MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Appreciates the Step Taken by Fatah and Hamas to Unite Against Israel’s Annexation

Behind Israel’s annexation plan of the West Bank and the Jordan Valley, there is relieving and pleasing news in which Fatah and Hamas pledge to unit in fighting against the annexation. The statement was conveyed by senior officials of both parties, Jibril Rajub from Fatah in Ramallah and Saleh Al-Arouri representing Hamas in Beirut, Lebanon in a joint-teleconference, Thursday (2/7). During the teleconference, both parties have agreed to unite in establishing a mutual agreement in facing Israel’s brutal annexation steps of the West Bank and the Jordan Valley. In response to the historical event, MER-C Head Presidium, dr. Sarbini Abdul Murad expressed his appreciation and support to the steps taken by Fatah and Hamas. “We welcome and support the joint agreement of Fatah and Hamas, which hopefully can become an energy and national strength for Palestine to face Israel, that is fully backed by the United States,” said Sarbini. He believes that the national unity of every element would turn into a power that would force Israel to reconsider its plan from annexing the West Bank. “We highly welcome this step. May this mutual understanding and unity would not stop in facing the West Bank annexation but also in other matters,“ he continued. Sarbini said that despite the differences in views held by Fatah and Hamas in gaining Palestine’s independence, he truly wished that this would not hamper the unity of both parties, particularly in the midst of regional conflicts faced by Arab countries that caused the abandonment of Palestinian issues. Jakarta, July 15th 2020MER-C Indonesiawww.mer-c.org0811990176

MER-C Apresiasi Langkah Fatah dan Hamas Bersatu Lawan Aneksasi Israel

Dibalik rencana aneksasi atau pencaplokan Tepi Barat dan Lembah Jordan oleh Israel, ada kabar yang melegakan dan menggembirakan dimana Fatah dan Hamas berjanji bersatu untuk melawan aneksasi tersebut. Hal ini disampaikan oleh para pejabat senior kedua pihak, Jibril Rajub mewakili Fatah dari Ramallah dan Saleh al-Arouri mewakili Hamas dari Beirut Lebanon dalam tele konferensi pers bersama, Kamis (2/7). Dalam tele konferensi pers tersebut, kedua pihak telah sepakat untuk bersatu membangun kesepakatan bersama dalam menghadapi langkah brutal Israel menganeksasi Tepi Barat dan Lembah Jordan. Menanggapi peristiwa bersejarah ini, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad  menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap langkah yang diambil oleh Fatah dan Hamas. “Kami mengapresiasi dan mendukung kesepakatan bersama Fatah dan Hamas, yang diharapkan dapat menjadi energi dan kekuatan nasional Palestina untuk menghadapi Israel yang didukung secara penuh oleh Amerika Serikat,” kata Sarbini. Menurutnya persatuan nasional semua elemen akan menjadi kekuatan yang membuat Israel berfikir ulang untuk meneruskan rencananya menganeksasi Tepi Barat. “Kami menyambut gembira langkah ini. Semoga saling pengertian dan persatuan ini tidak hanya dalam menghadapi aneksasi Tepi Barat saja tapi juga persoalan lainnya,” lanjutnya. Sarbini mengatakan meski ada cara pandang yang berbeda antara Fatah dan Hamas dalam mencapai kemerdekaan, tetapi ia berharap hal ini tidak menjadi batu sandungan untuk bersatu, apalagi di tengah situasi dan kondisi negara-negara Arab yang dibalut dengan persoalan-persoalan regional yang menyebabkan nasib Palestina terabaikan. Jakarta, 15 Juli 2020MER-C Indonesiawww.mer-c.org0811990176

Nakes Dari Rakyat Dan Untuk Rakyat

  Kebijakan pembiayaan “Reimburse” dalam penanganan Pandemi Covid-19 yang diterapkan oleh Pemerintah menimbulkan Polemik. Pertama, Dalam konsep Disaster Management adanya Komando sangat penting dan menentukan keberhasilan. Harusnya pemerintahlah yang menentukan RS mana yang bisa menangani Covid-19, jangan diserahkan kepada pasar bebas. Selain pentingnya Zonasi dalam penanganan wabah penyakit menular, juga penting memastikan kesiapan Alat Pelindung Diri (APD), fasilitas isolasi dan protokol, sehingga bisa memberikan perlindungan kepada Tenaga Kesehatan (Nakes). Kedua, Dalam konsep Disaster Management, penting dalam mencapai response time yang cepat, sehingga harus memotong birokrasi keuangan dan kebijakan LIKUIDITAS pendanaan agar RS yang ditunjuk bisa segera di-support keuangan. Namun kenyataannya kebijakan pembiayaan yang ditempuh adalah “Reimburse” atau bahasa betawinya “Lo Obatin Dulu Ntar Gue Bayar”. Dengan janji pembiayaan yang cukup “menggiurkan” tersebut kembali membuat “celah” fitnah bagi Nakes dan RS. Sementara potret situasi lain pandemi adalah banyak fasilitas kesehatan yang terancam bangkrut akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Jadi mekanisme pembiayaan “Reimburse” ini dapat menimbulkan poin positif dan poin negatif. Poin positifnya adalah memudahkan bagi pemerintah dalam pembiayaan dan akuntabilitas. Selain menggunakan mekanisme verifikasi berlapis seperti BPJS, juga mewajibkan Nakes atau RS melakukan pengisian Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang sejatinya dilakukan oleh Epidemiolog Kesehatan Masyarakat. Sementara poin negatifnya adalah ancaman terjadinya fraud medis ditengah situasi ekonomi Fasilitas Kesehatan (Faskes) yang menurun. Apalagi kunci paling penting dalam verifikasi, yaitu kecepatan hasil SWAB PCR sangat rendah. Juga sistem screening ala Kesehatan Masyarakat ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang kriterianya sangat longgar memperbesar peluang terjadinya fraud tersebut. Potret sisi kegelisahan masyarakat butuh kepastian akan anggota keluarganya yang sakit apakah Covid atau bukan? Yang akan berdampak sosial dan spiritual terutama dalam prosesi pemakaman. Potret sisi tenaga medis yang sudah bekerja keras menangani pasien Covid-19 dengan resiko tertular, tanpa kepastian pembayaran yang jelas. Belum lagi harus menjelaskan kepada keluarga pasien dalam situasi yang tidak jelas. Selayaknya harus ada penjelasan Aspek Hukum Kebencanaan oleh Pemerintah kepada masyarakat, sehingga itu bukan hanya dibebankan kepada Nakes yang dihadapkan pada keluarga pasien yang gelisah. Ditengah situasi tersebut sangat rentan emosi para Nakes menghadapi situasi. Situasi membuat benturan antar Nakes dengan masyarakat. Masyarakat mem-bully nakes bahkan sampai mau menuntut. Sementara Nakes tak tinggal diam akan menuntut juga.Selayaknya kedua belah pihak bisa menahan diri, sebab dalam konsep manajemen bencana salah satu kunci keberhasilan adalah “Jangan Membuat Masalah di Tempat yang Sedang Bermasalah” atau jangan memantik api di dekat bensin. “Crisis Management” akan menentukan keberhasilan penanganan bencana. Hendaklah pemerintah, organisasi profesi, tokoh masyarakat bisa memberikan himbauan tentang pentingnya kerjasama dalam menangani bencana. Sejatinya negara yang terdampak bencana sedang menjadi Lokus Minoris bagi kekuatan asing lain menginvasi negeri untuk dikuasainya. Mari kita sesama anak bangsa segera menyadarinya. Lebih baik bersatu menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan dan ancaman pihak-pihak lain yang berusaha menguasai negeri. Salam, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium & Relawan Medis MER-C   /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Rekomendasi Manajemen untuk Daerah yang Baru Mengalami Outbreak Kasus Covid-19

Seiring arus mudik, terjadi peningkatan jumlah kasus nasional, sementara di DKI Jakarta kurva kasus melandai. Mau tidak mau harus diakui walaupun PSBB di DKI Jakarta tidak sempurna, namun berkontribusi dalam penurunan kasus di DKI. Hal lain yang perlu dicermati dan difokuskan adalah angka mortalitas atau angka kematian. Kita lihat pada kurva nasional angka kematian mengalami penurunan pada bulan April dan awal Mei, tetapi naik lagi pada pertengahan Mei seiring arus mudik.     Faktor yang disinyalir berkontribusi dalam menaikkan angka mortalitas adalah “Shock Phenomena” tenaga kesehatan (nakes) dalam menangani kasus Covid-19. “Fearness”, kebingungan terjadi menyebabkan “Secondary Neglected Care” pasien-pasien terduga Covid-19. Namun seiring waktu berjalan, angka kematian menurun, faktor fearness dan kebingungan nakes berkurang, availabilitas alat cek PCR semakin baik dan kemampuan besar. Nah belajar dari pengalaman DKI Jakarta, maka manajemen yang bisa diusulkan untuk daerah sbb;   Gunakan keuntungan kondisi geografis daerah Anda:   1. Untuk daerah kota besar dan padat  – PSBB 2 minggu – Pakai masker – Budaya cuci tangan – Physical distancing – Screening Rapid Test, diikuti dengan PCR – Karantina, isolasi untuk yang positif – Siagakan sistem pelayanan dan rujukan Faskes   2. Untuk daerah kepulauan, penduduk tidak padat – Mass screening dgn rapid test dan PCR – Karantina/self isolation yang sakit saja – Screening ketat di bandara dan Pelabuhan – Pakai masker – Budaya cuci tangan – Siagakan sistem pelayanan dan rujukan Faskes   Kumpulkan nakes, briefing, motivasi dan beri perlindungan (APD) agar all out dalam menangani pasien yang sakit sehingga memberikan hasil optimal.   Peran dari pada para Ustadz dan pemuka agama dalam memberikan dukungan dalil dan moril kepada nakes dan penderita dioptimalkan karena unsur psikis & sosial pada nakes dan penderita begitu nyata dan bermakna.   Peran dari aparat hukum juga dimaksimalkan dalam mensosialisasikan aspek hukum dalam pengaturan manajemen pandemi, agar memberi perlindungan kepada nakes untuk bertindak.    Peran Kepala Daerah sebagai komandan sangat vital dalam keberhasilan manajemen Pandemi Covid-19.    Ingat untuk dokter fokus pada menurunkan angka mortalitas. Gunakan seluruh kemampuanmu. Jangan terlena. Untuk pencegahan kasih porsi ke epidemiolog.    Salam,   Dr. Yogi Prabowo, SpOT Pendiri, Presidium dan Relawan Medis MER-C

Dunia Tidak Boleh Diam

Ketua Presidium MER-C menyeru kepada dunia agar tidak diam menanggapi rencana aneksasi Israel terhadap wilayah Palestina di Tepi Barat. Dunia harus melakukan sesuatu agar Israel tidak melanjutkan rencana ini, sehingga jalan menuju solusi dua negara dapat berlangsung dengan damai.   “Aneksasi merupakan pelanggaran terhadap hukum-hukum internasional. Dunia tidak boleh diam. Dunia harus berbuat sesuatu agar Israel tidak melanjutkan rencana ini sehingga jalan menuju solusi dua negara dapat berlangsung dengan damai. Jika tidak, solusi dua negara akan porak poranda dan perundingan damai yang telah dimulai bertahun-tahun akan menjadi sia-sia tak berbekas,” ungkap dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C.   Menurutnya, Israel menggunakan momen pandemi untuk menganeksasi Tepi Barat.   “Dikala negara-negara di dunia tengah disibukkan dengan berbagai masalah akibat pandemi, Israel melakukan aneksasi Tepi Barat,” ujarnya   Aneksasi merupakan bagian dari rencana perdamaian Timur Tengah untuk perdamaian Israel – Palestina atau yang disebut “Kesepakatan Abad Ini” oleh Presiden AS Donald Trumph, yang diumumkan pada 28 Januari lalu. Ini merujuk ke Yerusalem sebagai ibukota Israel yang tidak terbagi dan mengakui kedaulatan Israel atas sebagian besar Tepi Barat.    Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan rencana perdamaian Timur Tengah yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump merupakan pondasi aneksasi secara de facto.   Netanyahu menetapkan diskusi kabinet terkait rencana aneksasi Tepi Barat dan Lembah Yordan akan dimulai pada 1 Juli mendatang.   Sarbini berharap Indonesia sebagai negara pendukung sejati Palestina dan sebagai negara terpandang di dunia Islam memaksimalkan perannya.    “Indonesia harus memaksimalkan perannya. Indonesia harus aktif melobi Uni Eropa dan Rusia untuk memberikan tekanan kepada Israel agar tidak melanjutkan langkah-langkah ilegal tersebut,” tambahnya.

Manajemen Outbreak Covid-19

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Melihat pertambahan kasus positif covid-19 mengalami lonjakan deret ukur, maka langkah2 yang akan dibuat harus TEPAT Beberapa sektor akan terdampak, terutama bidang kesehatan yang akan menjadi GARDA TERDEPAN (dalam hal ini Kemkes, Bukan BNPB).   Beberapa pertanyaan : 1. Apakah kita akan menggunakan seluruh RS yang ada untuk merawat pasien Covid-19 ?? 2. Bagaimana bila terjadi OVERLOAD kasus Covid-19 ? Perpegang kepada konsep apabila tjdak outbreak, maka ISOLASI dilakukan pada yang TIDAK TERINFEKSI, maka konsep awal kemkes dengan ZONASI RUMAH SAKIT sudah benar dengan hanya menunjuk beberapa RS khusus infeksi, tetapi MEMPERBANYAK jumlah RS rujukan , dan kemungkinan akan terus bertambah MENIMBULKAN KEKHAWATIRAN. Akan mengancam keberlangsungan Pelayanan Kesehatan Nasional, Sistem Rujukan Nasional. Pasien Covid-19 akan memenuhi Rumah Sakit utama , dan akan MENGKONTAMINASI pasien lain dan Nakes. Pelayanan Kesehatan Nasional akan LUMPUH kalau tjdak OVERLOAD. Oleh karena itu sebelum terjadi kami mengusulkan untuk membuat suatu Mass Quarantine Area, misalnya dengan RS lapangan di suatu lokasi yang aman untuk menampung pasien-pasien yang dirujuk. Untuk Nakes juga harus diberikan perlindungan, pakaian isolasi, alat pelindung diri, alat komunikasi, transportasi (ambulance ) Membuat sistem Call Center Covid-19 yang siap antar jemput dari RS lain   Salam ——————————- dr. Yogi Prabowo, SpOT Pendiri, Presidium & Relawan Medis MER-C

MER-C mensikapi Kasus Corona Positif di Indonesia, Bagaimana Langkah Selanjutnya?

Kasus Corona (Covid-19) merebak di berbagai negara di dunia, data 5 Maret 2020 jumlah terinfeksi Covid-19 mencapai  lebih dari 95 ribu yang tersebar di 77 negara dengan angka mortalitas lebih dari 3.000 jiwa. Dengan dinyatakannya 2 WNI positif Corona oleh Pemerintah, gejolak sosial dan ekonomi mulai nampak sebagai dampak ditemukannya kasus Corona positif. Upaya mitigasi dilakukan oleh berbagai negara seperti Italia yang meliburkan sekolah dan universitas untuk beberapa waktu, Arab Saudi mengeluarkan keputusan menyetop sementara umrah. Hal tersebut upaya mengantisipasi penyebaran virus ini. Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa upaya di bidang kesehatan dilakukan baik oleh pemerintah, RS, dan organisasi profesi, bahkan Pemda, untuk menghindari penyebaran dan tertularnya virus, antara lain: 1.    Edukasi masyarakat dengan menghindari kontak, cuci tangan dan menggunakan masker; 2.    Membuat pos-pos konsultasi Corona; 3.    Membuat alur rujukan RS penanganan pasien terduga Corona; 4.    Menyediakan layanan Call Center dan jemputan ambulance bagi terduga penderita Corona oleh Pemda DKI; 5.    Rencana membangun atau memfungsikan RS isolasi khusus Corona di pulau dan lain lain. Selain dampak di bidang kesehatan, Corona (Covid-19) juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang cukup signifikan, dengan membatasi mobilisasi manusia dan transportasi baik dalam dan luar negeri. Banyak sektor terpengaruh di era keterbukaan informasi ini akibat Corona. Beberapa pertanyaan yang belum terjawab antara lain: 1.    Bagaimana konsep manajemen disaster-nya kalau terjadi outbreak dalam jumlah besar dimana terjadi overload kebutuhan ruang isolasi?? 2.    Konsep karantina apa yang akan dilakukan? 3.    Bagaimana melayani kebutuhan pemeriksaan laboratorium yang banyak apabila hanya bergantung pada satu atau dua laboratorim saja? 4.    Bagaimana membatasi penyebaran Corona di situasi kota yang padat penduduk seperti DKI Jakarta;5.    Bagaimana upaya mengurangi dampak (mitigasi) nonmedis sosioekonomi apabila terjadi ledakan kasus Berdasarkan hal tersebut MER-C mensikapi dan merekomendasikan langkah: 1.    Ketika jumlah kasus Corona masih sedikit maka KONSEP MANAJEMEN-nya adalah meng-ISOLASI korban di ruang pemantauan atau perawatan isolasi di tempat-tempat yang sudah ditentukan seperti RS. Namun apabila terjadi ledakan jumlah kasus, outbreak Corona, maka KONSEP MANAJEMEN BENCANA-nya adalah mengisolasi dan melokalisir korban dan ISOLASI MASYARAKAT,  membatasi kontak antar sesama masyarakat dengan jalan berdiam diri di dalam rumah, gedung atau kompleks, tidak melakukan aktifitas di luar rumah; Agar masyarakat bisa survive, tenang dan tidak resah dalam kondisi isolasi maka KEBUTUHAN DASAR harus difasilitasi oleh Pemerintah, kondisi yang bisa menguntungkan manajemen dipermudah di era serba digital dan virtual sekarang ini: •    Layanan suplay listrik dan internet; •    Pasokan bahan makanan dengan transaksi ekonomi serba digital antar jemput; •    Layanan kesehatan aktif ambulance, pra hospital bagi yang memerlukan; •    Dll 2.    Karantina yang dilakukan adalah karantina massal, misalnya bisa di pulau atau area yang jauh dari aktifitas penduduk. Warga yang terdiagnosis laboratorium positif maka harus dikarantina; 3.    Untuk melayani kebutuhan pemeriksaan laboratorium dibutuhkan lebih banyak keterlibatan laboratorium lain yang mampu (tidak hanya satu atau dua laboratorium saja), agar diagnosis bisa cepat ditegakkan dan bisa cepat mengambil langkah penanganan; Beberapa CATATAN PENTING, mengamati sifat dan perilaku virus Corona yang berubah-ubah dari waktu ke waktu, dengan angka mortalitas yang berbeda-beda di tiap negara dan tempat, misalnya seperti angka mortalitas lebih tinggi di Iran dibanding negara lain. MER-C merekomendasikan masyarakat TETAP WASPADA dan tidak underestimate terhadap Corona, namun juga tidak perlu panik dan tetap tenang. Atas perhatian dan kehadiran rekan-rekan media kami mengucapkan terima kasih. Jum’at, 6 Maret 2020 Salam, MER-C Indonesia www.mer-c.org Call Center: 0811990176

Joserizal Jurnalis, Pendiri MER-C Tutup Usia

Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun   Telah berpulang ke rahmatullah *Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT* Pendiri & Dewan Pembina  MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) pagi ini, Senin/20 Januari 2020 pkl 00.38 dalam usia 56 tahun (11 Mei 1963 – 20 Januari 2020) di RS Harapan Kita, Jakarta.     Mohon dimaafkan segala kesalahan dan kekhilafan beliau. Terima kasih atas segala doa dan perhatian dari kerabat, teman, relasi, saudara2 seperjuangan selama beliau sakit hingga akhir hayatnya.   Jenazah dr. Joserizal akan disemayamkan di Pendopo Silaturahim, Jl. Kalimanggis Raya No. 90 Cibubur, Bekasi, disholatkan bada Dzuhur di Masjid Silaturahim dan dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur.    Selamat Jalan dr. Joserizal, Semoga Husnul Khotimah…   Selamat menghadap Allah Sang Maha Pencipta yang mencintaimu lebih dari kami…    Kami yang kehilangan, ~ Keluarga Besar MER-C ~

Ditengah Konflik, Pembangunan Fisik RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar Selesai

Setelah RS Indonesia di Jalur Gaza – Palestina, satu lagi karya anak bangsa di kancah Internasional terwujud. Kali ini di wilayah yang masih bergejolak, Rakhine State – Myanmar. Sebuah sarana kesehatan, Rumah Sakit Indonesia telah berdiri yang berada di tengah-tengah antara desa Budha dan Muslim. RS ini diharapkan dapat menjadi symbol perdamaian masyarakat setempat dan juga menjadi symbol persahabatan dua negara, Indonesia – Myanmar. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah bagian dari Diplomasi Kemanusiaan MER-C. Bukan hal mudah membangun di wilayah perang atau konflik. Namun, medis dan kesehatan adalah hal yang penting dalam kehidupan terlebih dalam situasi perang atau konflik. Itulah mengapa, di wilayah perang/konflik jangka panjang, MER-C juga menerapkan program bantuan jangka panjang. Seperti halnya di Rakhine State, Myanmar, sampai saat ini isu Rohingya masih menjadi isu utama di kawasan dan dunia. MER-C telah memberikan bantuan dengan mengirimkan Tim Medis untuk membantu korban konflik di wilayah ini sejak September 2012. Tim MER-C menjadi LSM pertama dari Indonesia yang dapat melakukan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak, baik Muslim maupun Budha. Berdasarkan hasil assessment tim saat itu, fasilitas kesehatan di kamp-kamp pengungsi yang ada masih sangat minim dan MER-C mencanangkan pembangunan sarana kesehatan yang bersifat permanen yang dapat diakses oleh kedua belah pihak. Sejak saat itu, MER-C mengirimkan Tim secara berkala dan lobby-lobby dengan berbagai pihak terus dilakukan baik dengan Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Myanmar agar rencana pembangunan RS Indonesia dapat terealisasi. Inisiasi ini mendapat sambutan positif dari Wakil Presiden kala itu, Bapak M. Jusuf Kalla. Program ini kemudian menjadi program bersama MER-C, PMI dan WALUBI dengan MER-C sebagai pelaksana mulai dari penentuan lokasi lahan, disain rumah sakit hingga pembangunan fisik. Tercatat dalam kurun waktu 7 tahun (2012 – 2019), MER-C telah mengirimkan sedikitnya 14 Tim Medis dan Konstruksi ke Myanmar dengan total jumlah relawan sebanyak 40 orang yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, insinyur, tim ahli alat kesehatan, dan tenaga teknis Khusus untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia, MER-C menempatkan 4 relawan yang terdiri dari 2 insinyur dan 2 tenaga teknis di lokasi pembangunan di Myaung Bwe village, Mrauk U township yang berjarak sekitar 160 km perjalanan darat dari Sittwe, ibukota Rakhine State. Pembangunan RS Indonesia diawali dengan pengurugan dan pemagaran lahan yang dimulai sejak Mei 2017 – Agustus 2017. Pada 19 November 2017 dilakukan peletakan batu pertama RS Indonesia yang dihadiri oleh Pemerintah Indonesia (Dubes RI di Yangon), Pemerintah Myanmar, MER-C dan Tokoh Muslim dan Budha dan menandai dimulainya pembangunan bangunan utama RS Indonesia. Pembangunan diperkirakan akan memakan waktu selama 10 bulan. Namun akibat konflik yang masih terus terjadi, cuaca ekstrim, sulitnya SDM pekerja, material,  kontraktor lokal yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaan, pembangunan RS Indonesia seluas lebih dari 2.300 m2 ini memakan waktu hingga selama 2 tahun. Bahkan pada bulan Juni 2019, konflik terjadi sangat dekat dengan lokasi pembangunan RS Indonesia antara Tentara Myanmar (Tatmadaw) dan Arakan Army (AA) terjadi dekat dengan lokasi pembangunan. Rentetan suara tembakan terdengar jelas, seketika pekerjaan terhenti, dan para pekerja berlari berlindung menyelematkan diri. Setidaknya delapan titik di atap dan dinding Rumah Sakit Indonesia bolong akibat terkena peluru, saat terjadi baku tembak antara Arakan Army (AA) sayap militer suku Arakan yang beragama Budha dengan tentara Pemerintah Myanmar (Tatmadaw – Budha). Konflik yang terus terjadi membuat sulit mencari pekerja yang berani datang ke lokasi pembangunan. Pembangunan pun terhenti karena kontraktor tidak dapat mendatangkan pekerja. Situasi yang tidak kondusif juga sempat membuat Tim MER-C di lapangan diharuskan keluar dari lokasi pembangunan oleh pemerintah setempat. Negosiasi untuk meyakinkan pemerintah setempat dan KBRI di Myanmar terus dilakukan bahwa Tim memilih tetap di lapangan karena amanah ini harus ditunaikan. Ketidakmampuan kontraktor untuk melanjutkan pembangunan karena alasan keamanan dan sulit mencari pekerja, membuat Project Manager Pembangunan RS Indonesia, DR. Ir. Idrus M. Alatas, memutuskan untuk mengambil alih seluruh pekerjaan. Sejak Mei 2019, pekerjaan pembangunan RS Indonesia dilakukan sendiri oleh Tim MER-C di lapangan yang terdiri 4 relawan. Berbekal doa dan keyakinan serta tekad yang kuat, dan terutama pertolongan-NYA yang senantiasa memberikan perlindungan dan kemudahan atas segala kendala yang ada, pembangunan RS Indonesia akhirnya selesai pada November 2019. Untuk selanjutnya pengadaan alat kesehatan akan dilakukan oleh PMI (Palang Merah Indonesia). RS Indonesia akan diserahterimakan secara resmi setelah seluruh peralatan kesehatan lengkap dan RS Indonesia bisa beroperasional memberikan pelayanan kepada masyarakat korban konflik di wilayah ini. Dengan berdirinya RS Indonesia, kami berharap masyarakat Budha dan Muslim dapat hidup rukun damai dan sama-sama mendapat akses pelayanan kesehatan yang lebih baik. RS Indonesia menjadi symbol awal bagi hubungan persahabatan dan persaudaraan jangka panjang antara Indonesia dan Myanmar. Untuk itu, MER-C bertekad bahwa program ini perlu diikuti dengan program lanjutan berupa local capacity building khususnya untuk tenaga medis lokal, pengiriman tenaga medis dari Indonesia untuk bertugas di RS Indonesia, dsb. MER-C juga siap untuk mendampingi proses repatriasi dalam bidang kesehatan. Dukungan dan donasi untuk program ini dapat disalurkan melalui :Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.1306.833Bank Central Asia (BCA), 686.028.0009Bank Mandiri, 124.000.8111.982Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 29 November 2019MER-C Indonesia | www.mer-c.org

Syafiq Basalamah, Salah Satu Pendiri MER-C Tutup Usia

Salah satu pendiri MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), DR. Dr. Syafiq Basalamah, SpOT., MAH tutup usia, pada Sabtu/28 September 2019, di usia 55 tahun. Informasi yang diterima dari pihak keluarga menyatakan bahwa almarhum meninggal dunia di Singapura pagi tadi saat sedang menunaikan shalat subuh.   “Istri beliau bilang sedang sholat subuh. Terus dibawa ke ICU, katanya juga sudah tidak ada. Jam persisnya tidak tau,” demikian informasi dari pihak keluarga yang diterima oleh salah satu relawan MER-C. Kabarnya, jenazah dokter kelahiran 20 Mei 1964 ini akan diberangkatkan dari Singapura menuju Jakarta pada Minggu siang pukul 12.30 waktu setempat, namun hal ini masih menunggu konfirmasi lagi terkait pengurusan dokumen. Dari Jakarta jenazah akan dibawa ke rumah duka di Purwokerto. Dr. Syafiq Basalamah, SpOT adalah salah satu pendiri lembaga kemanusiaan MER-C. Bersama enam relawan lainnya, almarhum mendirikan MER-C tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1999 atau 20 tahun silam. Saat pecahnya konflik berbau SARA di Ambon, Maluku dan sekitarnya, almarhum bersama relawan lainnya turun ke wilayah ini untuk memberikan pertolongan medis kepada para korban. Segenap keluarga besar MER-C menyatakan duka cita yang mendalam atas wafatnya DR. Dr. Syafiq Basalamah, SpOT., MAH. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahnya, mengampuni segala salah dan khilafnya, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan.

Silahkan bertanya?