rakhine State, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada masyarakat Indonesia, MER-C Indonesia dan semua insinyur yang telah berada hampir dua tahun di sana. Disini kita bisa membuktikan kepada dunia bahwa Muslim dan Budha bisa bekerjasama, dan pesan ini harus disebarluaskan secara luas ke seluruh dunia”.Htwe juga berharap ke depan Rumah Sakit ini akan menjadi Rumah Sakit yang modern dan semua data pasien bisa tercatat dengan baik dalam sistem komputerisasi. “Rumah sakit ini juga bukan hanya akan melayani kesehatan masyarakat, namun juga akan melayani segala aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan dan akan dirawat dengan baik dan diharapkan nantinya akan disediakan juga sistem informasi yang baik, registrasi yang sudah terkomputerisasi dan lain sebagainya, dan Kementerian Kesehatan akan menjaga dan bertanggungjawab secara penuh menjaga rumah sakit ini,” pungkasnya. Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar merupakan inisiasi dari MER-C sejak tahun 2012 lalu. Saat inisiasi ini digulirkan banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh MER-C mengingat sangat sulitnya perizinan yang diberikan oleh pemerintah Myanmar. Perizinan dikeluarkan oleh pemerintah Myanmar tiga tahun kemudian atau pada 2015 setelah melihat netralitas MER-C dilapangan. Pemerintah Myanmar bahkan memberikan lahan kepada MER-C seluas 4.000 meter persegi guna dibangun satu rumah sakit untuk dua komunitas, yaitu Budha dan Muslim. Keluarnya perizinan tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pemerintah Indonesia, Wakil Presiden RI saat itu, Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI, menyatakan kegembiraanya dan kemudian mengajak PMI dan Walubi untuk bergabung dengan MER-C mensukseskan pembanguan RS ini. Pesan perdamaian kepada rumah sakit ini akan terus disebarluaskan, semoga RS Indonesia di Myaung Bway Village, Mrauk U Township, Rakhine State menjadi simbol perdamaian bagi warga di Rakhine, Myanmar dan juga Dunia. Info:Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176