Pengecoran Kolom Lantai Tiga RS Indonesia Selesai

Alhamdulillah, puji dan syukur kepada ALLAH Yang Maha Kuasa, bahwa pengecoran kolom lantai 3 RS Indonesia yang terdiri dari 55 kolom bulat diameter 70 cm, 16 kolom kotak dimensi 50 x 60 cm dan 13 kolom 15 x 50 cm akhirnya selesai. Pengecoran yang dibantu oleh mobil pompa yang memiliki ketinggian 60 meter dan truk pengangkut beton ready mix K300, membuat pekerjaan ini menjadi lebih mudah. Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia dengan cermat memantau dan mengecek semua prosesnya untuk memastikan pekerjaan ini menghasilkan kualitas yang terbaik. Terima kasih kepada donatur, keluarga relawan dan seluruh masyarakat Indonesia yang sudah memberikan doa dan dukungannya. Be a part of history… Bantu warga Gaza… Dukung Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia… Bantuan dan Donasi dapat melalui : BSM, 700.1352.061 BCA, 686.0153678 Bank Mandiri, 124.000.8111925 BNI Syariah, 081.119.2973 BRI, 033.501.0007.60308 Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info : Website : www.mer-c.org Call center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia, @rsindonesia #beapartofhistory #tahap2rsindonesiagaza #mercforgaza #mercindonesia
Meski Situasi Mencekam, Relawan MER-C Tiba di Lokasi RS Indonesia

Meski situasi di beberapa wilayah Rakhine State masih mencekam akibat konflik yang terjadi antara Arakan Army dan Tentara Myanmar, empat relawan MER-C akhirnya tiba di lokasi pembangunan RS Indonesia yang terletak di desa Myaung Bwe, kota Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu/10 April 2019. “Sejak tengah malam hingga saat ini, terjadi pertempuran antara Arakan Army dan Tentara Myanmar. Suara tembakan, bom dan pesawat tempur terdengar jelas dari penginapan kami yang berjarak sekitar 16 km dari RS Indonesia,” ungkap Nur Ikhwan, Site Manager RS Indonesia di Rakhine State. “Helikopter masih hilir mudik di sini, suara-suara tembakan masih terus terdengar. Tadi kami ke pasar, banyak yang tutup, biasanya jam segini pasar sudah ramai,” tambahnya. Setibanya di RS Indonesia para relawan, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto langsung bekerja mengecek pekerjaan pembangunan. Pekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya adalah instalasi listrik. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). Kita berharap RS Indonesia bisa menjadi simbol persatuan warga muslim dan non muslim di wilayah ini. Dukungan dan donasi : BSM, 700.1306.833BCA, 686.0280009Bank Mandiri, 124.000.8111982 Semua rekening atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Info:Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia; @rsindonesia |Humanity for Peace||Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik|
Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State Myanmar Capai 91 Persen

Progres pembangunan bangunan utama RS Indonesia yang saat ini masih berlangsung di Rakhine State, Myanmar sudah mencapai 91 persen. Demikian pernyataan Ir. Nur Ikhwan Abadi, Site Manager pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar saat diwawancara menjelang keberangkatannya ke Yangon di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, hari ini Senin/8 April 2019. “Alhamdulillah meskipun ada berbagai kendala yang di lapangan, sebagaimana halnya membangun di wilayah konflik, pembangunan RS Indonesia di Rakhine State terus berjalan. Berdasarkan perhitungan terakhir kami, progress pembangunan sudah mencapai 91,1 %,” papar Nur Ikhwan. Pembangunan memang mundur dari jadwal yang ditetapkan, namun perlahan tapi pasti progres terus berlanjut. Nur Ikhwan Abadi berangkat ke Yangon bersama tiga relawan lainnya, yaitu Ir. Ahmad Fauzi (Site Engineer), serta Karidi dan Wanto, keduanya adalah relawan bagian sipil dan mekanikal elektrikal. Tim Konstruksi MER-C ini dapat berangkat kembali ke Yangon, setelah adanya informasi dari Kedutaan Besar RI bahwa surat izin dari Kantor Presiden, Kementerian Kesehatan dan Olahraga, serta Pemerintah negara bagian Rakhine telah didapat. Dari Yangon, Tim akan melanjutkan penerbangan dengan maskapai lokal ke Sittwe, ibu kota Rakhine State. Seiring kondisi di Rakhine State yang masih bergejolak, maka di Sittwe Tim akan berkoordinasi dengan pihak terkait di wilayah ini dan melihat perkembangan situasi keamanan. Apabila memungkinkan, dari Sittwe tim akan langsung melanjutkan perjalanan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State dengan jarak tempuh sekitar 3 jam lebih via darat. “Kami berharap bisa segera masuk ke sana untuk menyelesaikan pekerjaan instalasi listrik, sanitasi dan lantai rumah sakit,” terang Nur Ikhwan. “Apabila pembangunan bangunan utama sudah selesai, akan dilanjutkan dengan pembangunan sarana lainnya, seperti ground tank atau tempat penampungan air bawah tanah yang akan berada di belakang bangunan utama RS Indonesia. Ground tank diperlukan karena sulitnya mendapatkan air bersih di wilayah ini, sementara air bersih sangat krusial bagi operasionalisasi rumah sakit,” jelas relawan Insinyur yang juga telah berpengalaman bertugas di Jalur Gaza, Palestina. Selain ground tank, tim juga akan membangun kamar jenazah dan jembatan yang akan menghubungkan jalan raya dan RS Indonesia,” tambahnya. Ia berharap dengan jangka waktu izin yang diberikan, pembangunan RS Indonesia serta semua sarana tadi bisa segera selesai. “Kami mohon doanya dari masyarakat Indonesia,” ujar Nur Ikhwan. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). Bantuan dan Donasi dapat melalui : BSM, 700.1306.833BCA, 686.0280009Bank Mandiri, 124.000.8111982 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info:Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia; @rsindonesia |Humanity for Peace||Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik|
Pengecoran Perdana Kolom Lantai Tiga RS Indonesia Dimulai

Warna ceria menghiasi saat bunga musim semi mulai mekar. Musim semi tiba di Jalur Gaza menggantikan musim dingin dan hujan es yang berjatuhan. Rabu/3 April 2019 atau bertepatan dengan 27 Rajab 1440 Hijriyah saat umat muslim di dunia memperingati Isra dan Mirajnya Nabi Muhammad SAW, bersamaan pula dengan dimulainya pengecoran perdana kolom lantai 3 RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia di Jalur Gaza manyampaikan bahwa persiapan pengecoran dimulai setelah istirahat siang, Rabu/3 April 2019. Mobil pompa yang memiliki ketinggian 60 meter sudah siap di area RS Indonesia sejak pkl 16.20 waktu setempat. Dua puluh menit kemudian datang mobil truk pengangkut beton ready mix K300. Sekitar pukul 16.40 pengecoran Perdana pun dimulai. Pengecoran tahap pertama berlangsung hingga azan Maghrib berkumandang di kota Gaza. “Alhamdulillah, selama lebih kurang dua jam dua puluh menit, para relawan RS Indonesia berhasil melakukan pengecoran pada dua area dari delapan area struktur lantai 3 RS Indonesia,” jelas Edy. “Jumlah kolom yang dicor beton terdiri dari 15 kolom bulat diameter 70 cm dan kolom kotak dimensi 50 x 60 cm sebanyak 6 kolom. Total seluruh kolom lantai 3 adalah 55 kolom bulat diameter 70 cm, 16 kolom kotak dimensi 50 x 60 cm dan 13 kolom 15 x 50 cm. Rencana berikutnya adalah persiapan pengecoran kolom untuk dua area berikutnya,” tambahnya. Menurutnya, proses pengecoran dilakukan setelah melalui tahapan pembongkaran beton stek kolom yang lama, persiapan pembesian, “erection” atau perakitan pembesian kolom, dan pemasangan bekisting (form work) kolom. Setiap tahapan harus dilalui dengan pemeriksaan teknis yang cukup lengkap. Mengenai situasi di Jalur Gaza, Edy menyampaikan bahwa pekerjaan pengecoran masih diwarnai dengan hiruk pikuknya dengungan suara pesawat nirawak dan pesawat F16 zionis Israel di langit Gaza. Bahkan sesekali terdengar suara dentuman keras. “Walaupun demikian para relawan RS Indonesia tetap fokus bekerja menyelesaikan target pengecoran hari ini,” ujar Edy. Membangun di wilayah konflik memang berbeda dengan membangun di wilayah biasa. Ada seni dalam membangun di wilayah seperti Jalur Gaza, antara lain ketersediaan material dan kondisi keamanan di Jalur Gaza yang tidak menentu serta situasi buka tutupnya perbatasan yang tidak ada kejelasan. Untuk itu, Edy mewakili seluruh relawan Indonesia yang bertugas di Jalur Gaza memohon doa dari rakyat Indonesia untuk warga Gaza, para relawan dan kelancaran pembangunan Tahap 2 RS Indonesia. Bantu warga Gaza… Dukung terus Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia… Bantuan dan Donasi dapat melalui : BSM, 700.1352.061 BCA, 686.0153678 Bank Mandiri, 124.000.8111925 BNI Syariah, 081.119.2973 BRI, 033.501.0007.60308 Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info : Website : www.mer-c.org Call center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia, @rsindonesia #beapartofhistory #tahap2rsindonesiagaza #mercforgaza #mercindonesia
Wawancara: Pembangunan RSI di Myanmar Capai 86 Persen

Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) terus berupaya menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Rakhine State, Myanmar. Hingga hari ini, Jumat (19/3), pembangunan RSI yang dimulai sejak dua tahun lalu itu sudah mencapai 86 persen. Pembangunan RSI di Rakhine State ini adalah salah satu cara diplomasi damai yang dilakukan MER-C dalam bidang kesehatan untuk merajut kembali asa dan harapan membangun kehidupan sosial masyarakat di sana yang terkoyak akibat kerusuhan pada 2012 lalu. Pada kesempatan kali ini, Wartawan Kantor Berita MINA Rendi Setiawan melakukan bincang-bincang ringan dengan salah satu relawan pembangunan RSI di Rakhine State Bapak Karidi yang saat ini sedang berada di Jakarta untuk menelusuri lika-liku, hambatan hingga gambaran situasi yang terjadi di Myanmar. MINA: Bisa diceritakan progres pembangunan RSI di Myanmar? Karidi: Alhamdulillah sampai saat ini sudah pada tahap pengerjaan platform, pemasangan keramik juga instalasi listrik. Selain itu, pemasangan jendela di rumah sakit ini juga sudah mulai. Jadi total pembangunan kurang lebih sudah mencapai 86 persen. Jadi kira-kira kurangnya 14 persen lagi akan segera kita selesaikan. MINA: Kapan RSI ini ditargetkan rampung pengerjaannya? Karidi: Kita sebetulnya target itu selesai pada November tahun lalu. Ini sebetulnya sudah mundur dari jadwal dikarekan beberapa hal seperti masalah material dan masalah keamanan. Selain itu, iklim yang tidak menentu juga menjadi faktor lain keterlambatan ini. Sebagai contoh ketika terjadi musim hujan kemarin, atap dari RSI ini belum dipasang, jadi cukup mengganggu sekali dalam proses pengerjaannya. Proses sampai 86 persen ini insya Allah kita sudah bekerja secara maksimal. MINA: Bagaimana dengan dukungan Pemerintah Myanmar selama pembangunan? Karidi: Selama ini, komunikasi dengan pemerintah berjalan lancar. Beberapa kali mereka melakukan kunjungan untuk melihat langsung progress pembangunan. Memang untuk masalah keamanan, pemerintah Myanmar sangat ketat dalam hal ini. Tapi hal itu tidak masalah bagi kami karena memang kami di sana dalam misi membangun rumah sakit dan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sana, baik yang Muslim maupun Budha. Selama kami berada di sana untuk misi kemanusiaan, menolong yang membutuhkan, membantu orang yang memerlukan, maka kami yakin semua akan mendukung, termasuk pemerintah Myanmar, apalagi pemerintah Indonesia. MINA: Bisa dijelaskan lebih rinci mengenai masalah material dan keamanan? Karidi: Soal material, pembangunan RSI ini kan di wilayah yang terpencil, jadi beberapa peralatan seperti listrik, besi, baja dan beberapa peralatan lain yang kita butuhkan cukup sulit mendapatkan di wilayah itu, sehingga mau tidak mau kita harus mengambil dari luar wilayah. Dan ini selain sulit ditransportasi, juga membutuhkan waktu yang lama. Dari sisi keamanan, di sana itu kondisinya tidak bisa diprediksikan aman atau tidak. Sampai saat ini saja masih ada peraturan darurat militer. Aturan ini salah satunya membatasi jam kerja para pekerja maupun relawan di sana. Pada 2018 lalu, pemerintah di sana memberi kita waktu bekerja sampai jam 5 sore. Sementara sekarang kita hanya diberi waktu hingga jam 4 sore. Pembatasan waktu ini berdampak pada waktu pengiriman material-material, kita tidak bisa melakukannya semaunya. Pengiriman material ini hanya bisa dilakukan pada siang hari. Dengan situasi seperti ini, untuk sekali pengiriman saja bisa sampai tiga hari lamanya. MINA: Selain pengiriman material dan keamanan, apa kendala lainnya? Karidi: Ketika kita hendak masuk ke Rakhine State, kita harus mengurus tiga surat wajib. Yang pertama visa, ini sudah pasti. Yang kedua kita harus memiliki surat izin masuk ke Rakhine State. Untuk memiliki surat ini, setidaknya kita membutuhkan waktu hingga kurang lebihnya 10 hari. Dan yang ketiga kita harus memiliki surat izin tinggal di sana. Khusus untuk surat izin tinggal ini, kalau kita sudah keluar dari Rakhine State dan ingin kembali datang, kita harus mengurus suratnya lagi. Untuk mengurus surat ini dibutuhkan waktu kira-kira sampai tujuh pekan. Kita sadari memang di wilayah itu tidak terlalu kondusif sehingga pemerintah di sana sangat berhati-hati. Namun, kami sangat bersyukur mendapat kemudahan untuk memiliki tiga surat wajib tersebut. Kami ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Dubes RI untuk Myanmar, Iza Fadri yang telah memberikan dukungan kepada kita dalam membangun rumah sakit ini. MINA: Setelah mundur dari jadwal, lalu bagaimana target selanjutnya? Karidi: Untuk rencana selanjutnya mudah-mudahan satu bulan ke depan semuanya sudah selesai. Setelah rumah sakit ini jadi memang ada pekerjaan lagi. Kita ingin membangun area parkir, pengerjaan ground tank (penampungan air) menampung air hujan untuk keperluan kegiatan di rumah sakit dan juga pembangunan jembatan ke area rumah sakit. Itu diperkirakan membutuhkan waktu dua bulan. MINA: Pesan untuk masyarakat Indonesia? Karidi: Saya mewakili seluruh relawan ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia karena telah bahu membahu ikut berpartisipasi pada pembangunan rumah sakit ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. (W/R06/RS1) Sumber : https://minanews.net/relawan-mer-c-pembangunan-rsi-di-myanmar-capai-86-persen/
Material Besi Beton Tiba di RS Indonesia

Meski situasi di Jalur Gaza masih bergejolak dan pintu perbatasan Gaza – Israel untuk masuk barang ditutup akibat konflik terkini, pembangunan tahap 2 RS Indonesia terus berlanjut. Bahkan dengan donasi rakyat Indonesia, MER-C telah memesan material pembangunan berupa besi beton untuk membangun dua lantai tambahan di RS Indonesia. Besi beton senilai 82,667 USD atau setara lebih dari Rp 1,1 Milyar, kemarin tiba di lokasi pembangunan RS Indonesia, Rabu/27 Maret 2019. Hal ini disampaikan oleh Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia di Gaza. “Alhamdulillah ditengah situasi Gaza yang memanas dan adanya penutupan pintu perbatasan untuk material, kita masih bisa mendapatkan besi beton yang memang sangat dibutuhkan. Besi beton berbagai ukuran yang kita pesan bisa dipenuhi oleh supplier. Kemarin semuanya sudah dikirim dan tiba di lokasi RS Indonesia, di Bayt Lahiya, Gaza Utara,” ujar Edy penuh syukur. Menurutnya, besi beton akan digunakan untuk pembuatan kolom lantai 3 dan 4 RS Indonesia yang saat ini sedang berjalan, “Meski masih terjadi serangan-serangan, para relawan tetap bekerja membuat kolom lantai 3 dan 4, sambil terus memantau situasi.” Dengan penambahan dua lantai, kapasitas rawat inap RS Indonesia diharapkan bisa bertambah sebanyak 100 tempat tidur, sehingga total kapasitas rawat inap seluruhnya di RS Indonesia menjadi 200 tempat tidur. Terima kasih atas dukungan dan donasi rakyat Indonesia. Bantu warga Gaza…Bantu Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia… Bantuan dan Donasi dapat melalui : BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia #beapartofhistory#PrayforGaza#Gaza#Palestina#SavePalestine#tahap2rsindonesiagaza#mercforgaza#mercindonesia
Merah Putih Berkibar di Gaza

Pemasangan bendera merah putih dan bendera MER-C di tower Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House), kompleks RS Indonesia, Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, untuk memberikan “sign” kepada Israel bahwa ada asset rakyat Indonesia di Jalur Gaza. Seiring kondisi Gaza yang memanas, lebih banyak bendera merah putih akan dipasang di lokasi Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia. Mohon doanya untuk warga Gaza, para relawan Indonesia yang sedang bertugas di sana dan kelancaran Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia. #GazaDiserang#PrayforGaza#Gaza#Palestina#tahap2rsindonesiagaza#mercforgaza#mercindonesia
Pintu Perbatasan Gaza – Israel Ditutup

Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia di Gaza mengabarkan bahwa semua pintu perbatasan Gaza – Israel untuk masuk material ditutup entah sampai kapan. Saat ini pembangunan RS Indonesia sudah mencapai pembuatan tiang kolom untuk lantai 3. “Kami, relawan, akan tetap bekerja. Jika situasi terus memanas, beberapa pekerjaan akan kami pending dulu.” Mohon doanya bagi warga Gaza, para relawan yang bertugas di sana… Semoga pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza juga dapat tetap berjalan meski Israel menutup pintu-pintu perbatasan dan melakukan serangan-serangan. #GazaDiserang#PrayforGaza#Gaza#Palestina#tahap2rsindonesiagaza#mercforgaza#mercindonesia
Pekikan Ambulan Suara Antara Kehidupan Dan Kematian

Catatan Relawan Sesaat pada suatu tempat di Gaza gaduh oleh suara ledakan dan teriakan korban menjadi satu, dan tak lama kemudian pekikan suara ambulan datang mengikuti. Apa yang terjadi …. ? Dimana titik lokasi… ? Radio HT antar Ambulan saling memberi informasi. Ambulan segera memburu korban yang dalam keadaan antara hidup dan mati. Beberapa orang perawat dari mobil ambulan berlarian memapah korban ke atas bed Ambulan, bed pasien didorong masuk dan pintu mobilpun ditutup. Sirine Ambulan memekik membelah suara gemuruh yang tersisa. Gemuruh akibat ledakan oleh Zionis Israel yang meninggalkan korban-korban bergelimpangan Ambulan berlari kencang, semakin kencang dan semakin kencang menerbangkan debu-debu yang dilewatinya. Pekikan ambulan suara antara kehidupan dan kematian. Suara sepatu petugas ambulan yang menghantam lantai RS Indonesia (RSI) terdengar begitu nyaring. Tempat tidur berjalan (Bed) ambulan didorong sangat cepat seiring dengan berlariannya petugas tersebut membawa korban ke Ruang Gawat Darurat RSI. Tembok terkupas, keramik terlepas, kayu pembatas terkoyak, engsel pintupun sebagian terlepas terhantam gesekan bed ambulan. Yalla…. Bi syur’ah…! Bi syur’ah….! (ayo… cepaat…. Cepaat….) teriakan-teriakan dokter untuk mempercepat lari para perawat petugas ambulan mendorong tempat tidur ambulan dengan dibarengi suara erangan kesakitan korban yang dibawanya. Air mata, darah dan keringat berjatuhan di lantai RSI. Tidak ada satu jengkal tanah di Gaza yang dikategorikan aman. Tidak ada satu detikpun waktu di Gaza dikategorikan kondusif. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada menit berikutnya kecuali Allah Tuhan semesta alam. Tahun 2019 Relawan RSI didatangkan kembali oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) ke Jalur Gaza. Selain untuk membangun penambahan dua lantai RSI juga perlu mengagendakan perbaikan kerusakan-kerusakan terutama jalur antara tempat jalur masuk Unit Gawat Darurat, jalur ruang Operasi hingga jalur ke Ruang ICU RSI. Kerusakan-kerusakan pada dinding, kayu pengaman dinding, keramik dinding, pintu dan aksesorisnya. Tahun 2019 RSI berharap kembali doa dan dukungan rakyat Indonesia. Edy Wahyudi Dari Jalur Gaza PalestinaSite Manager RS Indonesia GAZA, Kami Kembali… Dukungan dan Donasi untuk Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia, Gaza – Palestina dapat disalurkan melalui : BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia #mercforgaza#tahap2rsindonesiagaza#beapartofhistory#mercindonesia
Relawan RSI Utamakan Sholat & Kelamatan Kerja

Saat hening dan dingin di sepertiga malam yang akhir terdengar suara sayup isakan tangis dan alunan Al Qur’an. Para relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Jam 3 pagi sudah bergegas melawan kantuk dan rasa dingin yang menggigit untuk sholat tahajud atau qiyamul lail mengadukan diri kepada Sang Ilahi. Saat Adzan Subuh menggema ke “seantero” kota Gaza. Para relawan terpanggil untuk mendatangi Masjid. Disaat terduduk menunggu iqomah Sholat Subuh tampak di dinding Masjid thermometer digital cuaca menunjukkan sekitar 12 derajat celcius. Pantas ujung jari-jari terasa dingin menjalar ke seluruh tubuh akan tetapi para Relawan tetap hangat terlihat dari sinar wajah-wajah mereka ketika berdoa antara adzan dan iqomah mencari waktu yang makbul dalam berdoa. Utamakan Sholat dan keselamatan kerja …… Utamakan Sholat adalah semboyan para relawan RSI menjaga keselamatan diri dengan sholat secara berjamaah di Masjid. Utamakan Keselamatan Kerja adalah juga keutamaan dalam kehati-hatian dalam bekerja. Dokter Arif salah satu presidium MER-C terus mengingatkan kepada Site Manager RS Indonesia di Gaza Palestina agar melengkapi para relawan RSI dengan APD (Alat Pelindung Diri). Beliau berharap para relawan saat kembali ke tanah air tidak mengalami cacat akibat kecelakaan kerja. APD adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja beramal sholih membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza Palestina. Kelengkapan yang digunakan antara lain : “Safety Helmet” yang berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung “Safety Shoes” Sepatu yang dilapisi besi di ujung jari mencegah kecelakaan fatal yang mengenai kaki akibat kejatuhan benda keras. “Respirator” Masker berfungsi sebagai penyaring udara di lokasi pembangunan dengan kualitas udara kurang baik antara lain debu dan serpihan material. Sarung tangan kerja, “Safety Harmes” Tali pengaman, “Ear Plug” penutup telingan dari suara yang super bising, “Safety Glasses” kaca mata pengaman sebagai pelindung mata ketika bekerja baik yang terang maupun yang gelap untuk pekerjaan las, dan lainnya. Semua jenis APD harus sudah digunakan para relawan RSI mulai briefing pagi yaitu jam 6.45 pagi hingga selesai jam beramal sholih di sore hari. Digunakan sebagaimana mestinya sesuai standard Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3L). Dokter Arief Rachman menambahkan : “APD wajib dipakai saat kerja dan menjadi standar keselamatan, agar menjadi contoh bagi pekerja lokal.” Edy Wahyudi Relawan RS Indonesia di Jalur Gaza GAZA, Kami Kembali… Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia #mercforgaza#tahap2rsindonesiagaza#beapartofhistory#mercindonesia