MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Meminta Pameran dan Museum Holocaust di Minahasa Ditutup

Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad menyayangkan diselenggarakannya pameran foto sejarah Holocaust dan pembukaan Museum Holocaust di Indonesia pada Kamis/27 Januari 2022. Sarbini juga meminta kegiatan tersebut dihentikan dan museum yang berlokasi di Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara yang dibangun oleh pengusaha Indonesia berdarah Yahudi, Yaakov Baruch segera ditutup serta aktifitas-aktifitas serupa lainnya dilarang di Indonesia. “Ini adalah langkah-langkah yang secara tidak langsung merupakan upaya membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ini prolog yang ingin disampaikan oleh orang-orang Yahudi minoritas bahwa ada peristiwa Holocaust menyedihkan yang pernah dialami bangsa Israel. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia bahwa Israel adalah bangsa yang tertindas dan menderita,” ujar Sarbini. Walaupun Holocaust memang ada, namun menurutnya masih menjadi perdebatan sejarah mengenai jumlah orang Yahudi yang menjadi korban “Mereka ingin mengetuk dan membuka hati rakyat Indonesia dengan informasi-informasi semacam ini. Targetnya diharapkan ke depan rakyat Indonesia tidak akan menolak pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel,” katanya. Sarbini juga meluruskan bahwa kita bukan memusuhi warga Yahudi. Namun yang kita tentang adalah paham Zionisme yang identik dengan kolonialisme dan rasialisme. Menurut Sarbini, justru yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, “Israellah yang tengah melakukan Holocaust terhadap rakyat Palestina!”. Untuk itu, ia berharap Pemerintah Indonesia konsisten dengan dukungan dan pembelaan terhadap Palestina, yang berarti hal-hal seperti ini harus dianggap sebagai suatu aktifitas ilegal. “Pendirian museum dan pameran foto Holocaust yang berlangsung di Minahasa melukai sejarah dan perjuangan rakyat Indonesia yang selama ini selalu bersama Palestina dan mendukung perjuangan bangsa Palestina,” ungkapnya. “Pemerintah Indonesia jangan di satu sisi membela Palestina, namun di sisi lain membiarkan ada orang-orang yang melakukan upaya-upaya yang bertentangan dengan aspirasi pemerintah dan rakyat Indonesia untuk Palestina. Pemerintah harus melarang aktifitas-aktiftas serupa di Indonesia,” harapnya. Sarbini juga menyayangkan kehadiran Duta Besar Jerman untuk Indonesia pada acara tersebut. “Tidak tepat kehadiran Dubes Jerman karena Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan rakyat Indonesia mendukung perjuangan Palestina. Jangan sampai hal-hal seperti ini mengganggu hubungan dengan rakyat Indonesia,” ujarnya. Sekali lagi Sarbini juga mengingatkan agar pemerintah dan rakyat Indonesia jangan sampai kecolongan, “Museum Holocaust dan Pameran Holocaust harus ditutup,” tegasnya.

Saran MER-C untuk Proses Relokasi Pengungsi Semeru, Belajar dari “Permasalahan Relokasi Sinabung dan Merapi”

Siaran Pers Kembali MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia mengirimkan tim untuk membantu pada fase rehabilitasi erupsi Semeru, 14 Januari 2022. Tim terdiri dari tujuh orang relawan, yaitu dr. Yogi Prabowo, SpOT(K), Ir. Faried Thalib, dr. M. Hardian Basuki, SpOT(K), dr. Muhammad Zuhdi, Iis Islamiah, Marissa Noriti, dan Izzati Rozi Zulmi. Turun dengan tim rekonstruksi berkoordinasi dengan Pemda Lumajang untuk memberikan asupan dalam proses relokasi pengungsi dan meninjau tempat rencana relokasi di desa sumber mujur untuk ikut serta dalam pembangunan faskes di lokasi tersebut. Keinginan kuat Pemda Lumajang untuk tidak mengulangi kegagalan relokasi pengungsi terlihat dari upaya yang serius dalam perencanaan pembangunan huntara (hunian sementara)/huntap (hunian tetap) lengkap dengan fasilitas umum seperti sarana ibadah, sekolah dan fasilitas kesehatan. Belajar dari permasalahan relokasi Sinabung, dimana erupsi yang berkelanjutan dan berulang, membuat upaya penanggulangan bencana khususnya medis menjadi kronis. Setidaknya butuh waktu lebih dari 6 hingga 8 tahun sejak dari tahun 2010 upaya relokasi menemukan banyak hambatan, bahkan menimbulkan secondary disaster berupa konflik sosial antara pengungsi dan masyarakat lokal di daerah relokasi. Sedangkan di Merapi, terkendala mempertahankan mata pencaharian dan budaya lokal yang begitu kuat, menyebabkan para pengungsi kembali ke daerah terdampak. Huntara-huntara yang sudah dibangun ditinggalkan menjadi kurang berguna . Beberapa hal yang mesti diantisipasi dalam relokasi pengungsi: 1. Aspek hukum, legal formal status tanah dan pemanfaatan lahan tempat relokasi. Perlu upaya hukum yang serius dalam memperjelas status tanah relokasi 2. Aspek budaya lokal, psikososial, tanah adat leluhur. Perlu pendekatan sosiokultural yang agresif dalam proses relokasi. Pendekatan tidak hanya kepada pengungsi, namun juga kepada penduduk di sekitar tempat relokasi agar bisa menerima kehadiran pengungsi 3. Aspek ekonomi, mata pencaharian para pengungsi. Dicarikan lokasi dimana mereka bisa mendapatkan mata pencaharian yang sesuai sebelumnya 4. Aspek tehnik, geografis, ekologis dan lingkungan. Kestabilan lahan, zona yang aman dari aliran lahar dan awan panas, keterjangkauan lokasi dengan transportasi, proses evakuasi penyelamatan juga menjadi pertimbangan. Tersedianya fasilitas-fasilitas umum seperti rumah ibadah, pasar, sekolah, fasilitas kesehatan. 5. Aspek kesehatan. Pengungsi adalah kelompok masyarakat mempunyai resiko terabaikannya kesehatan. Selain masalah sanitasi (mandi, air minum, tempat pembuangan dll), kelompok rentan seperti Balita, Bumil dan menyusui, geriatri atau orang tua, serta para penderita penyakit kronis (kanker, gagal ginjal, dll) juga akan terancam timbul morbiditas atau mortalitas. Oleh karena perlu dilakukan identifikasi resiko dan upaya mitigasi kesehatan yang komprehensif. Oleh karena itu, salah satu konsep relokasi dengan menggunakan konsep seperti transmigrasi yang pernah dilakukan zaman orde baru, dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Salam, Dr. Yogi Prabowo, SpOT(K)Presidium MER-C    

Siaran Pers : Kemenangan taliban dan Rencana MER-C untuk Afghanistan

Peristiwa penguasaan wilayah dan pengambil alihan kepemimpinan oleh Taliban di Afghanistan turut menjadi perhatian MER-C. Dr. Sarbini Abdul Murad, selaku Ketua Presidium MER-C memberikan pernyataan pers terkait hal ini dan rencana MER-C ke depan sebagai sebuah organisasi yang mempunyai pengalaman melakukan misi kemanusiaan di Afghanistan pada tahun 2001 dan 2002. “Kita ketahui bersama bahwa baru-baru ini Taliban telah menguasai Kabul dan tanggal 31 Agustus Amerika meninggalkan bandara dan praktis pada kesempatan ini semua dikuasai oleh Taliban. Kami perlu memberikan keterangan pers karena MER-C mempunyai pengalaman bekerja di Afghanistan dalam aktivitas kemanusiaan pada tahun 2001 dan 2002,” ungkap Sarbini. “Oleh sebab itu, kami akan memberikan beberapa hal penting. Ini adalah masukan untuk kita semua dan kita harapkan Afghanistan lebih bagus, lebih stabil dan lebih berwajah kemanusiaan,” tambahnya. Sarbini yang pernah bertugas sebagai relawan medis MER-C untuk Afghanistan membahas mengenai stigma yang dilabelkan pada Taliban yang terkesan kurang baik dan menjelaskan pendapatnya mengenai Taliban. “Perlu diketahui bahwa dunia internasional atau sebagian dari Indonesia melabelkan Taliban dengan stigma yang kurang baik, kurang bagus, dan ada beberapa hal yang menurut pandangan kami Taliban sendiri harus memperhatikan masukan atau kritikan dari dunia internasional atau beberapa pihak. Yang pertama adalah dunia internasional mengkhawatirkan terjadinya diskriminasi terutama pada etnis minoritas, kemudian terjadi penekanan terhadap kebebasan sipil, kebebasan wanita dan demokratisasi. Ini yang dikhawatirkan oleh pihak-pihak internasional,” ujarnya. Menurutnya, kekhawatiran ini karena ada trauma sejarah yang dialami sekitar tahun 2000-an dimana ketika Afghanistan dikuasai oleh Taliban terjadi kekerasan. Ini yang menjadi trauma sampai dengan hari ini. Lebih lanjut Sarbini menyampaikan bahwa kita harus memberikan kesempatan kepada Taliban dan menjauhkan framing. “Kita harus memberikan kesempatan kepada Taliban untuk membentuk pemerintahannya dan kita menjauhkan framing yang seakan-akan Taliban sama seperti yang pernah mereka lakukan pada tahun 2000,” ungkapnya. Sarbini mengharapkan adanya pemerintahan yang inklusif dan juga menyebutkan bahwa Taliban mesti belajar dari Indonesia karena Indonesia mempunyai pengalaman yang cukup dalam melakukan manajemen konflik sehingga menurutnya Indonesia bisa bekerja sama dengan Taliban. “Oleh sebab itu, kita mengharapkan adanya pemerintah yang inklusif dimana Taliban harus melibatkan semua pihak, semua tokoh, dan semua etnis. Sehingga kita harapkan ada stabilitas politik di Afghanistan, ada stabilitas ekonomi di Afghanistan sehingga berjalan pemerintah yang efektif. Selanjutnya, Taliban mesti belajar dari Indonesia. Kita ketahui bahwa Indonesia punya pengalaman yang cukup dalam melakukan manajemen konflik. Oleh sebab itu, saya pikir pemerintah Indonesia bisa bekerja sama dengan Taliban untuk mengirimkan tim asistensi diplomat-diplomat kita yang hebat untuk memberikan masukkan kepada Taliban sehingga nanti mereka dalam mengelola negara atau mendirikan pemerintahan akan melibatkan semua pihak dan pemerintahan akan dijalankan lebih efektif,” ujarnya. Dalam pernyataan persnya, Sarbini juga menjelaskan mengenai keikutsertaan dan rencana MER-C ke depan sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah bekerja di Afghanistan dalam membantu Afghanistan apabila pemerintahan telah terbentuk dan berjalan secara efektif. “Selanjutkan MER-C sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah bekerja di Afghanistan dan pernah diminta oleh pihak Afghanistan terutama pihak departemen kesehatan untuk mendirikan rumah sakit di Afghanistan, maka apabila pemerintahan telah terbentuk dan efektif, insya Allah MER-C akan membantu Afghanistan di bidang kesehatan, apakah itu ambulans, klinik atau rumah sakit. Insya Allah ini menjadi perhatian MER-C ke depan,” tambahnya.   Berikut link Vidio Siaran pres : https://youtu.be/0QSpAJN877g   Jakarta, 3 September 2021 MER-C Indonesia

Kecerdasan Sosial Diperlukan untuk Pengelolaan Bencana Pandemi Covid-19

Banyak permasalahan sosial timbul akibat kegagalan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, sehingga antara masyarakat, pemerintah dan nakes tidak bisa berjalan sinergis bahkan sering bertolak belakang. Sikap dan pandangan mereka tidak sama, ada yang sangat ketakutan, ada yang biasa-biasa saja dan malah ada yang “menantang” Covid-19 itu sendiri. Polarisasi sikap-sikap ini adalah hasil pengelolaan yang sudah keliru sejak awal, sehingga antara nakes, masyarakat dan pemerintah memiliki keyakinan masing-masing. Nakes keseharian bertemu dengan pasien Covid-19 mulai dari yang ringan hingga yang berat. Banyaknya nakes yang wafat cukup menimbulkan psikotrauma bagi nakes. Untuk ini sikap nakes pun terbelah tergantung pada level dampak psikotrauma yang ditimbulkan. Nakes yang sudah lelah menghadapi pasien Covid-19 yang tidak berhenti-berhenti mengalir ke prakteknya akan bertambah psikotraumanya ketika melihat masyarakat abai dalam menjalankan prokes dan akan cenderung merekomendasikan LOCKDOWN ketimbang solusi yang lain. Namun ada juga nakes yang berupaya meraba rasakan kesulitan yang terjadi di masyarakat itu sendiri dan memahami untuk mencari solusi. Di sisi lain masyarakat juga terbelah sikapnya. Ada yang ketakutan berlebihan akibat melihat kerabat, teman yang terkena Covid-19 yang berat lalu meninggal. Sementara ada yang menganggap Covid-19 itu biasa saja karena mereka melihat kerabat, kawan kena Covid-19 yang ringan akan sembuh sendiri, hngga malah ada yang menantang karrna menganggap Covid-19 itu bohong, sebab mereka melihat yang kena Covid-19 baik-baik saja. Apalagi mereka disuruh lokdon yang akan mengganggu ekonomi mereka, maka timbullah “perlawanan”, berkembanglah pemikiran-pemikiran “liar”  ke berbagai arah mengkait-kaitkan dengan berbagai aspek seperti politik, dll. Situasi pelayanan medis diperburuk dengan sikap-sikap ketakutan dan panik yang membuat mereka dikit-dikit datang berbondong-bondong memenuhi IGD dan RS, menyebabkan overload RS dan gagal pelayanan. Sebenarnya bagi penderita Covid-19 yang ringan akan banyak bahaya dan kerugiannya bila datang ke IGD atau RS, yaitu: 1. Apabila pasien Covid-19 banyak berkumpul, akan menyebabkan “viral load” di ruangan tersebut tinggi, malah akan bisa memperburuk resiko infeksinya; 2. Nakes akan kehilangan fokus dalam mengelola pasien karena banyaknya pasien sehingga bisa timbul kelalaian; 3. Pasien-pasien yang non Covid-19 bisa tertular Covid-19; 4. Resiko nakes terinfeksi akan lebih tinggi sehingga akan membahayakan pelayanan menyebabkan gagal atau kolapsnya pelayanan. Egoisme yang timbul hanya akan berdampak buruk dan menyebabkan KARAMnya kapal pelayanan. Membiarkan situasi “head to head” antara nakes dan masyarakat ini dimana keduanya adalah termasuk “korban bencana” yang sama-sama mengalami psikotrauma, hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan, perang medsos berkepanjangan. Contoh teranyar adalah kisruh Covid-19 di Madura. Sejatinya secara etika para “korban bencana” ini jangan dibiarkan “head to head” yang akan menyebabkan SECONDARY DISASTER. Namun perlu dikelola dengan kecerdasan sosial yang mumpuni. Kisruh seperti di atas harusnya bisa dijembatani dengan melibatkan ulama, karena karakter orang madura yang taat kepada ulama. Harusnya ulama jangan hanya didekati dan dilibatkan ketika menjelang pilpres, tetapi juga libatkan, masukkan ke dalam satgas Covid-19. Pertanyaannya siapa yang mengelola tersebut? Harusnya pemerintah bisa memposisikan diri, organisasi profesi, organisasi masyarakat, dll. Mereka harusnya menahan ego, bersatu, bahu membahu menyusun langkah strategis dan nyata dalam menghadapi situasi. “Dilalah“nya malah diantara mereka juga sering tidak sejalan. Pemerintah dengan “tugas politik” nya kerap mengabaikan masukan-masukan dari para pakar. Di sisi lain organisasi profesi kerap mengambil sikap “All or None” tak mau kompromi terhadap situasi, memberikan anjuran ekstrim tanpa mencermati aspek lain dalam masyarakat. Misalnya; polemik sekolah tatap muka, tanpa solusi cerdas. Para organisasi profesi ini harusnya jangan berperan hanya sebagai WAKIL yang mewakili suara para nakes yang terdampak bencana, tapi harus bisa lebih menjadi JEMBATAN komunikasi baik itu ke masyarakat ataupun pemerintah. Sehingga bisa duduk bareng, mengukur resiko dan menghasilkan solusi jalan tengah yang nyata. Oleh karena itu, mari kita kedepankan “kecerdasan sosial”  kita dalam mengelola pandemi ini. Salam Cerdas Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Relawan dan Presidium MER-C

MER-C Lantik Pengurus Cabang Surakarta periode 2021-2023

MER-C Indonesia menggelar acara Pelantikan Pengurus MER-C Cabang Surakarta periode 2021-2023, Sabtu/19 Juni 2021. Di tengah situasi pandemi, pelantikan pengurus dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom meeting. Acara dihadiri oleh perwakilan MER-C Pusat dan pengurus baru serta relawan MER-C Cabang Surakarta . Mewakili Presidium MER-C Indonesia, dr. Arief Rachman, SpRad memberikan ucapan selamat mengemban amanah tugas kepada para pengurus MER-C Cabang Surakarta yang baru dilantik. Dalam sambutannya, salah satu anggota Presidium MER-C ini mengingatkan bahwa setiap pengurus akan memiliki periode up and down dan tugas besar bersama adalah masalah kaderisasi. “Setiap pengurus ada periode up and down. Ada pengurus yang bagus dalam capaian kerja dan pengkaderan, ada yang flat saja dengan kegiatan rutin dan kaderisasi yang terhambat. Ini menjadi PR dan perhatian kita bersama baik di pusat maupun cabang,” tandasnya. Ia juga menyampaikan bahwa di MER-C sendiri ada kategori relawan yang turun lapangan dan tidak turun lapangan. “Di kala lama kita tidak bisa ikut turun lapangan karena kesibukan kuliah, kerja, dan sebagainya, tetaplah menjadi relawan dan membantu serta mendukung kegiatan kemanusiaan dalam bentuk lainnya, jangan malah merasa tidak enak untuk aktif kembali,” tambahnya. Sementara itu, dr. Panji Arga Bintara selaku Ketua Umum MER-C Cabang Surakarta yang baru dilantik, dalam kesempatan tersebut mengajak pengurus dan relawan MER-C Cabang Surakarta untuk bersama-sama membangun MER-C Cabang Surakarta sehingga bisa memberikan manfaat untuk umat pada umumnya. “Seiring berjalannya waktu, ada periode up and down tadi, tinggal bagaimana kita kembalikan pada niat awal kita sebagai relawan. Karena niat adalah pegangan utama bagi kita untuk melakukan suatu perbuatan. Ketika kita merasa lemah, jenuh, bosan, dan sebagainya, kembalikan lagi kepada niat awal kita masuk MER-C. Mari kita bersama-sama membangun MER-C Cabang Surakarta dan memberikan manfaat bagi umat pada umumnya,” ungkapnya. Acara pelantikan ditutup dengan doa bersama.

Bagaimana Setting Isolasi Mandiri di Rumah ?

Covid-19 ramai lagi, jangan terperosok masuk lubang yang sama. Belajar dari pengalaman lalu. Psikotrauma yang ditimbulkan oleh Covid-19 banyak mengenai nakes dan masyarakat. Nakes cenderung stress apabila praktik atau RS-nya dibanjiri oleh pasien Covid-19, sehingga sering terbawa situasi panik dan irrasional. Adanya media sosial berkontribusi menyebarkan keresahan dan ketakutan terhadap Covid-19 ini sehingga masyarakat juga akan panik. Salah satu indikatornya adalah angka okupasi tempat tidur RS dan penuhnya IGD atau kegagalan tutupnya IGD dan RS akibat nakesnya banyak tertular. Tentu saja akan menyebabkan gagal pelayanan terhadap masyarakat. Hal ini disebabkan KURANGnya manajemen kontrol komunitas dalam hal DISASTER TRIAGE dan DISTRIBUSI PASIEN Covid-19. Kontrol komunitas BUKAN hanya terpaku pada 3T dan LOCKDOWN saja. Tapi juga manajemen massal korban dan upaya mitigasi.   Satu yang dilupakan adalah ISOLASI MANDIRI TERPANTAU (Isomantau), yang sudah terbukti AMAN dan NYAMAN bagi pasien dan nakes. Memang ada kriteria yang harus dipenuhi untuk tempat isolasi, tetapi upaya mitigasi itu dinamis bisa dilakukan di berbagai setting tempat, yaitu: 1. Kalau rumah Anda ada 2 lantai, maka Isomantau bisa dilakukan di lantai 2; 2. Kalau rumah anda tidak 2 lantai, maka anda bisa melakukan di dalam kamar (kalau bisa ada jendela) dan Anda harus selalu memakai masker. Secara psikologi Anda akan merasa lebih nyaman, bisa dekat dengan keluarga, bisa masak mie, bisa ngopi bahkan bisa berjemur. Dan yang lebih penting adalah “viral load” atau kadar virus di ruangan tersebut akan lebih rendah ketimbang di RS dimana banyak pasien Covid-19. Untuk memantau perkembangan kesehatan Anda, maka laporkan ke RS atau faskes terdekat dengan WA atau video call.   Jaga kesehatan fisik, minum vitamin, cukup istirahat, jaga kesehatan psikis. Kalau ada perburukan baru Anda ke RS atas instruksi dokter. Salam Cerdas Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Relawan & Presidium MER-C

Bagaimana Menyalurkan Solidaritas dan Membangun RS di Palestina ?

Serangan Israel di penghujung bulan Ramadan dan Idul Fitri terhadap Palestina membangkitkan reaksi warga negara Indonesia dan Internasional. Solidaritas dunia diwujudkan dalam bentuk kepedulian ingin membantu donasi kepada Palestina. Hal tersebut membutuhkan wadah penyaluran bantuan yang amanah dan memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai. Untuk menyalurkan bantuan ke Palestina tidaklah mudah, apalagi ke Gaza. MER-C membutuhkan waktu 5 tahun untuk merampungkan pembangunan RS Indonesia di Gaza sampai diresmikan pada tahun 2016 oleh Pak Jusuf Kalla sebagai wakil dari pemerintah. Hingga kini genap 5 tahun RS Indonesia di Gaza memberikan banyak manfaat bagi warga Gaza untuk menolong korban-korban konflik dan peperangan. Suka duka pembangunan RS Indonesia di Gaza begitu mewarnai perjuangan relawan MER-C. Mulai dari pengumpulan donasi yang berasal dari seluruh rakyat Indonesia baik yang miskin hingga yang kaya, dari majlis taklim, ibu-ibu arisan, tabligh akbar, hingga gereja-gereja ikut mendonasikan. Kisah-kisah anak-anak sekolah SD, SMP yang mengumpulkan uang recehan untuk disumbangkan, tukang-tukang kaki lima yang ikut menggalang dana demi terwujudnya RS Indonesia di Gaza. Pembangunan RS Indonesia adalah pertolongan Allah SWT semata, bukan karena kehebatan manusia. Tak terbayangkan membangun RS di Gaza, suatu tempat yang diisolasi dan penuh dengan konflik. Untuk masukpun tidak mudah apalagi membangun RS. Untuk datangnya pertolongan Allah SWT tersebut tentu ada syaratnya, keikhlasan, kesungguhan, upaya keras, menjaga amanah harus dilakukan. Para sukarelawan harus “stay” di dalam 1 – 2 tahun untuk melakukan dan mengawal proses pembangunan. Proses pembangunan dimulai dengan melakukan lobi yang alot kepada pemerintah Palestina di Gaza. Rasa curiga warga Gaza yang tinggi terhadap orang asing yang baru masuk membuat upaya tidak mudah. Bisa dipahami mengapa rasa curiga mereka tinggi. Selain banyak spionase yang menyamar organisasi kemanusiaan, juga banyaknya orang-orang yang “jualan” penderitaan rakyat Gaza untuk menarik donasi tanpa jelas penyaluran amanahnya. Mereka ini para broker, bisa perorangan solo karir, bisa juga berupa organisasi. Sementara itu mereka tahu bahwa animo warga dunia untuk membantu Palestina sangat besar, namun tidak bisa masuk ke Gaza atau Palestina. Alhamdulillah MER-C sudah melalui ujian tersebut dan mendapatkan tempat di hati warga Gaza, karna wujud nyata bantuan berupa RS megah di Gaza. Untuk mendapatkan tanah tempat dibangunnya RS juga memerlukan lobi yang alot. Tidak akan bisa kalau kita hanya transfer dana mempercayakan kepada orang lokal untuk mewujudkan RS. Tarik menarik, tawar menawar mulai dari posisi tanah, status tanah, tender pekerjaan dll harus dihadapi dengan keteguhan hati dan tekad membaja. Setiap pekerjaan harus dikawal sendiri oleh para sukarelawan, walaupun ada juga memperkerjakan orang lokal Akhirnya alhamdulillah di penghujung tahun 2015 RS tersebut rampung, menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Jadi sebagai hikmah pelajarannya dalam mendonasikan dan membangun apapun di Palestina : 1. Harus “stay” di dalam Palestina, mengawal2. Jangan menggunakan broker-broker solo karir tanpa audit atau organisasi yang banyak beriklan sementara tidak ada wujud nyata bantuan3. Mengetahui situasi geopolitik di Palestina, status kepemilikan tanah dll4. Berjamaah, bahu membahu dengan para sukarelawan5. Niat ikhlas, tangguh dan istiqomah Semoga niat-niat baik rakyat Indonesia dalam membantu warga Palestina bisa terealisasikan dengan baik dan amanah. Dan mudah-mudahan para dermawan yang mendonasikan untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza mendapat pahala selayaknya para pejuang Palestina Aamiin YRA Salam Kemanusiaan Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan MER-C

Klarifikasi MER-C Terkait Pencantuman Nama MER-C & Logo Lembaga dI Pamflet Penggalangan Dana Palestina

1. Kami mengapresiasi kepedulian, dukungan dan bantuan masyarakat Indonesia termasuk dalam bentuk penggalangan donasi untuk membantu rakyat Palestina yang sedang mengalami agresi Israel; 2. Terkait sebaran pamflet penggalangan donasi untuk Palestina mengatasnamakan organisasi tertentu yang mencantumkan logo dan rekening MER-C, kami menyatakan bahwa ini adalah inisiatif murni dari pihak penyelanggara dan bukan dalam rangka kerjasama dengan MER-C; 3. Kepada masyarakat Indonesia yang peduli dan akan melakukan kerjasama penggalangan dana untuk Palestina dengan MER-C, pencantuman logo dan nama MER-C harap menghubungi Call Center MER-C 0811990176 untuk penjelasan prosedur dan pembuatan MOU kerjasama. Hal ini kami lakukan demi penyaluran amanah yang optimal. 4. Semoga semua niat baik dan upaya yang kita (rakyat Indonesia) lakukan untuk membantu Perjuangan dan Kemerdekaan Palestina dimudahkan dan diberkahi oleh ALLAH SWT. Jakarta, 16 Mei 2021 Wassalam,MER-C Indonesia

Kami Bersama Palestina, Stop Agresi Israel Sekarang Juga

Siaran Pers Penghujung bulan suci Ramadhan yang mulia sedianya dilalui dengan khidmat dan sukacita menyambut hari kemenangan. Namun, bulan yang sakral bagi umat muslim di seluruh dunia kembali dinodai dengan serentetan aksi brutal yang dilakukan pasukan Israel terhadap warga sipil Palestina. Jum’at/7 Mei 2021, pasukan zionis Israel melakukan penyerangan terhadap jamaah sholat tarawih di kompleks situs suci Masjid Al-Aqsa dan pengusiran serta penggusuran pemukiman warga Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Aksi brutal ini telah menyebabkan ratusan warga sipil mengalami luka-luka. Kami mengutuk keras aksi brutal Israel dan menyatakan bahwa tindakan ini sebagai penghinaan terhadap umat muslim di dunia dan penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Tidak hanya wilayah Palestina di Tepi Barat, Senin/10 Mei 2021 di kala warga Gaza bersiap untuk berbuka puasa, pasukan zionis Israel membombardir Jalur Gaza, Palestina. Serangan merata pada wilayah Gaza Utara hingga Gaza Selatan. Sampai dengan Selasa malam/11 Mei 2021, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza merilis jumlah korban akibat serangan Israel mencapai 28 orang, termasuk 10 orang diantaranya adalah anak-anak dan satu wanita, semantara 152 orang lainnya mengalami luka-luka. Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, yang berjarak sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel menjadi rumah sakit rujukan untuk korban-korban agresi Israel di Gaza Utara. Korban jiwa dan luka sejak Senin malam (10 Mei 2021) berdatangan ke RS Indonesia untuk mendapatkan penanganan medis. Pagi hari ini (12 Mei 2021) kami mendapat informasi dari Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza bahwa serangan Israel menyasar sebidang tanah di sebelah Rumah Sakit Indonesia di provinsi utara Jalur Gaza yang berdampak kerusakan sebagian pada ruang administrasi Rumah Sakit Indonesia.Untuk itu, MER-C Indonesia menyatakan : 1.    Mengutuk serangan Israel terhadap warga sipil di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina, terlebih serangan ini dilakukan di bulan suci Ramadhan; 2.    Mengutuk serangan terhadap Palestina yang berdampak pada kerusakan, khususnya Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang merupakan darah bangsa Indonesia yang diperuntukkan bagi rakyat Palestina; 3.    Menuntut dihentikannya segala bentuk agresi terhadap Palestina; 4.    Jika eskalasi terus meningkat, MER-C siap mengirimkan Tim Bedah ke Jalur Gaza, Palestina untuk memberikan bantuan kepada para korban. Jakarta, 12 Mei 2021 Dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C   Pernyataan Pers selengkapnya : https://youtu.be/CpB-ht6AdBQ Info:www.mer-c.orgCall Center : 0811 99 0176Facebook & Youtube : MER-C IndonesiaInstagram & Twitter : @mercindonesia #savealaqsa#savesheikhjarrah#savegaza#savepalestine#mercgaza#mercindonesia#rsindonesiagaza —————— Rekening Donasi Amanah Kemanusiaan Gaza, Palestina : BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.290.5803 Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee

MER-C Mengutuk Aksi Brutal Israel di Masjid Al Aqsa

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengutuk keras aksi brutal tentara Israel terhadap warga sipil Palestina yang terjadi di kompleks Masjid Al Aqsa dan distrik Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, Jumat (7/5) malam. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad. “Kami mengutuk keras aksi brutal tentara Israel kepada warga Palestina yang sedang menunaikan sholat tarawih di kompleks Masjid Al Aqsa yang telah menyebabkan ratusan orang terluka,” ujar Sarbini. “Bulan puasa adalah bulan penuh kedamaian dan Israel telah merusak kesakralan bulan suci Ramadhan. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap umat Islam dan terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya. Selain penyerangan di Masjid Al Aqsa, Ketua Presidium MER-C itu juga mengecam pengusiran warga Palestina oleh tentara Israel di wilayah Sheikh Jarrah dan perampasan secara ilegal rumah-rumah mereka. “Untuk kesekian kalinya, Israel telah melakukan pelanggaran hukum internasional. Dunia tidak boleh diam. Kami menyerukan agar Dewan HAM PBB jangan hanya jadi penonton dalam hal ini,” tegas Sarbini. “Perlu langkah tegas dan konkrit dalam menahan ambisi Israel mencaplok dan menghancurkan pemukiman Palestina di Sheikh Jarrah,” tambahnya. Menyikapi ketegangan yang terjadi di Tepi Barat, Ketua Presidium MER-C juga berharap Presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden dapat membuktikan langkah kronkritnya dalam menahan aksi ilegal Israel di pemukiman Sheikh Jarrah.

Silahkan bertanya?