MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Ditengah Konflik, Pembangunan Fisik RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar Selesai

Setelah RS Indonesia di Jalur Gaza – Palestina, satu lagi karya anak bangsa di kancah Internasional terwujud. Kali ini di wilayah yang masih bergejolak, Rakhine State – Myanmar. Sebuah sarana kesehatan, Rumah Sakit Indonesia telah berdiri yang berada di tengah-tengah antara desa Budha dan Muslim. RS ini diharapkan dapat menjadi symbol perdamaian masyarakat setempat dan juga menjadi symbol persahabatan dua negara, Indonesia – Myanmar. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah bagian dari Diplomasi Kemanusiaan MER-C. Bukan hal mudah membangun di wilayah perang atau konflik. Namun, medis dan kesehatan adalah hal yang penting dalam kehidupan terlebih dalam situasi perang atau konflik. Itulah mengapa, di wilayah perang/konflik jangka panjang, MER-C juga menerapkan program bantuan jangka panjang. Seperti halnya di Rakhine State, Myanmar, sampai saat ini isu Rohingya masih menjadi isu utama di kawasan dan dunia. MER-C telah memberikan bantuan dengan mengirimkan Tim Medis untuk membantu korban konflik di wilayah ini sejak September 2012. Tim MER-C menjadi LSM pertama dari Indonesia yang dapat melakukan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak, baik Muslim maupun Budha. Berdasarkan hasil assessment tim saat itu, fasilitas kesehatan di kamp-kamp pengungsi yang ada masih sangat minim dan MER-C mencanangkan pembangunan sarana kesehatan yang bersifat permanen yang dapat diakses oleh kedua belah pihak. Sejak saat itu, MER-C mengirimkan Tim secara berkala dan lobby-lobby dengan berbagai pihak terus dilakukan baik dengan Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Myanmar agar rencana pembangunan RS Indonesia dapat terealisasi. Inisiasi ini mendapat sambutan positif dari Wakil Presiden kala itu, Bapak M. Jusuf Kalla. Program ini kemudian menjadi program bersama MER-C, PMI dan WALUBI dengan MER-C sebagai pelaksana mulai dari penentuan lokasi lahan, disain rumah sakit hingga pembangunan fisik. Tercatat dalam kurun waktu 7 tahun (2012 – 2019), MER-C telah mengirimkan sedikitnya 14 Tim Medis dan Konstruksi ke Myanmar dengan total jumlah relawan sebanyak 40 orang yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, insinyur, tim ahli alat kesehatan, dan tenaga teknis Khusus untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia, MER-C menempatkan 4 relawan yang terdiri dari 2 insinyur dan 2 tenaga teknis di lokasi pembangunan di Myaung Bwe village, Mrauk U township yang berjarak sekitar 160 km perjalanan darat dari Sittwe, ibukota Rakhine State. Pembangunan RS Indonesia diawali dengan pengurugan dan pemagaran lahan yang dimulai sejak Mei 2017 – Agustus 2017. Pada 19 November 2017 dilakukan peletakan batu pertama RS Indonesia yang dihadiri oleh Pemerintah Indonesia (Dubes RI di Yangon), Pemerintah Myanmar, MER-C dan Tokoh Muslim dan Budha dan menandai dimulainya pembangunan bangunan utama RS Indonesia. Pembangunan diperkirakan akan memakan waktu selama 10 bulan. Namun akibat konflik yang masih terus terjadi, cuaca ekstrim, sulitnya SDM pekerja, material,  kontraktor lokal yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaan, pembangunan RS Indonesia seluas lebih dari 2.300 m2 ini memakan waktu hingga selama 2 tahun. Bahkan pada bulan Juni 2019, konflik terjadi sangat dekat dengan lokasi pembangunan RS Indonesia antara Tentara Myanmar (Tatmadaw) dan Arakan Army (AA) terjadi dekat dengan lokasi pembangunan. Rentetan suara tembakan terdengar jelas, seketika pekerjaan terhenti, dan para pekerja berlari berlindung menyelematkan diri. Setidaknya delapan titik di atap dan dinding Rumah Sakit Indonesia bolong akibat terkena peluru, saat terjadi baku tembak antara Arakan Army (AA) sayap militer suku Arakan yang beragama Budha dengan tentara Pemerintah Myanmar (Tatmadaw – Budha). Konflik yang terus terjadi membuat sulit mencari pekerja yang berani datang ke lokasi pembangunan. Pembangunan pun terhenti karena kontraktor tidak dapat mendatangkan pekerja. Situasi yang tidak kondusif juga sempat membuat Tim MER-C di lapangan diharuskan keluar dari lokasi pembangunan oleh pemerintah setempat. Negosiasi untuk meyakinkan pemerintah setempat dan KBRI di Myanmar terus dilakukan bahwa Tim memilih tetap di lapangan karena amanah ini harus ditunaikan. Ketidakmampuan kontraktor untuk melanjutkan pembangunan karena alasan keamanan dan sulit mencari pekerja, membuat Project Manager Pembangunan RS Indonesia, DR. Ir. Idrus M. Alatas, memutuskan untuk mengambil alih seluruh pekerjaan. Sejak Mei 2019, pekerjaan pembangunan RS Indonesia dilakukan sendiri oleh Tim MER-C di lapangan yang terdiri 4 relawan. Berbekal doa dan keyakinan serta tekad yang kuat, dan terutama pertolongan-NYA yang senantiasa memberikan perlindungan dan kemudahan atas segala kendala yang ada, pembangunan RS Indonesia akhirnya selesai pada November 2019. Untuk selanjutnya pengadaan alat kesehatan akan dilakukan oleh PMI (Palang Merah Indonesia). RS Indonesia akan diserahterimakan secara resmi setelah seluruh peralatan kesehatan lengkap dan RS Indonesia bisa beroperasional memberikan pelayanan kepada masyarakat korban konflik di wilayah ini. Dengan berdirinya RS Indonesia, kami berharap masyarakat Budha dan Muslim dapat hidup rukun damai dan sama-sama mendapat akses pelayanan kesehatan yang lebih baik. RS Indonesia menjadi symbol awal bagi hubungan persahabatan dan persaudaraan jangka panjang antara Indonesia dan Myanmar. Untuk itu, MER-C bertekad bahwa program ini perlu diikuti dengan program lanjutan berupa local capacity building khususnya untuk tenaga medis lokal, pengiriman tenaga medis dari Indonesia untuk bertugas di RS Indonesia, dsb. MER-C juga siap untuk mendampingi proses repatriasi dalam bidang kesehatan. Dukungan dan donasi untuk program ini dapat disalurkan melalui :Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.1306.833Bank Central Asia (BCA), 686.028.0009Bank Mandiri, 124.000.8111.982Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 29 November 2019MER-C Indonesia | www.mer-c.org

MER-C Laksanakan Pembangunan Tahap 2 Rumah Sakit Indonesia di Palestina

Ceknricek.com — Organisasi sosial kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) tengah melaksanakan pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza, Palestina. Upaya tersebut ditempuh untuk menambah daya tampung pasien di rumah sakit terbesar kedua di Jalur Gaza itu. “RS Indonesia saat ini sudah difungsikan sebagai rumah sakit umum. Jumlah pasiennya terus bertambah dan kondisi sekarang sudah kewalahan menampung pasien yang datang berobat,” kata Luly Larissa, Head of Fundraising Division MER-C saat berkunjung ke Redaksi ceknricek.com, di kawasan Meruya Selatan, Jakarta Barat, Senin (25/11). Perlu diketahui, saat ini RS yang terletak 2,5 kilometer dari perbatasan Israel itu menjadi pusat rujukan utama bagi masyarakat di wilayah Jalur Gaza Bagian Utara. Berdiri di atas tanah wakaf seluas 1,6 hektar, bangunan RS Indonesia terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement dengan kapasitas 100 tempat tidur, 4 kamar operasi, 10 bed ICU, Ruang Radiologi, Laboratorium, Bank Darah, IGD dengan dilengkapi peralatan medis terbaik saat ini. RS Indonesia telah beroperasi sejak Desember 2015, dan secara simbolis diserahterimakan dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina, pada 9 Januari 2016. RS Indonesia diharapkan bisa menjadi bukti silaturahmi dan dukungan jangka panjang rakyat Indonesia bagi perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. “Saat ini masih dibutuhkan departemen dan layanan medis baru untuk melengkapi pelayanan di RS Indonesia seperti bedah vaskuler, unit jantung, bedah syaraf, cuci ginjal, dan sebagainya. Untuk itu kami membangun dua lantai tambahan, menambah kapasitas ruang perawatan menjadi 200 tempat tidur, serta menambah peralatan medis yang dibutuhkan,” ujar Luly menjelaskan. Luly mengakui, aktivitas pembangunan saat ini masih terus berjalan, meski sempat terjadi serangan-serangan di sekitar Jalur Gaza. Rencananya, proses pembangunan tahap 2 yang memiliki anggaran Rp75 miliar itu akan selesai dalam 1,5-2 tahun mendatang. “Mohon doanya untuk 29 relawan Indonesia di Jalur Gaza dan kelancaran pembangunan tahap 2 RS Indonesia. Rumah Sakit ini merupakan karya anak bangsa yang sepenuhnya dibangun dari donasi rakyat Indonesia,” tutup Luly. Bagi para masyarakat Indonesia yang ingin terlibat langsung dalam pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Palestina ini, dapat memberikan donasi melalui rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) Acc. No. 700.1352.061. Donasi juga bisa disalurkan melalui rekening BNI Syariah Acc. No. 081.119.2973, serta melalui Bank Central Asia (BCA) Acc. No. 686.0153678.Selain itu, donasi juga bisa disalurkan melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) Acc. No. 033.501.0007.60308, atau rekening Bank Mandiri Acc. No. 124.000.8111925, atau rekening Bank Muamalat Indonesia (BMI) Acc. No. 301.00521.15. Semua rekening terdaftar atas nama Medical Emergency Rescue Committee. Sumber : https://ceknricek.com/a/mer-c-laksanakan-pembangunan-tahap-2-rumah-sakit-indonesia-di-palestina/12631

Mencari MER-C demi Bantu Gaza

Dengan senyum bu Fatma memasuki kantor MER-C yang berada di ujung Jl. Kramat Lontar, Senen, Jakarta Pusat. Keinginannya untuk membantu saudara-saudaranya di Jalur Gaza – Palestina menghantarkannya ke kantor ini. Tertegun kami mendengar kisah bu Fatmah bagaimana perjuangannya mencari MER-C demi bisa membantu Jalur Gaza, Palestina. Bu Fatmah mengaku selama ini mendengar info tentang Gaza, Palestina dan pembangunan RS Indonesia melalui Radio Silaturahim (Rasil), sebuah radio yang selalu setia menemani hari-harinya. “Saya mendengar Rasil hampir 24 jam, dari situ saya dengar info tentang Gaza, tentang Rumah Sakit Indonesia yang sedang dibangun oleh MER-C di sana,” akunya. Sejak mendengar info tentang Jalur Gaza dan Rumah Sakit Indonesia, muncul keinginan kuat untuk turut membantu. “Saya ingin sekali ikut membantu. Tapi tidak tahu MER-C dimana,” katanya.Akhirnya ia mencoba mencari Radio Silaturahim, meski studio Rasil berada cukup jauh dari rumahnya, di Cibubur Bekasi. “Sebelumnya saudara saya sudah mencari Rasil, tapi tidak ketemu. Lalu saya ingin coba mencari lagi, dengan naik ojek motor ke sana. Alhamdulillah saya bisa ketemu radio Rasil dan dari Rasil saya mendapat brosur tentang RS Indonesia lengkap dengan alamat MER-C yang ternyata tidak jauh dari rumah saya,” kisahnya. Sambil terus bercerita, bu Fatmah kemudian mengeluarkan uang cukup banyak yang membuat kami terpana, lalu menyerahkannya kepada petugas MER-C di bagian penerimaan donasi. Menurutnya, uang itu sudah diniatkannya untuk membantu perjuangan pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza. Semoga niat ikhlas bu Fatmah membantu Gaza dibalas dengan berkali lipat lebih baik oleh-NYA. Petugas MER-C kemudian memperlihatkan kepada bu Fatmah wujud RS Indonesia lengkap dengan foto-foto, video dan juga maket RS Indonesia yang berada di kantor MER-C. “Selama ini hanya dengar dari radio, alhamdulillah sekarang bisa lihat RS Indonesia,” ucapnya dengan senyum. #Gaza#Palestina#RSIndonesiaGaza#MERCforGaza#blessingforuniverse#beapartofhistory#MERCIndonesia |www.mer-c.org|

Gaza Diserang, Suara Ledakan Terdengar Jelas dari Lokasi RS Indonesia

“Ledakan demi ledakan terdengar dahsyat #Gaza_Under_Attack” demikian kabar singkat yang kami terima siang ini (12/11) dari salah seorang relawan Indonesia yang tengah menunaikan amanah tugas pembangunan tahap 2 di Jalur Gaza, Palestina, Ir. Edy Wahyudi. Rangkaian serangan terdengar sejak sebelum subuh waktu setempat. Serangan yang dilancarkan tentara zionis Israel bahkan telah menyebabkan syahidnya seorang petinggi Jihad Islami, Bahaa Abu Al-ata, dan istrinya setelah tempat tinggal mereka di Gaza City luluh lantak akibat serangan udara tentara zionis. Syahidnya petinggi Jihad Islami, Bahaa Abu Al-ata memicu serangan balasan dari Jalur Gaza. Sampai detik ini suara-suara ledakan masih terdengar jelas dari lokasi pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara atau berjarak sekitar 2,5 kilometer dari perbatasan Israel.     Reza Aldillah Kurniawan, salah satu relawan Indonesia yang juga mahasiswa di Universitas Islam Gaza menginformasikan bahwa aktifitas belajar mengajar diliburkan oleh Kementerian Pendidikan. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa 2 warga Palestina telah menjadi korban dan 7 warga lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tentara Israel yang masih terus berlangsung hingga saat ini.  

Keikhlasan Sang Istri Kuatkan Relawan RSI di Gaza

Jakarta, MINA – Sudah enam bulan tidak terasa, 28 relawan Indonesia berada di Palestina dalam rangka melakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza. Ke-28 relawan tersebut berasal dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah dan melakukan pembangunan RSI dI Gaza di bawah Lembaga Medis Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Tidak terdengar keluhan maupun tangisan baik dari keluarganya. Padahal kondisi Palestina, khusunya di Gaza penuh dengan ancaman yang setiap waktu bisa terjadi konflik senjata. Dibalik kuat dan tegarnya para relawan, terdapat keikhlasan istri dan anak-anaknya yang selalu memberi dukungan. Hal ini ditunjukan oleh Huzaimah, istri Ir. Edi Wahyudi salah seorang relawan yang menjadi Site Manager pembangunan RSI di Gaza. Ketika ditanya tentang dorongan hati sang suami tercinta berasal dari mana sehingga rela meninggalkan keluarga untuk beramal shalih di tempat yang jauh di Gaza, sambil tersedu ia menjawab, “Barang siapa yang berbuat kebaikan maka kebaikan tersebut akan kembali kepada kita, itu lah mungkin yang membuat kami tegar dan kuat,” kata Huzaimah, saat diwawancarai Metro TV di Jakarta, Rabu (10/7). Ibu dengan empat anak tersebut juga mengatakan, menjadi jiwa relawan sudah ditanamkan sejak awal, ketika masuk pesantren Al Fatah, bahkan ia menyebut, relawan adalah juga profesinya. ” Mudah-mudahan bisa terwujud suami membantu saudara-saudara kita di Palestina dan ini juga membawa nama baik Indonesia,” jelasnya. Hal itu juga didukung oleh anak-anak mereka, karena ia juga sudah menanamkan kepada anak-anak tentang pentingnya punya jiwa penolong. “Kami sudah tanamkan sejak kecil bahwa kita harus punya jiwa menolong orang lain dan apalagi kondisi dari tempat tinggal di pesantren yang juga mendukung,” katanya. “Alhamdulillah anak-anak pun gak ada yang sampai nangis, nanya di mana Abi (Ayah),” tambahnya sambil menceritakan keceriaan dua anaknya yang ia bawa saat wawancara. Sebelum wawancara, Yayasan Media Group menyerahkan dana sebesar Rp 6.507.911.514 untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza, Palestina. Dana yang terkumpul dari masyarakat melalui Yayasan Media Group dan Metro TV tersebut, diserahkan secara simbolik oleh Ketua Yayasan Media Group, Ali Sadikin dan diterima oleh Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad. Dalam pembangunan RSI di Gaza tahap kedua ini, MER-C masih memerlukan dana sekitar Rp 75 miliar. MER-C sendiri telah bekerjasama dengan berbagai organisasi, media masa, dan start up di Indonesia untuk menggalang dana, termasuk dengan Minanews.net, Metro TV dan lainnya. (A/Sj/R01) Sumber : https://minanews.net/keikhlasan-sang-istri-kuatkan-relawan-rsi-di-gaza/

Media Group Serahkan Donasi Pembangunan RS Indonesia di Palestina

Jakarta: Media Group menyerahkan donasi pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia tahap dua di Gaza, Palestina. Media Group menyerahkan donasi berjumlah Rp6.507.911.514 kepada Lembaga Medis dan Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C). “Saya mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang mempercayakan niat baiknya mendirikan rumah sakit, dan menjadikan Media Group sebagai salah satu kawan seperjalanan untuk mewujudkan cita-cita. Kami mengucapkan terima kasih karena diberikan kesempatan menjadi orang baik,” kata Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Rabu, 10 Juli 2019. Rerie mengapresiasi kerja sama yang dibangun bersama MER-C. Ini bukan kali pertama Media Group terlibat dalam kerja kemanusiaan bersama MER-C. Sebelumnya, Media Group juga ikut membantu pembangunan RS Indonesia tahap pertama. Donasi ini dikumpulkan Yayasan Media Group dari masyarakat. Media Group merasa tergerak karena pada beberapa kesempatan juga sempat melihat langsung kondisi di Gaza, Palestina. Rerie pun berharap kerja sama serupa ini terus terjalin dengan lembaga kemanusiaan seperti MER-C. “Kita juga bisa menyampaikan dan menyiarkan kepada masyarakat bantuan tidak hanya bisa disampaikan negara dan LSM, tapi institusi media juga bisa melakukan banyak hal. Semoga apa yang dilakukan Media Group menjadi inspirasi,” kata dia. Ketua Presidium Mer-C Sarbini Abdul Murad mengapresiasi donasi yang diberikan Media Group. Ia sempat mengenang saat proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap pertama. Kata dia, banyak pihak yang meragukan rencana pembangunan rumah sakit itu. Tapi, Sarbini terbantu dengan pemberitaan di Metro TV. “Awalnya kami kesulitan, tapi itu membantu kami. Masyarakat ragu apakah mungkin bangun RS di tempat yang aksesnya sulit dari darat, laut, udara, tapi berkat berita Metro TV, masyarakat tergerak,” kata Sarbini. Sarbini mengatakan Rumah Sakit Indonesia dirancang dengan selera khas Nusantara. Nama ruangan pun sarat dengan identitas Indonesia, seperti ruangan Sumatra, ruangan Cik Di Tiro, dan ruangan Cut Nyak Dien. Awalnya, nama Rumah Sakit Indonesia akan diganti menjadi Rumah Sakit Ar Rayan, tapi MER-C menolak rencana itu. “Ini ikatan emosional masyarakat Indonesia dengan masyarakat Palestina,” kata dia. Sarbini berharap kerja sama serupa ini terus berlanjut. Apalagi, proyek kemanusiaan yang akan dibangun di Gaza, Palestina, tak berhenti pada pembangunan Rumah Sakit Indonesia. “Mudah-mudahan juga hubungan kita dengan rakyat Palestina terus berlanjut dan kita bisa meringankan beban masyarakat Palestina,” pungkas Sarbini. Donasi yang dikumpulkan selama setahun itu diserahkan secara simbolis oleh Ketua Yayasan Media Group Ali Sadikin kepada Sarbini. Dalam penyerahan itu, Ali Sadikin didampingi Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat, Chieff CSR Officer Media Group Lisa Luhur, dan Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo. Selesai penyerahan donasi, Sarbini juga menyerahkan sejumlah cendera mata kepada Ali Sadikin. Salah satunya, syal berbendera Palestina yang dikalungkan langsung kepada Ali Sadikin. (DRI) Sumber : https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/0k8DLQWk-media-group-serahkan-donasi-pembangunan-rs-indonesia-di-palestina

Relawan MER-C Iedul Fitri Bersama Muslimin Rohingya

Empat orang Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sedang melaksanakan tugas mengawasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar melaksanakan shalat Iedul Fitri 1440 Hijriah bersama dengan muslimin Rohingya, Rabu (5/6).   “Alhamdulillah, ini yang kedua kalinya kami berempat melaksanakan shalat Iedul Fitri bersama muslim Rohingya” ujar Karidi salah satu relawan MER-C asal Wonogiri.   Karidi yang juga pernah bertugas di Jalur Gaza, Palestina ini menjelaskan bahwa, shalat Iedul Fitri kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, konflik yang terjadi di Rakhine, meluas hingga mencapai lokasi RS Indonesia. “Ied kali ini sedikit berbeda, suasananya lebih mencekam, karena tiga hari sebelumnya terjadi pertempuran di dekat RSI, dan biasanya kami shalat di salah satu masjid di Kampung Muslim dekat RS Indonesia tersebut,” ujar relawan spesialis Mekanikal Electrikal ini.   Karidi menambahkan, para relawan tidak bisa shalat di tempat biasanya karena kampung tersebut dijadikan basis tentara Myanmar untuk menyerang Arakan Army.   “Kami tidak mendapatkan izin dari pihak keamanan untuk shalat Ied di kampung tersebut, karena situasi sedang tidak memungkinkan karena kampung tersebut dijadikan basis bagi 230 orang personel tentara Myanmar,” ujarnya. Para relawan akhirnya diperkenankan shalat di salah satu Masjid di Kampung Bina Para, berjarak 8 kilometer dari lokasi RSI.   “Akhirnya kami shalat di salah satu kampung yang berjarak 8 km dari lokasi Rumah Sakit, itupun kami harus hati-hati, karena tentara sedang siaga satu, berjaga-jaga di setiap sisi jalan,” terangnya.   Menurutnya perayaan Iedul Fitri Muslim Rohingya di kampung tersebut cukup sederhana, ratusan warga memulai shalat sekitar pukul 09.00 waktu setempat di dalam sebuah Masjid.   “Warga di sini sangat sederhana, shalat ied di dalam masjid sekitar pukul sembilan, ratusan warga mengikuti shalat ied tersebut, sebelum shalat mereka biasanya tausiyah dengan menggunakan bahasa lokal, untuk kemudian shalat Ied dan diikuti khutbah berbahasa arab _full_” terangnya.  Selesai shalat Ied dan Khutbah, Imam sekaligus Khatib memimpin doa, puluhan orang terlihat menagis tersedu-sedu saat doa dibacakan dalam bahasa Rohingya. Kami pun turut sedih melihat mereka menangis, meski kami tidak mengerti doa apa yang sedang dipanjatkan.   Kemudian para warga bersalaman, satu sama lain dan juga dengan para relawan. Selesai bersalaman warga keluar dan kemudian membagi-bagikan uang kepada para fakir miskin yang sudah menunggu di depan Masjid.   Nampak kebahagiaan menyelimuti warga muslim Rohingya ini, di luar halaman Masjid, banyak warga berjualan jajanan, anak-anak tua dan muda, bahagia menyambut datangnya hari kemenangan umat Islam ini. Sementara relawan diundang ke rumah salah satu warga untuk menyantap hidangan khas Iedul Fitri, makanan berupa bihun dicampur susu dan irisan kelapa. Alhamdulillah, meskipun berlebaran jauh dari keluarga, namun para relawan tetap semangat menunaikan amanah kemanusiaan pembangunan RS Indonesia di wilayah ini.   Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia

Atap dan Dinding RS Indonesia di Rakhine Bolong Terkena Peluru

Setidaknya delapan titik di atap dan dinding Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State bolong akibat terkena peluru, saat terjadi baku tembak antara Arakan Army (AA) sayap militer suku Arakan yang beragama Budha dengan tentara Pemerintah Myanmar (Tatmadaw), Minggu (2/6) lalu.   “Hari kamis ini kami baru bisa kembali ke lokasi Rumah sakit setelah Ahad lalu, terjadi pertempuran sengit antara AA dan Tatmadaw di dekat lokasi RSI, dan setelah kami cek ternyata ada setidaknya delapan titik di dinding dan atap yang bolong akibat peluru saat pertempuran kemarin” terang Ahmad Fauzi, salah satu relawan MER-C yang berada di lokasi.   Fauzi juga menambahkan ditemukan setidaknya tiga proyektil peluru di dalam lokasi Rumah Sakit Indonesia ini.   “Kami temukan 3 proyektil peluru didalam lokasi RS Indonesia, 2 diantaranya berukuran 2,5 cm dan satu berukuran 3 cm, ini cukup besar juga” terangnya. Ia menambahkan selain bangunan rumah sakit, kantor atau direksi kit di lokasi yang biasa digunakan sehari-hari untuk berkantor para relawan juga terkena tembakan.   “Ada setidaknya 3 lubang di atap kantor, saya juga heran padahal direksi kit ini terbilang rendah, dan terhalang banyak pepohonan dan bangunan, namun tetap kena juga” terangnya.   Sebagaimana diberitakan sebelumnya telah terjadi pertempuran antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) Minggu (2/6). Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truk militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA.  Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia.   Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI, dimana kampung tersebut merupakan satu-satunya kampung muslim yang diizinkan oleh pihak keamanan ketika relawan akan menunaikan shalat jumat.   Akibat selain itu, diberitakan juga ada 2 warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak. Seorang anak yang terluka saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit lama, disamping bangunan RS Indonesia.   Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Saat ini bangunan utama telah mencapai 91,5 persen dan sedang dikerjakan pekerjaan bangunan pendukung seperti, kamar jenazah, ground tank, rumah genset dan landscaping.   Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia

Baku Tembak di Myaung Bwe, Pekerjaan RS Indonesia di Rakhine Terhenti

Pertempuran terjadi antara tentara Myanmar (Tatmadaw) dan Arakan Army (AA) di dekat lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar, Minggu (2/6).   “Ahad kemarin sekitar pukul dua siang, terdengar suara rentetan senjata di dekat lokasi pembangunan RS Indonesia, pekerjaan seketika terhenti, dan para pekerja berlindung menyelamatkan diri,” kata Ahmad Fauzi, salah satu relawan pembangunan RS Indonesia.   Fauzi juga menambahkan, ketika terjadi baku tembak para pekerja yang sedang mengerjakan pekerjaan ground tank di bagian belakang berhamburan lari menyelamatkan diri.   “Tiba-tiba saja, para pekerja berhamburan keluar dari dalam galian ground tank kemudian lari keluar dari lokasi,” terang insinyur yang pernah bertugas membangun RS Indonesia di Jalur Gaza ini.   Ia menambahkan, warung-warung di sekitar lokasi RS Indonesia pun seketika tutup, situasi menjadi sangat mencekam dan warga masuk ke dalam rumahnya masing-masing.   “Warung-warung seketika ditutup, warga berlarian masuk ke dalam rumahnya menyelamatkan diri” ujar Fauzi.    Fauzi yang saat itu sedang bersama dengan seorang relawan lainnya, segera masuk ke dalam bangunan rumah sakit untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara itu, dua relawan lainnya saat itu sedang berada di Sitwee dan dalam perjalanan menuju Mrauk U.   Ditengah perjalanan keduanya mendapatkan kabar kejadian tersebut, dan meminta dua relawan yang masih terjebak di lokasi, untuk berhati hati dan sementara tidak keluar dari lokasi bangunan RS Indonesia.   “Kami meminta kepada dua relawan yang masih terjebak di lokasi RS untuk tidak keluar, sambil memastikan, jika baku tembak mereda, agar mereka segera kembali ke penginapan di Mrauk U” ujar Nur Ikhwan, salah satu relawan MER-C.   Nur Ikhwan juga menjelaskan, satu jam setelah baku tempak pertama mereda, kedua relawan akhirnya bisa kembali ke penginapan yang berjarak 16 km dari lokasi pembanguann rumah sakit Indonesia itu.   “Alhamdulillah, setelah satu jam kedua relawan bisa dengan selamat kembali ke penginapan kami,” tambahnya.   Pertempuran sengit terjadi antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) pada Minggu (2/6) kemarin. Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truck militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA.    Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut, dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia.   Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, bahkan Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI yang biasa digunakan oleh para relawan untuk shalat jumat di salah satu masjid di kampung tersebut.    Selain itu, diberitakan juga ada dua warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak.   Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan rumah sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Para pekerja takut untuk datang ke lokasi, karena suasana masih dalam peperangan. Para relawan juga diingatkan oleh warga dan pihak keamanan untuk tidak datang ke lokasi hingga keadaan menjadi aman.   Pekerjaan RS Indonesia, saat ini telah mencapai 91.5 persen memang sedikit tertunda. Berbagai kendala yang dihadapi dilapangan membuat bangunan yang harusnya sudah selesai sejak tahun lalu ini, menjadi terlambat.   Selain, cuaca, sulitnya pengiriman material, dan kendala para pekerja, faktor keamanan menjadi hal utama penyebab keterlambatan pembangunan Rumah Sakit Indonesia ini. Beberapa kali pembangunan sempat terhenti, karena situasi keamanan yang tidak bisa di prediksi.    Jika tidak ada hambatan diperkirakan bangunan RS Indonesia akan selesai dalam tiga bulan mendatang dan akan segera difungsikan.   Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia   Twitter : @mercindonesia

Warga Gaza Butuh Ruang Rawat Tambahan di RS Indonesia

Masyarakat diharap bantuannya untuk pembangunan tahap terkini RS Indonesia di Gaza. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) telah membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Namun, warga setempat masih membutuhkan penambahan sarana dan prasarana untuk di RS Indonesia. Sebab, jumlah masyarakat Palestina di Gaza yang harus dirawat di sana terus bertambah banyak. MER-C segera merespons kebutuhan warga Palestina. Dalam sebulan belakangan ini, MER-C telah meningkatkan bangunan RS Indonesia di Gaza. RS Indonesia yang tadinya memiliki dua lantai dan satu basement, kini sedang dalam pembangunan lantai ketiga dan keempat. Renovasi ini akan menambah kapasitas ruang perawatan. Presidium MER-C dr Arief Rachman menuturkan, RS Indonesia di Gaza setara dengan RS kategori A di Tanah Air. RS Indonesia memiliki empat kamar bedah dan ruang intensive care unit (ICU). Ruangan itu memiliki 10 tempat tidur yang dilengkapi alat bantu napas. “RS Indonesia juga memiliki ruangan rawat inap yang dilengkapi 80 kasur, punya CT scan generasi terbaru 120 slash, ini masih mesin terbaik yang ada di Gaza,” kata Arief saat diwawancarai di Kantor Harian Republika, Jakarta, Kamis (9/5). Bagaimanapun, pihaknya masih memerlukan penambahan fasilitas layanan kesehatan di RS Indonesia. Sebab, kebutuhan warga Palestina terus bertambah seiring dengan eskalasi perjuangan mereka melawan penjajahan Israel. Berdasarkan pengalaman, lanjut Arief, pada 2016 hingga tahun ini, pemerintah Palestina sudah bisa memetakan kebutuhan warga di bidang kesehatan. Ketika MER-C datang membawa ide dan rencana menambah bangunan RS Indonesia, otoritas setempat menyambut gembira dan langsung memaparkan ihwal kebutuhan dasar warga kepada lembaga kemanusiaan ini. Misalnya, kebutuhan akan ruang rawat inap yang lebih banyak. Sebab, dalam situasi konflik, banyak korban yang tak cukup dilayani karena ruang perawatan di RS penuh. “Operasi bisa dan lain-lain bisa dilakukan di RS Indonesia, tapi pas pasien mau menjalani perawatan tidak bisa. Kondisi seperti ini yang cukup mengganggu (membuat prihatin), akhirnya korban harus dirujuk ke RS Al-Shifa di Gaza,” ujarnya. Arief menyampaikan, pembangunan RS Indonesia tahap kedua akan menambah ruang untuk perawatan. Ruangan tersebut kurang lebih akan memiliki 80 hingga 100 unit tempat tidur pasien. Pihaknya juga akan membangun ruangan ICU khusus untuk anak-anak. Nantinya, RS Indonesia di Gaza juga akan dilengkapi dengan ruang endoskopi. MER-C pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk membantu pembangunan tahap kedua RS Indonesia tersebut. Sebab, bangsa Palestina di Gaza sangat membutuhkannya. Bagi mereka, rakyat Indonesia adalah sahabat yang selalu mendukung perjuangan melawan zionis. Sumber : https://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/pr8fgl458/warga-gaza-butuh-ruang-rawat-tambahan-di-rs-indonesia

Silahkan bertanya?