MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Catatan Tahun 2020

CATATAN DOKTER BEN   Selamat datang tahun 2021. Semoga tahun yang akan kita lalui menjadi tahun yang penuh keberkahan dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Itu asa kita semua. Kita mesti menyakini bahwa langkah dan harapan pada tahun 2021 adalah menjadikannya sebagai tahun perjuangan untuk memperoleh kemenangan dan kemajuan bagi bangsa kita.     Ada beberapa catatan di tahun 2020 yang patut kita belajar dan ambil hikmahnya.   Pertama, ujian berat bagi kita adalah merebaknya wabah Covid-19. Di awal pandemi kita gugup dan panik  menghadapi serangan wabah yang begitu cepat. MER-C dengan cepat melakukan langkah darurat dengan membuat APD (Alat Pelindung Diri) sederhana tapi aman bagi Nakes. APD buatan MER-C diburu oleh institusi kesehatan di seluruh Indonesia, ada yang kita kirim sesuai dengan permintaan, tapi ada juga yang datang ke kantor MER-C untuk mengambil sendiri.   Langkah cepat MER-C di awal pandemi diapresiasi oleh banyak pihak. Banyak donatur yang simpati dan terus berpartisipasi menyumbang dana untuk menolong Nakes. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur.   Disamping itu, MER-C juga membuka _call center_ dan membentuk tim monitoring terdiri dari relawan dokter spesialis dan umum yang setiap harinya menerima keluhan warga atau pasien yang terkena covid atau terduga covid. Langkah ini merupakan wujud dari partisipasi MER-C membantu masyarakat mengatasi wabah pandemi.   Kedua, kepulangan teman-teman relawan konstruksi dari Jalur Gaza, Palestina. Selama dua tahun mereka menjadi relawan di tanah para nabi untuk melakukan pembangunan dua lantai tambahan RS Indonesia.   Mereka meninggalkan keluarga dan kerabat yang penuh harap dan cemas di tanah air, karena mereka datang ke tanah yang tiap saat terjadi serangan Israel, dan nyawa mereka selalu berada di ujung tanduk.   Alhamdulillah mereka bisa pulang dengan selamat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga.   Ketiga, sebelum tutup tahun MER-C dipanggil oleh pihak Kepolisian. Ini ujian yang mesti kita hadapi dengan tenang dan berharap agar semua bisa berlalu dengan manis. Inilah kehidupan, inilah dunia. Kata ALLAH dunia tempat senda gurau dan permainan. Kita tak perlu marah dan kesal. Semua ini sudah menjadi takdir kita dan kita mesti berprasangka baik kepada ALLAH.   Akhirnya kepada semua relawan MER-C, tetap semangat dan terus berbuat kebajikan untuk bangsa dan negara. Doa dan harapan kita semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.   Jakarta, 2 Januari 2021

MER-C: Jangan Khianati Konstitusi dan Sejarah

SIARAN PERS Menghembus isu Indonesia akan berdamai dengan Israel. Presiden Jokowi kepada Presiden Mahmoud Abbas dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia mendukung solusi 2 negara dan tidak akan mengikuti beberapa negara Arab yang berdamai dengan Israel. Langkah tegas Indonesia yang tidak mengakui Israel semakin mempertegas posisi Indonesia sebagai penyokong utama kemerdekaan Palestina. Tapi dibalik itu, disayangkan ada sebagian dari kelompok warganegara yang mengabaikan dan menutup mata realita penjajahan Israel atas tanah Palestina. Dengan intens mereka membina hubungan dengan Israel baik di bidang perdagangan, pendidikan dan lain-lain. Apapun argumentasi yang diutarakan terutama sektor ekonomi, menggambarkan tidak ada empati sama sekali, apalagi kita bangsa yang mengalami penindasan oleh penjajah. Seharusnya kita mesti memahami bahwa menjalin hubungan intens dengan pihak Israel berarti mengkhianati sejarah dan konstitusi. Sebaiknya pemerintah melarang kunjungan warga negara ke Israel, kecuali untuk kunjungan ziarah mungkin masih bisa diterima. Tidak heran kenapa Benjamin Netanyahu yakin Indonesia akan mengikuti langkah beberapa negara Arab yang mengakui Israel, karena ada warga negarayang intens berhubungan baik dengan Israel dan menutup mata akan kebrutalan Israel atas Palestina. Bila tidak dihentikan hubungan gelap ini, tinggal menunggu waktu kita akan takluk dengan tekanan Israel. Dalam hal ini, MER-C mengapresiasi akan konsistensi Indonesia untuk tidak mengakui Israel. Jakarta, 30 Desember 2020 MER-C Indonesia www.mer-c.org

MER-C Selalu Bersama Palestina

Catatan Dokter Ben MER-C sejak tahun 2008 tetap konsisten membantu Palestina. Peristiwa Mavi Marmara yang hampir merenggut nyawa relawan MER-C menjadi saksi sejarah betapa MER-C sungguh-sungguh mengirim Tim Kemanusiaan ke Palestina. Kemudian, MER-C secara kontinu mengirimkan relawan-relawan terbaiknya yang bertugas untuk membangun rumah sakit, bernama Rumah Sakit Indonesia. Tidak hanya membangun rumah sakit, MER-C juga membantu kesulitan lain yang mendera rakyat Palestina. Penderitaan panjang rakyat Palestina menjadi semangat MER-C untuk bisa mengurangi beban berat yang mesti dipikul oleh mereka. Kehadiran panjang relawan MER-C di Palestina secara tidak langsung mewakili 250 juta rakyat Indonesia. Tak terasa sudah lebih 1 dekade MER-C hadir di relung sejarah perjuangan Palestina. Perjuangan panjang untuk memperoleh sebuah negara. Kami mohon doa kepada segenap rakyat Indonesia agar MER-C tetap istiqamah dalam membantu rakyat Palestina. Rumah Sakit Indonesia yang telah berdiri di Gaza Palestina sebagai simbol abadi dukungan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Kepada rakyat Palestina, percayalah bahwa kami selalu ada dalam setiap nafas perjuangan kalian. Jakarta, 28 Desember 2020

Maklumat MER-C : Pendampingan Medis HRS dan Penanganan Bencana Covid-19 di Indonesia

MAKLUMAT MER-C Tentang Pendampingan Medis HRS dan Penanganan Bencana Covid-19 di Indonesia     Assalamu’alaikum Wr Wb Relawan MER-C di seluruh Indonesia,   Terima kasih atas dukungan relawan MER-C semua. Harap dipahami, kegiatan kita adalah selalu dalam konteks pandemi Covid-19, yang merupakan bencana kemanusiaan di Indonesia.     Semua relawan MER-C, baik secara personal maupun melalui MER-C, diharapkan aktif berpartisipasi mengatasi bencana ini.   Terkait Habib Rizieq Shihab (HRS), sikap kita adalah membantu beliau yang sekarang ini menjadi individu yang vulnerable dan terabaikan, banyak yang takut membantu beliau ketika memang membutuhkan.   Penanganan pandemi Covid-19 juga harus proporsional, tujuan kita adalah menurunkan transmisi di masyarakat dan mencegah kematian.   Di komunitas, dua isu yang harus dilawan adalah: ABAI terhadap protokol kesehatan dan STIGMA bagi yang sakit.   Dua kondisi ini semakin meruncing dengan pengelolaan kasus HRS yang tidak proporsional, menggunakan perangkat medis dalam pandemi untuk menyerang martabat individu, dan menghilangkan semangat partisipatif. Di sini letak misi kemanusiaan MER-C dijalankan.   Sekali lagi, semua relawan MER-C, baik secara personal maupun melalui MER-C, diharapkan aktif berpartisipasi mengatasi bencana Covid-19. Uluran tangan dan ide-ide konstruktif dalam misi kemanusiaan sangat diharapkan.    Wassalam   Jakarta, 12 Desember 2020 MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)   www.mer-c.org

MER-C Bantah Hasil Lab HRS yang Beredar

Terkait beredarnya hasil swab test (tes usap) atas nama Muhammad Rizieq Shihab, pada Selasa/1 Des 2020, dengan ini MER-C membantah hal tersebut. Hasil swab test bukan berasal dari MER-C.     Dalam melakukan misi-misi kemanusiaannya termasuk advokasi Kesehatan, MER-C bekerja secara professional dan menjunjung kode etik kedokteran. Demikian pula dalam memberikan advokasi kesehatan kepada Muhammad Rizieq Shihab, MER-C juga menerapkan prinsip-prinsip tersebut.    Hasil laboratorium adalah salah satu hal yang dilindungi kerahasiaannya. Hasil hanya diinformasikan dan diserahkan kepada pasien dan pihak keluarga, kemudian hanya pasien dan pihak keluarga yang berhak mengumumkannya, bukan MER-C.   Jakarta, 2 Desember 2020 MER-C Indonesia

MER-C Kawal Kesehatan Habib Rizieq dan Advokasi Kemanusiaan

SIARAN PERS   MER-C sudah berpengalaman dalam memberikan bantuan medis dan kesehatan terhadap siapa saja yang mengalami kondisi kemanusiaan kritis. Konsep kemanusiaan MER-C yg Rahmatan Lil Alamin, independen, menjaga netralitas, untuk menolong yang paling membutuhkan “The most vulnerable people & the most neglected people” akibat kondisi peperangan, ketidakadilan, stigmatisasi, isolasi politik yang menimbulkan masalah kesehatan dan medis. MER-C menolong siapa saja tanpa membedakan latar belakang masalahnya.  Sebut saja Panglima GAM, alm Ishak Daud, Komjen Polisi Susno Duadji, Ust Abu Bakar Baasyir, para terduga terorisme, dsb.      Masalah kesehatan di era pandemi Covid-19 sering menimbulkan polemik, akibat selalu dikaitkan dengan Covid-19. Sering terjadi perbedaan persepsi antara masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menyikapi covid-19. Stigmatisasi, kurangnya empati dan menghormati hak privasi pasien  menimbulkan jurang yang cukup besar diantara masyarakat dan petugas pemerintah. Oleh karena itu perlu kembali kepada profesionalitas dan etika dan hukum kedokteran dimana menjunjung tinggi hak-hak pasien.   Terkait dengan Habib Rizieq yang mempercayakan kepada MER-C untuk melakukan pemeriksaan dan pengawalan kesehatan. MER-C mengirim beliau untuk beristirahat di RS. Namun mendapatkan perlakuan yang kurang beretika dan melanggar hak pasien dari Walikota Bogor dengan melakukan intervensi terhadap tim medis yang sedang bekerja, sehingga menganggu pasien yang sedang beristirahat. Selain itu Walikota Bogor juga tidak beretika dalam mempublikasi kondisi pasien kepada publik, sehingga menimbulkan kesimpangsiuran dan keresahan bagi masyarakat.    Walikota Bogor perlu belajar etika kedokteran tentang independensi tenaga medis dalam bekerja dan hak pasien untuk menerima atau menolak atas semua upaya pemeriksaan dan pengobatan yang akan diberikan tanpa ada intervensi atau tekanan pihak manapun. Jangankan dalam situasi normal, di daerah bencana dan peperangan saja wajib kita selaku tenaga medis tetap menjaga profesionalitas dan menghormati hak-hak pasien. Seharusnya Walikota Bogor mempercayakan hal ini kepada RS dan Tim Medis yang menangani karena tim medis mengetahui langkah-langkah apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan untuk menangani pasien.   MER-C sebagai Tim Medis independen yang diminta keluarga untuk turut menangani kesehatan HRS dengan ini menyatakan :   1. Menyayangkan sikap Walikota Bogor yang melakukan intervensi dan tekanan kepada RS, Tim Medis dan pasien.    2. Saat ini semua pemeriksaan yang perlu dilakukan tengah berjalan dan pengobatan akan dijalankan sesuai dengan masalah kesehatan yang ditemukan;   3. Agar semua pihak tidak membuat kegaduhan, menjaga privasi pasien dan mempercayakan kepada tim medis yang menangani.   4. Perihal menyampaikan kondisi kesehatan adalah domain keluarga. Bahkan pihak RS/ dokter yang merawat tidak memiliki hak untuk menyampaikan tanpa seijin keluarga.   Jakarta, 28 November 2020 dr. Sarbini Abdul Murad Ketua Presidium MER-C   Info www.mer-c.org 0811990176 @mercindonesia

Condolences From MER-C Indonesia

MER-C Indonesia would like to express our simpathy and deepest condolences at this most difficult moment to the Goverment, the people of Palestine and the grieving family on the passing away of:   Dr. Saeb Erekat   Secretary General of the Palestine Liberation Organization Executive Committee   On 10 November 2020   May Allah the Almighty forgive him, bless him with mercy and rest his soul in jannah.   His contribution and dedication to freedom and rights for Palestine and peace in middle east will always be remembered.   Jakarta, 11 November 2020   Dr. Sarbini Abdul Murad Chief Presidium of MER-C Indonesia

Ketua Presidium MER-C : Hentikan Penghancuran Rumah Palestina

Kebrutalan militer Israel melakukan pembongkaran ilegal dan penggusuran paksa terhadap warga Palestina terus berlanjut. Ketika perhatian dunia disibukkan dengan Pemilihan Presiden Amerika Serikat, militer Israel kembali melakukan penghancuran besar-besaran bangunan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki termasuk rumah-rumah dan fasilitas lainnya. Lokasi penghancuran terjadi di Desa Khirbet Hamsa al-Fawqa, bagian utara Lembah Yordan, sebelah timur Tepi Barat. Tindakan ini seperti dilaporkan mengakibatkan sebanyak 73 warga Palestina kehilangan tempat berlindung dan terlantar, dimana 41 orang diantaranya adalah anak-anak. Wabah Covid-19 yang tengah berlangsung ditambah cuaca yang mulai memasuki musim dingin, membuat kondisi mereka semakin memprihatinkan. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad secara tegas meminta PBB agar turut campur menghentikan kebrutalan Israel menghancurkan rumah-rumah warga Palestina di Lembah Yordan. Penghancuran rumah Palestina oleh Israel terjadi dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal ini sudah berlangsung sejak lama. Israel menduduki Tepi Barat saat perang Timur Tengah pada 1967. Sejak saat itu penghancuran dan penggusuran bangunan-bangunan warga Palestina kerap terjadi. Otoritas Israel berdalih bangunan-bangunan yang dihancurkan karena tidak memiliki izin. Sementara pihak yang berwenang mengeluarkan izin adalah otoritas Israel itu sendiri. Dengan kondisi demikian, sangat sulit bagi warga Palestina memperoleh izin bangunan. Dunia seakan bungkam akan kebrutalan demi kebrutalan yang dilakukan Israel. Diamnya dunia menjadi pembenaran bagi Israel dan mengakibatkan mereka semakin berani menghancurkan rumah-rumah warga Palestina. Selanjutnya warga Palestina terusir dan Israel akan membangun properti di wilayah-wilayah tersebut. Persoalan regional Arab yang begitu rumit yang menguras tenaga dalam negeri masing-masing negara juga menyebabkan masalah Israel dan Palestina diabaikan olah negara-negara Arab. Isu aneksasi Tepi Barat mungkin tengah mereda, namun realita di lapangan Israel terus melakukan pencaplokan-pencaplokan wilayah. Untuk itu, Ketua Presidium MER-C juga mengajak warga dunia ditengah pandemi dan berbagai masalah-masalah internal dalam negeri agar terus bersuara memberikan tekanan kepada Israel. — Info :www.mer-c.org0811990176@mercindonesia

MER-C : Macron Mesti Bijak Menilai Islam dan Minta Maaf

Pimpinan Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad, turut bersuara menanggapi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutkan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.      Sarbini menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan ini sebagai pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan memecah belah kerukunan umat beragama di dunia.    “Kami turut menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Itu adalah pernyataan yang tidak bertanggung jawab. Macron telah menyebarkan kesalahpahaman terhadap Islam. Sebuah penyataan yang dapat memecah belah kerukunan umat beragama di dunia,” ungkap Sarbini.   “Macron mestinya bijak dalam menilai Islam,” tambahnya.   Ia menjelaskan Macron mestinya bisa belajar dari sosok Vladimir Putin, Presiden Rusia yang bijak dalam melihat Islam. Meski di Rusia terjadi pemberontakan separatis Chechen, tak berarti Putin menyudutkan Islam secara keseluruhan.    Sementara Macron sebagai orang nomor satu di Prancis memilih membiarkan dan menolak untuk melarang keputusan media di negara tersebut, Charlie Hebdo yang menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad pada September 2020 lalu dengan alasan kebebasan berekspresi.   Suatu sikap pemimpin negara yang sangat melukai dan menuai reaksi keras dari berbagai kalangan umat Islam di seluruh dunia. Hal ini berbahaya karena menjadi modus menyebarkan kebencian terhadap Islam.   “Untuk itu, MER-C meminta kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk segera meminta maaf kepada umat Islam dunia. Kami pikir meminta maaf adalah jalan yang bijak, serta melarang kartun yang menghina Nabi Muhammad,” tegas Sarbini.   Sementara itu, Pimpinan MER-C juga berharap Pemerintah Indonesia dapat segara merespon dan mengambil sikap atas pernyataan Presiden Prancis dengan mendorong permintaan maafnya kepada umat Islam. Hal ini agar polemik yang dapat menimbulkan perpecahan kerukunan umat beragama tidak berlarut.     Jakarta, 27 Oktober 2020 MER-C Indonesia www.mer-c.org Call Center : 0811990176    

ABAIKAN RESIKO KEMANUSIAAN JATUH KORBAN JIWA, PILKADA DITENGAH PANDEMI COVID ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN. (PELAJARAN PILPRES 2019 TANPA COVID YANG TIMBULKAN 800 LEBIH KORBAN JIWA KPPS)

Press Release   Pandemi covid-19 masih melanda dunia dan Indonesia, angka kasus positif yang semakin bertambah dari hari ke hari hingga mencapai angka 300 ribu, dengan angka kematian akibat covid mencapai lebih dari 10.000. Hal ini harusnya membuat kita semua lebih berhati-hati menyusun langkah. Segala upaya pencegahan dilakukan untuk mengurangi transmisi penularan dan mencegah kematian baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Kegiatan sehari-hari, mulai dari kegiatan Pendidikan, keagamaan, bahkan bekerja dilakukan secara virtual. Pilkada serentak yang akan diselenggarakan akhir 2020 mengancam keselamatan warga, meningkatkan resiko transmisi penularan Covid-19. Kegiatan pilkada masih belum bisa dilakukan secara virtual, sehingga masih terjadi pengumpulan orang baik kegiatan kampanye ataupun kegiatan pencoblosan itu sendiri. Masih segar dalam ingatan kita  tentang penyelenggaraan Pilpres 2019 yang menimbulkan lebih dari 800 korban jiwa dan ribuan yang jatuh sakit. Harga yang begitu mahal untuk sebuah resiko penyelenggaraan pesta demokrasi. Banyak spekulasi berkembang mengenai penyebab kematian ratusan petugas kpps, namun yang tampak kasat mata adalah faktor beratnya dan lamanya pekerjaan yang diemban oleh kpps sehingga menyebabkan kesakitan dan kematian. Situasi diperburuk dengan kesiapan penanganan medis yang kurang. Sistem rujukan kegawatdaruratan medis yang dipersiapkan belum mampu menangani para kpps yang mendadak sakit. Banyak kpps yang mengeluh sakit dada yang disinyalir sebagai gangguan jantung, lalu dibawa ke fasilitas kesehatan seperti pukesmas, RS kecamatan atau bahkan tidak berobat, namun tidak berhasil diselamatkan karena fasilitas kesehatan tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk menangani gangguan jantung. Kemudian juga tidak adanya call center dan sistem ambulance yang bisa bergerak cepat apabila ada kpps yang jatuh sakit. Kesimpulannya adalah sistem kegawatdaruratan medis yang dibangun belum siap. Pilkada 2020 yang akan digelar ini akan melibatkan 600 ribu TPS yang akan berpotensi menjadi kluster penularan Covid-19 diseluruh Indonesia. MER-C menilai memaksakan penyelenggaraan Pilkada ditengah situasi Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung berpotensi menimbulkan korban yang signifikan karena 2 hal penting, yaitu situasi pandemic yang belum menunjukkan tanda-tanda usai dan ketidaksiapan sistem rujukan kesehatan dan kegawatdaruratan. Bahkan Covid-19 sudah menginfeksi bebrapa calon kepala daerah, ketua KPU dan petingginya, ini harus dijadikan peringatan dan sinyal bahwa Pilkada harus ditunda. Apabila KPU tidak mengindahkan kondisi pandemic dan resiko jatuhnya korban, artinya adalah mengabaikan nyawa manusia dan bisa menjadi kejahatan kemanusiaan dan tentu saja akan menambah catatan hitam KPU yang harus dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Maka MER-C merekomendasikan :1.    Penundaan Pilkada sampai kondisi pandemic membaik2.    Menyiapkan sistem rujukan kegawatdaruratan dan kesehatan yang memadai sebagai upaya mitigasi jatuhnya korban jiwa seperti Pilpres 20193.    KPU dan pemerintah bisa menahan diri, demi keselamatan masyarakat4.    KPU mempersiapkan sistem Pilkada yang mengurangi pengumpulan massa dan kerja berat para kpps, KPU harus mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan dan melakukan modifikasi sistem pilkada Jakarta, 30 September 2020 Medical Emergency Rescue Committee Selengkapnya : https://youtu.be/MA2Bd22TEP8

Silahkan bertanya?