MER-C Bangun Sumur dan MCK Darurat untuk Pengungsi Rohingya di Kabupaten Pidie

Medical Emergency Rescue Committtee (MER-C) membangun sumur dan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) darurat untuk pengungsi Rohingya di Gampong Kulee, Kabupaten Pidie, Aceh. Pembangunan sumur dan MCK darurat dilakukan oleh warga Gampong Kulee bersama dengan beberapa orang pengungsi pada sabtu pagi (10/8). Sumur dan MCK dibangun di bagian belakang tenda pengungsian yang berlokasi di bibir pantai Desa Kulee, Kecamatan Batee, yang telah dihuni oleh 172 pengungsi selama hampir satu tahun. Mereka terdiri dari anak-anak, orang dewasa hingga lansia. Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, akibat kurangnya air bersih dan tidak memadainya fasilitas MCK, saat ini banyak pengungsi yang mengalami gangguan penyakit kulit seperti scabies dan beberapa penyakit kulit lainnya. Sebelumnya telah ada sumur yang dibangun namun tercemar karena terlalu berdekatan dengan sumur limbah, sehingga tak lagi bisa digunakan karena kondisi airnya sudah tak layak. Ira mengatakan, MCK darurat dibangun menggunakan terpal, untuk menambah fasiltas kamar mandi, yang selama ini belum dibangun secara permanen dikawasan pengungsian ini. MER-C mengajak masyarakat agar bisa membantu membangun fasilitas MCK dan fasilitas Mandi Cuci Sumur (MCS), sebagai sebuah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk para pengungsi. Sebelumnya, MER-C juga mengadakan pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan pengungsi Rohingya di Pengungsian Mina Raya, Kota Pidie, Aceh. MER-C membagikan bantuan berupa sembako, obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak serta peralatan ibadah.
Relawan MER-C di Gaza Bertemu Wamenkes Palestina, Bahas Sejumlah Program Bantuan

Sembilan Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini berada di Jalur Gaza pada Kamis (8/8), bertemu Wakil Menteri Kesehatan Palestina dr. Yousef Abu Al Rish dan beberapa pejabat Kementerian Kesehatan, membahas sejumlah program bantuan MER-C untuk warga Gaza. “Alhamdulillah pada tanggal 8 Agustus kami diundang oleh Kementrian Kesehatan Palestina untuk bersilaturahmi dengan Wakil Menteri Kesehatan Palestina dr. Yousef Abu Rish. Pertemuan ini dihadiri pejabat di Kementrian Kesehatan, juga sembilan orang relawan MER-C yang terdiri dari relawan medis sebanyak lima orang dan relawan non-medis empat orang,” kata Liaison EMT MER-C, Marissa Noriti. “Di pertemuan ini kami membicarakan rencana strategis, di antaranya yaitu untuk membangun Primary Health Care di area RS Nasser, program lanjutan di RS Indonesia di Gaza dan program kami memberikan bantuan transportasi untuk pekerja medis RS Indonesia,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, Abu Al Rish mengatakan bersyukur akan adanya RS Indonesia di Gaza Utara, di tengah genosida Israel yang masih terus terjadi. “Rumah Sakit Indonesia menjadi sangat penting di tengah genosida Israel yang semakin menjadi-jadi. Mereka membunuh rakyat kami yang tidak bersalah sebanyak yang mereka bisa. Banyak orang yang diselamatkan dengan adanya Rumah Sakit Indonesia,” ujar Abu Al Rish. Ia juga bersyukur atas dukungan rakyat Indonesia secara umum dan dari MER-C yang selain mendirikan RS Indonesia yang sangat penting, saat ini juga mengirimkan relawan medisnya ke Jalur Gaza. “Sekarang kami memiliki dokter ahli dari MER-C Indonesia, yang akan bergabung dengan RS Indonesia untuk memberikan layanan dan menyelamatkan nyawa. Ini adalah tugas dan dan pekerjaan yang sangat penting. Untuk itu saya sampaikan terima kasih kepada orang-orang yang mendukung upaya yang sangat penting ini, untuk menyelamatkan nyawa,” tuturnya. Pertemuan ini juga mempererat silaturahim yang memang sudah terjalin sejak MER-C mulai memasuki Gaza dan memulai Pembangunan RS Indonesia. Salah satu relawan MER-C yang merupakan Site Manajer Pembangunan RS Indonesia Ir. Edy Wahyudi bersama Abu Al Rish mengenang perjuangan saat merintis Pembangunan RS Indonesia. MER-C akan terus memberikan bantuan di Gaza Utara terutama di RS Indonesia. Tim EMT 5 MER-C yang baru saja tiba di Jalur Gaza pada 7 Agustus akan bertugas selama satu bulan di RS Indonesia. Jika memungkinkan, MER-C juga akan memberikan bantuan seperti makanan dan kebutuhan lainnya, karena situasi di Gaza Utara yang lebih buruk dibandingkan dengan Gaza Selatan. Wilayah ini, selain terkena dampak perang, bantuan yang masuk juga jauh lebih sedikit.
25 Tahun MER-C Berkontribusi untuk Kemanusiaan

Terima kasih tertinggi kami kepada Allah SWT Tuhan Semesta Alam atas izin-Nya MER-C dapat berkiprah dan berbuat untuk Kemanusiaan selama dua setengah dekade. Terima kasih tulus kami kepada semua masyarakat yang telah mempercayai dan membersamai kami dengan doa dan dukungan moril serta materilnya. Terima kasih dan apresiasi kami kepada seluruh relawan tanpa pamrih dimana pun berada atas pengorbanan dan dedikasinya menjalankan jihad profesi bersama MER-C membantu sesama yang membutuhkan. Mari Bersama Perkuat Genggaman Tangan Kita untuk Kemanusiaan yang lebih baik. To Help the Most Neglected and the Most Vulnerable People. #MERC25Tahun
Tim MER-C Tiba di RS Indonesia Gaza Utara, Akan Bertugas Selama Satu Bulan

Tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) akhirnya tiba di Rumah Sakit Indonesia, di Bait Lahiya, Gaza Utara, Palestina, dan akan bertugas selama satu bulan.Tim tiba pada Jumat (9/8), bersama konvoi PBB. Salah satu relawan MER-C Reza Aldilla melaporkan, Tim berangkat mulai pukul 08.30 pagi. Selama perjalanan, Tim melewati jalan yang sudah rusak dan gedung-gedung yang hancur. Ia mengatakan, Tim beberapa kali berhenti untuk pemeriksaan di check point. Kemudian juga sempat berhenti di Rumah Sakit Shifa selama dua jam, untuk menunggu pemberitahuan bahwa Tim aman melanjutkan perjalanan. Tiba di Gaza Utara, ketujuh relawan MER-C yang terdiri dari empat dokter spesialis, satu Liaison Officer, satu relawan non medis dan satu relawan lokal langsung berkoordinasi dengan Direktur RS Indonesia, dr. Marwan Al-Sultan. Selama di Gaza Utara, Tim akan menginap di RS Indonesia, mengingat wisma dr. Joserizal Jurnalis, tempat Tim seharusnya menginap masih dalam kondisi rusak. Satu hari bertugas, pada Sabtu, sekitar pukul tiga dini hari, Tim MER-C yang dipimpin oleh dr. Dany K. Ramdhan, SpBS, langsung membantu tenaga medis lokal menangani korban luka-luka karena baru saja kembali terjadi serangan. “Ada penyerangan di Jabaliya, ada beberapa korban, satu syahid” Kata Liaison Officer Tim EMT MER-C, Marissa Noriti, melaporkan lewat pesan singkat. Tim akan bertugas selama kurang lebih satu bulan di RS Indonesia untuk membantu pelayanan medis bagi para pasien, serta assessment lanjutan kondisi RS Indonesia. Sementara tiga relawan MER-C lainnya masih bertugas di Gaza bagian Tengah. Empat relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-5 baru saja berhasil memasuki Jalur Gaza, Rabu (7/8). Saat ini ada 9 relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza, terdiri dari lima relawan medis, tiga relawan non-medis, dan satu Liaison Officer Tim EMT MER-C Indonesia. Sementara itu, MER-C sendiri sudah mengirimkan 5 Tim EMT (Emergency Medical Team) bertahap dan rotasi ke Jalur Gaza, dengan total relawan sebanyak 34 orang. Tim MER-C sampai saat ini menjadi satu-satunya Tim dari Indonesia yang masuk dan bertugas di dalam Gaza, memberikan pelayanan medis di sejumlah rumah sakit dan klinik yang masih berfungsi sesuai dengan arahan Kementerian Kesehatan Palestina dan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Empat Relawan MER-C Kembali Berhasil Memasuki Jalur Gaza

Empat relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-5 kembali berhasil memasuki Jalur Gaza, Rabu (7/8). Tim seharusnya dijadwalkan masuk ke Gaza pada 6 Agustus, namun perbatasan Karem Abu Salem sempat ditutup sehingga para relawan terpaksa kembali ke Yordania. “Tujuan kita masuk bergabung bersama teman-teman yang sudah ada di sana. Kita akan menyebar, melakukan misi-misi ke berbagai rumah sakit sesuai dengan penugasannya,” ujar Ketua Tim EMT 5, dr. Dany K Ramdhan, SpBS. “Kemudian kita akan berusaha ke arah utara apabila dimungkinkan, ke arah Rumah Sakit Indonesia,” tuturnya. Ia berharap Tim EMT 5 ini bisa bekerja dan bermanfaat semaksimal mungkin, menyampaikan amanah dari masyarakat Indonesia dan bisa kembali dengan selamat. Tim EMT 5 berjumlah empat orang, yang terdiri dari satu dokter spesialis bedah syaraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam. Dengan masuknya Tim EMT 5, saat ada 9 relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza. Lima relawan lainya adalah satu relawan medis, tiga relawan non-medis, dan satu Liaison Officer Tim EMT yang berhasil kembali masuk Gaza pada 16 Juli 2024.
MER-C Desak Pembatalan PP Terkait Penyediaan Alat Kontrasepsi untuk Remaja

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mendesak pemerintah untuk segera membatalkan Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2024, terkait upaya kesehatan sistem reproduksi yang salah satu poinnya adalah menyediakan alat kontrasepsi bagi usia sekolah dan remaja. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, menegaskan pihaknya menolak PP tersebut karena tidak layak dan bertentangan dengan hukum etika serta kepatutan, Rabu (7/8). “Presiden harus membatalkan dan merevisi peraturan itu. PP itu merupakan wujud kekalahan moral untuk menyelamatkan generasi kita, bertabrakan dengan budaya timur dan akan menambah maraknya seks bebas,” kata Sarbini. Ia mengatakan, pemerintah mungkin melihat ada masalah-masalah terkait ini di sejumlah daerah, tapi menyediakan alat kontrasepsi bukan solusinya, malah akan meningkatkan penyebaran wabah penyakit khususnya penyakit seksual. Menurutnya, hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah ketegasan untuk menutup tempat-tempat maksiat, meningkatkan pendidikan agama dan moralitas anak bangsa, bukan justru memfasilitasi pelajar dan remaja dengan melakukan seks bebas. “Ini menjadi tantangan pemerintah dan kita semua untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa,” tuturnya.
Presidium MER-C Hadiri Pemakaman Ismail Haniyeh di Doha

Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Thalib menghadiri pemakaman Mantan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh, di Doha, Qatar, Jumat (2/8). “Kemarin tanggal 2 Agustus 2024, kami menghadiri prosesi shalat jenazah di hari Jumat di kota Doha Qatar. Semua berjalan hikmat, prosesi shalat sampai pada pemakamannya,” kata Faried. Ia mengatakan, pemakaman Haniyeh ini juga dihadiri oleh banyak tokoh dari berbagai belahan dunia, baik ulama maupun para pejabat pemerintahan. “Alhamdulillah kami dari MER-C dapat hadir bersama-sama dari shalat Jumat sampai shalat jenazahnya dan kami lanjutkan takziah ke tempat duka, yang memang sudah disiapkan oleh keluarga besar dari pada Ismail Haniya,” ujarnya. “Tentunya kita hadir di sana, menyampaikan salam kepada rekan-rekan yang kami kenal baik, yaitu kepada anak-anaknya maupun pada pejabat tinggi Palestina” tambahnya. Faried mengatakan sempat bertemu dr. Basem Naim, yang saat proses pembangunan RS Indonesia adalah Menteri Kesehatan, sehingga terkait langsung dengan proses pembangunan RS Indonesia. Dalam pertemuan itu, dr. Basem menyampaikan salam kepada seluruh jajaran MER-C dan masyarakat Indonesia yang mempunyai kepedulian serta perhatian besar terhadap bangsa Palestina. Faried mengatakan, MER-C sendiri memiliki sejarah khusus dengan Ismail Haniyeh karena ia adalah orang yang memberikan izin untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. “Beliau memberikan jalan yang seluas-luasnya dari mulai perizinan sampai fasilitas lahan yang diberikan secara wakaf. Ini sudah terwujud dan kita juga mempunyai program-program yang terkait dengan masalah kesehatan dan masalah kemanusiaan. Insya Allah itu akan terus berjalan,” ungkapnya. “Beliau telah mendahului kita semua dalam keadaan yang memang dicita-citakan, mati syahid dalam perjuangan membebaskan Palestina. Itu sudah menjadi tanggung jawab beliau dan juga masyarakat Palestina serta kita semua sebagai umat muslim,” tuturnya. “Kami meyakini dengan wafatnya beliau tidak akan melemahkan Palestina untuk meraih kemerdekaan,” pungkasnya. Ismail Haniyeh gugur bersama dengan pengawalnya di Tehran, Iran, pada 31 Juli 2024 akibat serangan Israel. Kepergiannya ke Iran ini dalam rangka menghadiri pelantikan Presiden Iran yang baru, Masud Pazeshkian.
MER-C Sampaikan Belasungkawa Atas Wafatnya Ismail Haniyeh

Medical Emergency Rescue Committee (MER) menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Mantan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyeh, dalam sebuah serangan di Teheran, Iran, Rabu (31/7). “MER-C mengucapkan duka cita mendalam atas wafatnya Mantan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh dalam sebuah serangan di Teheran,” ujar Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, Rabu (31/7). “Semoga Allah merahmatinya dan terus menguatkan perjuangan bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaan,” katanya. “Kami terkejut dan mengutuk pembunuhan Ismail Haniyeh di Teheran. Tindakan pengecut ini memperumit langkah perdamaian Israel-Palestina,” kata Sarbini. “Bagaimanapun juga, beliau adalah tamu pemerintah Iran yang sedang menghadiri pelantikan presiden Iran,” tambahnya. Lebih lanjut, Ketua Presidium MER-C menegaskan kembali komitmen MER-C untuk terus membantu dan mengirimkan tenaga kesehatan secara berkelanjutan ke Jalur Gaza, Palestina. Ismail Haniyeh gugur bersama dengan pengawalnya di Tehran, Iran, pada 31 Juli 2024 akibat sebuah serangan di kediamannya. Kepergiannya ke Iran ini dalam rangka menghadiri pelantikan Presiden Iran yang baru, Masud Pazeshkian.
MER-C Kirimkan Tim Medis ke-5 untuk Bertugas di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan Medical Emergency Tim (EMT) ke-5 untuk bertugas ke Jalur Gaza, Senin (29/7). Tim EMT 5 ini terdiri dari empat orang relawan, yaitu satu dokter spesialis bedah syaraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam. Sebelumnya, satu dokter sudah berangkat lebih dulu ke Jordan dan tiga orang lainnya menyusul dari Jakarta pada hari Senin. Tim EMT 5 ditargetkan bisa segera masuk ke Jalur Gaza awal Agustus ini. Salah satu relawan yang merupakan dokter spesialis bedah syaraf, dr. Dany K Ramdhan, mengaku bersemangat untuk berangkat ke Jalur Gaza, karena sudah lama menanti untuk diberangkatkan ke sana. “Sudah kewajiban kita membantu saudara-saudara kita di sana dan setelah berbulan-bulan menunggu, Alhamdulillah dikasih kesempatan untuk ke sana,” ujar Dany. Dany mengatakan, Tim EMT 5 rencananya akan bertugas selama satu bulan, namun tetap melihat situasi karena bisa saja lebih dari perkiraan. “Rencananya kita akan bertugas di RS An Nasser, di sana nanti kita akan bertugas sesuai dengan bidang kita masing-masing. Kalau dikasih kesempatan, kita juga harus melihat situasi di Gaza Utara, bagaimana Rumah Sakit Indonesia,” tambahnya. “Mudah mudahan apa yang kita upayakan diridhoi Allah, bermanfaat buat umat dan buat keluarga,” tuturnya. Dany juga mengajak masyarakat untuk jangan pernah berhenti memperjuangkan saudara-saudara di Gaza, karena sekecil apapun usaha yang dilakukan tetap akan bernilai. MER-C secara berkelanjutan mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza melalui kerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Saat ini ada 5 relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza, yaitu satu relawan medis, tiga relawan non-medis, dan satu Liaison Officer Tim EMT yang baru saja berhasil kembali masuk Gaza pada 16 Juli 2024.
Relawan MER-C Akhirnya Dapat Mencapai Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, Palestina

Relawan Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia, Marissa Noriti, bersama konvoi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Rabu (24/7), akhirnya dapat mencapai Lokasi Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Ini adalah untuk pertama kalinya Tim MER-C dapat mencapai Gaza Utara Kembali sejak evakuasi paksa yang dilakukan militer Israel terhadap seluruh penghuni Rumah Sakit Indonesia termasuk tiga relawan MER-C saat itu pada November 2023 lalu. “Saat ini kami berada di Rumah Sakit Indonesia dengan konvoi PBB dan staf NGO internasional lainnya. Kami akan berkoordinasi dengan Direktur RS Indonesia, dr. Marwan Al-Sultan,” ujar Marissa saat tiba di RS Indonesia. Kedatangan konvoi PBB disambut oleh Diretur RS Indonesia, dr. Marwan Al-Sultan. Dalam kesempatan kunjungan ini, MER-C mewakili rakyat Indonesia sebagai pihak yang membangun Rumah Sakit Indonesia melakukan assessment awal kondisi rumah sakit dan berkoordinasi dengan Direktur RS Indonesia untuk penugasan Tim EMT MER-C serta penyaluran bantuan medis lainnya untuk RS Indonesia. MER-C juga menyampaikan komitmennya untuk membangun kembali Rumah Sakit Indonesia jika situasi sudah memungkinkan. Konvoi PBB ke Gaza Utara pada hari Rabu kemarin terdiri dari 10 kendaraan, termasuk dua truk yang mengangkut bantuan bahan bakar untuk operasional beberapa rumah sakit di Gaza Utara, termasuk Rumah Sakit Indonesia. Sepanjang perjalanan menuju Gaza Utara yang terlihat adalah kehancuran dan puing-puing reruntuhan bangunan. Memasuki Bayt Lahiya, bangunan Rumah Sakit Indonesia mulai terlihat dan tampak masih berdiri kokoh meski mengalami banyak kerusakan akibat penyerangan dan pembakaran. Pelayanan medis di RS Indonesia juga masih terus berjalan meski masih sangat minimal dan mengalami kesulitan bahan bakar.